Chapter Four
Kantin Nggak Ramai
POV: Anggun
Kantin fakultas jam satu siang itu ramai, tapi tidak seramai yang aku bilang.
Ini penting untuk kucatat karena aku bukan pembohong. Aku orang yang sangat akurat dan sangat selektif dalam menyampaikan data.
Faktanya: ada meja kosong di sisi kanan. Ada dua meja kosong di dekat kipas. Antrean bakso panjang, tapi antrean ayam geprek cuma empat orang, dan jalur dari pintu masuk ke meja tengah sepenuhnya lapang, cukup untuk dilewati dua orang berdampingan tanpa bersentuhan sama sekali.
Aku sudah survei semua itu jam dua belas lewat empat puluh.
Fakhri datang jam satu tepat, karena tentu saja dia datang jam satu tepat. Dia berhenti di ambang pintu dengan ransel di satu bahu, menyipitkan mata sedikit karena kantin ini terlalu terang dibandingkan seluruh tempat yang biasa dia tinggali, dan berdiri di sana seperti orang yang salah masuk gedung.
Dan aku melihat sesuatu yang sangat menarik terjadi.
Meja di dekat pintu — meja anak-anak semester tiga — menoleh serempak. Salah satu dari mereka bilang, cukup keras, “eh siapa tuh?”
Dua tahun. Empat puluh tiga acara. Dia yang memastikan suara mereka terdengar di setiap satu-satunya, dan mereka bertanya siapa itu.
Aku merasakan sesuatu yang panas dan tidak menyenangkan naik ke tenggorokanku, dan aku menelannya, karena aku tidak punya hak untuk marah atas nama orang yang bahkan tidak marah untuk dirinya sendiri.
Aku berdiri. Melambai.
“Fakhri! Sini!”
Empat ratus orang tidak menoleh. Mungkin cuma tujuh puluh. Tapi tujuh puluh sudah lebih dari cukup.
Dia berjalan ke arahku dengan kecepatan yang sama sekali tidak berubah, yang mana adalah keahlian tersendiri, karena aku bisa melihat setidaknya sebelas kepala berputar mengikutinya.
Waktu dia sampai tiga langkah dari meja, aku melangkah keluar dari kursiku, menyambutnya di tengah jalur, dan menyelipkan jari-jariku di sela jari-jarinya.
Dia berhenti. Total. Seperti perangkat yang kabelnya dicabut.
“Ramai banget ya,” kataku, dengan volume yang diperhitungkan untuk radius empat meter. “Nanti kepisah.”
Dia menoleh ke kiri. Ke meja kosong di dekat kipas. Lalu ke antrean ayam geprek yang isinya empat orang.
Dia menoleh kembali ke aku.
Aku menaikkan alis satu.
Fakhri menutup mulutnya yang bahkan belum sempat terbuka, dan mengeratkan genggamannya.
“Iya,” katanya. “Ramai.”
Aku hampir kehilangan seluruh ketenanganku di detik itu, dan aku ingin sekali menyalahkan kantin, tapi kantin tidak melakukan apa-apa. Yang melakukan sesuatu adalah tangan itu — besar, kering, hangat, dengan kapalan tipis di pangkal jari telunjuk yang pasti datang dari bertahun-tahun menggulung kabel — dan otakku, yang seharusnya sedang mengelola operasi berisiko tinggi, malah sibuk mendata tekstur.
Fokus, Anggun.
Aku menariknya ke meja. Kami duduk bersebelahan, bukan berhadapan, karena berhadapan adalah posisi rapat dan bersebelahan adalah posisi pacaran, dan aku sudah memikirkan ini semalaman dengan tingkat detail yang cukup memalukan.
Sasa tiba dua menit kemudian dan tidak duduk.
Dia berdiri di ujung meja, menaruh nampannya, mengeluarkan ponselnya, dan memotret kami tanpa izin.
“Sasa.”
“Bukti,” katanya singkat, lalu duduk. Mel duduk di sebelahnya dan langsung menangis.
“Mel, kamu belum makan.”
“Aku terharu,” kata Mel dengan suara yang basah. “Kamu tuh dari dulu kesepian—”
“Aku nggak kesepian—”
“—kesepian banget, Ngun, kamu selalu senyum tapi matamu itu—”
“Mel.”
“—matamu itu kayak lampu tidur di kamar kos.”
Fakhri, di sebelahku, mengambil sumpit dan mulai makan.
Sasa meletakkan sendoknya. Menatap kami berdua. Lalu memulai, dengan nada yang biasa dia pakai untuk menginterogasi bendahara acara.
“Dari kapan?”
“Lama,” kataku.
“Lama itu berapa.”
“Ya lama.”
“Anggun.”
“Sasa.”
“Kamu itu,” kata Sasa pelan, “bahkan nggak bisa nyembunyiin kalau kamu beli sepatu. Kamu pernah nangis tiga hari gara-gara nggak bisa nyembunyiin surprise ulang tahunku selama dua jam. Dan kamu mau bilang kamu bisa nyembunyiin PACAR?”
Ini persis alasan kenapa Sasa tidak boleh tahu. Sasa adalah satu-satunya orang di dunia yang punya data tentangku.
Aku membuka mulut untuk menyelamatkan diri dengan sesuatu yang belum kupikirkan.
“Empat bulan,” kata Fakhri.
Semua kepala berputar ke arahnya.
Dia masih makan. Dia bahkan tidak mendongak.
“Empat bulan?” Sasa menyipit. “Kenapa nggak ada yang tahu?”
“Karena kami nggak bilang.”
“Kenapa nggak bilang?”
Fakhri meletakkan sumpitnya. Mengetuk meja dua kali dengan buku jari. Lalu menoleh ke Sasa dengan ekspresi yang sepenuhnya datar.
“Karena kalau kami bilang,” katanya, “yang terjadi persis kayak sekarang.”
Mel berhenti menangis. Sasa membuka mulut, menutupnya lagi.
Dan aku duduk di sana sambil menyadari, dengan perasaan yang tidak bisa kujelaskan, bahwa orang yang menurut satu meja anak semester tiga tidak punya nama baru saja menutup mulut Sasa Ardhini dalam dua kalimat.
Sasa tidak menyerah. Sasa tidak pernah menyerah; Sasa cuma berganti sudut.
“Oke,” katanya, mengambil sendok lagi. “Fakhri, ya? Boleh nanya-nanya dikit?”
“Boleh.”
“Anggun kalau makan bakso, pesennya apa?”
Perutku turun ke lantai. Aku belum pernah makan bakso dengan Fakhri seumur hidupku.
“Nggak pesen bakso,” kata Fakhri.
“Hah?”
“Dia nggak makan bakso di kampus. Cuma minum es teh, terus nanti jam empat beli roti di koperasi.”
Sasa berhenti.
Aku juga berhenti.
Karena itu benar. Itu benar sekali, dan itu bukan sesuatu yang pernah kuceritakan kepada siapa pun, termasuk kepada Sasa, termasuk kepada diriku sendiri dengan sadar. Itu cuma kebiasaan. Kebiasaan yang lahir karena bakso di kantin ini bikin suaraku serak dan aku selalu ada acara.
“Kamu tahu dari mana?” tanya Sasa pelan.
Fakhri mengangkat bahunya satu sentimeter. “Ya tahu aja.”
Sasa menoleh ke aku dengan tatapan yang artinya kita akan membahas ini nanti dan kamu tidak akan bisa lari. Lalu dia menusuk ayamnya dan makan dalam diam untuk pertama kalinya sejak duduk.
Aku minum es tehku dan berusaha keras terlihat seperti orang yang sudah tahu bahwa pacarnya tahu.
Di dalam kepalaku, satu suara kecil yang sangat tidak membantu berkata: dia tahu.
Dan suara kecil kedua, yang lebih tidak membantu lagi, bertanya: sejak kapan?
Yoga dan Fikri muncul di kantin sepuluh menit kemudian.
Aku tahu mereka Yoga dan Fikri karena Fakhri bilang, “itu punyaku,” dengan nada orang yang meminta maaf atas sesuatu.
Yoga berhenti tepat di tengah kantin. Menjatuhkan tangannya ke sisi tubuh. Dan berkata, cukup keras untuk didengar tiga meja:
“Nggak mungkin.”
“Yog,” kata Fikri.
“NGGAK MUNGKIN.”
“Duduk, Yog.”
“Fikri. Fikri, lihat. Lihat baik-baik.” Yoga menunjuk ke arah kami dengan dua tangan, seperti pemandu wisata. “Itu Anggun Prameswari. Dan itu Fakhri. Fakhri kita. Fakhri yang minggu lalu makan mi instan pakai sendok teh karena sendoknya hilang.”
“Aku lihat.”
“Fikri, aku butuh kamu bilang aku lagi mimpi.”
“Kamu nggak lagi mimpi.”
“Kalau gitu aku butuh empat hipotesis.”
“Kenapa empat—”
“Karena satu nggak akan cukup!”
Mereka duduk. Yoga langsung mengeluarkan buku tulis dari ranselnya, benar-benar mengeluarkan buku tulis, dan menulis di halaman kosong: HIPOTESIS.
“Hipotesis satu,” katanya sambil menulis. “Taruhan. Ada taruhan antar-angkatan dan Anggun kalah.”
“Yoga,” kata Fikri.
“Hipotesis dua. Fakhri punya sesuatu tentang Anggun. Bukan tuduhan, ini murni kemungkinan ilmiah.”
“Yoga.”
“Hipotesis tiga. Ini konten. Kalian lagi bikin konten dan nanti ada bagian ‘jadi sebenarnya...’ terus ada musiknya.”
“Yoga, tiga-tiganya jelek.”
“Kamu punya yang lebih bagus?”
Fikri menggigit ayamnya. Mengunyah. Menelan. Lalu berkata, dengan nada orang yang menyampaikan cuaca:
“Mungkin mereka beneran saling suka.”
Meja itu hening.
Yoga menatap Fikri dengan kasihan yang tulus, lalu menutup buku tulisnya.
“Fik,” katanya, “kamu nggak boleh ikut riset.”
Fakhri melanjutkan makan.
“Dia selalu gitu?” tanyaku pelan.
“Sekarang lebih tenang.”
“Ini yang lebih tenang?”
“Iya.”
Dari meja di belakangku, ada suara yang tidak diperuntukkan bagiku tapi juga tidak diusahakan untuk disembunyikan.
“...ya paling sebulan. Nggak mungkin lama.”
“Kasihan sih. Nanti kalau udah bosen, ya gitu.”
Sendok di tanganku berhenti di atas mangkuk.
Kasihan.
Bukan aku yang dikasihani. Itu poinnya. Dalam dua puluh empat jam, seluruh gedung ini sudah memutuskan bahwa Fakhri adalah pihak yang akan rugi, bahwa dia sedang dipinjam, bahwa dia adalah barang bagus yang tidak sengaja masuk keranjang orang salah dan akan dikembalikan ke rak.
Aku menoleh sedikit ke sebelahku.
Fakhri sedang memisahkan tulang dari ayamnya dengan sumpit, sangat rapi, seperti orang yang sedang menyolder. Wajahnya tidak menunjukkan apa pun. Aku tidak tahu apakah dia mendengar. Aku curiga dia selalu mendengar semuanya, karena itu memang pekerjaannya, dan itu justru bagian yang membuat perutku terasa aneh.
Dia tidak membela dirinya. Dia tidak pernah membela dirinya. Selama dua tahun dia berdiri di ruangan yang penuh orang yang tidak tahu namanya, dan tidak sekali pun dia minta ruangan itu menoleh.
Jadi aku yang marah. Diam-diam, di bawah meja, dengan tangan yang mengepal di atas lutut.
Dan aku tidak boleh menunjukkannya, karena orang yang marah sebesar itu untuk pacar bohongan bukan orang yang punya pacar bohongan.
Gilang Mahesa lewat jam setengah dua.
Dia tidak berhenti. Itu bagian yang harus kucatat, karena Gilang tidak pernah melakukan apa pun yang bisa dituliskan orang sebagai keluhan. Dia lewat di jalur antara meja kami dan meja sebelah, membawa gelas es kopi, dan memperlambat langkahnya kira-kira setengah detik.
Matanya turun ke tanganku, yang saat itu ada di atas meja, tidak memegang apa-apa.
Lalu naik ke wajahku.
“Eh, Ngun.”
“Hai, Bang.”
“Denger-denger ada kabar.” Dia tersenyum. Senyumnya baik. Semua tentang Gilang selalu baik, dan itu sebabnya tiga penolakanku selama ini tidak pernah terasa seperti sudah terjadi. “Selamat ya.”
“Makasih.”
“Serius, selamat.” Dia mengangguk ke arah Fakhri, ramah, lalu kembali ke aku, dan menahan tatapannya kira-kira satu detik lebih lama dari yang wajar. “Santai, aku bukan mau ganggu kok.”
Dia jalan lagi.
Aku menunggu sampai punggungnya cukup jauh, lalu meraih tangan Fakhri di bawah meja dan menaruhnya di pahaku, di atas kain rok, di tempat yang tidak terlihat siapa-siapa.
Fakhri berhenti mengunyah.
“Anggun.”
“Diam.”
“Nggak ada yang lihat.”
“Aku tahu,” kataku.
Dan itu, kalau aku mau jujur pada diriku sendiri, adalah kesalahan pertamaku dalam operasi ini.
Kantin mulai kosong jam dua kurang.
Aku sedang menoleh ke Mel waktu tanganku menyenggol gelas es tehku sendiri ke arah tepi meja. Aku bahkan tidak melihatnya.
Gelas itu tidak jatuh. Waktu aku menoleh kembali, gelas itu sudah ada sepuluh sentimeter lebih ke dalam, di tempat yang aman, dan Fakhri sedang membaca sesuatu di ponselnya dengan tangan satunya masih setengah terangkat.
Dia tidak bilang apa-apa. Dia tidak menoleh. Aku hampir yakin dia tidak sadar sudah melakukannya.
Aku menatap gelas itu agak lama.
Dua tahun, pikirku. Dua tahun dia berdiri di ruangan yang sama denganku, memindahkan gelas-gelas orang lain sebelum jatuh, dan tidak ada satu pun yang menoleh.
Sasa menaruh sendoknya untuk kedua kalinya.
“Ngun.”
“Hm.”
“Aku mau tanya satu lagi terus aku berhenti.”
“Oke.”
Dia melipat tangannya di atas meja. Dan waktu dia bicara, nadanya sama sekali tidak seperti jaksa. Nadanya seperti orang yang benar-benar tidak mengerti dan sangat ingin mengerti.
“Kalian empat bulan,” katanya. “Empat bulan itu enam belas minggu, Ngun. Kita ketemu tiap hari. Kita satu kepanitiaan tiga kali. Aku punya lima ratus foto acara di ponselku.”
Aku merasakan sesuatu dingin turun dari tengkukku.
“Terus?”
“Terus kenapa,” kata Sasa pelan, “aku nggak punya satu pun foto kalian berdua?”
- 1 Dua Belas Mic, Satu Lakban Biru
- 2 Dia Pacarku
- 3 Empat Puluh Tiga Hari
- 4 Kantin Nggak Ramai reading
- 5 Daftar
- 6 Satu Langkah di Belakang
- 7 Empat Puluh Detik
- 8 Aku Ngantuk
- 9 Hipotesis
- 10 Observasi
- 11 Payung
- 12 Ada yang Lihat
- 13 CCTV
- 14 Kursi Barisan Keempat
- 15 Dua Tahun
- 16 Versi yang Bakal Nempel
- 17 Kabelnya Berat
- 18 Tempat Paling Nggak Romantis di Kampus
- 19 Sebelas Detik
- 20 Boleh Saya Potong Sebentar
- 21 Kantong Dalam
- 22 Tanggal Dua Puluh
- 23 Nggak
- 24 Nama di Kontak
- 25 Hari Keempat Puluh Tiga
- 26 Satu Orang
- 27 Naik
- 28 Empat Jam dari Kampus
- 29 Rekonstruksi
- 30 Satu-satunya Orang yang Tahu
- 31 Aman
- 32 Yang Direkam
- 33 Tujuh Belas Menit
- 34 Lima Menit
- 35 Yang Nggak Manis
- 36 Hipotesis Keempat Belas
- 37 Aku Nggak Cemburu
- 38 Nggak Menarik untuk Difoto
- 39 Channel Tujuh
- 40 Dua Belas Mic