← Sebut Saja Namanya

Chapter Seven

Empat Puluh Detik

POV: Anggun


Acara Malam Apresiasi berjalan mulus sampai menit ketiga puluh delapan, dan itulah sebabnya tidak ada satu pun dari empat ratus orang di aula yang siap.

Aku sedang berdiri di titik tengah panggung, membaca daftar penerima penghargaan, tepat di tengah kalimat.

“—dan penghargaan berikutnya diberikan kepada divisi yang selama satu tahun ini sudah—”

Suaraku hilang.

Bukan mengecil. Hilang. Dari empat ratus orang yang mendengar kalimatku, empat ratus orang berhenti mendengar di tengah kata “sudah”, dan yang tersisa cuma suara asliku sendiri yang tanpa pengeras terdengar setipis kertas di ruangan sebesar ini.

Lampu panggung masih menyala. AC masih jalan. Jadi bukan listrik.

Aku menoleh ke sisi kiri panggung dan melihat pemandangan yang akan kuingat lebih lama dari sebagian besar hal dalam hidupku.

Meja mixer gelap. Semua lampu indikatornya mati. Dan di belakang meja itu, tiga anak panitia berdiri dengan wajah orang yang baru saja menyadari mereka tidak tahu apa-apa tentang apa pun.

Empat ratus orang mulai bersuara. Suara aula yang mulai bersuara itu berat sekali; seperti sesuatu yang bergeser di bawah lantai.

Aku tahu apa yang harus kulakukan. Ini bukan yang pertama. MC yang baik tidak berdiri diam; MC yang baik mengisi.

Aku mengangkat kedua tangan dan tersenyum dan berteriak — dengan suara asli, dari perut, ke arah barisan depan — bahwa mohon ditunggu sebentar ya, ini bagian dari acara, kita sedang menguji apakah Bapak Ibu benar-benar mendengarkan saya dari tadi.

Tiga puluh orang di barisan depan tertawa. Tiga ratus tujuh puluh sisanya tidak mendengar apa pun, karena tiga ratus tujuh puluh orang itu terlalu jauh, dan karena aula ini dibangun oleh orang yang membenci suara manusia.

Suaraku habis di baris kelima. Setelah itu aku cuma perempuan yang berdiri di panggung sambil menggerakkan tangan.

Aku pernah lupa naskah. Aku pernah salah menyebut nama dekan. Aku pernah jatuh dari panggung setinggi setengah meter di semester dua.

Aku belum pernah tidak punya suara.

Dan di antara semua itu, ada satu orang yang bergerak.


Dia tidak lari. Itu bagian pertama yang kucatat.

Fakhri berjalan dari sisi belakang aula ke meja mixer dengan kecepatan jalan biasa, sedikit lebih cepat, seperti orang yang mau menyusul lift. Dia bahkan tidak menaruh gelasnya buru-buru; dia menaruhnya, lalu jalan.

Aku pernah dengar orang bilang kalau panik itu menular. Yang tidak pernah kudengar orang bilang adalah bahwa tenang juga menular, dan lebih cepat, kalau datang dari orang yang benar.

Empat ratus orang tidak melihat dia. Aku melihat dia.

Sampai di meja, dia tidak menyentuh mixer sama sekali. Dia menunduk ke bawah meja.

Tangan kirinya menelusuri sesuatu di belakang, dari kanan ke kiri. Berhenti. Menarik.

Dia mengangkat satu ujung kabel dan melihatnya sekilas — satu detik, mungkin kurang — lalu melepas kabel itu sepenuhnya, menggeser sesuatu, dan memasangnya ke lubang lain.

Satu lampu menyala di meja.

Lalu dia berdiri, menyalakan mixer, dan tangannya bergerak di atas deretan tombol dengan cara yang tidak bisa kutiru walaupun aku berlatih setahun. Bukan cepat. Berurutan. Seperti orang yang mengetik kata sandi yang sudah dia ketik sepuluh ribu kali.

Anak panitia yang berdiri di sebelahnya bertanya sesuatu. Fakhri menjawab tanpa mendongak, satu kalimat, dan anak itu langsung berlari ke arah sisi panggung.

Fakhri mengangkat kepalanya. Menatapku dari jarak dua puluh meter.

Dan mengangkat tiga jari.

Tiga.

Dua.

Aku tidak pernah bisa menjelaskan ke siapa pun kenapa hal sekecil itu bisa membuat tenggorokanku sesak. Dia tidak berteriak “sebentar lagi”. Dia tidak memberi kode rumit. Dia memberiku hal yang sama persis yang selalu dia berikan sebelum aku naik panggung, hal yang kuminta setengah bercanda dua tahun lalu dan tidak pernah dia lewatkan sekali pun sejak itu.

Angka satu tidak pernah diucapkan. Itu aturannya. Angka satu dimakan supaya orang tidak mulai di angka nol.

Aku mengangkat mic.

“—yang selama satu tahun ini sudah bekerja tanpa pernah kelihatan.”

Suaraku kembali ke empat ratus orang persis di tengah kalimat, di kata yang sama, seolah tidak pernah ada yang putus.

Aula itu bertepuk tangan. Bukan untuk penghargaannya. Untuk suaranya yang kembali. Orang selalu bertepuk tangan untuk hal yang salah.

Aku menghitung setelahnya, dari rekaman video dokumentasi yang kutonton empat kali malam itu.

Empat puluh detik. Dari mati sampai hidup lagi.


Sisanya berjalan tanpa cacat sampai selesai.

Waktu acara ditutup dan lampu aula dinaikkan, tiga orang mendatangi meja mixer. Aku memperhatikan dari sisi panggung sambil pura-pura menggulung kabel mic yang tidak perlu digulung.

Yang pertama Radit. “Tadi apa?”

“Kabel snake-nya kegeser. Ada yang naruh kursi di atasnya.”

“Kursi?”

“Iya.”

“Terus kenapa bisa mati semuanya?”

“Bukan mati. Cuma pindah jalur.” Fakhri sudah kembali membereskan. “Sekarang jalurnya udah aku pindah ke atas. Nggak akan keinjak lagi.”

Radit berdiri di situ beberapa detik, dan aku bisa melihat momen persisnya — momen ketika seseorang menyusun ulang penilaian mereka tentang orang lain di dalam kepala, diam-diam, tanpa memberi tahu siapa pun.

“Oke,” katanya. Lalu, agak canggung: “Makasih ya.”

Yang kedua dan ketiga adalah dua anak panitia semester tiga. Salah satunya yang minggu lalu bertanya “eh siapa tuh” di kantin.

“Bang, tadi tuh gimana caranya?”

“Panjang.”

“Nggak apa-apa Bang, ceritain dong.”

Dan Fakhri, yang tidak pernah bicara lebih dari dua belas kata sekaligus kepada siapa pun, menjelaskan selama empat menit tentang jalur kabel dan kenapa kursi lipat adalah musuh peradaban, dan dua anak itu mendengarkan seperti orang mendengarkan ramalan.

Yang keempat bukan mendatangi meja. Yang keempat mendatangiku.

“Ngun.”

Sasa berdiri di sisi panggung dengan ponsel di tangan, dan untuk pertama kalinya dalam seminggu, dia tidak sedang memotret apa pun.

“Kenapa?”

“Nggak.” Dia melihat ke arah meja mixer, lalu kembali ke aku. “Kamu tadi ngeliatin dia dari awal sampai akhir.”

“Ya iyalah, suaraku mati.”

“Suaramu udah nyala lagi dari menit ke-empat puluh, Ngun.” Sasa memiringkan kepalanya. “Kamu ngeliatin dia sampai acara kelar.”

Aku membuka mulut dan menemukan bahwa tidak ada satu pun kalimat siap pakai di dalamnya.

“Ya... dia pacarku.”

“Hm,” kata Sasa.

Cuma itu. “Hm.” Lalu dia pergi.

Sasa yang bertanya empat belas pertanyaan itu tidak menakutkan. Sasa yang bilang “hm” adalah kiamat kecil.

Tiga orang. Dari empat ratus.

Aku berdiri di sisi panggung memegang gulungan kabel yang tidak perlu digulung, dan aku merasakan sesuatu yang sangat tidak nyaman, yaitu kemarahan yang tidak punya tempat untuk pergi.

Tiga dari empat ratus. Dan besok, dua di antaranya akan lupa lagi.


Aku menunggu sampai aula benar-benar kosong.

Aku bilang ke Sasa aku mau bantu beres-beres. Sasa menaikkan satu alisnya sampai hampir menyentuh poninya, tapi tidak berkata apa-apa, dan pergi bersama Mel yang masih memegang tisu dari segmen video profil.

Fakhri sedang menutup kardus inventaris waktu aku menyerahkan mic-ku.

“Nih.”

“Taruh di meja aja.”

Aku tidak menaruhnya di meja. Aku memutar-mutar mic itu di tanganku, karena aku selalu memutar sesuatu kalau sedang tidak tahu harus mulai dari mana.

Dan waktu memutarnya, aku melihat ada sesuatu di bagian bawah batangnya.

Sepotong lakban biru. Kecil. Tidak sampai tiga sentimeter. Sudah agak kusam di pinggirnya, seperti sudah lama di situ.

“Ini apa?”

Fakhri mendongak dari kardus. Melihat tanganku. Melihat lakbannya.

Ada jeda. Sangat pendek. Kalau aku tidak menghabiskan dua tahun berdiri di panggung menghitung jeda, aku tidak akan menyadarinya.

“Penanda,” katanya.

“Penanda apa?”

“Mic-nya dua belas. Semuanya sama.”

“Terus?”

“Biar nggak ketukar.”

“Oh.” Aku menaruhnya di meja. “Pinter juga.”

Dia menutup kardus.

Dan aku, karena aku sedang lelah dan sedang penuh dan sedang tidak berpikir, tidak bertanya pertanyaan berikutnya. Padahal pertanyaan berikutnya itu ada di sana, dua sentimeter dari mulutku, sangat jelas dan sangat sederhana:

Kenapa cuma satu yang ditandai?

Aku baru akan menanyakannya dua puluh lima hari lagi, di ruangan yang sama, dan pada saat itu semuanya sudah terlambat dalam pengertian yang sama sekali berbeda.


Video dokumentasinya diunggah dua hari kemudian.

Editornya memotong bagian empat puluh detik itu. Tentu saja. Kenapa juga dipertahankan; itu bagian yang rusak.

Jadi yang tersisa di video berdurasi enam menit itu adalah aku, menyebut kalimat “yang selama satu tahun ini sudah bekerja tanpa pernah kelihatan” dengan suara yang jernih sekali, disambung mulus ke tepuk tangan.

Kolom komentarnya penuh.

kak anggun keren bangetttt
MC nya emang the best sih
acaranya rapi bgt tahun ini

Aku menggulung ke bawah sampai habis. Delapan puluh tiga komentar.

Tidak ada satu pun yang menyebut suara.

Tidak ada satu pun yang menyebut bahwa acara yang rapi itu adalah acara yang hampir mati di menit ketiga puluh delapan.

Dan tidak ada satu pun — satu pun — yang menyebut nama orang yang berjalan, bukan berlari, ke sebuah meja.

Aku menutup ponselku dan duduk di tepi kasur cukup lama.

Lalu aku membukanya lagi, dan mengetik komentar, dan menghapusnya, dan mengetiknya lagi, dan menghapusnya lagi.

Karena apa pun yang kutulis di sana akan terdengar seperti pacar yang membela pacarnya, dan itu akan membuat semua orang tersenyum dan menganggapnya manis, dan tidak ada satu pun dari mereka yang akan mengerti bahwa aku bukan sedang membela siapa-siapa.

Aku cuma ingin ada yang tahu.

Yang kulakukan malah ini.

“Fakhri.”

“Hm.”

“Kamu tadi tahu itu kabel snake dari mana? Kamu di belakang aula. Jauh.”

Dia menaikkan kardus ke rak. “Dari bunyinya.”

“Bunyi apa? Nggak ada bunyi. Suaranya hilang total.”

“Itu bunyinya.” Dia menepuk debu dari tangannya. “Kalau mixer-nya yang mati, monitor panggung ikut mati, terus ada ‘pop’ kecil dulu. Tadi nggak ada pop. Berarti bukan alatnya. Berarti jalurnya.”

Aku menatapnya.

“Kamu mikir semua itu sambil jalan ke depan?”

“Nggak. Sebelum jalan.”

“Fakhri, itu dua detik.”

“Ya cukup.”

Dia mengatakannya seperti orang menyebutkan harga bensin.

Aku berdiri di ruang alat yang berdebu itu, di depan orang yang seluruh gedung ini panggil “mas audio”, dan untuk pertama kalinya sejak lorong itu, aku membiarkan diriku menyelesaikan satu kalimat utuh di dalam kepalaku.

Nggak ada yang tahu.

Empat ratus orang duduk di aula ini malam ini. Empat ratus orang menonton acara yang tidak cacat sedikit pun, pulang, dan tidur, dan tidak satu pun dari mereka akan bangun besok sambil memikirkan bahwa ada empat puluh detik di mana seluruh malam itu hampir hancur, dan bahwa satu orang menyelamatkannya dengan berjalan — berjalan, bukan lari — ke sebuah meja.

Empat ratus orang tidak tahu.

Dan aku tahu.

Aku menyimpan itu di dalam dadaku dalam perjalanan pulang, dan rasanya persis seperti orang yang menyimpan sesuatu yang bukan miliknya.