← Sebut Saja Namanya

Chapter Thirty Five

Yang Nggak Manis

POV: Fakhri


Aku ingin menuliskan minggu berikutnya dengan jujur, karena versi yang enak diceritakan sudah beredar sendiri dan aku tidak mau ikut menyebarkannya.

Versi yang enak diceritakan berbunyi begini: perempuan itu naik panggung, mengaku, semua orang terharu, selesai.

Yang benar-benar terjadi ada empat bagian, dan cuma satu yang manis.


Bagian pertama: rekamannya beredar dalam empat jam.

Tentu saja. Enam ratus orang, dan minimal empat puluh merekam.

Yang beredar bukan versi utuh lima menit. Yang beredar adalah potongan lima puluh detik yang dimulai dari “Itu bohong.”

Potongan lima puluh detik itu tidak berisi bagian tentang empat puluh empat acara. Tidak berisi bagian tentang empat puluh detik di Malam Apresiasi. Tidak berisi bagian tentang alasan-alasan.

Berisi persis satu hal: seorang perempuan mengaku berbohong.

Dua puluh ribu tayangan dalam dua hari.

Dan komentar-komentarnya adalah komentar dari orang yang menonton lima puluh detik, yang mana adalah cara yang sangat sopan untuk mengatakan bahwa mereka tidak menonton apa pun.

jadi bener dong
gila sih berani ngaku di depan orang segitu banyak
aku sih tetep kasian sama radit
ini tuh sebenernya nggak perlu diumumin sih menurutku

Anggun tidak membaca satu pun. Aku tahu karena aku yang memegang ponselnya selama tiga hari, atas permintaannya sendiri, dan aku mengembalikannya hari Rabu.


Yoga menonton potongan itu tiga puluh kali dalam dua hari dan mendatangiku hari Senin dengan buku tulis yang sudah lama tidak kulihat.

“Bang.”

“Yoga.”

“Aku mau nutup kasus.” Dia membuka bukunya ke halaman yang penuh coretan. “Tujuh hipotesis. Aku baca ulang semuanya kemarin.”

“Yog, nggak usah.”

“Hipotesis satu sampai enam: salah.” Dia mencoret enam baris dengan satu garis panjang. “Hipotesis tujuh: Anggun yang suka duluan, udah lama, dari sebelum kejadian di lorong.”

Dia menunjuk baris itu, yang sudah dicoret dua garis enam minggu lalu, di depan lima saksi.

“Aku yang coret. Aku yang ketawa paling keras.” Dia menutup bukunya. “Bang, aku bener dan aku ketawain diri aku sendiri.”

“Yoga.”

“Aku nggak lagi minta dipuji.” Dia menaruh buku itu di meja. “Aku lagi mikirin kenapa aku nggak percaya sama jawaban aku sendiri.”

Aku menunggu.

“Karena kalau hipotesis tujuh bener,” katanya, “artinya kamu tuh emang pantes dari dulu. Dan aku udah tiga tahun nganggep kamu temen yang keren tapi ya... di belakang panggung.”

Dia menggaruk lehernya.

“Dan itu artinya aku juga salah satu dari orang-orang di thread itu, Bang. Cuma versi yang lebih sayang sama kamu.”

Bagian kedua: Radit.

Aku menemuinya hari Senin di sekre karena aku merasa harus, dan aku sampai di pintu dan menyadari bahwa aku tidak punya satu pun kalimat yang disiapkan, yang mana adalah keadaan yang sudah terjadi tiga kali dalam sebulan ini dan tidak pernah terjadi dalam dua tahun sebelumnya.

Dia melihatku di pintu dan langsung berkata, “Boleh saya potong sebentar?”

“Kamu belum ngomong apa-apa.”

“Aku motong kamu duluan biar kamu nggak jadi minta maaf.”

Aku menutup mulutku.

“Duduk,” katanya.

Aku duduk.

“Dua hal,” katanya. “Satu, aku nggak butuh minta maaf. Dari kamu, dari Anggun, dari siapa pun. Anggun udah minta maaf lewat chat hari Kamis dan aku udah bilang cukup.”

“Oke.”

“Dua.” Dia menutup laptopnya. “Aku dua hari ini jadi orang yang paling dikasihani di fakultas ini, dan itu jauh lebih nggak enak daripada jadi orang yang ditolak.”

Aku menoleh.

“Waktu aku ditolak,” katanya, “aku masih punya versi di mana aku berani. Aku berdiri, aku ngomong, aku kalah. Itu cerita yang bisa aku bawa.”

Dia mengangkat bahu.

“Sekarang ceritanya berubah. Sekarang aku jadi orang yang dibohongin. Dan orang yang dibohongin itu nggak ngelakuin apa-apa; dia cuma kejadian.” Dia mengetuk laptopnya sekali. “Aku kehilangan bagian di mana aku berdiri.”

Ruang sekre itu berbau kertas dan tinta printer.

“Radit.”

“Hm.”

“Kamu masih berdiri.”

Dia menatapku.

“Aku ada di aula waktu Anggun ngomong,” kataku. “Dan bagian yang paling aku inget bukan bagian dia ngaku.”

“Terus?”

“Bagian dia bilang ‘orang itu nggak salah apa-apa’.” Aku menatapnya balik. “Enam ratus orang denger itu, dan mereka bakal lupa dalam sebulan. Tapi kamu nggak, dan aku juga nggak.”

Radit tidak berkata apa-apa selama beberapa detik.

Lalu dia membuka laptopnya lagi.

“Fakhri.”

“Iya.”

“Kamu boleh pergi sebelum aku nangis di sekre sendiri.”


Bagian ketiga: Kevin dan Gilang.

Keduanya mundur dan keduanya mundur dengan cara yang sepenuhnya berbeda, dan aku menulis keduanya karena kontrasnya mengajariku sesuatu.

Kevin Aditama menghapus seluruh albumnya.

Delapan puluh foto. Dua tahun arsip dokumentasi fakultas. Hilang dalam satu malam, dua hari setelah acara.

Dia tidak mengumumkan apa pun. Dia tidak minta maaf ke siapa-siapa. Dia cuma menghapus, dan lalu menghilang dari semua grup dalam waktu seminggu, dan yang tersisa cuma anak-anak panitia yang bingung mencari foto Malam Puncak tahun lalu dan tidak menemukannya lagi di mana pun.

Anggun bilang itu bentuk rasa bersalah. Mungkin.

Aku menyimpan pendapatku sendiri, yang berbunyi: menghapus adalah cara paling bersih untuk keluar dari sebuah cerita tanpa pernah harus ada di dalamnya.

Gilang Mahesa melakukan kebalikannya.

Dia mengomentari potongan lima puluh detik itu, dengan nama aslinya, di kolom komentar yang saat itu sudah berisi seribu balasan.

Isinya:

aku salah satu yang nyebarin timeline ini ke temen2 aku. aku minta maaf. aku ngelakuin itu karena aku pengen bukti bahwa aku nggak gila, bukan karena aku peduli sama kebenarannya. dan itu beda.

Dia dihujat selama dua hari.

Lalu orang bosan, seperti biasa.

Aku bertemu dia sekali di parkiran minggu berikutnya. Dia mengangguk. Aku mengangguk. Tidak ada yang bicara, dan itu terasa benar.


Ada satu hal lagi yang perlu kucatat tentang Kevin, karena Anggun tidak tahu dan aku belum menceritakannya.

Malam sebelum dia menghapus albumnya, dia mengirim pesan kepadaku. Bukan ke Anggun. Kepadaku.

kevin.adtm: bang, maaf ya
kevin.adtm: aku beneran cuma jawab pertanyaan orang soal arsip
kevin.adtm: aku gatau bakal jadi kayak gitu

Aku membacanya dan tidak membalas selama dua jam.

Lalu aku mengetik:

Fakhri: kamu nggak salah
Fakhri: tapi kalau kamu mau ngelakuin satu hal
kevin.adtm: apa bang
Fakhri: jangan hapus albumnya

Dia membaca. Centangnya biru.

Dia tidak membalas, dan besok malamnya delapan puluh foto itu hilang.

Aku memikirkan itu beberapa hari. Dua tahun dokumentasi fakultas, semua acara, semua panitia, semua orang yang berkeringat memasang backdrop jam dua siang.

Semuanya dihapus supaya satu orang tidak perlu merasa tidak enak.

Aku tidak menyalahkan dia. Aku cuma mencatat bahwa ada bentuk rasa bersalah yang menghancurkan lebih banyak barang daripada kesalahannya sendiri.

Bagian keempat, dan ini yang paling tidak manis.

Anggun kehilangan dua acara.

Bukan diusir. Tidak ada yang mengusir siapa pun; kampus tidak bekerja seperti itu.

Yang terjadi adalah panitia acara pengukuhan bulan depan memilih MC lain, dan panitia seminar jurusan sebelah juga, dan keduanya punya alasan yang masuk akal dan keduanya sudah disiapkan sebelum ditanya.

“Kita mau ngasih kesempatan ke adik tingkat.”

“Kita mau coba format dua MC tahun ini.”

Aku tahu keduanya bohong karena aku ada di rapat teknis keduanya dan aku mendengar apa yang dibicarakan sebelum dan sesudah.

Anggun juga tahu.

Dia menerima keduanya lewat chat dengan kalimat yang sama persis: oke, siap. semangat ya.

Lalu dia datang ke aula jam tiga dan duduk di kursi barisan keempat dan tidak berkata apa-apa selama empat puluh menit.

Aku menempel lakban di lantai dan tidak bertanya apa-apa.

Menit keempat puluh satu:

“Fakhri.”

“Hm.”

“Aku nggak nyesel.”

“Aku tahu.”

“Kamu nggak nanya.”

“Aku nggak perlu nanya.”

Dia mengayunkan kakinya.

“Aku cuma pengen bilang keras-keras,” katanya. “Biar ada yang denger.”

Aku menaruh gulungan lakbanku.

“Aku denger,” kataku.


Ada satu hal manis, dan aku menyimpannya untuk terakhir karena kalau kutulis di awal, semua yang lain akan terdengar lebih ringan dari seharusnya.

Hari Kamis, seorang anak semester tiga — yang bertanya soal monitor, yang membawakan es teh waktu semua orang mendiamkanku — datang ke ruang alat membawa ponselnya.

“Bang, aku boleh nunjukin sesuatu?”

“Boleh.”

Dia membuka utas baru. Bukan yang lama.

“buat yang cuma nonton potongan 50 detik: ini bagian yang kalian lewatin 🧵”

Isinya transkrip bagian tengah pidato Anggun. Yang tentang empat puluh empat acara. Yang tentang empat puluh detik di Malam Apresiasi. Yang tentang delapan puluh tiga komentar.

Dan di poin terakhir, dia menambahkan sendiri:

aku panitia acara. bang fakhri naikin monitor aku pas aku gemeter mau baca sambutan bulan lalu. aku bahkan gatau itu bisa dilakuin. dia gapernah bilang apa apa.

Empat ratus tayangan. Bukan dua puluh ribu.

“Sori Bang kalau nggak sopan,” katanya. “Aku nggak izin dulu.”

Aku menatap layar itu lebih lama dari yang dibutuhkan orang untuk membaca lima baris.

“Nggak apa-apa,” kataku.

Dia pergi.

Empat ratus tayangan tidak akan mengubah apa pun. Potongan lima puluh detik itu sudah dua puluh ribu dan akan terus jalan sendiri sampai orang bosan.

Aku tetap membuka utas itu lagi malam harinya, di kos, dan membacanya sampai selesai.

Dua kali.

Aku memikirkan sesuatu sepanjang minggu itu dan aku belum bisa merapikannya sampai sekarang, jadi aku tulis apa adanya.

Selama enam minggu, aku selalu berpikir bahwa kerugianku dan kerugiannya adalah dua hal terpisah, dan bahwa pekerjaanku adalah memastikan punyaku lebih besar supaya punyanya lebih kecil.

Itu salah, dan aku baru tahu salahnya di mana waktu duduk di kursi kantor bekas di studio hari Sabtu.

Yang benar adalah: dia berdiri di panggung dan kehilangan dua acara dan dua puluh ribu tayangan, dan aku duduk di belakang mixer dan tidak kehilangan apa pun.

Dan itu bukan karena aku berhasil melindunginya.

Itu karena dia tidak membiarkanku membayar, persis seperti aku selama dua tahun tidak membiarkan siapa pun membayar untukku.

Kami berdua punya penyakit yang sama, dari arah yang berlawanan.

Bedanya: dia sudah berdiri di panggung dan membayar di depan enam ratus orang.

Dan aku masih punya satu hal yang belum kubayar, dan hal itu ada di komputer di ruko lantai dua di Jalan Kaliurang, di paling bawah, di luar semua folder, tanpa tanggal.

Aku belum menyebut permintaan yang kedua.