Chapter Thirty Eight
Nggak Menarik untuk Difoto
POV: Anggun
Kencan pertama kami — yang sungguhan, yang tidak sedang menghindari siapa pun, yang tidak perlu terlihat seperti apa pun — terjadi hari Minggu, sembilan minggu setelah lorong itu.
Kami tidak merencanakannya sebagai kencan pertama.
Aku menyadarinya di tengah, dan begitu aku menyadarinya, aku hampir merusaknya, karena refleks pertamaku adalah mengambil ponsel.
Aku mengambil ponselku, membuka kamera, mengangkatnya, dan berhenti.
Lalu aku memasukkannya kembali ke tas.
“Kenapa?” tanya Fakhri.
“Nggak.”
“Kamu ngeluarin hp.”
“Aku salah.”
Dia tidak bertanya lagi.
Ini yang kami lakukan hari itu, dan aku menuliskannya lengkap karena tidak ada satu pun bagiannya yang layak diunggah dan itu justru intinya:
Jam sepuluh pagi. Aku menjemput dia di kosnya, karena dia tidak punya motor yang bisa dipakai hari itu — rantainya putus hari Sabtu — dan aku yang menyetir.
Dia duduk di belakang.
Dia duduk di belakang dengan sangat kaku selama sepuluh menit pertama sampai aku bilang, “Fakhri, pegangan,” dan dia bilang, “Aku pegangan,” dan aku bilang, “Kamu pegang jok,” dan dia bilang, “Itu pegangan.”
Di lampu merah keempat, tangannya akhirnya pindah ke pinggangku.
Aku hampir menabrak motor di depan.
Jam sebelas. Bengkel. Kami mengantar rantai motornya diperbaiki dan menunggu satu jam di kursi plastik di depan bengkel, dengan bau oli dan suara kompresor dan televisi yang menyala di saluran yang salah.
Selama satu jam itu kami membicarakan hal-hal berikut: apakah bengkel ini pernah membersihkan kipas anginnya; kenapa monteng di sebelah kanan lebih cepat dari yang kiri padahal umurnya lebih tua; dan skripsi.
Dia menanyakan lima pertanyaan tentang skripsiku. Aku menghitung.
Pembimbingku menanyakan dua.
Jam satu. Makan di warung tenda dekat bengkel yang aku tidak akan sebut namanya karena kalau ramai nanti tidak dapat tempat.
Di warung tenda itu ada satu momen kecil yang akan kusimpan.
Ada rombongan anak SMA di meja sebelah, ramai sekali, dan salah satu dari mereka menjatuhkan gelas dan gelasnya pecah dan seisi warung menoleh.
Anak itu — perempuan, mungkin enam belas — langsung merah wajahnya dan mulai minta maaf berkali-kali dengan suara yang makin lama makin kecil.
Dan Fakhri, tanpa berhenti makan, tanpa menoleh, berkata dengan volume yang cukup untuk terdengar sampai meja sebelah:
“Gelasnya emang licin, Mbak. Punya saya juga hampir tadi.”
Anak itu berhenti minta maaf.
Ibu warungnya datang membawa sapu dan bilang “nggak apa-apa, biasa”, dan rombongan itu kembali ramai dalam waktu kurang dari sepuluh detik, dan tidak ada satu pun dari mereka yang menoleh ke meja kami lagi.
Aku menatap orang di depanku.
“Gelasmu nggak hampir jatuh.”
“Nggak.”
“Kamu bohong ke anak SMA.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dia menusuk lauknya.
“Orang yang malu itu ngomong makin pelan,” katanya. “Terus dia minta maaf makin banyak. Terus makin diliatin.”
Dan dia melanjutkan makan, dan aku duduk di warung tenda dengan sendok berhenti di udara, dan aku menyadari bahwa aku baru saja melihat orang itu menaikkan monitor seseorang tanpa mixer.
Jam dua. Ini bagian yang paling tidak bisa dijelaskan ke siapa pun.
Kami pergi ke toko alat listrik.
Bukan sebagai lelucon. Dia butuh dua puluh meter kabel dan sekotak konektor, dan aku ikut, dan aku menghabiskan empat puluh menit di dalam toko yang seluruh isinya adalah benda yang tidak kupahami.
Dan dia berbeda di dalam toko itu.
Aku belum pernah melihat dia berbeda di mana pun. Dua tahun, empat puluh empat acara: kecepatan jalannya selalu sama, wajahnya selalu sama.
Di dalam toko alat listrik, dia jalan lebih cepat.
Dia mengambil satu gulungan kabel, memeriksa cetakan di kulitnya, menaruhnya kembali, mengambil yang lain. Dia bertanya kepada penjualnya sesuatu tentang serabut tembaga dan penjualnya menjawab panjang dan mereka berdua terlibat percakapan yang berlangsung enam menit dan tidak satu pun kalimatnya bisa kuikuti.
Aku berdiri di samping rak dan menonton pacarku berdebat soal kabel dengan bapak-bapak berumur lima puluhan, dan aku merasa sangat, sangat bodoh, dan sangat senang.
Waktu keluar, dia menoleh.
“Maaf, kelamaan.”
“Nggak apa-apa.”
“Kamu bosen?”
“Fakhri.” Aku menggeleng. “Kamu tadi ngomong enam menit sama orang asing.”
“Terus?”
“Kamu nggak pernah ngomong enam menit sama siapa pun.”
Dia memikirkannya sambil memasukkan kabel ke tas.
“Itu topiknya jelas,” katanya. “Aku bagus kalau topiknya jelas.”
Jam tiga. Kami lewat depan kampus dan aku memperlambat motor tanpa memutuskan untuk memperlambat motor.
“Mau masuk?” tanyanya dari belakang.
“Minggu, tutup.”
“Pak Har buka kalau kita ketuk.”
Aku berhenti di bahu jalan.
“Fakhri.”
“Hm.”
“Kita libur delapan jam dan kita mau ke kampus.”
“Iya.”
“Kita ini kenapa sih.”
“Aku nggak tahu,” katanya. “Tapi tangga depannya enak.”
Dan itu adalah argumen yang sepenuhnya tidak bisa dibantah, jadi aku belok.
Jam empat. Kami duduk di tangga depan aula.
Kampus kosong hari Minggu. Gedungnya terkunci. Pak Har ada di pos dan mengangkat tangan waktu kami lewat dan tidak bertanya apa-apa, seperti biasa.
Fakhri duduk satu anak tangga di bawahku, seperti biasa.
Dan kami duduk di sana sampai jam enam.
Dua jam.
Aku tidak akan menuliskan seluruh percakapannya, sebagian karena tidak semuanya penting dan sebagian karena aku ingin menyimpan sebagian untuk diriku sendiri.
Tapi ada dua bagian.
Yang pertama:
“Fakhri.”
“Hm.”
“Kamu takut nggak lulus semester depan?”
“Nggak.”
“Kamu takut apa?”
Dia memikirkannya lebih lama dari yang dibutuhkan orang untuk menjawab pertanyaan itu, dan aku sudah belajar bahwa jeda panjang dari orang ini artinya dia sedang memutuskan untuk jujur, bukan sedang mengarang.
“Aku takut balik,” katanya.
“Balik ke mana?”
“Ke yang lama.”
Aku mengangkat kepalaku dari bahunya.
“Fikri pernah bilang gitu ke aku,” lanjutnya. “Berbulan-bulan lalu, di pintu kos. Dia bilang dia nggak takut aku sedih kalau kamu pergi. Dia takut aku nggak bakal ngerasa itu kehilangan.”
Tangga betonnya masih hangat dari matahari sore.
“Dan aku mikirin itu terus,” katanya. “Karena bener. Kalau semua ini berhenti besok, aku bakal balik kerja, dan aku bakal makan, dan aku bakal ngerasa itu normal.”
“Fakhri—”
“Bukan karena aku kuat,” katanya. “Karena aku nggak punya alat ukurnya.”
Aku memegang lengan jaketnya.
“Sekarang punya?”
“Sekarang punya.”
“Apa?”
Dia mengangkat bahunya satu sentimeter.
“Sekarang aku ngitung dua puluh sembilan kali kamu dateng jam tiga dalam empat bulan,” katanya. “Dulu aku nggak pernah ngitung yang masuk.”
Yang kedua:
“Fakhri.”
“Hm.”
“Kamu inget nggak permintaan kedua?”
Dia berhenti mengayunkan kakinya.
“Iya.”
“Kamu bilang nanti. Setelah Sabtu.” Aku menyandarkan daguku di bahunya. “Sabtunya udah tiga minggu lalu.”
Dia diam beberapa detik.
“Belum siap.”
“Fakhri—”
“Aku bakal minta,” katanya. “Aku janji. Tapi aku mau minta pas aku beneran mau, bukan pas kamu nanya.”
Dan aku menutup mulutku, karena itu adalah kalimat paling sehat yang pernah dia ucapkan sejak aku mengenalnya, dan karena aku tidak akan pernah, sekali pun, memburu-buru orang yang baru belajar meminta.
Jam enam kurang.
Matahari sudah turun di belakang gedung teknik dan tangga betonnya masih hangat.
“Anggun.”
“Hm.”
“Hari ini nggak ada fotonya.”
“Iya.”
“Sama sekali.”
“Aku tahu.” Aku mengangkat kepalaku. “Aku hampir motret jam sepuluh terus aku berhenti.”
“Kenapa berhenti?”
Aku memikirkan cara menjelaskannya, dan lalu aku memutuskan untuk berhenti mencari cara menjelaskan sesuatu, karena itu juga penyakit.
“Karena dua tahun aku bikin foto buat orang lain,” kataku. “Dan enam minggu aku bikin foto buat bukti. Dan aku nggak mau hari ini masuk ke salah satu dari dua kategori itu.”
Dia mengangguk sekali.
“Nanti kita lupa,” katanya.
“Iya.”
“Kamu nggak apa-apa?”
Dan aku memikirkan hari itu — motor, bengkel, kursi plastik, warung tenda, empat puluh menit di toko alat listrik, dua jam di tangga beton — dan aku menyadari bahwa tidak ada satu pun bagian dari hari itu yang menarik untuk diceritakan kepada siapa pun.
Tidak ada satu pun bagian yang akan bagus di layar.
Tidak ada satu pun yang bisa dijadikan bukti apa pun kepada siapa pun.
“Nggak apa-apa,” kataku.
Aku turun satu anak tangga dan duduk di sebelahnya.
Dan dia menoleh, dan aku menoleh, dan tidak ada satu pun orang di kampus itu, dan gedungnya terkunci, dan Pak Har ada di pos empat puluh meter jauhnya menghadap ke arah lain.
“Fakhri.”
“Hm.”
“Nggak ada yang lihat.”
Dia menatapku beberapa detik.
Dan lalu dia melakukan sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sekali pun dalam sembilan minggu ini, yang mana adalah: dia bergerak duluan.
Dia mengangkat tangannya ke sisi wajahku — pelan, seperti orang yang memegang sesuatu yang sudah lama dia tahu beratnya — dan menunduk, dan mencium keningku.
Lama sekali.
Lebih lama dari yang bisa dijelaskan dengan alasan apa pun, dan tidak ada satu pun alasan yang perlu diucapkan.
Aku menutup mataku dan memegang lengan jaketnya, di sisi kiri, di tempat lakban biru itu masih menempel.
“Anggun.”
“Hm.”
“Aku tahu nggak ada yang lihat.”
“Iya.”
“Aku tetep mau.”
Kami turun tangga jam enam lewat.
Pak Har membuka gerbang untuk kami dan berkata “hati-hati ya” dan Fakhri berkata “iya, Pak” dan itu saja.
Aku menyetir pulang dengan tangannya di pinggangku sejak lampu merah pertama kali ini, bukan keempat.
Dan sekitar simpang ketiga, aku menyadari sesuatu yang membuatku hampir berhenti di bahu jalan.
Sembilan minggu lalu, di lorong belakang gedung itu, aku menyebut nama orang ini karena aku butuh alasan untuk berdiri di dekatnya.
Dan hari ini kami menghabiskan delapan jam bersama dan tidak satu pun dari delapan jam itu punya alasan.
Bengkel. Kabel. Tangga beton. Tidak ada penonton, tidak ada dua belas orang, tidak ada Sasa di ujung lorong, tidak ada CCTV yang mati sejak tahun lalu.
Tidak ada yang perlu ditutupi lagi.
Dan yang tersisa, ternyata, cukup.
- 1 Dua Belas Mic, Satu Lakban Biru
- 2 Dia Pacarku
- 3 Empat Puluh Tiga Hari
- 4 Kantin Nggak Ramai
- 5 Daftar
- 6 Satu Langkah di Belakang
- 7 Empat Puluh Detik
- 8 Aku Ngantuk
- 9 Hipotesis
- 10 Observasi
- 11 Payung
- 12 Ada yang Lihat
- 13 CCTV
- 14 Kursi Barisan Keempat
- 15 Dua Tahun
- 16 Versi yang Bakal Nempel
- 17 Kabelnya Berat
- 18 Tempat Paling Nggak Romantis di Kampus
- 19 Sebelas Detik
- 20 Boleh Saya Potong Sebentar
- 21 Kantong Dalam
- 22 Tanggal Dua Puluh
- 23 Nggak
- 24 Nama di Kontak
- 25 Hari Keempat Puluh Tiga
- 26 Satu Orang
- 27 Naik
- 28 Empat Jam dari Kampus
- 29 Rekonstruksi
- 30 Satu-satunya Orang yang Tahu
- 31 Aman
- 32 Yang Direkam
- 33 Tujuh Belas Menit
- 34 Lima Menit
- 35 Yang Nggak Manis
- 36 Hipotesis Keempat Belas
- 37 Aku Nggak Cemburu
- 38 Nggak Menarik untuk Difoto reading
- 39 Channel Tujuh
- 40 Dua Belas Mic