← Sebut Saja Namanya

Chapter Two

Dia Pacarku

POV: Anggun


Aku tahu sesuatu akan terjadi dari cara lorong itu sunyi.

Lorong belakang aula tidak pernah sunyi setelah gladi. Itu tempat orang menaruh kardus, tempat panitia konsumsi menghitung sisa snack, tempat dua sampai tiga orang selalu bertengkar soal siapa yang bawa kunci gudang. Malam ini semua orang ada di sana dan tidak ada satu pun yang mengeluarkan suara.

Aku mengangkat kepala dari ponselku.

Radit berdiri di tengah lorong, memegang tas kertas cokelat dengan dua tangan, dan sudah menatapku dari jarak enam meter dengan ekspresi orang yang sudah menyusun kalimatnya sejak kemarin.

Otakku melakukan hal yang selalu dilakukannya sebelum aku naik panggung: menghitung.

Dua belas orang di mulut lorong. Empat ponsel sudah terangkat, tiga di antaranya jelas sedang merekam dan pura-pura membalas chat. Sasa berdiri di barisan depan dengan tangan menutup mulut. Mel sudah berkaca-kaca padahal belum ada apa-apa, karena Mel memang begitu, Mel bisa menangis melihat spanduk.

Ini bukan pernyataan. Ini acara.

“Anggun,” kata Radit. “Boleh saya potong sebentar?”

Aku hampir tertawa. Itu kalimat yang dia pakai untuk memotong rapat. Dia memakainya sekarang karena itu satu-satunya kalimat yang dia punya untuk memulai sesuatu.

“Iya, Dit.”

Dia melangkah maju. Tas kertasnya berbunyi kecil.

“Saya udah ngomong ini di kepala saya kira-kira empat puluh kali,” katanya, dan suaranya benar-benar tenang, dan itu bagian yang paling tidak adil. “Jadi kalau nanti kedengeran kayak hafalan, maaf. Memang hafalan.”

Seseorang di belakang mengeluarkan suara “aaaa” yang tertahan.

“Saya nggak akan panjang-panjang,” lanjutnya. “Kita udah setahun satu kepanitiaan. Saya udah lihat kamu kerja dalam kondisi paling berantakan yang bisa dibayangkan, dan kamu selalu — ” dia berhenti sebentar, mencari kata, dan tidak menemukannya, dan memakai yang seadanya, “ — kamu selalu bikin semuanya jalan.”

Tas kertas itu berbunyi lagi waktu tangannya bergeser. Aku bisa melihat sudut sesuatu di dalamnya. Kotak. Persegi. Terlalu besar untuk cincin, terlalu rapi untuk makanan.

Buku, mungkin. Radit tipe yang memberi buku.

Itu justru yang membuat dadaku sakit.

Aku berdiri diam dan merasakan sesuatu yang sangat spesifik naik dari perutku. Bukan panik. Aku tidak panik di depan orang; itu satu-satunya bakat yang benar-benar kupunya. Yang naik itu adalah kelelahan.

Karena aku sudah tahu bagaimana malam ini berakhir, dan aku sudah tahu bagaimana besok pagi berakhir, dan lusa, dan minggu depan.

Kalau aku bilang tidak sekarang, di depan dua belas orang dan empat kamera, maka besok yang beredar bukan “Radit ditolak”. Yang beredar adalah “Anggun nolak Radit di depan umum”. Radit tidak akan menyebarkannya — Radit terlalu baik untuk itu, dan itu justru masalahnya. Orang lain yang akan menyebarkannya. Orang lain selalu yang menyebarkannya.

Dan setelah itu, seperti biasa, akan datang giliran berikutnya.

Karena begitulah cara kerjanya. Aku sudah mengamatinya selama dua tahun dari tempat yang sangat bagus untuk mengamati, yaitu tengah panggung. Setiap kali aku menolak satu orang, tiga orang lain menganggap antrean maju satu langkah. Gilang Mahesa akan mengirim pesan dalam empat puluh delapan jam, seperti tiga kali sebelumnya, dengan kalimat yang sama: santai, aku nggak buru-buru kok. Kevin akan muncul di kolom komentar sesuatu, ramah dan santai, dan setengah angkatan akan langsung berkomentar “balikan aja kalian” seolah dua bulan hidupku adalah properti bersama. Dan Mama akan menelepon hari Minggu, seperti empat Minggu terakhir, untuk membahas anak kolega Papa yang katanya sudah lulus dan sudah kerja dan sudah punya rumah, seolah rumah adalah kepribadian.

Aku bukan orang. Aku posisi kosong. Aku lowongan yang dipasang di papan pengumuman, dan setiap orang yang lewat merasa berhak melamar, dan kalau aku menolak lamaran mereka, akulah yang tidak sopan.

Radit membuka mulutnya untuk melanjutkan.

Dan tepat di detik itu, di ujung lorong, pintu samping panggung terbuka.

Fakhri keluar sambil menjinjing koper alat, gulungan kabel tersampir di bahu kirinya, rambutnya yang agak gondrong itu setengah menutupi mata, kaus hitam, lengan digulung sampai siku. Dia melihat kerumunan. Dia berhenti setengah langkah. Lalu dia melakukan hal yang paling Fakhri di dunia: dia menggeser badannya ke sisi tembok supaya tidak mengganggu, dan berjalan terus, pelan, seolah kalau dia cukup tidak berisik maka dua belas orang itu tidak akan menyadari ada manusia lewat.

Aku tidak memutuskan apa pun.

Aku ingin menuliskan itu dengan jujur karena nanti aku akan menghabiskan berminggu-minggu berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa aku memutuskan. Tidak. Tidak ada keputusan. Tanganku bergerak sebelum kalimatnya selesai terbentuk.

Aku melangkah tiga langkah, meraih lengan Fakhri di atas siku, dan menariknya berdiri di sebelahku.

“Maaf, Dit.” Suaraku keluar mantap. Tentu saja mantap. Aku dilatih untuk itu. “Dia pacarku.”


Ada satu setengah detik di mana lorong itu benar-benar tidak bersuara.

Aku pernah membaca bahwa mikrofon yang bagus bisa merekam keheningan dan hasilnya tidak pernah benar-benar kosong. Sekarang aku percaya. Keheningan satu setengah detik itu penuh sekali.

Lalu semuanya meledak sekaligus.

“HAH?”

“Siapa?”

“Sebentar—sebentar—yang mana?”

“Itu... itu mas audio?”

“Yang mana? Yang bawa kabel?”

“Sebentar, dia anak sini?”

“Kok bisa sih?”

Kok bisa sih.

Aku mendengarnya dengan sangat jernih, dari arah pukul empat, dari mulut seseorang yang tidak sedang berusaha kejam sama sekali. Itu bagian yang paling busuk dari kalimat itu: tidak ada niat jahat di dalamnya. Cuma keheranan. Cuma dua orang yang menaruh Fakhri dan aku di timbangan yang sama dan menemukan bahwa timbangannya tidak seimbang, dan menyampaikan hasil pengukurannya dengan santai, seperti orang membaca ramalan cuaca.

Ada sesuatu yang ingin sekali kulakukan di detik itu. Sesuatu yang keras, dan spesifik, dan akan menyenangkan selama dua detik lalu menghancurkan semuanya.

Aku tidak melakukannya. Aku tidak boleh melakukannya.

Karena orang yang marah sebesar itu untuk pacar bohongan bukan orang yang punya pacar bohongan.

Sasa menurunkan tangannya dari mulut dengan ekspresi seseorang yang laptopnya baru saja mati sebelum disimpan. Mel menangis. Mel benar-benar menangis, dan aku tidak akan pernah tahu untuk apa.

Dan Radit — Radit berdiri di sana memegang tas kertasnya, dan wajahnya melakukan sesuatu yang membuatku merasa jauh lebih buruk daripada kalau dia marah.

Dia tersenyum. Sopan. Utuh. Seperti orang yang baru sadar dia salah masuk ruangan dan sedang berusaha keluar tanpa membuat siapa pun tidak enak.

“Oh.” Dia mengangguk kecil. “Maaf. Saya nggak tahu.”

“Nggak apa-apa.”

“Beneran nggak apa-apa?”

“Beneran.”

“Oke.” Dia mengangguk lagi, lebih ke dirinya sendiri daripada ke aku. Lalu, karena dia Radit, dia menoleh ke Fakhri dan mengulurkan tangan. “Selamat ya.”

Aku merasakan lengan di bawah tanganku menegang.

Dan inilah bagian yang tidak pernah kuperhitungkan, bagian yang seharusnya menghancurkan seluruh malam itu dalam dua detik, karena satu-satunya hal yang perlu dilakukan Fakhri adalah membuka mulut dan berkata maaf, saya nggak ngerti, dan semuanya selesai, dan aku akan jadi bahan cerita fakultas ini sampai wisuda.

Fakhri menurunkan gulungan kabel dari bahunya ke tangan kiri.

Lalu menjabat tangan Radit dengan tangan kanannya.

“Makasih,” katanya.

Dua suku kata. Itu saja. Tanpa penjelasan, tanpa senyum yang berlebihan, tanpa satu pun tanda bahwa dia baru saja diberi tahu tentang hidupnya sendiri tiga detik yang lalu.

Radit menepuk bahunya sekali, bilang sesuatu tentang mic dekan yang akan dia urus besok, lalu berjalan keluar lorong dengan punggung tegak dan tas kertas yang masih penuh, dan aku berdiri di sana sambil menyadari bahwa aku baru saja melakukan sesuatu yang sangat kejam kepada dua orang sekaligus.


Kerumunan bubar dengan sangat tidak meyakinkan. Artinya mereka pindah tiga meter dan berhenti.

Sasa sampai di depanku dalam empat langkah panjang.

“Anggun.”

“Sas, nanti.”

“Anggun Prameswari.”

“Nanti, Sas. Sumpah. Besok.”

Dia melihat ke tanganku. Lalu ke Fakhri. Lalu kembali ke aku, dan aku belum pernah melihat wajah Sasa yang seperti itu — bukan marah, bukan penasaran. Lebih buruk. Bingung.

“Besok,” katanya akhirnya. “Kantin. Jam satu.”

Dia pergi menyeret Mel yang masih menangis dan sekarang juga mulai cegukan.

Aku masih memegang lengan Fakhri.

Aku sadar itu. Aku sadar sejak sepuluh detik yang lalu. Aku juga sadar bahwa di antara dua belas orang itu, minimal enam masih memegang ponsel, dan bahwa melepaskan tangan sekarang, terlalu cepat, adalah cara paling efisien untuk membatalkan semua yang baru saja kubeli dengan harga sangat mahal.

Jadi aku tidak melepaskan.

Aku menggeser genggamanku sedikit ke bawah, ke lengan bawahnya, dan merasakan otot di sana — dua tahun mengangkat speaker meninggalkan jejak, ternyata — dan aku menyadari dengan sangat tidak nyaman bahwa aku belum pernah menyentuh orang ini sekalipun dalam dua tahun.

“Anggun.”

“Iya.”

“Tanganmu.”

“Iya.”

“Oke.”

Dia tidak melepaskannya. Dia juga tidak menoleh. Dia berdiri menghadap lurus ke depan, ke lorong kosong, membiarkan lengannya dipegang oleh perempuan yang baru saja mengumumkan kepada dua belas saksi bahwa mereka pacaran.

Seorang anak panitia konsumsi memotong jalan kami di tengah lorong, memegang kardus snack, dengan wajah yang bersinar-sinar.

“Kak Anggun! Serius?”

“Serius apanya?”

“Ya itu!” Dia menunjuk dengan dagunya, karena tangannya penuh. “Dari kapan?”

Dan di sinilah aku belajar sesuatu tentang berbohong yang tidak pernah kupelajari selama dua tahun jadi MC.

Di panggung, aku tidak pernah berbohong. Aku mengarang sambungan, aku menambal keheningan, aku bilang “acara akan segera dimulai” waktu acara jelas-jelas tidak akan segera dimulai — tapi itu semua bukan kebohongan, itu pelumas. Semua orang tahu aturannya.

Ini beda. Ini butuh angka.

“Lama,” kataku.

“Lama itu berapa, Kak?”

“Lamaaa.” Aku tersenyum dengan senyum nomor tiga, yang artinya pertanyaan ini sudah selesai dan kamu tidak menyadarinya. “Udah, kardusnya berat tuh.”

Dia pergi. Aku berjalan lagi.

Empat langkah kemudian, aku menyadari masalahnya.

Anak itu akan bertanya ke orang lain. Orang lain akan bertanya ke Sasa. Sasa akan bertanya kepadaku, lalu kepada Fakhri, dan Sasa akan mencatat kedua jawabannya, karena Sasa selalu mencatat.

“Fakhri.”

“Hm.”

“Nanti kalau ada yang nanya berapa lama, kamu jangan jawab dulu.”

“Kenapa?”

“Karena aku belum tahu jawabannya.”

Dia berjalan dua langkah lagi sebelum menjawab.

“Kamu bilang ‘lama’ ke anak tadi.”

Aku menoleh cepat. “Kamu dengar?”

“Aku selalu dengar.”

Dan dia mengucapkan itu dengan nada paling biasa di dunia, seperti orang menyebutkan merek baterai, dan entah kenapa itu membuat tengkukku berdiri.

“Fakhri.”

“Hm.”

“Ruang alat masih kebuka?”

“Masih.”

“Ke sana. Sekarang. Jalan biasa aja, jangan cepat-cepat.”

Dia berjalan. Aku berjalan di sebelahnya, tangan masih di lengannya, punggung tegak, dagu naik, senyum tipis yang sudah kupakai di empat puluh acara. Dari luar, aku tahu persis seperti apa kami terlihat.

Di dalam kepalaku ada satu pertanyaan kecil yang terus mengetuk dan terus kutolak untuk kubuka pintunya.

Ada dua belas orang di lorong itu. Empat di antaranya laki-laki yang kukenal namanya. Ada Radit tepat di depanku dengan tas kertas di tangan. Ada satu detik penuh panik di mana otakku mencari nama, nama siapa saja, nama apa pun.

Dan yang keluar bukan nama yang paling masuk akal, bukan nama yang paling dekat, bukan nama yang paling aman.

Yang keluar adalah nama satu-satunya orang di gedung ini yang tidak pernah, sekali pun, dalam dua tahun, mencoba mendekatiku.

Aku tidak akan memikirkan itu malam ini.

Pintu ruang alat menutup di belakang kami, dan aku melepaskan tangannya, dan baru waktu itulah aku sadar bahwa aku bahkan tidak punya nomor teleponnya.