← Sebut Saja Namanya

Chapter Twenty One

Kantong Dalam

POV: Anggun


Ada tiga puluh delapan hari di kertas itu yang sudah lewat, dan aku bangun setiap pagi minggu ini dengan angka sisanya sudah terhitung sebelum aku sempat membuka mata.

Aku tidak menghitungnya. Itu bagian yang paling menyebalkan. Angkanya turun sendiri.

Gilang Mahesa duduk di kursi kosong di sebelahku di rapat evaluasi hari Selasa, dan dia melakukannya dengan sangat wajar, karena Gilang selalu melakukan segalanya dengan sangat wajar.

“Ngun.”

“Hai, Bang.”

Rapat sedang membahas anggaran konsumsi. Tidak ada yang mendengarkan. Sasa di seberang meja sedang mengetik notulen dengan kecepatan orang yang ingin cepat pulang.

“Aku boleh nanya nggak, tapi jangan tersinggung.”

Ini adalah kalimat pembuka paling berbahaya dalam bahasa Indonesia.

“Boleh.”

“Kalian jadian tanggal berapa?”

Aku sudah punya jawabannya. Aku menyiapkannya lima minggu lalu, di malam yang sama waktu aku menulis daftar sepuluh poin, karena aku tahu cepat atau lambat akan ada yang menanyakan tanggal.

“Tanggal delapan belas.”

“Bulan apa?”

“Bulan lima.”

Gilang mengangguk pelan, dan mengetuk pulpennya ke meja dua kali, dan berkata:

“Oh. Berarti pas kepanitiaan Dies.”

“Iya.”

“Aku inget kepanitiaan Dies.” Dia tersenyum, ramah. “Kita rapat tiap Rabu di sekre lama. Kamu selalu dateng paling akhir karena ada kelas sampai jam empat.”

“Iya.”

“Waktu itu aku sempet nanya kamu — akhir Mei, kayaknya — dan kamu bilang kamu lagi nggak mau mikirin apa-apa dulu.”

Ruangan rapat itu berisi sebelas orang dan tidak ada satu pun yang mendengarkan kami.

Aku merasakan sesuatu yang sangat dingin dan sangat spesifik naik dari perutku.

Karena Gilang benar. Aku ingat mengatakannya. Aku ingat karena aku menyusun kalimat itu dengan hati-hati supaya cukup halus untuk tidak melukai dan cukup jelas untuk berhenti — dan itu penolakan ketiga, dan aku menghitungnya.

Dan sekarang penolakan ketiga itu jatuh sepuluh hari setelah tanggal yang baru saja kusebut.


Aku punya waktu kira-kira satu setengah detik.

Aku sudah pernah punya satu setengah detik sebelumnya. Aku punya satu setengah detik waktu mic dekan mati di segmen empat. Aku punya satu setengah detik waktu naskah salah cetak di semester dua.

Aku menoleh ke Gilang dan tersenyum.

“Iya,” kataku. “Makanya aku bilang gitu.”

Gilang mengerjap. “Hah?”

“Bang, aku nggak mungkin bilang ke kamu ‘maaf aku udah punya pacar’ waktu itu.” Aku mengangkat bahu, dan aku melakukannya dengan sangat baik, dan aku membenci diriku sepanjang gerakan itu. “Kita belum bilang siapa-siapa. Sepuluh hari, Bang. Sepuluh hari itu masih rahasia.”

Gilang menatapku.

“Terus kenapa nggak bilang aja rahasia?”

“Ya karena itu rahasia.”

Dia diam beberapa detik.

Lalu dia tertawa — tawa yang sopan, tawa yang bisa dipakai di ruangan berisi sebelas orang — dan menggeleng.

“Kamu emang jago ngomong.”

“Aku Ilmu Komunikasi, Bang.”

“Iya.” Dia mengetuk pulpennya lagi. “Ya udah.”

Dan dia kembali menghadap ke depan, dan rapat berlanjut ke anggaran dekorasi, dan aku duduk di sana dengan tangan di bawah meja yang gemetar dengan cara yang sangat kecil dan sangat tidak berhenti.

Sebelum keluar ruangan, dia berkata satu kalimat lagi, sambil merapikan kursinya, tanpa menatapku.

“Ngun.”

“Hm.”

“Kalau nanti ada apa-apa, kabarin.”

Bukan kalau butuh apa-apa. Bukan kalau ada yang bisa dibantu.

Kalau ada apa-apa.

Dia menunggu sesuatu terjadi.


Aku ke toilet setelah rapat dan berdiri di depan wastafel selama empat menit.

Aku memikirkan satu setengah detik itu.

Aku bagus. Itu masalahnya. Aku bagus sekali.

Pertanyaan Gilang tadi adalah jebakan yang disusun dengan rapi — dia mengingat percakapan akhir Mei, dia menghitung selisihnya, dia menunggu sampai rapat supaya aku tidak bisa kabur — dan aku menghancurkannya dalam satu setengah detik dengan satu kalimat yang bahkan tidak perlu kupikirkan.

Dan setelah itu dia tertawa dan bilang aku jago ngomong.

Aku melihat wajahku di cermin toilet fakultas dan berpikir: dua tahun yang lalu, aku bangga pada kemampuan ini.

Aku pernah menganggapnya sebagai keahlian. Aku menulisnya di CV. Aku pakai untuk memandu delapan puluh delapan acara, untuk menyambung mic dekan yang mati, untuk menyelamatkan naskah yang salah cetak.

Dan sekarang aku memakainya untuk apa.

Aku membasuh mukaku, memperbaiki riasan yang tidak rusak, dan keluar.

Yang hampir menghancurkan semuanya terjadi dua jam kemudian, dan bukan Gilang pelakunya.

Kami di sekre. Sasa sedang mencari stempel yang hilang, dan seluruh ruangan sudah dibongkar, dan dia sudah dalam mode yang oleh Mel disebut “mode kiamat”.

“Ngun, kamu bawa pulpen merah nggak?”

“Ada di tas.”

“Aku ambil ya.”

“Iya—”

Dan Sasa sudah mengambil tasku dari kursi dan membukanya.

Aku berdiri terlalu cepat.

Karena tas itu punya kantong dalam. Kantong dalam yang biasanya orang pakai untuk menyimpan kartu identitas.

Dan di dalam kantong itu ada satu lembar rundown gladi yang dilipat delapan, sudah lecek di lipatannya karena sudah lima minggu berpindah dari tas ke tas, berisi enam poin dengan tulisan miring ke kanan, dua tanda tangan, dan judul yang kutulis sendiri di bagian atas dengan huruf besar-besar:

PERJANJIAN

“Sas—”

“Bentar, pulpennya banyak banget sih di sini.”

Dia membuka kantong utama. Mengaduk. Mengeluarkan tiga pulpen hitam, satu spidol, satu lip balm.

Tangannya bergerak ke kantong dalam.

“Sasa.”

Dia mendongak.

Dan aku berdiri di tengah sekre dengan wajah yang, aku yakin sekali, adalah wajah paling tidak profesional yang pernah kutunjukkan kepada siapa pun dalam dua tahun.

Kami saling pandang selama kira-kira dua detik.

Sasa menarik tangannya keluar dari tasku.

“Nggak ada yang merah,” katanya, dan menutup tasku, dan menyerahkannya kepadaku, dan berbalik. “Ya udah, aku pakai punya Mel.”

“Sas.”

“Aku pensiun, Ngun.” Dia sudah membelakangiku, sedang mengaduk laci meja. “Aku bilang aku pensiun ya aku pensiun.”

Aku memegang tasku dengan dua tangan.

“Makasih.”

“Jangan makasih.” Dia menutup laci lebih keras dari yang dibutuhkan. “Makasih itu buat orang yang nolong. Aku nggak nolong. Aku cuma nggak buka.”


Sasa tidak berbicara kepadaku selama empat puluh menit setelah itu.

Bukan mendiamkan. Sasa tidak pernah mendiamkan; Sasa terlalu banyak bicara untuk punya senjata itu. Dia tetap menjawab kalau ditanya, tetap menyerahkan berkas, tetap mengomentari stempel yang akhirnya ditemukan di dalam kotak P3K karena entah siapa.

Dia cuma tidak memulai.

Dalam sembilan tahun berteman, aku tidak pernah sekali pun mengalami Sasa yang tidak memulai.

Jam empat kurang, dia menutup laptopnya dan berkata, tanpa menoleh:

“Ngun, aku mau ngomong satu hal, dan aku mau kamu nggak jawab.”

“Oke.”

“Waktu kita SMA, kamu pernah bohong ke aku soal nilai fisika.” Dia memasukkan laptopnya ke tas. “Terus aku tahu, terus aku marah, terus kamu bilang kamu bohong karena kamu takut aku kecewa.”

Aku diam.

“Dan aku bilang ke kamu waktu itu: aku nggak pernah kecewa sama kamu, aku cuma kecewa kalau aku jadi orang terakhir yang tahu.”

Dia menutup resleting tasnya.

“Aku masih orangnya sama, Ngun.”

Dia pergi ke pintu sekre, lalu berhenti sebentar dengan tangan di gagang.

“Dan aku bilang jangan jawab, jadi jangan jawab.”

Mel menangis jam lima sore, di parkiran, di depan motor matic-nya.

“Mel.”

“Nggak apa-apa.”

“Mel, kamu nangis.”

“Aku nggak nangis.”

“Air matanya udah sampai dagu.”

Mel menghapus wajahnya dengan lengan bajunya, dan menarik napas dengan bunyi yang sangat besar, dan berkata:

“Aku cuma seneng banget, Ngun.”

Aku mengerjap. “Seneng?”

“Iya.” Dia mengangguk cepat-cepat. “Kamu tuh dari dulu kesepian—”

“Mel, aku nggak—”

“—kesepian banget, dan sekarang kamu punya orang yang tahu kamu suka es teh tawar.” Dia mulai menangis lagi. “Dan tadi aku lihat kalian di koridor gedung B dan kamu ketawa yang beneran, bukan yang di panggung, dan aku—”

Dia berhenti dan menggeleng-geleng.

“Maaf. Aku emang gini.”

Aku berdiri di parkiran itu memegang stang motornya supaya dia bisa menghapus wajahnya dengan dua tangan.

Dan aku merasakan sesuatu yang jauh lebih buruk daripada apa pun yang Gilang lakukan sepanjang siang.

Karena Gilang mencurigaiku, dan curiga itu bisa dilawan. Aku punya lima jawaban untuk orang yang curiga. Aku punya satu setengah detik dan aku menang.

Mel percaya.

Mel percaya dengan seluruh isi dadanya, dan menangis di parkiran karena sahabatnya akhirnya punya orang yang tahu dia suka es teh tawar.

Dan bagian yang benar dari kepercayaan Mel — bagian tentang es teh tawar, bagian tentang tertawa yang bukan tawa panggung — semuanya sudah nyata sejak sepuluh hari lalu.

Cuma tanggalnya yang bohong. Cuma bulannya. Cuma seluruh cerita tentang bagaimana kami sampai di sini.

Aku menepuk bahu Mel dua kali dan mengatakan sesuatu yang menenangkan, dan aku tidak ingat apa yang kukatakan, karena mulutku sudah lama bisa bekerja sendiri tanpa aku.


Fakhri mengirim pesan jam tujuh malam.

Fakhri: kamu makan?
Anggun: belum
Fakhri: makan
Anggun: iya iya
Anggun: fakhri
Fakhri: hm
Anggun: sasa hampir

Aku menatap dua kata itu di layar selama hampir semenit, lalu memutuskan tidak melanjutkannya, lalu mengirim stiker kucing supaya percakapannya berbelok.

Dia tidak memaksa. Dia tidak pernah memaksa.

Fakhri: makan dulu

Aku menaruh ponselku dan tidak makan sampai jam sembilan.

Malamnya, di kos, aku mengeluarkan kertas rundown itu dari kantong dalam dan membukanya di atas kasur.

Poin satu: batas waktu empat puluh tiga hari, tidak diperpanjang.

Aku menghitung dengan jari.

Lima hari.

Lalu aku melipatnya lagi jadi delapan, memasukkannya kembali, dan mengetik pesan.

Anggun: besok bisa ketemu? ada yang mau aku omongin
Fakhri: bisa
Fakhri: jam berapa
Anggun: jam 3
Fakhri: oke

Aku menatap layar itu lama sekali.

Lima minggu lalu, “jam tiga” adalah kalimat yang tidak butuh dijelaskan kepada siapa pun karena tidak ada seorang pun yang tahu artinya.

Sekarang masih tidak butuh dijelaskan, dan itu justru yang membuat dadaku sakit.