Chapter Twenty
Boleh Saya Potong Sebentar
POV: Fakhri
Radit menemukanku di aula hari Senin, jam empat sore, waktu aku sedang mengganti karet peredam di kaki stand mic.
Aku tahu dia datang dari sepuluh meter sebelumnya. Sepatunya keras di lantai vinil dan langkahnya teratur, tidak seperti panitia yang selalu setengah berlari.
“Boleh saya potong sebentar?”
“Boleh.”
Dia berdiri di sisi meja, memegang map seperti biasa, kemejanya rapi jam empat sore seperti biasa.
“Kamu ada waktu sepuluh menit?”
Aku menaruh obeng. “Ada.”
“Bukan soal proker.”
“Iya.”
Dia mengangguk sekali, lalu duduk di ujung panggung dengan kaki menggantung, yang mana adalah hal paling tidak formal yang pernah kulihat dia lakukan.
“Aku ngajak Anggun ngomong minggu lalu,” katanya. “Dia jawab nanti dikabarin. Terus nggak dikabarin.”
“Oke.”
“Itu bukan salah dia. Aku juga nggak akan bales kalau ada yang ngajak ngomong dengan cara kayak gitu.” Dia menaruh mapnya di sebelahnya. “Jadi aku ke kamu.”
Aku tidak menjawab. Aku sudah lama tahu bahwa orang yang datang membawa sesuatu akan mengeluarkannya sendiri kalau kamu tidak mengisi kekosongan.
“Aku nggak akan nanya apa-apa yang aneh,” katanya. “Aku cuma mau ngomong dua hal, terus aku pergi.”
“Oke.”
“Yang pertama, aku minta maaf.”
Aku menoleh.
“Bukan ke kamu,” katanya cepat. “Ke Anggun. Tapi aku nggak bisa nyampein ke dia sekarang, karena kalau aku nyampein, dia bakal ngerasa harus balas minta maaf, dan dia nggak punya utang apa-apa ke aku.”
“Minta maaf soal apa?”
Radit melihat ke arah lorong belakang. Pintunya kelihatan dari sini, sekitar dua puluh meter, di sisi kiri panggung.
“Aku milih tempat yang salah,” katanya. “Aku pikir kalau aku ngomong di situ, habis gladi, sambil semua orang lagi seneng, ya... suasananya bagus.”
Dia menggeleng pelan.
“Aku baru sadar dua hari kemudian bahwa aku ngasih dia ruangan yang isinya dua belas orang. Aku bikin dia harus jawab di depan penonton.” Dia mengetuk map di sebelahnya dengan satu jari. “Aku nggak lagi bilang aku ditolak dengan tidak adil, aku bilang aku nanya dengan tidak adil. Itu beda.”
Aku memikirkan malam itu.
Dua belas orang di mulut lorong. Empat ponsel terangkat. Anggun berdiri di tengah dan wajahnya melakukan sesuatu selama kira-kira dua detik yang tidak akan pernah kuceritakan kepada siapa pun.
“Iya,” kataku.
Radit tertawa satu kali, pendek, tanpa senang.
“Kamu nggak bilang ‘nggak apa-apa’.”
“Nggak.”
“Bagus.” Dia mengangguk. “Orang selalu bilang nggak apa-apa. Capek.”
“Boleh aku nanya balik?” kataku.
Radit mengangkat alisnya. Dia terlihat benar-benar terkejut, dan aku baru sadar bahwa dalam setahun kepanitiaan aku mungkin belum pernah menanyakan apa pun kepadanya yang bukan tentang rundown.
“Boleh.”
“Kenapa kamu masih dateng ke sekre tiap hari?”
“Karena aku ketua BEM.”
“Bukan itu.” Aku memutar obeng di tanganku. “Kamu bisa ngurus semuanya dari grup. Kamu bisa ngurangin jadwal ke sekre jadi dua kali seminggu dan nggak ada yang protes. Aku ngitung; kamu tetep dateng tiap hari.”
Radit tertawa.
“Kamu emang merhatiin banget ya.”
“Itu kerjaanku.”
“Iya.” Dia mengetuk mapnya. “Ya... karena kalau aku ngurangin, artinya aku ngaku.”
“Ngaku apa?”
“Ngaku bahwa satu hal yang terjadi di lorong itu cukup besar buat ngubah jadwal hidupku.” Dia mengangkat bahu. “Dan itu nggak boleh. Itu satu-satunya hal yang masih bisa aku kontrol.”
Aula itu diam sebentar.
“Kedengerannya capek,” kataku.
“Capek banget.”
“Yang kedua,” katanya.
Dia turun dari panggung dan berdiri, dan aku juga berdiri, karena entah kenapa terasa salah untuk tetap duduk.
“Aku suka dia dari tahun lalu,” kata Radit. “Sekitar bulan Maret. Waktu kepanitiaan pertama bareng.”
Aula itu kosong dan besar dan menelan suara.
“Aku ngomong ke dia setelah setahun. Setahun aku mikirin cara, terus akhirnya aku milih cara yang paling jelek.” Dia mengangkat bahu. “Tapi ya udah. Aku ngomong.”
Dia menatapku.
“Kamu berapa lama?”
Aku bisa berbohong. Itu mudah. “Empat bulan” adalah angka yang sudah beredar selama lima minggu dan tidak ada yang membantahnya.
“Dua tahun,” kataku.
Radit tidak kaget.
Itu bagian yang membuatku tidak nyaman. Dia tidak kaget sama sekali; dia mengangguk seperti orang yang mendapat konfirmasi atas sesuatu yang sudah dia hitung sendiri.
“Iya,” katanya. “Aku ngira segitu.”
“Dari mana?”
“Dari Malam Apresiasi tahun lalu.” Dia memasukkan tangan ke saku. “Waktu mic Anggun dengung di segmen tiga. Kamu benerin dalam empat detik. Waktu itu aku duduk di barisan dua dan aku sempet mikir, ‘kok cepet banget ya.’”
Dia mengangkat kepalanya sedikit.
“Terus tahun ini mic dekan mati dua detik dan kamu butuh lebih lama.”
Aula itu benar-benar diam.
“Itu bukan tuduhan,” kata Radit. “Aku cuma orang yang suka merhatiin data. Sama kayak kamu.”
“Aku pergi habis ini,” katanya. “Tapi aku mau nanya satu hal dulu, dan kamu nggak harus jawab.”
“Oke.”
“Dua tahun.” Dia menatapku lurus. “Kenapa kamu nggak pernah bilang?”
Aku sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan itu selama dua tahun, dan aku sudah mengucapkannya sekali kepada Anggun di ruang alat, dan jawabannya bagus. Jawabannya adalah bahwa kalau aku bilang, dia harus menjawab, dan kalau jawabannya tidak, dia akan berhenti datang jam tiga.
Aku membuka mulut untuk mengucapkannya.
Dan aku menutupnya lagi, karena aku sedang berdiri di depan orang yang berdiri di lorong dengan tas kertas di tangan di depan dua belas orang dan empat kamera, dan mengucapkan jawaban itu kepadanya akan terdengar seperti apa adanya.
“Karena aku takut,” kataku.
Radit mengangguk.
“Iya.”
“Kamu nggak takut?”
“Takut banget.” Dia mengambil mapnya dari panggung. “Aku nggak tidur dua hari. Aku ganti kalimatnya empat puluh kali. Terus aku berdiri di lorong itu dan aku ditolak di depan dua belas orang, dan sekarang setiap kali aku lewat sekre ada yang ngeliatin.”
Dia menepuk mapnya ke telapak tangannya sekali.
“Dan aku nggak nyesel.”
Aku tidak berkata apa-apa.
“Aku nyesel milih tempatnya. Aku nggak nyesel berdirinya.” Dia mulai berjalan, lalu berhenti setelah tiga langkah dan menoleh. “Fakhri.”
“Iya.”
“Sekarang kalian pacaran, ya. Bagus. Aku beneran ngomong bagus, bukan basa-basi.”
“Makasih.”
“Tapi aku mau ninggalin satu hal.” Dia memiringkan kepalanya sedikit. “Kalian pacaran empat bulan, katanya. Dan dalam empat bulan itu, satu-satunya kali aku pernah lihat kalian berdua di ruangan yang sama sebelum malam itu adalah waktu kamu ngasih mic ke tangan dia.”
Aula itu punya gema yang menunggu di dinding belakang. Aku sudah dua tahun tahu itu. Aku baru merasakannya sekarang.
“Aku nggak akan nanya kenapa,” kata Radit. “Bukan urusanku, dan aku nggak mau tahu.”
Dia menaruh mapnya di bawah lengan.
“Aku cuma mau bilang: aku berdiri di lorong itu sekali dan aku kalah, dan aku masih bisa jalan lewat sekre tiap hari.” Dia mengangkat tangannya sedikit, seperti orang menyerahkan sesuatu. “Kamu belum pernah berdiri di mana-mana, dan kamu menang. Aku nggak tahu itu artinya apa buat kamu. Tapi kalau aku jadi kamu, aku bakal mikirin itu.”
Dia pergi.
Sepatunya keras di lantai vinil sampai ke pintu, dan pintunya menutup, dan aula itu kembali ke dengung lampu dan napas AC di sisi kiri.
Yoga masuk aula sepuluh menit kemudian sambil membawa es teh dan langsung duduk di atas koper alatku.
“Bang, tadi itu Radit ya?”
“Iya.”
“Ngapain?”
“Ngobrol.”
“Ngobrol apa?”
“Proker.”
Yoga menyeruput es tehnya dengan sangat curiga.
“Bang, kalian ngobrol dua puluh menit dan kamu nggak nyentuh obeng sama sekali. Aku ngintip dari pintu.”
“Kamu ngintip dari pintu?”
“Aku lewat.”
“Yoga.”
“Aku lewat delapan kali.”
Aku mengambil obeng dan mulai bekerja lagi. Yoga duduk di sana selama beberapa menit tanpa bicara, yang untuk Yoga adalah bentuk kesopanan tertinggi yang tersedia.
“Bang.”
“Hm.”
“Kamu tahu nggak, dulu aku sempet nggak suka sama Radit.”
“Kenapa?”
“Karena dia sempurna banget. Ketua BEM, rapi, sopan, ngomongnya bagus.” Yoga mengayunkan kakinya. “Terus dia ditolak di depan dua belas orang dan aku jadi kasihan. Terus aku sadar aku baru mulai suka sama dia justru setelah dia kalah, dan itu jahat banget ya.”
Aku memasang karet peredam ke kaki stand berikutnya.
“Itu bukan jahat,” kataku.
“Terus apa?”
“Itu artinya orang baru kelihatan waktu dia berdiri di tempat yang bisa bikin dia jatuh.”
Yoga berhenti mengayunkan kakinya.
“Bang, itu kalimat bagus banget.”
“Bukan punyaku.”
“Punya siapa?”
Aku tidak menjawab.
Aku duduk di ujung panggung selama kira-kira dua puluh menit dengan obeng di tangan dan tidak mengganti satu pun karet peredam.
Aku memikirkan hal-hal berikut, berurutan.
Bahwa Radit benar tentang datanya. Mic Anggun dengung di segmen tiga tahun lalu dan aku memperbaikinya dalam empat detik karena aku sudah memegang fader-nya sebelum dengungnya penuh, karena aku selalu memegang fader-nya, karena tanganku sudah tahu channel mana yang penting sebelum kepalaku sempat memutuskan.
Bahwa aku tidak pernah berdiri di mana-mana. Itu juga benar. Lima minggu ini aku sudah dipegang tangannya di kantin, dirangkul di lorong, dipeluk di koridor, dicium di lorong belakang — dan tidak satu pun dari kejadian itu yang kumulai. Aku menerima semuanya. Aku bagus sekali dalam menerima.
Dan bahwa besok adalah hari ketiga puluh delapan.
Lima hari lagi.
Aku berdiri, mengambil obeng, dan mengganti karet peredam di lima belas kaki stand mic sampai jam tujuh, karena melakukan sesuatu dengan tangan adalah satu-satunya bentuk pengobatan yang pernah berhasil untukku.
Jam delapan malam aku sampai kos dan menemukan Fikri duduk di depan pintu.
“Kamu punya kunci.”
“Aku males masuk.”
Dia berdiri, menepuk celananya, dan langsung berkata: “Yoga bilang Radit dateng ke aula.”
“Yoga lewat delapan kali.”
“Sembilan. Yang kesembilan dia nggak ngaku.” Fikri bersandar ke tembok. “Aku nggak akan nanya isinya.”
“Bagus.”
“Aku cuma mau bilang satu hal, terus aku pulang.” Dia memasukkan tangan ke saku jaketnya. “Bang, kamu udah tiga minggu ini beda.”
“Beda gimana?”
“Kamu bercanda.”
“Sekali.”
“Empat kali. Aku ngitung.” Fikri mengangkat bahu. “Dan kamu makan lebih teratur. Dan kamu nggak lagi ngerjain lima hal sekaligus tiap ada waktu kosong.”
Aku membuka kunci pintu kos.
“Terus?”
“Terus aku takut,” kata Fikri. “Karena semua itu bukan kamu yang berubah. Itu ada orang lain yang lagi ada di deket kamu.”
Aku berhenti dengan kunci masih di lubang.
“Dan kalau orang itu pergi,” lanjutnya, “kamu bakal balik ke yang lama, dan kamu bakal ngerasa itu normal, karena buat kamu itu emang normal.” Dia mendorong badannya dari tembok. “Itu bagian yang bikin aku nggak bisa tidur, Bang. Bukan bagian kamu bakal sedih. Bagian kamu nggak bakal ngerasa itu kehilangan.”
Dia pergi.
Aku berdiri di depan pintu kos dengan kunci di lubang selama lebih lama dari yang dibutuhkan orang untuk membuka pintu.
Malam itu aku tidak menceritakan percakapan ini ke Anggun.
Aku mencatat tanggalnya juga.
- 1 Dua Belas Mic, Satu Lakban Biru
- 2 Dia Pacarku
- 3 Empat Puluh Tiga Hari
- 4 Kantin Nggak Ramai
- 5 Daftar
- 6 Satu Langkah di Belakang
- 7 Empat Puluh Detik
- 8 Aku Ngantuk
- 9 Hipotesis
- 10 Observasi
- 11 Payung
- 12 Ada yang Lihat
- 13 CCTV
- 14 Kursi Barisan Keempat
- 15 Dua Tahun
- 16 Versi yang Bakal Nempel
- 17 Kabelnya Berat
- 18 Tempat Paling Nggak Romantis di Kampus
- 19 Sebelas Detik
- 20 Boleh Saya Potong Sebentar reading
- 21 Kantong Dalam
- 22 Tanggal Dua Puluh
- 23 Nggak
- 24 Nama di Kontak
- 25 Hari Keempat Puluh Tiga
- 26 Satu Orang
- 27 Naik
- 28 Empat Jam dari Kampus
- 29 Rekonstruksi
- 30 Satu-satunya Orang yang Tahu
- 31 Aman
- 32 Yang Direkam
- 33 Tujuh Belas Menit
- 34 Lima Menit
- 35 Yang Nggak Manis
- 36 Hipotesis Keempat Belas
- 37 Aku Nggak Cemburu
- 38 Nggak Menarik untuk Difoto
- 39 Channel Tujuh
- 40 Dua Belas Mic