← Sebut Saja Namanya

Chapter Twelve

Ada yang Lihat

POV: Anggun


Malam Puncak adalah acara terbesar fakultas dalam setahun, dan aku sudah memandunya tiga kali.

Delapan ratus kursi. Tamu dari rektorat. Dua penampilan musik, satu penampilan tari, satu video profil yang selalu bermasalah, dan enam segmen penghargaan yang harus dijalankan dengan presisi karena ada orang-orang penting yang punya pesawat.

Aku tidak gugup. Aku belum gugup untuk acara sejak semester empat.

Yang membuatku tidak bisa tidur semalam sebelumnya bukan acaranya.

Dua puluh satu hari.

Aku menghitungnya setiap malam sekarang. Aku benci bahwa aku menghitungnya. Aku sudah mencoba berhenti tiga kali dan gagal tiga kali, karena angkanya turun sendiri walaupun aku tidak menghitung, dan mengetahui angka yang turun tanpa menghitung ternyata jauh lebih buruk.


Aku sampai jam tiga.

Fakhri sudah di sana. Tentu saja.

Dia sedang di lantai panggung, menempel jalur kabel dengan lakban hitam, satu meter demi satu meter, ditekan rata dengan telapak tangan. Rambutnya diikat asal ke belakang dengan karet gelang, yang berarti hari ini berat, karena dia cuma mengikat rambutnya kalau pekerjaannya banyak.

Aku duduk di kursi barisan keempat.

“Anggun.”

“Hm.”

“Rundown segmen lima berubah.”

“Aku tahu. Aku yang ubah.”

Dia mendongak. “Kenapa?”

“Karena penampilan tarinya butuh empat menit setting, dan kalau langsung disambung ke penghargaan, aku bakal berdiri diem di panggung selama empat menit kayak orang nunggu angkot.” Aku mengayunkan kakiku. “Jadi aku pindahin video profil ke situ. Videonya empat menit dua belas detik.”

Fakhri menatapku beberapa saat.

“Kamu ngukur videonya?”

“Ya iyalah.”

“Nggak ada yang ngukur video.”

“Aku ngukur semuanya, Fakhri. Aku cuma nggak pernah cerita, karena kalau aku cerita, orang bakal ngira aku ribet.”

Dia kembali menunduk ke lakbannya. Tiga detik.

“Aku juga ngukur semuanya,” katanya.

“Aku tahu.”

“Iya.”

Dan itu saja, dan tidak ada apa-apa lagi, dan entah kenapa aku duduk di kursi barisan keempat itu selama satu jam berikutnya dengan perasaan seperti orang yang baru saja diberitahu sesuatu yang besar.


Jam setengah tujuh, di belakang panggung, dia menyerahkan mic-ku.

Nomor tujuh. Lakban biru di bawah batangnya, sudah agak kusam di pinggirnya. Aku memutarnya sekali di tangan seperti biasa.

“Baterainya baru?”

“Baru.”

“Monitor?”

“Udah aku naikin dikit. Ada yang gemeter.”

Aku menoleh ke belakang. Di sudut, ketua divisi acara — anak semester tiga, perempuan, memegang naskah sambutan pembuka dengan dua tangan — sedang membaca ulang untuk yang kesekian kali dengan bibir bergerak tanpa suara.

Aku belum menyadarinya. Aku sudah berdiri di ruangan ini empat puluh menit dan aku belum menyadarinya.

“Kamu ngeliat itu kapan?”

“Tadi. Waktu dia masuk.”

“Fakhri, dia masuk lima belas menit lalu dan langsung ke pojok.”

“Iya.”

Aku mengangkat mic-ku dan tidak berkata apa-apa lagi, karena kalau aku bicara lagi aku akan mengatakan sesuatu yang tidak ada di kontrak.


Acaranya berjalan sempurna.

Aku tidak menggunakan kata itu sembarangan. Aku sudah memandu delapan puluh delapan acara dan aku bisa menghitung dengan satu tangan berapa yang berjalan tanpa satu pun kecelakaan.

Video profil menyala tepat waktu. Penghargaan berurutan tanpa nama yang tertukar. Tamu rektorat pulang jam sembilan lewat sepuluh dan sempat menyalami ketua panitia dua kali.

Dan di menit pertama, sebelum aku naik, ada tiga jari yang terangkat dari balik meja mixer di kegelapan.

Tiga.

Dua.

Aku naik.


Ada satu hal yang tidak masuk laporan panitia.

Di segmen empat, mic dekan mati selama dua koma lima detik.

Aku tahu durasinya karena aku menghitung sambil menyelamatkannya. Dekan sedang di tengah kalimat tentang capaian akreditasi, suaranya hilang, dan delapan ratus orang mulai bergerak di kursi masing-masing dengan cara yang sangat khas.

Aku melangkah masuk dari sisi panggung dengan mic-ku sendiri sebelum siapa pun sempat berpikir, menyambung kalimat dekan dari kata terakhir yang terdengar, mengubahnya menjadi lelucon kecil tentang teknologi, dan menyerahkan mic-ku ke tangan beliau.

Delapan ratus orang tertawa. Dekan tertawa. Acara jalan.

Empat detik setelah itu, mic dekan yang lama menyala lagi di tangan panitia, dan aku mendapatkan mic-ku kembali di segmen berikutnya, sudah diganti baterainya.

Tidak ada satu orang pun yang menyebut kejadian itu setelahnya. Tidak di grup panitia, tidak di evaluasi, tidak di mana pun.

Karena kalau kerjanya benar, hasilnya adalah tidak ada yang tahu sesuatu sempat rusak.

Aku baru belajar kalimat itu tiga minggu terakhir, dan aku belajar dari orang yang tidak pernah mengucapkannya.

Selesai jam setengah sebelas.

Panitia berfoto di panggung selama dua puluh menit. Aku ada di semua fotonya, di tengah, karena aku selalu di tengah, karena itu memang tempat MC berdiri.

Aku mencari satu orang di setiap foto dan tidak menemukannya di satu pun.

Aku sempat berpikir untuk memanggilnya. Aku benar-benar sempat.

Ketua panitia sedang mengatur barisan, semua orang sedang tertawa dan berdesakan, dan yang perlu kulakukan cuma berteriak satu nama ke arah meja mixer, dan orang itu akan naik ke panggung, dan namanya akan ada di caption dokumentasi bersama tiga puluh delapan nama lain.

Aku tidak melakukannya.

Aku bilang ke diriku sendiri bahwa itu karena dia tidak akan mau. Itu benar; dia tidak akan mau.

Alasan yang sebenarnya lebih jelek dari itu.

Alasan yang sebenarnya adalah bahwa aku belum siap berdiri di sebelahnya di dalam foto yang akan bertahan lebih lama dari dua puluh satu hari.

Jam sebelas lewat, aula mulai kosong. Kursi ditumpuk. Panitia konsumsi membagi sisa snack. Sasa berteriak dari ujung ruangan menanyakan siapa yang membawa kunci gudang, dan tidak ada yang menjawab, seperti tahun lalu dan tahun sebelumnya.

Aku keluar lewat pintu samping panggung, ke koridor belakang.

Koridor yang sama.

Aku baru menyadarinya waktu sudah berdiri di dalamnya. Ini lorong yang sama dengan malam itu — lorong tempat Radit berdiri memegang tas kertas, lorong tempat dua belas orang menonton, lorong tempat mulutku bergerak sebelum otakku.

Dan sekarang lorong itu kosong.

Fakhri berdiri di ujungnya, sendirian, sedang menggulung kabel terakhir ke dalam koper alat.


Sasa menemukanku di pintu samping sebelum aku sempat keluar.

“Ngun, foto panitia inti belum—”

“Bentar, Sas.”

“Kamu mau ke mana?”

“Bentar aja.”

Dia melihat ke arah pintu koridor. Lalu ke aku. Dan dia melakukan hal yang tidak pernah Sasa lakukan seumur hidupnya, yaitu mundur.

“Ya udah,” katanya. “Nanti aku bilang kamu lagi ke toilet.”

“Sas.”

“Apa.”

“Makasih.”

“Aku belum ngerti apa-apa, Ngun.” Dia sudah berbalik. “Aku cuma udah capek nebak.”

Aku berjalan ke arahnya, dan aku bisa mendengar sepatuku sendiri, dan aku tahu dia bisa mendengar sepatuku sendiri karena dia bisa mendengar segalanya.

Dia tidak mendongak sampai aku berhenti satu meter di depannya.

“Udah selesai?” tanyanya.

“Udah.”

“Bagus tadi.”

“Aku tahu.”

Dia menutup koper. Berdiri.

Dan kemudian, karena dia adalah orang yang mengatakan hal-hal dengan cara paling biasa di dunia, dia berkata:

“Segmen empat, waktu mic dekannya mati sebentar. Kamu nyambung sendiri.”

“Kamu dengar?”

“Aku selalu dengar.”

“Nggak ada yang nyadar.”

“Aku nyadar.”

Dua tahun.

Empat puluh tiga acara.

Delapan ratus kursi malam ini dan tidak ada satu pun yang menyadari bahwa mic dekan sempat mati selama dua koma lima detik di segmen empat, dan bahwa aku menyambungnya dengan kalimat yang kukarang dalam waktu kurang dari satu detik, dan bahwa aku bangga pada diriku sendiri untuk hal itu dan tidak punya siapa pun untuk diberi tahu.

Dan ada satu orang di gedung ini yang bahkan tidak perlu diberi tahu.

Aku melangkah maju.

Aku memegang lengannya di atas siku — tempat yang sama seperti malam pertama, di lorong yang sama, dengan tangan yang sama — dan aku berjinjit, dan aku mencium pipinya.


Bibirku menyentuh rahangnya, agak ke bawah dari yang kutuju, karena dia jauh lebih tinggi dariku dan karena aku salah menghitung untuk pertama kalinya dalam hidupku.

Kulitnya kasar sedikit di sana. Dia belum sempat mencukur karena dia sudah di gedung ini sejak jam satu siang.

Aku menahan diriku di situ satu detik lebih lama dari yang bisa kubenarkan dengan alasan apa pun.

Lalu aku turun dari jinjitku.

Fakhri tidak bergerak sama sekali. Tangannya di sisi tubuh. Koper alat di kakinya. Dia menatap lurus ke ujung lorong seperti orang yang sedang menghafal denah gedung.

Dan aku, karena aku pengecut, karena aku sudah punya jaring pengaman ini sejak hari pertama dan tidak pernah gagal memakainya, berkata:

“Ada yang lihat.”

Lorong itu kosong.

Lorong itu kosong dan kami berdua tahu lorong itu kosong dan tidak ada satu pun manusia di gedung itu dalam radius tiga puluh meter, karena semuanya ada di aula, karena Sasa masih berteriak soal kunci gudang dan suaranya terdengar sampai ke sini.

“Nggak ada,” kata Fakhri.

“Ada.”

“Anggun.”

“Ada yang lihat,” ulangku, dan suaraku pecah di tengah kata terakhir dengan cara yang tidak pernah terjadi padaku di depan delapan ratus orang. “Ini... biar nggak ketahuan aja.”

Dia menoleh.

Dan untuk pertama kalinya sejak lorong ini, sejak dua tahun, sejak kapan pun, wajahnya berubah.

Aku tidak bisa menjelaskan berubahnya bagaimana. Tidak ada yang bergerak di sana — tidak ada alis yang naik, tidak ada rahang yang mengeras. Sesuatu di belakang matanya saja.

Seperti alat yang selama ini menyala dalam mode siaga, dan seseorang baru saja menekan tombol yang benar.

“Anggun,” katanya. Pelan. “Berhenti bilang itu.”

Aku berbalik dan pergi.

Aku berjalan sepanjang lorong itu, empat puluh meter, dengan punggung tegak dan dagu naik seperti empat puluh acara sebelumnya, dan aku tidak menoleh sekali pun, dan aku tidak berhenti sampai keluar gedung.

Lalu aku berdiri di parkiran yang gelap, sendirian, di antara motor-motor orang lain.

Aku menghitung apa saja yang sudah kupakai selama tiga minggu ini.

Kantin ramai. Ada Sasa. Hujan. Antreannya sempit. Aku ngantuk. Ada yang lihat.

Enam alasan. Aku menyusunnya dengan hati-hati, satu per satu, seperti orang menyusun rundown, dan semuanya benar secara teknis, dan tidak satu pun jujur.

Dan malam ini alasan itu sudah habis.

Bukan karena aku kehabisan ide. Aku bisa mengarang empat puluh lagi kalau perlu; itu keahlianku, itu satu-satunya keahlianku.

Tapi barusan aku memakai satu di lorong kosong, dengan suara yang pecah, di depan orang yang bisa mendengar mic dekan mati selama dua koma lima detik dari jarak dua puluh meter.

Dia tidak akan percaya alasan apa pun lagi setelah ini. Dan aku baru menyadari, berdiri di parkiran gelap itu, bahwa aku sudah lama tidak butuh dia percaya.

Yang selama ini kubutuhkan adalah dia tidak bertanya.

Dan malam ini dia berhenti tidak bertanya.

Dua puluh satu hari lagi. Aku bisa menghabiskannya dengan aman. Aku bisa pulang sekarang, tidur, dan besok pagi mengirim pesan yang lucu supaya semuanya kembali ke tempatnya, dan aku sangat, sangat bagus dalam hal itu.

Aku berbalik.