← Pembeli Pertamamu

Chapter Nine

Bab 9 — Tolong Diam

POV: Dara

Aku baru sadar ada yang salah denganku pada hari Rabu pagi, ketika Tiwi membacakan jadwal minggu ini dan aku mendengarkan dengan cara yang sama sekali tidak profesional.

“Senin, fitting model gelombang dua. Selasa, meeting dengan tim lighting di Gedung Merdeka. Rabu, alias hari ini, review final kain gaun penutup. Kamis, wawancara podcast jam sepuluh, terus jam dua ke Kayuku buat cek rangka jendela yang udah di-finishing...”

“Kamis,” ulangku.

“Iya, Kamis. Terus Jumat...”

“Kamis jam berapa tadi?”

“Jam dua, Mbak. Oh, terus satu lagi.” Tiwi menggulir layar. “Makan malam di rumah Bapak. Yang udah Mbak undur dua kali. Ibu Mbak telepon aku kemarin, Mbak. Ke aku. Katanya kalau Mbak undur lagi, Bapak mau datang sendiri ke kantor.”

Aku meringis. “Dua minggu lagi. Bilang ke Ibu, dua minggu lagi, pasti.”

“Siap, Mbak. Aku catat. Pakai huruf kapital.” Tiwi mengetik dengan dramatis. “Terus, balik ke Kamis...”

“Kamis jam berapa?”

Tiwi berhenti membaca. Ia menurunkan tablet perlahan, sangat perlahan, seperti detektif di serial televisi yang baru menyadari bahwa tersangkanya duduk tepat di depannya.

“Jam dua, Mbak.”

“Oke.”

“Mbak nanya jam berapa ke Kayuku. Tapi nggak nanya jam berapa podcast-nya.”

“Aku udah tahu podcast-nya jam sepuluh.”

“Mbak juga udah tahu ke Kayuku jam dua. Aku baru bilang lima detik yang lalu.”

Aku menatap layar laptopku dengan sangat serius. Ada email dari tim lighting. Aku membukanya dan membacanya tanpa benar-benar membaca.

“Mbak,” kata Tiwi pelan.

“Hm.”

“Mbak udah ke Kayuku sebelas kali dalam tiga minggu.”

“Itu urusan kerja.”

“Rapat sama vendor lighting cuma dua kali. Rapat sama vendor catering satu kali, itu pun lewat Zoom dan Mbak matiin kamera.” Tiwi menghitung dengan jari. “Kayuku sebelas kali. Salah satunya jam sembilan malam. Dan Mbak pulang jam enam pagi.”

“Itu revisi pintu.”

“Mbak bilang ke aku itu revisi pintu. Tapi Mbak pulang pakai kardigan yang sama, rambut acak-acakan, dan senyum kayak orang baru menang undian.”

Aku menutup laptop dan menatapnya. Tiwi menatapku balik dengan wajah yang sangat, sangat sabar.

“Nggak ada apa-apa, Wi.”

“Oke, Mbak.”

“Serius.”

“Oke, Mbak.” Ia mengangkat tablet lagi, lalu bergumam, cukup keras untuk kudengar: “Sebelas kali.”


Masalahnya, Tiwi benar.

Bukan soal ada apa-apa. Memang tidak ada apa-apa. Prama Winata adalah vendor. Vendor yang luar biasa, yang begadang semalaman untuk pintuku, yang memasak mi dengan daun bawang yang ia petik di tengah hujan, yang bercerita tentang jati selama dua jam supaya aku tidak takut petir. Tapi tetap vendor.

Masalahnya adalah aku.

Aku menunggu hari Kamis. Aku menunggu setiap kali ada jadwal ke Cigadung. Aku menghitung hari, menghitung jam, dan merasa sedikit kecewa setiap kali urusan di Kayuku selesai terlalu cepat. Aku mencari-cari alasan untuk datang. Memeriksa sambungan yang sudah diperiksa. Menanyakan warna minyak yang sudah disetujui. Membawa kue lapis, lalu kue bolu, lalu pisang goreng, lalu kue lapis lagi.

Dan setiap malam, di rooftop, aku memikirkan lenganku yang mencengkeram lengan bajunya dalam gelap.

Dua jam. Aku memegang lengannya dua jam. Dan ia tidak pernah menariknya.

Waktu itu aku bilang pada diriku sendiri bahwa aku cuma takut petir. Dan itu benar. Tapi petirnya berhenti jam delapan. Dan aku masih memegang lengannya sampai jam sembilan kurang sepuluh.

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan fakta itu.


Kamis pagi, sebelum podcast, sebuah paket datang ke lantai tiga.

Besar. Pipih. Dibungkus kardus cokelat dan diikat tali rami. Di atasnya ada stiker kecil dengan logo yang sudah sangat kukenal: KAYUKU, dalam huruf-huruf ukiran sederhana.

“Mbak, ini apa lagi?” Tiwi mendorong paket itu ke ruanganku dengan susah payah. “Kita nggak pesan apa-apa selain panggung.”

Aku memotong tali raminya dengan gunting kain. Membuka kardusnya.

Di dalamnya, terbungkus kain blacu putih seperti penggaris itu, ada meja.

Bukan meja biasa. Meja gambar. Permukaannya dari kayu suar, seratnya bergelombang seperti air, diampelas sampai halus seperti kulit. Ukurannya pas untuk diletakkan di atas meja kerjaku. Di bagian belakangnya, ada penyangga kuningan dengan engsel yang bisa diatur, dan sebuah busur kecil yang diukir langsung di kayunya dengan angka-angka sudut: lima, sepuluh, lima belas, dua puluh, dua puluh lima.

Angka lima belas diukir sedikit lebih dalam dari yang lain.

Di tepi bawah permukaannya, ada lekukan kecil untuk menyandarkan pensil. Di sisi kanan, ada alur tipis yang panjangnya persis enam puluh lima senti. Persis panjang penggaris jati yang sekarang selalu ada di tas jinjingku.

Ada secarik kertas terselip di bawah penyangga. Diketik, dicetak, tanpa tanda tangan.

Prototipe produk baru Kayuku. Mohon dicoba dan di-review. Kemiringan bisa diatur, disarankan 15°.

— Tim Kayuku

Aku membaca kertas itu. Lalu aku meletakkan meja gambar itu di atas meja kerjaku, mengatur penyangganya di angka lima belas, dan meletakkan buku sketsaku di atasnya.

Aku mengambil pensil. Aku menarik satu garis panjang.

Pergelangan tanganku lurus. Tidak menekuk. Tidak berdenyut. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku menarik garis panjang dan tidak merasakan apa pun di pergelangan tanganku kecuali gerakan pensil itu sendiri.

Aku menarik garis lagi. Dan lagi. Dan lagi.

“Mbak?” Suara Tiwi dari ambang pintu terdengar ragu. “Mbak kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

“Mbak nangis?”

“Nggak.”

“Mbak, mata Mbak basah.”

“Debu kardus.”

Tiwi mendekat dan mengambil kertas kecil itu dari meja. Ia membacanya, lalu membaliknya, lalu membacanya lagi.

“Prototipe produk baru,” katanya pelan. “Mbak, aku udah hafal katalog Kayuku. Aku udah buka websitenya seratus kali buat riset. Mereka nggak jual meja gambar.”

“Mungkin ini produk baru.”

“Pakai alur penggaris yang panjangnya pas sama penggaris jati Mbak?”

Aku tidak menjawab.

Tiwi meletakkan kertas itu kembali di meja, sangat pelan. Lalu ia menatapku dengan ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya di wajahnya. Bukan menggoda. Bukan curiga. Cuma lembut.

“Mbak,” katanya. “Bapaknya bilang apa minggu lalu? Yang soal kalau dia bikinin sesuatu?”

Jangan tanya kenapa. Itu jawabannya.

Aku memejamkan mata.


Jam dua lewat lima, aku tiba di Kayuku.

Aku tidak langsung mencari Prama. Aku pergi ke meja Sasa dulu, dengan senyum paling ramah yang bisa kubuat.

“Sasa.”

“T-Teh Dara! Selamat siang!”

“Aku mau tanya soal produk Kayuku. Meja gambar miring dari kayu suar. Yang ada busur sudutnya. Harganya berapa?”

Wajah Sasa berubah dari ramah jadi pucat jadi hijau dalam waktu tiga detik.

“M-meja gambar, Teh?”

“Iya. Prototipe produk baru. Aku dapat satu tadi pagi buat di-review.”

“Oh. Oh. Itu. Itu... itu belum dirilis, Teh. Belum ada harga.”

“Rencananya kapan dirilis?”

“Belum... belum ada rencana, Teh.”

“Udah dibikin berapa?”

Sasa menatap monitornya. Lalu menatap tangga loteng. Lalu menatap Mang Ujang yang sedang pura-pura sibuk mengampelas di meja sebelah dan langsung menunduk lebih dalam begitu ditatap.

“Satu, Teh,” bisik Sasa.

“Satu.”

“Satu.”

“Prototipe yang cuma dibikin satu, nggak ada rencana rilis, nggak ada harga, dan dikirim ke aku buat di-review.”

Sasa menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Teh, tolong jangan tanya aku lagi. Aku udah bohong sama Teteh soal baju, aku nggak kuat bohong soal meja juga.”

Aku tertawa, dan rasanya seperti ada sesuatu di dadaku yang terlepas, ringan, terbang. Aku menepuk kepala Sasa pelan, dan ia mengintip dari sela jarinya dengan wajah orang yang tidak tahu apakah ia baru diampuni atau dihukum.

“Mas Prama di mana?”

“Di belakang, Teh,” jawab Mang Ujang, mewakili Sasa yang masih menutup wajah. “Ngampelas rangka jendela. Ti isuk teu eureun. Siga nu keur nyingkahan batur.”


Ia memang sedang mengampelas.

Di ruang belakang workshop, ruang yang lebih kecil dengan jendela yang menghadap ke kebun singkong, Prama berdiri membelakangi pintu. Kaus putihnya basah keringat di punggung. Di tangannya, mesin ampelas kecil berdengung, bergerak naik turun di sepanjang rangka jendela kayu suar.

Serbuk kayu beterbangan di sekelilingnya seperti kabut keemasan, ditembus cahaya siang dari jendela. Serbuk itu menempel di mana-mana. Di lengannya yang telanjang. Di rambutnya yang hitam. Di tengkuknya, di bagian leher yang basah keringat, membentuk lapisan tipis seperti bedak.

Ia tidak mendengarku masuk. Mesin ampelas terlalu berisik.

Aku berdiri di ambang pintu dan memandanginya. Bahunya yang lebar. Punggungnya yang sedikit membungkuk. Otot-otot lengannya yang bergerak setiap kali mesin ampelas mendorong ke atas.

Aku seharusnya memanggilnya. Aku seharusnya berdeham, mengetuk pintu, atau melakukan apa pun yang dilakukan klien profesional.

Aku tidak melakukan apa pun. Aku cuma berdiri di sana, memandanginya, dan menyadari dengan sangat jelas, dengan kejelasan yang menakutkan, bahwa aku tidak datang ke sini untuk memeriksa rangka jendela.

Mesin ampelas berhenti. Ia meletakkannya di meja, menegakkan punggung, dan mengusap dahinya dengan lengan.

Lalu ia berbalik, dan melihatku.

Ia membeku.

“Dara.”

“Hai.”

“Kamu...” Ia melirik jam di dinding. “Udah jam dua?”

“Jam dua lewat dua puluh.”

“Maaf. Saya nggak denger.”

“Nggak apa-apa.” Aku masuk ke ruangan. Pelan. Selangkah demi selangkah. “Aku dapat paket tadi pagi.”

Wajahnya tidak berubah. Ia cukup pintar untuk itu. Tapi telinganya, telinga yang selalu mengkhianatinya, mulai memerah dari ujung.

“Paket?”

“Prototipe produk baru Kayuku. Meja gambar. Disarankan lima belas derajat.”

“Oh. Itu.” Ia mengambil lap dari meja dan mulai membersihkan mesin ampelas yang sudah bersih. “Iya. Itu lagi kami kembangkan. Butuh review dari pengguna.”

“Sasa bilang cuma dibikin satu.”

Tangannya berhenti di atas mesin ampelas.

“Sasa,” katanya, sangat pelan, ke arah pintu, seperti mengutuk.

Aku berhenti tepat di depannya. Lebih dekat dari yang pernah kulakukan selama ini. Cukup dekat sehingga aku bisa melihat serbuk kayu yang menempel di bulu matanya. Cukup dekat sehingga aku bisa mencium jati dan keringat dan sesuatu yang hangat.

Ia mundur setengah langkah. Punggungnya menyentuh rangka jendela yang baru diampelas.

“Mas Prama.”

“Ya.”

“Lehermu kotor.”

Ia mengangkat tangan untuk mengusapnya sendiri. Aku menahan pergelangan tangannya. Dengan dua jari. Pelan.

Ia membeku lagi. Seluruh tubuhnya, dari ujung kaki sampai ujung rambut yang berserbuk keemasan.

“Biar aku,” kataku.

Aku tidak menunggu jawabannya. Aku mengangkat tanganku yang lain dan menyentuh tengkuknya. Kulitnya hangat dan basah. Serbuk kayu menempel di ujung jariku, halus seperti tepung. Aku mengusapnya pelan, dari belakang telinga, turun ke sisi leher, ke tempat urat nadinya berdenyut cepat di bawah ujung jariku.

Sangat cepat.

Ia menelan ludah. Jakunnya bergerak naik turun. Aku bisa merasakannya.

“Dara,” bisiknya. Suaranya serak, nyaris putus. “Saya bisa sendiri...”

“Diam.”

Ia diam.

Aku mengusap lagi, lebih pelan, ke sisi lain lehernya. Serbuk kayu di kerah kausnya. Di bawah rahangnya. Ia memejamkan mata. Napasnya pendek-pendek, tertahan, seperti orang yang sedang menyelam terlalu dalam.

“Aku belum selesai,” kataku pelan.

Aku menyisir rambut di belakang telinganya dengan jari, menjatuhkan serbuk kayu yang tersangkut. Rambutnya lebih lembut dari yang kukira. Telinganya merah sekali sekarang, merah sampai ke pangkal, merah sampai ke leher yang sedang kusentuh.

Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri seperti itu. Cukup lama sampai aku sendiri lupa bernapas. Cukup lama sampai aku sadar bahwa jari-jariku tidak lagi membersihkan apa pun. Mereka cuma ada di sana. Di lehernya. Merasakan denyut nadinya yang berlari.

Aku menarik tanganku.

Ia membuka mata. Menatapku. Untuk pertama kalinya, benar-benar menatap, tanpa lari, tanpa membuang pandangan ke jendela atau lantai atau rak. Matanya hitam, dalam, dan di dalamnya ada sesuatu yang membuat lututku tiba-tiba terasa tidak bisa dipercaya.

“Udah,” kataku. Suaraku tidak sestabil yang kuinginkan.

“Udah,” ulangnya.

“Mejanya enak,” kataku. “Pergelangan tanganku nggak sakit lagi.”

“Bagus.”

“Review-ku bintang lima.”

“Oke.”

“Tapi aku nggak mau ada orang lain yang punya meja kayak gitu.”

Ia berkedip. “Apa?”

“Prototipenya,” kataku, dan aku mundur selangkah, lalu selangkah lagi, menuju pintu, karena kalau aku tetap di sini satu detik lebih lama, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan. “Jangan dirilis. Biar cuma satu. Biar punyaku.”

Aku berbalik dan berjalan keluar sebelum ia sempat menjawab.

Di workshop utama, Mang Ujang, Sasa, dan Ridwan berdiri berjajar di dekat pintu ruang belakang dengan ekspresi orang yang jelas-jelas baru saja menguping. Ridwan memegang ponsel. Mang Ujang dengan tegas merebut ponsel itu dan memasukkannya ke saku celananya sendiri.

“Punten, Teh,” kata Mang Ujang dengan wajah sangat serius. “Lalaki kudu dijaga privasina.”

Aku tertawa, tapi tawaku gemetar. Aku berjalan ke mobil, membuka pintu, duduk di kursi pengemudi, dan menutup pintu.

Lalu aku menempelkan dahiku di setir dan menunggu sampai jantungku berhenti berlari.

Ujung jariku masih terasa hangat. Masih ada serbuk kayu keemasan di sana, halus, menempel di sidik jari. Aku tidak mengelapnya.

Dalam perjalanan pulang ke Dago, aku mengulang kata-katanya di kepalaku. Cara ia menyebut namaku, serak dan putus. Cara ia memejamkan mata. Cara nadinya berlari di bawah jariku.

Dan aku akhirnya mengaku, pada diriku sendiri, di lampu merah perempatan Dago, sambil menatap serbuk kayu di ujung jariku:

Aku tidak lagi menunggu hari Kamis karena panggung.