← Pembeli Pertamamu

Chapter Thirty

Bab 30 — Loteng

POV: Dara

Tiga hari aku tidak tidur dengan benar.

Aku bekerja. Itu satu-satunya yang bisa kulakukan. Fitting model gelombang empat. Rapat dengan tim lighting. Memilih musik untuk segmen kedua. Aku melakukan semuanya dengan benar, dengan rapi, dengan senyum yang membuat semua orang mengira aku baik-baik saja. Kecuali Tiwi. Dan Bu Imas. Dan mungkin Ibu, yang menelepon setiap malam jam sembilan dan tidak pernah bertanya apa-apa, cuma bilang udah makan belum, Sayang.

Di rooftop, setiap malam, aku duduk di kursi rotan dan menatap ke arah Cigadung. Ponselku di tempat HP jati, layar menghadap ke bawah.

Ia tidak mengirim apa pun. Tidak ada selamat malam, Dara. Tidak ada jangan lupa istirahat.

Aku yang memintanya. Dan untuk pertama kalinya, ia mendengarkan apa yang kuminta.

Aku tidak tahu kenapa itu justru membuatku menangis.


Pagi keempat, aku meminta Tiwi membuka semua data penjualan DARA. sejak hari pertama.

“Semua, Mbak?”

“Semua. Lima tahun. Per koleksi. Per pembeli.”

Tiwi tidak bertanya kenapa. Ia cuma duduk di sofa ruanganku dengan laptop di pangkuan, dan selama satu jam, ia membuat tabel. Bukan spreadsheet berwarna permen. Tabel hitam putih yang sederhana, dengan angka-angka yang tidak bisa berbohong.

Lalu ia memutar laptopnya ke arahku.

Embun — 42 potong. Pembeli: 1 (Maison Lumière).

Kemarau — 312 potong. Pembeli unik: 287. Termasuk Sasa K.: 1 potong.

Pesisir — 284 potong. Pembeli unik: 261. Termasuk Sasa K.: 1 potong.

Melati di Tangan Ibu — 406 potong. Pembeli unik: 378. Termasuk Sasa K.: 1 potong.

Dan seterusnya. Sebelas koleksi. Lalu kapsul Lima Tahun, dua belas potong edisi terbatas, habis dalam enam jam, dua belas pembeli berbeda.

Di baris paling bawah, Tiwi menjumlahkan semuanya.

Total terjual (tidak termasuk Embun): 3.418 potong.

Dibeli oleh Sasa K. (Prama Winata): 12 potong.

Persentase: 0,35%.

Aku menatap angka itu.

“Nol koma tiga lima persen, Mbak,” kata Tiwi pelan. “Sisanya, sembilan puluh sembilan koma enam lima persen, orang lain. Tiga ribu empat ratus enam orang yang bukan dia.”

“Tapi Embun...”

“Embun empat puluh dua potong, Mbak. Dari tiga ribu empat ratus enam puluh.” Tiwi menutup laptop. “Kalau Mbak mau bilang Mbak nggak bagus, Mbak harus buang tiga ribu empat ratus enam pembeli lain. Termasuk Ibu Mbak. Termasuk Bu Imas yang beli kebaya buat anaknya nikah. Termasuk aku, Mbak. Aku beli tiga potong. Pakai gaji. Harga karyawan, tapi tetap bayar.”

Aku tertawa. Tawa yang basah, yang pecah di tengah.

“Mbak,” kata Tiwi, memegang tanganku. “Dia beli waktu. Dia bilang gitu, kan? Ya udah. Mbak yang pakai waktunya. Mbak yang jahit tiga ribu empat ratus potong itu. Dia nggak jahit satu pun.”


Jam sepuluh, ada yang mengetuk pintu ruanganku.

Koh Hendra berdiri di ambang pintu dengan kemeja batik yang kekecilan di perut, tanpa bakpia, tanpa polo shirt Gunawan Trading. Wajahnya pucat. Tangannya menggenggam sesuatu yang terlihat seperti sapu tangan yang sudah basah.

“Mbak Dara,” katanya. “Boleh saya masuk lima menit? Habis itu saya pergi. Janji.”

Aku mempersilakannya duduk. Ia tidak duduk. Ia berdiri di depan mejaku, seperti murid yang dipanggil kepala sekolah.

“Saya bohong ke Mbak,” katanya. “Di Braga. Dua jam. Istri saya namanya Wati, bukan Lin. Dia nggak pernah punya butik. Dia jualan kue kering di Tampines. Saya nggak tahu brokat itu apa. Saya pikir lem.” Ia menelan ludah. “Saya pegang tangan Mbak waktu Mbak nangis, dan saya terima terima kasih yang bukan buat saya. Itu salah. Saya minta maaf.”

“Koh...”

“Saya nggak akan cerita soal dia, Mbak.” Koh Hendra mengangkat tangannya, seperti menahan sesuatu. “Saya nggak akan bela dia. Saya nggak akan bilang dia orang baik. Itu bukan tugas saya. Kalau Mbak mau tahu tentang dia, Mbak tanya dia sendiri.” Ia berhenti. Lalu, lebih pelan: “Dia nggak pernah ditanya, Mbak. Lima tahun. Nggak ada yang pernah nanya dia mau apa. Termasuk dirinya sendiri.”

Ia membungkuk sedikit, kaku, seperti orang yang tidak terbiasa membungkuk.

“Itu aja, Mbak. Maaf.”

Ia berbalik ke pintu. Lalu berhenti. Lalu berbalik lagi, dengan wajah yang tiba-tiba sangat serius.

“Oh, dan Mbak. Saya udah googling. Brokat itu bukan lem. Brokat itu kain tenun dengan pola timbul, biasanya pakai benang emas atau perak, asalnya dari kata Italia broccato.” Ia mengangguk dengan bangga yang kecil dan menyedihkan. “Saya hafalin di pesawat.”

Aku tertawa. Aku tidak bisa menahannya. Aku tertawa sampai air mataku keluar, dan Koh Hendra, di ambang pintu, ikut tersenyum, kecil, lega, seperti orang yang baru saja diizinkan bernapas.


Aku menyetir ke Cigadung jam tiga sore.

Ibu bilang jangan putuskan apa pun saat marah. Biarkan hatimu dingin dulu, seperti kain yang baru dicelup. Tiga hari. Hatiku sudah dingin.

Tapi di bawah dinginnya, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang semakin panas setiap kali aku mengingat angka di tabel Tiwi. Setiap kali aku mengingat Pak Darsa di halaman workshop, dengan sendok di tangan. Supaya awewe di stan sabeulah teu eureun ngajahit.

Pikap tua dengan lampu kiri redup ada di halaman.

Aku memarkir mobil di sebelah kanan. Aku turun. Aku berjalan ke pintu workshop yang terbuka.

Radio dangdut mati. Semua orang ada di sana. Mang Ujang di meja kerjanya. Sasa di meja admin. Ridwan di tangga. Tiga tukang baru. Pak Darsa di bangkunya. Dan semuanya berhenti bergerak ketika aku masuk, seperti film yang dijeda.

Dan di meja paling ujung, membelakangiku, ada Prama.

Ia tidak menoleh. Tapi tangannya berhenti. Pahat di tangannya berhenti di tengah alur. Bahunya menegang, seperti di Gedung Merdeka tiga malam lalu.

Ia tahu aku di sini. Ia tidak berbalik.

Aku tidak berjalan ke arahnya. Aku berjalan ke Mang Ujang.

“Mang,” kataku pelan. “Kuncinya.”

Mang Ujang menatapku. Lama. Lalu ia merogoh saku celananya, mengeluarkan kunci gembok kecil yang sudah kusam, dan meletakkannya di telapak tanganku. Ia melipat jari-jariku di sekelilingnya. Seperti Pak Darsa dengan sendoknya.

“Mangga, Teh,” bisiknya. “Tos lami ditungguan.”

Aku berjalan ke tangga kayu di ujung workshop. Ridwan menyingkir dari anak tangga tanpa kusuruh. Aku naik. Satu anak tangga. Dua. Tiga. Kayunya berderit di bawah sepatuku.

Di belakangku, aku tidak mendengar Prama bergerak. Aku tidak menoleh.

Gemboknya terbuka dengan bunyi klik yang pelan.


Hal pertama yang kurasakan adalah wanginya.

Bukan jati. Bukan serbuk kayu. Kapur barus. Dan di bawahnya, samar-samar, wangi lain yang sangat kukenal, yang tidak seharusnya ada di sini.

Melati.

Aku menemukan sumbernya di paku di samping pintu. Sebuah jaket kerja. Jaket yang ia selimutkan padaku malam itu, saat aku tertidur di atas buku sketsa, saat pintu embun selesai dikerjakan. Jaket yang kukembalikan pagi harinya, wangi parfumku. Ia menggantungnya di sini. Dan wanginya, entah bagaimana, masih tersisa. Tipis sekali. Seperti ia tidak pernah mencucinya.

Aku menyentuh lengan jaket itu, lalu berbalik.

Loteng itu kecil. Atapnya rendah. Satu bohlam kuning tergantung dari balok jati. Dan di sisi kiri, berjajar rapi di atas palet kayu supaya tidak menyentuh lantai, ada dua belas kotak kardus. Masing-masing terbungkus kain blacu putih, diikat tali rami.

Aku berlutut di depan kotak pertama. Tanganku gemetar ketika membuka ikatannya.

Di dalam, terlipat rapi di antara kertas tisu dan kapur barus, ada baju-baju. Bajuku. Aku mengenal setiap jahitannya. Gaun katun abu-abu dengan lipit di pinggang. Kemeja linen dengan kancing kain. Rok A-line dengan saku tersembunyi.

Di setiap potong, label kecil yang kujahit sendiri dengan tangan, lima tahun lalu, di kamar kos di Sekeloa. EMBUN — No. 17. EMBUN — No. 18. EMBUN — No. 19.

Belum pernah dibuka. Lipatannya masih lipatanku. Lipatan yang kubuat dengan setrika pinjaman ibu kos, jam empat pagi, sebelum berangkat ke Sabuga.

Aku membuka kotak terakhir. Di paling atas, sendirian, terlipat lebih hati-hati dari yang lain, terbungkus lapisan tisu tambahan:

Blus putih. Kerah sabrina.

EMBUN — No. 42.

Aku memeluknya ke dada dan menangis tanpa suara. Seperti lima tahun lalu, di belakang rak di Sabuga. Bedanya, kali ini aku tahu ada seseorang yang melihat.


Lemari jati itu ada di sisi kanan.

Tingginya dua meter. Dua pintu. Di bagian atasnya, ukiran sederhana. Bulir-bulir kecil seperti tetesan air di daun.

Embun.

Aku membuka pintunya. Sebelas potong tergantung di dalam, di atas gantungan kayu yang jelas dibuat khusus. Blus linen dari Kemarau. Rok lilit Lasem dari Pesisir. Kemeja satin dari Garis Pantai. Gaun tulle abu-abu fajar, tujuh lapis.

Dan outer brokat bordir melati, dari Melati di Tangan Ibu.

Aku menyentuhnya. Brokat Prancis. Bordir tangan. Aku menghabiskan dua minggu untuk bunga-bunga melati itu. Jari-jariku menyusuri lapisannya, dan berhenti.

Ada sesuatu di dalam. Di saku dalam, di antara kain luar dan lapisan. Sesuatu yang kaku dan tipis.

Aku mengeluarkannya.

Amplop krem. Tanpa tulisan di luar.

Aku duduk di lantai, bersandar ke lemari jati, dengan blus Embun nomor empat puluh dua di pangkuan, dan membuka amplop itu.

Tiga halaman. Tulisan tangan. Huruf kapital yang agak miring. Tinta biru tua. Di beberapa tempat, tintanya sedikit meleber, seperti tangan yang menulisnya berhenti terlalu lama.

Untuk Dara.

Aku membacanya. Sabuga. Cangkir yang jatuh. Blus putih. Mesin CNC. Koh Hendra dan papan toko lampu. Kartu yang ditulis empat kali. Tiga aturan. Lalu aturan keempat, yang tidak pernah ia ceritakan di panggung tiga malam lalu: jangan berharap.

Aku minta maaf. Aku tidak pernah ingin membohongimu. Aku cuma ingin kamu tidak berhenti.

Aku membeli satu potong setiap koleksi, bukan lebih, supaya kamu tahu bahwa dunia benar-benar menginginkan bajumu. Bukan cuma aku. Dunia. Kamu tidak butuh aku untuk itu. Kamu tidak pernah butuh.

Dan di akhir halaman ketiga, setelah ruang kosong yang panjang, seolah ia berhenti sangat lama sebelum menulisnya:

Aku mencintaimu sejak hari ketiga di Sabuga. Sejak kamu menangis di belakang rak sambil memegang blus putih yang paling jujur. Aku tidak pernah berhenti. Aku tidak tahu caranya berhenti.

Kalau kamu membaca ini, berarti kamu sudah tahu semuanya. Dan aku cuma mau bilang satu hal yang tidak pernah berani kukatakan dengan suaraku sendiri:

Kamu tidak berutang apa pun padaku. Tapi aku berutang padamu lima tahun yang paling bahagia dalam hidupku. Karena setiap kali kamu merilis koleksi baru, aku tahu kamu masih menjahit. Dan itu cukup.

— Prama


Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di sana.

Cukup lama sampai bohlam kuning mulai berkedip. Cukup lama sampai tanganku berhenti gemetar dan mulai lagi. Cukup lama sampai aku merogoh tas jinjingku, mencari tisu, dan menemukan penggaris jati.

Penggaris yang selalu kubawa ke mana-mana sekarang. Yang tidak pernah meleset setengah mili.

Aku mengeluarkannya. Aku tidak tahu kenapa. Aku cuma memegangnya, menyusurkan ibu jari di sepanjang angka-angkanya. Lalu ke ujung. Di bawah angka nol. Di tempat yang tidak pernah kuperhatikan.

Ada sesuatu di sana. Sangat kecil. Hampir tidak terlihat. Ukiran halus, sebesar biji wijen.

Setetes air.

Embun. Sama seperti di pintu lemari. Sama seperti di kaca patri pintu panggung. Sama seperti nama koleksi pertamaku.

Ia mengukirnya di sana sejak awal. Sejak bonus vendor. Sejak sebelum aku tahu apa pun.

Aku menutup mulutku dengan tangan.

“Mas,” panggilku. Suaraku keluar serak, pecah. Tidak keras. Tapi loteng itu kecil, dan tangganya pendek, dan workshop di bawah sangat, sangat sunyi.

“Mas Prama. Naik.”


Ia naik pelan. Aku mendengar setiap anak tangga berderit.

Ia berhenti di ambang pintu loteng. Ia harus menunduk sedikit di bawah atap yang rendah. Kemeja biru dengan lengan digulung. Celemek kerja. Matanya merah, lebih merah dari mataku, dan di bawahnya ada lingkaran gelap yang dalam. Ia terlihat seperti orang yang tidak tidur tiga hari. Seperti orang yang menangis lebih lama dari yang sanggup ia akui.

Ia melihatku. Di lantai. Bersandar ke lemari jati. Blus putih di pangkuan. Surat di tangan.

Ia tidak bergerak.

“Kamu baca,” katanya. Bukan pertanyaan.

“Aku baca.”

Ia memejamkan mata.

“Mas.” Aku menepuk lantai di sampingku. “Duduk.”

Ia duduk. Pelan. Di sampingku, bersandar ke lemari yang sama. Bahu kami hampir bersentuhan. Tidak ada jarak satu meja. Tidak ada meja sama sekali.

Aku mengangkat kepala dan menatap lemari yang terbuka di atas kami. Sebelas potong yang tergantung di bawah bohlam kuning.

“Ceritain,” kataku pelan. “Satu-satu. Kamu tahu semuanya, kan? Ceritain.”

Ia menatapku. Lalu menatap lemari. Lalu, dengan suara yang rendah dan serak dan tidak lagi bersembunyi, ia mulai menunjuk.

“Blus linen putih. Kemarau. Linen Belgia, tenunan longgar, biar adem. Kerahnya sabrina, kayak Embun nomor empat puluh dua. Kamu bilang di keterangan koleksi, ini buat perempuan yang kerja di bawah matahari.”

Aku menahan napas.

“Rok lilit. Pesisir. Batik tulis Lasem. Merahnya merah darah ayam, dari akar mengkudu. Pengrajinnya di Lasem udah generasi keempat. Kamu ke sana sendiri, naik bus, tiga hari.”

“Outer brokat. Melati di Tangan Ibu. Brokat Prancis, bordir tangan. Seratus empat belas bunga melati. Kamu hitung. Kamu bilang di wawancara, satu bunga buat setiap tahun umur ibumu dikali dua. Ibumu lima puluh tujuh tahun waktu itu.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Kemeja satin duchesse. Garis Pantai. Gading, bukan putih, karena putih terlalu dingin buat kulit orang Indonesia. Potongannya asimetris karena garis pantai nggak pernah lurus.”

“Gaun tulle. Abu-abu fajar. Tujuh lapis. Makin ke bawah makin gelap. Kayak kabut pagi di Lembang. Kamu nggak pernah bilang itu di mana pun. Tapi saya tahu, karena saya pernah lihat kabut di Lembang jam lima pagi, dan warnanya persis kayak gini.”

Ia terus menunjuk. Satu per satu. Sebelas potong. Setiap kain. Setiap warna. Setiap cerita. Hal-hal yang kutulis di keterangan koleksi yang tidak pernah dibaca siapa pun sampai habis. Hal-hal yang kuucapkan di wawancara yang sudah kulupakan. Hal-hal yang tidak pernah kuucapkan pada siapa pun, tapi entah bagaimana ia tahu, karena ia melihat bajuku seperti aku melihat bajuku.

Bukan sebagai baju. Sebagai serat. Kesabaran. Waktu yang tersimpan di dalamnya.

Ketika ia selesai, aku sudah menangis lagi. Tanpa suara. Air mata jatuh ke blus Embun nomor empat puluh dua di pangkuanku.

Lalu aku melihat saku kemejanya. Saku kiri, di atas tali celemek. Menggembung, terlalu penuh, kancingnya hampir lepas.

Aku mengulurkan tangan. Ia tidak menghentikanku. Aku membuka kancing saku itu dan mengeluarkan isinya, satu per satu, ke telapak tanganku.

Kartu krem. Untuk Sasa K. Tulisanku.

Sticky note kuning. Nomor empat. Karena jujur. — D.

Plester Doraemon, bekas, yang sudah dilepas dari pangkal ibu jarinya tapi tidak dibuang.

Amplop krem. Untuk Pemilik Maison Lumière.

Semua yang pernah kuberikan padanya. Bahkan yang tidak kuberikan padanya. Bahkan yang kukira untuk orang lain.

Ia menyimpannya di saku kiri. Di atas jantungnya.


Aku tidak ingat siapa yang bergerak duluan.

Mungkin aku. Mungkin aku yang berbalik, dan melingkarkan lenganku di lehernya, dan menarik wajahnya ke bahuku. Mungkin ia yang menunduk, pelan, seperti orang yang akhirnya menyerah setelah perang yang sangat panjang.

Aku cuma ingat bahwa tiba-tiba aku memeluknya, dan ia memelukku balik.

Erat. Sangat erat. Lebih erat dari malam pertama di workshop. Lengannya melingkariku seperti orang yang takut aku akan menghilang kalau ia melepas sedikit saja. Wajahnya di rambutku. Tubuhnya bergetar.

“Maaf,” bisiknya, ke rambutku. “Maaf. Maaf, Dara. Maaf.”

“Diam.”

“Saya harusnya nanya. Saya harusnya...”

“Mas.” Aku memeluknya lebih erat. “Diam. Malam ini diam aja.”

Ia diam.

Kami duduk di lantai loteng, di bawah bohlam kuning yang berkedip, bersandar ke lemari jati yang terbuka. Blus Embun nomor empat puluh dua terjepit di antara kami. Surat tiga halaman di lantai. Penggaris jati dengan setetes embun di ujungnya, di samping kakiku.

Aku tidak melepaskannya. Aku tidak mau melepaskannya.

Di bawah, workshop masih sunyi. Tapi samar-samar, aku mendengar sesuatu. Isak tangis yang ditahan. Sasa. Lalu suara orang membuang ingus dengan sangat keras. Mang Ujang. Lalu suara Pak Darsa, pelan, membaca sesuatu dalam bahasa Arab. Mungkin doa. Mungkin syukur.

Aku menekan wajahku ke bahu Prama, menghirup wangi jati, dan menyadari sesuatu dengan kejelasan yang menakutkan.

Tiga minggu lalu, di rooftop, aku pikir aku jatuh cinta pada laki-laki yang begadang untuk membuatkanku tempat HP.

Aku salah. Aku belum jatuh.

Ini. Ini rasanya jatuh. Ini rasanya ketika kamu akhirnya melihat seberapa dalam jurangnya, dan kamu melompat juga. Bukan karena tidak tahu. Karena tahu.

Ia jatuh duluan. Lima tahun lalu. Di stan sebelah. Diam-diam, tanpa suara, tanpa pernah meminta aku menangkapnya.

Aku jatuh belakangan. Di loteng ini. Di atas lantai kayu, di antara sebelas potong bajuku sendiri.

Tapi aku jatuh lebih dalam.

Dan kali ini, aku tahu persis seberapa dalam.