← Pembeli Pertamamu

Chapter Twenty Seven

Bab 27 — Tulisan Tangan

POV: Dara

Aku menurunkan bingkai itu dari dinding jam tujuh malam.

Lima tahun bingkai itu tergantung di sana. Di antara sertifikat dan foto-foto peragaan busana, di belakang kursi kerjaku, di tempat yang selalu terlihat oleh setiap wartawan yang datang. Bingkai kayu sederhana. Kartu krem. Huruf kapital yang agak miring, tinta biru tua.

Teruskan. Dunia butuh bajumu.

Bingkai itu lebih ringan dari yang kuingat. Aku membalikkannya, membuka penjepit di belakangnya satu per satu dengan kuku, dan mengeluarkan kartunya. Pertama kalinya dalam lima tahun aku menyentuh kartu itu langsung, tanpa kaca di antaranya.

Kertasnya tebal. Sudutnya sedikit menguning. Di huruf D pada Dunia, ada titik kecil di mana tintanya sempat tertahan terlalu lama, seperti tangan yang menulisnya sempat berhenti di sana. Ragu.

Aku meletakkan kartu itu di meja gambar miring.

Lalu aku membuka laci meja kerjaku, laci paling atas, tempat aku menyimpan barang-barang yang tidak tahu harus disimpan di mana. Kertas kecil yang dilipat dua. Datang lewat ojek, bersama tempat HP jati, dua minggu lalu.

Aku membukanya dan meletakkannya di samping kartu krem.

Ini buat kamu. Bukan buat orang lain. Nggak pernah buat orang lain.

Jangan capek-capek.

— P.

Aku tidak langsung melihat. Aku menutup mata dulu. Aku menarik napas. Lalu aku membuka mata, dan melihat.

Huruf kapital. Agak miring ke kanan. Tinta biru tua.

Huruf D pada Dunia. Huruf D pada Dara, yang tidak ada di catatan kecil itu tapi ada di sesuatu yang lain. Aku membuka laptop. Aku membuka email dari lima minggu lalu. Desain teknis panggung, dua puluh tiga halaman. Halaman tujuh. Catatan kecil di pinggir, ditulis tangan lalu dipindai.

Rangka jendela bisa diturunkan 5 cm dari desain awal supaya kain yang digantung jatuhnya lebih bagus di sudut pandang kamera depan.

Aku memperbesarnya. Huruf D pada desain.

Sama.

Kemiringan yang sama. Tekanan yang sama di ujung garis tegak. Kebiasaan yang sama: huruf A yang tidak pernah ditutup di atas, seperti atap rumah yang dibiarkan terbuka.

Tiga tulisan. Satu tangan.

Aku sudah tahu sejak siang. Sejak struk-struk itu. Sejak air mata Mang Ujang. Tapi ada perbedaan antara tahu dan melihat. Antara mendengar orang lain bilang pakumu tidak ada, dan memegang pakumu sendiri dan merasakan bahwa ia terbuat dari kayu yang sama dengan rumah tempat kamu tinggal.

“Mbak.”

Tiwi berdiri di ambang pintu. Aku tidak tahu sejak kapan ia di sana. Ia tidak membawa tablet. Ia cuma berdiri, dengan tangan di samping tubuhnya, dan wajah yang terlihat seperti mau menangis tapi menahan diri karena tahu aku butuh seseorang yang tidak menangis.

“Mbak mau aku temenin?”

“Ke mana?”

“Ke mana pun Mbak mau pergi sekarang.”

Aku menatap ketiga tulisan tangan di meja. Lalu aku memasukkan kartu krem dan catatan kecil itu ke dalam map biru, bersama dua belas struk.

“Nggak usah, Wi,” kataku. “Yang ini aku sendiri.”


Aku duduk di mobil di seberang Gedung Merdeka selama dua puluh menit sebelum turun.

Aku menelepon Ibu. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku butuh mendengar suara yang tidak tahu apa-apa tentang Maison Lumière, tentang struk, tentang tulisan tangan.

“Sayang?” Suara Ibu terdengar mengantuk. “Udah malam. Kamu di mana?”

“Di jalan, Bu.”

“Kamu nangis?”

Ibu selalu tahu. Bahkan lewat telepon. Bahkan ketika aku tidak mengatakan apa pun.

“Bu,” kataku. “Kalau ada orang yang bohong ke Ibu, tapi bohongnya buat nolong Ibu, Ibu marah nggak?”

Hening di ujung sana. Lama. Aku mendengar Ibu bangun dari kasur, mendengar langkah kakinya di lantai, mendengar pintu ditutup pelan. Ia keluar dari kamar supaya tidak membangunkan Ayah.

“Marah,” kata Ibu akhirnya. “Pasti marah. Karena dibohongin itu rasanya kayak nggak dipercaya.”

Aku memejamkan mata.

“Tapi, Sayang,” lanjut Ibu pelan, “kalau kamu lagi marah sama seseorang, jangan putusin apa pun malam ini. Marah boleh. Nangis boleh. Tapi keputusan, besok. Atau lusa. Biarin hatimu dingin dulu. Kayak kain yang baru dicelup. Jangan langsung dijemur di matahari, nanti warnanya rusak.”

“Iya, Bu.”

“Kamu mau Ibu jemput?”

“Nggak, Bu. Aku harus ngomong sama orangnya dulu.”

“Orangnya,” ulang Ibu pelan. Lalu, dengan suara yang tiba-tiba sangat lembut: “Yang tukang kayu itu, ya?”

Aku tidak menjawab. Ibu tidak memaksa.

“Hati-hati, Sayang. Telepon Ibu kalau udah sampai rumah.”


Gedung Merdeka di malam hari terlihat seperti kapal besar yang berlabuh di tengah kota.

Lampu-lampu di luar sudah dimatikan sebagian. Petugas keamanan mengenaliku dan membukakan pintu samping tanpa bertanya. Bapak Kayuku masih di dalam, Bu. Sendirian. Yang lain udah pulang dari jam delapan.

Aku berjalan melewati lorong. Langkahku bergema di lantai marmer. Map biru di dadaku terasa sangat berat.

Lalu aku tiba di ruang utama, dan berhenti.

Panggungku sudah hampir jadi.

Rangka-rangka jendela suar berdiri berderet di kedua sisi, seperti gang di kota tua. Pintu besar mahoni di ujung, dengan kaca patri embun yang menangkap cahaya lampu kerja. Dan lantainya. Lantai jati bekas yang panjang, berbentuk huruf T, yang ternyata baru dipasang hari ini. Papan-papan jati yang seratnya berbeda-beda, yang warnanya berbeda-beda, dari rumah-rumah tua yang dibongkar di Garut. Disusun berdampingan seperti kulit yang menyimpan banyak cerita.

Dan di tengah lantai itu, berlutut, ada Prama.

Ia membelakangiku. Kaus abu-abu. Celemek kerja. Kain di tangan kanannya, kaleng kecil di sampingnya. Ia sedang mengoleskan minyak ke lantai jati, papan demi papan, dengan gerakan melingkar yang pelan dan sabar. Seperti orang yang sedang mengusap punggung seseorang yang sedang tidur.

Wangi minyak tung memenuhi ruangan. Manis, sedikit tajam. Seperti kayu yang sedang bernapas.

Aku berdiri di tepi panggung dan memandanginya. Lama. Aku ingin mengingat ini. Aku ingin mengingatnya begini, sebelum semuanya berubah. Laki-laki yang berlutut di atas panggungku, malam-malam, sendirian, mengusap lantai yang akan dilewati semua bajuku.

Lalu ia berhenti.

Ia tidak menoleh. Tapi tangannya berhenti di tengah gerakan melingkar. Bahunya menegang. Seperti orang yang merasakan sesuatu di udara.

“Dara,” katanya, tanpa berbalik.

“Hai, Mas.”

Ia meletakkan kain di samping kaleng minyak. Pelan. Lalu ia berdiri, dan berbalik.

Wajahnya terlihat lelah. Lingkaran gelap di bawah mata. Rambut berantakan, ada serbuk kayu di ujungnya. Ia menatapku. Lalu matanya turun ke map biru di dadaku.

Plastik biru. Label kertas dengan tulisan spidol bulat-bulat Sasa.

Aku melihat wajahnya berubah. Tidak banyak. Tidak dramatis. Cuma seperti kayu yang retak dari dalam, pelan, tanpa suara, sementara permukaannya masih terlihat utuh.

Ia tahu.


Aku naik ke panggung. Lantai jati di bawah sepatuku hangat dan sedikit lengket di bagian yang baru diolesi minyak. Aku berjalan sampai berdiri di depannya. Jarak satu meja. Aku yang memilih jarak itu kali ini.

Aku membuka map biru. Aku mengeluarkan kartu krem dan catatan kecil. Aku berlutut, dan meletakkan keduanya berdampingan di atas lantai jati, di antara kami.

Teruskan. Dunia butuh bajumu.

Ini buat kamu. Bukan buat orang lain. Nggak pernah buat orang lain.

Lalu aku berdiri lagi.

“Ini tulisan siapa, Mas?”

Ia menatap kedua kertas di lantai. Ia tidak menjawab.

“Mas Prama.”

Diam.

“Ini,” aku menunjuk catatan kecil, “tulisan kamu. Aku tahu. Kamu tanda tangan P. Dan ini,” aku menunjuk kartu krem, “aku pikir tulisan malaikat dari Singapura. Lima tahun aku pikir begitu. Lima tahun aku gantung di dinding ruanganku. Lima tahun aku lihat tiap kali aku ragu.”

Suaraku mulai bergetar. Aku menahannya.

“Tulisan siapa, Mas?”

Lama. Lama sekali. Lampu kerja berdengung di atas kami. Di luar, terdengar suara motor lewat di Jalan Asia Afrika, lalu hening.

“Saya,” katanya.

Satu kata. Pelan. Serak.

Aku mengangguk. Aku sudah tahu. Tapi mendengarnya tetap terasa seperti ditembak.

“Maison Lumière?”

“Saya.”

“Koh Hendra?”

“Saya yang minta dia bohong.”

“Sasa K.?”

“Saya.”

“Dua belas potong?”

“Iya.”

“Empat puluh dua potong? Lima tahun lalu? Embun?”

Ia memejamkan mata. “Iya.”

Aku tertawa. Aku tidak tahu kenapa aku tertawa. Tawanya keluar pendek dan pecah, seperti kaca yang jatuh.

“Kamu biarin aku ngomong di TV,” kataku. “Di TV nasional, Mas. Kamu nonton, kan? Aku bilang terima kasih ke malaikat dari Singapura. Aku natap kamera. Aku bilang kalian nggak tahu apa yang udah kalian lakukan buat aku. Dan kamu nonton itu. Kamu tahu itu kamu.”

Ia tidak menjawab.

“Kamu suruh Koh Hendra bohong di depan aku. Dua jam. Aku nangis di depan dia. Aku pegang tangannya. Aku bilang terima kasih ke orang yang bahkan nggak tahu brokat itu apa.” Suaraku naik. Aku tidak bisa menahannya lagi. “Dan kamu duduk di sebelah aku. Kamu lihat semuanya. Kamu biarin.”

“Dara...”

“Aku cerita ke kamu soal Ayah. Soal paku. Aku nangis ke tehmu, Mas, aku bilang kalau orang itu nggak pernah ada, aku nggak tahu aku siapa. Dan kamu peluk aku. Kamu bilang aku cukup.” Air mataku jatuh. Aku membiarkannya. “Kamu bilang aku cukup, padahal kamu tahu.”

“Itu bukan bohong.”

“Apa yang bukan bohong?”

“Kamu cukup.” Suaranya keluar keras, tiba-tiba, lebih keras dari yang pernah kudengar. Lalu langsung turun lagi, pecah. “Itu bukan bohong, Dara. Itu satu-satunya hal yang bukan bohong.”

Aku menatapnya. Ia berdiri di depanku, di atas lantai jati yang setengah diminyaki, dengan tangan mengepal di samping tubuhnya dan mata yang basah.

Dan aku menanyakan hal yang paling kutakutkan. Hal yang sudah berputar di kepalaku sejak Tuas Avenue. Sejak struk. Sejak air mata Mang Ujang. Hal yang, kalau jawabannya salah, akan meruntuhkan seluruh lima tahunku.

“Jadi aku sebenarnya nggak bagus?”

Ia membeku.

“Jadi aku nggak bagus,” ulangku, dan suaraku cuma bisikan sekarang. “Bazarnya gagal karena memang nggak ada yang mau bajuku. Dan kamu kasihan. Kamu beli semuanya karena kamu kasihan. Dan aku bangun lima tahun di atas rasa kasihan orang yang aku bahkan nggak tahu namanya.”

“Bukan...”

“Cerita hidupku bohong, Mas. Lima tahun aku bilang ke semua orang aku berhasil sendiri. Ke wartawan. Ke TV. Ke Ayah. Aku berhasil sendiri. Dan ternyata nggak. Ternyata dari awal ada kamu. Diam-diam. Beliin semua yang nggak laku.”

“Dara, bukan gitu...”

“Terus gimana?” Aku melangkah maju. Satu langkah. Jarak satu meja jadi setengah meja. “Bilang. Kalau aku bagus, kenapa kamu harus beli? Kalau aku bagus, kenapa nggak ada orang lain yang beli? Kalau aku bagus, kenapa kamu harus bohong lima tahun supaya aku percaya aku bagus?”

Ia membuka mulut.

Dan aku melihatnya. Aku melihat ia mencari jawaban. Aku melihat ia menimbang setiap kata yang mungkin, seperti tukang kayu yang menimbang pahat mana yang harus dipakai untuk kayu yang sudah retak. Dan aku melihat ia sadar, satu per satu, bahwa setiap jawaban akan melukai.

Kalau ia bilang kamu bagus, aku akan bertanya kenapa ia harus membeli.

Kalau ia bilang aku kasihan, aku akan hancur.

Kalau ia bilang aku cinta kamu, itu bukan jawaban. Itu cuma alasan yang lebih besar untuk kebohongan yang sama.

Ia menutup mulutnya.

Ia tidak menjawab.

Dan diamnya, di atas panggung yang ia bangun untukku, di bawah lampu kerja yang berdengung, terasa lebih keras dari teriakan mana pun.

Aku mundur selangkah. Kakiku menyentuh sesuatu. Kaleng minyak tung. Ia terguling, dan minyaknya tumpah di atas papan jati, menyebar pelan, membuat seratnya menggelap seperti luka yang baru.

Ia tidak bergerak untuk menyelamatkan lantainya. Ia cuma menatapku.

“Ceritain,” kataku. Suaraku keluar datar. Dingin. Suara yang tidak pernah kupakai, bahkan pada Ayah. “Semuanya. Dari awal. Sekarang.”

Ia menatapku lama.

Lalu, pelan, ia berlutut. Di atas lantai jati, di samping minyak yang tumpah, di depan kartu krem dan catatan kecil yang ditulis oleh tangan yang sama. Ia berlutut seperti orang yang terlalu lelah untuk berdiri, atau seperti orang yang tahu bahwa yang akan ia katakan terlalu berat untuk diucapkan sambil berdiri.

Dan ia mulai bercerita.