Chapter Ten
Bab 10 — Koh Hendra Datang ke Bandung
POV: Prama
Koh Hendra Gunawan tidak pernah memberi kabar sebelum datang. Itu salah satu dari tiga hal yang kuketahui pasti tentangnya, setelah lima setengah tahun berbisnis.
Hal kedua: ia selalu memakai polo shirt berlogo perusahaannya, Gunawan Trading Pte Ltd, dalam huruf bordir biru tua di dada kiri, bahkan saat liburan, bahkan saat kondangan, bahkan saat datang ke workshop kayu di Cigadung jam sembilan pagi hari Jumat dengan koper kecil dan kantong plastik berisi bakpia dari bandara.
Hal ketiga: ia sama sekali tidak tahu apa pun tentang fashion.
“Pram!” Ia membuka kedua tangannya lebar-lebar di ambang pintu. Perutnya yang bulat membuat polo shirt-nya sedikit terangkat. “Surprise!”
Aku menjatuhkan pahat.
“Koh. Koh ngapain di sini?”
“Inspeksi kontainer Osaka, dong. Kan minggu depan berangkat.” Ia masuk dan menepuk-nepuk bahuku, lalu mengendus udara. “Wangi jati. Gua kangen. Di Singapura semua bau AC.”
“Koh, kenapa nggak kabarin dulu?”
“Kalau gua kabarin, lu bakal beres-beres. Gua mau lihat aslinya.” Ia meletakkan kantong bakpia di meja Sasa, yang langsung tersenyum lebar. “Sasa, apa kabar? Masih nyelundupin baju?”
Sasa tersedak.
“Koh,” desisku.
“Apa? Nggak ada orang, kan?” Koh Hendra menoleh ke sekeliling. Mang Ujang di meja kerja. Ridwan di tangga. Sasa di meja admin. “Semua orang dalam, kan?”
“Iya, tapi...”
“Nah.” Ia duduk di bangku dekat pintu, bangku tempat Bapak biasa memahat sendok, lalu membuka satu bakpia untuk dirinya sendiri. “Jadi gimana? Masih tiap tahun beli? Istri gua nanya terus, kenapa di gudang kita dulu pernah ada empat puluh dua gaun. Gua bilang itu sampel. Dia nggak percaya. Lima tahun, Pram, dia masih nanya.”
Aku membuka mulut untuk menjawab. Lalu aku mendengar suara mobil berhenti di depan workshop.
Aku mengenal suara mesin mobil itu. Dalam tiga minggu terakhir, aku sudah mendengarnya sebelas kali. Dua belas, dengan hari ini.
Dara.
“Koh,” kataku, dan suaraku keluar begitu datar sehingga Koh Hendra berhenti mengunyah. “Koh harus sembunyi.”
“Hah?”
“Sekarang.”
“Kenapa? Siapa?” Koh Hendra menoleh ke jendela. Matanya menyipit. Lalu membesar. Bakpia di tangannya jatuh ke pangkuan. “Itu... itu...”
“Iya.”
“Itu DIA?”
“Iya, Koh, makanya...”
“Pram, lu nggak bilang dia secantik itu.” Koh Hendra berdiri, setengah panik, setengah takjub, seperti orang yang baru melihat kontainer berisi emas. “Di majalah aja udah cantik. Ini... ini kayak...”
“KOH. SEMBUNYI.”
“Kenapa gua harus sembunyi? Gua kan cuma buyer.”
“Buyer dari Singapura, Koh. Pakai baju bertuliskan Pte Ltd. Kalau dia tanya Koh kenal Maison Lumière atau nggak, Koh mau jawab apa?”
Koh Hendra membuka mulut. Lalu menutupnya. Lalu wajahnya memucat.
“Gua nggak bisa bohong di depan orang cantik, Pram. Gua bakal keringetan. Gua bakal ngaku.”
“Makanya sembunyi.”
“Di mana?!”
Mang Ujang sudah bergerak. Dengan kecepatan yang tidak sesuai umurnya, ia menyambar lengan Koh Hendra dan menyeretnya ke pintu gudang kecil di samping dapur, tempat kami menyimpan kursi-kursi kayu setengah jadi dan karung-karung serbuk gergaji.
“Ka dieu, Koh! Gancang!”
“Ini gudang? Pram, ini gudang serbuk! Gua alergi debu!”
“Tahan, Koh!”
Pintu gudang tertutup tepat ketika Dara melangkah masuk ke workshop.
“Pagi semua!”
Ia membawa kotak kue lagi. Kali ini kue bolu pandan. Ia memakai kemeja linen putih yang lengannya digulung dan celana panjang krem, rambutnya diikat ekor kuda tinggi, dan di lehernya tergantung meteran jahit kuning seperti kalung.
Aku berdiri di tengah workshop seperti tiang listrik.
“Pagi,” kataku.
“Pagi, Teh!” seru Sasa dengan suara dua oktaf lebih tinggi dari biasanya.
“Wilujeng enjing, Teh!” seru Mang Ujang dari depan pintu gudang, berdiri dengan punggung menempel di pintu seperti penjaga gerbang.
“Pagi, Teh,” kata Ridwan dari tangga, yang untuk pertama kalinya tidak memegang ponsel. Ia memegang sapu. Ridwan tidak pernah memegang sapu.
Dara berhenti melangkah. Ia menatap kami satu per satu. Sasa dengan senyum yang terlalu lebar. Mang Ujang di depan pintu gudang. Ridwan dengan sapu. Aku di tengah, berdiri kaku.
“Kalian kenapa?” tanyanya pelan.
“Nggak kenapa-kenapa, Teh!” jawab Sasa, Mang Ujang, dan Ridwan bersamaan.
Dara mengangkat alis ke arahku.
“Lagi... bersih-bersih,” kataku. “Hari Jumat. Jumat bersih.”
“Jumat bersih,” ulangnya.
“Kebijakan perusahaan.”
Ia menatapku lama. Lalu tersenyum, lesung pipitnya muncul pelan, dan aku tahu ia tidak percaya satu kata pun. Tapi ia tidak bertanya. Ia cuma meletakkan kotak bolu di meja Sasa, di sebelah kantong bakpia.
Matanya berhenti di kantong bakpia itu.
“Bakpia? Siapa yang dari Jogja?”
Hening.
“Saya, Teh,” kata Ridwan tiba-tiba. “Kemarin. Ke Jogja. Liburan.”
“Kemarin kamu di sini sampai jam lima, Wan,” kataku sebelum bisa menahan diri.
Ridwan menatapku dengan wajah terkhianati. Dara menahan tawa.
“Pulang-pergi,” kata Ridwan dengan keyakinan tinggi. “Naik pesawat. Malam.”
“Dan kamu beli bakpia di bandara...” Dara mengambil kantong itu dan membaca labelnya. “...Changi?”
Dari dalam gudang, terdengar suara seperti seseorang menabrak tumpukan kursi.
“Ucing,” kata Mang Ujang cepat, menepuk pintu gudang dua kali. “Ucing, Teh. Aya ucing di jero. Nakal pisan.”
“Kucing beli bakpia di Changi?”
“Bukan, Teh, bakpia-na mah...” Mang Ujang menatapku, minta tolong.
“Oleh-oleh dari buyer,” kataku. Itu kebenaran, setidaknya sebagian. “Kemarin dikirim.”
Dara mengangguk pelan. Matanya berkilat. Aku tahu ia sedang menyimpan semua ini di suatu tempat di kepalanya, di laci yang sama tempat ia menyimpan satin duchesse dan prototipe yang cuma dibikin satu. Tapi ia tidak mendesak. Ia cuma meletakkan kantong bakpia kembali.
“Oke,” katanya. “Aku mau cek rangka jendela yang udah selesai. Ada di belakang?”
Rangka jendela yang sudah difinishing berdiri berjajar di ruang belakang, dua belas buah, masing-masing setinggi dua meter. Cahaya pagi menembus serat suar yang sudah diolesi minyak, membuat kayunya terlihat seperti madu yang membeku.
Dara berjalan di antara rangka-rangka itu pelan-pelan. Menyentuh. Memeriksa engsel. Membuka dan menutup daun jendela dengan satu tangan, seperti model yang memakai sepatu hak tinggi dan gaun panjang. Engselnya bergerak ringan.
“Satu tangan,” katanya, tersenyum padaku. “Kamu berhasil.”
Aku mengangguk. Aku tidak bisa bicara, karena dari gudang di sebelah, yang dindingnya cuma papan kayu tipis, aku bisa mendengar napas Koh Hendra yang tersengal-sengal menahan bersin.
Dara melangkah mundur untuk melihat rangka-rangka itu dari jauh. Kakinya tersangkut kabel mesin ampelas yang terjulur di lantai.
Ia oleng.
Aku bergerak sebelum berpikir. Dua langkah, tangan terulur, dan aku menangkap sikunya tepat sebelum ia jatuh ke rangka jendela di belakangnya.
Sikunya kecil di telapak tanganku. Kulitnya halus di balik kemeja linen. Ia jatuh setengah ke arahku, tangannya yang lain mencengkeram bahuku untuk menyeimbangkan diri, dan untuk satu detik yang terasa seperti satu jam, wajahnya cuma sejengkal dari wajahku.
Ia menatapku. Aku menatapnya.
Matanya cokelat. Dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat garis-garis keemasan di sekitar pupilnya, seperti serat jati yang paling halus.
“Makasih,” bisiknya.
Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa menjawab. Aku cuma memegang sikunya, dan merasakan tangannya di bahuku, dan mendengar jantungku sendiri berdentum seperti mesin serut.
Lalu, dari dalam gudang:
“HAAAATSSYYYIII!”
Bersin yang luar biasa keras. Bersin seorang lelaki paruh baya berperut bulat yang alergi debu dan sudah menahan diri selama dua puluh menit di antara karung serbuk gergaji.
Dara melompat mundur. Aku melepaskan sikunya. Kami berdua menoleh ke dinding gudang.
“...Kucing?” tanya Dara.
“Kucing,” kataku.
“Kucingnya bersin kayak bapak-bapak.”
“Kucingnya... udah tua.”
Dari workshop utama, terdengar suara Mang Ujang yang sangat keras dan sangat palsu: “Euleuh, ucing! Ucing kolot! Meong! MEONG!”
Disusul suara Ridwan yang tiba-tiba menyalakan TikTok di ponselnya dengan volume penuh, sebuah lagu remix dangdut koplo yang memenuhi seluruh workshop.
Dara menatapku. Aku menatap rangka jendela.
Lalu ia tertawa. Tertawa sampai membungkuk, sampai harus berpegangan pada rangka jendela yang baru saja hampir ia tabrak, sampai air matanya keluar. Dan aku, berdiri di tengah ruangan, dengan siku-nya masih terasa hangat di telapak tanganku dan Koh Hendra yang terus bersin di balik dinding, tidak bisa berbuat apa pun selain ikut tertawa.
Ia pulang jam sebelas. Sebelum pergi, ia berdiri di ambang pintu, sama seperti biasanya, dan menatap kantong bakpia di meja Sasa sekali lagi.
“Mas Prama.”
“Ya.”
“Buyer kamu yang dari Singapura. Yang ngirim bakpia.” Ia memiringkan kepala. “Kamu ekspor ke Singapura udah lama?”
“Lima setengah tahun.”
“Lima setengah tahun.” Ia mengangguk pelan. “Lucu, ya. Koleksi pertamaku juga dibeli butik dari Singapura. Lima tahun lalu.”
Aku tidak bergerak. Di belakangku, aku tahu Mang Ujang, Sasa, dan Ridwan tidak bergerak juga. Bahkan dari gudang, bersin Koh Hendra berhenti total.
“Iya?” kataku. Suaraku entah bagaimana tetap tenang.
“Iya. Maison Lumière. Kamu pernah dengar?”
“Nggak.”
“Aku juga nggak pernah ketemu orangnya. Bulan lalu aku coba email mereka, mau undang ke show lima tahun. Emailnya mental. Alamatnya nggak aktif lagi.” Ia tersenyum, tapi senyumnya sedikit sedih. “Kadang aku mikir, mereka itu kayak... malaikat yang mampir sekali terus pergi.”
Aku tidak bisa menjawab.
“Satu hal yang aneh, sih.” Ia mengetuk dagunya. “Dulu, waktu mereka transfer, nama rekening pengirimnya bukan nama butik. Nama perusahaan trading. Aku nggak inget persis. Gunawan sesuatu, kayaknya.”
Dari dalam gudang, terdengar bunyi tumpukan kursi runtuh.
“Kucingnya,” kata Dara pelan, sambil menatap pintu gudang dengan alis terangkat, “kayaknya perlu ke dokter hewan.”
Ia pergi. Mobilnya menjauh. Aku menunggu sampai suara mesinnya benar-benar hilang di belokan. Lalu aku berjalan ke gudang dan membuka pintunya.
Koh Hendra duduk di lantai, di antara kursi-kursi yang berjatuhan, dengan serbuk gergaji di rambut, di alis, di kumis, dan di bordir Gunawan Trading Pte Ltd di dada kirinya. Matanya merah. Hidungnya merah. Ia menatapku dengan wajah orang yang baru selamat dari bencana.
“Gunawan sesuatu,” katanya serak.
“Dia nggak inget, Koh.”
“Belum inget, Pram.” Koh Hendra mengusap wajahnya dan bersin lagi, kecil, lelah. “Dia nyimpen. Gua lihat matanya. Perempuan kayak gitu nyimpen semuanya.”
Aku mengulurkan tangan. Ia menyambutnya, dan aku menariknya berdiri.
Kami duduk di bangku Bapak di dekat pintu. Mang Ujang membawakan teh hangat dan tisu. Sasa membawakan bakpia. Ridwan, dengan sangat bijaksana, membawa sapu dan mulai membersihkan gudang tanpa disuruh.
Lama Koh Hendra diam. Lalu ia berkata, tanpa menatapku:
“Pram. Gua lihat lu tadi. Waktu lu nangkep dia.”
Aku tidak menjawab.
“Gua udah lima setengah tahun kenal lu. Gua lihat lu waktu kontainer pertama berangkat. Waktu lu dapat order Jepang. Waktu lu nolak proyek kolaborasi itu dan gua telepon lu dua jam buat marahin lu.” Ia meniup tehnya. “Tapi gua belum pernah lihat muka lu kayak tadi.”
“Kayak apa, Koh?”
“Kayak orang yang lagi megang sesuatu yang dia tahu bukan punya dia.”
Aku menatap telapak tanganku. Tangan yang tadi memegang siku Dara. Masih ada rasa hangat di sana, samar-samar, seperti bekas cetakan.
“Cepat atau lambat, dia bakal nanya, Pram,” kata Koh Hendra pelan. “Dan gua kasih tahu lu satu hal. Gua bisa bohong ke istri gua soal empat puluh dua gaun. Gua bisa bohong ke pajak soal...” Ia berhenti. “Ya, pokoknya gua bisa bohong ke banyak orang. Tapi gua nggak akan bisa bohong ke perempuan itu kalau dia nanya sambil nangis.”
“Dia nggak akan nanya, Koh.”
“Lu yakin?”
Aku tidak menjawab. Aku memandang ke jalan kecil di depan workshop, tempat mobil Dara tadi parkir. Masih ada bekas ban di tanah yang basah.
Kadang aku mikir, mereka itu kayak malaikat yang mampir sekali terus pergi.
Ia menyebutku malaikat. Tanpa tahu itu aku. Dan aku tidak tahu mana yang lebih menakutkan: bahwa suatu hari ia akan tahu bahwa malaikatnya cuma tukang kayu yang menjual mesin CNC-nya, atau bahwa ia tidak akan pernah tahu, dan aku harus berdiri di sampingnya selamanya sambil mendengarnya bercerita tentang malaikat yang pergi.
“Gua boleh naik?” tanya Koh Hendra tiba-tiba, menunjuk tangga loteng dengan dagunya.
Aku ragu sebentar. Lalu mengangguk.
Kami naik berdua. Koh Hendra harus menunduk lebih dalam dariku di bawah atap yang rendah, dan ia mengeluh soal punggungnya sepanjang tangga. Tapi begitu aku membuka pintu lemari jati, keluhannya berhenti.
Ia berdiri lama di depan sebelas potong pakaian itu. Lalu menoleh ke dua belas kotak kardus di sisi kiri, yang masih terbungkus blacu, persis seperti saat ia mengirimnya kembali dari Singapura lima tahun lalu.
“Lu nggak pernah buka,” katanya. Bukan pertanyaan.
“Setahun sekali. Ganti kapur barus.”
“Lima tahun, Pram.”
“Iya.”
Koh Hendra menyentuh lengan blus linen putih yang tergantung paling kiri, koleksi Kemarau. Ujung jarinya yang gemuk menyentuh kain itu dengan hati-hati yang tidak kusangka.
“Gua nggak ngerti baju,” katanya pelan. “Gua nggak tahu ini bahan apa. Tapi gua tahu barang yang disimpan orang yang sayang. Gudang gua penuh barang. Nggak ada satu pun yang disimpan kayak gini.”
Kami turun tanpa bicara lagi.
Koh Hendra menepuk lututku dua kali, persis seperti cara Bapak.
“Bakpia-nya enak, kan?”
“Enak, Koh.”
“Changi.” Ia menggeleng-geleng, lalu bersin sekali lagi. “Gua harus mulai beli oleh-oleh di toko yang nggak nyetak nama bandara.”
- 1 Bab 1 — Order Pertama
- 2 Bab 2 — Loteng
- 3 Bab 3 — Vendor yang Tidak Mau Menatap
- 4 Bab 4 — Pelanggan Ukuran S
- 5 Bab 5 — Serutan
- 6 Bab 6 — Sendok Pak Darsa
- 7 Bab 7 — Revisi Ketujuh
- 8 Bab 8 — Kutubaru
- 9 Bab 9 — Tolong Diam
- 10 Bab 10 — Koh Hendra Datang ke Bandung reading
- 11 Bab 11 — Tangan yang Luka
- 12 Bab 12 — Harga Penuh
- 13 Bab 13 — Jati yang Baru Diampelas
- 14 Bab 14 — Pak Bram
- 15 Bab 15 — Pegang yang Benar
- 16 Bab 16 — Truk Pengiriman
- 17 Bab 17 — Mitos
- 18 Bab 18 — Kontrak Lembang
- 19 Bab 19 — Stapler Biru
- 20 Bab 20 — Tempat Orang Berhenti
- 21 Bab 21 — Ridwan dan TikTok
- 22 Bab 22 — Rooftop
- 23 Bab 23 — Undangan
- 24 Bab 24 — Kebaikan yang Salah Tempat
- 25 Bab 25 — Brokat Bukan Merek Lem
- 26 Bab 26 — Struk
- 27 Bab 27 — Tulisan Tangan
- 28 Bab 28 — Aku Cuma Beli Waktu
- 29 Bab 29 — Biasa Aja, Pram?
- 30 Bab 30 — Loteng
- 31 Bab 31 — Giliranku
- 32 Bab 32 — Cicilan Pertama
- 33 Bab 33 — Ukuran Jas
- 34 Bab 34 — Kutubaru untuk Satu Orang
- 35 Bab 35 — Bapak Juga Nggak
- 36 Bab 36 — Harga Penuh, Tanpa Cicilan
- 37 Bab 37 — Lima Tahun Menahan Diri
- 38 Bab 38 — Pembeli Pertamaku
- 39 Bab 39 — Nggak Ada yang Biasa Aja
- 40 Epilog — Rumah dari Kayu