← Pembeli Pertamamu

Chapter Seventeen

Bab 17 — Mitos

POV: Prama

Aku tidur tiga jam setelah pulang dari Gedung Merdeka, dan bahu kananku masih pegal ketika Sasa membangunkanku dengan menggedor pintu kamar kecil di belakang workshop.

“A! A Prama! Bangun! Teh Dara masuk TV!”

Aku membuka mata. Langit-langit kayu. Cahaya siang dari celah jendela. Bahu kananku berdenyut, dan untuk satu detik yang memalukan, aku tidak keberatan, karena denyut itu adalah satu-satunya bukti bahwa semalam benar-benar terjadi.

Dua jam. Kepalanya di bahuku. Jari-jarinya di antara jari-jariku.

Aku tidak bergerak dua jam karena aku takut kalau aku bergerak, ia akan bangun. Dan kalau ia bangun, ia akan melepaskan tanganku. Dan aku tidak siap. Aku tidak akan pernah siap.

“A!”

“Iya, Sa.”

“Cepet! Acaranya udah mulai!”


Televisi di workshop Kayuku adalah televisi tabung empat belas inci yang dibawa Mang Ujang dari rumahnya tiga tahun lalu, karena istrinya membeli televisi baru dan tidak mau yang lama dibuang. Gambarnya agak kehijauan. Suaranya sedikit pecah di nada tinggi. Antenanya harus dipegang dengan sudut tertentu supaya sinyalnya tidak hilang.

Ridwan memegang antenanya. Mang Ujang duduk di bangku paling depan. Sasa berdiri di belakang dengan kedua tangan menutup mulut. Bapak, yang entah kapan datang, duduk di bangkunya dekat pintu dengan sendok setengah jadi di pangkuan.

Dan di layar kehijauan itu, ada Dara.

Acara bincang-bincang pagi di televisi nasional. Studio terang dengan sofa krem. Pembawa acara perempuan yang terlalu ceria. Dan Dara, duduk di ujung sofa dengan blus putih berkerah sabrina dan rambut terurai di bahu, tersenyum dengan lesung pipit yang membuat kamera seperti lupa harus menyorot siapa lagi.

Ia terlihat segar. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia baru tidur dua jam di kabin truk dan tiga jam lagi di apartemennya. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia baru berdiri di tengah panggung yang belum jadi sampai matahari terbit, di samping seorang tukang kayu, bicara tentang perempuan yang tidak tahu.

“Geulis pisan,” bisik Bapak.

“Sstt, Pak!” desis Sasa.

“Jadi, Mbak Dara,” kata pembawa acara dengan suara yang agak pecah lewat speaker televisi tua, “lima tahun DARA. Pertanyaan yang pasti semua orang mau tahu. Gimana awalnya?”

Aku tahu jawabannya sebelum ia membuka mulut. Aku sudah mendengarnya di belasan wawancara. Aku hafal setiap jedanya.

“Awalnya dari bazar di Sabuga,” kata Dara. “Tiga hari, nol potong terjual. Aku udah siap berhenti. Terus seminggu kemudian, ada butik di Singapura...”

Mang Ujang menoleh padaku. Sasa menoleh padaku. Bahkan Ridwan, yang seharusnya fokus memegang antena, menoleh padaku, dan sinyalnya langsung hilang. Layar jadi semut.

“WAN!” seru semua orang.

“Maaf, maaf!” Ridwan mengembalikan antena ke sudut yang tepat.

Gambar kembali. Dara sedang menunjuk sesuatu di layar besar di belakangnya. Foto bingkai kayu dengan kartu krem di dalamnya.

“...Teruskan. Dunia butuh bajumu. Itu yang bikin aku nggak jadi berhenti.”

Aku menatap layar. Kartu itu. Tulisanku. Huruf kapital yang agak miring, tinta biru tua. Di televisi nasional. Disaksikan jutaan orang.

Tanganku, di pangkuan, mengepal.

“Wah, inspiratif banget,” kata pembawa acara. “Dan Mbak udah pernah ketemu pemiliknya?”

“Belum.” Dara tersenyum, dan senyumnya sedikit sedih, sedikit rindu. “Aku udah coba cari. Emailnya udah nggak aktif. Mereka kayak... malaikat yang mampir sekali terus pergi. Tapi kalau mereka nonton ini...”

Ia menatap kamera. Langsung. Mata cokelatnya memenuhi layar empat belas inci yang kehijauan.

“Terima kasih. Kalian nggak tahu apa yang udah kalian lakukan buat aku.”

Workshop Kayuku hening. Benar-benar hening. Bahkan radio dangdut sudah dimatikan sejak tadi.

Aku tahu. Aku tahu persis apa yang sudah kulakukan. Dan justru karena itu, mendengar kalimat itu terasa seperti dipukul tepat di tempat yang sudah memar.


Acara itu berlangsung dua puluh menit. Dara bicara tentang koleksi show. Tentang Bu Imas dan dua belas penjahitnya. Tentang melati di pot depan rumah ibunya.

Lalu, di menit kedelapan belas, pembawa acara bertanya tentang panggung.

“Kabarnya panggungnya dibikin khusus, ya, Mbak? Dari kayu asli?”

“Iya.” Dan wajah Dara berubah. Senyumnya melebar, lebih santai, lebih lepas. Lesung pipitnya lebih dalam. “Dibikin sama workshop lokal di Cigadung. Namanya Kayuku. Mereka luar biasa. Pengrajinnya...”

Ia berhenti sebentar. Seperti mencari kata.

“Pengrajinnya begadang semalaman buat bikin pintu panggungku. Revisi tujuh kali, nggak pernah ngeluh. Semalam aku ikut pengiriman properti ke Gedung Merdeka, dan dia angkat rangka jendela dua meter sendirian, terus...”

Ia berhenti lagi. Pipinya memerah. Di televisi tabung empat belas inci yang kehijauan, merahnya terlihat seperti oranye. Tapi aku tahu itu merah.

“Pokoknya, kalau kalian butuh apa pun dari kayu, Kayuku. Mereka yang terbaik.”

Hening sedetik di workshop.

Lalu Sasa menjerit. Mang Ujang menjerit. Ridwan menjatuhkan antena dan ikut menjerit, dan layarnya jadi semut lagi, tapi kali ini tidak ada yang peduli.

“KAYUKU! DI TIPI! DISEBUT!” Mang Ujang melompat dari bangkunya dan memeluk Bapak, yang hampir menjatuhkan sendoknya.

“Teh Dara bilang kita yang terbaik!” Sasa memeluk Ridwan, yang memeluk antena.

Dan Bapak, di tengah pelukan Mang Ujang, menatapku dari seberang ruangan dengan mata tua yang tajam.

Aku tidak menjerit. Aku duduk di bangku, menatap layar yang penuh semut, dan merasakan sesuatu yang aneh di dadaku. Seperti dua hal yang bertabrakan.

Ia menyebut Maison Lumière, malaikat yang mampir sekali. Lalu, dua menit kemudian, ia menyebut Kayuku, tukang kayu yang begadang.

Dua-duanya aku. Dan ia tidak tahu.


Ponsel Sasa mulai berbunyi jam sepuluh pagi dan tidak berhenti sampai jam lima sore.

Pesanan. Pertanyaan. Permintaan katalog. Seorang pemilik kafe di Jakarta yang mau memesan dua ratus cangkir sonokeling. Sebuah hotel di Bali yang mau pegboard untuk semua kamar. Seorang ibu dari Surabaya yang cuma mau tanya apakah pengrajin yang disebut di televisi itu sudah menikah.

“A!” Sasa berteriak dari meja admin, telepon di satu telinga, ponsel di tangan yang lain. “Followers Instagram kita naik tiga ribu dalam dua jam!”

“Oke, Sa.”

“Ada yang komen di foto tempat HP kita, A! Katanya, ini workshop yang pengrajinnya bikin pintu buat Dara?? Mau dong dibikinin pintu juga, sama hatinya sekalian.”

“Sa.”

“Ada lagi, A! Pengrajin Kayuku mukanya kayak apa? Plis upload!”

“Jangan upload apa-apa, Sa.”

Ridwan, yang sedang mengedit sesuatu di ponselnya di pojok, langsung menyembunyikan ponselnya di balik punggung.

Bapak memanggilku ke bangkunya menjelang Asar. Ia menepuk tempat kosong di sebelahnya, dan aku duduk.

“Si Neng nyebut kamu di TV,” katanya, tanpa berhenti memahat.

“Nyebut Kayuku, Pak.”

“Nyebut pengrajinnya. Nu begadang. Nu ngangkat jandela sorangan.” Bapak meniup serpihan kayu dari cekungan sendoknya. “Bapak lihat pipinya. Di TV Ujang, pipinya jadi oranye. Tapi Bapak tahu itu beureum.”

Aku tidak menjawab.

“Si Neng nyebut kamu di TV nasional, Pram,” kata Bapak, dan akhirnya ia menoleh padaku. “Di depan sajuta jalma. Kamu nyebut si Neng di mana?”

“Pak...”

“Di loteng?” Bapak menunjuk tangga dengan ujung pisau. “Di lemari nu dikonci? Di saku kemeja nu kiri?”

Aku menatap Bapak. Ia tidak pernah naik ke loteng. Ia tidak pernah bertanya. Tapi tentu saja ia tahu. Bapak selalu tahu.

“Ibu kamu dulu,” kata Bapak pelan, kembali ke sendoknya, “bilang ke Bapak: cinta nu disumputkeun teuing, lila-lila jadi kai nu buruk di jero. Luarna mah alus. Jerona mah keropos.”

Ia tidak menunggu jawabanku. Ia cuma bersiul lagu lama, dan terus memahat.

Aku tidak bisa fokus bekerja. Aku memegang ampelas tapi tidak mengampelas. Aku memegang pahat tapi tidak memahat. Aku cuma duduk di meja kerjaku, menatap kusen kayu yang belum selesai, dan mendengar kalimat itu berulang-ulang.

Kalian nggak tahu apa yang udah kalian lakukan buat aku.

Lima tahun lalu, aku membeli waktu untuknya. Satu kali, diam-diam, dengan mesin CNC yang kujual. Dan hari ini, tanpa tahu, ia membalasnya. Di televisi nasional. Dengan satu kalimat yang membuat Kayuku mendapat lebih banyak pesanan dalam satu hari daripada dalam enam bulan.

Ia menyelamatkanku. Sama seperti aku menyelamatkannya. Dan tidak satu pun dari kami yang tahu bahwa kami saling menyelamatkan.

Tidak. Bukan begitu. Ia tidak tahu. Aku tahu. Dan itu yang membuatnya jadi kebohongan.


Jam enam sore, ponselku berdering. Koh Hendra.

“Pram!” Suaranya terdengar panik, sangat panik, lebih panik daripada saat ia bersembunyi di gudang serbuk. “Lu nonton TV tadi pagi?”

“Nonton, Koh.”

“Gua dapet DM, Pram. Tiga. Dari wartawan. Satu dari majalah fashion Jakarta, satu dari portal berita, satu lagi dari podcast. Mereka semua nanya hal yang sama.”

Aku memejamkan mata. “Maison Lumière.”

“Maison Lumière!” Koh Hendra hampir berteriak. “Mereka nyari jejak butiknya! Salah satu wartawan bilang dia udah nemu catatan registrasi perusahaan gua di Singapura dan nemu bahwa Gunawan Trading pernah bikin transaksi pembelian pakaian lima tahun lalu! Dia nanya gua kenal Maison Lumière atau nggak!”

“Koh jawab apa?”

“Gua belum jawab! Gua lagi di toilet, Pram! Gua sembunyi di toilet kantor gua sendiri!”

Aku menghela napas panjang. Di belakangku, Mang Ujang dan Sasa sudah berhenti bekerja, mendengarkan dengan wajah tegang.

“Jangan jawab, Koh.”

“Sampai kapan? Pram, mereka wartawan. Mereka nggak berhenti. Perempuan lu itu baru aja bilang di TV nasional bahwa dia mau ketemu pemilik butiknya. Sekarang semua orang di Indonesia mau tahu siapa malaikat dari Singapura itu!”

Aku tidak menjawab.

“Pram.” Suara Koh Hendra melunak. “Ini nggak bisa lu tahan selamanya. Kebohongan itu kayak kayu basah. Kalau disimpen di tempat lembap terlalu lama, dia bakal jamuran dari dalam. Lu sendiri yang ngajarin gua itu.”

“Kalau aku ngomong, Koh,” kataku pelan, “dia kehilangan semuanya. Dia sendiri yang bilang. Kalau Maison Lumière nggak pernah ada, dia nggak tahu dia siapa.”

“Dan kalau wartawan yang nemuin duluan?” tanya Koh Hendra. “Kalau dia tahu dari artikel online, bukan dari lu? Lu pikir itu lebih baik?”

Aku tidak punya jawaban untuk itu.


Malam itu, aku naik ke loteng dan tidak membuka lemari jati.

Aku duduk di lantai, di bawah bohlam kuning, dengan selembar kertas dan pulpen bertinta biru tua. Pulpen yang sama yang kupakai lima tahun lalu untuk menulis kartu krem. Aku menyimpannya di laci di loteng, karena tidak bisa menggunakannya untuk hal lain.

Aku menulis.

Untuk Dara.

Lalu aku berhenti. Lama.

Aku menulis lagi. Aku menulis tentang Sabuga. Tentang blus putih berkerah sabrina yang ia pegang di belakang rak sambil menangis. Tentang mesin CNC dan Pak Haji Somad dari Cibaduyut. Tentang Koh Hendra yang memberi nama butik dari papan nama toko lampu. Tentang empat kali menulis kartu krem karena tintanya meleber. Tentang sebelas potong yang tergantung di lemari, dan empat puluh dua lainnya yang masih terbungkus blacu.

Aku menulis tentang aturan. Sekali saja. Harga penuh. Jangan pernah muncul. Dan bagaimana aku sudah melanggar yang ketiga, dan sedang melanggar yang keempat, jangan berharap, setiap kali ia tersenyum.

Aku menulis bahwa aku minta maaf.

Aku menulis bahwa aku tidak pernah berniat membohonginya. Bahwa aku cuma ingin ia tidak berhenti. Bahwa aku tidak pernah membeli lebih dari satu potong setiap koleksi, supaya ia tahu bahwa dunia benar-benar menginginkan bajunya, bukan cuma aku.

Dan di akhir, setelah tiga halaman, dengan tangan yang gemetar dan tinta yang hampir meleber lagi, aku menulis kalimat yang tidak pernah kuucapkan pada siapa pun. Bahkan pada diriku sendiri. Kalimat yang sudah ada di dadaku sejak hari ketiga bazar di Sabuga, lima tahun lalu, ketika aku melihat matanya dari sela rambut yang terurai.

Lalu aku melipat surat itu tiga kali dan memasukkannya ke dalam amplop krem.

Aku tidak mengirimnya.

Aku membuka lemari jati, dan menyelipkan amplop itu di saku dalam outer brokat dari koleksi Melati di Tangan Ibu. Di antara kain dan lapisan, tempat yang tidak akan ditemukan siapa pun kecuali seseorang yang benar-benar mencarinya.

Aku menutup lemari.

Kalau suatu hari ia tahu, pikirku, aku ingin ada sesuatu di sini yang mengatakan semua yang tidak bisa kukatakan. Dan kalau ia tidak pernah tahu, surat itu akan tetap di sana, di dalam baju yang ia jahit dengan tangannya sendiri, menyimpan kalimat yang tidak pernah sampai.

Itu cukup. Itu harus cukup.

Aku turun dari loteng jam satu pagi. Workshop gelap. Cuma ada cahaya bulan dari jendela dan bau jati.

Di meja Sasa, ponselnya masih berkedip dengan notifikasi. Pesanan baru. Komentar baru. Semua karena seorang perempuan menyebut nama Kayuku di televisi dengan pipi merah.

Aku berdiri di sana lama, menatap cahaya kecil yang berkedip-kedip itu, dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku bertanya-tanya apakah jangan pernah muncul adalah cinta, atau cuma ketakutan yang memakai baju cinta.