Chapter Thirty Eight
Bab 38 — Pembeli Pertamaku
POV: Dara
Tiga puluh menit sebelum show, ruang ganti di belakang panggung Gedung Merdeka adalah perang.
Seratus dua puluh potong baju di rak-rak kayu yang dibuat Prama. Empat puluh dua model yang berganti baju, dipakaikan riasan, ditata rambutnya, diomeli Bu Imas karena duduk sembarangan dan membuat rok kusut. Tim riasan berteriak minta hair spray. Tim lighting berteriak di headset. Tiwi berlari ke sana kemari dengan tiga tablet dan wajah orang yang sudah tidak merasakan kakinya sejak siang.
“Mbak! Segmen satu siap! Segmen dua, model nomor sembilan belas kehilangan anting! Segmen tiga...”
“Wi. Napas.”
“Aku napas, Mbak! Aku napas dari tadi! Aku cuma nggak tahu napas buat apa!”
Aku memegang bahunya. Ia berhenti. Menatapku. Lalu menarik napas panjang, dalam, sampai bahunya turun.
“Udah,” katanya. “Udah, Mbak. Aku udah.”
“Segmen empat?”
Tiwi menoleh ke rak paling ujung. Rak yang ditutup kain putih. Rak yang tidak boleh disentuh siapa pun kecuali Bu Imas, aku, dan Mang Ujang.
“Siap, Mbak,” bisiknya. “Empat puluh dua. Semua udah disetrika Bu Imas. Lipatannya dipertahanin di bagian yang bisa. Labelnya nggak dilepas.”
Aku menatap kain putih itu.
Dua hari lalu, setelah gladi resik, setelah Prama pulang, aku kembali ke Cigadung. Mang Ujang memberiku kunci loteng tanpa bertanya. Kami membawa turun dua belas kotak kardus terbungkus blacu, satu per satu, ke mobilku, sementara Sasa berjaga di pintu dan Ridwan mengalihkan perhatian Pak Darsa dengan pertanyaan-pertanyaan tentang sendok.
Prama tidak tahu.
Ini satu-satunya hal yang kusembunyikan darinya. Dan aku menyembunyikannya dengan alasan yang sama seperti ia menyembunyikan semuanya dariku selama lima tahun.
Karena aku ingin ia melihatnya sendiri. Bukan karena dikasih tahu.
Di belakang ruang ganti, di dekat pintu panggung, Mang Ujang dan Ridwan dan Sasa berdiri berjajar dengan pakaian hitam, seperti kru. Mang Ujang memegang kotak perkakas. Ridwan memegang senter. Sasa memakai kemeja satin gading asimetris dengan bordir tetes air di manset. Dari koleksi Lima Tahun. Ukuran S. Hadiah dariku.
Ia terlihat cantik. Aku bilang begitu. Ia menangis. Bu Imas memarahinya karena riasannya luntur.
“Teh,” bisik Mang Ujang, ketika aku lewat. “A Prama tos calik di hareup. Pakai jas. Tadi tilu kali rek kabur ka tukang panggung, abdi nu nahan.”
“Tiga kali?”
“Tilu, Teh. Nu kahiji, cenah rek mariksa engsel. Nu kadua, rek mariksa lampu. Nu katilu...” Mang Ujang menahan tawa. “Nu katilu, cenah rek ka WC. Tapi WC-na di beulah dieu, Teh. Ngaliwatan panggung.”
Aku tertawa. Gugupku berkurang sedikit.
“Dia duduk di mana?”
Ridwan mengintip lewat celah tirai. “Barisan pertama, Teh. Di antara Pak Bram sama Pak Darsa. Koh Hendra sama Bu Wati di sebelah Pak Darsa. Ibu Teteh di sebelah Pak Bram.”
“Mukanya gimana?”
Ridwan mengintip lagi. Lalu menoleh dengan senyum lebar. “Kayak orang mau disuntik, Teh.”
Show dimulai jam delapan tepat.
Lampu meredup. Musik masuk. Pelan dulu, piano dan biola, lalu suara gamelan yang samar, lalu hujan. Suara hujan sungguhan, yang direkam Tiwi di atap rumahnya minggu lalu.
Dan pintu mahoni di ujung panggung terbuka.
Model pertama keluar dari pintu itu, melewati kaca patri berbentuk embun yang menangkap cahaya lampu dan memecahnya jadi kilau-kilau kecil di lantai jati. Ia berjalan di antara rangka-rangka jendela suar, tempat kain-kain tipis tergantung dan bergerak pelan ditiup kipas tersembunyi. Ia berjalan di atas lantai jati bekas dari rumah-rumah tua di Garut, papan-papan yang seratnya berbeda-beda, warnanya berbeda-beda.
Ia melewati noda minyak di tengah lengan panggung. Ia tidak berhenti. Tidak ada yang tahu.
Kecuali aku. Dan seorang laki-laki di barisan pertama.
Segmen pertama. Segmen kedua. Segmen ketiga. Koleksi Lima Tahun, dua belas potong edisi terbatas dan seratus delapan potong lainnya. Linen dan katun dan sutra dan tulle dan brokat. Warna tanah, warna langit, warna kayu. Baju yang ditungguin orang buat dipakai.
Aku menonton dari celah tirai. Aku tidak bisa melihat barisan pertama dengan jelas, cuma siluet. Tapi aku bisa melihat satu siluet yang lebih besar dari yang lain, duduk dengan punggung sangat tegak, tidak bergerak sama sekali.
Ia menonton setiap model. Setiap langkah. Setiap kali seseorang melewati pintu embun, aku melihat kepalanya bergerak sedikit, mengikuti.
Seperti tukang kayu yang memastikan engselnya bekerja.
Lalu segmen empat.
Lampu padam total. Ruangan gelap. Musik berhenti.
Hening. Tiga detik. Lima detik. Penonton mulai berbisik.
Lalu suara Tiwi di pengeras suara. Pelan. Sedikit bergetar.
“Lima tahun lalu, di sebuah kamar kos di Sekeloa, empat puluh dua potong baju dijahit setiap subuh, sementara embun menempel di jendela.”
“Koleksi itu tidak laku di bazar. Tiga hari. Nol potong.”
“Lalu seseorang membeli semuanya.”
“Malam ini, untuk pertama kalinya, koleksi itu dipakai.”
“Embun.”
Satu lampu menyala. Putih. Di pintu mahoni. Di kaca patri berbentuk embun.
Dan pintu itu terbuka.
Model pertama segmen empat keluar memakai gaun katun abu-abu dengan lipit di pinggang. EMBUN — No. 1. Label kecil yang kujahit sendiri lima tahun lalu masih terpasang di bagian dalam leher.
Model kedua. Kemeja linen dengan kancing kain. No. 2.
Model ketiga. Rok A-line dengan saku tersembunyi. No. 3.
Mereka keluar satu per satu dari pintu embun. Pelan. Tidak secepat segmen lain. Musik yang mengiringi mereka cuma suara mesin jahit tua, dan suara hujan, dan sesekali dentingan gamelan yang sangat pelan.
Empat puluh satu model. Empat puluh satu potong.
Baju-baju yang terbungkus blacu di loteng selama lima tahun. Baju-baju yang dibeli dengan mesin CNC dan satu tahun ekspor yang hilang. Baju-baju yang tidak pernah dipakai.
Malam ini, dipakai.
Aku mengintip dari celah tirai. Dan kali ini, aku bisa melihat barisan pertama dengan jelas, karena cahaya dari panggung jatuh di wajah-wajah mereka.
Ibu menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Ayah duduk tegak, kacamata bacanya di tangan, tidak di hidung.
Koh Hendra sudah menangis. Bu Wati memeluk lengannya dan juga menangis.
Pak Darsa duduk diam, dengan sendok setengah jadi di pangkuan, menatap panggung dengan mata yang berkaca-kaca.
Dan Prama.
Ia tidak lagi duduk tegak. Ia membungkuk ke depan, sikunya di lutut, kedua tangannya menutup mulut. Jas linen abu-abu warna suar habis hujan. Enam kancing sonokeling. Dan di atas tangannya, matanya. Mata yang menatap setiap model yang keluar dari pintu embun. Setiap baju yang ia simpan selama lima tahun, yang tidak pernah ia buka, yang ia anggap bukan punyaku buat dibuka.
Ia menangis tanpa suara. Bahunya bergetar. Pak Darsa di sampingnya meletakkan tangan di punggungnya. Ayahku, di sisi lain, menatapnya sebentar, lalu, pelan, meletakkan tangannya di bahu Prama juga.
Empat puluh satu model berdiri berjajar di sepanjang kedua sisi lengan panggung. Di antara rangka-rangka jendela. Seperti deretan rumah di gang sempit kota tua.
Satu potong lagi.
No. 42.
Aku menarik napas. Aku merapikan blus putih berkerah sabrina yang kupakai. Linen. Jahitannya rapi. Yang paling jujur. Yang kupegang sambil menangis di belakang rak di Sabuga lima tahun lalu.
Aku berjalan ke pintu.
Lampu putih menyorotku ketika aku melangkah keluar.
Penonton bertepuk tangan. Aku hampir tidak mendengarnya. Aku berjalan pelan di atas lantai jati, di antara empat puluh satu model yang memakai bajuku, di antara rangka-rangka jendela yang dibuat dengan tangan, di bawah lampu-lampu kecil yang dipasang di bawah lengan panggung supaya tidak ada yang tersandung dalam gelap.
Aku berhenti di tengah lengan panggung.
Di atas noda minyak.
Aku menunduk. Menatap noda gelap di bawah sepatuku. Lalu aku mengangkat kepala, dan menatap barisan pertama. Menatap dia.
Seseorang menyerahkan mikrofon padaku. Tiwi. Aku tidak tahu sejak kapan ia di sana.
Aku mengambilnya. Tanganku gemetar.
“Selamat malam,” kataku.
Suaraku bergema di ruangan besar itu. Pilar-pilar. Langit-langit tinggi. Gedung yang sama tempat, lebih dari tujuh puluh tahun lalu, orang-orang dari Asia dan Afrika berkumpul untuk bicara tentang kemerdekaan.
“Lima tahun saya cerita ke semua orang bahwa saya membangun DARA. sendirian.” Aku menelan. “Di majalah. Di podcast. Di TV nasional. Saya cerita tentang butik di Singapura yang membeli koleksi pertama saya. Saya sebut mereka malaikat.”
Ruangan sunyi.
“Malam ini saya mau cerita yang sebenarnya.”
Dan aku menceritakannya.
Bukan semuanya. Tidak ada waktu untuk semuanya. Tapi cukup. Sabuga. Hari ketiga. Stan kayu di sebelah. Penjual yang menjatuhkan cangkir. Butik Singapura yang ternyata nama toko lampu di sebelah gudang furnitur. Mesin yang dijual. Satu potong setiap koleksi, harga penuh, lima tahun, diam-diam.
Aku melihat wartawan di barisan kedua berhenti mengetik. Aku melihat Mas Bimo dari podcast di sudut ruangan menurunkan ponselnya.
“Saya marah waktu tahu,” kataku. “Saya berdiri di sini, di panggung ini, di titik ini,” aku menunjuk noda minyak di bawah sepatuku, “dan saya tanya ke dia, jadi aku sebenarnya nggak bagus?”
Aku menatap Prama. Ia menatapku balik. Tangannya masih menutup mulutnya.
“Asisten saya menghitung,” lanjutku. “Lima tahun. Tiga ribu empat ratus delapan belas potong terjual, di luar Embun. Dia beli dua belas. Nol koma tiga lima persen. Sisanya, kalian. Kalian yang beli. Kalian yang pakai. Kalian yang bikin saya bisa berdiri di sini.”
Penonton mulai bertepuk tangan. Pelan dulu. Lalu lebih keras.
Aku menunggu sampai tepuk tangan reda.
“Dia bilang ke saya,” kataku, dan suaraku bergetar, “aku cuma beli waktu. Dan dia benar. Dia beli waktu. Saya yang pakai waktunya. Saya yang jahit tiga ribu empat ratus potong itu. Dia nggak jahit satu pun.”
Aku menarik napas.
“Tapi tanpa waktu itu, nggak ada satu pun.”
Hening.
“Malam ini, di titik yang sama tempat saya bertanya apakah saya bagus, saya mau jawab pertanyaan itu.” Aku menatap noda minyak. Lalu menatap barisan pertama. “Saya bagus. Dan saya dicintai. Dua-duanya benar. Dua-duanya nggak saling meniadakan.”
Air mataku jatuh. Aku tidak mengusapnya.
“Lima tahun saya cari pembeli pertama saya,” kataku. “Saya kira dia malaikat dari Singapura. Ternyata dia tukang kayu dari Cigadung. Dengan pikap tua yang lampu kirinya redup.”
Seseorang di barisan belakang tertawa. Lalu beberapa orang lagi. Tawa yang hangat.
“Dia yang bikin panggung ini,” kataku. “Rangka jendelanya. Pintunya. Lantainya. Lampu-lampu kecil di bawah panggung yang nggak ada di desain, supaya nggak ada yang jatuh dalam gelap.”
Aku mengulurkan tangan ke barisan pertama.
“Pram,” kataku. “Naik.”
Ia tidak bergerak.
Seluruh ruangan menoleh ke barisan pertama. Lampu sorot bergeser, dari aku ke dia. Jas linen abu-abu. Enam kancing sonokeling. Wajah yang basah, merah sampai ke telinga, menatap tangan yang kuulurkan dari atas panggung.
Aku melihatnya menoleh ke kiri. Ke pintu samping. Jalan keluar.
Lalu aku melihatnya ingat. Apa pun yang terjadi besok, jangan kabur.
Ia menoleh ke kanan. Ayah. Ayah menatapnya, lalu mengangguk, sekali, pelan.
Ia menoleh ke kiri lagi. Pak Darsa. Pak Darsa menepuk punggungnya dua kali.
Dan dari barisan pertama, paling ujung, suara Koh Hendra, serak, terlalu keras, di tengah ruangan yang sunyi:
“Naik, Pram! Gua udah googling brokat demi lu! Naik!”
Ruangan meledak dalam tawa.
Dan Prama berdiri.
Ia berjalan ke tangga di samping panggung. Pelan. Satu anak tangga. Dua. Tiga. Lalu ia ada di atas panggung. Di atas lantai jati yang ia minyaki sendiri sampai jam dua pagi. Di antara empat puluh satu model yang memakai baju-baju yang ia simpan di loteng.
Ia berjalan ke arahku. Melewati model-model itu. Aku melihatnya melirik mereka satu per satu. Gaun katun abu-abu. Kemeja linen. Rok A-line. Ia mengenali setiap potong. Tentu saja ia mengenali.
Ia berhenti di depanku. Di atas noda minyak.
Aku mengulurkan tangan.
Ia menatap tanganku. Lalu menatap wajahku. Lalu, di depan seluruh Gedung Merdeka, di depan ayahku dan ayahnya dan wartawan dan kamera dan empat puluh satu model, ia menggenggam tanganku.
Jari-jarinya menyelinap di antara jari-jariku. Telunjuk. Tengah. Manis. Kelingking.
Aku mengangkat mikrofon untuk terakhir kalinya.
“Ini,” kataku, dengan suara yang hampir tidak keluar, “pembeli pertamaku.”
Tepuk tangan itu terdengar seperti hujan.
Hujan deras di atap seng. Hujan yang tidak berhenti. Penonton berdiri. Aku melihat Ayah berdiri lebih dulu, sebelum siapa pun. Ibu di sampingnya, menangis sambil bertepuk tangan. Pak Darsa berdiri dengan sendok di tangan, mengangkatnya ke udara seperti piala. Bu Wati memeluk Koh Hendra, yang menangis paling keras di seluruh ruangan, keras sekali, tanpa malu, sampai orang-orang di sekitarnya ikut tertawa dan menangis bersamaan.
Di belakang panggung, aku tahu, Mang Ujang dan Sasa dan Ridwan sedang berpelukan. Aku bisa mendengar Mang Ujang. Ia berteriak sesuatu dalam bahasa Sunda yang tidak bisa kutangkap, tapi kedengarannya seperti ALHAMDULILLAH yang diulang tujuh kali.
Prama tidak melihat penonton. Ia melihatku.
“Kamu bilang jangan kabur,” bisiknya, di tengah tepuk tangan.
“Kamu nggak kabur.”
“Kamu ambil Embun dari loteng.”
“Iya.”
“Diam-diam.”
“Iya.” Aku tersenyum. “Rasanya gimana?”
Ia menatapku lama. Lalu ia tertawa. Di atas panggung. Di bawah lampu sorot. Tertawa dengan mata yang basah dan wajah yang merah, tawa yang utuh, yang membuat matanya menyipit dan wajahnya terlihat sepuluh tahun lebih muda.
Dari barisan pertama, aku melihat Pak Darsa berhenti bertepuk tangan. Ia menatap anaknya. Dan ia tersenyum. Senyum yang sama.
Seuri nu utuh.
Di belakang panggung, setelah bow terakhir, setelah lampu panggung padam dan penonton mulai keluar, setelah Tiwi memelukku sampai aku hampir tidak bisa bernapas dan Bu Imas mencium kedua pipiku dan Mang Ujang menangis di bahu Ridwan, Prama menarikku ke balik rak kayu terakhir di ruang ganti.
Rak yang ia buat. Rak yang hampir roboh waktu aku datang dengan kebaya kutubaru.
Ia tidak bilang apa-apa. Ia cuma memegang wajahku dengan kedua tangannya, tangan yang kasar dan penuh bekas luka, dan menatapku. Lama.
Lalu ia menciumku.
Di balik rak kayu. Di antara baju-baju yang tergantung. Wangi linen dan minyak tung dan melati. Pelan dulu, lalu tidak pelan lagi. Aku mencengkeram kerah jasnya. Kancing sonokeling yang kupahat sendiri menekan dadaku.
Ketika akhirnya kami berhenti, dahinya bersandar di dahiku.
“Dara,” bisiknya.
“Hm.”
“Besok malam. Di loteng. Ada yang mau aku tanyain.”
Aku membuka mata. Ia menatapku dengan sesuatu di matanya yang belum pernah kulihat. Bukan takut. Bukan ragu.
Yakin.
“Tanya apa?” bisikku.
Ia tersenyum. Utuh.
“Besok,” katanya. “Kali ini, aku nanya dulu.”
- 1 Bab 1 — Order Pertama
- 2 Bab 2 — Loteng
- 3 Bab 3 — Vendor yang Tidak Mau Menatap
- 4 Bab 4 — Pelanggan Ukuran S
- 5 Bab 5 — Serutan
- 6 Bab 6 — Sendok Pak Darsa
- 7 Bab 7 — Revisi Ketujuh
- 8 Bab 8 — Kutubaru
- 9 Bab 9 — Tolong Diam
- 10 Bab 10 — Koh Hendra Datang ke Bandung
- 11 Bab 11 — Tangan yang Luka
- 12 Bab 12 — Harga Penuh
- 13 Bab 13 — Jati yang Baru Diampelas
- 14 Bab 14 — Pak Bram
- 15 Bab 15 — Pegang yang Benar
- 16 Bab 16 — Truk Pengiriman
- 17 Bab 17 — Mitos
- 18 Bab 18 — Kontrak Lembang
- 19 Bab 19 — Stapler Biru
- 20 Bab 20 — Tempat Orang Berhenti
- 21 Bab 21 — Ridwan dan TikTok
- 22 Bab 22 — Rooftop
- 23 Bab 23 — Undangan
- 24 Bab 24 — Kebaikan yang Salah Tempat
- 25 Bab 25 — Brokat Bukan Merek Lem
- 26 Bab 26 — Struk
- 27 Bab 27 — Tulisan Tangan
- 28 Bab 28 — Aku Cuma Beli Waktu
- 29 Bab 29 — Biasa Aja, Pram?
- 30 Bab 30 — Loteng
- 31 Bab 31 — Giliranku
- 32 Bab 32 — Cicilan Pertama
- 33 Bab 33 — Ukuran Jas
- 34 Bab 34 — Kutubaru untuk Satu Orang
- 35 Bab 35 — Bapak Juga Nggak
- 36 Bab 36 — Harga Penuh, Tanpa Cicilan
- 37 Bab 37 — Lima Tahun Menahan Diri
- 38 Bab 38 — Pembeli Pertamaku reading
- 39 Bab 39 — Nggak Ada yang Biasa Aja
- 40 Epilog — Rumah dari Kayu