← Pembeli Pertamamu

Chapter Thirty Three

Bab 33 — Ukuran Jas

POV: Prama

Ia datang hari Senin dengan meteran jahit kuning melingkar di lehernya, seperti hari pertama ia masuk ke workshop ini.

Bukan cuma itu. Ia membawa tas kain besar berisi gulungan linen abu-abu, buku sketsa, bantalan jarum, kapur jahit, dan sebuah kotak kayu kecil yang ia pegang dengan dua tangan, hati-hati sekali, seperti memegang sarang burung.

“Mas,” katanya, meletakkan semuanya di meja panjang dekat jendela. “Berdiri.”

Aku meletakkan pahat. “Kenapa?”

“Aku mau ngukur kamu.”

Di meja sebelah, Mang Ujang menjatuhkan palu kayu. Lagi. Ini palu ketiga yang ia jatuhkan minggu ini. Aku mulai curiga ia melakukannya dengan sengaja, sebagai semacam efek suara.

“Ngukur,” ulangku.

“Buat jas.” Ia membuka buku sketsa dan memutarnya ke arahku.

Kemeja dan jas. Linen abu-abu, warna kayu yang sudah lama terkena hujan dan matahari. Potongannya sederhana, tidak ada yang berlebihan. Bahunya lebar. Di bagian punggung, ada lipit tersembunyi yang memberi ruang lebih, untuk seseorang yang sering membungkuk. Kerahnya rendah. Lengannya bisa digulung tanpa kusut.

Di samping sketsa, ia menulis angka-angka dengan tulisan tangannya yang miring ke kanan. Lingkar dada ±108. Bahu ±49. Ruang punggung +4 cm.

“Ini...” Aku menatap angka-angka itu. “Kapan kamu...”

“Hari pertama.” Ia tersenyum. “Waktu kamu pura-pura nggak tahu namaku. Aku ngukur kamu pakai mata. Kebiasaan buruk desainer. Terus aku gambar kemejanya beberapa minggu kemudian. Malam waktu kamu nolak voucher lima puluh persen.”

Aku tidak bisa bicara.

“Itu baju pertama yang aku gambar bukan buat dijual,” katanya pelan. “Aku nggak tahu kenapa aku gambar. Sekarang aku tahu.”

Ia membuka kotak kayu kecil itu.

Di dalamnya, di atas kain flanel hijau tua, berjajar enam kancing. Kayu sonokeling. Ungu kehitaman, seperti malam. Masing-masing sedikit berbeda ukurannya, sedikit berbeda bentuk lingkarannya. Tidak sempurna. Seperti melati yang tidak pernah tumbuh persis sama.

Kancing pertama yang ia buat di mejaku, dua minggu lalu. Dan lima lagi.

“Kapan kamu bikin lima lagi?” tanyaku. Suaraku keluar serak.

Ia melirik ke meja sebelah. Mang Ujang langsung menunduk dan mulai mengampelas dengan sangat serius.

“Tiap hari aku datang ke sini, Mas,” kata Dara, “sebelum kamu balik dari Gedung Merdeka, Mang Ujang ngajarin aku di ruang belakang. Satu kancing sehari. Kamu nggak pernah tahu.”

“Mang.”

“Abdi teu nyarios nanaon, A,” kata Mang Ujang dengan suara polos. “Abdi ngan ngajarkeun cara nyekel peso. Teu ti jauh.”

Aku menatap enam kancing di atas flanel hijau. Enam hari. Enam kali ia duduk di ruang belakang workshopku, diam-diam, dengan pisau lipat dan potongan sonokeling, belajar dari Mang Ujang, supaya ia bisa membuat sesuatu untukku.

Diam-diam. Tanpa aku tahu.

Persis seperti yang kulakukan padanya selama lima tahun.

“Kamu...” Aku berhenti. Aku tidak tahu harus bilang apa.

“Rasanya gimana?” tanyanya pelan. “Dikasih sesuatu yang dibikin diam-diam?”

Aku menatapnya. Ia menatapku balik dengan mata yang tidak menyembunyikan apa pun.

“Rasanya,” kataku, dan aku harus menelan sesuatu yang menyumbat tenggorokanku, “kayak mau nangis.”

“Iya.” Ia tersenyum, kecil, lembut. “Itu yang aku rasain di loteng.”


“Berdiri,” ulangnya.

Aku berdiri.

“Lepas celemeknya.”

Aku melepas celemek kerja. Aku menggantungnya di paku di samping meja. Tanganku sedikit gemetar. Aku menyalahkan kopi pagi tadi, meskipun aku tidak minum kopi pagi tadi.

“Rentangkan tangan.”

Aku merentangkan tangan ke samping. Seperti orang-orangan sawah. Seperti orang yang menyerah.

Ia melepas meteran jahit kuning dari lehernya dan berjalan ke arahku.

Ia mulai dari bahu. Berdiri di belakangku, merentangkan meteran dari ujung bahu kiri ke ujung bahu kanan, di atas tulang belikat. Aku bisa merasakan ujung-ujung jarinya menekan pelan di kedua ujung. Hangat. Melalui kain kemeja.

“Empat puluh sembilan,” gumamnya. “Mataku bener.”

Lalu panjang punggung. Dari tengkuk, di tulang yang menonjol di bawah rambut, turun lurus sampai ke pinggang. Ujung jarinya menyentuh tengkukku, menahan ujung meteran di sana, dan aku merasakan bulu kudukku berdiri.

Lalu panjang lengan. Ia berdiri di sampingku, memegang pergelangan tanganku dengan satu tangan dan menarik meteran dari bahu sampai pergelangan dengan tangan yang lain. Pelan. Sangat pelan. Lebih pelan dari yang diperlukan untuk mengukur.

“Kamu biasanya ngukur selama ini?” tanyaku. Suaraku keluar lebih rendah dari biasanya.

“Nggak,” katanya ringan, tanpa menatapku. “Biasanya cepet. Dua menit selesai.”

“Ini udah lima menit.”

“Kamu badannya gede. Butuh waktu.”

Di meja sebelah, Mang Ujang batuk. Panjang. Mencurigakan.


Lalu ia berdiri di depanku.

Ia membuka meteran itu. Melingkarkannya di dadaku. Kedua lengannya terulur ke belakang punggungku untuk menangkap ujung meteran, dan untuk itu, ia harus melangkah sangat dekat. Begitu dekat sehingga dahinya hampir menyentuh daguku. Begitu dekat sehingga aku bisa mencium wangi rambutnya. Melati. Dan sesuatu yang lain, sesuatu yang hangat, yang cuma dia.

Ia menarik kedua ujung meteran ke depan, di atas dadaku, dan menyatukannya.

Lalu ia mengangkat wajahnya. Menatapku. Dari jarak yang tidak lebih dari satu jengkal.

Aku berhenti bernapas.

Ia memperhatikan angka di meteran. Lalu memperhatikan dadaku, yang tidak bergerak. Lalu wajahku, yang aku yakin sudah merah sampai ke telinga.

“Mas,” katanya pelan. Suaranya turun. Lebih rendah. Lebih lambat. Suara yang belum pernah kudengar darinya. “Kalau kamu nahan napas, ukurannya salah.”

Aku menghembuskan napas. Terlalu cepat. Terlalu keras.

Meteran di dadaku bergerak. Ujung jarinya, yang memegang meteran, menyentuh dadaku lewat kain kemeja. Tepat di tengah. Tepat di atas tempat yang sekarang berdentum seperti mesin serut yang dinyalakan tanpa kayu.

Ia pasti merasakannya. Aku tahu ia merasakannya, karena sudut bibirnya naik, pelan, dan lesung pipitnya muncul.

“Pram,” bisiknya.

Bukan Mas Prama. Bukan Mas.

Pram.

“Napasnya biasa aja, Pram,” katanya, menatapku dari bawah bulu matanya. “Biasa aja, kan?”

Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa. Lututku terasa seperti engsel yang lepas dari kusennya.

Dari meja sebelah, aku mendengar bunyi botol dibuka. Lalu bau yang tajam dan sangat familier menyebar di udara.

Minyak kayu putih.

“Ieu, A,” kata Mang Ujang, menyodorkan botol kecil hijau dari jarak dua meter, wajahnya sangat serius. “Bisi pingsan.”

“Mang,” kataku, tanpa mengalihkan pandangan dari Dara.

“Abdi ngan nyiapkeun, A. Bisi wae.”

Dara tertawa. Ia tertawa dengan meteran masih melingkar di dadaku, dan tawanya bergetar di ujung jarinya, dan aku merasakannya di dadaku, dan aku pikir, kalau aku mati sekarang, di sini, di workshop yang bau jati dan minyak kayu putih, aku akan mati dengan bahagia.

“Seratus delapan,” katanya akhirnya, membaca angka di meteran. “Persis. Mataku bener lagi.”


Sebelum mengukur yang lain, ia membuka tas kainnya dan mengeluarkan tiga gulungan linen. Ia membentangkannya di meja panjang, berdampingan.

Abu-abu seperti kayu yang sudah lama kena hujan. Cokelat tua seperti tanah basah. Biru keabu-abuan seperti langit Bandung sebelum hujan turun.

“Pilih,” katanya.

Aku menatap tiga kain itu. “Kamu desainernya.”

“Aku desainernya. Kamu yang pakai.” Ia melipat tangan. “Ini PR kecil. Latihan sebelum PR besar. Pilih yang kamu suka. Bukan yang kamu pikir aku suka. Bukan yang paling cocok buat show. Yang kamu suka.”

Aku mengulurkan tangan ke kain abu-abu. “Yang ini, karena kamu yang gambar sketsanya pakai warna...”

“Salah.” Ia menepuk tanganku pelan. “Itu alasan buat aku. Coba lagi.”

Aku menarik tanganku. Menatap tiga kain itu lagi. Lama.

Ini konyol. Aku tahu ini konyol. Laki-laki berumur tiga puluh satu tahun, yang bisa membedakan jati dan mahoni dengan mata tertutup, yang bisa menebak umur kayu cuma dengan mengetuknya, berdiri di depan tiga gulungan kain dan tidak bisa memilih.

Aku menyentuh kain pertama. Abu-abu. Kasar sedikit, seratnya terlihat. Lalu kain kedua. Cokelat tua. Lebih lembut. Lalu kain ketiga. Biru keabu-abuan.

Aku kembali ke kain pertama. Aku mendekatkan wajahku. Linen itu baunya seperti linen. Kapas dan sedikit debu gudang.

Tapi warnanya.

“Ini,” kataku pelan. “Yang abu-abu.”

“Kenapa?”

“Karena warnanya kayak kayu suar habis kehujanan.” Aku menyentuh kain itu lagi. “Di kebun belakang ada tumpukan suar yang nggak sengaja kena hujan tiga hari. Warnanya jadi kayak gini. Abu-abu, tapi masih kelihatan seratnya. Dan baunya...” Aku berhenti. “Saya suka bau kayu habis hujan. Dari kecil. Ibu bilang saya aneh, karena tiap hujan berhenti saya lari ke tumpukan kayu Bapak buat nyium.”

Aku sadar aku baru saja bicara lebih banyak tentang diriku sendiri dalam satu menit daripada dalam lima tahun.

Dara menatapku. Matanya berkilau.

“Itu,” katanya pelan, “jawaban yang bener.”

“Saya cuma milih kain.”

“Kamu milih sesuatu karena kamu suka. Karena bau kayu habis hujan. Karena Prama kecil yang lari ke tumpukan kayu.” Ia menggulung kain cokelat dan biru, menyisakan yang abu-abu terbentang di meja. “Itu langkah pertama, Pram. Besok kamu milih yang lebih besar.”

Aku menatap kain abu-abu itu. Warna suar habis hujan. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku memilih sesuatu untuk diriku sendiri. Rasanya aneh. Seperti memakai sepatu baru yang belum terbiasa dengan bentuk kakimu.

Tapi tidak buruk. Sama sekali tidak buruk.


Ia mengukur yang lain juga. Lingkar pinggang, lingkar leher, panjang kemeja. Setiap kali, ia berdiri terlalu dekat. Setiap kali, ujung jarinya menyentuh lebih lama dari yang perlu. Setiap kali, ia mencatat angkanya di buku sketsa dengan tulisan tangan yang miring ke kanan, lalu menatapku dengan senyum yang membuat seluruh workshop berhenti bekerja.

Ketika akhirnya ia selesai, ia menggulung meteran kuning itu dan menggantungkannya kembali di lehernya.

“Udah,” katanya. “Kamu boleh turunin tangan.”

Aku menurunkan tangan. Lenganku pegal. Aku tidak sadar aku merentangkannya selama hampir setengah jam.

“Jasnya buat apa?” tanyaku. “Kamu belum bilang.”

“Buat show.”

Aku menatapnya. “Saya nggak ikut show.”

“Kamu ikut. Kamu duduk di depan. Barisan pertama.”

“Dara, saya cuma vendor. Vendor nggak duduk di depan. Vendor di belakang panggung, jaga kalau ada yang rusak.”

“Mang Ujang yang jaga belakang panggung.” Ia melirik Mang Ujang. “Iya kan, Mang?”

“Muhun, Teh!” Mang Ujang mengangkat jempol. “Abdi jeung Ridwan!”

“Dan Sasa,” tambah Dara.

“Dan Sasa!”

“Dara.” Aku menggeleng. “Barisan depan itu buat orang penting. Wartawan. Ayahmu. Koh Hendra. Bukan buat tukang kayu dengan...”

“Pikap tua yang lampu kirinya redup?” Ia menyelesaikan kalimatku. “Aku tahu. Kamu udah bilang. Dan aku udah bilang kamu nggak berhak mutusin siapa yang pantas duduk di mana di show-ku.”

Ia menutup buku sketsa. Lalu, tanpa peringatan, ia berjalan memutariku.

Aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan. Aku cuma merasakannya berhenti di belakangku. Dekat. Lebih dekat dari waktu mengukur bahu.

Lalu lengannya melingkar di pinggangku.

Dari belakang. Kedua lengannya, menyusup di bawah lenganku, melingkar di perutku, jari-jarinya bertautan di depan. Pipinya menempel di punggungku. Di tengah, di antara tulang belikat, di tempat ia tadi mengukur. Aku bisa merasakan napasnya menembus kain kemeja. Hangat.

Aku membeku.

Seluruh workshop membeku.

Bahkan radio, entah bagaimana, berhenti di antara dua lagu.

“Ukuranmu pas,” bisiknya ke punggungku. Aku merasakan setiap kata bergetar di tulang belakangku. “Pas buat aku.”

Aku menunduk dan menatap tangannya. Jari-jarinya yang bertautan di depan perutku. Gelang benang di pergelangannya, dengan satu manik sonokeling kecil di tengahnya.

Pelan, sangat pelan, aku mengangkat tanganku. Dan meletakkannya di atas tangannya.

Telapak tanganku yang kasar, penuh bekas luka, di atas jari-jarinya yang ramping. Menutupinya. Menahannya di sana.

Ia mengeratkan pelukannya.

Kami berdiri seperti itu di tengah workshop. Aku tidak tahu berapa lama. Cukup lama sampai Mang Ujang, pelan-pelan, menutup botol minyak kayu putih dan menyimpannya kembali di saku. Cukup lama sampai Sasa menutup wajahnya dengan kotak baju dari Dara dan menangis lagi, tanpa suara. Cukup lama sampai Ridwan, di tangga, akhirnya mengangkat ponselnya, dan Mang Ujang, kali ini, tidak melarangnya. Ridwan cuma memotret sekali, lalu menurunkan ponselnya dan menatap layarnya lama, dan tidak mengunggah apa pun.

“Dara,” bisikku.

“Hm.”

“Saya hampir tahu jawabannya.”

“PR-nya?”

“Iya.”

Ia diam sebentar. Lalu aku merasakan ia tersenyum, di punggungku.

“Masih ada enam hari, Pram,” bisiknya. “Aku tunggu.”

Ia tidak melepaskan pelukannya. Dan aku, untuk pertama kalinya dalam hidupku, tidak mencoba melepaskan diri dari sesuatu yang kuinginkan.