Chapter Two
Bab 2 — Loteng
POV: Prama
Jam setengah sembilan malam, workshop seharusnya sudah sepi.
Mesin-mesin sudah mati. Serutan kayu sudah disapu ke pojok, menunggu besok pagi untuk dimasukkan ke karung. Radio dangdut Mang Ujang, yang sepanjang hari memutar lagu-lagu tentang patah hati dengan volume yang tidak masuk akal, akhirnya diam. Yang tersisa cuma bau jati, bau minyak finishing, dan suara jangkrik dari kebun di belakang.
Aku sedang mengampelas bibir cangkir sonokeling, pesanan dari Osaka, ketika Sasa menjerit.
Jeritannya tinggi, panjang, dan dramatis, seperti di sinetron saat tokoh utamanya menemukan surat wasiat. Aku hampir menjatuhkan cangkir. Mang Ujang, yang sedang ngopi di bangku dekat pintu, menyemburkan kopinya ke lantai yang baru disapu.
“Sa! Naon?!”
Sasa berdiri di depan laptop admin dengan kedua tangan menutup mulut. Tubuhnya yang mungil gemetar. Matanya, yang selalu terlalu ekspresif untuk ukuran admin workshop kayu, menatapku dengan horor.
“A,” bisiknya. “A Prama. Sini. Cepet.”
“Kenapa?”
“Sini aja!”
Aku meletakkan cangkir dan ampelas, lalu mendekat. Sasa memutar laptop ke arahku tanpa bicara, seperti petugas yang menunjukkan bukti di persidangan.
Aku membaca nama pengirimnya, dan dunia berhenti.
DARA.
Aku membaca isinya. Satu kali. Dua kali. Huruf-hurufnya terasa terlalu besar, terlalu dekat.
Saya Dara, dari DARA...
...merasa ini cocok sekali dengan konsep yang saya bayangkan.
Saya tahu dua tahun lalu kerja sama kita belum berjodoh.
...saya ingin datang langsung ke workshop untuk berbincang.
Salam, Dara.
Bukan Tiwi yang menulis. Aku tahu, karena dua tahun lalu proposal dari Tiwi panjangnya tiga halaman dan penuh tanda seru. Yang ini pendek. Rapi. Tidak ada satu kata pun yang berlebihan.
Ini Dara sendiri.
“A?” Sasa melambaikan tangan di depan wajahku. “A Prama? A masih napas?”
Aku tidak menjawab. Mang Ujang sudah ikut berdiri di belakangku, membaca dari atas bahuku sambil mengelap kumis yang basah kopi.
“Euleuh,” gumamnya. “Si Teteh nu eta.”
“Mang,” kataku pelan. “Jangan.”
“Abdi teu nyarios nanaon, A.”
“Mamang barusan bilang ‘Si Teteh nu eta’.”
“Itu mah bukan nyarios, A. Itu mah... berdoa.”
Aku menarik napas panjang. Lalu aku melakukan satu-satunya hal yang masuk akal. Aku duduk di kursi admin, mengusir Sasa dengan lembut, dan mulai mengetik balasan.
Mohon maaf, Teh. Kami sedang penuh.
Aku menekan kirim sebelum tanganku sempat ragu.
“A!” Sasa dan Mang Ujang menjerit bersamaan.
“Kita memang penuh,” kataku. “Pesanan Osaka. Pesanan Melbourne. Pesanan Tokyo bulan depan.”
“Pesanan Osaka mah tinggal finishing, A! Melbourne udah dikirim kemarin! Tokyo mah bulan depan, A, BULAN DEPAN!” Sasa menghitung dengan jari, suaranya naik satu oktaf setiap kalimat. “Kita nggak penuh! Kita malah lagi butuh proyek gede!”
“Kita penuh,” ulangku, dan aku berdiri. “Aku ke atas dulu.”
Aku tidak menoleh. Aku berjalan ke tangga kayu di ujung workshop, tangga yang tidak boleh dinaiki siapa pun selain aku, lalu naik. Di belakangku, aku mendengar Sasa berbisik keras dan Mang Ujang menjawab dengan bisikan yang lebih keras lagi.
Aku tidak peduli. Aku butuh naik.
Loteng ini kubuat sendiri, tiga tahun lalu, ketika Kayuku akhirnya punya cukup uang untuk menyewa bangunan ini secara penuh. Atapnya rendah. Aku harus sedikit menunduk di bagian pinggir. Lampunya cuma satu, bohlam kuning yang tergantung dari balok jati. Pintunya kukunci dengan gembok yang kuncinya selalu ada di sakuku.
Isinya cuma dua hal.
Di sisi kiri, dua belas kotak kardus yang disusun rapi, masing-masing berisi beberapa potong pakaian yang terbungkus kain blacu putih. Kotak-kotak itu tidak pernah kubuka sejak tiba lima tahun lalu, kecuali sekali setahun untuk mengganti kapur barus dan memastikan tidak ada kelembapan.
Di sisi kanan, lemari jati.
Lemari itu kubuat selama enam bulan, di sela-sela pesanan. Tingginya dua meter. Pintunya dua, dengan ukiran sederhana di bagian atas: bulir-bulir kecil seperti tetesan air di daun. Engselnya kuningan. Tidak ada kuncinya, karena loteng ini sendiri sudah terkunci, dan karena aku tidak tahu harus mengunci apa dari diriku sendiri.
Aku membuka pintunya.
Sebelas potong pakaian tergantung di dalam, masing-masing di gantungan kayu yang kubuat khusus. Ukurannya S, semuanya, meskipun di loteng ini tidak ada siapa pun yang memakai ukuran S.
Blus linen putih dengan kerah sabrina, koleksi Kemarau, dua tahun... bukan, empat tahun lalu. Rok lilit batik tulis Lasem dengan warna merah darah ayam, koleksi Pesisir. Outer brokat Prancis dengan bordir bunga melati yang dikerjakan manual, koleksi Melati di Tangan Ibu, yang menurut ulasan majalah adalah titik balik karier desainernya. Kemeja satin duchesse warna gading dengan potongan asimetris, koleksi Garis Pantai. Gaun tulle bertumpuk warna abu-abu fajar, koleksi terbarunya, yang baru keluar tiga bulan lalu.
Satu potong dari setiap koleksi. Sebelas koleksi dalam lima tahun.
Semuanya kubeli dengan harga penuh, atas nama Sasa Kurniasih, dikirim ke alamat kos Sasa yang lama, lalu Sasa membawanya ke sini dengan wajah orang yang sedang menyelundupkan barang ilegal. Aku tidak pernah memakai diskon. Tidak pernah ikut pre-order supaya dapat harga khusus. Tidak pernah menjual satu potong pun. Tidak pernah memberikannya pada siapa pun.
Aku cuma menyimpannya. Karena itu buatan Dara, dan aku tidak punya alasan lain.
Di rak kecil di samping lemari, ada tumpukan buku yang tidak akan pernah dibaca tukang kayu mana pun. Pengantar Tekstil. Mengenal Serat dan Tenunan. Batik Pesisir: Motif dan Makna. Di antaranya terselip sertifikat kelas daring yang kuikuti tiga tahun lalu, empat bulan, setiap Selasa dan Kamis malam: Dasar-Dasar Pengetahuan Tekstil untuk Pemula. Aku satu-satunya peserta laki-laki. Satu-satunya yang mengikuti kelas sambil masih memakai celemek berserbuk kayu.
Aku tidak mengikuti kelas itu untuk mengenal Dara. Aku tidak pernah mencari tahu di mana ia tinggal, dengan siapa ia makan malam, atau apa yang ia lakukan di akhir pekan. Itu bukan urusanku.
Aku cuma ingin mengerti apa yang ia buat.
Kalau ia menulis di keterangan koleksinya bahwa outer itu dari brokat Prancis dengan bordir tangan, aku ingin tahu kenapa brokat Prancis berbeda dari brokat lokal, kenapa bordir tangan lebih mahal, berapa jam yang ia habiskan untuk setiap bunga melati yang ia sulam. Aku ingin melihat bajunya seperti ia melihat bajunya. Seperti aku melihat kayu: bukan sekadar bentuk, tapi serat, kesabaran, dan waktu yang tersimpan di dalamnya.
Sekarang aku bisa membedakan satin duchesse dan satin charmeuse dengan menyentuhnya. Aku tahu organza tidak boleh disetrika terlalu panas. Aku tahu kenapa batik Lasem merahnya disebut merah darah ayam.
Mang Ujang menganggap itu gila. Mungkin memang gila. Tapi di loteng ini, di depan lemari yang tidak pernah dibuka siapa pun selain aku, rasanya seperti satu-satunya cara untuk berbicara dengannya tanpa pernah mengucapkan apa-apa.
Aku duduk di lantai, di depan lemari yang terbuka, dan membiarkan ingatan itu datang. Ingatan yang selalu datang setiap kali aku naik ke sini.
Lima tahun lalu, Kayuku belum jadi apa-apa.
Aku masih dua puluh enam tahun, baru dua tahun keluar dari pekerjaan sebagai tukang kayu di pabrik mebel orang lain. Modalku cuma tabungan kecil, mesin CNC bekas yang kubeli dengan mencicil, dan keahlian tangan yang diajarkan Bapak sejak aku bisa memegang pahat.
Bazar kriya di Sabuga adalah bazar besar pertamaku. Stanku kecil, di pojok, di samping stan seorang desainer muda yang menjual baju.
Hari pertama, aku tidak terlalu memperhatikannya. Aku sibuk menata tempat HP dan cangkir, sibuk menjelaskan bedanya jati dan mahoni kepada ibu-ibu yang cuma ingin menawar, sibuk menghitung uang receh.
Hari kedua, aku mulai mendengar suaranya. Ia menyapa setiap orang yang lewat. Dengan ramah. Dengan sabar. Dengan senyum yang tidak pernah turun, meskipun orang-orang cuma menyentuh kain bajunya, membalik label harganya, lalu pergi.
Hari ketiga, stanku laku. Sebelas tempat HP dan enam cangkir. Untuk ukuran waktu itu, hasilnya luar biasa.
Stan sebelah, nol.
Aku melihatnya sore itu, ketika bazar sudah mau tutup. Ia berdiri di belakang rak bajunya, di sela-sela gantungan, tempat yang ia kira tidak terlihat dari mana pun. Bahunya gemetar. Tangannya memegang ujung salah satu baju, blus putih dengan kerah sabrina yang jahitannya rapi sekali, seolah ia sedang minta maaf kepada baju itu.
Ia menangis tanpa suara. Rambutnya yang panjang terurai menutupi sebagian wajahnya. Dan dari sela rambut itu, aku melihat matanya.
Cokelat. Cokelat seperti jati yang baru diampelas, yang seratnya baru terbuka, yang warnanya paling hangat justru di saat paling telanjang.
Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana. Aku cuma tahu bahwa saat itu, di pojok Sabuga yang bau gorengan dan pengharum ruangan, sesuatu di dadaku pecah dan tidak pernah bisa disusun lagi.
Aku jatuh cinta. Pada perempuan yang tidak tahu namaku. Pada perempuan yang sedang menangis karena merasa dunia tidak menginginkannya.
Dan aku, dengan uang hasil sebelas tempat HP dan enam cangkir, tidak bisa melakukan apa-apa.
Malam itu aku pulang dan tidak bisa tidur. Aku memikirkan matanya. Aku memikirkan bahunya yang gemetar. Aku memikirkan kemungkinan bahwa besok ia akan menyerah dan dunia akan kehilangan orang yang menjahit seperti itu.
Jam dua pagi, aku menelepon Koh Hendra di Singapura. Waktu itu ia baru jadi buyer Kayuku selama enam bulan, dan aku baru dua kali bertemu dengannya.
“Koh,” kataku. “Saya mau minta tolong. Ini aneh. Tolong jangan tanya kenapa.”
Koh Hendra mendengarkan. Lalu ia diam lama sekali.
“Pram,” katanya akhirnya, “lu mau beli empat puluh dua baju perempuan pakai nama perusahaan gua?”
“Pakai nama butik, Koh. Butik palsu.”
“Butik palsu.”
“Koh cuma perlu kirim email. Bayar pakai rekening perusahaan Koh. Nanti saya ganti semua. Bajunya dikirim ke gudang Koh, terus Koh kirim balik ke sini bareng kontainer retur.”
“Lu punya duit dari mana?”
Aku memandangi mesin CNC bekas di sudut ruangan. Mesin yang cicilannya baru lunas bulan lalu. Mesin yang seharusnya membuat Kayuku bisa ekspor dalam jumlah besar tahun depan.
“Ada,” jawabku.
Seminggu kemudian, mesin itu dibeli Pak Haji Somad dari Cibaduyut dengan harga yang membuatku ingin menangis. Dua minggu kemudian, Koh Hendra mengirim email atas nama Maison Lumière, nama yang ia ambil dari papan nama toko lampu di sebelah gudangnya karena ia sama sekali tidak tahu nama butik yang bagus.
Kartu ucapannya kutulis sendiri. Tanganku gemetar waktu menulisnya. Aku menulis empat kali karena tiga yang pertama tintanya meleber. Aku cuma tahu satu kalimat yang ingin kukatakan padanya, dan aku tahu aku tidak akan pernah bisa mengatakannya dengan suaraku sendiri.
Teruskan. Dunia butuh bajumu.
Ekspor Kayuku mundur setahun. Aku mengerjakan semua pesanan dengan tangan selama dua belas bulan, sampai jari-jariku kapalan di tempat-tempat yang tidak pernah kapalan sebelumnya.
Aku tidak pernah menyesal. Tidak sekali pun.
Setelah itu, aku membuat dua aturan untuk diriku sendiri.
Pertama: sekali saja. Aku sudah membelikannya waktu. Sisanya harus ia raih sendiri. Kalau aku terus membeli, ia tidak akan pernah tahu apakah dunia benar-benar menginginkan bajunya, atau cuma aku. Dan aku tidak mau mencuri itu darinya.
Kedua: harga penuh. Setiap koleksi baru, aku boleh membeli satu potong. Cuma satu. Dengan harga penuh, karena karyanya tidak pantas ditawar.
Dan ada aturan ketiga, yang tidak pernah kuucapkan, bahkan pada diriku sendiri: jangan pernah muncul.
Karena kalau ia tahu, semua yang kuberikan akan berubah jadi utang. Dan aku tidak mau Dara berutang apa pun pada siapa pun. Apalagi padaku.
Itulah kenapa, dua tahun lalu, ketika email dari Tiwi datang dengan proposal tiga halaman dan nilai kontrak yang bisa membuat Kayuku membeli tiga mesin CNC baru, aku menolaknya. Mang Ujang tidak bicara denganku selama seminggu. Sasa menangis di kamar mandi. Aku sendiri tidak tidur dua malam.
Tapi aku menolaknya. Karena kalau aku bekerja dengannya, aku harus bertemu dengannya. Dan kalau aku bertemu dengannya, aku tidak yakin bisa menyembunyikan apa pun.
Aku menutup pintu lemari dan turun dari loteng sekitar jam sepuluh. Workshop sudah gelap, kecuali lampu di meja admin.
Mang Ujang dan Sasa masih ada di sana. Duduk berdampingan, menatapku dengan wajah orang yang baru melakukan sesuatu.
Aku langsung tahu.
“Apa yang kalian lakukan?”
Sasa menunduk. Mang Ujang tidak. Mang Ujang menatapku langsung, dengan mata tua yang sudah melihatku tumbuh sejak aku magang di pabrik mebel dulu.
“Abdi ngirim email deui, A,” katanya tenang. “Bilang yang tadi salah kirim. Bilang kita bisa. Besok jam sapuluh Teteh datang ka dieu.”
Aku berdiri diam. Rasanya seperti ada serutan kayu yang menyumbat tenggorokanku.
“Mang...”
“A Prama.” Mang Ujang berdiri. Ia lebih pendek dariku, jauh lebih pendek, tapi saat itu ia terasa seperti Bapak. “Lima taun, A. Lima taun Aa naik ka luhur unggal peuting. Lima taun Aa meuli baju nu teu dipake. Dua taun kamari Aa nolak proyek panggedena. Cukup, A.”
“Aku nggak minta apa-apa, Mang.”
“Justru eta.” Mang Ujang menepuk dadaku, tepat di tempat yang sakit. “Aa teu pernah menta nanaon. Ayeuna Gusti Allah ngirim manehna ka dieu. Tong ditolak deui.”
Aku tidak bisa menjawab.
Sasa mengangkat tangan dengan ragu. “A, maaf, tapi... tambahan dikit. Mang Ujang pake tanda seru sembilan biji di emailnya.”
“Sembilan?”
“Sembilan, A. Aku udah coba hapus, tapi Mang Ujang ngamuk.”
“Biar Teteh tahu kita antusias!” protes Mang Ujang.
Aku menutup wajah dengan kedua tangan. Dari balik telapak tanganku yang bau jati, aku mendengar diriku tertawa, tawa yang aneh, setengahnya lelah dan setengahnya takut.
Besok jam sepuluh, Dara akan datang ke sini. Ke tempat yang berjarak sepuluh langkah dari loteng berisi sebelas potong bajunya dan empat puluh dua potong lainnya yang masih terbungkus blacu.
Besok jam sepuluh, aku akan berdiri di depannya. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun.
“Ya Allah,” bisikku.
“Aamiin,” sahut Mang Ujang, sangat serius.
Sasa menepuk-nepuk punggungku dengan simpati. “A, besok pakai kemeja yang biru aja, ya. Yang abu-abu itu udah bolong di ketiak.”
- 1 Bab 1 — Order Pertama
- 2 Bab 2 — Loteng reading
- 3 Bab 3 — Vendor yang Tidak Mau Menatap
- 4 Bab 4 — Pelanggan Ukuran S
- 5 Bab 5 — Serutan
- 6 Bab 6 — Sendok Pak Darsa
- 7 Bab 7 — Revisi Ketujuh
- 8 Bab 8 — Kutubaru
- 9 Bab 9 — Tolong Diam
- 10 Bab 10 — Koh Hendra Datang ke Bandung
- 11 Bab 11 — Tangan yang Luka
- 12 Bab 12 — Harga Penuh
- 13 Bab 13 — Jati yang Baru Diampelas
- 14 Bab 14 — Pak Bram
- 15 Bab 15 — Pegang yang Benar
- 16 Bab 16 — Truk Pengiriman
- 17 Bab 17 — Mitos
- 18 Bab 18 — Kontrak Lembang
- 19 Bab 19 — Stapler Biru
- 20 Bab 20 — Tempat Orang Berhenti
- 21 Bab 21 — Ridwan dan TikTok
- 22 Bab 22 — Rooftop
- 23 Bab 23 — Undangan
- 24 Bab 24 — Kebaikan yang Salah Tempat
- 25 Bab 25 — Brokat Bukan Merek Lem
- 26 Bab 26 — Struk
- 27 Bab 27 — Tulisan Tangan
- 28 Bab 28 — Aku Cuma Beli Waktu
- 29 Bab 29 — Biasa Aja, Pram?
- 30 Bab 30 — Loteng
- 31 Bab 31 — Giliranku
- 32 Bab 32 — Cicilan Pertama
- 33 Bab 33 — Ukuran Jas
- 34 Bab 34 — Kutubaru untuk Satu Orang
- 35 Bab 35 — Bapak Juga Nggak
- 36 Bab 36 — Harga Penuh, Tanpa Cicilan
- 37 Bab 37 — Lima Tahun Menahan Diri
- 38 Bab 38 — Pembeli Pertamaku
- 39 Bab 39 — Nggak Ada yang Biasa Aja
- 40 Epilog — Rumah dari Kayu