← Pembeli Pertamamu

Chapter One

Bab 1 — Order Pertama

POV: Dara

“Jadi, Mbak, kalau boleh diceritakan lagi untuk pembaca kami, bagaimana awal mula DARA. bisa sampai di titik ini?”

Wartawan di depanku masih muda, mungkin baru dua atau tiga tahun bekerja. Sejak masuk ke ruanganku di lantai tiga, ia sudah dua kali salah menekan tombol perekam di ponselnya. Sekali karena gugup, sekali karena terlalu lama menatap wajahku dan lupa jempolnya sedang di mana.

Tiwi, asistenku, berdiri di dekat pintu sambil memeluk tablet. Dari sana ia memberiku kode dengan alis: pertanyaan ini lagi.

Aku tersenyum. Lesung pipitku muncul. Aku tahu karena wartawan itu langsung menunduk ke catatannya, seperti baru melihat sesuatu yang terlalu terang.

“Awalnya dari bazar,” jawabku. “Bazar kriya di Sabuga, lima tahun lalu. Aku baru lulus, modal pas-pasan, dan nekat bikin koleksi pertama. Empat puluh dua potong. Namanya Embun.”

“Embun,” ulangnya sambil menulis. “Kenapa Embun, Mbak?”

“Karena aku jahitnya tiap subuh. Siangnya kerja di butik orang, malamnya motong pola, subuhnya jahit. Waktu embun masih nempel di jendela kos.” Aku tertawa kecil. “Kedengarannya puitis, padahal aslinya cuma kurang tidur.”

Wartawan itu ikut tertawa, terlalu keras, lalu malu sendiri.

“Terus, Mbak? Bazarnya sukses?”

“Gagal total.” Aku mengangkat bahu. “Tiga hari, nol potong terjual. Hari ketiga aku sudah siap pulang dan melamar kerja kantoran seperti saran ayahku.”

Ini bagian yang selalu membuat orang mencondongkan badan. Aku sudah menceritakannya mungkin seratus kali, tapi setiap kali, ada sesuatu di dadaku yang tetap bergetar.

“Lalu seminggu setelah bazar, ada email masuk. Dari butik di Singapura, namanya Maison Lumière. Katanya pemiliknya sempat lihat foto koleksiku, entah dari mana. Mereka mau beli semuanya. Empat puluh dua potong, harga penuh, tanpa nego.”

“Semuanya?”

“Semuanya.” Aku menunjuk dinding di belakangku. “Dan mereka kirim itu.”

Wartawan itu menoleh. Di dinding, di antara sertifikat dan foto-foto peragaan busana, ada satu bingkai kayu sederhana berisi kartu ucapan berwarna krem. Tulisannya tangan, huruf kapital yang agak miring, tintanya biru tua:

Teruskan. Dunia butuh bajumu.

“Itu yang bikin aku nggak jadi berhenti,” kataku pelan. “Sampai sekarang aku belum pernah ketemu pemiliknya. Mereka orangnya tertutup banget. Tapi tanpa order itu, nggak akan ada DARA.”

“Wah.” Wartawan itu memotret bingkainya, lalu memotretku, lalu memotret bingkainya lagi. “Ini cerita yang luar biasa, Mbak. Jadi Mbak benar-benar membangun semuanya dari nol, sendirian?”

Aku mengangguk. Kalimat itu sudah seperti nama tengahku.

“Sendirian.”


Begitu pintu tertutup dan langkah wartawan itu menghilang di tangga, Tiwi menjatuhkan diri ke sofa seperti baru selesai lari maraton.

“Mbak, itu wartawan ketiga bulan ini yang lupa cara pakai ponselnya pas lihat Mbak.”

“Dia masih baru.”

“Yang bulan lalu udah sepuluh tahun kerja, Mbak. Bapak-bapak. Dia nanya umur Mbak dua kali, terus nanya lagi apakah Mbak sudah punya pasangan, padahal itu jelas bukan pertanyaan majalah bisnis.”

Aku melempar bantal kecil ke arahnya. Tiwi menangkapnya dengan cekatan, karena ia sudah tiga tahun bekerja denganku dan refleksnya terlatih oleh lemparan semacam itu.

“Fokus. Show kita tinggal berapa minggu?”

Wajah Tiwi langsung berubah. Senyumnya menghilang, digantikan ekspresi orang yang baru ingat ada tagihan menunggak.

“Sepuluh minggu, Mbak. Dan kita masih belum punya vendor panggung.”

Aku berjalan ke jendela. Dari lantai tiga gedung ini, aku bisa melihat Jalan Dago yang mulai macet menjelang sore, pohon-pohon tua di tepi trotoar, dan langit Bandung yang selalu terlihat seperti mau hujan tapi tidak jadi.

Lima tahun lalu aku menangis di belakang rak baju di Sabuga. Sekarang aku punya gedung tiga lantai. Lantai satu untuk butik dan showroom, lantai dua untuk studio desain dan ruang jahit dengan dua belas penjahit, lantai tiga untuk kantorku dan rooftop kecil tempat aku menggambar kalau kepalaku buntu.

Dan sepuluh minggu lagi, aku akan merayakan lima tahun itu dengan peragaan busana di Gedung Merdeka.

Konsepnya sudah ada di kepalaku sejak setahun lalu. Panggung kayu. Bukan kayu yang mengilap dan sok mewah, tapi kayu yang jujur, yang seratnya terlihat, yang wanginya masih tercium. Aku ingin semua koleksiku berjalan di atas sesuatu yang terasa seperti pulang.

“Vendor yang kemarin kenapa?” tanyaku.

“Yang dari Jakarta? Mereka kirim desain panggung yang mirip lobi hotel bintang lima, Mbak. Pakai lapisan HPL motif kayu.”

Aku memejamkan mata. “Motif kayu.”

“Motif. Kayu.” Tiwi mengangguk dengan wajah berduka. “Aku udah bilang ke mereka kita mau kayu beneran. Mereka tanya, ‘Kayu beneran yang kayak apa, Mbak? Yang bisa kena rayap?’”

Aku tertawa, meski kepalaku mulai pusing. “Terus yang dari Jepara?”

“Bagus, Mbak, tapi mereka cuma bisa kirim jadi. Nggak bisa datang, nggak bisa revisi di tempat. Dan Mbak kan...” Tiwi berhenti, memilih kata dengan hati-hati. “Mbak kan suka revisi.”

“Aku nggak suka revisi.”

“Mbak revisi desain undangan show ini sembilan kali.”

“Itu karena warna krem-nya nggak pas.”

“Krem yang kelima sama krem yang kedelapan itu sama, Mbak. Aku cek kode warnanya.”

Aku memutuskan untuk tidak menjawab. Ada pertengkaran yang memang tidak bisa dimenangkan, terutama melawan orang yang menyimpan kode warna.

“Aku turun dulu,” kataku. “Mau lihat sampel kain.”

Lantai dua adalah jantung gedung ini. Begitu pintunya kubuka, suara dua belas mesin jahit menyambutku seperti dengung lebah yang rajin. Kain-kain bergulung di rak dinding: linen, katun Jepang, sutra, tulle abu-abu fajar yang baru datang minggu lalu. Bu Imas, kepala penjahit yang sudah bersamaku sejak koleksi ketiga, mengangkat kepala dari mesinnya dan tersenyum.

“Neng, satin duchesse yang gading udah datang. Sama organza-nya juga.”

Aku menghampiri meja potong. Di sana, di samping gunting besar dan kapur jahit, tergeletak benda yang paling kusayangi di seluruh gedung ini: penggaris kayu tua, enam puluh senti, angkanya sudah pudar di beberapa bagian dan ada bekas gigitan di salah satu ujungnya.

Penggaris itu kupakai untuk menggambar pola Embun di kamar kos, lima tahun lalu. Aku memakainya untuk setiap koleksi sejak itu. Bu Imas sudah berkali-kali menawariku penggaris besi yang lebih presisi. Aku selalu menolak.

Aku mengambilnya dan memasukkannya ke tas jinjingku, seperti biasa. Benda itu ikut ke mana pun aku pergi.

“Neng teh kayak bawa jimat,” goda Bu Imas.

“Memang jimat, Bu.”

Aku kembali ke lantai tiga dengan kain sampel di lengan dan penggaris di tas. Tiwi masih menunggu, kali ini sambil makan keripik singkong dari toples di mejaku tanpa izin.

Aku kembali duduk di kursiku. Pergelangan tangan kananku terasa pegal, seperti biasa setelah seharian menggambar. Aku memijatnya sambil berpikir.

“Cari yang lokal,” kataku akhirnya. “Bandung. Yang bisa didatangi, yang bisa diajak ngobrol, yang pengrajinnya ngerti kayu bukan cuma dari katalog.”

“Udah aku cari, Mbak.” Tiwi menggulir tablet dengan wajah penuh tekad. “Ada beberapa. Sebentar.”

Aku memperhatikan Tiwi bekerja. Ia menyipitkan mata, bibirnya bergerak tanpa suara saat membaca, lalu mengetuk-ngetuk layar dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.

“Yang ini bagus, tapi spesialisnya kusen. Yang ini... tutup. Yang ini... Mbak, ini apa, kok tokonya juga jual cilok?”

“Next.”

“Yang ini...” Tiwi tiba-tiba berhenti. Ia menatap layar lebih lama. “Kayuku.”

“Kayuku?”

“Workshop di Cigadung, Mbak. Deket banget dari sini. Produknya kayu semua. Tempat HP, cangkir, pegboard, organizer meja. Udah ekspor ke Singapura, Jepang, Australia.” Ia memutar tablet ke arahku. “Lihat deh, Mbak. Ini bagus.”

Aku melihat. Dan untuk sesaat, aku lupa bahwa pergelangan tanganku pegal.

Fotonya sederhana. Tempat HP dari kayu jati dengan serat yang mengalir seperti air. Cangkir dari kayu sonokeling yang permukaannya halus tapi masih menyimpan tekstur. Pegboard dengan lubang-lubang yang jaraknya presisi sempurna. Tidak ada yang berlebihan. Tidak ada yang sok. Semuanya terlihat seperti dibuat oleh seseorang yang sangat sabar, yang tahu bahwa kayu tidak bisa dipaksa.

“Ini dia,” kataku.

“Iya kan, Mbak? Aku juga mikir...” Tiwi berhenti. Matanya membesar. “Eh. Tunggu. Tunggu, tunggu, tunggu.”

“Apa?”

“Kayuku. Kayuku.” Tiwi menggulir dengan panik, lalu membuka folder lain, lalu membuka email lama. “Mbak, ini yang dulu nolak kita!”

“Nolak apa?”

“Dua tahun lalu! Inget nggak, Mbak, kita mau bikin koleksi kolaborasi aksesori kayu? Kancing kayu, gesper, display butik. Mbak sendiri yang pilih vendornya. Terus aku kirim proposal, nilainya gede, Mbak, gede banget buat ukuran workshop. Dan mereka nolak. Tiga hari kemudian. Satu kalimat.”

Aku mengerutkan kening. Aku ingat proyek itu, samar-samar. Waktu itu aku sedang sibuk dengan dua kolaborasi brand besar, dan proyek aksesori kayu akhirnya dibatalkan karena tidak ada vendor lokal yang cocok. Aku tidak ingat nama vendor yang menolak. Aku cuma ingat sedikit kecewa, lalu lupa.

“Satu kalimat apa?”

Tiwi membacakan dengan suara datar, meniru robot. “’Terima kasih atas tawarannya. Mohon maaf, kami tidak bisa menerima kerja sama ini. Semoga sukses selalu untuk DARA.’ Udah. Gitu doang, Mbak. Nggak ada alasan. Nggak ada tawar-menawar. Siapa sih yang nolak proyek segitu?”

“Mungkin mereka lagi penuh.”

“Mungkin mereka sombong.”

Aku memandangi foto tempat HP kayu jati itu lagi. Seratnya. Kesabarannya. Tidak terlihat seperti buatan orang sombong.

“Kirim email lagi,” kataku.

Tiwi menatapku seperti aku baru menyuruhnya melompat dari rooftop. “Mbak serius? Mereka udah nolak kita sekali.”

“Itu dua tahun lalu. Proyeknya beda. Dan kali ini...” Aku tersenyum. “Kali ini aku yang tanda tangan emailnya, bukan kamu.”

“Maksudnya apa, Mbak? Emailku kurang meyakinkan?”

“Emailmu terlalu panjang. Kamu pakai lima belas tanda seru.”

“Itu namanya antusias.”

“Itu namanya menakutkan.”

Tiwi mendengus, tapi menyerahkan tablet padaku. Aku mengetik sendiri. Pendek, jelas, tanpa tanda seru.

Selamat siang, tim Kayuku.

Saya Dara, dari DARA. Kami sedang menyiapkan peragaan busana ulang tahun ke-5 di Gedung Merdeka, sepuluh minggu lagi, dan membutuhkan properti panggung dari kayu asli. Saya sudah melihat karya-karya Kayuku dan merasa ini cocok sekali dengan konsep yang saya bayangkan.

Saya tahu dua tahun lalu kerja sama kita belum berjodoh. Tapi kalau berkenan, saya ingin datang langsung ke workshop untuk berbincang.

Salam, Dara

Aku membacanya sekali lagi, lalu menekan kirim sebelum aku sempat berubah pikiran.

“Udah,” kataku.

Tiwi mencondongkan badan untuk membaca. “’Belum berjodoh.’ Mbak, ini kayak email ngajak balikan.”

“Diam.”

“Serius, Mbak. Kalau aku yang nerima, aku bakal mikir ini mantan yang nyesel.”

Aku melempar bantal kedua. Kali ini kena.


Malamnya, setelah semua penjahit pulang dan gedung sepi, aku naik ke rooftop. Ini kebiasaanku sejak gedung ini jadi milikku. Aku membawa buku sketsa, segelas teh yang sudah dingin, dan pikiran yang terlalu ramai.

Bandung malam hari selalu terasa lebih jujur. Lampu-lampu kota berkerlip seperti ditaburkan sembarangan. Udara dingin menyusup lewat sela-sela kardigan. Dari kejauhan terdengar suara motor dan sesekali tawa orang-orang yang nongkrong di kafe sepanjang Dago.

Ponselku bergetar. Ayah.

Aku memandangi nama itu cukup lama sebelum mengangkatnya.

“Halo, Yah.”

“Ibumu bilang kamu mau bikin acara besar.” Suara Ayah selalu terdengar seperti sedang rapat, bahkan saat menanyakan kabar. “Di Gedung Merdeka?”

“Iya, Yah. Lima tahun DARA.”

“Lima tahun.” Ada jeda. “Berapa biayanya?”

Aku memejamkan mata. Selalu angka. Selalu dimulai dari angka.

“Cukup, Yah. Sudah dihitung.”

“Sudah dihitung sama siapa? Kamu punya konsultan keuangan?”

“Aku punya Tiwi.”

“Asistenmu yang suka tanda seru itu?”

Aku hampir tertawa, karena bahkan Ayah pun tahu soal tanda seru Tiwi.

“Yah, aku sudah lima tahun menjalankan ini. Aku tahu yang aku lakukan.”

“Bapak cuma tanya.” Nadanya melunak sedikit, tapi hanya sedikit. “Bapak cuma nggak mau kamu habiskan semua tabunganmu untuk satu malam pertunjukan. Dunia fashion itu...”

“Hobi,” potongku. “Aku tahu, Yah. Ayah sudah bilang dari aku umur tujuh belas.”

Hening di ujung sana. Lalu suara Ibu, samar, seperti menegur Ayah dari jauh.

“Datang makan malam minggu depan,” kata Ayah akhirnya. “Ibumu masak.”

“Iya, Yah.”

Sambungan terputus. Aku menatap layar ponsel yang kembali gelap, lalu menatap kota.

Kadang aku bertanya-tanya, kalau dulu email dari Maison Lumière tidak pernah datang, aku sekarang ada di mana. Mungkin di kantor bank, seperti mau Ayah. Mungkin aku akan bahagia di sana. Mungkin tidak.

Tapi email itu datang. Seseorang di Singapura, yang tidak pernah kutemui, melihat empat puluh dua potong baju yang kujahit setiap subuh dan memutuskan bahwa itu layak dibeli dengan harga penuh. Bahwa dunia butuh bajuku.

Hanya itu buktiku. Bukti bahwa aku tidak sekadar keras kepala. Bahwa aku memang bagus.

Ponselku bergetar lagi. Kali ini notifikasi email.

Aku membukanya dengan malas, mengira itu promosi, lalu langsung duduk tegak.

Re: Properti Panggung — Lima Tahun DARA.

Dari Kayuku. Dikirim tiga menit lalu.

Aku membukanya dengan jantung berdebar, entah kenapa. Mungkin karena dua tahun lalu mereka menolak. Mungkin karena tempat HP jati itu terlalu indah. Mungkin karena aku tidak suka ditolak dua kali.

Isinya pendek. Sangat pendek.

Mohon maaf, Teh. Kami sedang penuh.

Aku menatap kalimat itu. Lalu menatapnya lagi.

Dua kali. Mereka menolakku dua kali.

Aku belum sempat memutuskan apakah harus kesal atau kecewa ketika ponselku bergetar lagi. Email kedua, dari alamat yang sama, dikirim satu menit setelah yang pertama.

Punten, Teh, abaikan email sebelumnya!!! Itu salah kirim!!! Kami BISA, Teh!!! Besok jam 10 pagi Teteh bisa datang ke workshop?? Alamat terlampir. Ditunggu pisan!!! — Mang Ujang, Kayuku

Aku menghitung tanda serunya. Sembilan.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku tertawa sampai perutku sakit.

Ada sesuatu yang aneh di workshop itu. Seseorang di sana tidak mau aku datang. Dan seseorang lainnya sangat, sangat mau.

Aku membalas singkat: Baik, sampai besok jam 10.

Lalu aku menatap kartu krem di dalam kepalaku, kartu yang bertuliskan Teruskan, dan entah kenapa, untuk alasan yang belum kumengerti, aku merasa besok akan jadi hari yang penting.