← Pembeli Pertamamu

Chapter Twenty

Bab 20 — Tempat Orang Berhenti

POV: Prama

SUV hitam itu tiba di halaman jam delapan kurang lima. Anin tidak membunyikan klakson. Ia turun, bersandar di pintu mobil dengan dua gelas kopi di tangan, dan menunggu.

Aku keluar dengan meteran sepanjang tiga puluh meter, buku catatan, pensil tukang, dan tas berisi contoh-contoh kayu. Mang Ujang mengikutiku sampai pintu. Ia tidak bilang apa-apa. Ia cuma menatap SUV itu, lalu menatapku, lalu menepuk bahuku dua kali dengan wajah orang yang mengantar anaknya ke medan perang.

“Ati-ati, A,” katanya pelan. “Jalan ka Cikole nanjak.”

Itu kalimat Dara. Hari Sabtu. Di depan meja kerjaku, dengan jarinya di kerah kemejaku.

Aku tidak menjawab. Aku cuma mengangguk dan masuk ke mobil.


Saung Halimun berdiri di lereng bukit di atas Lembang, di antara kebun teh dan hutan pinus. Bangunannya masih separuh jadi. Dinding batu kali. Atap kayu yang belum dipasang genteng. Jendela-jendela besar yang masih berupa lubang kosong, menghadap lembah yang diselimuti kabut tipis.

Kabut. Abu-abu, tipis, makin ke bawah makin gelap. Persis seperti gaun tulle tujuh lapis di lemari loteng.

Aku berhenti di teras dan menatap lembah itu terlalu lama.

“Bagus, kan?” Anin berdiri di sampingku. “Kabutnya baru hilang jam sepuluh. Tiap pagi kayak gini.”

“Bagus.”

Kami bekerja.

Dan aku harus mengakui: bekerja dengan Anin mudah. Terlalu mudah. Ia tahu apa yang ia mau. Ia tidak merevisi tujuh kali. Ia menunjuk sebuah dinding dan bilang panel jati, vertikal, seratnya harus kelihatan, dan ketika aku bilang jati bekas lebih bagus untuk dinding yang kena matahari pagi karena warnanya tidak akan berubah terlalu cepat, ia cuma mengangguk dan bilang oke, jati bekas. Tanpa debat. Tanpa kenapa.

Ia memegang ujung meteran tanpa disuruh. Ia mencatat ukuran di buku catatannya sendiri, dengan tulisan tangan yang tegak dan rapi, lalu membandingkannya dengan catatanku. Ia memanjat tangga bambu ke lantai dua tanpa ragu, dengan sepatu bot cokelatnya, dan mengulurkan tangan ke bawah untuk menarikku naik, padahal aku tidak butuh ditarik.

Di kamar ketujuh, ia mengetuk dinding batu dan bilang, “Dengerin. Di sini kosong di dalam. Kalau dipasang rak, harus pakai baut khusus.”

Aku mengetuk dinding yang sama. Ia benar.

“Kamu tahu cara ngetuk dinding,” kataku.

“Bapakku tukang batu.” Anin tersenyum. “Di Wonosobo. Aku tumbuh di antara pasir sama semen. Aku jadi desainer interior biar nggak usah ngaduk semen lagi. Ternyata tetap aja ngetukin dinding.”

Aku menatapnya. Ia menatap dinding.

Anak tukang batu. Seperti aku anak tukang kayu.

Itu yang membuatnya berbahaya. Bukan senyumnya, bukan sentuhan di siku, bukan Pram setelah dua puluh menit. Tapi bahwa ia mengerti. Bahwa ketika ia melihat tanganku, ia tidak melihat bekas luka. Ia melihat kerja. Karena tangan bapaknya juga begitu.


Sate kelinci di jalan ke Cikole ternyata memang enak.

Warungnya kecil, di pinggir jalan, dengan bangku kayu panjang dan meja yang sudah miring. Asap dari panggangan bercampur kabut yang mulai naik dari lembah. Anin memesan dua puluh tusuk, lontong, dan dua gelas bandrek, tanpa bertanya aku mau apa.

“Kamu kelihatan kayak orang yang nggak akan milih sendiri,” katanya, ketika aku menatapnya. “Jadi aku pilihin.”

Aku tidak menjawab. Karena ia benar, dan aku tidak suka betapa cepat ia tahu itu.

Kami makan dalam diam sebentar. Sate kelinci, bumbu kacang, uap dari bandrek. Di seberang jalan, kebun stroberi dengan anak-anak kecil yang berlari di antara barisan tanaman.

Lalu Anin meletakkan tusuk satenya di piring. Ia mengelap tangan dengan tisu. Ia menatapku, langsung, seperti di hari pertama.

“Pram,” katanya. “Aku mau ngomong sesuatu. Dan aku mau kamu dengerin sampai habis, karena aku nggak suka diomongin balik di tengah.”

Aku meletakkan tusukku juga.

“Aku suka kamu,” katanya.

Datar. Jelas. Tanpa tersipu. Seperti ia baru saja bilang dinding ini kosong di dalam.

“Aku nggak suka basa-basi. Umurku tiga puluh. Aku udah capek sama laki-laki yang nggak bisa bilang apa yang mereka mau. Aku udah capek sama laki-laki yang kerjanya cuma ngomong. Kamu nggak banyak ngomong, tapi tanganmu kerja. Kamu dengerin waktu aku ngomong soal dinding. Kamu nggak ketawa waktu aku bilang bapakku tukang batu.” Ia berhenti. Lalu tersenyum, sedikit. “Dan kamu jelas nggak punya pacar, karena bapakmu nanya aku udah kawin atau belum di menit kedua.”

“Bapak saya...”

“Bilang kamu udah dipesen. Iya, aku denger.” Anin mengangkat bahu. “Tapi kamu bilang bapakmu suka bercanda. Dan cewek di workshop kemarin bilang kamu cuma vendor.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Jadi,” kata Anin, “aku tanya langsung. Kamu mau coba? Sama aku?”


Aku tidak langsung menjawab.

Aku menatap piring sate yang tinggal setengah. Asap dari panggangan. Kabut di lembah.

Dan aku mendengar pikiran itu lagi. Pikiran dingin yang masuk akal, yang menemaniku di bangku Bapak sampai jam dua pagi hari Kamis.

Kalau kamu bilang iya, kamu bisa berhenti.

Berhenti naik ke loteng. Berhenti menunggu. Berhenti mencintai seseorang yang menyebutmu vendor di depan orang lain, yang dikirimi bunga tiap Senin oleh laki-laki yang punya brand denim, yang hidup di dunia gedung tiga lantai dan karpet merah dan kamera televisi.

Anin anak tukang batu. Anin ngetuk dinding. Anin tidak akan pernah perlu tahu soal mesin yang dijual, karena Anin tidak butuh diselamatkan. Anin tidak akan pernah berutang padaku.

Dan Dara akan bebas.

Masuk akal, kataku pada diriku sendiri. Ini masuk akal.

Aku membuka mulut.

“Anin,” kataku. “Mungkin kita...”

Ponselku bergetar di atas meja.

Satu kali. Pendek. Pesan masuk.

Aku tidak berniat melihatnya. Tapi layarnya menyala di samping piring sate, dan nama itu muncul di sana, dan mataku jatuh ke sana sebelum aku bisa menghentikannya.

Dara.

Udah sampai Lembang? Kabutnya masih ada? Kalau masih, foto dong. Aku pengin lihat warnanya. Aku lagi bikin sketsa buat koleksi berikutnya dan aku butuh abu-abu yang bener.

Lalu, satu detik kemudian, pesan kedua:

Hati-hati di jalan nanjak. Aku serius.

Aku menatap layar itu.

Aku tidak tahu apa yang terjadi di wajahku. Aku tidak bisa melihatnya. Tapi aku merasakannya. Seperti sesuatu yang terkunci rapat di dalam dadaku tiba-tiba retak, dan dari retakannya keluar cahaya.

Ia butuh abu-abu yang benar. Dan ia bertanya padaku.

Ketika aku mengangkat kepala, Anin sedang menatapku.

Ia tidak lagi tersenyum. Ia menatapku dengan wajah yang sangat tenang, sangat jernih, seperti orang yang baru saja selesai mengetuk dinding dan mendengar bunyinya.

“Dia, ya,” katanya.

Bukan pertanyaan.


Aku bisa bohong. Aku sudah lima tahun berbohong. Pada Dara, pada wartawan, pada diriku sendiri.

Tapi perempuan di depanku baru saja mengatakan aku suka kamu dengan suara yang tidak gemetar sama sekali. Ia memberikan sesuatu yang jujur. Dan aku tidak sanggup membalasnya dengan bohong.

“Iya,” kataku.

Anin mengangguk pelan. Ia mengambil gelas bandreknya dan meminumnya. Lama. Lalu meletakkannya kembali.

“Sejak kapan?”

Aku menatap tanganku.

“Lima tahun.”

Anin tersedak bandrek.

Ia batuk. Keras. Seorang ibu di meja sebelah menoleh. Anin melambaikan tangan untuk bilang ia tidak apa-apa, lalu menatapku dengan mata yang membesar dan berair.

“Lima tahun?”

“Lima tahun.”

“Kalian udah kenal lima tahun?”

“Dia kenal saya dua bulan.”

Anin menatapku sangat lama. Aku melihat ia mencoba memahami. Aku melihat ia gagal. Aku melihat ia memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh.

“Dia tahu?” tanyanya akhirnya. Pelan.

“Nggak.”

“Nggak tahu kamu suka dia?”

“Nggak tahu apa-apa.”

Anin bersandar ke belakang di bangku kayu. Ia menatap kabut di lembah. Lama. Anak-anak di kebun stroberi masih berlari dan tertawa.

“Hari Sabtu,” katanya akhirnya. “Waktu dia masuk workshop. Kamu tahu apa yang aku perhatiin?”

Aku menunggu.

“Kamu natap aku kayak natap klien, Pram.” Ia tidak menoleh padaku. “Lurus. Sopan. Kamu dengerin. Kamu jawab. Kamu natap mataku waktu ngomong. Sama Mang Ujang juga gitu. Sama Sasa juga. Sama aku juga.”

Ia akhirnya menoleh.

“Tapi kamu nggak berani natap dia sama sekali. Satu kali pun. Dia masuk ke workshop, dan kamu langsung natap lantai. Dia bilang kamu cuma vendor, dan tanganmu ngepal di samping badan. Aku lihat.” Anin tersenyum. Kecil, dan sedikit sedih. “Aku tahu artinya itu. Bapakku dulu juga nggak berani natap ibuku. Tiga tahun. Sampai ibuku yang nyamperin dia ke tempat ngaduk semen.”

Aku tidak bisa bicara.

“Tadi kamu mau bilang apa?” tanyanya. “Sebelum HP-mu bunyi. Mungkin kita, apa?”

Aku menatapnya. Lalu aku mengatakan yang sebenarnya.

“Mungkin kita bisa coba.”

“Kenapa?”

“Karena masuk akal.”

Anin tertawa. Pendek. Tidak mengejek.

“Itu bukan alasan, Pram.” Ia mencondongkan badan ke depan, sikunya di meja yang miring. “Kalau kamu bilang iya ke aku tadi, itu bukan karena kamu mau aku. Itu karena kamu mau berhenti nunggu dia. Kamu mau pakai aku buat berhenti.”

Kalimat itu menancap. Tepat. Seperti pahat yang akhirnya menemukan alur yang benar.

“Aku nggak mau jadi tempat orang berhenti,” kata Anin pelan. “Aku mau jadi tempat orang sampai.”


Ia mengantarku pulang jam tiga sore.

Di sepanjang jalan turun dari Lembang, ia tidak membicarakan apa yang terjadi di warung sate. Ia membicarakan panel dinding. Jumlah ranjang. Jadwal pengiriman. Ia bilang kontraknya tetap. Ini bisnis, Pram. Aku tetap mau kayumu. Itu nggak ada hubungannya sama hatimu.

Di halaman Kayuku, sebelum aku turun, ia menahanku dengan satu tangan di lenganku. Di siku. Di tempat yang sama.

“Pram.”

“Ya.”

“Kamu nggak perlu jawab pertanyaanku tadi. Aku udah tahu jawabannya.” Ia tersenyum. “Tapi satu hal. Lima tahun itu lama. Jangan bikin dia nunggu lebih lama dari kamu nunggu dia.”

Ia melepaskan lenganku.

Aku turun. Aku berdiri di halaman, di samping pikap tua dengan lampu kiri yang redup, dan menatap SUV hitam itu pergi. Bannya meninggalkan jejak lumpur yang dalam.

Lalu aku mengeluarkan ponsel dan mengirim foto yang kuambil di teras Saung Halimun pagi tadi, ketika aku berdiri terlalu lama. Kabut di lembah. Abu-abu, tipis, makin ke bawah makin gelap.

Ini kabutnya. Jam delapan pagi. Makin ke bawah makin gelap.

Aku tidak menulis apa yang kupikirkan waktu mengambil foto itu. Bahwa warnanya persis gaun tulle di lemari loteng. Bahwa aku berdiri di teras itu terlalu lama karena kabutnya mengingatkanku padanya.

Balasannya datang dua menit kemudian.

Ini persis abu-abu yang aku cari.

Lalu:

Makasih, Mas. Aku seneng kamu selamat. Mbak Anin baik?

Aku menatap pertanyaan terakhir itu lama.

Baik, ketikku. Kontraknya jadi.

Aku tidak menulis yang lain. Aku tidak tahu caranya menulis dia nembak aku dan aku hampir bilang iya karena aku pengen berhenti nunggu kamu. Jadi aku cuma menulis itu, dan meletakkan ponsel, dan tidak melihat bahwa di ujung sana, di lantai tiga sebuah gedung di Dago, seseorang membaca kontraknya jadi berulang-ulang dan tidak tahu harus merasa apa.


Malam itu, aku tidak naik ke loteng. Aku duduk di meja kerjaku dan mengeluarkan sepotong jati dari laci. Potongan yang sudah kuukir setengah, seminggu lalu, waktu plester Doraemon dari Ridwan masih menempel di ibu jariku. Tempat HP dengan sandaran yang menghadap ke bawah.

Dara bilang ia bikin sketsa untuk koleksi berikutnya. Show-nya tinggal beberapa minggu. Ia akan kerja terus. Ia tidak akan berhenti untuk makan siang.

Aku mulai memahat.

Jam satu pagi, aku mendengar langkah di tangga. Ridwan. Ia lupa ponselnya di workshop dan kembali mengambilnya. Ia berdiri di ujung tangga, dalam gelap, dan menatapku di bawah lampu meja.

Aku tidak menoleh. Aku pura-pura tidak mendengar.

Ia berdiri di sana lama. Lalu turun pelan-pelan, mengambil ponselnya dari meja panjang, dan berhenti di depan meja kerjaku.

“A,” katanya pelan. “Tadi siang Teh Anin...”

“Nggak, Wan.”

Ridwan diam sebentar. Lalu ia mengangguk, seperti orang yang baru menyelesaikan perhitungan.

“Itu buat Teh Dara?” Ia menunjuk tempat HP di tanganku.

Aku tidak menjawab. Itu sudah cukup sebagai jawaban.

Ridwan menatap ponselnya sendiri. Lama. Lalu ia membuka galeri dan menggulir. Aku melihat cahaya biru di wajahnya. Ia berhenti di satu video. Dan wajahnya berubah, seperti orang yang baru menemukan sesuatu yang ia lupa ia simpan.

“A,” katanya. “Aku pindah tim.”

“Apa?”

“Taruhan sama Mang Ujang. Aku kalah. Aku pindah tim.” Ia memasukkan ponselnya ke saku. “Besok aku beliin Mang Ujang dua puluh gorengan.”

Ia pergi sebelum aku sempat bertanya apa maksudnya.

Aku tidak tahu, malam itu, bahwa di galeri ponselnya ada video lima belas detik yang ia rekam diam-diam seminggu sebelumnya. Punggungku di bawah lampu meja. Jam dua lewat sepuluh. Plester Doraemon di ibu jariku. Tempat HP yang sama, setengah jadi.

Aku tidak tahu bahwa ia akan mengunggahnya besok pagi, dengan wajahku yang di-blur kasar, dan caption yang ia tulis sambil menangis di angkot.

Aku cuma tahu, malam itu, bahwa aku tidak berhenti.

Dan bahwa untuk pertama kalinya, aku tidak ingin berhenti.