Chapter Five
Bab 5 — Serutan
POV: Prama
Ada satu hal yang tidak pernah diajarkan Bapak soal pahat: apa yang harus dilakukan kalau perempuan yang kamu cintai selama lima tahun tiba-tiba berdiri di pintu workshop, tanpa kabar, membawa dua gelas kopi dan sekotak kue lapis, pada jam setengah lima sore hari Kamis.
Bapak cuma mengajarkan bahwa pahat harus selalu bergerak menjauh dari tubuh. Bahwa kayu harus dibaca dulu sebelum dipotong. Bahwa tangan yang gemetar lebih berbahaya daripada pahat yang tumpul.
Tanganku gemetar.
Pahat di tanganku meleset dari alur yang sedang kugarap, menyelip di permukaan jati yang licin, dan meluncur langsung ke arah jari telunjuk kiriku.
Aku menarik tanganku tepat pada waktunya. Ujung pahat menancap di meja kerja, satu senti dari tempat jariku berada sedetik sebelumnya.
“Astagfirullah!” Mang Ujang menjerit dari meja sebelah.
“A!” Sasa menjerit dari meja admin.
Ridwan tidak menjerit. Ridwan merekam.
Dan Dara, di pintu, berhenti melangkah. Kedua gelas kopi di tangannya terangkat sedikit, seperti refleks, seperti ia sendiri yang hampir tertusuk.
“Mas Prama!”
“Nggak apa-apa.” Aku mencabut pahat dari meja. Suaraku keluar lebih tenang dari yang kurasakan. “Nggak kena.”
Ia berjalan cepat ke arahku. Setiap langkahnya terasa seperti dentuman di dadaku. Ia meletakkan kopi dan kue di ujung meja, lalu berdiri di depanku, cukup dekat sehingga aku bisa mencium wanginya. Bukan parfum yang mencolok. Sesuatu yang lebih tipis. Seperti bunga melati yang baru dipetik pagi-pagi, sebelum matahari terlalu tinggi.
“Coba lihat tanganmu.”
“Nggak kena, Dara.”
“Coba lihat.”
Aku mengangkat tangan kiri. Utuh. Lima jari, semua di tempatnya, cuma ada bekas-bekas luka lama yang sudah memutih. Ia memandanginya lama. Terlalu lama. Matanya menyusuri setiap garis putih di punggung tanganku, satu per satu, seperti sedang membaca.
Ia tidak menyentuh. Aku bersyukur, karena kalau ia menyentuh, aku tidak yakin pahat berikutnya akan meleset satu senti.
“Kamu kaget lihat aku?” tanyanya.
“Saya lagi fokus.”
“Kamu fokus banget sampai hampir motong jari sendiri pas aku masuk.”
“Kebetulan.”
Ia mengangkat alis. Lalu, perlahan, sudut bibirnya naik. Lesung pipit itu muncul di pipi kirinya, dan aku harus mencengkeram tepi meja kerja supaya tidak melakukan sesuatu yang bodoh. Seperti jatuh. Atau menatapnya terlalu lama.
“Mas Prama,” katanya, dan suaranya turun, jadi lebih lembut, lebih pelan. “Kamu kalau gugup lucu.”
Aku tidak bernapas.
“Aku jadi pengin bikin kamu gugup terus.”
Di belakangku, aku mendengar sesuatu jatuh. Papan kayu. Mang Ujang. Di meja admin, aku mendengar Sasa menahan napas dengan bunyi yang mirip balon kempes. Di tangga, aku mendengar Ridwan berbisik, “Sumpah, ini konten,” sebelum Mang Ujang melempar spons ampelas ke arahnya.
Aku menatap meja. Serat jati di bawah tanganku. Alur ukiran yang sedang kugarap. Apa pun. Apa pun selain wajahnya.
“Saya nggak gugup,” kataku. “Biasa aja, kok.”
Ia tertawa.
Bukan tawa sopan yang biasa ia berikan pada wartawan, aku pernah melihat yang itu di video wawancaranya, tawa yang rapi dan terukur. Ini tawa yang lain. Lepas, sedikit serak, dengan kepala yang terlempar ke belakang dan mata yang menyipit sampai hampir tertutup. Tawa yang membuat seluruh workshop terasa lebih terang.
Aku pernah mendengar tawa itu sekali sebelumnya. Lima tahun lalu, di Sabuga, hari pertama bazar, ketika seorang anak kecil mencoba memakai topi bergambar kucing dari stan sebelah dan topinya menutupi seluruh wajahnya. Dara tertawa seperti ini. Dan aku, di stan sebelah, menjatuhkan sebuah cangkir sonokeling ke lantai karena tidak memperhatikan tanganku.
Ternyata lima tahun tidak mengubah apa pun. Tawanya masih membuat tanganku tidak bisa dipercaya.
“Biasa aja,” ulangnya, masih tertawa. “Oke. Oke, Mas Prama. Biasa aja.”
Ia membuka kotak kue lapis dan menyodorkannya ke arahku. “Lapis legit. Dari toko langganan Ibu. Buat semua.”
“Semua” langsung muncul dalam hitungan detik. Mang Ujang dari belakang, dengan tangan yang masih berdebu. Sasa dari meja admin, dengan sopan tapi cepat. Ridwan dari tangga, yang mengambil tiga potong sekaligus dan langsung ditepuk tangannya oleh Mang Ujang.
“Tamu heula, budak!”
“Teh Dara kan bilang buat semua, Mang!”
Dara tertawa lagi, lalu mengambil satu potong dan, tanpa peringatan, mengulurkannya langsung ke depan wajahku. Bukan ke tanganku. Ke mulutku.
Aku membeku.
“Tanganmu kotor,” katanya polos. “Serbuk kayu semua. Makan aja dari sini.”
Seluruh workshop mendadak hening. Bahkan radio, entah bagaimana, seperti ikut menahan napas di antara dua lagu.
Aku menatap kue lapis itu. Lalu menatap jari-jarinya yang memegang kue itu, ramping, dengan kuku pendek dan bersih, dan bekas tinta biru di ujung jari tengahnya.
Lalu aku melakukan satu-satunya hal yang bisa kulakukan tanpa kehilangan akal. Aku menepuk-nepuk tanganku di celemek, cepat sekali, sampai serbuk kayunya berhamburan, lalu mengambil kue itu dari tangannya dengan ujung jari. Tanpa menyentuh kulitnya.
“Makasih,” gumamku.
Ia menatap tanganku, lalu wajahku, dengan senyum yang sangat, sangat puas.
“Sama-sama, Mas Prama.”
Di belakang, aku mendengar Ridwan berbisik, “Gagal, Mang. Gagal.” Dan Mang Ujang menjawab, lebih keras dari bisikan mana pun, “Sabar. Ieu mah episode lima.”
Ia datang dengan alasan resmi: membicarakan revisi desain pintu besar di ujung panggung. Ia ingin daunnya lebih tinggi, dengan kaca patri di bagian atas.
Kami duduk di meja panjang dekat jendela. Ia membuka buku sketsa. Aku membuka gambar teknis. Mang Ujang, dengan subtil yang sama sekali tidak subtil, menyalakan radio dangdut dengan lagu tentang cinta yang tak terucap, lalu pergi ke belakang sambil bersiul.
Dara menggambar sambil bicara. Garis-garisnya cepat dan yakin. Pintu itu tumbuh di kertasnya, daunnya tinggi, kaca patrinya membentuk pola bunga-bunga kecil yang saling bertautan.
Aku mendengarkan. Aku mencatat ukuran. Aku menghitung dalam kepala berapa beban yang bisa ditahan engsel kalau kaca patrinya setebal lima milimeter.
Dan aku memperhatikan tangannya.
Ia memegang pensil dengan cara yang tidak biasa. Terlalu kencang, terlalu ke bawah, dengan pergelangan yang sedikit tertekuk ke dalam. Setiap kali ia menarik garis panjang, pergelangan tangannya ikut menekuk lebih dalam lagi. Setelah lima belas menit menggambar, ia berhenti sebentar dan memijat pergelangan itu dengan ibu jari tangan kirinya. Lalu kembali menggambar. Lima belas menit lagi, memijat lagi.
Aku sudah melihatnya melakukan itu hari Senin, di depan rangka jendela. Aku melihatnya lagi sekarang. Aku menghitung: empat kali dalam satu jam.
“Itu sakit?” tanyaku, sebelum aku bisa menahan diri.
Ia mendongak. “Apa?”
“Tanganmu.”
Ia menatap tangannya sendiri, seperti baru sadar sedang memijatnya. “Oh. Ini. Biasa. Kebanyakan gambar.”
“Mejanya terlalu datar.”
“Hah?”
“Meja gambar.” Aku mengetuk permukaan meja di antara kami. “Kalau mejanya datar, pergelangan harus nekuk terus buat narik garis. Lama-lama sarafnya kejepit. Kalau mejanya miring, sekitar lima belas derajat, pergelangannya bisa lurus.”
Ia menatapku. Lama. Aku langsung menyesali setiap kata yang baru keluar dari mulutku.
“Kok kamu tahu?” tanyanya pelan.
“Bapak.” Aku menatap gambar teknis. “Bapak dulu bikin meja gambar buat arsitek. Dia sering cerita.”
Itu bukan bohong. Bapak memang pernah membuat meja gambar untuk arsitek. Sekali, tiga puluh tahun lalu. Tapi aku tahu soal lima belas derajat bukan dari cerita Bapak. Aku tahu karena tiga tahun lalu, setelah membaca wawancara Dara di sebuah majalah daring tempat ia menyebut bahwa ia menggambar delapan sampai sepuluh jam sehari, aku mencari tahu apa yang terjadi pada pergelangan tangan orang yang menggambar selama itu.
Aku tidak mencari tahu tentang Dara. Aku mencari tahu tentang pergelangan tangan. Itu berbeda. Aku terus mengatakan pada diriku sendiri bahwa itu berbeda.
“Lima belas derajat,” ulangnya, seperti menyimpan angka itu.
“Lima belas derajat.”
Ia kembali menggambar. Tapi kali ini, aku melihatnya mencoba memiringkan buku sketsa, menyangganya dengan tumpukan gambar teknis. Pergelangan tangannya jadi sedikit lebih lurus.
Aku menatap lekukan bunga di kaca patri yang sedang ia gambar, dan dalam kepalaku, aku mulai mengukur. Panjang lengannya, dari siku ke ujung jari. Tinggi kursinya di kantor, yang pernah kulihat sekilas di latar belakang video wawancaranya. Jarak matanya ke kertas. Sudut yang paling nyaman untuk bahu yang sering membungkuk.
Jati. Atau suar, supaya lebih ringan. Engsel penahan sudut dari kuningan, supaya bisa diatur. Permukaan diampelas sampai empat ratus, diolesi minyak, supaya kertas tidak tergelincir tapi juga tidak lengket.
Aku tidak boleh membuatnya.
Itu melanggar aturan.
Ia pulang menjelang Magrib. Di pintu workshop, ia berbalik, dan aku, yang sedang berdiri di dekat meja contoh kayu untuk menjaga jarak yang aman, otomatis menunduk.
“Mas Prama.”
“Ya.”
“Penggarisku yang patah kemarin.” Ia mengangkat tas jinjingnya. “Aku udah lem. Kayak katamu, garisnya meleset setengah mili.”
“Mau saya bikinin yang baru?” Kalimat itu keluar begitu saja, sebelum otakku sempat menghentikannya.
Ia diam sebentar. Aku melihat bayangannya di lantai semen, panjang karena matahari sore.
“Nggak usah,” katanya akhirnya, pelan. “Penggaris itu udah sama aku dari kuliah. Udah kayak... saksi, tahu? Aku pakai buat gambar pola koleksi pertamaku. Aku nggak mau ganti.”
Saksi. Penggaris itu menyaksikan malam-malam saat ia menjahit Embun di kamar kos, setiap subuh. Penggaris itu ada di tasnya di Sabuga, mungkin, ketika ia menangis di balik rak.
Aku mengerti. Lebih dari yang bisa ia bayangkan.
“Oke,” kataku.
“Tapi makasih.” Lesung pipit itu muncul lagi. “Kamu baik. Biasa aja, kok, ya?”
Ia pergi sebelum aku sempat menjawab, meninggalkan wangi melati dan dua gelas kopi yang sudah dingin di ujung meja kerjaku.
Malam itu, setelah Mang Ujang pulang dan Ridwan diusir karena terus memutar ulang video yang tadi sore ia rekam, Sasa berdiri di depan meja kerjaku dengan kedua tangan di pinggang.
“A.”
“Apa, Sa.”
“Teh Dara bilang mau ngasih aku baju gratis.”
Aku berhenti mengampelas.
“Ukuran S,” lanjut Sasa. “Habis show. Katanya rahasia kami berdua. Dia pikir aku yang beli baju-bajunya selama ini, A. Dia pikir aku nabung dari gaji admin buat beli outer brokat empat juta. Dia ngelihat aku kayak lihat anak kucing yang kehujanan. Aku hampir nangis di depannya, A. Aku hampir ngaku.”
“Jangan.”
“Aku tahu, A! Makanya aku nggak ngaku!” Sasa menghentakkan kaki. “Tapi A, aku jadi pembohong! Aku bohong sama orang paling baik sedunia! Dia nawarin aku baju gratis, A, padahal yang beli semua bajunya itu bos aku sendiri yang sekarang lagi ngampelas kayu sambil pura-pura nggak denger!”
“Aku denger, Sa.”
“Terus?!”
Aku meletakkan ampelas. Aku menatap Sasa, admin yang sudah lima tahun menyimpan rahasiaku, yang setiap ada koleksi baru harus menerima paket di kos lamanya lalu membawanya ke sini naik angkot dengan wajah tegang seperti penyelundup.
“Kalau Dara kasih baju,” kataku, “kamu terima. Kamu pakai. Itu baju buat kamu.”
Sasa membuka mulut. Lalu menutupnya. Lalu membukanya lagi.
“A... serius?”
“Kamu udah lima tahun bantu aku, Sa. Udah waktunya kamu punya satu potong buatanmu sendiri.” Aku kembali mengampelas. “Ukuran S. Kebetulan pas.”
Sasa diam lama. Lalu, dengan suara yang tiba-tiba kecil, ia berkata, “A Prama tuh kenapa sih, baik banget sama semua orang, tapi nggak pernah baik sama diri sendiri?”
Aku tidak menjawab.
Sasa akhirnya pulang. Workshop kembali sepi. Aku menunggu sampai suara motornya menghilang di ujung jalan, lalu mematikan semua lampu kecuali lampu di meja kerjaku.
Di laci paling bawah, di bawah tumpukan amplas dan kain lap, ada sepotong jati tua. Panjangnya enam puluh lima senti, lebarnya empat. Kayu yang kudapat dari balok rumah tua di Garut yang dibongkar tahun lalu, jati berumur lebih dari seratus tahun, seratnya rapat dan lurus seperti garis yang ditarik dengan penggaris sempurna.
Aku menyimpannya karena terlalu bagus untuk dipotong jadi apa pun.
Kemarin, setelah Dara pulang dengan penggaris retaknya, aku mengeluarkan potongan jati itu dari laci. Aku belum memotongnya. Aku cuma memandanginya.
Ia bilang tidak usah. Ia bilang penggaris lamanya adalah saksi. Aku harus menghormati itu.
Tapi setengah mili.
Setengah mili adalah perbedaan antara pola yang jatuh sempurna di tubuh seseorang dan pola yang sedikit meleset. Setengah mili adalah perbedaan antara karya Dara yang ia bayangkan dan karya Dara yang terwujud. Ia akan menggambar pola untuk show lima tahunnya dengan penggaris yang meleset setengah mili, dan ia akan tahu, karena Dara selalu tahu, dan ia akan revisi berulang-ulang tanpa sadar bahwa masalahnya bukan di tangannya.
Aku mengambil pensil tukang dan mulai menandai potongan jati itu. Setiap satu senti. Setiap lima milimeter. Setiap milimeter.
Aku tidak akan menggantikan penggaris lamanya. Penggaris lama itu biar tetap jadi saksi. Penggaris ini cuma... bonus. Bonus vendor. Vendor yang baik selalu memberi bonus pada klien besar.
Di ujung penggaris, di tempat yang paling kecil, di mana ia mungkin tidak akan memperhatikan sama sekali, aku memutuskan akan mengukir sesuatu. Sesuatu yang sangat kecil.
Setetes embun.
Aku bekerja sampai jam dua belas malam. Lalu aku naik ke loteng, membuka lemari jati, dan duduk di lantai di depan sebelas potong pakaian yang tergantung dalam diam.
Lima tahun aku menepati tiga aturan. Sekali saja. Harga penuh. Jangan pernah muncul.
Sekarang aku sudah muncul. Ia sudah melihat tanganku, sudah mendengar suaraku, sudah membuatku hampir memotong jari sendiri dan menertawakanku dengan tawa yang sama seperti lima tahun lalu.
Kamu kalau gugup lucu. Aku jadi pengin bikin kamu gugup terus.
Aku menyandarkan kepala ke pintu lemari dan memejamkan mata.
Aturan ketiga sudah patah. Sama seperti penggarisnya. Dan seperti kata yang kuucapkan sendiri siang tadi: bisa dilem, tapi tidak akan pernah lurus lagi.
- 1 Bab 1 — Order Pertama
- 2 Bab 2 — Loteng
- 3 Bab 3 — Vendor yang Tidak Mau Menatap
- 4 Bab 4 — Pelanggan Ukuran S
- 5 Bab 5 — Serutan reading
- 6 Bab 6 — Sendok Pak Darsa
- 7 Bab 7 — Revisi Ketujuh
- 8 Bab 8 — Kutubaru
- 9 Bab 9 — Tolong Diam
- 10 Bab 10 — Koh Hendra Datang ke Bandung
- 11 Bab 11 — Tangan yang Luka
- 12 Bab 12 — Harga Penuh
- 13 Bab 13 — Jati yang Baru Diampelas
- 14 Bab 14 — Pak Bram
- 15 Bab 15 — Pegang yang Benar
- 16 Bab 16 — Truk Pengiriman
- 17 Bab 17 — Mitos
- 18 Bab 18 — Kontrak Lembang
- 19 Bab 19 — Stapler Biru
- 20 Bab 20 — Tempat Orang Berhenti
- 21 Bab 21 — Ridwan dan TikTok
- 22 Bab 22 — Rooftop
- 23 Bab 23 — Undangan
- 24 Bab 24 — Kebaikan yang Salah Tempat
- 25 Bab 25 — Brokat Bukan Merek Lem
- 26 Bab 26 — Struk
- 27 Bab 27 — Tulisan Tangan
- 28 Bab 28 — Aku Cuma Beli Waktu
- 29 Bab 29 — Biasa Aja, Pram?
- 30 Bab 30 — Loteng
- 31 Bab 31 — Giliranku
- 32 Bab 32 — Cicilan Pertama
- 33 Bab 33 — Ukuran Jas
- 34 Bab 34 — Kutubaru untuk Satu Orang
- 35 Bab 35 — Bapak Juga Nggak
- 36 Bab 36 — Harga Penuh, Tanpa Cicilan
- 37 Bab 37 — Lima Tahun Menahan Diri
- 38 Bab 38 — Pembeli Pertamaku
- 39 Bab 39 — Nggak Ada yang Biasa Aja
- 40 Epilog — Rumah dari Kayu