Chapter Three
Bab 3 — Vendor yang Tidak Mau Menatap
POV: Dara
Workshop Kayuku tidak terlihat seperti workshop yang mengekspor ke tiga negara.
Bangunannya bekas gudang di ujung jalan kecil di Cigadung, diapit kebun singkong dan rumah-rumah warga. Catnya hijau pudar. Papan namanya dari kayu, tentu saja, diukir tangan dengan huruf-huruf sederhana: KAYUKU. Di bawahnya ada tulisan lebih kecil yang sepertinya ditambahkan belakangan oleh orang lain, dengan spidol: Punten, parkir motor di sebelah kiri.
Tiwi memarkir mobil di sebelah kanan, karena di sebelah kiri penuh motor.
“Mbak, kamu yakin ini tempatnya?”
“Alamatnya bener.”
“Tapi kok kayak...” Tiwi melirik ayam yang berjalan santai melewati kap mobil kami. “Kayak rumah nenekku di Sumedang.”
Aku turun dari mobil. Udara Cigadung pagi itu dingin dan bersih, dan begitu aku mendekati pintu workshop yang terbuka lebar, wangi itu menyergapku. Jati. Serbuk kayu. Minyak finishing yang manis dan sedikit tajam. Wangi yang membuatku langsung tahu, tanpa perlu melihat satu produk pun, bahwa aku datang ke tempat yang benar.
Dan juga suara. Dangdut. Volume tinggi. Lagu tentang seseorang yang ditinggal kekasihnya ke Malaysia.
“Teteh!”
Seorang bapak-bapak tua bertubuh pendek dengan kumis tebal dan kaus oblong bertuliskan Persib Nu Aing setengah berlari ke arah kami. Ia berhenti tepat di depanku, lalu membeku. Mulutnya terbuka. Matanya mengerjap beberapa kali.
Aku sudah terbiasa dengan reaksi seperti ini. Aku tersenyum dan mengulurkan tangan.
“Selamat pagi, Pak. Saya Dara.”
“Ujang,” katanya, masih setengah melongo, menjabat tanganku dengan dua tangan. “Mang Ujang. Teteh... Teteh langkung geulis ti dina poto.”
“Hatur nuhun, Mang.”
“Teu, Teteh, abdi serius. Di poto majalah mah geulis. Ieu mah...” Ia menggeleng-geleng, mencari kata, lalu menyerah. “Ieu mah bahaya.”
Tiwi, di belakangku, menahan tawa dengan sangat buruk.
Mang Ujang mempersilakan kami masuk dengan antusiasme seorang tuan rumah yang sudah menunggu tamu selama bertahun-tahun. Ia mematikan radio, lalu menyalakannya lagi dengan volume lebih kecil, lalu mematikannya lagi. Ia menyuruh seorang anak muda kurus berkaus oversized untuk membuatkan kopi, lalu mengoreksi jadi teh, lalu mengoreksi lagi jadi “naon wae nu Teteh resep.”
“Teh aja, Mang,” kataku.
“Teh! Ridwan, teh! Nu alus! Tong nu sachet!”
Anak muda bernama Ridwan itu berlari ke belakang sambil, kalau mataku tidak salah, merekam sesuatu dengan ponselnya.
Bagian dalam workshop lebih luas dari yang kukira. Langit-langitnya tinggi, dengan balok-balok jati yang menyilang. Cahaya pagi masuk dari jendela-jendela besar di sisi timur, menembus debu kayu yang melayang-layang, membuat semuanya terlihat seperti adegan di film. Meja-meja kerja berderet rapi, masing-masing dengan pahat, ampelas, dan potongan kayu setengah jadi. Di dinding, deretan pegboard kayu memajang peralatan dengan susunan yang presisi.
Di salah satu sudut, aku melihat tangga kayu yang mengarah ke loteng. Di ujung atasnya ada pintu kecil dengan gembok.
Di dekat meja admin, seorang perempuan mungil berambut sebahu berdiri dengan tegak sekali, seperti siswa yang ditunjuk jadi petugas upacara. Ia tersenyum kepadaku dengan senyum yang terlalu lebar dan terlalu tegang.
“Selamat datang, Teh! Saya Sasa! Admin!”
“Halo, Sasa.”
“Halo!” Ia mengangguk berkali-kali. Lalu, dengan suara yang mendadak tinggi: “A PRAMA, TETEHNYA UDAH DATANG.”
Dari ujung workshop, dari balik deretan rak kayu, terdengar suara benda jatuh. Lalu suara benda lain jatuh. Lalu hening.
Lalu ia muncul.
Hal pertama yang kuperhatikan dari Prama Winata adalah ukurannya.
Ia tinggi. Bahunya lebar, punggungnya sedikit membungkuk seperti orang yang terlalu lama bekerja di meja yang terlalu rendah untuknya. Lengannya besar, dengan urat-urat yang terlihat di balik kemeja biru yang lengannya digulung sampai siku. Tangannya, ketika ia mendekat, terlihat kasar dan penuh bekas luka kecil, garis-garis putih tipis di sepanjang jari dan punggung tangan.
Mataku, seperti biasa, langsung mengukur. Lingkar dada sekitar seratus delapan. Panjang bahu empat puluh delapan, mungkin empat puluh sembilan. Kalau aku membuatkannya kemeja, aku harus menambahkan ruang di bagian punggung, karena ia jelas sering membungkuk.
Kebiasaan buruk desainer. Aku tidak bisa melihat orang tanpa membayangkan ukuran bajunya.
Hal kedua yang kuperhatikan adalah bahwa ia tidak menatapku.
Ia berhenti dua meter dariku. Matanya tertuju ke lantai, lalu ke rak di belakangku, lalu ke jendela, lalu ke sepatuku. Ke mana-mana, kecuali wajahku.
“Selamat pagi,” katanya. Suaranya rendah, pelan, sedikit serak.
“Selamat pagi. Saya Dara.” Aku mengulurkan tangan.
Ia menatap tanganku seperti menatap sesuatu yang bisa menggigit. Lalu ia mengelap telapak tangannya ke celana, dua kali, dan menjabat tanganku. Sangat sebentar. Sangat ringan. Seperti takut tanganku akan retak.
“Prama,” katanya. “Pemilik.”
“Senang ketemu, Mas Prama. Akhirnya.” Aku tersenyum. “Dua tahun lalu kan kita belum sempat.”
Matanya berkedip. Ia masih menatap rak di belakangku.
“Maaf,” katanya. “Ibu tadi... siapa namanya?”
Aku berhenti tersenyum.
Di belakangku, aku mendengar Tiwi tersedak. Di dekat meja admin, Sasa menutup mata dengan ekspresi menderita. Mang Ujang menepuk dahinya sendiri dengan suara yang cukup keras untuk terdengar ke seluruh workshop.
“Dara,” ulangku. Pelan. Jelas. “D-A-R-A. Dari DARA. Yang kirim email kemarin. Yang Mang Ujang balas pakai sembilan tanda seru.”
“Oh.” Ia mengangguk, masih tidak menatapku. “Iya. Bu Dara.”
“Bu?”
“Mbak,” ia mengoreksi cepat. “Mbak Dara. Maaf.”
Aku menatapnya. Ia menatap jendela.
Dalam hidupku, aku pernah membuat orang tergagap, lupa nama sendiri, salah menekan tombol ponsel, menumpahkan kopi, dan menabrak tiang. Tapi aku belum pernah, tidak sekali pun, berhadapan dengan orang yang pura-pura tidak tahu namaku.
Dan ia jelas pura-pura. Tidak ada orang yang lupa nama klien dalam waktu dua belas jam, apalagi kalau nama itu juga nama brand-nya.
Rasa kesal muncul di dadaku, hangat dan tajam. Lalu, perlahan, rasa kesal itu berubah jadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih berbahaya.
Penasaran.
Kami duduk di meja kerja panjang dekat jendela. Ridwan datang membawa teh dalam cangkir kayu sonokeling, cangkir yang sama dengan yang kulihat di foto kemarin. Tiwi langsung membalik cangkirnya untuk mencari label harga.
Aku membuka buku sketsa dan mulai menjelaskan konsepku. Panggung berbentuk huruf T, dari kayu jati bekas yang diolah ulang. Lantainya tidak boleh mengilap. Di sepanjang sisi panggung, aku ingin ada rangka-rangka kayu seperti jendela rumah tua, yang bisa dipakai untuk menggantung kain. Di ujung panggung, sebuah pintu kayu besar yang terbuka.
“Supaya model-modelnya kayak pulang,” jelasku. “Lima tahun DARA. itu bukan soal kemewahan. Itu soal... pulang ke tempat yang bikin kita jadi kita.”
Selama aku bicara, Prama mendengarkan sambil menatap buku sketsaku. Hanya buku sketsaku. Ia tidak sekali pun mengangkat mata ke wajahku. Tapi caranya mendengarkan... aku belum pernah melihat vendor mendengarkan seperti itu. Ia tidak memotong. Tidak sibuk dengan ponsel. Tidak mengangguk-angguk palsu. Ia cuma diam, menatap gambarku, seolah setiap garis yang kugambar adalah sesuatu yang perlu ia pelajari.
“Lantainya,” katanya ketika aku selesai. “Jangan dipernis.”
“Kenapa?”
“Kalau dipernis, mengilap kena lampu panggung. Mbak bilang ada koleksi yang pakai satin duchesse dan organza. Bahan yang mengilap dan transparan kalau ketemu lantai mengilap, pantulannya ganggu. Kainnya kelihatan murah di foto.”
Aku berhenti. Tiwi berhenti. Bahkan Mang Ujang, yang sedang pura-pura mengampelas sesuatu di meja sebelah, berhenti.
“Aku belum bilang soal satin duchesse,” kataku pelan.
Prama terdiam. Untuk pertama kalinya, sesuatu di wajahnya bergerak. Tidak banyak, cuma sedikit. Seperti orang yang baru sadar menginjak papan yang berderit.
“Di... di email,” katanya.
“Di email aku nggak nyebut bahan sama sekali.”
“Di...” Ia menoleh ke Sasa. Sasa menoleh ke Mang Ujang. Mang Ujang menoleh ke langit-langit. “Di Instagram. Mbak upload. Kemarin. Kayaknya.”
Aku memang mengunggah foto kain untuk koleksi show kemarin. Dengan keterangan new fabrics are here. Tanpa menyebut jenisnya.
Aku bisa saja mendesaknya. Tapi sesuatu di cara bahunya menegang membuatku berhenti. Ia terlihat seperti orang yang sedang dipojokkan, dan aku tidak suka memojokkan orang yang mendengarkan gambarku seperti itu.
“Oke,” kataku. “Lantainya nggak dipernis. Pakai apa?”
Ia menghela napas, pelan, nyaris tak terdengar. Lega.
“Minyak. Tung oil. Dioles tipis, berkali-kali. Kayunya tetap bernapas, warnanya keluar, tapi nggak mengilap.”
“Kayak kulit,” gumamku.
“Kayak kulit,” ia mengulang, dan untuk sepersekian detik, nyaris tersenyum. Nyaris.
Aku memutar cangkir sonokeling di tanganku. Hangat tehnya meresap ke kayu, dan kayu itu meneruskannya ke telapak tanganku dengan cara yang tidak bisa dilakukan keramik.
“Boleh aku tanya sesuatu yang nggak ada hubungannya sama panggung?”
Bahunya kembali menegang. “Boleh.”
“Dua tahun lalu, kenapa kalian nolak?”
Hening. Mang Ujang, di meja sebelah, berhenti mengampelas. Sasa berhenti mengetik. Bahkan Ridwan, yang sedang memotret kucing di dekat pintu, menurunkan ponselnya.
Prama menatap gambar teknis di depannya. Lama sekali, seolah jawabannya tertulis di antara garis-garis ukuran.
“Waktu itu,” katanya akhirnya, “kami belum siap.”
“Belum siap apa? Kapasitas? Tenaga?”
“Belum siap,” ulangnya, pelan, dan aku sadar ia tidak akan menambahkan apa pun lagi.
Jawaban itu seharusnya membuatku kesal. Proposal Tiwi waktu itu bagus, nilainya besar, dan aku kehilangan satu koleksi aksesori yang sudah kurencanakan berbulan-bulan. Tapi cara ia mengatakannya, dengan suara yang terdengar seperti orang yang menyimpan sesuatu yang berat di dalam saku, membuatku justru ingin bertanya lebih banyak.
“Sekarang udah siap?”
Ia mengangkat kepala sedikit. Matanya berhenti di daguku. Tidak naik lebih tinggi lagi.
“Nggak tahu,” katanya jujur. “Tapi Mbak udah di sini.”
Aku berdiri untuk melihat contoh-contoh kayu yang dijejerkan Mang Ujang di meja sebelah. Jati bekas, jati baru, mahoni, sonokeling, suar. Aku menyentuh masing-masing, merasakan seratnya, mencium wanginya.
Ketika aku membungkuk untuk melihat potongan jati bekas lebih dekat, sesuatu jatuh dari tas jinjingku.
Penggaris kayuku.
Penggaris jimatku. Yang menemaniku menggambar pola Embun di kamar kos. Yang tidak pernah kuganti dengan penggaris besi sebanyak apa pun Bu Imas membujukku.
Penggaris itu menghantam lantai semen dengan bunyi yang tajam. Dan ketika aku memungutnya, aku melihat retakan panjang membelah tengahnya, dari angka dua puluh sampai angka empat puluh.
“Yah,” bisikku.
Aku tahu ini cuma penggaris. Cuma sepotong kayu murah. Tapi entah kenapa, dadaku terasa sesak.
“Boleh lihat?”
Aku mendongak. Prama berdiri di dekatku. Lebih dekat dari tadi. Ia menatap penggaris di tanganku, dan ekspresinya aneh. Bukan sekadar tatapan pengrajin yang melihat kayu rusak. Lebih seperti... orang yang melihat sesuatu yang ia kenal.
Aku menyerahkan penggaris itu. Ia memegangnya dengan dua tangan, hati-hati, seperti memegang burung yang sayapnya patah. Ibu jarinya menyusuri retakan. Lalu menyusuri angka-angka yang pudar. Lalu berhenti di bekas gigitan di ujungnya.
“Ini udah lama,” katanya pelan.
“Dari kuliah.”
“Kayunya ramin. Ramin itu lembut, gampang retak kalau kena benturan.” Ia membaliknya. “Bisa dilem. Tapi nggak akan lurus lagi. Garisnya akan meleset setengah mili.”
“Setengah mili itu banyak buat pola.”
“Iya.” Ia mengangguk. “Setengah mili itu banyak.”
Kami berdiri di sana, berdua, menatap penggaris retak itu. Tiwi sedang sibuk bertanya pada Mang Ujang soal harga, dan Sasa sedang sibuk berpura-pura mengetik. Untuk sesaat, cuma ada aku, Prama, dan sepotong kayu yang patah.
Ia masih belum menatapku. Tapi ia berdiri cukup dekat sehingga aku bisa mencium wangi tubuhnya. Jati. Sabun murah. Dan sesuatu yang hangat, seperti matahari pagi di atas kayu.
“Mas Prama,” kataku.
“Ya.”
“Kenapa kamu nggak mau lihat aku?”
Ia membeku. Seluruh tubuhnya, dari bahu sampai jari yang memegang penggaris.
“Saya lihat,” katanya.
“Kamu lihat penggarisku.”
“Saya...” Ia menelan ludah. Jakunnya bergerak. “Saya memang begini sama semua klien, Mbak.”
Dari meja sebelah, Mang Ujang batuk. Batuk yang panjang dan mencurigakan, yang kedengarannya seperti kata “bohong” dalam bahasa Sunda.
Aku mengambil kembali penggarisku dari tangannya. Jari-jari kami tidak bersentuhan. Ia memastikannya. Ia memegang ujung penggaris paling jauh dari tanganku, seolah ada garis tak terlihat yang tidak boleh ia lewati.
“Oke,” kataku. “Kita mulai minggu depan?”
“Minggu depan,” ia setuju. “Saya kirim desain teknis dan anggaran hari Jumat.”
“Kirim ke aku langsung. Jangan ke Tiwi.”
“Ke... Mbak langsung?”
“Ke Dara,” koreksiku sambil tersenyum. “Biar kamu inget namaku.”
Di mobil, perjalanan pulang, Tiwi tidak bisa berhenti bicara.
“Mbak, itu orang aneh banget. Pura-pura lupa nama Mbak! Siapa yang lupa nama Mbak? Mbak itu muka yang nggak bisa dilupain! Aku pernah lihat satpam mall nyasar ke eskalator gara-gara lihat Mbak!”
“Mungkin dia memang pelupa.”
“Dia tahu satin duchesse, Mbak! Pelupa dari mana yang tahu satin duchesse?! Aku aja baru tahu bedanya duchesse sama charmeuse setelah setahun kerja sama Mbak!”
Aku tidak menjawab. Aku memandang ke luar jendela, ke kebun singkong dan rumah-rumah warga yang bergerak mundur, sambil memegang penggaris retak di pangkuanku.
Ada satu hal yang tidak kuceritakan pada Tiwi.
Saat aku berbalik untuk keluar dari workshop, aku menoleh sekali lagi. Prama masih berdiri di dekat meja contoh kayu. Dan untuk pertama kalinya pagi itu, ia menatapku.
Bukan menatap wajahku dengan cara orang biasanya menatapku, dengan kagum, dengan lapar, dengan heran. Ia menatapku seperti menatap sesuatu yang sangat jauh. Sesuatu yang ia tahu tidak akan pernah bisa ia sentuh.
Lalu ia sadar aku menoleh, dan langsung membuang pandangan ke jendela.
Aku memeluk penggaris retak itu lebih erat dan, tanpa sadar, tersenyum sepanjang perjalanan ke Dago.
- 1 Bab 1 — Order Pertama
- 2 Bab 2 — Loteng
- 3 Bab 3 — Vendor yang Tidak Mau Menatap reading
- 4 Bab 4 — Pelanggan Ukuran S
- 5 Bab 5 — Serutan
- 6 Bab 6 — Sendok Pak Darsa
- 7 Bab 7 — Revisi Ketujuh
- 8 Bab 8 — Kutubaru
- 9 Bab 9 — Tolong Diam
- 10 Bab 10 — Koh Hendra Datang ke Bandung
- 11 Bab 11 — Tangan yang Luka
- 12 Bab 12 — Harga Penuh
- 13 Bab 13 — Jati yang Baru Diampelas
- 14 Bab 14 — Pak Bram
- 15 Bab 15 — Pegang yang Benar
- 16 Bab 16 — Truk Pengiriman
- 17 Bab 17 — Mitos
- 18 Bab 18 — Kontrak Lembang
- 19 Bab 19 — Stapler Biru
- 20 Bab 20 — Tempat Orang Berhenti
- 21 Bab 21 — Ridwan dan TikTok
- 22 Bab 22 — Rooftop
- 23 Bab 23 — Undangan
- 24 Bab 24 — Kebaikan yang Salah Tempat
- 25 Bab 25 — Brokat Bukan Merek Lem
- 26 Bab 26 — Struk
- 27 Bab 27 — Tulisan Tangan
- 28 Bab 28 — Aku Cuma Beli Waktu
- 29 Bab 29 — Biasa Aja, Pram?
- 30 Bab 30 — Loteng
- 31 Bab 31 — Giliranku
- 32 Bab 32 — Cicilan Pertama
- 33 Bab 33 — Ukuran Jas
- 34 Bab 34 — Kutubaru untuk Satu Orang
- 35 Bab 35 — Bapak Juga Nggak
- 36 Bab 36 — Harga Penuh, Tanpa Cicilan
- 37 Bab 37 — Lima Tahun Menahan Diri
- 38 Bab 38 — Pembeli Pertamaku
- 39 Bab 39 — Nggak Ada yang Biasa Aja
- 40 Epilog — Rumah dari Kayu