Chapter Nineteen
Bab 19 — Stapler Biru
POV: Dara
Aku tidak berencana ke Cigadung hari Sabtu.
Sabtu adalah hari fitting model gelombang tiga, dan Bu Imas sudah mengancam akan mengunci pintu lantai dua kalau aku kabur lagi seperti minggu lalu. Tapi fitting selesai jam dua belas, lebih cepat dari jadwal, karena dua model sakit dan Tiwi memindahkan mereka ke hari Senin. Dan aku punya alasan resmi: rangka jendela mini untuk display butik, yang kata Prama sudah jadi dua, dan yang ingin kulihat sebelum dipasang.
Aku punya alasan resmi. Aku selalu punya alasan resmi.
Yang tidak kupunya adalah alasan kenapa aku mengganti kemeja linen dengan blus sutra sebelum berangkat. Atau kenapa aku menyemprot parfum di pergelangan tangan, lalu di leher. Atau kenapa aku berhenti di toko kue di Dago dan membeli lapis legit dua kotak, bukan satu.
Tiwi melihatku keluar dari lantai tiga dan tidak bilang apa-apa. Ia cuma menghela napas panjang dan menulis sesuatu di tabletnya. Aku tidak mau tahu apa.
Ada mobil lain di halaman Kayuku.
SUV hitam. Bersih, mengilap, dengan ban yang berlumpur di bagian bawah. Diparkir di sebelah kiri, di tempat yang biasanya untuk motor, tepat di samping pikap tua dengan lampu kiri yang redup.
Aku memarkir mobilku di sebelah kanan, seperti biasa, dan duduk sebentar menatap SUV itu. Pelat Jakarta. Ada stiker kecil di kaca belakang: logo sebuah firma desain interior yang namanya pernah kudengar. Firma yang mengerjakan dua hotel butik di Bali yang masuk majalah arsitektur bulan lalu.
Pembeli besar. Bagus. Kayuku pantas dapat pembeli besar.
Aku turun dari mobil dengan dua kotak lapis legit dan senyum yang mudah-mudahan terlihat santai.
Radio dangdut menyala, tapi volumenya kecil. Lagunya tentang seseorang yang ditinggal kekasihnya untuk orang kaya. Aku tidak tahu apakah Mang Ujang memilihnya dengan sengaja.
Yang pertama kulihat adalah Sasa, di meja admin, yang langsung berdiri begitu aku masuk. Wajahnya berubah dari kaget ke panik ke senyum lebar dalam waktu satu detik.
“T-Teh Dara! Selamat siang! Teteh nggak bilang mau datang!”
“Iseng, Sa.” Aku meletakkan satu kotak lapis legit di mejanya. “Siapa yang dateng?”
Sasa menatap kotak itu. Lalu menatapku. Lalu, tanpa menjawab, menatap ke meja paling ujung.
Aku mengikuti tatapannya.
Prama berdiri di samping meja kerjanya. Dan di sampingnya, sangat dekat, lebih dekat dari jarak satu meja, berdiri seorang perempuan.
Tinggi. Rambut hitam sebahu dengan poni rapi. Kemeja denim yang lengannya digulung. Ia memegang sepotong papan jati di satu tangan, dan tangan yang lain menyentuh lengan Prama. Di siku. Ringan, santai, seperti orang yang terbiasa menyentuh siapa pun saat bicara.
Ia sedang tertawa. Keras, lepas, dengan kepala sedikit miring ke belakang.
Dan Prama, dengan lengan yang disentuh, tidak menarik diri.
Ia tidak menarik diri.
Aku berdiri di tengah workshop dengan satu kotak lapis legit di tangan, dan merasakan sesuatu di dadaku yang belum pernah kurasakan dalam hidupku.
Bukan sakit. Lebih buruk. Seperti seseorang menarik benang dari jahitan yang belum dikunci, dan seluruh lipatan mulai terlepas pelan-pelan.
“Dara.”
Prama melihatku. Wajahnya berubah. Matanya langsung turun ke lantai, seperti biasa, seperti kebiasaannya sejak hari pertama.
Perempuan itu menoleh. Ia melihatku, dan matanya membesar. Lalu ia tersenyum. Senyum yang lebar, lurus, tanpa ragu.
“Dara Cantika!” Ia meletakkan papan jati dan berjalan ke arahku dengan tangan terulur. Langkahnya panjang. “Ya ampun. Aku nonton kamu di TV. Aku Anin. Anindya. Aku yang mau ngabisin semua kayu di workshop ini buat hotel di Lembang.”
Aku menjabat tangannya. Genggamannya kuat. Kering. Hangat.
“Senang ketemu,” kataku. Suaraku keluar normal. Aku bangga pada diriku sendiri.
“Kamu lebih cantik dari di TV.” Anin menatapku tanpa malu, dari wajah ke rambut ke blus sutraku. “Serius. Kameranya nggak adil sama kamu.”
“Makasih.”
“Aku harus berterima kasih ke kamu, sebenarnya.” Ia menoleh ke Prama, yang masih berdiri di meja kerjanya dengan tangan di saku. “Kalau kamu nggak nyebut Kayuku di TV, aku nggak akan nemu dia. Kamu yang nemuin dia buat aku.”
Buat aku.
“Sama-sama,” kataku. Senyumku mulai kaku.
“Aku cuma mampir ambil stapler.” Anin berbalik ke meja Sasa. “Sa, stapler biruku ketinggalan kemarin, ya? Yang kecil?”
Sasa, di mejanya, membeku. Matanya melirik laci. Lalu melirikku. Lalu melirik Mang Ujang, yang sedang mengampelas dengan sangat serius di meja panjang.
“S-stapler, Teh?”
“Yang biru. Kecil. Aku pakai buat denah kemarin.”
“Oh. Stapler.” Sasa membuka laci pertama. Menutupnya. Membuka laci kedua. Menutupnya. “Kayaknya... nggak ada, Teh.”
“Sa,” kata Prama pelan dari ujung workshop.
Sasa menutup mata, menghela napas seperti orang yang baru dihukum, dan membuka laci ketiga. Ia mengeluarkan stapler biru kecil dan menyerahkannya pada Anin dengan wajah orang yang menyerahkan senjata ke musuh.
“Ini, Teh,” katanya. “Maaf. Kesimpen.”
“Makasih, Sa!” Anin menerima stapler itu dengan riang, tanpa curiga sama sekali, lalu berbalik ke Prama. “Pram, jadi Senin jam delapan, ya. Aku jemput. Jangan lupa bawa meteran yang panjang. Lobinya delapan meter.”
Pram.
Aku menatap Prama. Ia menatap stapler di tangan Anin.
“Iya,” katanya.
“Terus habis ngukur, sate kelinci.” Anin tersenyum, dan menyentuh lengannya lagi. Ringan. Di siku. Di tempat yang sama. “Aku traktir. Kamu jangan nolak. Aku udah lihat kamu nolak voucher di cerita Sasa, ya. Aku nggak mau ditolak.”
Ia tertawa. Prama tidak tertawa. Tapi ia juga tidak menarik diri.
Lalu Anin menoleh padaku lagi, dengan senyum yang ramah dan tidak menyembunyikan apa pun.
“Kamu jangan khawatir, Dara. Aku nggak akan bikin dia kecapekan sebelum show-mu. Aku tahu dia lagi ngerjain panggungmu. Aku cuma pinjem hari Senin.”
Pinjem.
“Dia bukan punyaku,” kataku. Dan aku mendengar suaraku sendiri, dan suaraku terdengar terlalu ringan, terlalu cepat. “Dia vendor.”
Hening sedetik di workshop.
Di meja panjang, ampelas Mang Ujang berhenti bergerak. Di tangga, Ridwan menurunkan ponselnya pelan-pelan. Di meja admin, Sasa menutup mulutnya dengan tangan.
Di meja paling ujung, Prama tidak bergerak. Tapi aku melihat tangannya, yang tadi di saku, keluar. Dan mengepal. Sebentar. Lalu terbuka lagi.
Anin menatapku. Lama. Senyumnya tidak hilang, tapi matanya menyipit sedikit. Seperti orang yang sedang membaca sesuatu di antara baris.
“Oke,” katanya pelan. “Kalau gitu, berarti aku boleh.”
Aku tidak ingat bagaimana aku melewati satu jam berikutnya.
Aku ingat memeriksa rangka jendela mini. Aku ingat bilang bagus. Aku ingat Anin pamit, menjabat tanganku lagi dengan genggaman kuat, menepuk lengan Prama dua kali, lalu pergi dengan SUV hitamnya yang bannya berlumpur.
Aku ingat berdiri di samping meja kerja Prama setelah itu, dan tidak tahu harus bilang apa.
“Dia klienmu,” kataku akhirnya.
“Iya.”
“Klien besar.”
“Iya.”
“Dia manggil kamu Pram.”
Ia menatap rangka jendela mini di mejanya. “Dia manggil semua orang begitu. Dia manggil Mang Ujang Jang.”
“Mang Ujang,” kataku, menoleh ke meja panjang, “Teh Anin manggil Mamang Jang?”
Mang Ujang menatapku dengan mata yang sangat jujur. “Henteu, Teh. Abdi mah dipanggil Mang. Sopan pisan.”
Prama memejamkan mata.
Aku tidak tahu apa yang merasukiku. Mungkin blus sutra. Mungkin parfum di leher. Mungkin sentuhan di siku yang tidak ditarik. Aku cuma tahu bahwa tiba-tiba aku melangkah maju, ke depannya, lebih dekat dari yang pernah kulakukan di depan krunya.
Dan aku mengangkat tangan dan merapikan kerah kemejanya.
Kerahnya tidak berantakan. Aku tahu itu. Ia tahu itu. Seluruh workshop tahu itu. Tapi aku merapikannya juga. Pelan. Ujung jariku menyusuri lipatan kerah dari belakang leher ke depan, berhenti di tulang selangkanya, di tempat denyut nadinya terlihat di bawah kulit.
Denyutnya berlari.
“Kerahmu miring,” kataku pelan.
Ia tidak menjawab. Ia menatapku. Untuk pertama kalinya hari itu, ia menatapku, dan matanya hitam dan dalam dan bertanya sesuatu yang tidak bisa kujawab.
“Senin hati-hati,” kataku. “Jalan ke Cikole nanjak.”
“Dara...”
“Aku pulang dulu.”
Aku berbalik sebelum ia bisa bilang apa pun. Aku berjalan ke pintu dengan langkah yang mudah-mudahan terlihat santai.
Di belakangku, aku mendengar sesuatu yang aneh. Bunyi gorengan yang dibuka dari kantong plastik. Lalu suara Mang Ujang, pelan tapi sangat puas:
“Wan. Mana dua puluh biji.”
“Belum selesai, Mang! Masih babak satu!”
Prama mengikutiku. Aku mendengar langkahnya yang berat di lantai semen, lalu di tanah halaman. Ia berhenti di samping mobilku ketika aku sudah membuka pintu.
“Dara.”
Aku tidak menoleh. “Hm.”
“Senin itu saya cuma ngukur.”
“Aku nggak nanya.”
“Saya tahu.” Ia diam sebentar. Aku mendengarnya menarik napas. “Tapi saya mau kamu tahu.”
Aku menoleh. Ia berdiri di halaman yang masih berlumpur, di samping jejak ban SUV hitam yang dalam, dengan tangan di saku dan telinga yang merah sampai ke pangkal. Ia menatapku. Tidak ke lantai. Tidak ke jendela. Ke aku.
Untuk sesaat, aku hampir bilang sesuatu. Sesuatu yang besar dan bodoh dan sama sekali bukan urusan klien pada vendor.
Aku masuk ke mobil sebelum itu terjadi.
Di kaca spion, sepanjang jalan menurun di antara kebun singkong, aku melihatnya masih berdiri di halaman. Tidak bergerak. Sampai belokan menelannya.
Malamnya, di rooftop, aku duduk di kursi rotan dengan lapis legit yang tidak kuberikan, kotak kedua, di pangkuan. Dan Tiwi duduk di kursi sebelah, memakan lapis legit itu dengan garpu plastik.
“Mbak,” katanya, setelah potongan ketiga. “Mbak bilang dia vendor.”
“Iya.”
“Di depan dia.”
“Iya.”
“Di depan cewek yang jelas-jelas naksir dia.”
“Wi.”
“Aku cuma ngulang, Mbak. Biar Mbak denger sendiri.” Tiwi menusuk potongan keempat. “Mbak tahu kenapa Mbak bilang gitu?”
Aku menatap ke arah Cigadung. Lampu-lampu di balik bukit kecil.
“Karena aku nggak tahu dia apa,” kataku pelan. “Aku nggak punya kata buat dia. Dia bukan pacarku. Dia bukan temanku. Dia cuma... orang yang bikin aku nunggu hari Kamis. Dan hari ini aku lihat orang lain nyentuh lengannya, dan dia nggak narik, dan aku...”
Aku berhenti.
“Mbak cemburu,” kata Tiwi. Bukan pertanyaan.
Aku diam lama. Angin malam bertiup pelan, menggoyangkan daun-daun pohon jeruk nipis Bu Imas yang tidak pernah berbuah.
“Aku nggak pernah cemburu, Wi,” kataku akhirnya. “Seumur hidup. Nggak pernah. Biasanya aku yang dikejar. Biasanya aku yang bilang nggak. Aku nggak tahu rasanya kayak gini.”
“Kayak gimana, Mbak?”
Aku memikirkannya.
“Kayak jahitan yang benangnya ditarik dari ujung,” kataku. “Dan semua lipatannya lepas pelan-pelan. Dan kamu nggak bisa ngapa-ngapain selain lihat.”
Tiwi meletakkan garpunya. Ia menatapku dengan wajah yang tiba-tiba sangat lembut.
“Mbak,” katanya. “Kalau gitu, kunci jahitannya. Sebelum benangnya habis.”
Aku menatapnya.
“Mbak selalu bilang ke Bu Imas, jahitan yang nggak dikunci di ujung itu jahitan yang males. Jahitan yang nanti lepas sendiri.” Tiwi tersenyum. “Mbak udah dua bulan jahit sesuatu sama Mas Kayu. Tapi Mbak belum ngunci.”
Aku tidak menjawab.
Malam itu, sebelum tidur, aku membuka percakapan dengan Prama. Pesan terakhirnya dari kemarin. Selamat malam, Dara. Jangan lupa istirahat.
Aku mengetik. Menghapus. Mengetik lagi.
Senin, kalau udah sampai Lembang, kabarin ya.
Lalu, sebelum aku bisa menahan diri:
Dan Mas. Aku tadi bohong. Kamu bukan cuma vendor.
Aku mengirimnya dan langsung menelungkupkan ponsel di bawah bantal.
Aku tidak berani melihat balasannya sampai pagi.
Pagi itu, ketika akhirnya aku mengangkat bantal, ada satu balasan. Dikirim jam dua lewat empat belas menit.
Saya tahu.
Dua kata. Tanpa titik tiga. Tanpa biasa aja. Dikirim jam dua pagi, dari seseorang yang jelas tidak tidur.
Lalu, satu menit setelahnya:
Kamu juga bukan cuma klien.
Aku menatap dua pesan itu sampai kopi di dapur mendingin, dan tidak bisa memutuskan apakah aku ingin menangis atau tertawa.
- 1 Bab 1 — Order Pertama
- 2 Bab 2 — Loteng
- 3 Bab 3 — Vendor yang Tidak Mau Menatap
- 4 Bab 4 — Pelanggan Ukuran S
- 5 Bab 5 — Serutan
- 6 Bab 6 — Sendok Pak Darsa
- 7 Bab 7 — Revisi Ketujuh
- 8 Bab 8 — Kutubaru
- 9 Bab 9 — Tolong Diam
- 10 Bab 10 — Koh Hendra Datang ke Bandung
- 11 Bab 11 — Tangan yang Luka
- 12 Bab 12 — Harga Penuh
- 13 Bab 13 — Jati yang Baru Diampelas
- 14 Bab 14 — Pak Bram
- 15 Bab 15 — Pegang yang Benar
- 16 Bab 16 — Truk Pengiriman
- 17 Bab 17 — Mitos
- 18 Bab 18 — Kontrak Lembang
- 19 Bab 19 — Stapler Biru reading
- 20 Bab 20 — Tempat Orang Berhenti
- 21 Bab 21 — Ridwan dan TikTok
- 22 Bab 22 — Rooftop
- 23 Bab 23 — Undangan
- 24 Bab 24 — Kebaikan yang Salah Tempat
- 25 Bab 25 — Brokat Bukan Merek Lem
- 26 Bab 26 — Struk
- 27 Bab 27 — Tulisan Tangan
- 28 Bab 28 — Aku Cuma Beli Waktu
- 29 Bab 29 — Biasa Aja, Pram?
- 30 Bab 30 — Loteng
- 31 Bab 31 — Giliranku
- 32 Bab 32 — Cicilan Pertama
- 33 Bab 33 — Ukuran Jas
- 34 Bab 34 — Kutubaru untuk Satu Orang
- 35 Bab 35 — Bapak Juga Nggak
- 36 Bab 36 — Harga Penuh, Tanpa Cicilan
- 37 Bab 37 — Lima Tahun Menahan Diri
- 38 Bab 38 — Pembeli Pertamaku
- 39 Bab 39 — Nggak Ada yang Biasa Aja
- 40 Epilog — Rumah dari Kayu