Chapter Sixteen
Bab 16 — Truk Pengiriman
POV: Dara
“Mbak nggak harus ikut,” kata Tiwi untuk ketujuh kalinya, sambil membuntutiku turun tangga dari lantai tiga ke parkiran. “Pengiriman properti itu urusan vendor. Mbak cukup datang besok pagi, lihat semuanya udah terpasang, terus tepuk tangan.”
“Aku mau lihat sendiri.”
“Mbak, ini jam delapan malam. Gedung Merdeka baru bisa dimasuki jam sebelas, karena ada resepsi pernikahan di ruang sebelah. Bongkar muatnya bisa sampai jam tiga pagi.”
“Aku tahu.”
“Mbak besok jam sembilan ada fitting model gelombang tiga.”
“Aku tahu, Wi.”
Tiwi berhenti di anak tangga terakhir. Ia menatapku dengan tangan di pinggang dan ekspresi seorang ibu yang anaknya mau ikut kemah padahal besok ujian.
“Mbak ikut bukan buat lihat properti,” katanya.
Aku tidak menjawab. Aku membuka pintu mobil.
“Mbak,” panggil Tiwi sekali lagi, kali ini lebih pelan. “Bawa jaket. Gedung Merdeka dingin. Dan...” Ia ragu sebentar. “Dan kalau Mbak ngantuk, jangan tidur di bahu orang sembarangan.”
“Wi!”
“Kecuali bahunya bahu tukang kayu,” tambahnya cepat, lalu kabur ke atas sebelum aku bisa melempar apa pun.
Di workshop Kayuku, sebuah truk engkel sewaan sudah terparkir di halaman dengan pintu bak terbuka. Lampu sorot dipasang di tiang, menerangi dua belas rangka jendela kayu suar yang sedang diangkat satu per satu ke atas bak, dibungkus selimut tebal dan diikat tali.
Mang Ujang memberi aba-aba dari bawah. Ridwan menahan dari atas. Prama mengangkat.
Ia mengangkat rangka jendela setinggi dua meter itu seorang diri, dari tanah ke bak truk, dengan gerakan yang terlalu tenang untuk beban seberat itu. Kaus hitamnya basah keringat di punggung. Sarung tangan XL yang kubelikan terpasang di kedua tangannya.
Aku berdiri di pinggir halaman dan memandanginya. Lama sekali.
“Teteh,” bisik Sasa, yang berdiri di sampingku dengan termos teh. “Teteh ngiler.”
“Nggak.”
“Dikit, Teh.”
Aku menyikut Sasa pelan. Ia terkikik.
Pintu besar mahoni dengan kaca patri embun dimuat terakhir. Prama yang mengangkatnya, bersama Mang Ujang, sangat hati-hati, seperti mengangkat sesuatu yang bisa bernapas. Ia memeriksa setiap ikatan dua kali. Menyelipkan busa di setiap sudut. Menutup kaca patri dengan tiga lapis selimut.
Setelah semuanya terikat, ia melompat turun dari bak, melepas sarung tangan, dan mengusap dahinya. Lalu ia menoleh dan melihatku.
“Kamu ikut?” tanyanya. Bukan kaget. Lebih seperti sudah tahu.
“Ikut.”
“Mang Ujang sama Ridwan naik pikap di belakang. Truknya cuma muat dua orang di depan.”
“Oke.”
“Berarti kamu...” Ia berhenti.
“Di depan,” kataku. “Sama kamu.”
Ia menatapku sebentar. Lalu mengangguk, berbalik, dan membuka pintu penumpang truk untukku tanpa sepatah kata pun. Tapi aku melihat telinganya. Merah, di bawah lampu sorot.
Perjalanan dari Cigadung ke Jalan Asia Afrika cuma dua puluh menit. Tapi kami tiba jam sembilan kurang sepuluh, dan resepsi pernikahan di ruang sebelah Gedung Merdeka ternyata belum selesai. Petugas keamanan gedung menghampiri jendela truk dan menggeleng dengan wajah penuh penyesalan.
“Maaf, Pak, Bu. Bongkar muat baru bisa jam sebelas. Paling cepat. Tamunya masih banyak. Kalau truk masuk sekarang, nanti ganggu parkiran tamu.”
Jadi kami menunggu.
Truk diparkir di jalan samping gedung, di bawah pohon besar yang daunnya bergerak pelan karena angin malam. Pikap Kayuku parkir di belakang kami. Lewat kaca spion, aku bisa melihat Mang Ujang sudah menurunkan sandaran kursinya dan memejamkan mata, dan Ridwan sudah memegang ponsel dengan cahaya biru yang menyinari wajahnya.
Di kabin truk, cuma ada kami berdua.
Kabin itu sempit. Lebih sempit dari yang kukira. Kursi panjangnya dari vinil hitam yang sudah retak di beberapa tempat. Dasbornya penuh debu dan stiker lama. Di kaca depan, tergantung pengharum mobil berbentuk pohon cemara yang wanginya sudah lama hilang.
Dan di antara kami, cuma ada jarak sekitar dua jengkal. Tidak ada meja. Tidak ada rangka jendela. Tidak ada jarak satu meja yang biasa ia jaga.
Ia duduk di balik setir, tangan di pangkuan, menatap jalan di depan. Aku duduk di kursi penumpang, kaki ditekuk, menatapnya.
“Kamu nggak harus nemenin aku ngobrol,” katanya tanpa menoleh. “Kalau mau tidur, tidur aja. Nanti saya bangunin.”
“Aku nggak ngantuk.”
“Oke.”
Hening. Dari kejauhan, terdengar suara musik dari resepsi. Lagu cinta yang dinyanyikan penyanyi kafe dengan suara serak, lewat pengeras suara yang terlalu keras.
“Mas Prama.”
“Ya.”
“Kamu pernah jatuh cinta?”
Tangannya, yang tergeletak di pangkuan, bergerak sedikit. Jari-jarinya mengepal, lalu terbuka lagi.
“Pernah,” katanya.
Sesuatu yang dingin mengalir di perutku. Aku tidak tahu kenapa. Aku yang bertanya. Aku seharusnya siap dengan jawabannya.
“Sama siapa?” tanyaku, sesantai mungkin.
Ia diam lama. Musik dari resepsi berganti lagu. Lalu ia berkata, sangat pelan, ke kaca depan:
“Sama orang yang nggak tahu.”
“Nggak tahu kalau kamu suka sama dia?”
“Nggak tahu apa-apa soal saya.”
Aku menatap profilnya. Rahangnya yang tegas. Bekas luka kecil di alisnya. Matanya yang menatap jalan, tapi tidak melihat jalan. Melihat sesuatu yang jauh.
“Kenapa nggak kamu bilang?”
“Karena dia nggak perlu tahu.”
“Semua orang perlu tahu kalau ada yang sayang sama mereka.”
“Nggak semua.” Ia akhirnya menoleh, sekilas, lalu kembali ke kaca depan. “Kadang, kalau orang tahu, mereka jadi merasa berutang. Dan saya nggak mau dia berutang apa pun.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Ada rasa sakit kecil di dadaku, tajam dan aneh, dan aku tidak mau memeriksanya terlalu dalam. Seseorang di luar sana dicintai oleh laki-laki ini. Dicintai dengan cara yang tidak mau membuatnya berutang. Dan orang itu tidak tahu.
Aku memikirkan perempuan itu. Siapa pun dia. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasakan sesuatu yang sangat, sangat mirip iri.
“Dia beruntung,” kataku pelan.
Ia tidak menjawab. Tapi setelah beberapa saat, ia bertanya, masih ke kaca depan:
“Kamu pernah?”
“Pernah apa?”
“Jatuh cinta.”
Aku tertawa kecil, tanpa suara. “Waktu SMA. Kakak kelas. Dia nggak tahu namaku.”
“Setelah itu?”
“Setelah itu kuliah. Terus Embun. Terus DARA.” Aku memeluk lututku lebih erat. “Lima tahun ini aku pacaran sama mesin jahit, Mas. Mesin jahit nggak pernah ninggalin aku. Nggak pernah bilang aku terlalu sibuk.”
“Banyak yang ngantri,” katanya pelan. “Saya dengar dari kru lighting.”
Aku menoleh. “Kamu dengar gosip kru lighting?”
“Mereka ngomongnya keras. Di atas tangga.”
Aku menghela napas dan menyandarkan kepala ke kaca jendela. Dingin.
“Mereka suka mukaku,” kataku. “Bukan aku. Mas Ardi kirim bunga tiap minggu, tapi dia nggak pernah nanya aku lagi bikin apa. Fotografer dari Jakarta ngajak makan siang, tapi sepanjang makan dia cuma ngomongin angle foto. Semua orang lihat aku kayak lihat... manekin di etalase. Cantik, dipajang, nggak perlu ditanya isinya.”
Hening. Musik dari resepsi sudah berganti lagi.
“Saya nggak lihat kamu kayak manekin,” katanya, sangat pelan.
“Terus kamu lihat aku kayak apa?”
Ia tidak menjawab. Tapi tangannya, yang tergeletak di pangkuan, pelan-pelan pindah ke kursi vinil di antara kami. Telapak tangan ke bawah. Jari-jari sedikit terbuka.
Seperti pintu yang dibiarkan tidak terkunci.
Aku tidak sengaja tertidur.
Aku ingat jam sepuluh lewat. Aku ingat musik resepsi berganti dari lagu cinta jadi dangdut koplo, dan aku tertawa kecil karena teringat Mang Ujang. Aku ingat udara di kabin mulai dingin, dan aku menarik kardigan lebih rapat. Aku ingat mataku berat.
Aku juga ingat, samar-samar, di antara sadar dan tidak, tanganku bergerak di atas kursi vinil.
Tangannya masih di sana. Tergeletak di kursi di antara kami, telapak tangan ke bawah, jari-jari sedikit terbuka. Di tempat yang sama sejak ia tidak menjawab pertanyaanku. Menunggu, seperti pintu yang tidak dikunci.
Jari-jariku menyentuh punggung tangannya. Kasar. Hangat. Bekas luka kecil yang menonjol.
Ia tidak bergerak.
Aku menyelipkan jari-jariku di antara jari-jarinya. Pelan. Satu per satu. Telunjuk, tengah, manis, kelingking. Seperti menyelipkan benang di lubang jarum.
Tangannya kaku sesaat. Lalu, sangat pelan, jari-jarinya menutup. Menggenggam.
Itu hal terakhir yang kuingat sebelum kepalaku jatuh ke bahunya dan dunia jadi gelap dan hangat dan wangi jati.
Yang membangunkanku adalah ketukan di kaca jendela.
Aku membuka mata. Lampu jalan kuning. Pohon besar. Wajah Mang Ujang di balik kaca jendela pengemudi, dengan kumis tebal dan senyum yang sangat, sangat lebar.
Dan bahu.
Pipiku menempel di bahu yang keras dan hangat, di atas kaus hitam yang wangi jati dan keringat yang sudah mengering. Tanganku masih menggenggam tangan besar di atas kursi vinil. Jari-jari kami masih bertaut.
Aku mengangkat kepala dengan sangat cepat. Leherku berbunyi.
“Maaf,” kataku, setengah sadar. “Maaf, aku... jam berapa?”
“Dua belas lewat dua puluh,” kata Prama.
Suaranya aneh. Serak, rendah, seperti orang yang tidak bicara sangat lama. Ia masih menatap kaca depan. Ia tidak bergerak. Tangannya masih di kursi, di tempat yang sama, meskipun jari-jariku sudah lepas dari jari-jarinya.
“Dua belas lewat dua puluh,” ulangku. “Aku tidur dari jam sepuluh?”
“Sepuluh lewat lima belas.”
“Dua jam.”
“Iya.”
Aku menatapnya. Ia duduk dengan punggung tegak, bahu kanan sedikit lebih rendah dari bahu kiri, persis di tempat kepalaku tadi bersandar. Kepalanya sedikit miring ke kiri, menjauh, seperti sengaja memberi ruang. Tangannya di kursi, terbuka, di tempat yang sama.
Ia tidak bergerak. Dua jam. Dengan kepalaku di bahunya dan tanganku di tangannya.
Mang Ujang mengetuk kaca lagi. Prama akhirnya bergerak untuk menurunkan kaca jendela, dan aku melihatnya meringis sangat sedikit ketika mengangkat lengan kanannya. Lengan yang tadi menjadi bantalku.
“A,” kata Mang Ujang. “Satpamna tos ngizinan. Tamu-tamu tos uih. Urang bisa asup ayeuna.”
“Iya, Mang. Sebentar.”
Mang Ujang tidak langsung pergi. Ia mencondongkan kepalanya ke dalam jendela, melewati Prama, dan menatapku dengan mata yang berkilau di bawah lampu jalan.
“Teh,” bisiknya. “Dua jam A Prama teu obah. Abdi ningali tina pikap. Teu obah pisan. Nyengir ge henteu. Siga patung.”
“Mang,” kata Prama.
“Abdi ngan ngabejaan, A.” Mang Ujang menarik kepalanya kembali dan berjalan ke arah pikap, bersiul.
Aku menatap Prama. Ia menatap setir.
“Bahumu,” kataku. “Pegal?”
“Nggak.”
“Mas.”
“Sedikit.”
“Kenapa kamu nggak bangunin aku?”
Ia diam. Lalu ia membuka pintu truk, dan sebelum turun, ia berkata, sangat pelan, tanpa menoleh:
“Kamu tidurnya nyenyak.”
Ia turun. Pintu truk tertutup. Aku duduk sendirian di kabin yang sempit, dengan pengharum cemara yang tidak wangi dan kursi vinil yang retak, menatap telapak tanganku sendiri.
Aku masih bisa merasakan jari-jarinya di antara jari-jariku.
Bongkar muat selesai jam tiga kurang seperempat pagi.
Aku tidak membantu. Aku tidak diizinkan. Setiap kali aku mencoba mengangkat sesuatu, bahkan cuma selimut pembungkus, Prama atau Mang Ujang atau Ridwan akan muncul dan mengambilnya dari tanganku dengan sopan tapi tegas.
Jadi aku duduk di kursi lipat di tepi ruangan dan menonton.
Di bawah lampu kerja yang terang, Gedung Merdeka terlihat berbeda. Bukan gedung bersejarah yang megah dan dingin. Tapi ruang kosong yang menunggu diisi. Pilar-pilar besar berdiri seperti penjaga. Lantai marmernya memantulkan cahaya.
Dan di tengah semua itu, pelan-pelan, panggungku tumbuh.
Rangka jendela pertama berdiri di sisi kiri. Lalu yang kedua. Lalu ketiga. Mereka berjajar seperti deretan rumah tua di gang sempit, dengan daun jendela yang terbuka sedikit, menunggu kain untuk digantung. Lalu pintu besar mahoni, di ujung, dengan kaca patri embun yang menangkap cahaya lampu kerja dan memecahnya jadi kilau-kilau kecil di lantai.
Prama berdiri di depan pintu itu lama sekali setelah semuanya terpasang. Tangannya menyentuh kusen, menyusuri ukiran melati satu per satu. Lalu ia mundur selangkah, dan selangkah lagi, dan berdiri di tengah panggung yang belum jadi, menatap pintu itu dari jauh, seperti orang yang menatap rumahnya sendiri.
Aku berjalan ke sampingnya.
“Bagus,” kataku.
“Belum selesai. Lantainya belum.”
“Tapi udah bagus.”
Ia menoleh. Matanya merah, lelah, ada lingkaran gelap di bawahnya. Rambutnya berantakan. Ada serbuk kayu di alisnya, dan lengan kanannya masih ia gerakkan pelan-pelan, seperti masih pegal.
Ia laki-laki paling lelah yang pernah kulihat. Dan ia baru saja membangun hal paling indah yang pernah kulihat.
“Mas Prama,” kataku.
“Ya.”
“Perempuan yang kamu ceritain tadi. Yang nggak tahu.”
Ia membeku.
“Kalau suatu hari dia tahu,” lanjutku pelan, menatap pintu embun, bukan dia, “aku harap dia nggak cuma merasa berutang. Aku harap dia juga ngerasa...”
Aku berhenti. Aku tidak tahu kata apa yang tepat.
“Ngerasa apa?” tanyanya. Suaranya hampir tidak terdengar.
“Beruntung,” kataku. “Aku harap dia ngerasa beruntung banget.”
Aku tidak menoleh untuk melihat wajahnya. Aku tidak berani. Aku cuma berdiri di sampingnya, di tengah panggung yang belum jadi, di depan pintu yang menangkap cahaya, dan menunggu sampai matahari pertama muncul di jendela-jendela tinggi Gedung Merdeka.
- 1 Bab 1 — Order Pertama
- 2 Bab 2 — Loteng
- 3 Bab 3 — Vendor yang Tidak Mau Menatap
- 4 Bab 4 — Pelanggan Ukuran S
- 5 Bab 5 — Serutan
- 6 Bab 6 — Sendok Pak Darsa
- 7 Bab 7 — Revisi Ketujuh
- 8 Bab 8 — Kutubaru
- 9 Bab 9 — Tolong Diam
- 10 Bab 10 — Koh Hendra Datang ke Bandung
- 11 Bab 11 — Tangan yang Luka
- 12 Bab 12 — Harga Penuh
- 13 Bab 13 — Jati yang Baru Diampelas
- 14 Bab 14 — Pak Bram
- 15 Bab 15 — Pegang yang Benar
- 16 Bab 16 — Truk Pengiriman reading
- 17 Bab 17 — Mitos
- 18 Bab 18 — Kontrak Lembang
- 19 Bab 19 — Stapler Biru
- 20 Bab 20 — Tempat Orang Berhenti
- 21 Bab 21 — Ridwan dan TikTok
- 22 Bab 22 — Rooftop
- 23 Bab 23 — Undangan
- 24 Bab 24 — Kebaikan yang Salah Tempat
- 25 Bab 25 — Brokat Bukan Merek Lem
- 26 Bab 26 — Struk
- 27 Bab 27 — Tulisan Tangan
- 28 Bab 28 — Aku Cuma Beli Waktu
- 29 Bab 29 — Biasa Aja, Pram?
- 30 Bab 30 — Loteng
- 31 Bab 31 — Giliranku
- 32 Bab 32 — Cicilan Pertama
- 33 Bab 33 — Ukuran Jas
- 34 Bab 34 — Kutubaru untuk Satu Orang
- 35 Bab 35 — Bapak Juga Nggak
- 36 Bab 36 — Harga Penuh, Tanpa Cicilan
- 37 Bab 37 — Lima Tahun Menahan Diri
- 38 Bab 38 — Pembeli Pertamaku
- 39 Bab 39 — Nggak Ada yang Biasa Aja
- 40 Epilog — Rumah dari Kayu