Chapter Thirty One
Bab 31 — Giliranku
POV: Dara
Aku mengirim pesan jam enam pagi.
Selamat pagi, Mas.
Lalu, satu detik kemudian, sebelum ia sempat membalas:
Ini aku yang kirim duluan. Catat.
Balasannya datang dalam dua menit. Ia sudah bangun. Atau mungkin, seperti aku, ia tidak benar-benar tidur setelah kami turun dari loteng jam sepuluh malam dan ia mengantarku sampai mobil, dan berdiri di halaman sampai lampu mobilku hilang di belokan, dan tidak mengikutiku.
Ia tidak mengikutiku. Aku memperhatikan kaca spion sepanjang jalan. Tidak ada lampu bulat dengan sisi kiri yang redup.
Selamat pagi, Dara.
Itu saja. Tiga kata. Aku menatap layar, menunggu titik tiga muncul lagi. Tidak muncul.
Aku cemberut ke ponselku seperti remaja.
Aku tiba di Kayuku jam sepuluh dengan kotak kue lapis dan rencana yang belum sepenuhnya jadi.
Workshop sudah ramai lagi. Radio dangdut menyala. Lagu tentang seseorang yang akhirnya dilamar setelah menunggu sepuluh tahun. Mang Ujang yang memilihnya, aku yakin. Ia sedang bersiul di meja kerjanya dengan volume yang tidak masuk akal.
“Teteeeh!” Sasa melambai dari meja admin dengan wajah yang bengkak tapi berseri-seri. “Selamat pagi, Teh! Teteh cantik banget pagi ini!”
“Pagi, Sa.” Aku meletakkan kotak kue di mejanya. Lalu, karena aku tidak bisa menahan diri, aku mengeluarkan sebuah kotak lain dari tas jinjingku. Kotak putih dengan pita krem. “Ini buat kamu. Ukuran S.”
Sasa membeku. “Teh...”
“Aku udah janji. Waktu aku kira kamu pelanggan setiaku.” Aku tersenyum. “Kamu memang pelanggan setiaku, Sa. Lima tahun kamu bawa bajuku naik angkot ke sini. Itu lebih setia dari siapa pun.”
Sasa menangis. Lagi. Ia memeluk kotak itu, lalu memelukku, lalu memeluk kotak itu lagi.
“Udah, Sa, nanti maskaramu luntur,” kata Ridwan dari tangga.
“Aku nggak pakai maskara, Wan!”
“Makanya, nanti mukamu luntur.”
Sasa melempar stapler ke arahnya. Mang Ujang menangkapnya di udara tanpa berhenti bersiul.
Lalu aku menoleh ke meja paling ujung.
Prama sedang mengampelas. Ia sudah melihatku. Aku tahu, karena tangannya bergerak terlalu lambat, terlalu hati-hati, seperti orang yang sedang berusaha terlihat sibuk. Ia tidak menoleh. Ia tidak menyapa.
Aku berjalan ke sana. Berhenti di sampingnya.
“Pagi, Mas.”
Ia mengangkat kepala. Menatapku. Matanya masih sedikit merah, tapi lingkaran gelap di bawahnya sudah tidak sedalam kemarin.
“Pagi, Mbak Dara.”
Aku berkedip.
“Mbak?”
Ia menatap ampelas di tangannya. “Pagi, Dara.”
“Kamu barusan bilang Mbak.”
“Kebiasaan.”
“Kamu udah dua bulan panggil aku Dara. Dari aku yang nyuruh. Dan pagi ini, setelah semalam kamu meluk aku dua jam di loteng, kamu panggil aku Mbak?”
Di belakangku, Mang Ujang berhenti bersiul. Sasa berhenti menangis. Ridwan menurunkan ponselnya, yang entah kapan sudah diangkat lagi.
Prama meletakkan ampelas. Ia menarik napas panjang, dan aku melihatnya mengumpulkan sesuatu. Kata-kata, mungkin. Atau keberanian.
“Dara,” katanya pelan. “Bisa kita ngomong? Di belakang?”
Ruang belakang workshop. Jendela yang menghadap kebun singkong. Rangka-rangka jendela mini yang berderet di dinding, empat buah, padahal aku cuma memesan dua.
Ia berdiri di dekat jendela. Aku berdiri di dekat pintu. Jarak satu meja, lagi.
“Semalam,” katanya, menatap kebun, “kamu baca suratnya. Kamu tahu semuanya sekarang.”
“Iya.”
“Dan saya takut.”
Aku menunggu.
“Saya takut kamu ngelakuin ini karena ngerasa harus.” Ia akhirnya menoleh. “Karena kamu baca angka-angkanya. Karena kamu lihat lemarinya. Karena kamu ngerasa berutang. Mesin, kontrak, lima tahun. Dan sekarang kamu ngerasa harus bales, dan cara balesnya...”
“Cara balesnya apa?”
“Datang ke sini. Bawa kue. Bilang Mas.” Suaranya pelan. “Saya nggak mau dibales, Dara. Dari dulu saya nggak mau. Itu satu-satunya yang saya takutin, lebih dari kamu benci saya. Saya takut kamu berdiri di depan saya karena kasihan. Atau karena utang.”
Aku menatapnya lama.
Lalu aku berjalan ke arahnya. Satu langkah. Dua. Tiga. Jarak satu meja jadi setengah meja jadi tidak ada meja.
Aku berdiri tepat di depannya. Aku harus menengadah untuk menatap wajahnya.
“Mas Prama. Dengerin aku baik-baik, karena aku cuma mau ngomong ini sekali.”
Ia diam.
“Aku nggak berutang.” Aku meraih tangan kirinya. Tangan yang penuh bekas luka. Tujuh garis merah muda yang baru di antara garis-garis putih yang lama. “Aku jatuh cinta.”
Ia membeku.
“Itu beda,” lanjutku. “Utang itu kalau aku ngerasa harus bayar. Jatuh cinta itu kalau aku mau ngasih, padahal nggak ada yang nagih.”
Aku menyelipkan jari-jariku di antara jari-jarinya. Seperti di kabin truk. Telunjuk. Tengah. Manis. Kelingking.
“Kamu yang ngajarin aku bedanya, Mas. Lima tahun kamu ngasih, padahal nggak ada yang nagih. Itu bukan utang. Itu cinta. Dan sekarang giliranku.”
Tangannya kaku di genggamanku. Lalu, pelan, sangat pelan, jari-jarinya menutup.
“Dara...”
“Lima tahun kamu beli bajuku,” kataku, dan aku tersenyum, dan aku tahu lesung pipitku muncul, karena matanya langsung jatuh ke sana. “Sekarang giliranku. Aku mau beli kamu.”
Telinganya merah. Dari ujung sampai pangkal. Dalam waktu dua detik.
“Saya...” Ia menelan ludah. “Saya nggak dijual.”
“Semua bisa dinego.”
“Dara.”
“Harganya berapa?” Aku mencondongkan badan sedikit. “Kamu kan selalu bilang harga penuh. Aku bayar harga penuh. Nggak pakai diskon. Nggak pakai kode promo.”
Ia memejamkan mata. Napasnya keluar panjang, gemetar, seperti orang yang baru dipukul tepat di tempat yang tidak dijaga.
“Kamu nggak adil,” gumamnya.
“Aku belajar dari kamu.”
Aku tidak melepaskan tangannya ketika kami keluar dari ruang belakang.
Ia mencoba. Begitu kami melangkah melewati pintu, begitu ia melihat Mang Ujang dan Sasa dan Ridwan dan tiga tukang baru dan Pak Darsa yang baru datang, semua menatap ke arah kami, ia mencoba melepaskan tangannya. Pelan, sopan, seperti orang yang menarik pahat dari kayu yang terlalu keras.
Aku menggenggamnya lebih erat.
“Dara,” bisiknya. “Semua orang lihat.”
“Biar.”
“Mang Ujang...”
“Mang Ujang udah lima tahun nungguin ini. Kasih dia hiburan.”
Mang Ujang, yang jelas mendengar, mengangkat kedua tangannya ke udara dan berseru Alhamdulillah! dengan suara yang mengalahkan radio dangdut. Sasa menjerit dan memeluk kotak bajunya. Ridwan mengangkat ponsel, lalu, setelah ditatap Prama dengan tatapan yang bisa melelehkan baja, menurunkannya lagi dan mengangkat dua jempol sebagai gantinya.
Dan Pak Darsa, di bangkunya dekat pintu, menatap tangan kami yang bertautan dengan mata tua yang tiba-tiba berkaca-kaca. Ia tidak berdiri. Ia tidak berteriak. Ia cuma mengangguk pelan, sekali, lalu kembali memahat sendoknya.
“Tah kitu,” gumamnya. “Tah kitu, Pram. Ulah dileupaskeun.”
Prama berhenti mencoba menarik tangannya.
Aku menghabiskan sepanjang siang di Kayuku tanpa alasan resmi.
Aku duduk di kursi di samping meja kerjanya sementara ia mengampelas rangka jendela mini kelima, yang menurutnya buat cadangan, dan yang menurutku cuma alasan supaya tangannya punya sesuatu untuk dikerjakan sementara aku duduk terlalu dekat.
Aku tidak bekerja. Aku bertanya.
“Mas, makanan kesukaanmu apa?”
Ia berhenti mengampelas. Menatapku dengan bingung.
“Kenapa?”
“Jawab aja.”
“...Nasi tutug oncom. Yang di depan Pasar Kosambi. Ibu sering beliin.”
“Warna kesukaanmu?”
“Cokelat.”
“Cokelat apa? Ada seratus macam cokelat, Mas.”
Ia diam sebentar. “Jati yang baru diampelas.”
Aku menendang kakinya pelan di bawah meja. Ia hampir tersenyum.
“Lagu kesukaanmu?”
“Saya nggak punya.”
“Semua orang punya.”
“Saya dengerin yang Mang Ujang puter.”
“Mas, itu dangdut tentang perselingkuhan semua.”
“Yang tadi pagi bukan.”
Aku tertawa. “Yang tadi pagi tentang orang yang dilamar setelah nunggu sepuluh tahun.”
Ia diam. Telinganya merah lagi.
Aku terus bertanya. Tempat paling jauh yang pernah ia kunjungi (Kyoto, sekali, untuk pameran kerajinan, dan ia tersesat di stasiun selama empat jam). Hal paling memalukan waktu kecil (menangis karena tidak bisa menggambar kucing, padahal sudah bisa mengukir burung). Film terakhir yang ia tonton di bioskop (tidak ingat, mungkin enam tahun lalu, mungkin tentang robot).
Ia menjawab semuanya. Pelan. Kadang ragu. Kadang dengan wajah bingung, seperti orang yang tidak pernah ditanya hal-hal seperti ini dan tidak tahu harus berbuat apa dengan pertanyaan itu.
Dan aku sadar, Koh Hendra benar.
Dia nggak pernah ditanya.
Lima tahun ia tahu semua tentang aku. Bajuku, kainku, kos-ku, melati ibuku. Dan aku tidak tahu apa pun tentang dia, kecuali yang ia izinkan aku tahu.
Sekarang giliranku.
Jam tiga sore, aku keluar ke halaman dan menelepon Koh Hendra.
Ia mengangkat di dering pertama, seperti orang yang sudah menunggu.
“Mbak Dara?” Suaranya hati-hati. “Saya... saya udah di Jakarta, Mbak. Transit. Sore ini pulang ke Singapura.”
“Koh,” kataku. “Undanganku masih berlaku.”
Hening.
“Mbak...”
“Kursi paling depan. Buat Koh, dan buat Bu Wati. Bukan sebagai pemilik Maison Lumière.” Aku menatap pintu workshop, tempat aku bisa melihat punggung Prama yang membungkuk di atas meja kerjanya. “Sebagai orang yang lima tahun lalu ikut nolong aku tanpa tahu kenapa. Dan sebagai orang yang terbang dari Singapura buat minta maaf ke aku, padahal nggak ada yang nyuruh.”
Lama sekali Koh Hendra tidak menjawab. Lalu aku mendengar suara aneh di ujung sana. Seperti orang yang membuang ingus dengan sangat keras di bandara.
“Wati nggak pernah ke acara fashion, Mbak,” katanya akhirnya, serak. “Dia bakal pakai baju yang salah.”
“Aku yang bikinin bajunya, Koh. Kirim ukurannya.”
“Mbak...”
“Dan Koh. Satu lagi.” Aku tersenyum. “Di malam show, aku mau cerita yang sebenarnya. Di panggung. Semuanya. Maison Lumière, Sabuga, toko lampu di Tuas. Aku nggak mau ada bohong lagi. Tapi jangan bilang dia. Dia nggak boleh tahu sampai malam itu.”
“Pram nggak akan suka, Mbak. Dia nggak suka dilihat.”
“Aku tahu.” Aku menatap punggung itu lagi. Bahu yang lebar, yang sedikit membungkuk karena terlalu lama bekerja di meja yang terlalu rendah. “Justru itu, Koh. Lima tahun dia nggak pernah dilihat. Udah waktunya.”
Koh Hendra tertawa. Tawa yang basah dan lega.
“Mbak tahu nggak,” katanya, “gua udah dua puluh tahun jadi importir. Gua udah lihat barang mahal dari seluruh dunia. Tapi baru sekarang gua ngerti kenapa Pram nggak pernah nawar baju Mbak.”
“Kenapa, Koh?”
“Karena ada barang yang nilainya nggak bisa diitung pakai kalkulator.”
Ia menutup telepon sebelum aku bisa menjawab.
Aku berdiri di halaman sebentar, di bawah matahari Cigadung yang mulai condong, dengan ponsel di tangan dan dada yang terasa penuh. Lalu aku menelepon Tiwi.
“Mbak?”
“Wi, kita ubah rundown show. Segmen penutup.”
“Diubah gimana, Mbak?”
“Aku mau bicara. Lima menit. Sebelum bow.” Aku menarik napas. “Dan siapin satu kursi lagi di barisan depan. Di sebelah Ayah.”
Hening sebentar. Lalu suara Tiwi, pelan dan sangat lembut:
“Buat Mas Kayu, Mbak?”
“Namanya Prama, Wi.”
“Iya, Mbak. Aku tahu.” Aku bisa mendengar senyumnya. “Aku cuma pengin denger Mbak nyebut namanya kayak gitu.”
Menjelang Magrib, sebelum pulang, aku bertanya pertanyaan terakhir.
Kami berdiri di ambang pintu workshop. Langit Cigadung berwarna jingga kotor di atas kebun singkong. Tangannya masih di tanganku. Sepanjang siang, aku tidak benar-benar melepaskannya, kecuali ketika ia harus memegang ampelas dengan dua tangan.
“Mas.”
“Ya.”
“Kamu mau apa?”
Ia menatapku. “Maksudnya?”
“Kamu mau apa. Dari aku. Dari hidup. Dari apa pun.” Aku meremas tangannya. “Lima tahun kamu ngasih. Sekarang aku nanya. Kamu mau apa?”
Ia membuka mulut. Lalu menutupnya. Lalu membukanya lagi.
Tidak ada yang keluar.
Aku melihatnya mencari. Di dalam kepalanya, di dalam dadanya. Seperti orang yang meraba-raba laci di ruangan yang gelap, mencari sesuatu yang ia tidak pernah tahu ia simpan. Dan aku melihat wajahnya ketika ia sadar bahwa ia tidak tahu. Bahwa selama lima tahun, mungkin lebih lama, mungkin sejak sebelas tahun lalu ketika ibunya meninggal, ia tidak pernah bertanya pada dirinya sendiri apa yang ia mau.
“Saya nggak tahu,” bisiknya akhirnya.
Hatiku pecah sedikit. Dengan cara yang lembut.
“Oke,” kataku. “Itu PR.”
“PR?”
“Pekerjaan rumah. Show-nya sebelas hari lagi. Sebelum show, kamu harus jawab. Kamu mau apa.”
“Kalau saya nggak bisa jawab?”
“Kamu bisa.” Aku berjinjit dan, tanpa memberinya waktu untuk kabur, menempelkan bibirku ke pipinya. Lebih lama dari di parkiran Braga. Cukup lama sampai aku merasakan rahangnya mengeras di bawah bibirku, dan napasnya berhenti. “Kamu bisa milih kayu cuma dengan ngetuk. Kamu pasti bisa milih apa yang kamu mau.”
Aku melepaskan tangannya, akhirnya, dan berjalan ke mobil.
Di belakangku, aku mendengar suara Mang Ujang, keras, jelas, dan sangat bahagia:
“A! Ditanya mau naon, A! Jawab atuh! Teteh! Jawabanna Teteh!”
Dan suara Prama, rendah dan putus asa:
“Mang.”
Aku tertawa sepanjang jalan pulang ke Dago. Dan kali ini, ketika aku melirik kaca spion, aku tidak mencari lampu pikap dengan sisi kiri yang redup.
Aku tahu ia ada di sana. Bukan di belakangku. Di sampingku. Di mana pun ia memilih untuk berdiri mulai sekarang.
Aku cuma perlu menunggu ia menyadarinya juga.
- 1 Bab 1 — Order Pertama
- 2 Bab 2 — Loteng
- 3 Bab 3 — Vendor yang Tidak Mau Menatap
- 4 Bab 4 — Pelanggan Ukuran S
- 5 Bab 5 — Serutan
- 6 Bab 6 — Sendok Pak Darsa
- 7 Bab 7 — Revisi Ketujuh
- 8 Bab 8 — Kutubaru
- 9 Bab 9 — Tolong Diam
- 10 Bab 10 — Koh Hendra Datang ke Bandung
- 11 Bab 11 — Tangan yang Luka
- 12 Bab 12 — Harga Penuh
- 13 Bab 13 — Jati yang Baru Diampelas
- 14 Bab 14 — Pak Bram
- 15 Bab 15 — Pegang yang Benar
- 16 Bab 16 — Truk Pengiriman
- 17 Bab 17 — Mitos
- 18 Bab 18 — Kontrak Lembang
- 19 Bab 19 — Stapler Biru
- 20 Bab 20 — Tempat Orang Berhenti
- 21 Bab 21 — Ridwan dan TikTok
- 22 Bab 22 — Rooftop
- 23 Bab 23 — Undangan
- 24 Bab 24 — Kebaikan yang Salah Tempat
- 25 Bab 25 — Brokat Bukan Merek Lem
- 26 Bab 26 — Struk
- 27 Bab 27 — Tulisan Tangan
- 28 Bab 28 — Aku Cuma Beli Waktu
- 29 Bab 29 — Biasa Aja, Pram?
- 30 Bab 30 — Loteng
- 31 Bab 31 — Giliranku reading
- 32 Bab 32 — Cicilan Pertama
- 33 Bab 33 — Ukuran Jas
- 34 Bab 34 — Kutubaru untuk Satu Orang
- 35 Bab 35 — Bapak Juga Nggak
- 36 Bab 36 — Harga Penuh, Tanpa Cicilan
- 37 Bab 37 — Lima Tahun Menahan Diri
- 38 Bab 38 — Pembeli Pertamaku
- 39 Bab 39 — Nggak Ada yang Biasa Aja
- 40 Epilog — Rumah dari Kayu