← Pembeli Pertamamu

Chapter Thirty Seven

Bab 37 — Lima Tahun Menahan Diri

POV: Dara

Malam sebelum show, hujan turun di Cigadung.

Bukan hujan deras yang membuat jalan kecil berubah jadi sungai. Hujan yang pelan. Tetap. Seperti seseorang yang menyiram tanaman dengan sabar. Bunyinya di atap seng bagian belakang workshop seperti ribuan jari yang mengetuk-ngetuk pelan, tidak terburu-buru.

Aku tiba jam delapan. Semua properti sudah di Gedung Merdeka sejak siang. Semua baju sudah tergantung di rak-rak kayu di ruang ganti, seratus dua puluh potong, masing-masing dengan label nama model dan urutan keluar. Tiwi sudah mengirimiku rundown final empat kali. Bu Imas sudah menyuruhku tidur empat kali.

Aku tidak tidur. Aku menyetir ke Cigadung.

Workshop masih terang. Semua lampu menyala. Dan ketika aku masuk, aku melihat semua orang ada di sana. Mang Ujang. Sasa. Ridwan. Tiga tukang yang sudah tidak baru lagi. Pak Darsa di bangkunya.

Semua orang berhenti bergerak ketika melihatku.

Lalu, seperti sudah direncanakan, mereka semua mulai berkemas.

“Euleuh, tos jam dalapan,” kata Mang Ujang keras-keras, menatap jam dinding dengan ekspresi terkejut yang sangat palsu. “Urang kudu uih. Isukan show. Kudu sare.”

“Iya, Mang! Kudu tidur!” Sasa sudah mengenakan jaket dan memeluk tasnya. “Besok harus bangun jam lima!”

“Aku juga!” Ridwan melompat dari tangga. “Aku harus... tidur. Banyak-banyak.”

Tiga tukang itu tidak bilang apa-apa. Mereka cuma mengambil tas mereka, mengangguk sopan padaku, dan keluar dalam satu barisan, seperti tentara yang menerima perintah.

Pak Darsa yang terakhir. Ia berdiri dari bangkunya pelan-pelan, memasukkan sendok setengah jadi ke saku kemeja batik, dan berjalan ke pintu. Ia berhenti di sampingku.

“Neng,” katanya pelan.

“Ya, Pak?”

Ia menatapku. Lalu menatap ke dalam workshop, ke meja paling ujung, tempat Prama berdiri dengan ampelas di tangan, mengampelas sesuatu yang tidak perlu diampelas.

“Isukan,” kata Pak Darsa, “Bapak hayang ningali anak Bapak seuri. Lain seuri satengah. Seuri nu utuh.”

Ia menepuk tanganku dua kali, lalu keluar ke hujan, membuka payung hitam yang sudah tua.

Mang Ujang berhenti di ambang pintu, di belakang semua orang. Ia menoleh ke dalam, ke Prama.

“A,” katanya. “Kuncina di handapeun pot di hareup. Abdi moal balik deui nepi ka isuk.”

“Mang...”

“Wilujeng wengi, A.” Mang Ujang mengedipkan mata padaku. Kedipan yang terlalu lama dan terlalu jelas. “Wilujeng wengi, Teh.”

Pintu tertutup.

Workshop tiba-tiba sangat sunyi. Cuma hujan di atap seng. Cuma lampu-lampu kuning. Cuma bau jati dan minyak tung dan tanah basah dari kebun di luar.

Cuma kami.


“Mereka ngusir diri sendiri,” kataku.

“Iya,” kata Prama. Ia masih memegang ampelas. Masih berdiri di meja paling ujung. Masih jarak satu meja, meskipun mejanya sepuluh meter dari tempatku berdiri.

“Kamu yang nyuruh?”

“Nggak.” Ia meletakkan ampelas. “Mang Ujang yang ngatur. Dari tadi siang. Dia bilang ke semua orang, peuting ieu, urang kudu ngaleungit.”

Aku tertawa. Tawa yang gugup. Aku tidak tahu kenapa aku gugup. Aku sudah menciumnya tiga kali. Aku sudah duduk di pangkuannya di rooftop. Aku sudah memeluknya di loteng, di parkiran, di depan ayahku.

Tapi malam ini berbeda. Malam ini, ia berjanji akan menjawab.

Aku berjalan ke arahnya. Pelan. Melewati meja panjang dekat jendela, tempat aku pertama kali menggambar pintu. Melewati tiang dengan kotak P3K raksasa dan kertas bertuliskan JANGAN DIPINDAH — PERINTAH DARA. Melewati bangku Pak Darsa dengan tiga sendok yang berjajar.

Aku berhenti di depannya.

“Jadi,” kataku.

“Jadi.”

“PR-nya.”

Ia menatapku. Lalu menatap pintu workshop yang terbuka sedikit, ke halaman, ke hujan yang jatuh di bawah lampu teras.

“Boleh di sana?” tanyanya. “Aku mau lihat hujan.”


Kami berdiri di ambang pintu workshop. Di bawah atap kecil yang menjorok ke halaman, cukup untuk melindungi kami dari hujan tapi tidak cukup untuk menghalangi angin yang membawa percikan air dan bau tanah basah.

Halaman Kayuku di bawah hujan. Pikap tua dengan lampu kiri yang redup. Mobilku di sebelah kanan. Papan nama kayu dengan huruf-huruf ukiran, basah, berkilau. Di kejauhan, kebun singkong yang gelap, daun-daunnya berdesir.

Aku berdiri di depan. Prama di belakangku.

Lalu aku merasakannya.

Lengannya. Melingkar di pinggangku. Dari belakang. Pelan, ragu di awal, seperti orang yang menyentuh sesuatu untuk pertama kalinya. Lalu, ketika aku tidak menolak, ketika aku malah bersandar ke belakang, ke dadanya, lengannya mengerat.

Dagunya di bahuku. Pipinya di pipiku. Napasnya hangat di telingaku.

Ia memelukku dari belakang. Seperti aku memeluknya di workshop seminggu lalu, setelah mengukur jas. Bedanya, kali ini ia yang mulai.

“Pram,” bisikku.

“Hm.”

“Kamu...”

“Aku tahu.” Suaranya rendah. Bergetar sedikit. “Biarin dulu. Sebentar.”

Aku membiarkannya. Aku meletakkan tanganku di atas tangannya, di depan perutku. Tangan yang kasar. Penuh bekas luka. Hangat.

Kami berdiri seperti itu, menatap hujan.

Lalu, dari kejauhan, kilat. Putih. Menerangi seluruh halaman selama sepersekian detik. Pikap. Papan nama. Kebun singkong.

Aku menahan napas. Menunggu.

Gemuruh. Jauh. Pelan. Bergulung di atas bukit-bukit Bandung utara.

Lengannya mengerat. Sedikit. Cukup.

Dan aku sadar aku tidak takut.

Pertama kali dalam hidupku. Dari kecil, petir selalu membuatku mencengkeram sesuatu. Ibu, waktu kecil. Bantal, waktu kuliah. Lengan bajunya, dua bulan lalu, di malam listrik padam. Tapi malam ini, dengan lengannya melingkar di pinggangku dari belakang dan dagunya di bahuku, petir cuma petir. Cahaya di langit. Suara di kejauhan.

“Kamu nggak takut,” bisiknya di telingaku.

“Nggak.”

“Kenapa?”

“Karena kamu di belakangku.” Aku menekan punggungku lebih rapat ke dadanya. “Kamu nggak cerita soal jati. Kamu cuma meluk. Dan itu cukup.”

Ia diam.

Hujan terus turun.


“Dara,” katanya akhirnya. Sangat pelan. Ke telingaku. “PR-nya.”

Aku menahan napas.

“Kamu nanya aku mau apa.” Lengannya mengerat. “Seminggu ini aku nyari. Di kepala. Di dada. Di saku kiri, kayak kata Bapak. Aku nemu banyak hal. Aku mau bau kayu habis hujan. Aku mau nasi tutug oncom di depan Pasar Kosambi. Aku mau lihat Kyoto lagi, tapi kali ini nggak nyasar.”

Aku tertawa kecil. Ia tertawa juga, di bahuku.

“Tapi itu semua kecil,” lanjutnya. “Yang besar...”

Ia berhenti. Aku merasakan dadanya naik dan turun di punggungku. Panjang. Seperti orang yang mengumpulkan semua napas yang ia punya.

“Lima tahun aku ngasih,” katanya. “Diam-diam. Biar kamu nggak tahu. Biar kamu nggak ngerasa berutang. Biar kamu bebas milih siapa pun. Aku pikir itu cinta. Aku pikir cinta itu ngasih tanpa diminta, tanpa dilihat, tanpa berharap.”

“Pram...”

“Tapi ternyata, di bawah semua itu, ada satu hal yang aku mau. Satu hal yang aku sembunyiin, bahkan dari diriku sendiri. Karena aku takut. Karena kalau aku mau, terus aku nggak dapet, aku nggak tahu harus gimana.”

Hujan. Atap seng. Jantungnya di punggungku, berdentum.

“Aku mau dipilih,” bisiknya.

Aku tidak bisa bernapas.

“Bukan dibeli. Bukan dibales. Bukan diterima karena kasihan atau karena utang. Dipilih.” Suaranya pecah. “Lima tahun aku beli bajumu supaya kamu tahu dunia milih kamu. Dan diam-diam, di bawah semuanya, aku pengin... aku pengin suatu hari ada yang milih aku. Kayak aku milih kamu di Sabuga. Tanpa alasan. Tanpa hitungan. Cuma karena... aku.”

Air mataku jatuh. Ke tangannya. Di depan perutku.

“Itu yang aku mau, Dara,” bisiknya. “Aku mau kamu milih aku.”


Aku berbalik.

Di dalam lengannya, aku berbalik, pelan, sampai aku menghadapnya. Lengannya masih melingkariku. Wajahnya cuma sejengkal dari wajahku. Matanya basah. Bibirnya gemetar.

“Pram,” kataku. “Aku udah milih.”

Ia menatapku.

“Dari rooftop. Dari loteng. Dari aku nggak berutang, aku jatuh cinta. Dari aku maunya kamu, harga penuh.” Aku menyentuh wajahnya. “Aku udah milih kamu berkali-kali, Pram. Kamu cuma belum percaya.”

“Aku percaya,” bisiknya. “Sekarang aku percaya.”

“Terus?”

Ia menatapku lama. Dan aku melihatnya. Aku melihat sesuatu di matanya bergerak, seperti engsel yang akhirnya berputar setelah bertahun-tahun berkarat. Seperti pintu yang terbuka.

“Aku cinta kamu,” katanya.

Dengan suaranya sendiri. Bukan lewat surat. Bukan lewat kartu krem yang ditulis empat kali. Bukan lewat mesin yang dijual atau penggaris yang diukir atau lemari di loteng.

Dengan suaranya sendiri. Rendah, serak, pecah di tengah, di ambang pintu workshop, di bawah hujan.

“Aku cinta kamu, Dara. Dari hari ketiga di Sabuga. Aku nggak pernah berhenti. Dan aku nggak mau berhenti. Dan aku nggak mau lagi diam-diam.”

Aku menangis. Aku tertawa. Aku tidak tahu yang mana.

Aku meraih kerah kemejanya. Kemeja linen abu-abu, warna suar habis hujan. Aku menariknya ke bawah. Pelan. Sampai dahinya menyentuh dahiku.

“Pram,” bisikku. “Kamu udah lima tahun nahan diri.”

Ia menahan napas.

“Malam ini nggak usah.”


Ia menciumku.

Atau aku menciumnya. Aku tidak tahu. Aku tidak peduli.

Bukan seperti di workshop dengan kebaya. Bukan seperti di rooftop dengan bunga jeruk nipis. Ini lebih dalam. Lebih lama. Seperti lima tahun yang akhirnya dilepaskan sekaligus. Seperti hujan yang turun pelan tapi tidak berhenti.

Tangannya di punggungku, menarikku lebih dekat. Tanganku di rambutnya, di tengkuknya, di tempat dulu aku mengusap serbuk kayu. Ia memiringkan kepalanya, dan aku mengikutinya, dan dunia menyempit jadi cuma hangat bibirnya dan dingin angin hujan dan suara atap seng.

Kilat lagi. Putih. Aku merasakannya di balik kelopak mataku yang terpejam.

Aku tidak takut.

Gemuruh. Jauh.

Aku tidak berhenti.


Hujan berhenti jam dua pagi.

Aku tahu, karena aku masih bangun ketika atap seng berhenti berbunyi. Aku duduk di bangku Pak Darsa di dekat pintu, dengan kepala di bahu Prama dan tangannya di tanganku, dan jaket kerjanya, yang sekarang wangi melati lagi, tersampir di bahuku.

Kami tidak bicara banyak setelah itu. Kami duduk dan menatap halaman yang basah. Sesekali ia bercerita sesuatu. Tentang Ibu yang selalu bilang ia anak aneh karena suka mencium kayu habis hujan. Tentang Bapak yang membuatkannya mainan kuda-kudaan dari kayu nangka waktu ia lima tahun. Tentang Mang Ujang yang mengajarinya cara memegang ampelas waktu ia magang di pabrik mebel, umur sembilan belas, dan menyebutnya budak bodo nu teu bisa nyekel ampelas.

Aku bercerita juga. Tentang kakak kelas SMA yang tidak tahu namaku. Tentang ibu kos di Sekeloa yang mengomel karena mesin jahit jam tiga subuh. Tentang Tiwi yang pertama kali datang wawancara kerja dengan email lima belas tanda seru.

Ia mendengarkan semuanya. Seperti caranya mendengarkan gambarku.

“Pram,” kataku, ketika langit di timur mulai berubah dari hitam ke abu-abu.

“Hm.”

“Besok kamu duduk di depan. Barisan pertama. Pakai jasnya.”

Ia diam sebentar. Lalu:

“Iya.”

Bukan saya nggak pantas. Bukan vendor di belakang panggung. Cuma iya.

“Dan apa pun yang terjadi besok,” lanjutku, “jangan kabur.”

Ia menoleh. Matanya menyipit. Curiga, sedikit. “Kenapa aku harus kabur?”

“Janji aja.”

Ia menatapku lama. Lalu menghela napas, dan tersenyum. Senyum yang utuh. Bukan setengah. Senyum yang membuat matanya menyipit dan wajahnya terlihat sepuluh tahun lebih muda.

Senyum yang Pak Darsa ingin lihat.

“Janji,” katanya.

Aku menyandarkan kepalaku kembali di bahunya dan menutup mata.

Di halaman, burung-burung pertama mulai bernyanyi. Di kebun singkong, embun mulai turun di daun-daun.

Embun. Lima tahun lalu, aku menjahit empat puluh dua potong baju di kamar kos Sekeloa, setiap subuh, sementara embun menempel di jendela.

Pagi ini, aku duduk di workshop di Cigadung, di bahu laki-laki yang membeli semuanya. Dan embun menempel di daun-daun singkong, di kaca pikap tua, di papan nama kayu bertuliskan KAYUKU.

Dua belas jam lagi, show dimulai.

Dan aku tidak takut apa pun.