← Pembeli Pertamamu

Chapter Forty

Epilog — Rumah dari Kayu

POV: Dara

Sepuluh bulan kemudian, aku menikah di halaman rumah yang belum sepenuhnya jadi.

Atapnya sudah ada. Dindingnya sudah berdiri, kayu jati bekas dan suar yang diolesi minyak nomor empat. Jendela-jendelanya sudah terpasang, dengan engsel kuningan yang bisa dibuka satu tangan oleh siapa pun. Tapi teras belakang masih berupa rangka. Lantai dapur belum dipasang. Dan Mang Ujang masih berdebat dengan Prama tentang apakah tangga ke loteng sebaiknya lurus atau melingkar.

“Lurus, A! Lurus mah gampang!”

“Melingkar, Mang. Biar Dara nggak capek naik.”

“Teteh mah kuat, A! Teteh mah tiap poe naek tangga tilu lanté di kantorna!”

“Melingkar, Mang.”

Rumah itu ada di Cigadung, dua ratus meter dari workshop Kayuku. Di atas tanah yang dulu kebun singkong milik seorang ibu yang suka menjemur pakaian sambil bersenandung. Prama membelinya dua bulan setelah malam di loteng, dengan uang dari pesanan yang membanjir setelah video Ridwan ditonton tiga juta orang.

Harga penuh, katanya padaku, waktu menandatangani akta. Ibunya nggak mau nawar, aku juga nggak mau.

Ruang jahitku menghadap timur. Jendelanya besar, dari lantai sampai hampir ke langit-langit. Setiap subuh, aku bisa melihat embun di daun-daun singkong yang masih tersisa di pinggir halaman. Di depan jendela itu, ada meja gambar lima belas derajat. Yang asli. Yang dulu dikirim sebagai prototipe produk baru, mohon di-review. Di sampingnya, rak kayu untuk penggaris. Penggaris ramin lama yang sudah dilem, sebagai saksi. Dan penggaris jati dengan setetes embun di ujungnya, sebagai jawaban.

Dan di ruang tengah, di dinding yang paling banyak terkena cahaya sore, berdiri lemari jati.

Dipindahkan dari loteng workshop tiga minggu lalu, dengan enam orang dan banyak teriakan dalam bahasa Sunda. Pintunya masih berukir bulir-bulir embun. Di dalamnya, dua belas potong baju yang tidak pernah dipakai, tergantung di gantungan kayu.

Dan satu gantungan di ujung, yang kosong selama sepuluh bulan.

Pagi ini, gantungan itu kosong lagi. Karena kebaya yang biasanya tergantung di sana, sedang kupakai.


Kebaya kutubaru. Brokat putih tulang. Kancing sonokeling. Kain Mega Mendung biru dan putih.

Kebaya yang sama yang kupakai senja itu di workshop, ketika Prama jatuh dari tangga dan rak hampir roboh dan Pak Darsa menangis di bangkunya. Aku tidak membuat kebaya baru untuk pernikahan. Tiwi protes. Bu Imas protes. Bahkan Ibu, dengan lembut, bertanya apakah aku yakin.

Aku yakin.

Karena kebaya ini dibuat untuk satu orang. Dipakai untuk satu orang. Dan aku cuma akan menikah dengan satu orang.

Rambutku disanggul rendah, longgar, dengan beberapa helai terlepas. Di sanggul itu, terselip melati. Bukan satu kuntum, kali ini. Ronce. Dari pot depan rumah Ibu di Setiabudi, dan dari pot Bu Imas di rooftop kantor, dan dari kaleng bekas cat yang Pak Darsa bawa dari Garut. Kaleng yang sama, katanya, tempat ibunya Prama dulu menanam melati. Melatinya sudah mati bertahun-tahun lalu. Tapi Pak Darsa menanam yang baru, tiga bulan lalu, di kaleng yang sama.

Biar ibuna oge datang, katanya.


Halaman itu penuh.

Bukan karena banyak tamu. Kami cuma mengundang seratus orang. Tapi setiap orang yang datang terasa seperti seluruh dunia.

Ayah dan Ibu di barisan depan. Ayah memakai jas, untuk pertama kalinya yang kuingat, jas yang kubuatkan khusus. Ibu memakai kebaya dari koleksi Melati di Tangan Ibu, yang ternyata dibeli Ayah lewat temannya dengan harga penuh. Ibu baru tahu itu tiga bulan lalu. Ia memukul lengan Ayah dengan kipas lalu memeluknya.

Pak Darsa di sebelah mereka. Kemeja batik cokelat. Peci miring ke kiri. Di pangkuannya, sebuah kotak kayu kecil yang ia pegang dengan dua tangan.

Koh Hendra dan Bu Wati, yang datang dari Singapura dengan tiga koper dan sebuah kotak kardus besar yang dibungkus kertas kado bermotif bunga. Koh Hendra memakai kemeja batik yang ukurannya pas di perut, kali ini. Bu Wati memakai kebaya brokat biru muda yang kubuatkan untuknya di malam show. Ia sudah memakainya ke tiga pernikahan di Singapura, katanya. Semua orang nanya, Mbak. Aku bilang ini dari desainer Bandung yang pernah dibilang suamiku brokatnya lengket.

Dan Anin. Dengan kemeja denim yang, untuk kali ini, disetrika rapi, dan seorang laki-laki tinggi berkacamata di sampingnya yang ia perkenalkan sebagai arsitek struktur Saung Halimun, yang ternyata bisa ngetuk dinding juga. Hotel di Lembang itu dibuka bulan lalu, dengan dua puluh empat kamar yang setiap perabotnya dibuat di Cigadung, dan dua mesin CNC baru di workshop Kayuku yang dibeli dari kontraknya. Anin memelukku lama di pintu halaman dan berbisik, akhirnya dia nggak nunggu lagi. Lalu ia menyalami Prama dengan genggaman kuat, menepuk sikunya dua kali, dan bilang, selamat, Pram. Kamu sampai juga.

Mang Ujang, dengan kemeja batik baru dan kumis yang disisir sangat rapi, berdiri di samping meja prasmanan dan mengawasi radio dangdut dengan tatapan protektif. Sasa, dengan kemeja satin gading asimetris yang sudah ia pakai di setiap acara penting selama sepuluh bulan. Ridwan, yang sekarang punya kartu nama bertuliskan Kayuku — Konten & Dokumentasi, dan yang hari ini akhirnya diizinkan merekam apa pun yang ia mau. Tiga tukang Kayuku yang sudah bukan tukang baru lagi. Bu Imas dan dua belas penjahit DARA., yang menjahit taplak meja dan kain dekorasi dan tirai untuk seluruh halaman.

Dan Tiwi, yang sejak subuh berlari ke sana kemari dengan tablet dan headset seolah ini show kedua, padahal aku sudah bilang seratus kali bahwa ini pernikahan, bukan peragaan busana.

“Mbak,” katanya, lima menit sebelum akad, dengan mata merah dan suara serak. “Mbak cantik banget. Aku udah lihat Mbak cantik ribuan kali. Tapi ini beda.”

“Beda gimana, Wi?”

“Kayak orang yang nggak nunggu apa-apa lagi.”


Akadnya sederhana. Di bawah pohon jeruk nipis yang Prama pindahkan dari rooftop kantorku, dengan izin Bu Imas dan janji tertulis bahwa pohon itu akan tetap diberi kalium setiap bulan. Pohon itu sekarang berbuah. Kecil-kecil, hijau, wangi.

Prama memakai jas linen abu-abu. Warna suar habis hujan. Enam kancing sonokeling.

Dan di jari manisnya, cincin.

Cincin sonokeling. Ungu kehitaman seperti malam. Seratnya melingkar seperti cincin pohon. Aku membuatnya selama tiga bulan, di ruang belakang workshop, dengan Mang Ujang di sampingku dan pisau lipat Pak Darsa di tanganku. Aku mematahkan empat potong sonokeling sebelum berhasil. Jariku teriris tiga kali. Aku memakai plester Doraemon dari Ridwan setiap kali.

Di bagian dalam cincin itu, di tempat yang menyentuh kulit, aku mengukir sesuatu. Sangat kecil. Hampir tidak terlihat.

Harga penuh.

Prama menemukannya malam ketika aku memberikannya. Ia memutar cincin itu di bawah lampu, membaca ukiran kecil itu, dan tidak bisa bicara selama lima menit. Lalu ia memakainya, dan tidak pernah melepasnya sejak itu. Bahkan saat bekerja. Bahkan saat Mang Ujang bilang cincin kayu bisa rusak kena serbuk.

Biar, katanya. Biar ada bekasnya. Panggung yang bagus itu punya cerita.

Ketika penghulu bertanya dan Prama menjawab, suaranya tidak bergetar. Itu yang paling kuingat. Laki-laki yang dua bulan pertama tidak bisa menatap mataku, yang menjatuhkan cangkir di Sabuga, yang memanggilku Bu di pertemuan pertama, menjawab dengan suara yang tenang dan dalam dan pasti, seperti orang yang mengetuk balok jati dan tahu persis umurnya.

Lalu ia menoleh padaku.

Dan tersenyum. Utuh.

Di barisan depan, Pak Darsa menangis. Ayah melepas kacamatanya. Koh Hendra membuang ingus dengan sangat keras, dan Bu Wati memukul lengannya.

Dari meja prasmanan, Mang Ujang mengangkat kedua tangannya ke udara dan berteriak:

“LUNAS!”

Seluruh halaman tertawa.


Hadiah-hadiah dibuka sore harinya, di ruang tengah, di depan lemari jati.

Pak Darsa memberikan kotak kayu kecil yang ia pegang sepanjang akad. Di dalamnya, sepasang sendok. Kayu sawo, cekungannya dalam dan halus, gagangnya ramping dengan lengkung lembut seperti leher angsa. Di gagang yang satu, diukir kecil: Dara. Di gagang yang lain: Prama.

“Sendok nu ka sarebu,” kata Pak Darsa. “Ti mimiti Bapak pensiun. Satu hari satu. Tilu taun. Ieu nu ka sarebu jeung nu ka sarebu hiji.”

“Bapak nyimpen yang keseribu buat kami?” tanyaku.

“Bapak teu nyimpen.” Ia tersenyum, gigi emasnya berkilat. “Bapak ngitung. Bapak tahu bakal nepi ka dieu. Ti mimiti Neng datang ka workshop, Bapak nanya geus kawin can.”

Koh Hendra memberikan kotak kardus besar dengan kertas kado bermotif bunga. Ia memaksa kami membukanya bersama-sama, di depan semua orang, sambil menahan senyum yang terlalu lebar.

Di dalamnya, di antara busa-busa pelindung, ada lampu gantung. Kristal. Kecil, elegan, dengan rangka kuningan dan butiran-butiran kaca yang memecah cahaya jadi kilau-kilau pelangi.

Di kotaknya, ada label kecil. Huruf sambung yang elegan.

Maison Lumière — Lighting & Décor. 16 Tuas Avenue 7, Singapore.

Aku menatap label itu. Lalu menatap Koh Hendra.

Lalu aku tertawa. Tertawa sampai harus duduk di lantai, di depan lemari jati, dengan kebaya kutubaru dan melati di sanggul. Prama tertawa. Ayah tertawa, yang sangat jarang. Bahkan Pak Darsa, yang tidak tahu cerita lengkapnya, ikut tertawa karena semua orang tertawa.

“Gua akhirnya masuk ke toko itu,” kata Koh Hendra, dengan wajah sangat puas. “Lima tahun gua lewatin tiap hari. Pemiliknya orang Prancis, udah tua, namanya Monsieur Laurent. Gua ceritain semuanya. Dia nangis, Mbak. Dia bilang nggak pernah ada yang minjem nama tokonya buat hal sebagus itu.”

“Dia kasih diskon?” tanya Prama.

Koh Hendra menatapnya dengan tatapan terhina.

“Harga penuh, Pram,” katanya. “Masa gua nawar hadiah buat lu.”


Malam itu, setelah semua tamu pulang, setelah Mang Ujang mematikan radio dangdut untuk terakhir kalinya hari itu, setelah Tiwi tertidur di sofa ruang tengah dengan headset masih di telinga dan Ibu menyelimutinya, aku duduk di ruang jahitku.

Di depan meja gambar lima belas derajat. Dengan laptop terbuka.

Prama di sampingku. Masih memakai jas linen abu-abu, meskipun dasinya sudah dilepas dan kancing atasnya terbuka. Kepalanya di bahuku.

“Jam berapa?” tanyanya.

“Satu menit lagi.”

Di layar laptop, situs DARA. Halaman koleksi. Sebuah hitungan mundur.

Embun — Lima Tahun Kemudian. Dibuka 00:00.

Koleksi baru. Empat puluh dua potong. Terinspirasi dari koleksi pertamaku. Dijahit ulang dengan cara yang sama, dengan pola yang sama, dengan penggaris jati yang tidak pernah meleset setengah mili. Bedanya, kali ini, aku menjahitnya di ruang jahit yang jendelanya menghadap timur. Dan setiap subuh, ketika embun menempel di jendela, ada seseorang yang membawakan teh dalam cangkir sonokeling dan meletakkannya di sampingku tanpa bicara.

Empat puluh dua potong Embun yang asli sekarang ada di kantor DARA., di lantai satu, di etalase kaca yang tidak dijual. Dengan label kecil di depannya:

Embun, 2021. Dibeli seluruhnya oleh satu orang, yang menjual mesinnya supaya desainernya tidak berhenti. Tidak pernah dipakai selama lima tahun. Dipakai pertama kali di Gedung Merdeka. Tidak untuk dijual. Sudah ada pembelinya.

Hitungan mundur di layar. Sepuluh. Sembilan. Delapan.

“Pram,” kataku. “Kamu nggak harus beli. Kamu bisa minta. Aku bikinin. Gratis. Kamu suamiku sekarang.”

Lima. Empat.

“Nggak,” katanya.

Tiga. Dua.

“Kenapa?”

Satu.

Halaman berubah. Pre-order dibuka.

Prama mengulurkan tangan, melewatiku, ke trackpad laptop. Jari-jarinya, dengan cincin sonokeling di jari manis, bergerak cepat. Memilih. Satu potong. Blus putih. Kerah sabrina. Embun — No. 42 (2026). Ukuran S.

Ia mengklik bayar. Ia tidak memasukkan kode promo. Ia tidak memilih opsi diskon pembeli pertama.

Harga penuh.

Tiga detik setelah tengah malam, di dasbor admin yang terbuka di tab sebelah, nama pembeli pertama muncul.

Bukan Sasa K.

Prama Winata.

Aku menatap nama itu. Lalu menatap suamiku.

Ia menatapku balik. Tersenyum. Utuh. Dengan mata yang menyipit dan wajah yang terlihat sepuluh tahun lebih muda.

“Karena bajumu,” katanya pelan, “nggak pantas ditawar.”

Aku menutup laptop.

Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Ia melingkarkan lengannya di pinggangku. Di luar jendela, di daun-daun singkong yang tersisa di pinggir halaman, di kaca pikap tua yang masih diparkir di halaman dengan lampu kiri yang redup, embun mulai turun.

Lima tahun lalu, seseorang membeli waktu untukku.

Malam ini, kami punya seumur hidup.

Dan setiap subuh, selama sisa hidup kami, aku akan menjahit. Dan ia akan membawakan teh. Dan embun akan menempel di jendela yang menghadap timur.

Dan setiap kali aku merilis koleksi baru, akan ada satu nama di urutan pertama daftar pembeli.

Selalu.

Harga penuh.


TAMAT