Chapter Thirty Six
Bab 36 — Harga Penuh, Tanpa Cicilan
POV: Dara
Gladi resik dimulai jam sembilan pagi dan berakhir jam tujuh malam, dan dalam sepuluh jam itu, aku melihat Prama mengganti satu engsel, mengencangkan empat puluh dua baut, memindahkan satu rangka jendela tiga senti ke kiri, dan menangkap seorang model yang tersandung di ujung lengan panggung tanpa membuat bajunya kusut.
Aku juga melihatnya berdiri di samping noda minyak di tengah panggung, setiap kali ada model yang lewat di atasnya, dengan tangan di saku dan wajah yang tidak bisa kubaca.
Ia tidak pernah mengampelasnya. Aku tahu, karena aku memeriksanya setiap pagi.
“Mbak,” kata Tiwi di sampingku, dengan headset di telinga dan tiga tablet di pelukan. “Segmen tiga mundur dua menit. Lighting belum sinkron sama musik. Terus model nomor tujuh belas alergi bulu, jadi dia nggak bisa pakai stola.”
“Ganti stolanya pakai selendang sutra.”
“Udah, Mbak.” Tiwi mencatat. Lalu, lebih pelan: “Terus, Mbak, segmen penutup. Lima menit Mbak. Mau dicoba sekarang? Semua orang udah pulang kecuali tim inti.”
Aku melirik ke belakang panggung. Prama sedang berlutut di depan pintu mahoni, memeriksa engsel untuk kesekian kalinya. Mang Ujang di sampingnya, memegang lampu senter.
“Jangan,” kataku. “Dia masih di sini.”
“Mbak belum latihan sekali pun.”
“Aku nggak perlu latihan, Wi.” Aku menatap punggung Prama. “Aku udah lima tahun latihan cerita yang salah. Yang ini, aku cuma perlu ngomong yang bener.”
Tiwi menatapku lama. Lalu ia tersenyum, dan mencoret sesuatu di tabletnya.
Jam tiga sore, di tengah gladi segmen dua, aku melihat seseorang berdiri di pintu belakang ruang utama.
Kemeja batik lengan panjang. Kacamata baca di ujung hidung. Tangan di belakang punggung.
Ayah.
Ia tidak memberi tahu akan datang. Ayah tidak pernah datang ke gladi resik. Ayah tidak pernah datang ke show mana pun, sebenarnya, selama lima tahun. Tidak sekali pun.
Ia tidak menghampiriku. Ia berdiri di sana, di dekat pintu, menatap panggung. Rangka-rangka jendela suar. Pintu mahoni dengan kaca patri embun. Lantai jati bekas dengan noda gelap di tengahnya.
Lalu ia berjalan, pelan, menyusuri tepi ruangan, sampai ke belakang panggung. Tempat Prama sedang berlutut di depan pintu mahoni.
Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Musik gladi terlalu keras. Aku cuma melihat Prama berdiri, kaget, mengelap tangannya ke celana. Aku melihat Ayah mengatakan sesuatu. Pendek. Aku melihat Prama mengangguk. Lalu Ayah mengatakan sesuatu lagi, lebih panjang, sambil menunjuk pintu mahoni. Prama menjawab. Ayah mengangguk.
Lalu Ayah mengulurkan tangan, dan menyentuh kaca patri berbentuk embun di tengah pintu itu. Lama. Dengan ujung jarinya.
Lalu ia menepuk bahu Prama dua kali, dan pergi. Lewat pintu belakang. Tanpa menghampiriku. Tanpa melambai.
Malamnya, aku bertanya pada Prama apa yang Ayah katakan.
Ia diam sebentar. Lalu: “Bapakmu tanya, embunnya dari kaca apa. Aku bilang kaca patri dari pengrajin di Cicadas. Terus dia bilang...”
“Bilang apa?”
“Jaga baik-baik. Saya cuma punya satu.” Prama menatapku. “Aku nggak tahu dia ngomongin kacanya atau kamu.”
Aku tahu. Tapi aku tidak bilang apa-apa. Aku cuma memeluk lengannya lebih erat.
Koh Hendra dan istrinya tiba di Gedung Merdeka jam lima sore, langsung dari bandara.
Bu Wati ternyata perempuan mungil berumur empat puluhan, dengan rambut pendek yang dikeriting rapi, kacamata berbingkai merah, dan suara yang dua kali lebih keras dari suaminya. Ia memelukku begitu kami bertemu, lama, seperti kami sudah saling kenal sepuluh tahun.
“Mbak Dara,” katanya, menggenggam kedua tanganku. “Saya minta maaf atas nama suami saya yang bodoh.”
“Wati,” protes Koh Hendra.
“Kamu bodoh, Ko. Kamu bilang ke Mbak Dara brokat itu lengket.” Bu Wati menatap suaminya dengan tatapan yang membuatnya langsung menunduk. “Dua puluh tahun nikah, aku nggak pernah tahu kamu pernah beli empat puluh dua gaun. Aku kira kamu selingkuh, Ko. Lima tahun aku kira kamu selingkuh.”
“Aku udah bilang itu sampel!”
“Sampel dari mana? Kamu jualan meja!”
Aku tertawa. Tiwi tertawa. Bahkan Mang Ujang, yang sedang lewat membawa kotak baut, berhenti dan tertawa sampai kumisnya bergetar.
Aku membawa Bu Wati ke ruang ganti di belakang panggung dan menunjukkan kebaya yang kubuat untuknya. Brokat biru muda, bordir bunga kecil di tepi, kancing kain. Ia memakainya, berdiri di depan cermin besar, dan menatap pantulannya sendiri dengan mata yang membesar di balik kacamata merah.
“Ini brokat?” tanyanya pelan.
“Ini brokat, Bu.”
Bu Wati menyentuh kainnya. Lalu, tanpa menoleh, ia berteriak ke luar ruang ganti dengan suara yang bergema sampai ke panggung:
“KO! INI BROKAT! NGGAK LENGKET SAMA SEKALI!”
Dari kejauhan, suara Koh Hendra yang putus asa: “Aku udah googling, Wat! Aku udah tahu!”
Jam delapan malam, setelah semua orang pulang, ponselku bergetar.
Aku sedang di apartemen. Mandi, berganti baju, duduk di sofa dengan kaki di atas meja dan teh yang mulai dingin. Lelah. Lelah yang bagus, yang membuat otot-otot terasa berat dan kepala terasa ringan.
Pesan dari Prama.
Dara. Boleh aku minta sesuatu?
Aku duduk tegak.
Dua bulan. Dua bulan aku mengenalnya. Lima tahun ia mengenalku. Dan selama itu, ia tidak pernah meminta apa pun. Tidak sekali pun. Tidak diskon, tidak terima kasih, tidak balasan, tidak perhatian. Ia bahkan tidak meminta aku memaafkannya setelah Gedung Merdeka.
Boleh, ketikku. Tanganku sedikit gemetar. Minta apa?
Tiga titik. Lama sekali.
Kunci rooftop-mu.
Aku menatap pesan itu.
Lalu aku ingat. Tiga minggu lalu. Di workshop. Aku berdiri di sampingnya, terlalu dekat, dan bilang rooftop-ku udah aku pasangin gembok. Kalau kamu mau ke rooftop lagi, kamu harus minta ke aku.
Ia ingat. Dan ia meminta.
Sekarang? ketikku.
Kalau kamu nggak capek.
Aku sudah berdiri dan mengambil kunci mobil sebelum aku selesai membaca.
Ia sudah menunggu di trotoar depan gedungku ketika aku tiba. Bersandar di pikap tua. Kemeja linen abu-abu yang belum pernah kulihat. Rambutnya sedikit basah, seperti baru mandi juga.
Aku turun dari mobil dan berjalan ke arahnya, dan mengeluarkan kunci kecil dari saku. Kunci gembok rooftop. Aku mengangkatnya di depan wajahnya.
“Ini?”
Ia menatap kunci itu. Lalu menatapku.
“Ini,” katanya.
“Mintanya gimana?”
Ia berkedip. “Hah?”
“Kamu bilang mau minta. Belum minta. Kamu cuma tanya boleh minta.” Aku tersenyum. “Minta yang bener.”
Telinganya merah. Di bawah lampu jalan Dago, merahnya terlihat jingga. Tapi aku tahu itu merah.
Ia menarik napas panjang.
“Dara,” katanya pelan. “Boleh aku minta kunci rooftop-mu? Aku mau duduk di sana. Sama kamu.”
Aku meletakkan kunci itu di telapak tangannya. Dan melipat jari-jarinya di sekelilingnya. Seperti Pak Darsa dengan sendoknya. Seperti Mang Ujang dengan kunci loteng.
“Boleh,” kataku.
Rooftop gedungku masih sama. Lima kali enam meter. Lantai semen abu-abu. Pagar besi setinggi pinggang. Dua kursi rotan. Pot-pot tanaman Bu Imas.
Kecuali satu hal.
Pohon jeruk nipis di pojok, yang tidak pernah berbuah selama tiga tahun, sekarang berbunga. Bunga-bunga kecil putih, puluhan, bergerombol di antara daun-daun hijau tua. Wanginya manis dan sedikit tajam, bercampur dengan wangi melati di pot sebelahnya.
Aku berhenti di depan pohon itu.
“Ini berbunga,” kataku.
“Iya,” kata Prama di belakangku.
Aku berbalik dan menatapnya. “Kamu yang...”
“Aku tanya Bu Imas dulu,” katanya cepat. “Dua minggu lalu. Waktu kamu lagi fitting di lantai dua. Aku naik ke lantai dua, minta izin ke Bu Imas. Aku bilang, Bu, boleh saya kasih pupuk kalium ke pohon jeruknya? Bu Imas lihatin aku lama banget. Terus bilang, Kalau mati, kamu yang tanggung jawab.”
Aku tertawa. “Bu Imas nggak cerita apa-apa ke aku.”
“Aku minta dia jangan cerita.”
“Kenapa?”
Ia menatap pohon jeruk itu. Bunga-bunga putih kecil di bawah lampu kota.
“Karena aku mau kamu lihat sendiri,” katanya. “Bukan karena dikasih tahu.”
Aku menatapnya lama. Laki-laki ini. Yang lima tahun memberi diam-diam. Yang sekarang masih memberi diam-diam. Tapi bedanya, kali ini ia bertanya dulu. Ia minta izin ke Bu Imas. Ia minta kunci ke aku.
Ia belajar.
Kami duduk di kursi rotan. Bersebelahan. Tidak ada meja kecil di antara kami lagi, karena aku menggesernya ke samping sebelum duduk. Lututku menyentuh lututnya.
Bandung di bawah kami. Lampu-lampu Dago seperti kalung. Lampu-lampu jauh di arah Cigadung, di balik bukit kecil.
“Dua hari lagi,” kataku.
“Dua hari lagi.”
“Kamu udah ngerjain PR-nya?”
Ia diam. Lama.
“Hampir,” katanya akhirnya. “Aku tahu bentuknya. Aku cuma belum bisa ngomong.”
“Oke.” Aku menarik napas. “Kalau gitu aku yang ngomong duluan. Boleh?”
Ia menoleh dan menatapku.
Aku tidak menatap kota. Aku menatap dia. Laki-laki dengan kemeja linen abu-abu, rambut yang sedikit basah, telinga yang selalu mengkhianatinya, dan tangan yang penuh bekas luka.
“Aku cinta kamu,” kataku.
Ia membeku.
“Bukan karena kamu beli bajuku. Bukan karena mesin. Bukan karena loteng atau surat atau kalkulator Koh Hendra.” Aku meraih tangannya. Tangan kirinya. Yang paling banyak bekas lukanya. “Aku cinta kamu karena kamu dengerin gambarku kayak dengerin orang ngomong. Karena kamu masak mi pakai daun bawang yang kamu petik di tengah hujan. Karena kamu ceritain jati dua jam biar aku nggak takut petir. Karena kamu nggak gerak dua jam di truk biar aku bisa tidur. Karena kamu pakai plester Doraemon dari anak magang yang nangis.”
Matanya basah.
“Karena kamu nanya Bu Imas dulu sebelum kasih pupuk ke pohon jeruknya,” lanjutku, dan suaraku mulai bergetar. “Karena kamu minta kunci rooftop. Karena kamu belajar minta. Karena kamu bilang aku, bukan saya. Karena kamu milih kain abu-abu karena wanginya kayak kayu habis hujan, dan aku nggak pernah tahu itu tentang kamu, dan sekarang aku tahu, dan aku mau tahu semuanya.”
Ia tidak bicara. Tangannya gemetar di tanganku.
“Aku cinta kamu, Pram,” kataku sekali lagi. “Jati yang baru diampelas. Pikap tua yang lampu kirinya redup. Semuanya.”
Hening.
Angin malam bertiup pelan. Bunga-bunga jeruk nipis bergoyang. Dari jalan di bawah, penjual nasi goreng memukul wajannya.
“Dara,” katanya akhirnya. Suaranya hampir tidak terdengar. “Aku nggak tahu aku layak.”
“Aku nggak nanya kamu layak atau nggak.”
“Tapi...”
“Pram.” Aku berdiri. Aku melangkah ke depannya. Aku berdiri di antara lututnya, seperti malam itu, sebelum Ridwan mendobrak pintu. Bedanya, kali ini pintu rooftop terkunci. Aku yang menguncinya. Dari dalam. “Kamu tahu bedanya beli sama nawar?”
Ia menatapku dari bawah.
“Orang nawar karena mereka mikir harganya terlalu mahal. Mereka mikir barangnya nggak sebanding. Mereka mau bayar lebih murah, atau nyicil, atau nunggu diskon.” Aku menyentuh wajahnya dengan kedua tangan. “Lima tahun kamu nggak pernah nawar bajuku. Kamu bilang bajuku nggak pantas ditawar. Kamu bayar harga penuh. Selalu.”
Aku membungkuk. Wajahku sejengkal dari wajahnya.
“Sekarang giliranku,” bisikku. “Aku nggak mau nawar kamu. Aku nggak mau nunggu kamu ngerasa layak. Aku nggak mau nyicil.”
Aku menempelkan dahiku ke dahinya.
“Aku maunya kamu. Harga penuh. Nggak pakai cicilan.”
Ia memejamkan mata.
Lalu, pelan, sangat pelan, ia mengangkat tangannya. Menyentuh pinggangku. Lalu punggungku. Lalu menarikku ke bawah, ke pangkuannya, dan menciumku.
Tidak ragu. Tidak pelan. Seperti di workshop tiga malam lalu, dengan kebaya kutubaru dan melati di sanggul. Seperti orang yang akhirnya berhenti bertanya apakah ia boleh.
Aku menciumnya balik. Tanganku di rambutnya. Tangannya di punggungku. Kursi rotan berderit di bawah kami, dan aku tertawa di bibirnya, dan ia tertawa juga, dan kami tidak berhenti.
Ketika akhirnya kami berhenti, aku masih di pangkuannya. Kepalaku di bahunya. Tangannya mengusap rambutku, pelan, seperti menyusuri serat kayu.
“Dara,” bisiknya.
“Hm.”
“Aku masih belum bisa jawab PR-nya.”
“Aku tahu.”
“Tapi aku janji. Sebelum show. Aku jawab.”
Aku mengangkat kepala dan menatapnya. Matanya hitam, dalam, basah di pinggir. Dan di dalamnya, aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat. Bukan ketakutan. Bukan rasa tidak layak.
Keberanian. Kecil. Baru tumbuh. Seperti bunga jeruk nipis di pohon yang tiga tahun tidak berbuah.
“Oke,” kataku. “Aku tunggu.”
“Dua hari lagi.”
“Satu hari lagi, Pram.” Aku melirik jam di ponselku. Jam dua belas lewat sepuluh. “Udah lewat tengah malam. Show-nya lusa. Besok malam terakhir.”
Ia menatap jam itu. Lalu menatapku.
“Besok malam,” katanya pelan. “Di workshop. Aku jawab.”
Aku tersenyum dan menyandarkan kepalaku kembali di bahunya.
Di pojok rooftop, pohon jeruk nipis berbunga di bawah lampu kota. Tiga tahun tidak berbuah. Lalu seorang tukang kayu minta izin ke Bu Imas, dan memberinya kalium, dan menunggu.
Kadang yang dibutuhkan cuma seseorang yang mau bertanya dulu.
- 1 Bab 1 — Order Pertama
- 2 Bab 2 — Loteng
- 3 Bab 3 — Vendor yang Tidak Mau Menatap
- 4 Bab 4 — Pelanggan Ukuran S
- 5 Bab 5 — Serutan
- 6 Bab 6 — Sendok Pak Darsa
- 7 Bab 7 — Revisi Ketujuh
- 8 Bab 8 — Kutubaru
- 9 Bab 9 — Tolong Diam
- 10 Bab 10 — Koh Hendra Datang ke Bandung
- 11 Bab 11 — Tangan yang Luka
- 12 Bab 12 — Harga Penuh
- 13 Bab 13 — Jati yang Baru Diampelas
- 14 Bab 14 — Pak Bram
- 15 Bab 15 — Pegang yang Benar
- 16 Bab 16 — Truk Pengiriman
- 17 Bab 17 — Mitos
- 18 Bab 18 — Kontrak Lembang
- 19 Bab 19 — Stapler Biru
- 20 Bab 20 — Tempat Orang Berhenti
- 21 Bab 21 — Ridwan dan TikTok
- 22 Bab 22 — Rooftop
- 23 Bab 23 — Undangan
- 24 Bab 24 — Kebaikan yang Salah Tempat
- 25 Bab 25 — Brokat Bukan Merek Lem
- 26 Bab 26 — Struk
- 27 Bab 27 — Tulisan Tangan
- 28 Bab 28 — Aku Cuma Beli Waktu
- 29 Bab 29 — Biasa Aja, Pram?
- 30 Bab 30 — Loteng
- 31 Bab 31 — Giliranku
- 32 Bab 32 — Cicilan Pertama
- 33 Bab 33 — Ukuran Jas
- 34 Bab 34 — Kutubaru untuk Satu Orang
- 35 Bab 35 — Bapak Juga Nggak
- 36 Bab 36 — Harga Penuh, Tanpa Cicilan reading
- 37 Bab 37 — Lima Tahun Menahan Diri
- 38 Bab 38 — Pembeli Pertamaku
- 39 Bab 39 — Nggak Ada yang Biasa Aja
- 40 Epilog — Rumah dari Kayu