← Pembeli Pertamamu

Chapter Thirty Two

Bab 32 — Cicilan Pertama

POV: Prama

Kamu mau apa?

Pertanyaan itu mengikutiku selama tiga hari. Seperti serbuk kayu yang masuk ke sela-sela kuku dan tidak bisa dibersihkan.

Aku memikirkannya di Gedung Merdeka, ketika memasang lampu kecil terakhir di bawah lengan panggung. Aku memikirkannya di pikap, di lampu merah Dago, ketika seorang anak kecil di motor sebelah menatapku lewat jendela dan aku menyadari bahwa aku sudah berhenti di lampu hijau selama lima detik. Aku memikirkannya jam dua pagi, di kasur, menatap langit-langit kayu, dengan tangan kiri yang masih ingat bagaimana jari-jarinya menyelinap di antara jari-jariku di depan semua orang.

Kamu mau apa?

Aku tidak tahu.

Itu yang paling menakutkan. Bukan bahwa aku tidak berani menjawab. Tapi bahwa ketika aku mencari jawabannya, di dalam diriku, di tempat di mana seharusnya ada sesuatu, yang kutemukan cuma ruang kosong. Seperti laci yang sudah bertahun-tahun tidak dibuka, dan ketika akhirnya dibuka, ternyata isinya cuma debu.

Aku tahu apa yang Dara mau. Aku tahu ia mau kain linen dari Belgia, bukan dari Cina. Aku tahu ia mau meja gambar lima belas derajat. Aku tahu ia mau orang-orang membayar harga penuh untuk karyanya, bukan karena gengsi, tapi karena hormat.

Aku tahu apa yang Bapak mau. Sendok setiap hari. Aku menikah sebelum ia meninggal.

Aku tahu apa yang Mang Ujang mau, Sasa mau, Ridwan mau, Koh Hendra mau.

Tapi aku tidak tahu apa yang aku mau.

Sebelas tahun. Sejak Ibu meninggal. Mungkin lebih lama.


Hari kedua, ia datang ke Gedung Merdeka.

Aku sedang memasang lampu terakhir di bawah lengan panggung, berbaring telentang di lantai marmer dengan obeng di tangan, ketika aku mendengar langkah sepatu kanvas di atas papan jati di atasku.

Langkahnya berhenti. Tepat di tengah lengan panggung.

Aku tahu di mana ia berdiri tanpa perlu melihat. Di atas noda minyak. Noda gelap berbentuk tidak beraturan, di tempat ia bertanya jadi aku sebenarnya nggak bagus? lima malam lalu.

Aku keluar dari bawah panggung. Ia berdiri di sana, menatap ke bawah, ke noda di bawah sepatunya.

“Belum diampelas,” katanya.

“Belum.”

“Kenapa?”

Aku duduk di tepi panggung, di bawahnya, dengan obeng masih di tangan. “Saya nggak sanggup.”

Ia diam lama. Lalu ia berjongkok, dan menyentuh noda itu dengan ujung jarinya. Pelan. Seperti menyentuh bekas luka di tangan orang lain.

“Jangan diampelas,” katanya.

Aku menatapnya.

“Biarin.” Ia menyusuri tepi noda itu. “Aku mau inget. Malam itu aku nanya hal paling jahat yang pernah aku tanyain ke diriku sendiri. Di sini. Di panggung yang kamu bikin buat aku.” Ia mengangkat wajah. “Waktu show nanti, aku mau jalan lewat sini. Dan aku mau tahu jawabannya udah beda.”

“Model-model bakal lihat.”

“Biar mereka lihat. Panggung yang bagus itu punya cerita. Kamu sendiri yang bilang. Jati bekas dari rumah-rumah tua di Garut. Setiap papan punya bekasnya sendiri.” Ia tersenyum, kecil. “Sekarang papan ini punya bekas dari kita.”

Aku tidak menjawab. Aku cuma menatap tangannya di atas noda itu, dan merasakan sesuatu yang aneh di dadaku. Sesuatu yang hampir seperti lega.

Ia berdiri, membersihkan lututnya, lalu berjalan ke ujung lengan panggung, ke pintu mahoni dengan kaca patri embun. Ia membukanya dengan satu tangan. Engselnya bergerak ringan, tanpa suara.

“Satu tangan,” katanya, tanpa menoleh. “Kamu berhasil.”


Hari keempat, Dara datang jam satu siang. Seperti setiap hari sejak loteng.

Ia datang dengan kotak kue, dengan rambut diikat ekor kuda dan kemeja linen putih yang lengannya digulung, dan ia tidak menunggu di pintu. Ia langsung berjalan ke meja kerjaku, duduk di kursi yang sekarang entah bagaimana sudah jadi kursinya, dan mencondongkan badan ke arahku.

“Udah dikerjain PR-nya?”

Aku meletakkan ampelas. Di belakangku, aku mendengar Mang Ujang mematikan radio. Sengaja. Supaya bisa mendengar.

“Udah dicoba,” kataku.

“Coba jawab.”

Aku menarik napas. Aku sudah menyiapkan jawaban ini semalam. Aku menulisnya di kertas gambar teknis, lalu mencoretnya, lalu menulis lagi.

“Saya mau kamu istirahat,” kataku. “Cukup tidur. Makan siang tanpa lihat HP.”

Ia menatapku. Lalu menggeleng pelan.

“Itu buat aku. Bukan buat kamu.”

“Saya mau show-nya lancar.”

“Itu buat aku juga.”

“Saya mau kamu...” Aku berhenti. Mencari. “Bahagia.”

“Mas.” Ia mengulurkan tangan dan menyentuh punggung tanganku di atas meja kerja. Ringan. Ujung jari di atas bekas luka yang paling baru. “Semua jawabanmu tentang aku.”

“Karena itu yang saya mau.”

“Bukan.” Suaranya lembut, tapi pasti. Seperti caraku bilang bukan nomor tiga, nomor empat. “Itu yang kamu kasih. Kamu udah terbiasa ngasih sampai kamu kira ngasih itu sama dengan mau.”

Aku tidak bisa menjawab.

Ia menatapku lama. Matanya cokelat, dalam, dan di bawah cahaya siang dari jendela, aku bisa melihat serat-serat madu di sekitar pupilnya. Jati yang baru diampelas.

“Coba lagi,” katanya. “Satu hal. Cuma buat kamu. Bukan buat aku, bukan buat Bapak, bukan buat Kayuku. Buat Prama.”

Hening.

Di belakangku, aku merasakan seluruh workshop menahan napas. Mang Ujang di meja kerjanya. Sasa di meja admin. Ridwan di tangga, tanpa ponsel. Tiga tukang baru yang, setelah empat hari, sudah memahami bahwa di workshop ini ada hal-hal yang lebih penting dari pesanan.

Aku menatap tangannya di atas tanganku. Jari-jari ramping. Bekas tinta biru di ujung jari tengah. Dan di pergelangan, gelang tipis yang belum pernah kulihat sebelumnya. Gelang dari benang. Dengan satu manik kayu kecil di tengahnya.

Sonokeling. Ungu kehitaman, seperti malam. Seratnya melingkar seperti cincin pohon.

Sisa dari kancing yang ia pahat di meja ini, dua minggu lalu. Potongan kecil yang terlepas. Ia menyimpannya. Ia menjadikannya gelang.

Dan aku merasakan sesuatu. Kecil. Di tempat yang tadinya kosong. Seperti percikan api di serbuk kayu.

“Saya mau...” kataku pelan.

Ia menunggu.

“Saya mau...”

Kata-kata itu ada. Aku bisa merasakannya. Di ujung lidahku, di belakang tenggorokanku. Tapi setiap kali aku mencoba mengucapkannya, sesuatu menghentikannya. Seperti engsel yang terlalu berat. Seperti pintu yang terlalu lama tidak dibuka.

“Saya nggak bisa,” bisikku akhirnya. “Belum.”

Ia tidak terlihat kecewa. Ia tersenyum. Senyum yang pelan dan sabar, seperti caraku tersenyum pada kayu yang belum siap dipahat.

“Oke,” katanya. “Masih ada tujuh hari.”

Lalu ia berdiri.


Aku pikir ia akan pulang.

Aku pikir ia akan berjalan ke pintu, berbalik, dan bilang sampai besok, Mas, seperti tiga hari terakhir.

Ia tidak berjalan ke pintu.

Ia berjalan memutari meja kerjaku. Pelan. Sampai berdiri di sampingku. Aku masih duduk di bangku kerja, dan ia berdiri, dan untuk pertama kalinya, aku yang harus menengadah untuk menatapnya.

“Mas,” katanya. “Kamu belum bisa bilang kamu mau apa.”

“Belum.”

“Kalau gitu aku yang bilang aku mau apa.”

Ia mengangkat tangannya. Menyentuh wajahku. Kedua pipiku, di antara kedua telapak tangannya. Tangannya hangat dan sedikit gemetar.

“Aku mau ini,” katanya.

Dan ia menciumku.


Aku tidak siap.

Lima tahun aku membayangkan banyak hal. Aku membayangkan ia menemukan lemari. Aku membayangkan ia membenciku. Aku membayangkan ia menikah dengan laki-laki yang punya brand denim dan aku mengirim meja makan jati sebagai hadiah. Aku membayangkan ia tidak pernah tahu, dan aku menua di loteng dengan dua puluh, tiga puluh, empat puluh potong baju yang tidak pernah dipakai.

Aku tidak pernah membayangkan ini. Aku tidak berani.

Bibirnya lembut. Lebih lembut dari apa pun yang pernah kusentuh. Lebih lembut dari kayu yang diampelas sampai empat ratus, lebih lembut dari flanel hijau di tempat HP, lebih lembut dari tulle tujuh lapis. Ia menciumku pelan, tidak terburu-buru, seperti orang yang sudah memutuskan dan tidak perlu ragu lagi.

Aku tidak bergerak. Tanganku menggantung di samping tubuhku, kaku, seperti malam pertama di workshop.

Lalu ia menarik diri sedikit. Cuma sedikit. Cukup untuk menatapku dari jarak yang sangat dekat, dengan dahi yang hampir menyentuh dahiku.

“Mas,” bisiknya. “Kamu boleh cium balik.”

Dan sesuatu di dalamku patah. Atau mungkin terbuka. Seperti engsel yang akhirnya bergerak setelah bertahun-tahun berkarat.

Aku mengangkat tanganku. Menyentuh pinggangnya. Lalu punggungnya. Lalu, karena tidak ada lagi yang bisa menghentikanku, aku menariknya lebih dekat, dan menciumnya balik.

Pelan dulu. Ragu. Seperti orang yang belum pernah melakukannya. Dan memang belum pernah, tidak dengan seseorang yang ia cintai selama lima tahun, tidak dengan seseorang yang membuatnya menjatuhkan cangkir di Sabuga.

Lalu tidak ragu lagi.

Ia mengeluarkan suara kecil di bibirku, sesuatu di antara napas dan tawa, dan jari-jarinya meremas kerah kemejaku.


Ketika akhirnya kami berhenti, aku tidak tahu berapa lama sudah lewat.

Aku cuma tahu workshop itu sangat, sangat sunyi.

Ia menarik diri. Wajahnya merah. Bibirnya merah. Matanya berkilau dengan cara yang belum pernah kulihat. Ia menatapku sebentar, lalu membungkuk, dan berbisik di telingaku. Sangat pelan. Hanya untukku.

“Itu cicilan pertama.”

Lalu ia menegakkan badan, merapikan rambutnya dengan satu tangan, mengambil tas jinjingnya dari kursi, dan berjalan ke pintu. Seperti tidak ada apa-apa. Seperti ia cuma mampir mengecek rangka jendela.

Di ambang pintu, ia berhenti, dan menoleh.

“Sampai besok, Mas.”

Ia pergi.

Aku duduk di bangku kerja. Aku tidak bisa berdiri. Aku tidak yakin kakiku masih bisa menahanku.

Pelan-pelan, aku menoleh ke belakang.

Mang Ujang sedang memahat. Dengan sangat serius. Dengan konsentrasi penuh. Pahatnya bergerak di udara, satu senti di atas potongan kayu, tidak menyentuh apa pun.

Sasa sedang mengetik. Monitornya mati.

Tiga tukang baru sedang mengampelas. Satu dari mereka mengampelas meja kerjanya sendiri. Satu lagi mengampelas ampelas.

Dan Ridwan duduk di tangga dengan kedua tangan menutup mata, seperti anak kecil yang main petak umpet.

“Aku buta, A,” katanya tanpa membuka tangannya. “Aku nggak lihat apa-apa. Sumpah. Aku buta dari lahir.”

Hening sedetik.

Lalu Mang Ujang menjatuhkan pahatnya, mengangkat kedua tangannya ke udara, dan berteriak dengan suara yang mungkin terdengar sampai Dago:

“CICILAN KAHIJI!”

Dan workshop meledak. Sasa menjerit. Tiga tukang baru bertepuk tangan, meskipun mungkin tidak sepenuhnya mengerti kenapa. Ridwan menurunkan tangannya dan berteriak aku nggak buta, aku nggak buta! sambil melompat-lompat di anak tangga. Mang Ujang menyalakan radio dengan volume penuh, dan lagu yang keluar, entah kebetulan entah takdir, adalah lagu dangdut tentang seseorang yang akhirnya dicium setelah menunggu bertahun-tahun.

Aku menutup wajah dengan kedua tangan.

Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku tertawa. Tidak kecil. Tidak setengah. Tertawa sampai bahuku bergetar, sampai perutku sakit, sampai air mata keluar dari sela-sela jariku dan aku tidak tahu lagi apakah aku tertawa atau menangis.


Malam itu, Bapak duduk di sampingku di bangku dekat pintu, setelah semua orang pulang.

Ia tidak bilang apa-apa tentang yang terjadi siang tadi. Ia cuma memahat sendok, seperti biasa. Lalu, setelah lama sekali, ia berkata pelan:

“Si Neng nanya kamu mau naon?”

“Iya, Pak.”

“Kamu teu bisa jawab?”

“Belum.”

Bapak meniup serpihan kayu dari cekungan sendoknya.

“Sabab kamu nanya ka sirah,” katanya. “Sirah mah ngan nyaho nu perlu. Nu dipikahayang mah aya di dieu.” Ia mengetuk dadaku dengan ujung gagang sendok. Tepat di atas saku kiri. “Tanya ka dieu.”

Aku menatap tempat yang ia ketuk.

“Lima taun kamu nyimpen sagala hal di saku eta,” lanjut Bapak. “Kartu. Kertas koneng. Plester budak leutik. Teu aya hiji ge nu kanggo kamu. Kabeh kanggo si Neng.”

Ia berdiri, menepuk bahuku dua kali, dan berjalan ke pintu.

“Pikiran, Pram,” katanya tanpa menoleh. “Lamun saku eta bisa ngomong, manehna bakal menta naon?”

Ia pergi.

Aku duduk sendirian di workshop yang gelap, dengan tangan di atas saku kiri, dan untuk pertama kalinya, aku mencoba mendengarkan.

Tidak ada jawaban malam itu.

Tapi untuk pertama kalinya, laci yang kosong itu tidak terasa kosong lagi. Ada sesuatu di sana. Kecil. Hangat. Masih belum punya nama.

Seperti rasa bibirnya yang belum hilang dari bibirku.