← Pembeli Pertamamu

Chapter Twenty Nine

Bab 29 — Biasa Aja, Pram?

POV: Prama

Tiga hari aku tidak mendengar suaranya.

Tidak ada pesan jam sebelas malam. Tidak ada foto sketsa yang difoto miring di bawah lampu meja. Tidak ada Mas, aku ke workshop jam 2 ya. Tidak ada mobil yang berhenti di halaman, mesin yang sudah kuhafal suaranya, langkah sepatu kanvas di lantai semen.

Aku tidak mengirim apa pun. Ia bilang jangan. Untuk sekali ini, aku mendengarkan apa yang ia minta.

Aku bekerja. Itu satu-satunya yang bisa kulakukan. Aku menyelesaikan rangka jendela mini kedua untuk butiknya, lalu ketiga, lalu keempat, padahal ia cuma memesan dua. Aku memeriksa engsel pintu mahoni di Gedung Merdeka sampai Pak Satpam bertanya apakah ada yang rusak. Aku memasang lampu kecil di bawah lengan panggung, lampu yang tidak ada di desain, supaya model-model bisa melihat tepi lantai dalam gelap.

Aku tidak menyentuh noda minyak di lantai panggung.

Mang Ujang mengawasiku seperti mengawasi kayu yang mulai retak. Sasa membawakan makanan tiga kali sehari dan mengambilnya kembali tiga kali sehari tanpa tersentuh. Ridwan tidak memegang ponsel sama sekali, dan itu lebih mengkhawatirkan dari apa pun.

Bapak datang setiap hari. Ia duduk di bangkunya, memahat sendok, dan tidak bicara. Tapi setiap sore, sebelum pulang, ia meletakkan sendok yang baru selesai di meja kerjaku. Tiga hari, tiga sendok. Berjajar di samping pahat-pahatku, seperti penjaga.

Malam ketiga, jam sembilan, sebuah taksi berhenti di halaman.

Koh Hendra turun dengan koper kecil, kemeja batik yang kekecilan di perut, dan tas laptop di bahu. Ia tidak membawa bakpia. Wajahnya terlihat seperti orang yang tidak tidur di pesawat.

“Pram,” katanya di ambang pintu.

“Koh nggak bilang mau datang.”

“Gua nggak pernah bilang mau datang.” Ia masuk, meletakkan koper di dekat bangku Bapak, lalu menatapku dari ujung kepala sampai kaki. “Ya Tuhan. Lu kayak mayat yang belum dikasih tahu dia udah mati.”


Kami duduk di meja panjang dekat jendela. Mang Ujang membawa teh. Sasa dan Ridwan sudah pulang. Bapak juga. Workshop sepi, cuma lampu meja dan bau jati dan suara jangkrik di kebun singkong.

Koh Hendra membuka laptopnya. Lalu, dari tas yang sama, ia mengeluarkan sesuatu yang tidak kusangka.

Kalkulator. Kalkulator meja tua berwarna krem, dengan tombol-tombol besar yang sudah pudar angkanya. Jenis kalkulator yang dipakai pemilik toko kelontong tahun sembilan puluhan.

“Ini kalkulator bapak gua,” katanya, meletakkannya di meja dengan sangat hati-hati. “Dia pakai ini tiga puluh tahun buat ngitung utang-piutang tokonya di Glodok. Gua bawa ke mana-mana. Kalau gua mau ngitung sesuatu yang penting, gua pakai ini.”

“Koh mau ngitung apa?”

“Lu.”

Aku menatapnya.

“Lu udah lima setengah tahun jadi partner gua, Pram. Lu tahu gua importir. Kerjaan gua ngitung. Berapa kubik kayu, berapa kontainer, berapa ongkos, berapa untung.” Ia menekan tombol C di kalkulator, dua kali, bunyinya keras di workshop yang sepi. “Tiga hari lalu lu bilang ke gua di telepon, Dara bilang lu bilang biasa aja. Soal mesin. Soal semuanya.”

“Itu memang...”

“Diem.” Koh Hendra tidak menatapku. Ia menatap kalkulator. “Sekarang gua yang ngomong. Lu dengerin. Dan kalau gua selesai, lu bilang lagi itu biasa aja. Kalau lu masih bisa.”

Mang Ujang, di sampingku, menarik kursi dan duduk. Ia melipat tangannya di atas meja. Ia tidak pergi.


“Satu,” kata Koh Hendra. “Mesin CNC.”

Ia mengetik angka di kalkulator.

“Lu beli bekas, nyicil dua tahun. Harga pasar waktu itu, kalau lu jual dengan sabar, seratus delapan puluh juta. Lu jual ke Pak Haji siapa itu...”

“Somad,” kata Mang Ujang pelan.

“Somad. Lu jual sembilan puluh lima. Karena buru-buru. Karena gua harus bayar Dara minggu itu juga.” Ia menekan tombol. “Lu rugi delapan puluh lima juta. Cuma dari jualnya aja.”

Aku tidak menjawab.

“Dua. Ekspor mundur setahun.” Ia mengetik lagi. “Tanpa mesin, lu nggak bisa ambil order Jepang yang pertama. Gua inget banget. Dua kontainer. Gua yang nawarin. Lu tolak. Nilainya empat ratus dua puluh juta. Order itu diambil workshop di Jepara. Mereka sekarang udah punya pabrik.”

Klik. Klik. Klik.

“Tiga. Lu kerja pakai tangan setahun. Mang Ujang, berapa jam A Prama kerja sehari, tahun itu?”

Mang Ujang menatap meja. “Lima welas, Koh. Kadang genep welas.”

“Enam belas jam. Tiga ratus enam puluh lima hari.” Koh Hendra mengetik. “Lima ribu delapan ratus empat puluh jam. Gua nggak tahu itu nilainya berapa duit. Gua cuma tahu itu satu tahun hidup lu.”

Ia berhenti. Menatap angka di layar kalkulator. Lalu melanjutkan.

“Empat. Kolaborasi DARA. Dua tahun lalu. Proposal tiga halaman dari asistennya yang suka tanda seru.” Ia mengetik. “Enam ratus lima puluh juta. Gua lihat proposalnya, Pram. Lu forward ke gua buat minta pendapat. Gua bilang ambil. Gua telepon lu dua jam. Lu tolak. Karena lu nggak mau dia berutang sama lu.”

Mang Ujang mengusap matanya dengan punggung tangan.

“Lima. Dua belas potong baju. Harga penuh. Tiap koleksi. Lima tahun.” Klik. “Tiga puluh delapan juta empat ratus. Sasa kirim struknya ke gua kemarin. Semuanya. Nggak ada satu pun yang pakai diskon.”

“Enam. Kelas tekstil. Empat bulan. Selasa sama Kamis malam. Lu bayar dua juta setengah buat belajar bedanya satin dupes sama satin apa itu...”

“Duchesse sama charmeuse,” kataku pelan.

“Itu.” Koh Hendra menekan tombol dengan keras. “Lu hafal nama kain. Lu tukang kayu, Pram. Lu hafal nama kain.”

“Tujuh.” Suaranya mulai berubah. Tidak lagi seperti orang yang membaca laporan keuangan. “Penggaris. Jati seratus tahun dari Garut. Bulan lalu buyer gua dari Kyoto nawar balok itu lima belas juta. Lu bilang nggak dijual. Ternyata lu jadiin penggaris. Buat dia. Lu sebut bonus vendor.”

“Delapan. Meja gambar. Sembilan. Tempat HP. Sepuluh. Pintu yang lu bikin ulang tujuh kali. Sebelas. Rangka jendela mini yang dia pesen dua, lu bikin empat.” Ia mengetik setiap angka, meskipun tidak ada harga yang bisa ditulis. Cuma menekan tombol, seperti orang yang menghitung manik-manik tasbih. “Dua belas. Lampu di bawah panggung yang nggak ada di desain. Mang Ujang cerita.”

Klik. Klik. Klik.

“Mang,” kata Koh Hendra tiba-tiba. “Bekas luka di tangannya. Yang baru. Yang sejak dia kenal Dara. Ada berapa?”

Mang Ujang tidak langsung menjawab. Ia menatap tanganku, yang tergeletak di atas meja. Lalu ia mengulurkan tangannya sendiri, yang kasar dan tua, dan membalik tanganku dengan pelan. Telapak ke atas. Lalu ke bawah. Ia menghitung dengan ujung jarinya, menyentuh setiap garis merah muda yang masih baru di antara garis-garis putih yang lama.

“Tujuh, Koh,” katanya akhirnya. Suaranya serak. “Tujuh dina dua bulan. Nu panggedena di jempol. Nu Teteh nu ngabungkus.”

Koh Hendra mengetik tujuh.

Lalu ia berhenti. Ia menatap layar kalkulator yang sudah penuh angka. Ia tidak menekan tombol sama dengan. Ia cuma menatapnya.

“Dan nomor terakhir,” katanya pelan. “Yang nggak bisa gua itung.”

Ia menoleh padaku. Untuk pertama kalinya malam itu, ia menatapku langsung.

“Lima tahun lu nggak pernah muncul, Pram. Lima tahun lu tahu di mana dia. Lu bisa datang kapan aja. Lu bisa bilang hai, aku yang beli. Lu bisa minta dia bales. Lu bisa minta dia makan malam. Lu bisa minta apa pun. Lu nggak minta apa-apa. Lima tahun.” Suaranya pecah. “Itu yang paling mahal. Gua importir dua puluh tahun. Gua belum pernah lihat barang semahal itu.”

Hening.

Mang Ujang menangis tanpa suara di sampingku, bahunya bergetar.

Koh Hendra mendorong kalkulator itu ke depanku. Pelan. Sampai berhenti tepat di depan tanganku yang penuh bekas luka.

“Sekarang,” katanya. “Bilang ke gua.”

Ia menunggu.

“Ini biasa aja, Pram?”


Aku menatap kalkulator itu.

Angka-angka di layarnya. Delapan puluh lima. Empat ratus dua puluh. Enam ratus lima puluh. Tiga puluh delapan koma empat. Angka-angka yang tidak pernah kuhitung. Tidak sekali pun. Selama lima tahun, aku tidak pernah duduk dan menjumlahkan apa pun.

Karena aku tidak pernah berpikir itu perlu dijumlahkan. Mesin itu cuma mesin. Kontrak itu cuma kontrak. Satu tahun itu cuma satu tahun. Setiap hal, sendirian, terasa kecil. Terasa wajar. Terasa seperti hal yang akan dilakukan siapa pun.

Biasa aja.

Tapi di layar kalkulator tua milik ayah Koh Hendra, dalam angka-angka hitam di atas latar hijau pudar, semuanya berdiri berjajar. Satu di samping yang lain. Seperti lima tahun hidupku yang dijejerkan di atas meja.

Dan untuk pertama kalinya, aku melihatnya.

Bukan sebagai mesin. Bukan sebagai kontrak. Bukan sebagai luka di jempol atau kelas tekstil di Selasa malam.

Aku melihat seberapa besar.

Aku melihat bahwa aku sudah memberikan segalanya. Bukan karena aku pahlawan. Bukan karena aku malaikat. Tapi karena setiap kali aku harus memilih antara diriku sendiri dan perempuan di stan sebelah, aku tidak pernah ragu. Tidak sekali pun. Bahkan tidak sadar sedang memilih.

Lima tahun aku mencintainya seperti bernapas. Dan seperti orang yang bernapas, aku tidak pernah menghitung berapa kali.

“Nggak,” bisikku.

Koh Hendra tidak bergerak.

“Nggak biasa, Koh.”

Aku tidak tahu kapan aku mulai menangis. Aku cuma tahu tiba-tiba aku tidak bisa melihat kalkulator itu lagi. Semua angka kabur. Semua lampu jadi garis-garis kuning yang meleleh.

Ini berbeda dari malam di samping Mang Ujang, setelah Gedung Merdeka. Malam itu aku menangis karena kehilangan. Malam ini aku menangis karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih buruk.

Karena aku baru tahu betapa besarnya. Dan aku baru tahu bahwa aku tidak pernah mengatakannya pada dia. Tidak sekali pun. Tidak aku sayang kamu. Tidak aku cinta kamu. Tidak dengan suaraku sendiri.

Aku cuma mengatakannya lewat mesin yang dijual. Lewat kontrak yang ditolak. Lewat penggaris dan meja dan tempat HP dan kartu krem yang ditulis empat kali.

Dan semua itu, aku sembunyikan.

Aku menangis dengan wajah di telapak tanganku, di atas meja kerja, seperti anak kecil. Bahuku bergetar. Suaraku keluar dari tempat yang sangat dalam, tempat yang selama sebelas tahun kututup rapat sejak pemakaman Ibu. Aku tidak bisa berhenti. Aku tidak mau berhenti.

Tangan Mang Ujang di punggungku. Tangan Koh Hendra di bahuku.

Tidak ada yang bilang jangan nangis.


Aku tidak tahu berapa lama. Ketika akhirnya aku bisa mengangkat kepala lagi, teh di cangkir sonokeling sudah dingin, dan jangkrik di kebun sudah berhenti bernyanyi.

Koh Hendra menutup laptopnya. Ia memasukkan kalkulator tua itu kembali ke tas dengan sangat hati-hati.

“Pram,” katanya. “Gua mau bilang satu hal lagi. Abis itu gua tidur. Gua capek.”

Aku mengangguk.

“Gua yang bohong di depan dia.” Ia menatap tangannya sendiri. “Gua yang bilang istri gua namanya Lin. Gua yang bilang brokat itu lengket. Gua yang pegang tangannya sambil dia nangis dan bilang terima kasih buat sesuatu yang bukan gua yang lakuin.”

“Itu salah saya, Koh. Saya yang minta.”

“Gua yang setuju.” Koh Hendra berdiri. Ia mengambil koper kecilnya dari dekat bangku Bapak. “Besok pagi gua ke Dago. Ke kantornya. Gua minta maaf. Langsung. Dengan suara gua sendiri. Kayak yang dia mau.”

“Koh, dia bilang jangan...”

“Dia bilang lu jangan. Dia nggak bilang gua jangan.” Koh Hendra berhenti di ambang pintu, lalu menoleh. “Dan Pram. Gua nggak akan ngomongin lu. Gua nggak akan bela lu. Gua nggak akan bilang lu orang baik. Itu bukan tugas gua.”

Ia keluar. Suara taksi yang menunggu di halaman. Lalu pergi.

Mang Ujang masih duduk di sampingku. Ia tidak bicara lama sekali. Lalu ia merogoh saku celananya, dan mengeluarkan sesuatu.

Kunci gembok loteng.

Ia meletakkannya di atas meja, di depanku, di tempat kalkulator tadi berada.

“Abdi teu ngabalikeun ka Aa, A,” katanya. “Abdi ngan nunjukkeun. Kuncina masih aya di abdi. Aa nu masrahkeun. Abdi nu nyimpen.”

Ia mengambil kunci itu lagi dan memasukkannya kembali ke sakunya.

“Tapi lamun aya nu datang ka dieu, A,” lanjutnya pelan, berdiri, menepuk bahuku, “nu lain Aa, nu menta kunci ieu...”

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia cuma tersenyum, sedikit, di bawah kumis, untuk pertama kalinya dalam tiga hari.

“...abdi moal nolak.”