← Pembeli Pertamamu

Chapter Thirty Five

Bab 35 — Bapak Juga Nggak

POV: Dara

Pesan pertamanya datang jam enam pagi, sebelum aku sempat mengirim yang duluan.

Selamat pagi, Dara. Aku udah bangun dari jam empat. Nggak bisa tidur. Kamu masih wangi melati di kepalaku.

Aku membacanya di kasur, masih setengah tidur, dan butuh tiga kali membaca sebelum aku sadar apa yang berbeda.

Aku.

Bukan saya. Dua bulan, setiap pesan, setiap percakapan, ia selalu saya. Sopan. Berjarak. Seperti vendor pada klien. Bahkan setelah loteng. Bahkan setelah cicilan pertama.

Semalam, di workshop, di depan semua orang, dengan kebaya kutubaru dan melati di sanggulku, ia bilang aku cuma tukang kayu. Dan sekarang, di pesan pertama pagi ini, aku lagi.

Aku memeluk ponsel ke dada dan menendang-nendang selimut seperti anak SMA.

Selamat pagi, Pram, ketikku. Kamu bilang “aku”.

Tiga titik. Lama.

Iya. Boleh?

Harus. Mulai sekarang harus. Kalau kamu balik ke “saya”, aku potong gajimu.

Kamu bukan bosku.

Belum.

Tiga titik muncul, hilang, muncul, hilang. Lalu tidak ada balasan selama lima menit. Aku membayangkan wajahnya di workshop, merah sampai ke telinga, menatap ponsel dan tidak tahu harus mengetik apa.

Akhirnya:

Mang Ujang barusan lihat HP-ku dan teriak. Aku harus pergi sebelum Bapak dateng.

Aku tertawa sampai tetangga apartemen sebelah mengetuk dinding.


Aku mengajaknya makan malam di rumah Ayah tiga hari sebelum show.

Aku sudah memikirkannya sejak loteng. Sejak aku membaca suratnya. Sejak aku tahu bahwa paku itu bukan malaikat dari Singapura, tapi laki-laki dari Cigadung. Ayah harus tahu. Bukan dari panggung, bukan di depan wartawan dan kamera. Di meja makan. Di rumah yang wangi lavender dan kertas koran.

Dan Prama harus ada di sana.

Ia tidak menolak. Itu yang membuatku terkejut. Ketika aku bilang Mas, Kamis malam, makan malam di rumah orang tuaku, ia diam sepuluh detik di telepon, lalu bilang oke. Bukan saya nggak pantas. Bukan nanti ayahmu kecewa. Cuma oke.

Ia datang ke apartemenku jam enam sore untuk menjemputku. Dengan pikap tua. Lampu kirinya masih redup.

Aku membuka pintu dan berhenti.

Ia memakai kemeja batik. Cokelat tua, motif parang, lengan panjang. Kemeja yang jelas baru, karena lipatan bekas kemasan masih terlihat samar di bagian dada. Rambutnya disisir. Dagunya bersih, baru bercukur. Ia memegang dua bungkusan yang dibungkus kain blacu putih, satu besar dan satu kecil, dan ia terlihat seperti laki-laki yang mau berangkat perang.

“Kamu cantik,” katanya. Langsung. Tanpa basa-basi. Tanpa menatap rak sepatu atau jendela atau lantai.

Aku lupa apa yang mau kukatakan.

“Itu apa?” tanyaku akhirnya, menunjuk bungkusan di tangannya.

“Buat ibumu.” Ia mengangkat bungkusan yang kecil. “Sama ayahmu.” Bungkusan yang besar.

“Kamu bikin sesuatu?”

“Kamu bilang ibumu suka lilin lavender.” Telinganya mulai merah. “Sama ayahmu baca tiga koran tiap pagi.”

Aku mengulurkan tangan dan menyentuh bungkusan itu. Kain blacu. Seperti penggaris. Seperti meja gambar. Seperti semua yang pernah ia berikan padaku. Bedanya, kali ini ia memberikannya langsung. Dengan tangannya sendiri. Di depan orang yang akan menerimanya.

“Pram,” kataku. “Kamu nggak harus...”

“Aku mau.” Ia menatapku. “Kamu nanya aku mau apa, kan? Ini aku mau. Aku mau ayah sama ibumu tahu aku serius.”


Ibu membuka pintu, dan dalam waktu tiga detik, ia jatuh cinta.

Aku melihatnya terjadi. Ibu menatap Prama dari ujung kepala sampai kaki, lalu menatap bungkusan di tangannya, lalu menatap wajahnya yang merah sampai ke telinga, dan sesuatu di wajah Ibu melunak, seperti mentega di wajan panas.

“Ini Prama?” tanyanya padaku, tanpa mengalihkan pandangan dari Prama.

“Iya, Bu.”

“Yang tukang kayu?”

“Iya, Bu.”

“Yang bikin pintu buat show-mu?”

“Iya, Bu.”

Ibu menatap Prama lagi. Lalu, tanpa peringatan, ia memeluknya.

Prama membeku. Kedua bungkusan terangkat di udara, di belakang punggung Ibu, seperti orang yang ditodong. Ia menatapku dari atas bahu Ibu dengan wajah panik.

Aku menutup mulut supaya tidak tertawa.

“Masuk, masuk,” kata Ibu akhirnya, melepas pelukannya dan menepuk-nepuk lengan Prama. “Ibu masak sop buntut. Dara bilang kamu suka nasi tutug oncom, tapi Ibu nggak bisa bikin, maaf ya. Lain kali Ibu belajar.”

“Nggak apa-apa, Bu,” kata Prama, masih setengah membeku. “Sop buntut juga suka.”

“Bohong,” bisikku, ketika Ibu berjalan duluan ke dalam.

“Sekarang jadi suka,” bisiknya balik.


Ayah sudah duduk di kepala meja ketika kami masuk ke ruang makan.

Kemeja batik lengan panjang. Kacamata baca di ujung hidung. Koran sore terlipat di samping piringnya. Ia mengangkat wajah ketika kami masuk, menatap Prama, dan tidak berdiri.

“Selamat malam, Pak,” kata Prama. Ia membungkuk sedikit. “Saya Prama.”

Saya. Untuk Ayah, saya. Aku tidak keberatan.

“Bram,” kata Ayah. Ia mengulurkan tangan dari kursinya. Prama menjabatnya. Aku melihat Ayah memperhatikan tangan Prama. Kasar. Penuh bekas luka. Tujuh garis merah muda yang baru di antara puluhan garis putih yang lama.

“Tangan tukang,” kata Ayah.

“Iya, Pak.”

“Duduk.”

Prama duduk. Di sebelahku. Ia meletakkan dua bungkusan blacu di samping kursinya, di lantai, dan aku melihatnya ragu, tidak tahu kapan harus memberikannya.

Ibu yang menyelamatkannya. “Itu apa, Nak?”

“Oh.” Prama mengangkat bungkusan kecil dan menyerahkannya pada Ibu. “Buat Ibu. Nggak seberapa.”

Ibu membukanya. Di dalamnya, sebuah tempat lilin. Kayu jati, bulat, dengan cekungan di tengah untuk lilin dan lubang-lubang kecil di sekelilingnya yang diukir seperti kelopak bunga. Ketika Ibu memiringkannya di bawah lampu, bayangan lubang-lubang itu jatuh di taplak meja seperti bunga yang bertebaran.

“Melati,” bisik Ibu. “Ini bentuk melati.”

“Dara bilang Ibu nanam melati di depan rumah.”

Ibu menatap tempat lilin itu lama. Lalu menatapku. Lalu menatap Prama. Lalu, untuk kedua kalinya malam itu, matanya berkaca-kaca.

Ayah menatap bungkusan yang lebih besar di samping kursi Prama.

“Itu buat saya?”

“Iya, Pak.” Prama mengangkatnya dan menyerahkannya.

Ayah membukanya dengan gerakan yang lambat dan hati-hati, seperti membuka dokumen penting. Di dalamnya, rak koran. Kayu jati, tiga tingkat, dengan sekat-sekat tipis untuk memisahkan setiap koran. Di bagian depan setiap sekat, ada lekukan kecil untuk jari, supaya koran bisa ditarik dengan satu tangan. Dan di bagian samping, sebuah kaca pembesar kecil dalam bingkai kayu, terpasang di engsel, yang bisa dilipat keluar.

“Buat iklan duka cita,” kata Prama pelan. “Dara bilang Bapak baca semua, termasuk iklan duka cita. Hurufnya kecil-kecil.”

Ayah menatap rak koran itu sangat lama.

Lalu ia melepas kacamata bacanya. Melipatnya. Meletakkannya di samping piring.

Aku berhenti bernapas. Gerakan itu. Gerakan sebelum Ayah mengatakan sesuatu yang penting.

Tapi Ayah tidak mengatakan apa pun. Ia cuma memasang kacamata bacanya lagi, mengambil koran sore dari samping piringnya, melipatnya, dan memasukkannya ke sekat pertama rak koran. Lalu ia menarik koran itu keluar dengan satu tangan, lewat lekukan kecil di depan. Lalu memasukkannya lagi.

“Bagus,” katanya. Satu kata. Datar.

Tapi aku melihat jari-jarinya. Jari-jari Ayah yang menyentuh tepi rak jati itu, pelan, berulang kali, seperti orang yang menyentuh sesuatu yang sudah lama ia inginkan dan tidak pernah ia minta.


Kami makan. Sop buntut, perkedel, sambal goreng ati. Wortel yang dipotong bentuk bunga.

Ayah bertanya pada Prama. Tentang Kayuku. Berapa pegawai. Berapa omzet. Ke mana saja ekspornya. Prama menjawab semuanya, pelan, jujur, tanpa melebih-lebihkan dan tanpa merendahkan. Ketika Ayah bertanya kenapa Kayuku mulai ekspor setahun lebih lambat dari rencana awalnya, Prama diam sebentar, menatap piringnya, lalu menatapku.

Aku mengangguk.

“Saya jual mesin, Pak,” kata Prama. “Lima tahun lalu.”

“Kenapa?”

Prama menatap Ayah. Langsung. Tidak lari.

“Buat beli koleksi pertama anak Bapak.”

Ibu menjatuhkan sendok.

Ayah tidak bergerak.

Dan aku menceritakan sisanya. Semuanya. Sabuga. Hari ketiga. Blus putih di belakang rak. Mesin CNC dan Pak Haji Somad. Koh Hendra dan toko lampu di Tuas Avenue. Kartu krem yang ditulis empat kali. Dua belas potong di loteng. Empat puluh dua potong Embun yang masih terbungkus blacu.

Maison Lumière. Malaikat dari Singapura. Paku yang menopang seluruh hidupku.

Aku menceritakannya sambil memegang tangan Prama di bawah meja. Ia menggenggam tanganku balik, erat, sepanjang cerita.

Ketika aku selesai, ruang makan sunyi. Lilin aromaterapi lavender berkedip di meja samping. Jam dinding berdetak.

Ayah melepas kacamatanya lagi. Kali ini tidak dilipat. Ia meletakkannya begitu saja di samping piring, terbuka, seperti orang yang tiba-tiba lupa cara melipatnya.

“Jadi,” katanya pelan. “Pakunya bukan dari Singapura.”

“Bukan, Yah.”

“Pakunya dari Cigadung.”

“Iya, Yah.”

Ayah menatap Prama. Lama. Lalu ia menatap rak koran jati di samping kursinya. Lalu kembali ke Prama.

“Bodoh,” katanya.

Prama tidak bergerak.

“Jual mesin buat beli baju yang nggak laku dari perempuan yang nggak kenal kamu,” lanjut Ayah. “Itu bodoh. Itu keputusan bisnis paling bodoh yang pernah saya dengar. Dan saya sudah tiga puluh tahun di bank.”

“Iya, Pak,” kata Prama pelan.

Ayah diam lagi. Lama. Lalu ia menoleh ke Ibu, yang duduk di sampingnya dengan tempat lilin melati di pangkuan dan air mata di pipi.

“Ratna,” katanya. “Ceritain ke mereka. Soal Bapakmu.”


Ibu yang bercerita. Ayah tidak sanggup.

Tiga puluh dua tahun lalu, sebelum aku lahir, Ayah membuka usaha percetakan kecil di Cimahi. Usaha pertamanya. Mimpinya. Ia meminjam uang dari mana-mana. Dan dalam satu setengah tahun, usaha itu bangkrut. Utangnya menumpuk. Ia malu pulang. Ia hampir menjual rumah orang tuanya.

Lalu tiba-tiba, utangnya lunas. Semua. Dalam satu minggu. Bank bilang ada yang membayar, tapi tidak mau menyebut nama. Dan dua bulan kemudian, Ayah dipanggil untuk wawancara kerja di sebuah bank besar di Bandung, padahal ia tidak pernah melamar ke sana.

Ia diterima. Ia bekerja di sana tiga puluh tahun. Ia naik dari pegawai biasa sampai direktur.

“Bapak nggak pernah tahu siapa,” kata Ibu pelan. “Sampai Kakek meninggal. Dua belas tahun lalu. Di laci meja Kakek, ada surat. Buat Ayahmu. Kakek yang bayar utangnya. Kakek yang telepon temennya di bank, minta Ayahmu dipanggil wawancara. Kakek nggak pernah bilang. Seumur hidup. Karena Kakek bilang di surat itu, Bram itu laki-laki yang harga dirinya tinggi. Kalau dia tahu, dia nggak akan mau terima.”

Aku menatap Ayah. Ia menunduk menatap piringnya.

“Ayah marah,” lanjut Ibu. “Waktu baca surat itu. Marah banget. Dia bilang Kakek nggak berhak. Dia bilang seluruh kariernya bohong. Dia bilang dia nggak berhasil sendiri.”

Aku tidak bisa bernapas. Kata-kata itu. Persis seperti kata-kataku di atas panggung Gedung Merdeka.

“Terus?” bisikku.

Ayah yang menjawab. Pelan. Ke piringnya.

“Terus Bapak sadar,” katanya, “bahwa Kakek cuma bayar utang satu kali. Wawancara satu kali. Sisanya, tiga puluh tahun itu, Bapak yang kerja. Bapak yang naik. Kakek nggak bisa bikin Bapak jadi direktur. Kakek cuma...” Ia berhenti. Mencari kata.

“Beli waktu,” kata Prama pelan.

Ayah mengangkat kepala dan menatapnya. Lama.

“Beli waktu,” ulang Ayah. Ia mengangguk perlahan. “Iya. Itu kata yang tepat.”

Lalu ia menatapku.

“Dara. Lima tahun Bapak bilang kamu menggantungkan hidupmu di satu paku. Bapak bilang kalau pakunya copot, semua jatuh.” Suaranya bergetar. Aku belum pernah mendengar suara Ayah bergetar. Tidak sekali pun dalam dua puluh delapan tahun. “Bapak bilang itu karena Bapak takut. Bapak takut kamu ngalamin yang Bapak alamin. Bapak takut suatu hari kamu tahu pakumu ternyata bukan yang kamu kira, dan kamu jatuh kayak Bapak jatuh waktu baca surat Kakek.”

“Yah...”

“Nggak ada orang yang berhasil sendirian, Nak.” Ayah melepas kacamatanya untuk ketiga kalinya, dan kali ini aku melihat matanya basah. “Bapak juga nggak.”

Aku tidak tahu siapa yang berdiri duluan. Mungkin aku. Mungkin Ayah. Aku cuma tahu tiba-tiba aku memeluk Ayah, dari samping kursinya, dan Ayah memelukku balik, kaku, canggung, seperti orang yang sudah lama tidak memeluk anaknya dan lupa caranya.

“Kamu bagus,” bisik Ayah di rambutku. “Bapak lihat sendiri. Lima tahun. Bapak beli tiga kebayamu buat ibumu. Harga penuh. Ibumu nggak tahu. Bapak beli lewat temen.”

Aku tertawa dan menangis bersamaan.

“Harga penuh, Yah?”

“Masa Bapak nawar karya anak sendiri,” gumam Ayah, dengan suara yang terdengar sangat malu.


Di parkiran, setelah makan malam, setelah Ibu memeluk Prama untuk ketiga kalinya dan Ayah menjabat tangannya dengan dua tangan, aku berdiri di samping pikap tua dengan lampu kiri yang redup.

Prama berdiri di depanku.

Dan sebelum aku sempat melakukan apa pun, sebelum aku sempat mengulurkan tangan, sebelum aku sempat melangkah maju seperti biasanya, ia yang bergerak duluan.

Ia memelukku.

Ia yang mulai. Untuk pertama kalinya. Lengannya melingkariku, menarikku ke dadanya, ke kemeja batik parang yang masih ada bekas lipatan kemasan. Dagunya di puncak kepalaku. Tangannya di punggungku.

Aku membeku. Lalu, pelan-pelan, aku tersenyum ke dadanya.

“Pram,” bisikku. “Kamu meluk duluan.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Ia diam sebentar. Lalu:

“Karena aku mau.”

Aku memejamkan mata dan memeluknya balik, erat, di parkiran rumah Ayah, di bawah lampu teras yang kuning, dengan wangi lavender dari jendela ruang makan.

Dari jendela itu, aku tahu, Ibu sedang mengintip. Dan mungkin Ayah juga. Mungkin Ayah sedang berdiri di belakang tirai, dengan kacamata baca di ujung hidung, menatap anaknya dipeluk oleh tukang kayu yang menjual mesinnya lima tahun lalu.

Aku tidak peduli.

Karena aku mau.

Tiga kata. PR-nya belum selesai. Tapi itu langkah kedua.