Chapter Twenty Eight
Bab 28 — Aku Cuma Beli Waktu
POV: Prama
Aku menceritakan semuanya sambil berlutut di atas lantai jati yang belum selesai diminyaki.
Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Jadi aku mulai dari yang paling awal. Dari yang selama lima tahun cuma kuceritakan pada lemari di loteng.
“Hari pertama bazar,” kataku. “Kamu ketawa. Ada anak kecil yang nyoba topi kucing dari stanmu, terus topinya kegedean, nutupin seluruh mukanya. Kamu ketawa. Kepalamu ke belakang. Matamu sampai merem.”
Ia berdiri di depanku. Tidak bergerak. Tidak menyela.
“Saya lagi pegang cangkir sonokeling. Saya jatuhin. Bunyinya keras banget. Kamu kaget, terus noleh. Saya nunduk mungut cangkirnya, karena malu. Kamu nggak lihat muka saya.”
Aku melihat sesuatu bergerak di wajahnya. Mungkin ingatan. Bunyi cangkir yang jatuh. Penjual yang menunduk karena malu.
“Hari ketiga, sore, bazarnya mau tutup. Saya lihat kamu di belakang rak. Kamu pikir nggak ada yang lihat. Kamu pegang ujung blus putih, kerah sabrina, yang paling depan. Kamu nangis tanpa suara. Rambutmu nutupin muka. Dan dari sela rambutmu, saya lihat matamu.”
Aku berhenti. Tenggorokanku menyempit.
“Warnanya kayak jati yang baru diampelas.”
Ia memejamkan mata.
Aku melanjutkan. Aku menceritakan malam itu. Jam dua pagi, telepon ke Koh Hendra, yang waktu itu baru enam bulan jadi buyer-ku. Mesin CNC bekas yang cicilannya baru lunas. Pak Haji Somad dari Cibaduyut, yang menawar sampai separuh harga dan aku terima karena tidak ada waktu. Nama butik yang dipinjam dari papan toko lampu di sebelah gudang Koh Hendra, karena Koh Hendra tidak tahu nama butik yang bagus dan aku juga tidak.
Kartu krem. Empat kali kutulis, karena tiga yang pertama tintanya meleber. Karena tanganku gemetar.
Empat puluh dua potong, dikirim ke Singapura, lalu dikirim kembali ke Bandung tiga bulan kemudian dalam kontainer retur Kayuku, terbungkus blacu.
“Mesinmu,” katanya. Suaranya pelan sekali. “Kamu jual mesinmu.”
“Iya.”
“Buat apa yang kamu pakai kerja?”
“Iya.”
“Terus Kayuku?”
“Ekspornya mundur setahun. Saya kerjain semua pesanan pakai tangan.”
“Setahun.”
“Biasa aja,” kataku. “Banyak tukang kayu yang kerja pakai tangan.”
“Jangan.”
Kata itu keluar dari mulutnya seperti pahat yang dilempar. Keras. Tajam. Ia melangkah maju, dan sekarang ia berdiri tepat di depanku, menatapku dari atas, dengan mata yang merah dan basah dan marah.
“Jangan bilang biasa aja. Jangan berani bilang biasa aja. Kamu jual mesinmu buat beli baju yang nggak laku dari orang yang nggak kenal kamu, dan kamu bilang biasa aja?”
Aku tidak menjawab.
“Itu bukan biasa, Mas. Nggak ada satu pun dari ini yang biasa.”
Aku menceritakan aturannya.
Aturan pertama: sekali saja. Aku sudah membelikannya waktu. Sisanya harus ia raih sendiri.
“Kenapa sekali?” tanyanya.
“Supaya kamu tahu.” Aku menatap kartu krem di lantai. “Kalau saya terus beli, kamu nggak akan pernah tahu apakah dunia beneran mau bajumu, atau cuma saya. Saya nggak mau ngambil itu dari kamu.”
“Tapi kamu beli tiap koleksi.”
“Satu potong. Dari ratusan.” Aku mengangkat kepala. “Dara. Koleksi Kemarau laku tiga ratus potong dalam dua bulan. Pesisir habis dalam tiga minggu. Melati di Tangan Ibu, majalah nyebut itu titik balik kariermu, dan saya cuma beli satu outer. Satu. Sisanya, dua ratus delapan puluh orang lain yang beli. Orang yang nggak kenal saya. Orang yang nggak kenal kamu. Mereka beli karena bajumu bagus.”
Ia menatapku.
“Garis Pantai dibeli butik di Jakarta, Surabaya, Bali. Kolaborasimu sama dua brand besar itu, saya nggak ada di sana. Gedung tiga lantaimu, dua belas penjahitmu, Bu Imas, Tiwi, semua itu bukan dari saya.” Suaraku pecah. Aku menahannya. “Saya cuma beli empat puluh dua potong lima tahun lalu. Itu aja. Saya nggak bikin kamu berhasil, Dara.”
Aku menarik napas.
“Saya cuma beli waktu.”
Hening. Di atas kami, lampu kerja berdengung. Minyak tung yang tumpah sudah berhenti menyebar, membentuk noda gelap berbentuk tidak beraturan di atas papan jati.
“Waktu,” ulangnya.
“Waktu buat kamu nggak berhenti. Seminggu, dua minggu, sebulan. Sampai kamu bikin koleksi kedua. Sampai dunia lihat. Sisanya kamu. Semuanya kamu.”
Ia diam lama. Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan. Wajahnya tidak bisa kubaca. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, wajahnya tertutup sepenuhnya, seperti pintu yang dikunci dari dalam.
Lalu ia bertanya hal yang tidak kusangka.
“Siapa yang ngizinin kamu?”
Aku berkedip.
“Siapa yang ngizinin kamu mutusin itu buat aku?” Suaranya tidak keras lagi. Pelan. Jauh lebih buruk. “Siapa yang bilang aku nggak boleh tahu? Siapa yang bilang aku nggak kuat tahu?”
“Dara...”
“Lima tahun kamu mutusin apa yang boleh aku tahu dan apa yang nggak. Kamu mutusin aku harus percaya aku berhasil sendiri. Kamu mutusin aku harus punya malaikat. Kamu mutusin aku nggak boleh tahu malaikatku itu kamu. Kamu mutusin Koh Hendra harus bohong di depan aku.” Ia menggeleng pelan. “Kamu nggak pernah nanya, Mas. Sekali pun. Kamu nggak pernah nanya aku mau apa.”
Aku membuka mulut. Lalu menutupnya.
Ia benar.
Selama lima tahun, aku pikir aku sedang melindunginya. Dari utang. Dari rasa kasihan. Dari keraguan. Aku pikir diamku adalah hadiah. Aku tidak pernah sekali pun berpikir bahwa diamku juga adalah keputusan. Keputusan yang kuambil untuknya, tanpa bertanya. Seperti mengukir kayu tanpa membaca seratnya dulu.
“Kamu tahu bagian yang paling sakit?” tanyanya.
Aku menunggu.
“Bukan karena kamu beli bajuku. Bukan karena Maison Lumière nggak ada. Bukan karena Koh Hendra nggak tahu brokat.” Air matanya jatuh lagi, tapi suaranya tetap datar. “Yang paling sakit itu, aku cerita semuanya ke kamu. Soal Ayah. Soal paku. Soal aku takut nggak cukup. Aku buka semuanya di depan kamu. Dan kamu cuma dengerin. Kamu nggak pernah buka apa pun buat aku.”
“Saya...”
“Kamu tahu semua tentang aku, Mas. Bajuku. Kainku. Kosku. Melati ibuku. Dan aku nggak tahu apa-apa tentang kamu. Aku cuma tahu yang kamu izinin aku tahu.”
Aku tidak bisa bicara.
“Kenapa kamu nggak pernah datang?” tanyanya tiba-tiba. “Lima tahun. Kamu tahu di mana kantorku. Kamu tahu aku siapa. Kenapa kamu nggak pernah datang dan bilang, hai, aku stan sebelah di Sabuga?”
Aku menatap lantai jati. Noda minyak di sampingku.
“Karena saya tukang kayu,” kataku. “Dengan pikap tua yang lampu kirinya redup. Dan kamu...”
“Aku apa?”
“Kamu Dara.” Aku mengangkat kepala. “Kamu yang bikin ruangan berhenti. Yang didatangi wartawan. Yang dikirimi bunga tiap minggu sama orang yang punya brand denim. Saya cuma...”
“Kamu nggak berhak,” katanya. Pelan. Tajam. “Kamu nggak berhak mutusin aku pantas sama siapa.”
Aku diam.
“Itu juga keputusan, Mas. Kamu mutusin kamu nggak pantas buat aku. Kamu mutusin aku pantasnya sama Mas Ardi atau fotografer dari Jakarta atau siapa pun yang bukan kamu. Dan kamu nggak pernah nanya.” Suaranya pecah di ujung. “Kamu bahkan nggak pernah nanya aku mau siapa.”
Aku tidak punya jawaban.
“Di loteng,” katanya, lebih pelan. “Ada apa?”
Aku memejamkan mata. “Semua bajumu. Sebelas potong. Satu dari setiap koleksi. Di lemari jati. Dan empat puluh dua potong Embun. Masih terbungkus blacu. Belum pernah dibuka.”
Ia tidak bergerak. Tidak bicara. Aku membuka mata, dan melihatnya berdiri dengan map biru di dada, menatap noda minyak di lantai, dengan wajah yang seperti sedang menahan sesuatu yang sangat besar dari dalam.
“Lima tahun,” bisiknya. “Kamu simpen semuanya. Nggak dibuka.”
“Bukan punya saya buat dibuka.”
Ia menutup matanya. Lama. Lalu membukanya, dan aku melihat sesuatu di sana yang tidak bisa kubaca. Bukan marah. Bukan juga lega. Sesuatu di antaranya, yang terlalu rumit untuk diberi nama.
“Aku nggak mau lihat,” katanya. “Nggak sekarang.”
Ia memungut kartu krem dari lantai. Lalu catatan kecil. Ia memasukkan keduanya ke map biru, bersama struk-struk itu, dan memeluk map itu ke dadanya.
“Aku pulang,” katanya.
Aku berdiri. Lututku kaku. “Saya antar...”
“Nggak.”
“Udah malam, Dara.”
“Aku tahu jalan pulang.” Ia berbalik dan berjalan ke tepi panggung. Lalu berhenti. Tanpa menoleh, ia berkata: “Jangan ikutin aku.”
Aku berhenti.
“Aku tahu kamu ngikutin aku dari Cigadung waktu itu. Pakai pikap. Lampu kirinya redup.” Suaranya bergetar. “Malam itu aku pikir itu hal paling manis yang pernah orang lakuin buat aku. Sekarang aku nggak tahu lagi itu apa.”
Ia turun dari panggung.
“Jangan telepon aku,” katanya. “Jangan kirim apa pun. Jangan bikin apa pun buat aku. Aku butuh...”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia cuma berjalan. Melewati lorong. Langkahnya bergema di lantai marmer, makin jauh, makin pelan, lalu hilang.
Pintu samping Gedung Merdeka terbuka dan tertutup.
Aku berdiri di tengah panggung yang belum jadi, di samping minyak yang tumpah, dan mendengarkan mesin mobilnya menyala di luar. Lalu menjauh. Ke arah Dago.
Untuk pertama kalinya, aku tidak mengikutinya.
Aku berdiri di sana lama setelah suara mesinnya hilang. Dan aku mencoba melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan selama lima tahun.
Aku mencoba membayangkan bertanya.
Lima tahun lalu, di hari ketiga Sabuga, berjalan ke belakang rak itu. Berdiri di depannya. Bilang, aku stan sebelah. Aku lihat kamu nangis. Boleh aku beli bajumu? Dan membiarkannya menjawab. Mungkin ia akan menolak, karena malu. Mungkin ia akan marah, karena merasa dikasihani. Mungkin ia akan tertawa, dan menangis, dan menjual satu blus putih berkerah sabrina pada tukang kayu yang tidak tahu bedanya linen dan katun.
Apa pun jawabannya, itu jawabannya. Bukan jawabanku.
Aku tidak pernah memberinya kesempatan untuk menjawab. Aku memutuskan untuknya, karena aku takut jawabannya. Dan selama lima tahun, aku menyebut ketakutan itu dengan nama yang lebih indah.
Bapak benar. Kayu yang terlalu lama disembunyikan, keropos dari dalam.
Aku menyelesaikan minyak lantai sampai jam dua pagi.
Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena tanganku butuh sesuatu untuk dikerjakan. Mungkin karena panggung ini tetap harus jadi, apa pun yang terjadi, karena tiga minggu lagi seratus model akan berjalan di atasnya mengenakan baju yang ia jahit sampai subuh.
Aku membersihkan minyak yang tumpah sebisaku. Tapi nodanya tidak hilang. Jati bekas itu sudah meminum minyaknya terlalu dalam. Noda gelap berbentuk tidak beraturan, di tengah lengan panggung yang panjang, tepat di tempat ia berdiri waktu bertanya jadi aku sebenarnya nggak bagus?
Aku bisa mengampelasnya. Besok. Dengan ampelas kasar, lalu halus, lalu diminyaki ulang. Dalam dua jam, noda itu akan hilang.
Aku berlutut di depannya, ampelas di tangan. Lalu aku meletakkan ampelas itu kembali.
Aku tidak sanggup menghapusnya.
Aku tiba di workshop jam setengah tiga pagi. Lampunya masih menyala. Mang Ujang tidur di bangku Bapak di dekat pintu, dengan kepala bersandar di dinding dan mulut terbuka. Ia tidak pulang. Ia menungguku.
Aku tidak membangunkannya. Aku berjalan ke tangga loteng dan naik.
Aku membuka gembok. Aku membuka pintu. Aku berdiri di ambang loteng, menatap lemari jati di bawah bohlam kuning, dan dua belas kotak kardus terbungkus blacu di sisi lain.
Aku tidak masuk.
Aku cuma berdiri di sana, lama, sampai mataku tidak bisa melihat apa pun dengan jelas.
Kamu nggak pernah nanya aku mau apa.
Aku menutup pintu loteng. Aku mengunci gemboknya. Lalu aku turun, dan berhenti di depan Mang Ujang yang masih tidur, dan meletakkan kunci gembok itu di pangkuannya. Di atas celemek yang dilipat rapi.
Mang Ujang membuka mata. Ia tidak benar-benar tidur. Ia tidak pernah benar-benar tidur kalau aku belum pulang.
Ia menatap kunci di pangkuannya. Lalu menatapku.
“A,” katanya pelan.
“Simpen, Mang.”
“Kanggo naon?”
“Aku nggak mau naik lagi.” Aku duduk di lantai di sampingnya, punggung bersandar ke dinding, karena kakiku tidak sanggup lagi menahanku. “Semua yang di atas, itu bukan punyaku. Nggak pernah punyaku. Aku cuma nyimpen, karena nggak berani ngasih.”
Mang Ujang menggenggam kunci itu.
“Teteh tahu?” tanyanya.
“Semuanya.”
“Teteh kumaha?”
Aku menatap tanganku. Tangan yang penuh bekas luka. Tangan yang lima tahun lalu menulis Teruskan empat kali di atas kartu krem.
“Dia bilang aku nggak pernah nanya dia mau apa,” kataku. “Dan dia benar, Mang. Lima tahun. Aku nggak pernah nanya.”
Mang Ujang tidak menjawab. Ia cuma mengulurkan tangannya yang kasar dan menepuk kepalaku. Dua kali. Seperti menepuk anak kecil.
Aku menutup mataku dan, untuk pertama kalinya sejak pemakaman Ibu sebelas tahun lalu, membiarkan diriku menangis di depan orang lain.
- 1 Bab 1 — Order Pertama
- 2 Bab 2 — Loteng
- 3 Bab 3 — Vendor yang Tidak Mau Menatap
- 4 Bab 4 — Pelanggan Ukuran S
- 5 Bab 5 — Serutan
- 6 Bab 6 — Sendok Pak Darsa
- 7 Bab 7 — Revisi Ketujuh
- 8 Bab 8 — Kutubaru
- 9 Bab 9 — Tolong Diam
- 10 Bab 10 — Koh Hendra Datang ke Bandung
- 11 Bab 11 — Tangan yang Luka
- 12 Bab 12 — Harga Penuh
- 13 Bab 13 — Jati yang Baru Diampelas
- 14 Bab 14 — Pak Bram
- 15 Bab 15 — Pegang yang Benar
- 16 Bab 16 — Truk Pengiriman
- 17 Bab 17 — Mitos
- 18 Bab 18 — Kontrak Lembang
- 19 Bab 19 — Stapler Biru
- 20 Bab 20 — Tempat Orang Berhenti
- 21 Bab 21 — Ridwan dan TikTok
- 22 Bab 22 — Rooftop
- 23 Bab 23 — Undangan
- 24 Bab 24 — Kebaikan yang Salah Tempat
- 25 Bab 25 — Brokat Bukan Merek Lem
- 26 Bab 26 — Struk
- 27 Bab 27 — Tulisan Tangan
- 28 Bab 28 — Aku Cuma Beli Waktu reading
- 29 Bab 29 — Biasa Aja, Pram?
- 30 Bab 30 — Loteng
- 31 Bab 31 — Giliranku
- 32 Bab 32 — Cicilan Pertama
- 33 Bab 33 — Ukuran Jas
- 34 Bab 34 — Kutubaru untuk Satu Orang
- 35 Bab 35 — Bapak Juga Nggak
- 36 Bab 36 — Harga Penuh, Tanpa Cicilan
- 37 Bab 37 — Lima Tahun Menahan Diri
- 38 Bab 38 — Pembeli Pertamaku
- 39 Bab 39 — Nggak Ada yang Biasa Aja
- 40 Epilog — Rumah dari Kayu