Chapter Eighteen
Bab 18 — Kontrak Lembang
POV: Prama
Ia datang hari Kamis, tiga hari setelah Dara menyebut Kayuku di televisi.
Bukan dengan mobil yang suaranya sudah kuhafal. Dengan SUV hitam yang terlalu bersih untuk jalan kecil Cigadung, yang bannya langsung terbenam di lumpur sisa hujan semalam begitu berhenti di halaman. Pintunya terbuka. Sepasang sepatu bot kulit cokelat turun, menginjak lumpur tanpa ragu, tanpa mengangkat ujung celana, tanpa mengeluh.
Lalu pemiliknya.
Perempuan. Tinggi. Rambut hitam dipotong sebahu dengan poni yang rapi. Kemeja denim yang lengannya digulung, celana kargo krem, tas kanvas besar di bahu yang penuh gulungan kertas gambar. Kacamata hitam yang ia naikkan ke atas kepala begitu masuk ke bayangan pintu workshop.
Ia berdiri di ambang pintu dan menghirup udara. Dalam. Seperti orang yang mencium kopi pertama di pagi hari.
“Jati,” katanya. “Sama sonokeling. Sama...” Ia menghirup lagi. “Tung oil?”
Mang Ujang, yang sedang mengampelas cangkir di meja panjang, berhenti dan menatapnya dengan mata menyipit.
“Leres, Teh,” katanya pelan. “Tung oil.”
Perempuan itu tersenyum. Senyumnya lebar dan lurus, tanpa lesung pipit, tanpa malu-malu. Senyum orang yang tidak pernah bertanya-tanya apakah ia boleh tersenyum.
“Saya Anin. Anindya Kusuma. Desainer interior.” Ia berjalan masuk, langsung ke meja panjang, dan mengulurkan tangan ke Mang Ujang. Lalu ke Sasa, yang buru-buru berdiri. Lalu ke Ridwan, yang sudah mengangkat ponsel tapi langsung menurunkannya begitu disalami. “Saya cari pengrajin yang disebut Dara di TV hari Senin. Yang begadang bikin pintu.”
Semua kepala di workshop berputar ke arahku.
Aku sedang di meja paling ujung, memasang engsel di rangka jendela mini kedua. Aku meletakkan obeng. Aku mengelap tangan ke celemek. Dua kali.
Ia berjalan ke arahku tanpa menunggu dipanggil. Langkahnya panjang dan pasti. Ia berhenti di depan meja kerjaku, menatap rangka jendela mini di depanku, lalu menatap tanganku, lalu, akhirnya, wajahku.
Ia menatap langsung. Tidak lari. Tidak membuang pandangan. Seperti orang yang memeriksa kayu dan sudah tahu apa yang dicarinya.
“Kamu,” katanya.
“Prama.”
“Prama.” Ia mengangguk, seperti menyimpan nama itu. Lalu ia mengulurkan tangan.
Aku menjabatnya. Tangannya kering, hangat, genggamannya kuat. Ia tidak melepaskannya langsung. Ia membalik tanganku sedikit, sangat sedikit, dan melihat telapaknya. Garis-garis putih. Kapalan di pangkal jari. Bekas luka baru yang masih merah muda di pangkal ibu jari kiri.
“Tangan kerja,” katanya. Bukan pujian. Bukan kasihan. Fakta.
“Iya.”
Ia melepaskan tanganku dan membuka tas kanvasnya. Gulungan kertas gambar. Ia membentangkannya di atas meja kerjaku, di samping rangka jendela mini, tanpa minta izin, dan menahan ujung-ujungnya dengan pahat-pahatku.
Denah. Sebuah bangunan panjang di lereng bukit. Dua puluh empat kamar. Restoran. Lobi dengan langit-langit tinggi. Teras yang menghadap lembah.
“Hotel butik di Lembang,” katanya. “Namanya Saung Halimun. Dua puluh empat kamar, buka enam bulan lagi. Saya yang pegang interiornya.” Ia mengetuk denah dengan jari. “Saya butuh semua furnitur kayunya. Ranjang, meja, kursi, rak, panel dinding, pintu, sampai gantungan handuk. Kayu lokal. Bukan katalog. Saya mau setiap kamar terasa kayak dibikin sama satu orang yang sabar banget.”
Aku menatap denah itu. Dua puluh empat kamar.
“Itu banyak,” kataku.
“Itu banyak,” ia setuju. “Saya udah lihat workshop di Jepara, di Solo, di Cirebon. Semuanya bagus. Tapi waktu Dara ngomong di TV soal pengrajin yang begadang buat pintu, terus saya lihat Instagram kalian, terus saya lihat foto pintu embun itu...” Ia berhenti. Menatapku. “Saya tahu saya mau kamu.”
Di meja admin, Sasa menjatuhkan stapler.
“Maksud saya, saya mau Kayuku,” Anin menambahkan dengan tenang, tanpa sedikit pun tersipu. Lalu ia tersenyum lagi. “Tapi dua-duanya juga nggak salah.”
Ia menyebutkan angka anggaran.
Aku tidak langsung mendengarnya. Aku harus memintanya mengulang. Ia mengulangnya, pelan, dengan senyum yang menunjukkan bahwa ia tahu persis efek angka itu.
Di belakangku, aku mendengar Mang Ujang menarik napas sangat panjang. Lalu kursinya berderit. Lalu ia duduk, seperti orang yang kakinya tiba-tiba tidak kuat.
Angka itu cukup untuk membeli mesin CNC baru. Dua, malah. Cukup untuk menyewa gudang di sebelah. Cukup untuk menggaji tiga tukang baru selama setahun dan menambah tiga lagi.
Cukup untuk mengembalikan semua yang kujual lima tahun lalu.
“Saya perlu lihat lokasinya dulu,” kataku. Suaraku keluar lebih tenang dari yang kurasakan.
“Tentu.” Anin menggulung denahnya kembali. “Senin depan? Saya jemput. Kita ke Lembang, lihat bangunannya, ukur ruangannya. Terus makan siang. Ada warung sate kelinci di jalan ke Cikole yang enaknya nggak masuk akal.”
“Saya bisa bawa pikap sendiri.”
“Pikapmu yang lampu kirinya redup?” Ia melirik ke halaman, ke pikap tuaku yang diparkir di samping SUV-nya. “Jalan ke Cikole nanjak, Pram. Aku jemput.”
Pram. Bukan Mas Prama. Bukan Pak. Ia memanggilku seperti orang yang sudah kenal lama, padahal baru dua puluh menit.
Dan ia pindah dari saya ke aku di tengah kalimat, tanpa sadar, atau mungkin sangat sadar.
“Oke,” kataku.
Bapak datang setengah jam kemudian, dengan sendok setengah jadi dan kantong plastik berisi kayu sawo.
Ia berhenti di ambang pintu. Ia menatap SUV hitam di halaman. Lalu menatap Anin, yang sedang duduk di bangku panjang di samping Mang Ujang, memegang cangkir sonokeling dan bertanya tentang cara mengampelas cekungannya supaya tidak tergores.
Bapak menatapnya dari ujung kepala sampai ujung sepatu bot. Lalu ia berjalan ke bangkunya, duduk, dan bertanya dengan suara keras:
“Neng. Geus kawin can?”
Workshop hening.
Anin menoleh. Ia tidak terlihat kaget. Ia tidak tertawa canggung seperti orang biasa yang ditanya hal seperti itu oleh orang tua yang belum dikenalnya. Ia cuma tersenyum dan menjawab dengan lancar:
“Teu acan, Pak. Nuju milarian.”
Bapak berkedip. Ia tidak menyangka perempuan kota dengan SUV hitam bisa menjawab dalam bahasa Sunda.
“Nuju milarian,” ulang Bapak pelan. Ia menatap Anin, lalu menatapku di meja paling ujung, lalu kembali ke Anin. Aku melihat sesuatu bergerak di wajahnya. Perhitungan. Seperti orang tua yang menimbang dua potong kayu.
Lalu ia menggeleng, pelan, dan mulai memahat sendoknya.
“Hampura, Neng,” katanya pada sendok itu. “Nu ieu mah geus aya nu mesen.”
Anin tertawa. Tawa yang lepas dan keras, yang memenuhi workshop.
“Udah dipesan siapa, Pak?”
Bapak tidak menjawab. Ia cuma bersiul.
Anin menoleh padaku. Matanya berkilat. Penasaran. Tertantang.
“Dipesan siapa, Pram?”
“Bapak saya suka bercanda,” kataku.
Dari meja admin, Sasa batuk. Dari meja panjang, Mang Ujang batuk. Dari tangga, Ridwan batuk, sangat keras, dengan ritme yang terdengar seperti kata bohong.
Anin menatap mereka satu per satu. Lalu kembali padaku. Senyumnya melebar.
“Oke,” katanya. “Senin. Jam delapan pagi.”
SUV hitam itu pergi jam empat sore. Bannya meninggalkan jejak lumpur yang dalam di halaman.
Begitu suara mesinnya hilang di belokan, workshop meledak.
“Sapuluh hotel!” Mang Ujang berdiri dari bangku dengan tangan terangkat. “Ieu mah sapuluh hotel, A! Mesin CNC! Gudang anyar! Tukang anyar!”
“Dua puluh empat kamar, Mang,” koreksi Sasa, yang sudah menghitung di kalkulator. “Bukan sepuluh hotel.”
“Sami wae! Gede!”
“A,” kata Ridwan dari tangga, dengan nada yang tiba-tiba sangat serius. “Teh Anin cantik, A.”
“Wan.”
“Beda sama Teh Dara cantiknya. Teh Dara cantiknya kayak... kayak artis. Teh Anin cantiknya kayak...” Ridwan mencari kata. “Kayak orang yang bisa ganti ban sendiri.”
Mang Ujang berhenti merayakan. Ia berbalik dan menatap Ridwan dengan mata menyipit.
“Naon maksud maneh?”
“Nggak ada maksud apa-apa, Mang. Aku cuma bilang.” Ridwan mengangkat bahu. “Teh Anin langsung. A Prama kan nggak bisa langsung. Jadi kalau ada yang langsung, kan lebih gampang.”
“Ridwan.”
“Aku taruhan gorengan,” kata Ridwan, mengangkat tangan. “Sepuluh biji. Tim Teh Anin.”
Hening.
Lalu Mang Ujang menggebrak meja.
“Dua puluh biji. Tim Teteh Dara. Moal eleh.”
“Mang!” Sasa menatap mereka berdua dengan horor. “Ini bukan pertandingan bola!”
“Kamu tim saha, Sa?”
“Aku nggak ikut!” Sasa kembali ke mejanya, duduk dengan punggung tegak, dan mulai mengetik dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Lalu, setelah lima detik, tanpa menoleh, ia mengambil sesuatu dari meja panjang, tempat Anin tadi duduk, dan memasukkannya ke laci mejanya sendiri.
Sebuah stapler. Stapler biru kecil yang tadi dipinjam Anin untuk menjepit lembaran denahnya, dan lupa ia bawa pulang.
“Sa,” kataku. “Itu stapler Teh Anin.”
“Ketinggalan, A,” kata Sasa, masih tanpa menoleh. “Aku simpen. Nanti kalau dia nanya.”
“Kenapa di laci?”
“Biar aman, A.”
Mang Ujang tersenyum lebar di bawah kumisnya dan mengangkat jempol ke arah Sasa. Sasa pura-pura tidak melihat.
Mang Ujang yang terakhir pulang. Ia berdiri di depan meja kerjaku dengan helm di tangan, lama, sebelum bicara.
“A,” katanya. “Abdi tadi taruhan sareng Ridwan. Tapi abdi mah lain taruhan soal Teh Anin.”
“Terus soal apa, Mang?”
“Soal Aa.” Ia meletakkan helm di meja. “Abdi apal Aa ti umur salapan welas. Aa teh lamun aya nu hese, sok milih jalan nu panggampangna keur batur, tapi panghesena keur diri sorangan.”
Aku tidak menjawab.
“Kontrakna mah cokot, A. Eta rejeki. Mesin anyar. Gudang anyar. Abdi bungah.” Mang Ujang menatapku dengan mata tua yang sangat tajam di bagian tengah. “Tapi lamun Aa nyokot jelemana ogé, lain sabab Aa hayang, tapi sabab Aa hayang eureun nungguan Teteh...”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia cuma mengambil helmnya kembali.
“Eta mah lain bageur, A,” katanya dari ambang pintu. “Eta mah kabur nu make baju bageur.”
Ia pergi. Suara motornya menjauh di jalan kecil.
Aku duduk lama di meja kerjaku, menatap pintu yang terbuka ke halaman yang gelap. Kabur yang memakai baju kebaikan. Mang Ujang selalu tahu cara memotong kayu tepat di seratnya.
Malam itu, aku tidak naik ke loteng.
Aku duduk di bangku Bapak di dekat pintu, setelah semua orang pulang, dengan denah Saung Halimun di pangkuan. Anin meninggalkan salinannya. Pelajari dulu, Pram. Senin kita bahas.
Aku menatap denah itu lama.
Dua puluh empat kamar. Setiap kamar dengan ranjang, meja, kursi, rak. Ratusan potong. Enam bulan kerja keras. Mesin baru. Gudang baru. Kayuku yang akhirnya bisa berdiri di tempat yang seharusnya ia berdiri lima tahun lalu, sebelum aku menjual mesinnya.
Dan perempuan yang membawanya. Yang menatap langsung. Yang menjabat tangan dengan genggaman kuat dan membalik telapak tanganku untuk melihat kapalannya. Yang bilang tangan kerja seperti orang yang menghormati kerja.
Yang memanggilku Pram setelah dua puluh menit.
Aku memikirkan Dara. Dara yang memanggilku Mas Prama selama dua bulan. Dara yang memegang tanganku di pangkuannya selama dua lagu dangdut, dan tertidur di bahuku di kabin truk, dan memelukku di workshop sambil bilang jangan tanya kenapa. Dara yang tidak tahu apa pun tentang loteng.
Dara yang dikirimi bunga tiap Senin oleh laki-laki yang punya brand denim.
Dan aku memikirkan, untuk pertama kalinya, sebuah pikiran yang sangat dingin dan sangat masuk akal.
Anin dan aku berasal dari dunia yang sama. Kami sama-sama membuat. Kami sama-sama tahu bau tung oil. Kami sama-sama berdiri di lumpur tanpa mengangkat ujung celana. Tidak ada jurang. Tidak ada gedung tiga lantai di Dago dan workshop di ujung jalan Cigadung. Tidak ada karpet merah dan pikap tua.
Kalau aku bersama seseorang seperti Anin, aku akhirnya bisa berhenti.
Berhenti berharap. Berhenti naik ke loteng. Berhenti menunggu sesuatu yang tidak akan pernah terjadi.
Dan Dara akan bebas. Bebas memilih siapa pun. Tanpa tahu. Tanpa berutang.
Aku melipat denah itu. Aku memasukkannya ke saku kemeja. Saku kanan. Saku kiri sudah terlalu penuh.
Lalu aku duduk di sana, di bangku Bapak, dalam gelap, sampai jam dua pagi, dan tidak bisa memutuskan apakah pikiran itu adalah kebijaksanaan, atau cuma cara baru untuk kabur.
- 1 Bab 1 — Order Pertama
- 2 Bab 2 — Loteng
- 3 Bab 3 — Vendor yang Tidak Mau Menatap
- 4 Bab 4 — Pelanggan Ukuran S
- 5 Bab 5 — Serutan
- 6 Bab 6 — Sendok Pak Darsa
- 7 Bab 7 — Revisi Ketujuh
- 8 Bab 8 — Kutubaru
- 9 Bab 9 — Tolong Diam
- 10 Bab 10 — Koh Hendra Datang ke Bandung
- 11 Bab 11 — Tangan yang Luka
- 12 Bab 12 — Harga Penuh
- 13 Bab 13 — Jati yang Baru Diampelas
- 14 Bab 14 — Pak Bram
- 15 Bab 15 — Pegang yang Benar
- 16 Bab 16 — Truk Pengiriman
- 17 Bab 17 — Mitos
- 18 Bab 18 — Kontrak Lembang reading
- 19 Bab 19 — Stapler Biru
- 20 Bab 20 — Tempat Orang Berhenti
- 21 Bab 21 — Ridwan dan TikTok
- 22 Bab 22 — Rooftop
- 23 Bab 23 — Undangan
- 24 Bab 24 — Kebaikan yang Salah Tempat
- 25 Bab 25 — Brokat Bukan Merek Lem
- 26 Bab 26 — Struk
- 27 Bab 27 — Tulisan Tangan
- 28 Bab 28 — Aku Cuma Beli Waktu
- 29 Bab 29 — Biasa Aja, Pram?
- 30 Bab 30 — Loteng
- 31 Bab 31 — Giliranku
- 32 Bab 32 — Cicilan Pertama
- 33 Bab 33 — Ukuran Jas
- 34 Bab 34 — Kutubaru untuk Satu Orang
- 35 Bab 35 — Bapak Juga Nggak
- 36 Bab 36 — Harga Penuh, Tanpa Cicilan
- 37 Bab 37 — Lima Tahun Menahan Diri
- 38 Bab 38 — Pembeli Pertamaku
- 39 Bab 39 — Nggak Ada yang Biasa Aja
- 40 Epilog — Rumah dari Kayu