Chapter Fifteen
Bab 15 — Pegang yang Benar
POV: Prama
Tiga hari setelah malam itu, aku masih bisa merasakan berat kepalanya di dadaku.
Aku merasakannya ketika mengampelas. Ketika memotong. Ketika menyetir pikap ke Gedung Merdeka untuk mengukur ulang panggung. Ketika berbaring di kasur jam dua pagi, menatap langit-langit, dengan tangan kanan yang masih ingat bentuk punggungnya dan tangan kiri yang masih ingat lembut rambutnya.
Dan aku mendengar suaranya. Bukan Mas Prama yang biasa. Bukan tawa yang membuatku menjatuhkan cangkir. Suara yang lain. Pelan, retak, di atas teh yang mendingin.
Kalau orang itu nggak pernah ada, aku nggak tahu aku siapa.
Malam itu, di antara boleh peluk sebentar dan jangan tanya kenapa, ada satu detik ketika aku hampir mengatakannya. Mulutku sudah terbuka. Kata-kata itu sudah ada di ujung lidahku, berat dan panas seperti besi yang baru keluar dari tungku.
Orang itu ada, Dara. Orang itu aku.
Lalu aku melihat matanya. Basah, cokelat, menatapku dengan percaya yang begitu utuh, seperti anak kecil yang menatap satu-satunya tiang yang masih berdiri di rumah yang roboh. Dan aku sadar: kalau aku mengatakannya, aku tidak sedang memberinya kebenaran.
Aku sedang mencabut pakunya.
Jadi aku menutup mulut. Dan memeluknya. Dan bilang kamu cukup, karena itu satu-satunya kebenaran yang bisa kuberikan tanpa menghancurkan sisanya.
Hari Selasa, aku ke Gedung Merdeka untuk mengukur ulang panggung bersama Ridwan.
Gedung itu membuatku merasa kecil. Langit-langitnya tinggi, pilar-pilarnya besar, dan lantainya dingin di bawah sepatu kerjaku. Tim lighting DARA. sedang memasang rangka lampu di atas, tiga orang laki-laki dengan kaus hitam bertuliskan nama perusahaan mereka, berteriak satu sama lain dari tangga yang tinggi.
Aku sedang berlutut mengukur jarak dari pilar ketiga ke tepi panggung ketika mendengar mereka bicara.
“Bunga lagi, Bro. Dari Mas Ardi. Tadi pagi sampai di kantor DARA.”
“Mas Ardi yang punya brand denim itu? Yang tajir banget?”
“Iya. Udah tiga bulan kirim bunga tiap minggu. Mbak Dara nggak pernah bales, katanya.”
“Yah, mau gimana. Mbak Dara mah kelasnya beda. Yang deketin bukan cuma Mas Ardi. Ada anak pejabat. Ada pemain film. Kemarin ada fotografer dari Jakarta yang bela-belain ke Bandung cuma buat ngajak makan siang.”
“Terus?”
“Ditolak semua. Katanya Mbak Dara nggak pernah pacaran sejak bikin brand.”
Meteranku berhenti di angka empat meter tiga puluh.
Ridwan, di sampingku, menatapku dengan wajah khawatir. “A,” bisiknya. “A nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa, Wan. Catat. Empat meter tiga puluh.”
“A, itu tadi ngomongin...”
“Empat meter tiga puluh, Wan.”
Ridwan mencatat. Tapi ia terus melirikku sepanjang sisa pengukuran, seperti melirik orang yang sedang berjalan di atas es tipis.
Yang tidak bisa kujelaskan pada Ridwan: aku tidak cemburu. Aku tidak berhak cemburu. Mas Ardi yang punya brand denim, anak pejabat, pemain film, fotografer dari Jakarta. Mereka semua laki-laki yang bisa berdiri di samping Dara di karpet merah tanpa terlihat salah tempat.
Aku tukang kayu dari Cigadung dengan tangan penuh bekas luka dan pikap tua yang lampu kirinya redup.
Kalau suatu hari ia memilih salah satu dari mereka, aku akan membuatkan mereka meja makan. Dari jati terbaik. Sebagai hadiah pernikahan. Dan aku akan mengirimnya atas nama Kayuku, bukan atas namaku, dan tidak akan pernah datang ke pernikahannya.
Pikiran itu seharusnya membuatku tenang. Itu yang selalu kukatakan pada diriku sendiri selama lima tahun.
Tapi malam itu, ketika aku memikirkannya di loteng, ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang dulu tidak ada.
Dulu, ia tidak pernah memelukku.
Hari Rabu, ia datang dengan tujuan yang tidak berhubungan dengan panggung.
“Aku mau belajar mahat,” katanya, berdiri di depan meja kerjaku dengan kemeja denim yang lengannya digulung dan rambut yang dikepang satu ke samping.
Aku mengangkat kepala dari kusen pintu. “Mahat apa?”
“Rahasia.”
“Kamu mau belajar mahat sesuatu yang rahasia.”
“Iya.” Ia meletakkan sepotong kayu kecil di mejaku. Sonokeling, kalau aku tidak salah lihat, potongan sisa dari tumpukan di belakang. Ukurannya cuma sebesar ibu jari. “Aku udah minta izin Mang Ujang ambil ini. Dia bilang boleh, asal aku belajar dari kamu, bukan dari dia. Katanya A Prama nu pang-sabarna.”
Di meja sebelah, Mang Ujang mengangkat jempol ke arahku dengan senyum yang terlalu lebar.
“Kamu mau bikin apa dari kayu sebesar itu?” tanyaku.
“Rahasia,” ulangnya, dan lesung pipitnya muncul.
Lalu, tanpa menunggu dipersilakan, ia mengangkat dirinya dan duduk di atas meja kerjaku.
Di samping kusen pintu. Di samping pahat-pahat yang berjajar. Kakinya menggantung dari tepi meja, mengayun pelan, sepatu kanvasnya hampir menyentuh lututku. Ia duduk di sana seperti duduk di bangku taman, santai, dengan kepala sedikit miring dan mata yang menatapku dari atas.
Aku lupa cara menelan.
“Dara,” kataku. “Itu meja kerja.”
“Iya.”
“Ada pahat di situ.”
“Aku nggak duduk di atas pahat.”
“Kamu bisa kena...”
“Mas.” Ia mencondongkan badan sedikit ke depan. Sekarang wajahnya lebih dekat. Dari atas meja, matanya sejajar dengan mataku. “Ajarin aku pegang pahat.”
Aku mengambil pahat kecil dari jajaran, yang paling tumpul, yang paling aman, dan menyodorkannya padanya. Gagangnya duluan.
Ia mengambilnya. Memegangnya dengan cara yang salah, seperti memegang pensil, terlalu kencang, terlalu ke bawah.
“Bukan gitu,” kataku.
“Terus gimana?”
“Telapak tangan di gagang. Jari telunjuk di sepanjang...”
Ia mengubah pegangan. Masih salah.
“Telunjuknya lurus. Di atas bilah. Bukan di samping.”
Ia mencoba lagi. Masih salah. Lebih salah, malah.
Lalu ia mengangkat wajah dan menatapku. Dan ada sesuatu di senyumnya, sesuatu yang lambat dan sengaja dan sangat, sangat berbahaya.
“Mas Prama,” katanya pelan. “Pegang tanganku yang benar.”
Di meja sebelah, Mang Ujang menjatuhkan palu.
Aku menatap tangannya. Jari-jari ramping yang memegang pahat dengan cara yang salah. Kuku pendek dan bersih. Bekas tinta biru di ujung jari tengah. Tangan yang dua minggu lalu menangkup tanganku yang berdarah di pangkuannya.
Tapi lain kali pegang tangannya, kata Bapak, dua minggu lalu, di bangku dekat pintu.
Aku mengangkat tanganku. Pelan. Dan meletakkannya di atas tangannya.
Tangannya kecil di bawah telapak tanganku. Kulitnya halus, hangat, sedikit lembap. Aku bisa merasakan tulang-tulangnya yang ramping, urat-uratnya, denyut nadinya di pergelangan yang tiba-tiba berlari.
Ia menahan napas. Aku mendengarnya.
“Telunjuk,” kataku, dan suaraku keluar lebih rendah dari biasanya, lebih serak. Aku menggeser jari telunjuknya dengan jari telunjukku, meluruskannya di atas bilah pahat. “Di sini. Lurus. Biar dia yang ngarahin.”
“Oke,” bisiknya.
“Ibu jari.” Aku memindahkan ibu jarinya ke sisi gagang. “Di sini. Buat nahan. Jangan diremas.”
“Oke.”
“Pergelangan.” Aku menyentuh pergelangan tangannya dengan ujung jari tanganku yang lain. Pelan, di tempat yang dulu sering ia pijat. “Jangan ditekuk. Lurus. Biar tenaganya dari bahu, bukan dari sini. Biar nggak sakit.”
Ia tidak menjawab. Aku mengangkat wajah.
Ia sedang menatapku. Dari jarak yang sangat dekat, dari atas meja, dengan pahat di tangan yang sedang kupegang. Matanya cokelat, dalam, dan pipinya merah seperti hari Senin waktu cahaya sore jatuh di sana.
“Kamu inget,” katanya pelan. “Pergelangan tanganku.”
“Kamu sering pijat.”
“Kamu perhatiin.”
Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa menjawab tanpa mengakui berapa lama aku sudah memperhatikan.
Ia memahat selama dua jam.
Aku berdiri di sampingnya. Dekat. Lebih dekat dari yang pernah kuizinkan. Tanganku membimbing tangannya setiap kali pahat tergelincir, setiap kali sudutnya salah, setiap kali serpihan sonokeling terlalu tebal. Kadang cuma ujung jari di punggung tangannya. Kadang seluruh telapak tanganku menangkup tangannya, mendorong pahat pelan-pelan di sepanjang serat kayu.
Ia tidak pernah bilang aku bisa sendiri. Dan aku tidak pernah melepaskan lebih lama dari yang perlu.
Bentuk yang ia buat kecil dan bulat. Pipih. Dengan empat lubang kecil di tengahnya yang kubuatkan dengan bor tangan, karena itu satu-satunya bagian yang tidak bisa ia kerjakan sendiri.
Kancing.
Kancing kayu sonokeling, warnanya ungu kehitaman seperti malam, seratnya melingkar seperti cincin pohon.
“Kancing,” kataku.
“Rahasia,” katanya, dan menyembunyikannya di telapak tangannya.
“Buat baju apa?”
“Rahasia, Mas.”
“Kamu cuma bikin satu? Baju butuh lebih dari satu kancing.”
Ia mengangkat bahu, sangat santai, dan melompat turun dari meja. “Nanti aku bikin lagi. Minggu depan. Dan minggu depannya. Kamu harus ngajarin aku terus.”
Ia berdiri di depanku, dan matanya jatuh ke tangan kiriku.
Perbannya sudah dilepas sejak Senin. Lukanya sudah menutup, garis merah muda yang baru, di antara garis-garis putih yang lama. Dan di atasnya, menutupi bekas luka yang masih segar itu, tertempel sebuah plester.
Plester bergambar Doraemon.
Ia menatapnya. Lalu menatapku. Lalu menatap plester itu lagi.
“Mas,” katanya pelan, dengan suara yang bergetar karena menahan tawa. “Itu Doraemon.”
“Dari Ridwan.”
“Kamu pakai.”
“Saya udah janji.”
“Kamu janji ke anak magang mau pakai plester Doraemon.”
“Saya juga janji ke kamu mau pakai sarung tangan.” Aku mengangkat bahu. “Saya pakai dua-duanya.”
Ia menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. Sesuatu di antara tawa dan sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih lembut dan lebih dalam. Lalu, tanpa peringatan, ia mengulurkan tangan dan menyentuh plester itu. Ujung jari telunjuknya, di atas wajah Doraemon yang tersenyum, sangat ringan.
“Masih sakit?” bisiknya.
“Nggak,” kataku. Dan untuk sekali ini, itu benar. Karena ketika ia menyentuhnya, aku tidak merasakan apa pun di sana selain hangat.
Sebelum aku bisa menjawab apa pun lagi, Pak Darsa, yang ternyata sudah duduk di bangku dekat pintu entah sejak kapan, berdeham sangat keras.
“Tah kitu,” katanya, puas, pada sendoknya. “Tah kitu ngajarna. Teu ti jauh.”
Ia hampir pulang ketika ia mengatakannya.
Kami berdiri di dekat pintu. Ia sudah memegang kunci mobil. Matahari sudah turun, dan langit Cigadung berwarna jingga kotor di atas kebun singkong.
“Mas Prama.”
“Ya.”
“Kalau suatu hari,” katanya, menatap langit, bukan aku, “kamu ketemu orang dari Maison Lumière. Pemiliknya. Yang beli koleksi pertamaku. Kamu mau bilang apa ke dia?”
Aku berhenti bernapas.
Ia masih menatap langit, tersenyum kecil, seperti pertanyaan itu cuma iseng. Seperti ia cuma penasaran. Ia tidak tahu bahwa ia sedang menanyakannya pada orang yang tepat.
Aku bisa mengatakannya sekarang. Di sini, di ambang pintu, di bawah langit jingga. Kalau aku ketemu dia, aku akan bilang: maaf. Maaf karena aku nggak berani muncul. Maaf karena aku biarin kamu gantungin hidupmu di paku yang aku pasang diam-diam. Maaf karena paku itu bukan malaikat, cuma tukang kayu yang jatuh cinta di Sabuga.
Mulutku terbuka.
“Saya akan bilang,” kataku.
Ia menoleh. Menatapku. Menunggu.
Kata-kata itu ada di sana. Di ujung lidahku. Panas. Berat.
Kalau orang itu nggak pernah ada, aku nggak tahu aku siapa.
“Saya akan bilang terima kasih,” kataku akhirnya. Pelan. “Karena udah bikin kamu nggak berhenti.”
Ia menatapku lama. Lalu tersenyum. Senyum yang lembut, yang tidak menyimpan apa pun, yang percaya sepenuhnya.
“Aku juga,” katanya. “Itu yang mau aku bilang ke dia. Kalau ketemu.”
Ia pergi. Mobilnya menuruni jalan kecil Cigadung, melewati kebun singkong, menghilang di belokan.
Aku berdiri di ambang pintu sampai langit berubah dari jingga jadi ungu jadi hitam. Mang Ujang datang dan berdiri di sampingku. Ia tidak bicara lama sekali.
“A,” katanya akhirnya.
“Ya, Mang.”
“Tadi Aa ampir ngomong.”
Aku tidak menjawab.
“Abdi ningali, A. Sungut Aa tos muka. Tapi teu jadi.”
“Kalau aku ngomong, Mang,” kataku, dan suaraku keluar sangat pelan, “dia kehilangan satu-satunya bukti bahwa dia bagus. Dia sendiri yang bilang. Kalau orang itu nggak ada, dia nggak tahu dia siapa.”
Mang Ujang diam.
“Aku nggak mau jadi orang yang ngambil itu dari dia.”
“Tapi A,” kata Mang Ujang, sangat lembut, “manehna teh bagus. Lain ku sabab Aa meuli. Manehna mah memang bagus ti ditu.”
“Aku tahu, Mang. Aku tahu.” Aku menatap telapak tanganku. Tangan yang tadi menangkup tangannya di atas pahat. Masih ingat bentuk jari-jarinya. “Tapi dia nggak tahu. Dan aku yang bikin dia nggak tahu.”
Malam itu, aku naik ke loteng lebih lama dari biasanya. Aku duduk di lantai di depan lemari jati, dengan lampu yang tidak kunyalakan, dan memikirkan sebuah kancing kayu sonokeling sebesar ibu jari yang disembunyikan di telapak tangan, untuk baju yang tidak mau ia ceritakan.
Lalu aku memikirkan pahat. Tentang bagaimana pahat yang paling tajam pun harus diarahkan dengan benar, karena kalau sudutnya salah, sekecil apa pun, ia tidak akan memotong kayu. Ia akan memotong tangan yang memegangnya.
Aku sudah salah sudut sejak lima tahun lalu. Aku cuma belum tahu seberapa dalam lukanya nanti.
- 1 Bab 1 — Order Pertama
- 2 Bab 2 — Loteng
- 3 Bab 3 — Vendor yang Tidak Mau Menatap
- 4 Bab 4 — Pelanggan Ukuran S
- 5 Bab 5 — Serutan
- 6 Bab 6 — Sendok Pak Darsa
- 7 Bab 7 — Revisi Ketujuh
- 8 Bab 8 — Kutubaru
- 9 Bab 9 — Tolong Diam
- 10 Bab 10 — Koh Hendra Datang ke Bandung
- 11 Bab 11 — Tangan yang Luka
- 12 Bab 12 — Harga Penuh
- 13 Bab 13 — Jati yang Baru Diampelas
- 14 Bab 14 — Pak Bram
- 15 Bab 15 — Pegang yang Benar reading
- 16 Bab 16 — Truk Pengiriman
- 17 Bab 17 — Mitos
- 18 Bab 18 — Kontrak Lembang
- 19 Bab 19 — Stapler Biru
- 20 Bab 20 — Tempat Orang Berhenti
- 21 Bab 21 — Ridwan dan TikTok
- 22 Bab 22 — Rooftop
- 23 Bab 23 — Undangan
- 24 Bab 24 — Kebaikan yang Salah Tempat
- 25 Bab 25 — Brokat Bukan Merek Lem
- 26 Bab 26 — Struk
- 27 Bab 27 — Tulisan Tangan
- 28 Bab 28 — Aku Cuma Beli Waktu
- 29 Bab 29 — Biasa Aja, Pram?
- 30 Bab 30 — Loteng
- 31 Bab 31 — Giliranku
- 32 Bab 32 — Cicilan Pertama
- 33 Bab 33 — Ukuran Jas
- 34 Bab 34 — Kutubaru untuk Satu Orang
- 35 Bab 35 — Bapak Juga Nggak
- 36 Bab 36 — Harga Penuh, Tanpa Cicilan
- 37 Bab 37 — Lima Tahun Menahan Diri
- 38 Bab 38 — Pembeli Pertamaku
- 39 Bab 39 — Nggak Ada yang Biasa Aja
- 40 Epilog — Rumah dari Kayu