Chapter Thirty Nine
Bab 39 — Nggak Ada yang Biasa Aja
POV: Prama
Pagi setelah show, Kayuku tidak bisa bekerja.
Bukan karena tidak ada pesanan. Pesanan justru tidak berhenti. Ponsel Sasa berbunyi sejak jam enam pagi, dan sampai jam sepuluh, ia sudah mencatat tiga puluh dua pesanan baru, empat permintaan wawancara, dan satu telepon dari ibu-ibu di Bekasi yang bertanya apakah tukang kayu dengan pikap tua yang lampu kirinya redup itu sudah ada yang punya.
“Udah, Bu,” jawab Sasa dengan nada sangat bangga. “Udah ada yang beli. Harga penuh.”
Mang Ujang tertawa sampai harus duduk.
Bukan juga karena kami lelah. Kami memang lelah. Kami tidur tiga jam setelah membongkar sebagian properti dari Gedung Merdeka, sampai jam tiga pagi. Tapi lelah yang ini berbeda. Lelah yang membuat semua orang tersenyum tanpa alasan, menabrak meja tanpa sadar, dan menyalakan radio dangdut dengan volume yang membuat ayam-ayam di halaman lari ketakutan.
Kayuku tidak bisa bekerja karena Ridwan.
“A,” katanya jam sembilan pagi, berdiri di depan meja kerjaku dengan ponsel di tangan dan wajah paling serius yang pernah kulihat darinya. “Aku mau minta izin.”
“Izin apa, Wan?”
“Upload.” Ia menelan ludah. “Satu video. Dari semalam. Aku rekam dari belakang panggung. Waktu Teh Dara bilang pembeli pertamaku, terus A naik ke panggung, terus pegang tangan.” Ia menatapku dengan mata yang memohon. “Muka A nggak di-blur. Aku nggak mau blur lagi. Aku mau semua orang lihat muka A.”
Aku menatapnya.
Lima tahun aku tidak mau dilihat. Lima tahun aku sembunyi di loteng, di balik nama toko lampu, di balik nama Sasa. Dua bulan lalu, aku memarahi Ridwan karena memposting punggungku yang blur.
“Kenapa, Wan?” tanyaku.
Ridwan diam sebentar. Lalu, dengan suara yang tiba-tiba sangat pelan:
“Karena A Prama orang paling baik yang aku kenal. Dan nggak ada yang tahu. Aku mau orang tahu.”
Workshop sunyi. Bahkan radio, entah bagaimana, seperti berhenti di antara dua lagu.
Aku mengulurkan tangan. Ridwan menyerahkan ponselnya. Aku menonton video itu. Tiga puluh detik. Lampu sorot. Dara di tengah panggung, di atas noda minyak, memakai blus putih berkerah sabrina. Aku, berjalan pelan di antara empat puluh satu model. Tangan kami. Ini pembeli pertamaku.
Wajahku basah di video itu. Merah sampai ke telinga.
Aku mengembalikan ponselnya.
“Upload,” kataku.
Ridwan menatapku. Lalu berteriak. Lalu memelukku. Lalu berlari ke tangga sambil mengetik dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.
“Caption-nya apa, Wan?” seru Sasa.
“Bos gue akhirnya nggak bucin diam-diam lagi!” teriak Ridwan dari tangga.
Dara datang jam tujuh malam.
Aku memintanya datang jam tujuh. Aku memintanya. Lewat pesan, jam dua siang, setelah tiga kali mengetik dan menghapus.
Dara. Boleh nanti malam ke workshop? Jam tujuh. Ke loteng.
Balasannya datang dalam sepuluh detik.
Kamu minta lagi.
Iya.
Aku suka kamu minta.
Sore itu, aku mengusir semua orang lebih awal. Aku tidak perlu banyak usaha. Mang Ujang sudah berkemas sejak jam empat. Sasa sudah pulang sejak jam lima, dengan kemeja satin gading yang ia pakai lagi hari ini karena sayang kalau cuma dipakai sekali, A. Ridwan pergi jam setengah enam, setelah memastikan videonya sudah ditonton setengah juta orang.
Bapak yang terakhir. Ia berdiri di ambang pintu dengan payung hitam yang sudah tua, meskipun tidak hujan.
“Pram,” katanya.
“Ya, Pak.”
Ia merogoh saku kemeja batiknya. Mengeluarkan sesuatu. Kotak kecil dari kayu nangka, diampelas halus, tutupnya berengsel kuningan.
“Ieu,” katanya, meletakkannya di telapak tanganku. “Kotak cincin ibu kamu. Bapak nu nyieun. Taun dalapan puluh dalapan.”
Aku menatap kotak itu. Kayu nangka. Warnanya sudah menua jadi kuning keemasan. Di tutupnya, ukiran kecil. Sekuntum melati.
“Pak...”
“Eusina geus euweuh. Cincin indung kamu dikubur bareng manehna.” Bapak menepuk tanganku. “Tapi kotakna masih. Kotakna nungguan.”
Ia berjalan keluar ke halaman. Ia tidak membuka payungnya. Ia cuma menenteng payung itu, bersiul lagu lama, dan menghilang di jalan kecil yang menurun.
Aku menyiapkan loteng sejak jam lima.
Tidak banyak yang bisa disiapkan. Loteng itu kecil. Atapnya rendah. Satu bohlam kuning.
Dua belas kotak kardus Embun sudah tidak ada. Semuanya masih di Gedung Merdeka, di ruang ganti, menunggu dibawa ke kantor DARA. Dara bilang koleksi itu tidak akan kembali ke loteng. Baju itu dibikin buat dipakai, Pram. Udah lima tahun nunggu. Cukup.
Yang tersisa cuma lemari jati.
Aku membersihkannya. Mengelapnya dengan minyak, pelan, dari atas sampai bawah, sampai ukiran bulir embun di pintunya berkilau di bawah bohlam. Aku membuka kedua pintunya. Sebelas potong yang tergantung di dalam.
Dan satu lagi, sekarang. Kemeja satin gading asimetris dengan bordir tetes air di manset. Lima Tahun. Potongan kedua belas. Yang kubeli tiga menit setelah pre-order dibuka. Yang kotak pengirimannya ditemukan Dara di meja Sasa.
Aku menggantungnya di gantungan kayu yang baru. Di samping sebelas yang lain.
Lalu aku menggantung satu gantungan kayu lagi. Kosong. Di ujung.
Aku tidak menyalakan lilin atau menebar bunga atau memasang lampu-lampu kecil seperti di film. Aku tidak tahu caranya. Aku cuma menaruh dua bantal duduk dari ruang tamu Bapak di lantai, di depan lemari. Dan di saku kiri kemejaku, di samping kartu Sasa K. dan sticky note kuning dan plester Doraemon dan undangan untuk pemilik Maison Lumière, aku menyimpan kotak kayu nangka dari Bapak.
Yang sekarang tidak kosong lagi.
Ia naik tangga jam tujuh lewat lima.
Aku mendengar setiap anak tangga berderit. Lalu ia muncul di ambang pintu loteng. Ia harus menunduk sedikit, meskipun tidak sebanyak aku.
Kemeja linen putih. Rok batik. Rambut terurai. Meteran jahit kuning melingkar di lehernya, seperti hari pertama.
Dan di pergelangan tangannya, gelang benang dengan satu manik sonokeling.
Ia menatap loteng. Kotak-kotak yang sudah tidak ada. Lemari jati yang terbuka, berkilau di bawah bohlam. Dua bantal di lantai.
“Kamu beres-beres,” katanya.
“Sedikit.”
“Kamu minyakin lemarinya.”
“Sedikit.”
Ia tersenyum. Lesung pipitnya muncul. Lalu matanya jatuh ke dalam lemari. Ke potongan kedua belas. Ke gantungan kosong di ujung.
“Itu kosong,” katanya.
“Iya.”
“Buat apa?”
Aku tidak menjawab. Aku berjalan ke belakangnya.
Pelan. Sama seperti di ambang pintu workshop dua malam lalu, di bawah hujan. Aku melingkarkan lenganku di pinggangnya. Dari belakang. Daguku di bahunya. Pipiku di pipinya.
Ia bersandar ke dadaku. Tangannya naik dan menutupi tanganku di depan perutnya.
Kami berdiri seperti itu, menatap lemari jati yang terbuka.
“Lima tahun,” kataku pelan, ke telinganya, “aku berdiri di sini sendirian. Tiap malam. Lihat baju-bajumu. Mikirin kamu lagi ngapain. Mikirin kamu baik-baik aja atau nggak. Mikirin kamu masih jahit atau udah berhenti.”
Ia meremas tanganku.
“Aku nggak pernah berani mikirin kamu berdiri di sini,” lanjutku. “Sama aku. Di depan lemari ini. Aku nggak berani berharap sejauh itu.”
“Sekarang aku di sini,” bisiknya.
“Iya.”
“Terus?”
Aku menarik napas. Panjang. Sama seperti di ambang pintu workshop, sebelum aku bilang aku mau dipilih.
Lalu aku melepaskan pelukanku. Pelan. Dan aku berlutut.
Ia berbalik. Menatapku di lantai loteng, di atas papan kayu, di depan lemari jati. Matanya membesar. Tangannya naik ke mulutnya.
Aku merogoh saku kiri. Aku mengeluarkan kotak kayu nangka berukir melati. Aku membukanya.
Di dalamnya, di atas kain flanel hijau tua, ada cincin.
Kayu. Jati. Dari balok seratus tahun dari Garut. Balok yang sama dengan penggarisnya. Aku memotongnya, mengukirnya, mengampelasnya sampai empat ratus, sampai enam ratus, sampai seribu, sampai permukaannya terasa seperti kulit. Seratnya melingkar di sepanjang cincin, rapat dan lurus. Warnanya cokelat madu.
Dan di bagian atasnya, di tempat yang biasanya ada batu, ada ukiran yang sangat kecil. Hampir tidak terlihat. Sebesar biji wijen.
Setetes embun.
“Dara,” kataku. Suaraku bergetar. Aku membiarkannya bergetar. “Lima tahun aku nggak pernah nanya. Aku mutusin semuanya buat kamu. Aku mutusin kamu nggak boleh tahu. Aku mutusin aku nggak pantas. Aku nggak pernah nanya kamu mau apa.”
Air mata jatuh di pipinya.
“Sekarang aku nanya,” kataku. “Dulu.”
Aku mengangkat kotak itu sedikit.
“Aku nggak bisa beli kamu. Nggak ada harganya. Nggak ada yang cukup.” Aku menelan sesuatu yang menyumbat tenggorokanku. “Tapi aku bisa bikinin rumah buat kamu tinggal. Dari kayu. Di Cigadung. Ada ruang jahitnya, jendelanya hadap timur, biar embunnya kelihatan tiap subuh. Ada meja gambar lima belas derajat. Ada rak buat semua penggarismu. Ada pohon jeruk nipis di halaman, yang aku kasih kalium.”
Ia tertawa di antara tangisnya.
“Ada lemari ini,” lanjutku. “Dengan satu gantungan kosong di ujung. Buat kebaya kutubaru yang kamu jahit sendiri. Kalau kamu mau pakai lagi. Di hari yang lain.”
Ia menatap gantungan kosong itu. Lalu menatapku. Lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan bahunya bergetar.
“Dara Cantika,” kataku. “Kamu mau milih aku? Seumur hidup?”
Ia tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia berlutut. Di depanku. Di atas lantai kayu loteng, lututnya menyentuh lututku. Ia menurunkan tangannya dari wajah, dan wajahnya basah, merah, dan cantik, dan untuk satu detik aku lupa cara bernapas, persis seperti hari ketiga di Sabuga.
Lalu ia mengulurkan tangan kirinya.
Aku memasangkan cincin itu di jari manisnya. Pelan. Tanganku gemetar sangat kencang sampai butuh dua kali mencoba. Cincin kayu itu meluncur di jarinya dan berhenti. Pas. Tidak terlalu longgar. Tidak terlalu ketat.
“Pas,” bisiknya, menatap jarinya. “Kok pas? Kamu ngukur dari mana?”
“Mataku,” kataku. “Kebiasaan buruk tukang kayu.”
Ia tertawa. Tertawa sampai harus berpegangan pada lenganku.
Lalu, masih tertawa, masih menangis, ia melepas meteran jahit kuning dari lehernya.
“Sekarang giliranku,” katanya.
Ia meraih tangan kiriku. Tangan yang penuh bekas luka. Ia melingkarkan ujung meteran itu di jari manisku. Sekali. Rapat. Lalu ia membaca angkanya, dengan mata menyipit di bawah bohlam kuning.
“Enam koma delapan,” gumamnya. “Gede juga jarimu.”
“Tangan tukang.”
“Aku yang bikin cincinmu.” Ia tidak melepaskan meteran itu dari jariku. Ia membiarkannya melingkar di sana, kuning, dengan angka-angka hitam kecil, seperti cincin sementara. “Dari sonokeling. Aku udah belajar sama Mang Ujang. Aku udah bisa megang pisau dengan bener.”
“Kapan?”
“Rahasia.” Ia tersenyum. “Kamu bakal tahu kalau udah jadi.”
Aku menatap meteran kuning di jariku. Lalu menatap cincin jati di jarinya.
“Dara,” kataku. “Kamu belum jawab.”
Ia menatapku. Lama. Dengan mata cokelat yang basah, jati yang baru diampelas, di bawah bohlam kuning loteng yang selama lima tahun cuma menyaksikanku sendirian.
“Aku udah milih kamu,” katanya. “Di rooftop. Di loteng ini. Di panggung. Berkali-kali.” Ia menyentuh wajahku. “Tapi kalau kamu mau dengar...”
Ia mendekatkan wajahnya. Dahinya di dahiku.
“Iya, Pram. Aku mau. Seumur hidup. Harga penuh.”
Aku tidak tahu berapa lama kami berlutut di sana.
Cukup lama sampai lututku pegal. Cukup lama sampai ia tertawa dan bilang Pram, lututku sakit, dan kami pindah ke dua bantal duduk dari ruang tamu Bapak, bersandar ke lemari jati yang terbuka, dengan kepalanya di bahuku dan tangannya di tanganku. Cincin jati di jarinya. Meteran kuning di jariku.
“Cincinnya,” kataku akhirnya, menatap jarinya. “Cuma kayu. Biasa aja, nggak kayak cincin emas...”
“Pram.”
Ia mengangkat kepala dari bahuku. Menatapku. Serius.
“Jangan,” katanya. “Jangan pernah bilang itu lagi.”
Aku diam.
“Kamu jual mesinmu buat beli baju yang nggak laku. Kamu nolak kontrak enam ratus lima puluh juta. Kamu ikut kelas tekstil tiap Selasa sama Kamis. Kamu bikin penggaris dari kayu yang ditawar lima belas juta. Kamu begadang bikin tempat HP. Kamu minta izin Bu Imas buat kasih kalium ke pohon jeruk.” Ia menyentuh cincin di jarinya. “Kamu bikin cincin dari kayu yang sama kayak penggarisku. Dan ngukir embun di atasnya. Sebesar biji wijen.”
Air matanya jatuh lagi.
“Nggak ada yang biasa aja dari kamu, Pram,” katanya. “Nggak ada satu pun. Dari hari pertama.”
Aku menatapnya. Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku tidak menyangkal.
Aku cuma menariknya ke dalam pelukanku. Erat. Dengan dua tangan. Di depan lemari jati dengan dua belas potong baju dan satu gantungan kosong. Di loteng yang tidak lagi terkunci.
Di bawah, workshop gelap dan sunyi. Di luar, jangkrik bernyanyi di kebun singkong.
Dan di saku kiri kemejaku, untuk pertama kalinya, ada ruang kosong. Kotak kayu nangka dari Bapak sudah tidak di sana. Isinya sudah sampai ke tempat yang seharusnya.
Saku itu tidak lagi menyimpan rahasia.
Cuma jantungku. Yang berdentum seperti mesin serut yang dinyalakan, di dalam dada seorang tukang kayu dari Cigadung, yang akhirnya tahu apa yang ia mau.
Dan akhirnya, mendapatkannya.
- 1 Bab 1 — Order Pertama
- 2 Bab 2 — Loteng
- 3 Bab 3 — Vendor yang Tidak Mau Menatap
- 4 Bab 4 — Pelanggan Ukuran S
- 5 Bab 5 — Serutan
- 6 Bab 6 — Sendok Pak Darsa
- 7 Bab 7 — Revisi Ketujuh
- 8 Bab 8 — Kutubaru
- 9 Bab 9 — Tolong Diam
- 10 Bab 10 — Koh Hendra Datang ke Bandung
- 11 Bab 11 — Tangan yang Luka
- 12 Bab 12 — Harga Penuh
- 13 Bab 13 — Jati yang Baru Diampelas
- 14 Bab 14 — Pak Bram
- 15 Bab 15 — Pegang yang Benar
- 16 Bab 16 — Truk Pengiriman
- 17 Bab 17 — Mitos
- 18 Bab 18 — Kontrak Lembang
- 19 Bab 19 — Stapler Biru
- 20 Bab 20 — Tempat Orang Berhenti
- 21 Bab 21 — Ridwan dan TikTok
- 22 Bab 22 — Rooftop
- 23 Bab 23 — Undangan
- 24 Bab 24 — Kebaikan yang Salah Tempat
- 25 Bab 25 — Brokat Bukan Merek Lem
- 26 Bab 26 — Struk
- 27 Bab 27 — Tulisan Tangan
- 28 Bab 28 — Aku Cuma Beli Waktu
- 29 Bab 29 — Biasa Aja, Pram?
- 30 Bab 30 — Loteng
- 31 Bab 31 — Giliranku
- 32 Bab 32 — Cicilan Pertama
- 33 Bab 33 — Ukuran Jas
- 34 Bab 34 — Kutubaru untuk Satu Orang
- 35 Bab 35 — Bapak Juga Nggak
- 36 Bab 36 — Harga Penuh, Tanpa Cicilan
- 37 Bab 37 — Lima Tahun Menahan Diri
- 38 Bab 38 — Pembeli Pertamaku
- 39 Bab 39 — Nggak Ada yang Biasa Aja reading
- 40 Epilog — Rumah dari Kayu