Chapter Four
Bab 4 — Pelanggan Ukuran S
POV: Dara
Desain teknis dari Kayuku datang hari Jumat, jam enam pagi.
Bukan ke Tiwi. Ke emailku. Dengan subjek yang membuatku tersedak teh di dapur kecil lantai tiga.
Desain Teknis Panggung — untuk Dara
Bukan Bu Dara. Bukan Mbak Dara. Bukan Tim DARA. Cuma Dara, seolah ia menuliskannya pelan-pelan, satu huruf setiap kali, untuk membuktikan bahwa ia ingat.
Isinya dua puluh tiga halaman. Gambar teknis panggung dari enam sudut. Detail sambungan kayu tanpa paku. Perhitungan beban. Daftar jenis kayu untuk setiap bagian, lengkap dengan alasan kenapa jati bekas untuk lantai, suar untuk rangka jendela, dan mahoni untuk pintu besar di ujung panggung. Ada juga catatan kecil di pinggir halaman tujuh, ditulis tangan lalu dipindai:
Rangka jendela bisa diturunkan 5 cm dari desain awal supaya kain yang digantung jatuhnya lebih bagus di sudut pandang kamera depan.
Aku memperbesar tulisan tangan itu. Huruf kapital, agak miring, rapi tapi tidak terlalu rapi.
Aku tidak tahu kenapa, tapi aku memandanginya cukup lama.
“Mbak.”
Tiwi berdiri di pintu dapur dengan rambut masih basah dan wajah orang yang baru menemukan sesuatu.
“Pagi, Wi.”
“Mbak, aku harus nunjukin sesuatu. Ini penting. Ini misteri.”
Aku menutup laptop. “Kamu nonton serial detektif lagi semalam?”
“Itu nggak relevan, Mbak.” Ia menarikku ke ruanganku, menyalakan layar besar di dinding, lalu membuka spreadsheet yang berwarna-warni seperti permen. “Jadi, semalam aku lagi bikin data pelanggan buat promo ulang tahun. Aku mau kirim hadiah buat pelanggan setia. Yang belanjanya paling konsisten. Terus aku nemu ini.”
Ia memperbesar satu baris. Kolom-kolomnya penuh angka dan tanggal.
Sasa K. — Bandung — 11 transaksi.
“Sebelas transaksi,” kata Tiwi dengan suara dramatis. “Dalam lima tahun. Mbak tahu ini apa artinya?”
“Dia pelanggan setia?”
“Dia beli satu potong. Dari setiap. Koleksi.” Tiwi mengetuk layar setiap kali menyebut satu kata. “Kemarau, Pesisir, Melati di Tangan Ibu, Garis Pantai, semuanya, Mbak, sampai yang terbaru. Satu potong. Nggak pernah dua. Nggak pernah nol. Selalu satu.”
Aku mendekat ke layar. Benar. Sebelas baris, sebelas koleksi, sebelas potong.
“Dan ini yang aneh,” lanjut Tiwi. “Selalu ukuran S. Selalu bayar harga penuh. Nggak pernah pakai kode promo, padahal kita kirim kode promo ke semua email pelanggan. Nggak pernah ikut pre-order, padahal pre-order diskon lima belas persen. Dan...” Ia membuka tab lain. “Nggak pernah upload. Sekali pun. Aku udah cek semua tag, semua mention. Kosong. Nggak ada foto, nggak ada ulasan, nggak ada apa-apa. Dia beli, terus menghilang.”
“Mungkin dia nggak main media sosial.”
“Mbak, di tahun dua ribu dua puluh enam, siapa yang beli outer brokat seharga empat juta terus nggak pamer?”
Aku tidak bisa menjawab itu.
“Terus,” Tiwi menurunkan suaranya, “alamat pengirimannya. Tiga tahun pertama dikirim ke alamat kos di daerah Sekeloa. Dua tahun terakhir pindah ke...” Ia memperbesar. “Cigadung.”
Aku berkedip. “Cigadung?”
“Cigadung, Mbak. Yang kemarin kita datangi. Yang ada ayam lewat di kap mobil.”
“Cigadung itu luas, Wi.”
“Iya, aku tahu. Aku cuma bilang.” Tiwi melipat tangan di dada. “Ini pelanggan paling setia kita. Lebih setia dari pacar-pacarku. Dan kita nggak tahu dia siapa.”
Aku memandangi nama itu. Sasa K.
Ada sesuatu yang hangat dan aneh mengalir di dadaku. Lima tahun. Seseorang di kota ini membeli bajuku setiap kali aku merilis koleksi, dengan harga penuh, tanpa menawar, tanpa minta diakui. Seseorang yang mungkin memakai bajuku ke kantor, ke pernikahan saudara, ke kencan pertama. Seseorang yang tidak pernah mengunggah apa pun, karena mungkin baginya baju itu bukan untuk dipamerkan. Baju itu untuk dirinya sendiri.
Atau mungkin untuk seseorang yang ia sayangi.
“Kirim hadiah ulang tahun buat dia,” kataku. “Yang paling bagus. Dan tulis kartu ucapan. Aku yang tulis sendiri.”
“Siap, Mbak.” Tiwi mengetik catatan dengan semangat, lalu berhenti. “Mbak. Satu lagi.”
“Apa?”
“Admin Kayuku kemarin. Namanya Sasa, kan?”
Aku menatapnya.
Tiwi menatapku balik dengan mata menyipit, mata detektif serial televisi jam satu pagi.
“Dan dia mungil, Mbak. Badannya mungil. Ukuran S.”
“Wi. Itu bukan bukti.”
“Belum, Mbak. Belum.” Tiwi mengangkat jari telunjuk dengan wajah penuh keyakinan, lalu menempelkan sticky note kuning bertuliskan SASA = SASA? di pinggir layar besar. Di bawahnya ia menggambar tanda tanya yang sangat besar, lalu tanda seru, lalu tanda tanya lagi.
“Kamu tahu nggak, ini kantor desain, bukan kantor polisi?”
“Mbak, semua kantor bisa jadi kantor polisi kalau ada misteri.”
Aku memutuskan untuk tidak berdebat dengan logika itu sebelum jam tujuh pagi.
Malam itu, setelah semua orang pulang, aku duduk di meja kerjaku dengan setumpuk kartu ucapan krem dan pulpen bertinta biru tua.
Aku sudah menulis puluhan kartu untuk pelanggan. Biasanya isinya sama: terima kasih, semoga suka, sampai jumpa di koleksi berikutnya. Tapi untuk Sasa K., aku menulis ulang empat kali.
Yang pertama terlalu formal. Yang kedua terlalu panjang, seperti surat cinta. Yang ketiga tintanya meleber karena tanganku berhenti terlalu lama di satu kata.
Yang keempat akhirnya kubiarkan.
Untuk Sasa K.,
Lima tahun, sebelas koleksi, sebelas potong. Kamu nggak pernah bilang apa-apa, tapi aku tahu sekarang. Terima kasih sudah memilih bajuku berkali-kali, tanpa minta apa pun.
Kadang aku bertanya-tanya, apakah aku benar-benar bagus, atau cuma keras kepala. Lalu aku lihat nama kamu di daftar pelanggan, dan aku tahu jawabannya.
Semoga bajuku selalu membuatmu merasa pulang.
— Dara
Aku memasukkan kartu itu ke amplop, menempelkannya pada kotak hadiah yang sudah disiapkan Tiwi, lalu duduk lama memandangi bingkai Maison Lumière di dinding.
Dua orang yang tidak pernah kutemui. Satu di Singapura, satu di Bandung. Dua orang yang, masing-masing dengan caranya, membuatku tidak berhenti.
Aku merasa sangat beruntung.
Aku punya alasan resmi untuk kembali ke Kayuku hari Senin: melihat prototipe rangka jendela yang sudah dikerjakan Mang Ujang sepanjang akhir pekan.
Aku juga punya alasan tidak resmi. Tapi aku memutuskan untuk tidak memikirkannya terlalu dalam.
Kali ini aku datang sendiri. Tiwi sedang mengurus fitting model di Dago, dan sebelum aku pergi ia sempat membisikkan instruksi seperti agen rahasia: Cek tangan Sasa, Mbak. Pelanggan setia kita pasti punya bekas lecet dari tali tas belanja DARA.
Aku tidak tahu apa artinya itu. Aku juga tidak yakin tas belanja kami meninggalkan bekas lecet.
Radio dangdut menyambutku seperti kemarin. Kali ini lagunya tentang seseorang yang menunggu kekasihnya di terminal bus.
“Teteh!” Mang Ujang muncul dari balik rak, lebih siap kali ini. Kausnya berkerah. Kumisnya disisir. “Wilujeng sumping, Teh! Prototipe na tos siap!”
Di tengah workshop, di atas dua kuda-kuda kayu, berdiri sebuah rangka jendela dari kayu suar. Tingginya hampir dua meter. Sambungannya tanpa paku. Ada daun jendela yang bisa dibuka-tutup dengan engsel kuningan. Kayunya diampelas sampai halus tapi tetap menunjukkan serat-serat cokelat keemasan yang bergelombang seperti riak air.
Aku berhenti di depannya. Untuk sesaat, aku lupa bernapas.
Ini persis seperti yang ada di kepalaku. Bahkan lebih bagus. Seperti seseorang membuka kepalaku, mengambil gambar yang selama ini cuma bisa kubayangkan, lalu memahatnya jadi nyata.
“Mas Prama yang bikin?”
“Abdi nu motong, A Prama nu ngukir sareng masang engselna,” jawab Mang Ujang bangga. “Dua peuting teu sare, Teh. Eh...” Ia berhenti, lalu cepat-cepat menambahkan: “Maksudna, biasa wae. Biasa wae, Teh.”
“Mas Prama-nya mana?”
“Di belakang, Teh, nuju milih kayu. Sakedap, abdi panggilkeun...”
“Nggak usah, Mang. Aku tunggu aja.”
Aku mengelilingi rangka jendela itu pelan-pelan, menyentuh setiap sambungan dengan ujung jari. Lalu, dengan gerakan yang mudah-mudahan terlihat santai, aku berjalan ke meja admin.
Sasa sedang mengetik. Begitu melihatku mendekat, ia berdiri begitu tiba-tiba sampai kursinya bergulir mundur dan menabrak lemari arsip.
“Teh Dara! Selamat pagi! Mau minum? Teh? Kopi? Air? Air putih? Air hangat? Air...”
“Sasa.” Aku tersenyum dan duduk di kursi tamu di depan mejanya. “Santai aja.”
“Iya, Teh. Santai. Saya santai.” Ia duduk kembali. Punggungnya lurus sekali, seperti ada penggaris di dalamnya.
Aku memperhatikannya. Mungil, seperti kata Tiwi. Rambut sebahu. Kemeja putih sederhana. Ukuran S, jelas.
“Sasa udah lama kerja di sini?”
“Lima tahun, Teh.”
“Lima tahun.” Aku mengangguk pelan. “Dulu tinggal di mana?”
Wajah Sasa menegang. Hanya sedikit. “Di... kos, Teh.”
“Di daerah mana?”
“Di...” Matanya bergerak ke kanan, ke kiri, lalu ke arah pintu belakang workshop, seperti mencari bantuan. “Di... Sekeloa.”
Aku merasakan bulu kudukku berdiri.
“Sasa,” kataku pelan, dan aku mencondongkan badan. “Boleh aku tanya sesuatu?”
Sasa menelan ludah. “B-boleh, Teh.”
“Kamu pernah beli baju DARA.?”
Hening.
Sasa menatapku. Aku menatap Sasa. Radio dangdut di kejauhan menyanyikan lirik tentang kekasih yang tak kunjung datang. Di belakang Sasa, aku melihat Mang Ujang membeku di tengah gerakan mengangkat papan kayu, seperti patung.
“B-belum, Teh,” kata Sasa akhirnya. Suaranya tipis. “Mahal.”
Aku menunggu. Sasa berkeringat di dahi, padahal udara Cigadung pagi itu dingin.
“Kenapa, Teh?” tanyanya dengan suara yang hampir mencicit.
Aku bisa saja mendesak. Tapi melihat wajahnya, wajah yang terlihat seperti mau menangis atau pingsan atau keduanya, aku memutuskan untuk berhenti. Sasa K. bisa siapa saja. Ada ribuan Sasa di Bandung. Ada ratusan kos di Sekeloa.
Dan kalaupun ini memang dia, kalau ia memang menabung dari gaji admin workshop selama lima tahun untuk membeli satu potong bajuku setiap koleksi, lalu memilih untuk merahasiakannya... aku tidak berhak membongkar itu. Mungkin ia malu. Mungkin ia tidak mau dianggap berlebihan. Mungkin bajuku adalah hadiah yang ia berikan untuk dirinya sendiri, diam-diam, setelah bekerja keras.
Hatiku mendadak terasa sangat lembut.
“Nggak apa-apa,” kataku sambil tersenyum. “Nanti kalau show-nya selesai, aku kasih kamu satu potong. Gratis. Ukuran S.”
Sasa mengerjap. Lalu, tanpa peringatan, matanya berkaca-kaca.
“T-Teh...”
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa, Teh.” Ia mengusap mata dengan punggung tangan. “Saya cuma... Teteh baik banget. Teteh nggak tahu seberapa...”
“SASA.”
Suara itu datang dari pintu belakang. Rendah, tapi cukup keras untuk membuat Sasa langsung menegakkan punggung lagi.
Prama berdiri di sana, memanggul dua papan kayu jati panjang di bahunya. Kemejanya hari ini abu-abu. Lengannya digulung. Rambutnya sedikit berantakan, ada serbuk kayu di ujungnya.
“Pesanan Osaka,” katanya pada Sasa. “Resi pengirimannya udah?”
“B-belum, A! Sekarang, A!” Sasa langsung menyambar telepon dengan tangan gemetar dan mulai menekan nomor yang sepertinya acak.
Prama menurunkan papan kayu dari bahunya dengan gerakan yang terlalu mudah untuk beban seberat itu, lalu menyandarkannya ke dinding. Baru setelah itu ia menoleh ke arahku.
Tidak ke wajahku. Ke tanganku. Atau lebih tepatnya, ke bahuku. Atau rangka jendela di belakangku. Pokoknya, ke mana pun kecuali mataku.
“Mbak Dara,” katanya.
“Dara,” koreksiku.
Ia terdiam sebentar. “Dara.”
Cara ia mengucapkan namaku membuat sesuatu di perutku bergerak. Pelan. Hati-hati. Seperti ia menimbang setiap huruf sebelum melepaskannya.
“Rangka jendelanya bagus banget,” kataku, sambil berdiri dan menghampiri prototipe itu. “Lebih bagus dari yang aku bayangin.”
“Masih ada yang perlu diperbaiki. Engselnya agak berat. Nanti diganti.”
“Menurutku udah sempurna.”
“Belum.” Ia berdiri di sisi lain rangka, berseberangan denganku. Ada daun jendela kayu di antara kami. “Daun jendelanya harus bisa dibuka satu tangan oleh model yang pakai sepatu hak tinggi dan gaun panjang. Sekarang masih butuh dua tangan.”
Aku menatapnya lewat bingkai jendela kayu itu. Ia berdiri di sisi lain, membungkuk sedikit, memeriksa engsel dengan ibu jari. Wajahnya dibingkai kayu suar, seperti potret. Rahangnya tegas. Bulu matanya, ternyata, panjang. Ada bekas luka kecil di alisnya, garis putih tipis yang memotong ujungnya.
“Kamu mikirin model pakai hak tinggi?” tanyaku.
“Itu panggung Mbak... Dara. Semua yang jalan di atasnya harus aman.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku mengulurkan tangan untuk mencoba daun jendela itu sendiri.
Saat itulah pergelangan tanganku berdenyut. Nyeri yang tajam, seperti setiap kali aku lupa beristirahat dari menggambar. Aku menarik tanganku dan memijat pergelangan itu tanpa sadar, seperti kebiasaanku.
Ketika aku mendongak, Prama sedang menatap tanganku.
Benar-benar menatap. Untuk pertama kalinya, matanya tidak lari. Ia menatap pergelangan tanganku dengan kerutan di antara alisnya, seperti sedang menghitung sesuatu. Seperti sedang mencatat.
“Kenapa?” tanyaku.
Matanya langsung pindah ke engsel. “Nggak. Nggak apa-apa.”
“Kamu lihat tanganku.”
“Saya lihat engselnya.”
Dari meja admin, Sasa batuk. Dari pojok workshop, Mang Ujang batuk juga. Ridwan, yang entah sejak kapan duduk di tangga dengan ponsel terangkat, ikut batuk dengan semangat yang berlebihan.
Prama menutup mata sebentar. Aku melihat telinganya memerah, pelan-pelan, dari ujung ke pangkal.
Dan aku, untuk alasan yang tidak bisa kujelaskan, merasa ingin tertawa dan juga ingin tetap berdiri di sini sedikit lebih lama.
Sore itu, sebelum pulang, aku mampir ke meja Sasa sekali lagi.
“Sasa,” kataku pelan. “Ukuranmu S, kan?”
Sasa menatapku dengan wajah orang yang sudah pasrah pada takdir. “Iya, Teh.”
“Oke.” Aku mengedipkan mata. “Rahasia kita, ya.”
Aku keluar dari workshop dengan perasaan hangat di dada, yakin aku baru saja memecahkan sebuah misteri kecil yang manis.
Di belakangku, samar-samar, aku mendengar Sasa berbisik dengan suara yang hampir menangis:
“A. Aa. Aku nggak kuat, A.”
Dan suara Prama, rendah dan lelah:
“Aku juga, Sa.”
- 1 Bab 1 — Order Pertama
- 2 Bab 2 — Loteng
- 3 Bab 3 — Vendor yang Tidak Mau Menatap
- 4 Bab 4 — Pelanggan Ukuran S reading
- 5 Bab 5 — Serutan
- 6 Bab 6 — Sendok Pak Darsa
- 7 Bab 7 — Revisi Ketujuh
- 8 Bab 8 — Kutubaru
- 9 Bab 9 — Tolong Diam
- 10 Bab 10 — Koh Hendra Datang ke Bandung
- 11 Bab 11 — Tangan yang Luka
- 12 Bab 12 — Harga Penuh
- 13 Bab 13 — Jati yang Baru Diampelas
- 14 Bab 14 — Pak Bram
- 15 Bab 15 — Pegang yang Benar
- 16 Bab 16 — Truk Pengiriman
- 17 Bab 17 — Mitos
- 18 Bab 18 — Kontrak Lembang
- 19 Bab 19 — Stapler Biru
- 20 Bab 20 — Tempat Orang Berhenti
- 21 Bab 21 — Ridwan dan TikTok
- 22 Bab 22 — Rooftop
- 23 Bab 23 — Undangan
- 24 Bab 24 — Kebaikan yang Salah Tempat
- 25 Bab 25 — Brokat Bukan Merek Lem
- 26 Bab 26 — Struk
- 27 Bab 27 — Tulisan Tangan
- 28 Bab 28 — Aku Cuma Beli Waktu
- 29 Bab 29 — Biasa Aja, Pram?
- 30 Bab 30 — Loteng
- 31 Bab 31 — Giliranku
- 32 Bab 32 — Cicilan Pertama
- 33 Bab 33 — Ukuran Jas
- 34 Bab 34 — Kutubaru untuk Satu Orang
- 35 Bab 35 — Bapak Juga Nggak
- 36 Bab 36 — Harga Penuh, Tanpa Cicilan
- 37 Bab 37 — Lima Tahun Menahan Diri
- 38 Bab 38 — Pembeli Pertamaku
- 39 Bab 39 — Nggak Ada yang Biasa Aja
- 40 Epilog — Rumah dari Kayu