Chapter Twenty Six
Bab 26 — Struk
POV: Dara
Aku menyetir ke Cigadung tanpa menyalakan radio.
Jalan yang sudah kuhafal di luar kepala. Belok kiri di ujung Dago, menanjak, melewati deretan warung, lalu jalan kecil yang menurun di antara kebun singkong. Dua bulan lalu jalan ini asing. Sekarang aku tahu di mana lubangnya, di mana ayam-ayam suka menyeberang, di mana ada anjing kampung yang selalu tidur di tengah jalan dan harus diklakson dua kali.
Selama dua bulan, setiap kali menyetir di jalan ini, aku merasa seperti pulang.
Pagi itu, aku merasa seperti menuju ruang sidang.
Pikap tua dengan lampu kiri yang redup tidak ada di halaman. Ia benar-benar di Gedung Merdeka. Aku duduk di mobil selama lima menit, menatap papan nama kayu dengan huruf-huruf ukiran sederhana. KAYUKU. Dan di bawahnya, tulisan spidol yang sudah mulai pudar: Punten, parkir motor di sebelah kiri.
Aku memarkir mobil di sebelah kanan, seperti pertama kali.
Workshop Kayuku tidak pernah sesunyi itu.
Radio dangdut mati. Tiga tukang baru tidak terlihat; Mang Ujang bilang mereka ikut ke Gedung Merdeka untuk membantu memasang lantai panggung. Ridwan juga ikut. Yang tersisa cuma Mang Ujang di meja kerjanya, mengampelas cangkir sonokeling dengan gerakan yang terlalu lambat, dan Sasa di meja admin, yang langsung berdiri begitu aku masuk.
“T-Teh Dara! Selamat siang!”
“Siang, Sa.”
“A Prama di Gedung Merdeka, Teh! Pasang lantai! Dia bilang Teteh mau ambil sesuatu? Ambil apa, Teh? Biar aku bantu cariin!”
Ia bicara terlalu cepat. Terlalu ceria. Seperti biasa kalau ia gugup. Tapi hari ini aku memperhatikan hal-hal yang dulu tidak kuperhatikan. Tangannya yang meremas ujung kemeja. Matanya yang melirik ke meja di belakangnya. Ke sebuah kotak putih dengan pita krem di atas meja itu, yang setengah tertutup tumpukan map.
Kotak putih. Pita krem. Logo timbul di tutupnya.
Logo DARA.
Aku berjalan pelan ke meja itu. Sasa berdiri di depannya, seperti refleks, seperti orang yang menghalangi sesuatu.
“Sa,” kataku. “Itu apa?”
“Itu... itu...” Sasa menoleh ke kotak itu, lalu kembali padaku. Wajahnya pucat. “Itu punyaku, Teh.”
“Punyamu?”
“Aku... aku akhirnya beli, Teh. Pre-order koleksi show. Yang Teteh buka minggu lalu. Aku... nabung.”
Pre-order kapsul koleksi Lima Tahun. Dua belas potong edisi terbatas, dibuka minggu lalu, habis dalam enam jam. Aku ingat Tiwi melaporkannya dengan teriakan. Aku juga ingat, samar, Tiwi menyebut bahwa pembeli pertama yang menyelesaikan pembayaran, dalam tiga menit setelah pre-order dibuka, adalah pelanggan setia kami. Sasa K. lagi, Mbak! Ukuran S lagi! Harga penuh lagi!
Aku menatap label pengiriman di samping kotak itu. Nama penerima: Sasa K. Ukuran: S. Alamat: sebuah kos di Cigadung.
“Boleh aku lihat?” tanyaku pelan.
“T-Teh...”
“Cuma lihat, Sa.”
Sasa tidak bergerak. Lalu, perlahan, seperti orang yang menyerah setelah perang yang sangat panjang, ia melangkah ke samping.
Aku tidak membuka kotaknya. Aku tahu isinya. Kemeja satin gading dengan potongan asimetris, varian dari Garis Pantai, dengan bordir kecil berbentuk tetes air di manset. Aku yang mendesainnya. Aku tahu setiap jahitannya.
Yang membuatku berhenti adalah map di bawah kotak itu.
Map plastik biru, jenis yang dijual di toko alat tulis mana pun. Di sampulnya, ada label kertas yang ditulis dengan spidol, dalam tulisan tangan Sasa yang bulat-bulat:
REIMBURSE — A PRAMA — DARA.
Aku membuka map itu.
Di dalamnya ada struk. Bukti transfer, dicetak dari aplikasi bank, disusun rapi berdasarkan tanggal, masing-masing dijepit dengan klip kertas. Di setiap lembar, Sasa menempelkan sticky note kecil dengan tulisan bulatnya: nama koleksi, nama produk, ukuran.
Kemarau — Blus linen putih, kerah sabrina — S.
Pesisir — Rok lilit batik Lasem merah — S.
Melati di Tangan Ibu — Outer brokat bordir melati — S.
Garis Pantai — Kemeja satin duchesse gading — S.
Sebelas lembar. Sebelas koleksi. Lima tahun.
Dan lembar kedua belas, yang paling atas, masih baru, kertasnya masih licin:
Lima Tahun — Kemeja satin gading asimetris, bordir tetes air — S.
Di setiap struk, kolom pengirimnya sama. Bukan Sasa Kurniasih.
PRAMA WINATA.
Aku membaca nama itu. Di struk pertama. Di struk kedua. Di struk ketiga. Sampai struk kedua belas. Huruf kapital yang dicetak printer biasa. Nama yang sama, setiap kali, selama lima tahun.
Harga penuh. Setiap kali. Tidak ada satu pun yang dikurangi diskon. Tidak ada kode promo. Tidak ada pre-order lima belas persen. Bahkan untuk kemeja satin gading yang dipesan tiga menit setelah pre-order dibuka, ketika diskon pembeli pertama sebenarnya masih berlaku. Ia tidak memakainya.
Kalau saya beli, saya akan bayar harga penuh. Selalu.
Selalu.
Bukan pengandaian. Ingatan.
“Teh.”
Suara Sasa terdengar sangat jauh.
“Teh, aku minta maaf. Aku minta maaf banget, Teh. Aku bohong waktu Teteh tanya aku pernah beli baju DARA. atau nggak. Aku nggak pernah beli. Nggak pernah sekali pun. Yang beli A Prama. Pakai namaku, pakai alamat kosku, terus aku bawa ke sini naik angkot...”
Ia menangis. Aku mendengarnya, tapi aku tidak bisa menoleh.
“...dan waktu Teteh kirim kado ulang tahun, Teteh tulis kartu buat aku, buat Sasa K., A Prama yang baca kartunya, Teh. Dia simpen kartunya di saku. Syalnya dikasih ke aku. Dia bilang kamu Sasa K., syalnya buat kamu, kartunya biar aku simpen...”
“Tiap launching, Teh,” lanjut Sasa di sela isaknya, “A Prama begadang. Nungguin jam dua belas malam, pas website Teteh buka. Dia duduk di depan laptop admin, refresh terus. Pas buka, dia langsung pilih. Satu. Selalu satu. Terus bayar, harga penuh, terus nutup laptop, terus naik ke loteng.” Ia mengusap matanya dengan lengan kemeja. “Aku sampai pindah kos ke Cigadung dua tahun lalu, Teh. Biar paketnya nggak kelamaan di angkot. A Prama nggak nyuruh. Aku sendiri yang mau. Karena tiap kali aku bawa paketnya ke sini, A Prama senyum. Senyum yang nggak pernah ada di hari lain.”
Aku memejamkan mata.
Kadang aku bertanya-tanya, apakah aku benar-benar bagus, atau cuma keras kepala. Lalu aku lihat nama kamu di daftar pelanggan, dan aku tahu jawabannya.
Aku menulis itu untuk seseorang yang kukira menabung dari gaji admin untuk membeli bajuku. Seseorang yang memilihku tanpa alasan. Seseorang yang, bersama Maison Lumière, menjadi bukti bahwa dunia benar-benar menginginkan karyaku.
Dan ternyata yang membacanya adalah Prama.
Prama, yang membeli satu potong setiap koleksi. Prama, yang menolak voucher lima puluh persen karena bajumu nggak pantas ditawar. Prama, yang tahu tulle tujuh lapis dan satin duchesse dan kos di Sekeloa.
Prama, yang ada di stan kayu di sebelahku di Sabuga.
“Mang,” kataku.
Aku tidak sadar aku sudah berbalik. Aku tidak sadar aku sudah berjalan ke meja kerja Mang Ujang. Aku cuma tahu aku berdiri di depannya sekarang, dengan map biru di dada, dan Mang Ujang sudah berhenti mengampelas.
Ia menatapku. Kumisnya tidak bergerak. Matanya basah.
“Mang,” ulangku. “Maison Lumière.”
Mang Ujang tidak menjawab.
“Koh Hendra bukan pemiliknya, kan.”
Ia meletakkan ampelas di meja. Pelan. Lalu meletakkan cangkir sonokeling di sampingnya. Pelan. Lalu ia melepas celemek kerjanya dan melipatnya, sangat rapi, seperti orang yang sedang menyiapkan diri untuk sesuatu yang berat.
“Teh,” katanya, dan suaranya pecah. “Abdi teu tiasa nyarios. Abdi tos jangji ka A Prama. Lima taun abdi jangji.”
“Mang.”
“Tapi abdi oge teu tiasa bohong ka Teteh.” Air mata jatuh di pipinya, menghilang di kumisnya yang tebal. “Abdi teu sanggup. Teteh terlalu bageur.”
Ia tidak mengatakan apa pun lagi. Ia tidak perlu.
Aku menatap tangga kayu di ujung workshop. Pintu kecil di puncaknya. Gembok.
“Di loteng ada apa, Mang?”
Mang Ujang menutup mata. “Kuncina dibawa A Prama, Teh. Salawasna. Teu kantos dileupaskeun.”
“Ada apa di sana?”
Hening. Lama.
“Eusi hate A Prama, Teh,” bisik Mang Ujang akhirnya. “Lima taun.”
Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di workshop itu.
Cukup lama sampai Sasa berhenti menangis dan cuma terisak pelan. Cukup lama sampai Mang Ujang duduk di bangku Pak Darsa di dekat pintu dan menutup wajahnya dengan celemek yang sudah dilipat. Cukup lama sampai cahaya matahari bergeser dari meja admin ke lantai semen, ke kaki tangga loteng.
Aku menatap tangga itu.
Aku bisa naik. Aku bisa mencoba membuka gembok itu. Aku bisa mencari obeng, mencari linggis, mencari apa pun. Aku cukup marah untuk melakukannya. Aku cukup bingung.
Tapi aku tidak naik.
Karena aku tidak mau mendengarnya dari loteng. Aku tidak mau mendengarnya dari struk, atau dari air mata Mang Ujang, atau dari label map biru dengan tulisan bulat Sasa.
Aku mau mendengarnya dari dia.
Aku memeluk map biru itu dan berjalan ke pintu. Sasa memanggil namaku. Aku berhenti di ambang pintu, tanpa menoleh.
“Sa.”
“Iya, Teh?”
“Jangan bilang dia aku udah tahu.”
“Teh...”
“Aku yang ngomong sendiri. Nanti.”
Aku keluar. Dan di halaman, di samping mobilku, ada seseorang yang baru turun dari angkot.
Pak Darsa. Kemeja batik cokelat. Peci miring ke kiri. Kantong plastik berisi kayu-kayu kecil untuk sendok di tangannya.
Ia berhenti ketika melihatku. Matanya, mata tua yang tajam di bagian tengah, menatap wajahku. Lalu map biru di pelukanku. Lalu kembali ke wajahku.
Ia tidak bertanya apa yang terjadi. Ia tidak perlu.
“Neng,” katanya pelan.
Aku tidak bisa menjawab.
Pak Darsa merogoh kantong kemejanya dan mengeluarkan sesuatu. Sebuah sendok. Sudah jadi, sudah diminyaki, cekungannya dalam dan halus, gagangnya ramping dengan lengkung lembut. Ia meletakkannya di telapak tanganku, di atas map biru, dan melipat jari-jariku di sekelilingnya. Seperti hari pertama kami bertemu.
“Naon wae nu kadenge ku Neng ayeuna,” katanya, “Bapak ngan hayang Neng nyaho hiji hal.”
Aku menunggu.
“Prama teu kantos menta nanaon ka saha wae. Ti leuleutik. Ka Bapak teu menta. Ka ibuna teu menta. Waktu ibuna maot, ka Gusti Allah oge teu menta.” Suaranya bergetar sedikit. “Ngan sakali Bapak ngadenge manehna menta. Lima taun ka tukang. Peuting-peuting. Di masjid deukeut imah. Bapak ngadenge sorangan.”
“Apa yang dia minta, Pak?” bisikku.
Pak Darsa menatapku lama.
“Supaya awewe di stan sabeulah teu eureun ngajahit.”
Aku tidak bisa bernapas.
Pak Darsa menepuk tanganku dua kali, pelan, lalu berjalan masuk ke workshop tanpa menoleh lagi. Aku mendengar suaranya di dalam, memanggil Mang Ujang, lalu hening.
Aku berdiri di halaman dengan sendok di tangan dan map biru di dada, dan matahari Cigadung terlalu terang.
Ayam-ayam berjalan di halaman seperti tidak ada yang terjadi. Di kebun singkong sebelah, seorang ibu sedang menjemur pakaian dan bersenandung.
Aku duduk di mobil dan meletakkan map biru itu di kursi penumpang. Lalu aku menatapnya.
Dua belas struk. Lima tahun. PRAMA WINATA.
Dan di suatu tempat di bawah dua belas struk itu, tersembunyi di antara semua yang belum ia ceritakan, ada satu transaksi lagi. Yang tidak ada di map ini. Yang dibayar bukan dari rekeningnya, tapi dari rekening sebuah perusahaan furnitur di Singapura, lewat sebuah nama yang dipinjam dari toko lampu.
Empat puluh dua potong. Lima tahun lalu. Seminggu setelah Sabuga.
Aku tidak bisa membuktikannya. Belum.
Tapi aku tahu. Seperti aku tahu kapan pola meleset setengah mili. Seperti aku tahu kapan sebuah jahitan tidak lurus, bahkan sebelum aku melihatnya. Aku tahu dengan seluruh tubuhku.
Aku menyalakan mesin. Tanganku gemetar sangat kencang sampai kunci mobil berbunyi di lubang kontak.
Di sepanjang jalan dari Cigadung ke Dago, aku tidak menangis. Aku cuma mengulang satu kalimat di kepalaku, berulang-ulang, seperti jarum yang menusuk kain di tempat yang sama terus-menerus sampai kainnya bolong.
Kalau orang itu nggak pernah ada, aku nggak tahu aku siapa.
Aku mengatakan itu pada orang itu. Di workshop-nya. Sambil menangis ke tehnya.
Dan ia memelukku, dan bilang aku cukup.
- 1 Bab 1 — Order Pertama
- 2 Bab 2 — Loteng
- 3 Bab 3 — Vendor yang Tidak Mau Menatap
- 4 Bab 4 — Pelanggan Ukuran S
- 5 Bab 5 — Serutan
- 6 Bab 6 — Sendok Pak Darsa
- 7 Bab 7 — Revisi Ketujuh
- 8 Bab 8 — Kutubaru
- 9 Bab 9 — Tolong Diam
- 10 Bab 10 — Koh Hendra Datang ke Bandung
- 11 Bab 11 — Tangan yang Luka
- 12 Bab 12 — Harga Penuh
- 13 Bab 13 — Jati yang Baru Diampelas
- 14 Bab 14 — Pak Bram
- 15 Bab 15 — Pegang yang Benar
- 16 Bab 16 — Truk Pengiriman
- 17 Bab 17 — Mitos
- 18 Bab 18 — Kontrak Lembang
- 19 Bab 19 — Stapler Biru
- 20 Bab 20 — Tempat Orang Berhenti
- 21 Bab 21 — Ridwan dan TikTok
- 22 Bab 22 — Rooftop
- 23 Bab 23 — Undangan
- 24 Bab 24 — Kebaikan yang Salah Tempat
- 25 Bab 25 — Brokat Bukan Merek Lem
- 26 Bab 26 — Struk reading
- 27 Bab 27 — Tulisan Tangan
- 28 Bab 28 — Aku Cuma Beli Waktu
- 29 Bab 29 — Biasa Aja, Pram?
- 30 Bab 30 — Loteng
- 31 Bab 31 — Giliranku
- 32 Bab 32 — Cicilan Pertama
- 33 Bab 33 — Ukuran Jas
- 34 Bab 34 — Kutubaru untuk Satu Orang
- 35 Bab 35 — Bapak Juga Nggak
- 36 Bab 36 — Harga Penuh, Tanpa Cicilan
- 37 Bab 37 — Lima Tahun Menahan Diri
- 38 Bab 38 — Pembeli Pertamaku
- 39 Bab 39 — Nggak Ada yang Biasa Aja
- 40 Epilog — Rumah dari Kayu