← Pembeli Pertamamu

Chapter Twenty Three

Bab 23 — Undangan

POV: Dara

“Mbak,” kata Tiwi, berdiri di ambang pintu ruanganku dengan ponsel di tangan dan wajah yang tidak bisa memutuskan antara panik dan girang. “Ada wartawan di telepon. Dari podcast Jejak Kreatif. Katanya penting. Katanya soal Maison Lumière.”

Aku meletakkan pensil.

“Maison Lumière?”

“Dia bilang dia nemu sesuatu. Mbak mau ngomong langsung?”

Aku mengulurkan tangan. Tiwi menyerahkan ponselnya, lalu tidak keluar. Ia berdiri di depan mejaku, memeluk tablet, dengan napas tertahan.

“Halo?”

“Mbak Dara? Selamat pagi. Saya Bimo, produser Jejak Kreatif. Maaf mengganggu pagi-pagi.” Suara laki-laki muda, cepat, bersemangat. “Setelah Mbak tampil di TV dua minggu lalu, tim kami penasaran soal butik Singapura itu. Kami coba telusuri.”

“Terus?”

“Butiknya memang nggak terdaftar di Singapura, Mbak. Kami nggak nemu Maison Lumière di registrasi bisnis mana pun. Tapi...” Ia berhenti, dramatis, seperti pembawa acara yang mau membacakan pemenang. “Kami nemu catatan transaksi lama dari bank Mbak, yang Mbak unggah di Instagram lima tahun lalu. Ingat? Foto bukti transfer, dengan caption ‘order pertama, aku nggak percaya’.”

Aku ingat. Aku mengunggah foto itu jam dua pagi, sambil menangis, dengan tangan gemetar. Aku lupa bahwa foto itu masih ada.

“Nama pengirimnya kepotong, tapi masih kebaca sebagian. Gunawan Trad... Kami cari. Ternyata ada perusahaan Singapura namanya Gunawan Trading Pte Ltd. Importir furnitur. Pemiliknya orang Indonesia, Hendra Gunawan.”

Aku tidak bernapas.

“Kami udah coba kontak beliau. Belum dibales. Tapi Mbak, kalau Mbak mau, kami bisa bantu bikin segmen reuni. Mbak ketemu sama pemilik Maison Lumière, direkam, ditayangin di podcast kami. Pasti viral, Mbak.”

“Gunawan,” ulangku pelan.

“Hendra Gunawan, Mbak.”

“Aku... aku hubungi lagi nanti, ya, Mas Bimo. Makasih.”

Aku menutup telepon. Tanganku gemetar sedikit. Aku meletakkan ponsel Tiwi di atas meja gambar miring dan menatapnya seperti benda itu bisa meledak.

“Mbak?” Tiwi mendekat. “Mbak, itu dia. Itu nama yang Mbak inget. Gunawan sesuatu.”

“Iya.”

“Importir furnitur, Mbak.”

“Iya.”

“Kenapa importir furnitur punya butik baju?”

Aku tidak tahu. Aku tidak peduli. Lima tahun aku bertanya-tanya siapa malaikat dari Singapura itu, dan sekarang ia punya nama. Hendra Gunawan. Seorang laki-laki Indonesia yang punya perusahaan furnitur di Singapura, dan entah bagaimana, entah kenapa, pernah membeli empat puluh dua potong bajuku dan menulis Teruskan di atas kartu krem.

“Wi,” kataku. “Aku mau dia datang ke show.”

Tiwi berkedip.

“Aku mau dia berdiri di panggung. Di akhir. Waktu aku keluar buat bow.” Suaraku mulai naik, lebih cepat, lebih bersemangat. “Lima tahun DARA. Tanpa dia nggak akan ada lima tahun. Tanpa dia nggak akan ada panggung. Aku mau semua orang tahu. Aku mau Ayah tahu. Aku mau Ayah lihat bahwa paku itu nyata. Bahwa orang itu ada.”

“Mbak...” Tiwi ragu. “Kalau dia nggak mau? Dia udah lima tahun nggak muncul. Emailnya dimatiin. Mungkin dia memang nggak mau ketemu.”

“Aku harus coba, Wi.”

Tiwi menatapku lama. Lalu ia mengangguk pelan, dan duduk di kursi di depan mejaku, dan membuka tablet.

“Oke, Mbak. Kita cari.”


Kami mencari sepanjang pagi.

Gunawan Trading Pte Ltd punya situs web. Sederhana, tidak diperbarui sejak tiga tahun lalu, dengan foto-foto gudang dan kontainer dan daftar produk. Furnitur jati dari Jepara. Kerajinan rotan dari Cirebon. Peralatan dapur kayu dari...

Tiwi berhenti menggulir.

“Mbak,” katanya pelan.

“Apa?”

Ia memutar tablet ke arahku. Di halaman Our Partners, di antara logo-logo pemasok dari seluruh Indonesia, ada satu logo yang sangat kukenal. Huruf-huruf ukiran sederhana. Dengan tulisan kecil di bawahnya: Bandung, Indonesia. Partner since 2021.

KAYUKU.

Aku menatap logo itu. Lalu menatap Tiwi. Lalu menatap logo itu lagi.

“Buyer Singapura-nya Mas Prama,” bisikku.

“Yang ngirim bakpia Changi,” kata Tiwi.

“Yang kucingnya bersin.”

“Kucingnya bersin kayak bapak-bapak,” Tiwi menambahkan, dengan mata membesar.

Kami saling menatap. Lalu, pada saat yang sama, kami berdua tertawa. Tawa yang tidak percaya. Tawa yang setengah histeris.

“Mbak,” kata Tiwi di sela tawanya. “Ini takdir. Ini takdir, Mbak. Dua orang yang nyelamatin Mbak, ternyata kenal satu sama lain!”

Aku berhenti tertawa. Kata itu menggema di kepalaku.

Dua orang yang nyelamatin aku.

Maison Lumière, lima tahun lalu, yang membuatku tidak berhenti. Dan Prama, lima minggu ini, yang membuatku merasa cukup. Dua orang yang tidak pernah kuminta untuk datang. Dua orang yang memberiku sesuatu tanpa meminta balasan.

Dan mereka saling kenal. Berbisnis bersama. Mungkin duduk di meja yang sama, minum teh yang sama, di workshop yang sama.

Dunia terasa sangat kecil dan sangat indah pagi itu.


Jam dua belas, Bu Imas menelepon dari lantai satu.

“Neng, ada tamu di butik. Nyari Neng. Perempuan, rambut pendek, sepatunya bot. Katanya namanya Anin.”

Aku turun.

Ia berdiri di depan rak koleksi Garis Pantai, memegang sebuah outer linen biru keabu-abuan di gantungan, dengan kacamata hitam di atas kepala. Ia menoleh ketika aku masuk, dan tersenyum. Senyum yang sama, lebar dan lurus. Tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya. Lebih tenang. Lebih jernih.

“Dara,” katanya. “Maaf ganggu. Aku cuma mau beli ini.” Ia mengangkat outer itu. “Sama ngomong satu hal. Lima menit.”

Aku membawanya ke sudut butik, ke dua kursi rotan di samping jendela. Ia duduk dengan outer di pangkuan.

“Aku mau minta maaf,” katanya langsung, tanpa basa-basi, seperti biasa. “Sabtu kemarin. Aku bilang berarti aku boleh. Itu nggak sopan.”

“Mbak nggak salah. Aku yang bilang dia cuma vendor.”

“Iya. Dan kamu bohong.” Anin tersenyum. “Aku tahu, karena dia juga bohong. Kalian berdua bohong dengan cara yang sama. Natap ke mana aja kecuali ke orangnya.”

Aku tidak bisa menjawab.

“Aku nembak dia,” kata Anin. “Hari Senin. Di warung sate.”

Aku menahan napas.

“Dia nggak jawab. Nggak perlu. HP-nya bunyi, ada pesan dari kamu soal kabut, dan mukanya...” Anin menggeleng pelan, masih tersenyum. “Aku udah tiga puluh tahun hidup, Dara. Aku belum pernah lihat laki-laki baca pesan kayak gitu.”

Mataku panas. Aku tidak tahu kenapa.

“Kontraknya tetap jalan,” lanjut Anin. “Itu bisnis. Aku tetap mau kayunya. Tapi aku mundur dari yang lain.” Ia berdiri, merapikan outer di lengannya. Lalu ia menatapku dari atas, dan suaranya jadi lebih pelan. “Satu hal lagi. Aku nggak tahu cerita kalian. Dia nggak cerita, dan aku nggak nanya. Tapi aku tanya satu hal ke dia, dan dia jawab. Jadi aku kasih tahu ke kamu, karena menurutku kamu harus tahu.”

“Apa?”

“Kalau kamu nggak mau dia, aku mau. Tapi dia nggak mau aku.” Anin menyampirkan tas kanvasnya di bahu. “Jadi tolong. Jangan bikin dia nunggu lima tahun lagi.”

Aku berkedip. “Lima tahun?”

Tapi Anin sudah berjalan ke kasir. Ia membayar outer itu. Aku mendengar Teh Rina, yang jaga kasir hari itu, menyebutkan kode promo pembukaan butik untuk pelanggan baru. Sepuluh persen.

“Nggak usah, Teh,” kata Anin. “Harga penuh aja. Kemarin aku diajarin sama seseorang. Baju di sini nggak pantas ditawar.”

Ia keluar. SUV hitamnya pergi dari depan gedungku.

Aku duduk lama di kursi rotan di samping jendela. Lima tahun. Kami baru kenal dua bulan. Aku tidak mengerti. Aku menyimpannya di tempat yang sama dengan semua hal yang tidak kumengerti tentang Prama Winata. Tempat yang belakangan ini mulai terlalu penuh.


Aku tiba di Kayuku jam dua siang dengan kotak kue lapis dan jantung yang berdetak terlalu cepat.

Workshop masih sibuk. Lebih sibuk dari minggu lalu, sejak kontrak Lembang ditandatangani. Ada tiga tukang baru sekarang, dan tumpukan kardus pengiriman sudah setinggi pinggang. Mang Ujang sedang mengajari salah satu tukang baru cara memegang ampelas. Sasa sedang menelepon dengan dua ponsel sekaligus.

Prama ada di meja paling ujung, memasang engsel di rangka jendela mini kedua, untuk display butikku. Ia mengangkat kepala ketika aku masuk.

Matanya langsung menemukan mataku. Tidak lari. Tidak membuang pandangan ke jendela.

Sejak malam di rooftop, ia tidak pernah lari lagi.

“Dara.”

“Hai, Mas.” Aku meletakkan kue lapis di meja Sasa dan berjalan langsung ke arahnya. Tidak berhenti di jarak satu meja. Aku berhenti di sampingnya, cukup dekat sehingga bahuku hampir menyentuh lengannya. “Rooftop-ku udah aku pasangin kunci. Kemarin.”

Ia tersedak. Obeng di tangannya hampir jatuh.

Di meja sebelah, Mang Ujang berhenti mengajari tukang baru dan menatap kami dengan mata berkilat.

“Kunci,” ulang Prama, serak.

“Gembok. Kayak punyamu di loteng.” Aku tersenyum. “Kuncinya aku simpen. Kalau kamu mau ke rooftop lagi, kamu harus minta ke aku.”

Telinganya merah. Merah sekali. Ia menatap engsel di tangannya dengan konsentrasi yang sama sekali tidak dibutuhkan untuk engsel sekecil itu.

“Oke,” katanya.

“Oke?”

“Nanti saya minta.”

Mang Ujang menjatuhkan ampelasnya. Tukang baru di sampingnya menatap Mang Ujang dengan bingung. Mang Ujang menepuk bahu tukang baru itu dan berbisik sesuatu dalam bahasa Sunda yang kedengarannya seperti nonton wae, tong loba tatanya.

Aku menarik kursi dan duduk di samping meja kerjanya.

“Mas,” kataku. “Aku mau tanya sesuatu. Penting.”

Ia meletakkan obeng. “Ya.”

“Buyer kamu yang dari Singapura. Namanya siapa?”

Tangannya, yang tergeletak di atas rangka jendela mini, berhenti.

Tidak bergerak. Sama sekali. Seperti kayu.

“Kenapa?” tanyanya. Suaranya datar. Terlalu datar.

“Jawab dulu.”

Ia diam. Di meja admin, aku mendengar Sasa berhenti bicara di telepon. Di meja sebelah, Mang Ujang berhenti bergerak.

“Gunawan,” kata Prama akhirnya. “Koh Hendra Gunawan. Gunawan Trading.”

Aku menutup mulutku dengan kedua tangan.

“Mas.”

Ia menatapku. Wajahnya pucat. Sangat pucat. Aku belum pernah melihatnya sepucat itu, bahkan waktu darah mengalir dari pangkal ibu jarinya.

“Mas, itu dia,” kataku, dan suaraku pecah karena terlalu banyak yang ingin keluar sekaligus. “Itu Maison Lumière. Produser podcast nemu bukti transfernya. Yang bayar koleksi pertamaku lima tahun lalu itu Gunawan Trading. Buyer kamu. Buyer kamu, Mas!”

Ia tidak menjawab. Ia cuma menatapku. Matanya bergerak cepat, ke wajahku, ke tanganku, ke pintu, ke tangga loteng, kembali ke wajahku.

Aku mengira itu kaget. Tentu saja ia kaget. Siapa yang tidak kaget, menemukan bahwa buyer-nya sendiri adalah orang yang menyelamatkan klien besarnya lima tahun lalu?

“Kamu nggak tahu?” tanyaku.

Ia membuka mulut. Lalu menutupnya.

“Tentu aja kamu nggak tahu,” jawabku sendiri, tertawa kecil, tidak percaya. “Gimana kamu bisa tahu. Waktu itu kalian baru kenal, kan? Koh Hendra pasti punya butik itu sebagai usaha sampingan, atau punya istrinya, atau... aku nggak tahu. Tapi Mas...”

Aku meraih tangannya. Tangan yang dingin, tiba-tiba. Sangat dingin untuk siang Bandung yang hangat.

“Ini takdir,” kataku. “Dua orang yang paling berarti buat aku. Ternyata kenal.”

Ia menatap tangan kami. Tanganku yang menggenggam tangannya yang dingin.

“Dara,” katanya, dan suaranya keluar sangat pelan, sangat serak. “Saya...”

“Aku mau dia datang ke show,” potongku, terlalu bersemangat untuk menunggu. “Aku mau dia berdiri di panggung waktu aku bow. Aku udah tulis undangannya. Bisa kamu yang kasih ke dia? Dia buyer kamu. Dia pasti dengerin kamu.”

Aku mengeluarkan amplop dari tas jinjingku. Krem. Dengan logo DARA. timbul di sudut. Di dalamnya, sebuah kartu yang kutulis tangan semalam, empat kali, karena tiga yang pertama terlalu panjang dan tintanya hampir meleber.

Semalam, di meja gambar miring, dengan pulpen bertinta biru tua, aku menulis:

Untuk Pemilik Maison Lumière,

Lima tahun lalu Anda menulis satu kata untuk saya: Teruskan. Saya meneruskan. Setiap hari. Bahkan di hari-hari ketika saya tidak yakin apakah saya pantas.

Saya tidak tahu kenapa Anda memilih baju saya. Saya tidak tahu kenapa Anda tidak pernah muncul. Saya tidak akan memaksa Anda menjelaskan apa pun.

Saya cuma ingin Anda tahu bahwa ada panggung di Gedung Merdeka, dengan pintu kayu berbentuk embun di ujungnya. Panggung itu ada karena Anda. Dan saya ingin, sekali saja, Anda berdiri di sana. Di samping saya. Supaya saya bisa mengucapkan terima kasih dengan suara saya sendiri, bukan lewat wawancara.

Kalau Anda tidak mau, saya mengerti. Tapi kursi paling depan akan selalu kosong untuk Anda.

Dengan seluruh hormat, Dara

Aku sempat menelepon Mas Bimo lagi sebelum berangkat ke Cigadung. Aku bilang terima kasih, tapi aku tidak mau ada kamera di pertemuan itu. Kalau pemilik Maison Lumière mau datang, biar itu jadi urusan kami berdua. Kalau ia lima tahun memilih tidak muncul, ia pasti punya alasan, dan aku tidak mau alasannya jadi tontonan.

Mas Bimo kedengarannya kecewa. Tapi ia bilang ia mengerti.

Aku meletakkan amplop itu di telapak tangan Prama.

Ia menatap amplop itu.

“Bisa, kan, Mas?”

Lama sekali ia tidak menjawab. Begitu lama sampai senyumku mulai goyah. Begitu lama sampai aku mendengar Sasa di meja admin menarik napas dengan bunyi yang aneh, seperti orang yang menahan tangis.

Lalu jari-jarinya menutup di sekeliling amplop itu.

“Saya tanya Koh Hendra,” katanya.

Aku memeluknya.

Aku tidak berpikir. Aku cuma melingkarkan lenganku di lehernya, dari samping, di kursi kerjanya, dan memeluknya erat-erat. Wajahku di bahunya. Wangi jati.

Ia tidak membalas pelukanku. Tubuhnya kaku. Tangannya, yang memegang amplop, terangkat di udara, tidak tahu harus diletakkan di mana. Seperti malam pertama di workshop, sebelum ia akhirnya memelukku balik.

Tapi kali ini ia tidak memelukku balik.

Aku tidak menyadarinya. Waktu itu, aku tidak menyadarinya. Aku terlalu bahagia.

“Makasih, Mas,” bisikku di bahunya. “Makasih banget.”

Ia tidak menjawab.


Di ambang pintu, ketika aku pamit, Mang Ujang menghampiriku. Ia tidak tersenyum lebar seperti biasa. Kumisnya diam. Matanya, mata tua yang selalu berkilat jenaka, kali ini terlihat sangat lelah.

“Teh,” katanya pelan.

“Ya, Mang?”

Ia membuka mulut. Menutupnya. Melirik ke arah meja kerja Prama, di mana laki-laki itu masih duduk tanpa bergerak, menatap amplop krem di tangannya.

“Ati-ati di jalan, Teh,” kata Mang Ujang akhirnya. Lalu, lebih pelan, hampir seperti doa: “Sing sabar. Kana naon wae nu bakal datang.”

Aku tidak mengerti maksudnya. Waktu itu, aku pikir ia cuma bicara soal macet di Dago.

Aku pulang jam empat, melayang. Aku menyanyi di mobil. Aku menelepon Ibu dan menceritakan semuanya, dan Ibu menangis di telepon, dan aku ikut menangis, dan kami tertawa karena menangis.

“Ayahmu harus dengar ini,” kata Ibu. “Ibu yang bilang ke dia nanti malam.”

“Jangan, Bu. Biar Ayah lihat sendiri. Di show. Waktu orangnya berdiri di panggung.”

Malam itu, di rooftop, aku duduk di kursi rotan dan menatap ke arah Cigadung. Lampu-lampu di balik bukit kecil. Aku membayangkan workshop itu. Prama di meja kerjanya. Amplop krem di sakunya. Mungkin sedang menelepon Koh Hendra. Mungkin sedang tersenyum, seperti aku.

Aku tidak tahu bahwa di saat yang sama, di loteng yang terkunci di workshop itu, seorang laki-laki sedang duduk di lantai di depan lemari jati, dengan amplop krem bertuliskan Untuk Pemilik Maison Lumière di tangannya, dan tidak membukanya.

Aku tidak tahu bahwa ia sedang membaca nama di amplop itu berulang-ulang, dengan mata yang tidak bisa berhenti basah.

Aku tidak tahu bahwa undangan itu sudah sampai ke tangan orang yang tepat.

Aku cuma tahu bahwa untuk pertama kalinya dalam lima tahun, malaikat dari Singapura punya nama, dan nama itu ada di dunia yang sama dengan laki-laki yang membuat jantungku berhenti.

Dan aku merasa seperti orang paling beruntung di Bandung.