← Pembeli Pertamamu

Chapter Eleven

Bab 11 — Tangan yang Luka

POV: Dara

Aku sudah melihat banyak darah dalam hidupku. Jari tertusuk jarum mesin jahit. Telapak tangan teriris gunting kain. Tiwi yang mimisan di tengah fitting model karena kurang tidur tiga hari.

Tapi aku belum pernah melihat darah yang membuatku lupa caranya berdiri.

Hari Selasa sore, aku datang ke Kayuku untuk melihat contoh ukiran di bingkai pintu besar. Prama sedang mengerjakannya sendiri di meja paling ujung, dengan pahat kecil dan palu kayu, mengukir pola melati di sepanjang kusen mahoni. Ia tidak mendengarku masuk, seperti biasa kalau sedang terlalu fokus.

Aku berdiri di belakangnya. Aku tidak memanggil. Aku cuma ingin melihat.

Gerakannya pelan dan pasti. Palu mengetuk, pahat bergerak setengah senti, serpihan mahoni melengkung dan jatuh. Ketuk lagi. Setengah senti lagi. Sebuah kelopak melati muncul dari kayu, pelan, seolah sudah ada di dalam sana sejak awal dan ia cuma membantunya keluar.

“Kenapa melati?” tanyaku akhirnya, pelan, supaya tidak mengagetkannya.

Ia tidak menoleh. Pahatnya terus bergerak. Tapi aku melihat bahunya menegang sedikit, lalu mengendur.

“Kamu yang minta,” katanya. “Kaca patrinya dulu bunga melati. Revisi keempat.”

“Tapi kaca patrinya udah aku ganti jadi embun.”

“Iya.” Ketuk. Setengah senti. “Tapi melatinya sayang kalau dibuang. Jadi saya pindah ke kusen.”

Aku menatap kelopak-kelopak kecil yang berderet di sepanjang kusen mahoni. Puluhan. Masing-masing sedikit berbeda, seperti melati sungguhan yang tidak pernah tumbuh persis sama.

“Kamu tahu nggak, melati itu bunga ibuku,” kataku. “Ibu selalu tanam di pot depan rumah. Koleksi Melati di Tangan Ibu itu dari situ.”

“Saya tahu.”

Aku mengerutkan kening. “Kok tahu?”

Pahatnya berhenti sesaat. Hanya sesaat.

“Kamu bilang di wawancara,” katanya. “Majalah. Tahun lalu. Waktu riset buat panggung.”

Aku memang pernah bilang begitu di sebuah wawancara. Aku tidak ingat yang mana. Tapi aku ingat bahwa tidak ada satu pun vendor yang pernah membaca wawancaraku untuk riset panggung.

Aku tersenyum ke punggungnya, dan memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Tidak sekarang.

Lalu Ridwan menjatuhkan papan di belakangku.

Papan suar panjang, dari tumpukan di dekat dinding. Bunyinya seperti tembakan di ruangan yang sunyi. Aku tersentak. Prama tersentak. Dan palunya, yang sedang terayun, mengenai ujung pahat dengan sudut yang salah.

Pahat itu tergelincir dari alur. Menyelip di permukaan mahoni yang licin. Dan menancap di pangkal ibu jari kirinya.

Ia tidak berteriak. Itu yang paling menakutkan. Ia cuma berhenti bergerak, menatap tangannya, dan berkata pelan:

“Oh.”

Darahnya keluar seketika. Merah gelap, mengalir dari pangkal ibu jari ke telapak tangan, menetes ke kusen mahoni, ke kelopak melati yang baru setengah jadi.

“Mas!”

Aku tidak ingat berjalan ke arahnya. Aku cuma ingat tiba-tiba aku sudah ada di sampingnya, memegang pergelangan tangannya dengan kedua tanganku, mengangkatnya ke atas kepalanya karena entah dari mana aku ingat bahwa luka harus diangkat lebih tinggi dari jantung.

“Kotak P3K,” kataku. Suaraku keluar terlalu tinggi. “Mang! Kotak P3K!”

“Saya nggak apa-apa,” kata Prama.

“Diam.”

“Dara, ini cuma...”

“Diam, Mas.”

Ia diam.

Mang Ujang sudah datang dengan kotak P3K plastik putih yang tutupnya retak. Sasa di belakangnya, wajahnya pucat. Ridwan berdiri membeku di dekat tumpukan papan, ponselnya tergeletak di lantai, untuk pertama kalinya tidak merekam apa pun.

“Maaf, A,” katanya dengan suara gemetar. “Maaf, A, papannya licin...”

“Nggak apa-apa, Wan,” kata Prama, tanpa menoleh. “Bukan salahmu.”

Aku membuka kotak P3K dengan satu tangan, karena tanganku yang lain masih memegang pergelangan Prama ke atas. Isinya berantakan. Plester bergambar kartun, kapas yang sudah menguning, botol antiseptik setengah kosong, gunting kecil berkarat, dan satu gulungan perban yang untungnya masih tersegel.

“Duduk,” kataku.

Ia duduk di bangku kerja. Aku menarik kursi dan duduk di depannya, lutut kami hampir bersentuhan. Aku menurunkan tangannya pelan-pelan ke pangkuanku, di atas sapu tangan yang kubentangkan di paha.

Lalu aku melihat lukanya dengan jelas, dan perutku melilit.

Robekannya sekitar dua senti, di pangkal ibu jari, di daging yang tebal. Tidak terlalu dalam, tapi cukup untuk membuat darahnya terus mengalir. Di sekitarnya, di sepanjang ibu jari dan punggung tangan, ada garis-garis putih tipis. Puluhan. Bekas-bekas luka lama dengan cara yang sama, di tempat yang hampir sama.

“Ini bukan yang pertama,” kataku pelan.

“Tukang kayu memang begini.”

“Mang Ujang nggak begini.” Aku menoleh ke Mang Ujang, yang langsung menyembunyikan tangannya di belakang punggung. Terlambat. Aku sudah melihat. Tangan Mang Ujang kasar dan kapalan, tapi bersih. Tidak ada garis putih sebanyak ini.

“Mang Ujang lebih hati-hati,” kata Prama.

“Mas Prama nggak hati-hati?”

Ia diam. Mang Ujang, di belakangku, berdeham.

“A Prama mah hati-hati, Teh,” kata Mang Ujang pelan. “Tapi tiap ada pesenan nu penting pisan, A Prama teh sok begadang. Kurang sare. Leungeunna capeuk. Jadi sok kieu.”

Aku menatap tangan di pangkuanku. Garis-garis putih itu. Puluhan pesanan yang terlalu penting.

Aku tidak bertanya pesanan apa. Aku cuma mengambil kapas, menuangkan antiseptik, dan mulai membersihkan lukanya.


Aku tidak pernah merawat luka orang lain.

Waktu kecil, kalau aku jatuh, Ibu yang mengobati. Waktu kuliah, kalau teman kos-ku terluka, aku cuma memberikan plester dan menyuruhnya ke klinik. Di kantor, Bu Imas yang memegang kotak P3K, dan Bu Imas tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya.

Jadi aku melakukannya dengan sangat pelan. Terlalu pelan, mungkin. Menekan kapas di sekitar luka, tidak langsung di atasnya. Mengusap darah yang sudah mulai mengering di telapak tangannya. Meniup sedikit, setiap kali ia mendesis ketika antiseptiknya menyentuh kulit yang terbuka.

Tangannya besar di pangkuanku. Lebih besar dari yang kukira. Jari-jarinya panjang, buku-bukunya menonjol, telapaknya kasar seperti kulit kayu yang belum diampelas. Tapi ada sesuatu yang rapuh tentang cara tangan itu tergeletak di pangkuanku, terbuka, menyerah, membiarkan dirinya dirawat.

Aku melirik wajahnya. Ia tidak menatap lukanya. Ia menatap tanganku yang sedang merawat lukanya.

“Sakit?” tanyaku.

“Nggak.”

“Kamu bohong.”

“Sedikit.”

“Kamu bohong lagi.”

Sudut bibirnya bergerak. “Lumayan.”

Aku meniup lukanya lagi. Ia memejamkan mata sebentar.

Di belakang kami, aku mendengar Sasa berbisik pada Mang Ujang, dan Mang Ujang berbisik pada Ridwan, dan ketiganya pelan-pelan, sangat pelan, mundur ke bagian lain workshop. Aku mendengar radio dinyalakan dengan volume kecil. Lagu dangdut lama, tentang seseorang yang mengobati luka kekasihnya.

Aku tidak tahu apakah Mang Ujang sengaja memilih lagu itu. Aku tidak mau tahu.

Aku membungkus lukanya dengan kain kasa, lalu perban. Melingkar dari pangkal ibu jari, menyilang di punggung tangan, kembali ke telapak. Aku membungkusnya seperti membungkus pergelangan model yang memakai gelang terlalu ketat, rapi dan tidak terlalu kencang. Di ujungnya, aku membuat simpul kecil, dan karena tidak ada peniti di kotak P3K yang berantakan itu, aku mengambil jarum pentul dari kotak jahit kecil di tasku dan menyematkannya di sana.

“Udah,” kataku.

Aku seharusnya melepaskan tangannya.

Aku tidak melepaskannya.

Tangannya masih di pangkuanku, terbungkus perban putih dengan jarum pentul berkepala mutiara di ujungnya. Jari-jariku masih menangkup telapak tangannya dari bawah. Aku bisa merasakan denyut nadinya di pergelangan, pelan sekarang, tidak berlari seperti di ruang belakang minggu lalu. Pelan dan berat, seperti seseorang yang sedang berusaha sangat keras untuk diam.

Ia tidak menarik tangannya.

Kami duduk seperti itu. Aku tidak tahu berapa lama. Cukup lama sampai lagu dangdut di radio berganti dua kali. Cukup lama sampai cahaya matahari sore bergeser dari kusen mahoni ke lantai semen.

“Dara,” katanya pelan.

“Hm.”

“Lukanya udah dibalut.”

“Aku tahu.”

“Kamu bisa lepas sekarang.”

Aku menatap tangannya di pangkuanku. Perban putih. Garis-garis putih lama di sekelilingnya. Jari-jari panjang yang membuat kelopak melati keluar dari kayu.

“Aku tahu,” ulangku.

Aku tidak melepaskannya.

Ia tidak memintanya lagi.


Akhirnya Mang Ujang yang memecah keheningan, dari kejauhan, dengan suara yang terlalu keras dan terlalu ceria.

“A! Pesenan Osaka kudu dicek deui saencan dikirim!”

Lalu, sebelum Prama bisa berdiri, Ridwan muncul di samping kami. Wajahnya pucat, matanya merah, dan ia memegang plester Doraemon di kedua tangannya seperti persembahan.

“A,” katanya dengan suara serak. “Ini. Buat nanti. Kalau perbannya dilepas.”

Prama menatap plester itu. Lalu menatap Ridwan.

“Wan. Udah aku bilang, bukan salahmu.”

“Tapi papannya aku yang jatuhin, A.” Bibir Ridwan bergetar. Ia sembilan belas tahun, tapi saat itu ia terlihat seperti anak SD yang baru memecahkan vas bunga. “Kalau tangannya A Prama kenapa-kenapa, Kayuku tamat. Nggak ada yang bisa ukir kayak A Prama. Aku nggak bisa. Mang Ujang juga nggak bisa...”

“Euh, abdi bisa!” protes Mang Ujang dari jauh.

“Mang Ujang ukirannya kayak cacing, Mang!”

Prama tertawa. Tawa yang pendek dan lelah, tapi tulus. Ia mengulurkan tangan kanannya yang tidak terluka dan mengambil plester Doraemon dari tangan Ridwan.

“Makasih, Wan,” katanya. “Nanti aku pakai.”

Ridwan mengusap matanya dengan lengan kausnya dan mundur sambil mengangguk-angguk, lalu berbalik dan setengah berlari ke tumpukan papan, mulai merapikannya satu per satu dengan sangat hati-hati, seperti menebus dosa.

Aku menatap Prama. Ia memasukkan plester Doraemon itu ke saku kemejanya, di sisi kiri, dengan sangat hati-hati, seolah itu juga sesuatu yang penting.

“Kamu baik banget sama mereka,” kataku pelan.

“Mereka keluarga.”

Ia mengatakannya dengan sederhana, tanpa beban, seolah itu fakta seperti jati tahan rayap. Dan aku tiba-tiba memahami workshop ini dengan cara yang berbeda. Bukan tempat kerja. Rumah. Rumah dengan radio dangdut dan kotak P3K yang menyedihkan dan seorang laki-laki yang terluka tapi masih sempat menenangkan anak magang yang menangis.

Prama menghela napas. Panjang, pelan, seperti orang yang baru naik ke permukaan setelah menyelam terlalu lama. Aku melepaskan tangannya, akhirnya, dan ia menariknya ke pangkuannya sendiri, menatap perban itu seperti menatap sesuatu yang tidak ia mengerti.

“Jarum pentul,” katanya.

“Nggak ada peniti di kotakmu. Kotak P3K kalian menyedihkan, Mas. Plesternya gambar Doraemon.”

“Itu punya Ridwan.”

“Ridwan yang beli plester Doraemon buat workshop yang isinya pahat dan gergaji?”

“Ridwan bilang kalau gambarnya lucu, sakitnya berkurang.”

Aku tertawa. Tawaku keluar gemetar, dan aku sadar tanganku sendiri juga gemetar. Aku menyembunyikannya di bawah meja.

“Mulai minggu depan,” kataku, “aku kirim kotak P3K yang bener. Antiseptik baru. Perban steril. Peniti. Dan kamu harus janji, kalau kamu luka, kamu langsung pakai.”

“Dara, nggak perlu...”

“Janji.”

Ia menatapku. Matanya hitam, dalam, dan untuk sesaat aku melihat sesuatu di sana yang membuat napasku tertahan. Sesuatu yang sangat lelah. Sangat lama. Seperti orang yang sudah terlalu terbiasa merawat lukanya sendiri sampai lupa bahwa orang lain bisa melakukannya untuknya.

“Janji,” katanya pelan.

Aku berdiri. Lututku terasa aneh. Aku mengambil tas jinjingku, dan melihat sapu tangan di kursi, sapu tangan katunku yang sekarang bernoda darah di tengahnya.

Prama melihatnya juga. “Nanti saya cuci.”

“Nggak usah. Buang aja.”

“Nanti saya cuci,” ulangnya, dan sebelum aku sempat protes, ia sudah mengambil sapu tangan itu dan melipatnya dengan tangan kanannya yang tidak terluka. Rapi. Hati-hati. Seperti melipat sesuatu yang penting.


Malam itu di rooftop, Tiwi menemukanku duduk di kursi rotan dengan teh yang sudah dingin dan buku sketsa yang masih kosong.

“Mbak. Mbak udah duduk di situ dua jam.”

“Hm.”

“Mbak nggak gambar apa-apa.”

“Lagi mikir.”

Tiwi duduk di kursi sebelahku. Ia tidak bertanya lagi. Itu salah satu hal yang kusukai darinya: ia tahu kapan harus berhenti menjadi detektif.

Kota Bandung berkerlip di bawah kami. Lampu-lampu Dago. Lampu-lampu jauh di arah Cigadung, yang tidak bisa dibedakan satu dari yang lain.

“Wi,” kataku akhirnya.

“Ya, Mbak.”

“Kamu pernah megang tangan orang, terus nggak mau lepas?”

Tiwi diam sebentar. Lalu ia tertawa kecil, tidak mengejek.

“Pernah, Mbak. Waktu SMA. Pacar pertamaku. Kami nonton bioskop, terus tangannya nyenggol tanganku, terus aku pegang, terus sepanjang film aku nggak inget filmnya tentang apa.” Ia menatap kota. “Kenapa, Mbak?”

Aku menatap tanganku sendiri. Ujung jari yang tadi menangkup telapak tangan yang kasar. Masih ada sedikit bekas darah kering di bawah kuku jari tengahku, yang tidak sempat kubersihkan.

“Nggak apa-apa,” kataku.

Tiwi menatapku sebentar. Lalu ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi rotan dan memejamkan mata.

“Oke, Mbak,” katanya. “Nggak apa-apa.”

Kami duduk diam lama sekali. Lalu, tanpa membuka mata, Tiwi menambahkan dengan sangat pelan, seolah bicara pada langit:

“Ngomong-ngomong, Mbak, filmnya waktu itu tentang kapal tenggelam. Aku tahu belakangan. Ternyata sedih banget. Semua orang di bioskop nangis, kecuali aku. Aku senyum-senyum sendiri kayak orang bego.”

Aku tertawa. Lalu, tanpa tahu kenapa, mataku panas.

Malam itu aku tidak menggambar apa pun. Tapi sebelum tidur, aku mengirim satu pesan WhatsApp ke nomor yang sekarang sudah kuhafal tanpa melihat kontak.

Jangan lupa ganti perbannya besok pagi. Jarum pentulnya jangan dibuang, itu jarum pentul kesayanganku.

Balasannya datang tiga menit kemudian. Satu kata.

Iya.

Lalu, satu menit setelahnya, satu pesan lagi:

Terima kasih, Dara.

Aku memeluk ponselku ke dada dan menatap langit-langit kamar sampai jam dua pagi.