← Pembeli Pertamamu

Chapter Twenty Four

Bab 24 — Kebaikan yang Salah Tempat

POV: Prama

Amplop krem itu tidak kubuka selama dua hari.

Aku membawanya ke mana-mana. Di saku kemeja, sisi kiri, bersama kartu Sasa K. dan sticky note Nomor empat dan plester Doraemon yang sudah tidak kupakai. Saku itu sekarang terlalu penuh. Kancingnya hampir tidak bisa ditutup. Setiap kali aku membungkuk di atas meja kerja, aku bisa merasakan sudut amplop itu menekan dadaku, tepat di atas jantung.

Untuk Pemilik Maison Lumière.

Tulisan tangannya. Miring ke kanan. Tinta biru tua.

Ia menulis undangan untukku. Tanpa tahu itu untukku. Dan ia menyerahkannya ke tanganku, sambil tersenyum, sambil memelukku, sambil bilang ini takdir.

Malam ketiga, aku membukanya di loteng.

Aku membacanya sekali. Lalu aku meletakkannya di lantai, di depan lemari jati, dan menatap langit-langit kayu yang rendah sampai mataku perih.

Saya tidak tahu kenapa Anda memilih baju saya. Saya tidak tahu kenapa Anda tidak pernah muncul. Saya tidak akan memaksa Anda menjelaskan apa pun.

Tapi kursi paling depan akan selalu kosong untuk Anda.

Aku punya dua pilihan. Aku sudah memikirkannya dua hari dua malam, sampai Mang Ujang menyita kopiku dan Sasa menyembunyikan kunci pikapku supaya aku tidak menyetir dalam keadaan tidak tidur.

Pilihan pertama: datang padanya. Berdiri di depannya. Mengatakan semuanya. Sabuga. Mesin CNC. Koh Hendra. Kartu yang kutulis empat kali. Sebelas potong di lemari.

Dan melihat wajahnya ketika paku itu dicabut. Tiga minggu sebelum show. Tiga minggu sebelum ia berdiri di Gedung Merdeka, di depan ayahnya, di depan seluruh Indonesia, untuk merayakan lima tahun yang menurutnya ia bangun sendiri.

Pilihan kedua: memberinya apa yang ia minta. Seorang malaikat dari Singapura, dengan nama dan wajah. Yang datang ke show. Yang berdiri di panggung. Yang membuat ayahnya melihat bahwa paku itu nyata.

Lalu, setelah show, aku menghilang. Kembali ke aturan ketiga. Selamanya.

Aku tahu pilihan kedua salah. Aku tahu itu sejak pertama kali memikirkannya. Bapak bilang cinta yang disembunyikan terlalu lama jadi kayu yang keropos di dalam. Koh Hendra bilang kebohongan itu kayu basah yang jamuran.

Tapi aku juga tahu wajahnya waktu bilang kalau orang itu nggak pernah ada, aku nggak tahu aku siapa. Dan aku tidak bisa. Aku tidak bisa jadi orang yang membuatnya tidak tahu siapa dirinya, tiga minggu sebelum hari paling penting dalam hidupnya.

Jam dua pagi, aku menelepon Koh Hendra.


“Nggak,” kata Koh Hendra.

“Koh...”

“Nggak, Pram. Gua nggak mau.” Suaranya terdengar sangat bangun untuk jam tiga pagi waktu Singapura. “Lu minta gua pura-pura jadi pemilik butik. Di depan dia. Langsung. Bukan lewat email. Lu tahu gua nggak bisa bohong di depan orang cantik.”

“Koh cuma perlu bilang Maison Lumière itu butik kecil istri Koh. Udah tutup. Koh lihat koleksinya, Koh suka, Koh beli. Itu aja.”

“Terus dia nanya kenapa importir furnitur punya butik baju?”

“Istri Koh yang punya. Koh cuma yang bayar.”

“Terus dia nanya lihat koleksinya di mana?”

“Di Instagram.”

“Terus dia nanya kenapa emailnya dimatiin?”

“Karena butiknya tutup.”

“Terus dia nanya kenapa kita nggak pernah balas email terima kasihnya lima tahun lalu?”

Aku diam.

“Pram.” Koh Hendra menghela napas panjang. “Lu udah mikirin semua jawabannya, ya.”

“Dua hari, Koh.”

“Dua hari lu mikirin cara bohong yang rapi. Bukannya mikirin cara jujur yang baik.”

Aku tidak menjawab. Di bawah bohlam kuning loteng, aku menatap amplop krem di lantai.

“Pram,” kata Koh Hendra, lebih pelan sekarang. “Gua tanya sekali. Lu ngelakuin ini buat siapa? Buat dia, atau buat lu?”

“Buat dia, Koh.”

“Yakin? Bukan karena lu takut dia lihat lu dan kecewa? Bukan karena lu takut dia tahu malaikatnya cuma tukang kayu?”

Aku memejamkan mata.

Lama sekali. Cukup lama sampai Koh Hendra memanggil namaku dua kali.

“Tiga minggu lagi show-nya, Koh,” kataku akhirnya. “Biar dia punya malam itu. Utuh. Setelah itu, aku janji, aku cari cara.”

Hening.

“Satu kali,” kata Koh Hendra. “Satu makan malam. Gua datang, gua bilang yang lu suruh, gua pulang. Habis itu, lu yang urus sisanya. Gua nggak mau ikut-ikut lagi.”

“Makasih, Koh.”

“Jangan makasih. Gua nggak lagi nolong lu.” Suaranya terdengar sangat lelah. “Gua lagi ikut lu jatuh.”


Pagi harinya, aku memberi tahu Mang Ujang dan Sasa.

Aku tidak meminta pendapat mereka. Aku cuma memberi tahu, di meja panjang dekat jendela, sebelum radio dinyalakan. Koh Hendra akan datang hari Kamis. Ia akan bertemu Dara. Ia akan bilang Maison Lumière adalah butik istrinya.

Sasa menatapku seperti aku baru bilang akan membakar workshop.

“A,” katanya pelan. “A nggak serius.”

“Serius, Sa.”

“A mau nyuruh Koh Hendra bohong? Di depan Teh Dara? Langsung?” Suaranya naik. “Aku bohong soal baju aja hampir pingsan, A. Teh Dara natap aku kayak natap anak kucing kehujanan, dan aku hampir pingsan. Koh Hendra mah lebih parah, A, dia keringetan kalau ditanya harga kontainer!”

“Cuma satu makan malam.”

“Terus habis itu?”

“Habis show, aku cari cara.”

Sasa menatapku lama. Lalu ia berdiri, mengambil tasnya, dan berjalan ke pintu.

“Sa, mau ke mana?”

“Beli gorengan,” katanya tanpa menoleh. “Aku nggak mau denger lagi, A. Aku sayang A Prama. Aku sayang Teh Dara. Aku nggak mau jadi bagian dari ini.”

Pintu tertutup di belakangnya. Mang Ujang tidak bergerak dari kursinya. Ia cuma menatapku, lama, dengan tangan terlipat di atas meja.

“A,” katanya akhirnya. “Abdi tos opat puluh taun jadi tukang kai. Aa terang naon nu pang-awonna dina ngadamel jati?”

Aku tidak menjawab.

“Nambal retakan ku dempul.” Mang Ujang mengetuk meja dengan buku jarinya. “Ti luar mah teu katingali. Mulus. Tapi dempul mah lain kai. Lila-lila, pas cuacana robah, dempulna copot. Sarta retakanna jadi leuwih gede ti tadina.”

“Ini bukan dempul, Mang.”

“Koh Hendra teh dempul, A.” Mang Ujang berdiri. “Aa nambal retakan ku dempul. Abdi ngan ngingetkeun.”

Ia berjalan ke meja kerjanya dan menyalakan radio. Bukan lagu dangdut. Berita. Volume kecil. Ia tidak bicara denganku lagi sampai sore.

Bapak datang siangnya. Ia duduk di bangkunya, memahat sendok, dan tidak menanyakan apa pun. Tapi ketika aku lewat di depannya membawa papan, ia berkata pelan, tanpa mengangkat kepala:

“Ibu kamu teu resep dibohongan, Pram. Sanajan bohongna alus.”


Makan malamnya hari Kamis, di sebuah restoran tua di Braga. Lantai tegel kuning-hijau, kipas angin di langit-langit, foto-foto Bandung tempo dulu di dinding. Tempat yang Dara pilih, karena katanya tempat ini kayak lima tahun lalu, waktu semuanya masih mulai.

Aku datang lebih awal bersama Koh Hendra. Ia memakai kemeja batik, bukan polo shirt Gunawan Trading, atas desakanku. Tapi kemeja batiknya kekecilan di bagian perut, dan ia terus menarik-narik ujungnya ke bawah.

“Pram,” bisiknya, keringat sudah muncul di dahinya padahal kipas angin berputar di atas kepala kami. “Ulang lagi. Brokat itu apa?”

“Kain berlubang-lubang, ada bordirnya, biasanya buat kebaya.”

“Organza?”

“Kain tipis, tembus pandang, agak kaku.”

“Satin dupes?”

“Duchesse, Koh. Satin duchesse. Kain mengilap, tebal, jatuhnya berat.”

“Dupes. Duchesse. Ya ampun.” Koh Hendra mengusap dahinya dengan tisu. “Kenapa semua nama kain kayak nama penyakit?”

“Koh nggak perlu ngomong soal kain. Koh cuma perlu bilang suka koleksinya.”

“Kalau dia nanya potongan mana yang paling gua suka?”

“Blus putih. Kerah sabrina. Koleksi Embun.”

Koh Hendra mengulangnya pelan, seperti menghafal doa. “Blus putih. Kerah sabrina. Embun.” Ia menatapku. “Lu hafal semua baju di koleksi itu?”

Aku tidak menjawab.

Lalu pintu restoran terbuka, dan Dara masuk.

Ia memakai gaun biru tua sederhana, panjang sampai betis, dengan lengan sabrina yang memperlihatkan bahunya. Rambutnya terurai. Di lehernya, bukan meteran jahit, tapi kalung tipis dengan liontin kecil. Dan ia berhenti di ambang pintu, mencari, dengan wajah orang yang sedang menunggu sesuatu yang sangat besar.

Lalu ia melihatku. Dan tersenyum.

Lalu ia melihat Koh Hendra di sampingku. Dan senyumnya berubah. Matanya membesar. Tangannya naik ke dadanya.

Koh Hendra berdiri. Kursinya berderit di lantai tegel. Ia menarik ujung kemeja batiknya ke bawah sekali lagi.

“Mbak Dara,” katanya. Suaranya bergetar. “Saya Hendra.”


Makan malam itu berlangsung dua jam. Dua jam paling panjang dalam hidupku.

Dara menangis tiga kali. Pertama, ketika Koh Hendra menjabat tangannya dan bilang akhirnya. Kedua, ketika Koh Hendra bercerita, dengan suara yang terlalu cepat dan keringat yang terlalu banyak, bahwa istrinya dulu punya butik kecil, bahwa ia melihat foto koleksi Embun di Instagram dan langsung jatuh cinta pada blus putih berkerah sabrina, bahwa ia membeli semuanya tanpa menawar karena barang bagus nggak boleh ditawar.

Ketiga, ketika Koh Hendra bilang ia akan datang ke show.

“Saya duduk di depan,” katanya. “Kursi paling depan. Kayak di surat Mbak.”

Dara menangis, dan tertawa, dan menggenggam tangan Koh Hendra di atas meja dengan kedua tangannya. “Terima kasih. Terima kasih. Koh nggak tahu...”

“Saya tahu, Mbak,” kata Koh Hendra pelan, dan untuk satu detik, suaranya tidak gemetar. Untuk satu detik, ia menatap Dara dengan mata yang sungguh-sungguh. “Saya tahu banget.”

Aku menunduk ke piringku. Nasi goreng yang tidak kusentuh.

Ada beberapa saat ketika semuanya hampir runtuh.

Ketika Dara bertanya di mana alamat butik istrinya dulu, dan Koh Hendra bilang Orchard, lalu eh, dekat Orchard, lalu pokoknya di Singapura, Mbak, Singapura kan kecil.

Ketika Dara bertanya kain apa yang paling istrinya suka, dan Koh Hendra bilang brokat, lalu, karena panik, menambahkan yang lengket-lengket itu kan, Mbak?, dan Dara menatapnya sebentar dengan kening berkerut sebelum tertawa dan bilang itu mungkin lem, Koh.

Ketika Dara bertanya kenapa email Maison Lumière tidak pernah membalas pesan terima kasihnya lima tahun lalu, dan Koh Hendra menatapku, langsung, terang-terangan, dengan wajah orang yang tenggelam, dan aku harus menendang kakinya di bawah meja sebelum ia menjawab istri saya pemalu, Mbak.

Setiap kali, Dara mengerutkan kening sebentar. Lalu tersenyum lagi. Karena ia ingin percaya. Karena lima tahun ia menunggu malam ini, dan tidak ada yang bisa membuatnya melepaskan malam ini.

Aku melihatnya. Dan setiap kali ia memilih untuk percaya, aku merasa seperti pahat yang tergelincir ke tempat yang salah.


Di parkiran, setelah makan malam, Dara memelukku.

Di samping mobilnya, di bawah lampu jalan Braga yang kuning, ia melingkarkan lengannya di pinggangku dan menyandarkan wajahnya di dadaku. Tepat di atas saku kiri. Di atas amplop krem yang kini sudah kosong, karena kartunya sudah kuberikan pada Koh Hendra, dan Koh Hendra sudah mengembalikannya padaku di toilet restoran dengan tangan gemetar.

“Makasih, Mas,” bisiknya. “Kamu yang bikin ini terjadi.”

Aku tidak memeluknya balik.

Aku tidak bisa. Tanganku menggantung di samping tubuhku, mengepal, kaku. Kalau aku memeluknya sekarang, setelah semua yang baru saja kulakukan, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri.

Ia tidak menyadarinya. Atau mungkin ia menyadarinya, tapi mengira aku cuma malu, karena ada Koh Hendra di parkiran.

“Sampai besok,” katanya, dan mencium pipiku. Cepat. Ringan. Seperti kupu-kupu yang hinggap sedetik.

Lalu ia masuk mobil dan pergi.

Aku berdiri di parkiran. Koh Hendra berdiri di sampingku. Lama, tidak ada yang bicara.

“Pipi,” kata Koh Hendra akhirnya, sangat pelan.

Aku tidak menjawab.

“Dia cium pipi lu, Pram. Abis lu suruh gua bohong di depan mukanya selama dua jam.”

Aku berjalan ke pinggir parkiran, ke selokan di bawah pohon besar, dan muntah.

Semua yang ada di perutku. Teh. Sedikit nasi goreng. Lalu tidak ada apa-apa lagi, cuma rasa pahit dan asam yang naik terus dari tempat yang sangat dalam. Aku muntah sampai lututku lemas dan aku harus berpegangan pada batang pohon, sampai mataku berair, sampai Koh Hendra datang dan menepuk-nepuk punggungku tanpa bicara.

“Pram,” katanya, setelah aku selesai. Ia menyodorkan botol air mineral. “Lu tahu kenapa lu muntah?”

Aku membersihkan mulut dengan air. Tidak menjawab.

“Karena badan lu lebih jujur dari mulut lu.”

Ia membantuku berdiri. Kami berjalan ke pikap dalam diam. Di dalam mobil, sebelum aku menyalakan mesin, Koh Hendra menatap ke luar jendela, ke jalan Braga yang mulai sepi.

“Dia nanya gua soal brokat, Pram,” katanya. “Gua bilang lengket. Dia ketawa. Tapi gua lihat matanya. Sebentar aja. Ada sesuatu di sana.”

“Dia nggak curiga, Koh.”

“Belum.” Koh Hendra menghela napas. “Tapi perempuan yang bisa milih kain sampai ke seratnya, Pram, cepat atau lambat dia bakal milih benang yang nggak pas.”

Aku menyalakan mesin.

Di saku kiri kemejaku, kartu undangannya kembali ke tempatnya. Kursi paling depan akan selalu kosong untuk Anda.

Malam itu aku tidak naik ke loteng. Aku tidak sanggup menatap lemari jati itu. Aku tidur di bangku Bapak di dekat pintu workshop, dengan jaket yang sudah tidak wangi melati lagi, dan bermimpi tentang pahat yang terus tergelincir, terus, terus, sampai tidak ada lagi kayu yang bisa dipotong.