Chapter Twenty Five
Bab 25 — Brokat Bukan Merek Lem
POV: Dara
“Brokat itu yang lengket-lengket?”
Bu Imas meletakkan gunting kain di meja potong dengan bunyi yang sangat keras. Dua belas mesin jahit di lantai dua berhenti bersamaan. Dua belas penjahit menoleh ke arahku.
“Saha nu nyarios kitu, Neng?”
“Koh Hendra. Pemilik Maison Lumière.” Aku tertawa, masih setengah melayang dari semalam. “Dia gugup banget, Bu. Keringetan terus. Dia bilang istrinya paling suka brokat, terus aku tanya kenapa, terus dia bilang karena brokat itu yang lengket-lengket itu kan, Mbak?”
Hening sedetik. Lalu lantai dua meledak.
Bu Imas tertawa sampai harus duduk di kursi jahitnya. Teh Rina dari mesin nomor tiga menutup mulut dengan kain perca. Kang Asep, satu-satunya penjahit laki-laki, memukul-mukul meja dengan tangan.
“Brokat lengket!” Bu Imas mengusap matanya. “Neng, eta mah lain brokat. Eta mah lem Aibon!”
“Bu Imas pernah kena brokat lengket?” tanya Teh Rina di sela tawanya.
“Pernah! Pas Ibu salah nyimpen brokat deukeut lem!”
Aku ikut tertawa. Rasanya ringan. Rasanya seperti lima tahun beban yang akhirnya diletakkan. Semalam aku bertemu dengan malaikatku. Semalam aku menggenggam tangannya dan berterima kasih dengan suaraku sendiri. Semalam ia bilang akan duduk di kursi paling depan.
Dan semalam, Prama yang membuat semua itu terjadi.
Aku menyentuh bibirku tanpa sadar. Pipi Prama di parkiran Braga. Kasar sedikit, hangat.
Lalu, di tengah tawa lantai dua, sesuatu yang kecil dan dingin melintas di kepalaku.
Ia tidak memelukku balik.
Aku tidak memikirkannya sepanjang pagi. Aku sengaja tidak memikirkannya.
Aku menyelesaikan detail bordir untuk gaun penutup show. Aku menelepon tim lighting soal warna lampu untuk segmen ketiga. Aku makan siang dengan ponsel tertelungkup di atas tempat HP jati dengan flanel hijau, seperti yang ia suruh.
Tapi di sela semua itu, pikiran-pikiran kecil datang. Satu per satu. Seperti benang lepas yang tersangkut di jarum.
Orchard. Eh, dekat Orchard. Pokoknya di Singapura.
Pemilik butik yang tidak tahu alamat butik istrinya sendiri.
Istri saya pemalu, Mbak.
Dan sebelum menjawab pertanyaan itu, Koh Hendra menoleh ke Prama. Bukan sekilas. Lama. Seperti orang yang tenggelam menatap satu-satunya orang di perahu.
Blus putih. Kerah sabrina. Koleksi Embun.
Aku berhenti menjahit.
Jarum di tanganku tertahan di tengah kain. Aku menatapnya, tanpa melihatnya.
Blus putih berkerah sabrina.
Koh Hendra bilang ia jatuh cinta pada koleksi Embun lewat foto di Instagram. Dan potongan yang paling ia suka adalah blus putih berkerah sabrina.
Tapi blus itu tidak pernah difoto.
Aku tahu, karena aku yang menjahitnya. Blus itu potongan keempat puluh dua. Yang terakhir. Aku menyelesaikannya di malam kedua bazar, di kamar kos Sekeloa, karena di hari pertama dan kedua bazar tidak ada yang membeli, dan aku pikir mungkin yang kurang adalah sesuatu yang sederhana. Sesuatu yang putih. Sesuatu yang jujur.
Aku membawanya ke Sabuga di hari ketiga. Aku menggantungnya di rak paling depan. Dan ketika sore datang dan tidak ada satu pun yang terjual, aku berdiri di belakang rak dan memegang ujung blus itu dan menangis, karena bahkan yang paling jujur pun tidak cukup.
Aku tidak pernah memotretnya. Aku tidak punya tenaga untuk memotret apa pun di hari ketiga. Foto Embun di Instagram-ku cuma ada tiga, dari hari pertama bazar, sebelum blus itu ada.
Satu-satunya orang yang pernah melihat blus putih berkerah sabrina itu adalah orang yang datang ke Sabuga, di hari ketiga.
Jarum di tanganku menusuk ujung jariku. Aku tidak merasakannya.
“Neng?” Bu Imas menatapku dari meja sebelah. “Neng, ramo Neng getihan.”
Aku menatap jariku. Setetes darah merah kecil di ujung telunjuk. Aku mengisapnya tanpa berpikir.
“Nggak apa-apa, Bu,” kataku. “Nggak apa-apa.”
Jam satu, aku menelepon Koh Hendra.
Aku tidak berencana mencurigainya. Aku cuma ingin berterima kasih lagi, dan menanyakan nama istrinya, karena aku ingin mengirimkan kebaya dari koleksi show sebagai hadiah. Kebaya brokat. Yang tidak lengket.
Ia mengangkat di dering keenam. Di belakangnya, aku mendengar suara mesin. Forklift, mungkin. Dan seseorang berteriak dalam bahasa Mandarin.
“Mbak Dara!” Suaranya terdengar kaget. Terlalu kaget. “Selamat siang! Ada apa, Mbak?”
“Siang, Koh. Maaf ganggu. Aku cuma mau tanya, istri Koh namanya siapa? Aku mau kirim kebaya. Dari koleksi show. Ucapan terima kasih.”
Hening sebentar.
“Lina,” katanya. Lalu: “Eh. Lena. Lina. Pokoknya Lin, Mbak. Lin aja.”
“Lin?”
“Iya, Lin. Panggilan.” Ia batuk. “Mbak, nggak usah kirim apa-apa, beneran. Istri saya... istri saya nggak pakai kebaya.”
“Tapi Koh bilang istri Koh paling suka brokat.”
“Itu... dulu. Sekarang udah nggak.”
Di belakangnya, suara Mandarin berteriak lagi, lebih keras. Lalu seseorang berbicara dalam bahasa Indonesia dengan logat Singapura, sangat jelas di telepon: “Pak Hendra, kontainer Kayuku yang kemarin mau dicek sekarang atau...”
“Nanti!” seru Koh Hendra, menjauh dari telepon. Lalu kembali. “Mbak, maaf, saya lagi di gudang. Saya telepon lagi nanti, ya. Makasih banyak, Mbak. Makasih.”
Sambungan terputus.
Aku menatap ponselku. Kontainer Kayuku. Gudang. Istri yang namanya Lina atau Lena atau Lin, yang dulu paling suka brokat dan sekarang tidak pakai kebaya.
Aku memutuskan bahwa ia memang gugup. Bahwa pemilik butik yang pemalu pasti punya suami yang canggung. Aku memutuskannya dengan sengaja, dengan keras, seperti orang yang menutup jendela karena tidak mau mendengar hujan.
Jam tiga sore, Tiwi masuk ke ruanganku tanpa mengetuk, dengan tablet di pelukan dan wajah yang sangat, sangat serius.
“Mbak,” katanya. “Aku harus nunjukin sesuatu. Tapi Mbak duduk dulu.”
“Aku udah duduk, Wi.”
“Duduk yang bener, Mbak. Jangan di meja gambar. Di sofa.”
Aku pindah ke sofa. Tiwi duduk di sampingku dan memutar tablet ke arahku. Bukan spreadsheet berwarna permen. Sebuah foto email lama.
“Ini email pertama dari Maison Lumière lima tahun lalu,” katanya. “Aku cari di inbox lama Mbak. Mbak masih nyimpen.”
Tentu saja aku masih menyimpannya. Aku membacanya setiap kali ragu.
“Lihat bagian bawah, Mbak. Tanda tangannya.”
Aku melihat. Di bawah kalimat-kalimat yang sudah kuhafal, ada blok kecil berisi alamat:
Maison Lumière 18 Tuas Avenue 7 Singapore
“Tuas,” kata Tiwi. “Aku cari, Mbak. Tuas itu kawasan industri di ujung barat Singapura. Isinya gudang semua. Pabrik. Bukan tempat butik.”
“Mungkin kantornya di situ, butiknya di...”
“Aku buka Street View, Mbak.”
Ia menggeser layar. Foto jalan. Langit Singapura yang terik. Deretan bangunan gudang abu-abu dengan pintu gulung besi. Dan di nomor delapan belas, sebuah gudang besar dengan papan nama biru tua di atas pintunya.
GUNAWAN TRADING PTE LTD — Furniture Import & Export.
Di sebelahnya, di nomor enam belas, sebuah toko kecil dengan etalase kaca. Lampu-lampu gantung kristal terpajang di balik kacanya. Papan namanya ditulis dengan huruf sambung yang elegan.
Maison Lumière — Lighting & Décor.
Aku menatap papan nama itu.
“Maison Lumière itu toko lampu, Mbak,” kata Tiwi pelan. “Sebelah gudang Koh Hendra. Bukan butik. Nggak pernah butik.”
Aku tidak bisa bicara.
“Dan, Mbak.” Tiwi menggeser layar lagi. Halaman Our Partners di situs Gunawan Trading. Logo KAYUKU dengan tulisan kecil di bawahnya. Partner since 2021. “Kita udah lihat ini kemarin. Tapi aku baru sadar sekarang. Dua ribu dua puluh satu, Mbak. Lima setengah tahun lalu.”
“Terus?”
“Mas Prama bilang ke Mbak, di workshop, waktu kucingnya bersin. Dia ekspor ke Singapura udah lima setengah tahun. Mbak cerita ke aku.”
Aku ingat. Lima setengah tahun.
“Koleksi Embun dibeli lima tahun lalu, Mbak. Setengah tahun setelah Kayuku mulai kerja sama Gunawan Trading.”
Tiwi meletakkan tablet di pangkuanku. Lalu ia memegang tanganku. Tangannya dingin.
“Mbak,” katanya, sebelum melanjutkan, “aku mau bilang satu hal dulu. Sebelum Mbak mikir yang macam-macam.”
Aku menatapnya.
“Aku udah tiga tahun kerja sama Mbak. Aku lihat Mbak revisi pola sampai subuh. Aku lihat Mbak nangis di kamar mandi waktu kolaborasi pertama ditolak, terus keluar lima menit kemudian dan presentasi lagi kayak nggak ada apa-apa. Aku lihat orang-orang di butik megang baju Mbak, terus diem, terus beli tanpa lihat label harga.” Tiwi meremas tanganku. “Apa pun yang kita temuin hari ini, Mbak, itu nggak ngubah apa yang aku lihat tiga tahun ini. Mbak bagus. Bukan karena siapa pun. Karena Mbak.”
Aku tidak bisa menjawab. Aku cuma meremas tangannya balik.
“Mbak,” katanya, sangat pelan, seperti takut kata-katanya bisa memecahkan sesuatu. “Waktu Mbak nyebut Gunawan sesuatu di workshop, bulan lalu. Mas Prama bilang apa?”
Aku memejamkan mata.
Iya. Maison Lumière. Kamu pernah dengar?
Nggak.
Ia bilang tidak pernah dengar. Lalu kemarin, ketika aku bertanya nama buyer-nya, wajahnya pucat. Pucat seperti orang yang baru melihat hantu. Dan aku mengira itu kaget.
Dan semalam, ia tidak memelukku balik.
Aku tidak menelepon Prama malam itu. Aku tidak mengirim pesan. Aku duduk di rooftop, di kursi rotan, dengan buku sketsa di pangkuan dan pulpen di tangan, dan aku menulis daftar.
Aku selalu membuat daftar kalau kepalaku terlalu ramai. Daftar bahan. Daftar ukuran. Daftar revisi. Daftar adalah cara aku membuat kekacauan jadi pola.
Malam itu, daftarku bukan tentang kain.
Satin duchesse. Bab pertama, di workshop. Aku belum pernah bilang soal bahan.
Melati di Tangan Ibu. “Kamu bilang di wawancara.” Wawancara yang mana?
Sekeloa. “Banyak kos mahasiswa di Sekeloa. Tebakan.”
Tulle tujuh lapis. “Kelihatan dari warnanya.”
Penggaris. Kayu tua nggak melengkung. Dia udah selesai berubah.
Sasa K. Nggak pernah pakai kode promo. Cigadung.
Harga penuh. “Kalau saya beli, saya akan bayar harga penuh. Selalu.”
Selalu.
“Lima...” Di rooftop. Lima apa?
Mbak Anin. “Jangan bikin dia nunggu lima tahun lagi.” Kami baru kenal dua bulan.
Stan kayu di sebelahku di Sabuga. Penjualnya jatuhin cangkir.
Blus putih. Kerah sabrina. Nggak pernah difoto.
Aku menatap daftar itu sampai tulisanku sendiri mulai kabur.
Lalu aku menutup buku sketsa, dan menatap ke arah Cigadung. Lampu-lampu di balik bukit kecil. Di salah satunya, mungkin, ada workshop dengan satu lampu meja yang masih menyala. Dan seorang laki-laki yang begadang, entah membuat apa, entah untuk siapa.
Aku memikirkan lampu toko di Tuas Avenue. Maison Lumière. Lighting & Décor. Sebuah nama yang dipinjam dari papan nama toko lampu, karena orang yang meminjamnya tidak tahu nama butik yang bagus.
Rumah lampu. Itu artinya, dalam bahasa Prancis. Aku tahu itu sejak lima tahun lalu. Aku selalu menganggapnya indah. Butik yang namanya rumah cahaya.
Ternyata cuma toko lampu di sebelah gudang furnitur.
Aku tidak menangis. Aku terlalu bingung untuk menangis. Aku cuma duduk di sana, memeluk buku sketsa di dada, dengan satu pertanyaan yang berputar-putar dan tidak mau berhenti.
Kalau Maison Lumière bukan butik, kalau Koh Hendra bukan pemilik butik, kalau malaikatku bukan malaikat...
Lalu siapa?
Dan kenapa Prama tahu?
Jam sebelas malam, ponselku bergetar. Sebuah pesan.
Selamat malam, Dara. Jangan lupa istirahat.
Dari Prama. Seperti setiap malam selama dua minggu terakhir.
Aku menatap pesan itu lama sekali. Jempolku melayang di atas layar.
Aku bisa bertanya sekarang. Aku bisa mengetik Mas, siapa sebenarnya Maison Lumière? dan menunggu. Aku bisa meneleponnya dan mendengar suaranya ketika ia mencoba menjawab.
Tapi aku tidak mau mendengarnya lewat telepon. Aku mau melihat wajahnya. Aku mau melihat telinganya. Telinga yang selalu mengkhianatinya.
Selamat malam, Mas, ketikku. Besok aku ke workshop ya. Siang.
Balasannya datang satu menit kemudian.
Besok saya di Gedung Merdeka sampai sore. Pasang lantai panggung. Mang Ujang sama Sasa ada di workshop.
Aku menatap pesan itu.
Ia tidak akan ada di workshop besok.
Oke, ketikku. Aku ke workshop aja. Ada yang mau aku ambil.
Aku tidak tahu apa yang mau kuambil. Aku cuma tahu bahwa jawabannya ada di sana. Di Cigadung. Di antara bau jati dan radio dangdut dan tangga kayu yang mengarah ke pintu kecil dengan gembok.
Aku meletakkan ponsel di tempat HP jati, layar menghadap ke bawah, di atas flanel hijau. Seperti yang ia ajarkan.
Biar kamu istirahat.
Malam itu aku tidak tidur sama sekali.
- 1 Bab 1 — Order Pertama
- 2 Bab 2 — Loteng
- 3 Bab 3 — Vendor yang Tidak Mau Menatap
- 4 Bab 4 — Pelanggan Ukuran S
- 5 Bab 5 — Serutan
- 6 Bab 6 — Sendok Pak Darsa
- 7 Bab 7 — Revisi Ketujuh
- 8 Bab 8 — Kutubaru
- 9 Bab 9 — Tolong Diam
- 10 Bab 10 — Koh Hendra Datang ke Bandung
- 11 Bab 11 — Tangan yang Luka
- 12 Bab 12 — Harga Penuh
- 13 Bab 13 — Jati yang Baru Diampelas
- 14 Bab 14 — Pak Bram
- 15 Bab 15 — Pegang yang Benar
- 16 Bab 16 — Truk Pengiriman
- 17 Bab 17 — Mitos
- 18 Bab 18 — Kontrak Lembang
- 19 Bab 19 — Stapler Biru
- 20 Bab 20 — Tempat Orang Berhenti
- 21 Bab 21 — Ridwan dan TikTok
- 22 Bab 22 — Rooftop
- 23 Bab 23 — Undangan
- 24 Bab 24 — Kebaikan yang Salah Tempat
- 25 Bab 25 — Brokat Bukan Merek Lem reading
- 26 Bab 26 — Struk
- 27 Bab 27 — Tulisan Tangan
- 28 Bab 28 — Aku Cuma Beli Waktu
- 29 Bab 29 — Biasa Aja, Pram?
- 30 Bab 30 — Lima Tahun Ketertinggalan
- 31 Bab 31 — Loteng
- 32 Bab 32 — Seperti Embun
- 33 Bab 33 — Giliranku
- 34 Bab 34 — Cicilan Pertama
- 35 Bab 35 — Ukuran Jas
- 36 Bab 36 — Kutubaru untuk Satu Orang
- 37 Bab 37 — Bapak Juga Nggak
- 38 Bab 38 — Harga Penuh, Tanpa Cicilan
- 39 Bab 39 — Lima Tahun Menahan Diri
- 40 Bab 40 — Pembeli Pertamaku
- 41 Bab 41 — Nggak Ada yang Biasa Aja
- 42 Epilog — Rumah dari Kayu