Chapter Twenty Two
Bab 22 — Rooftop
POV: Dara
Aku mengirim pesan itu jam enam pagi, sebelum aku sempat berubah pikiran.
Mas, nanti malam bisa ke kantorku? Jam tujuh. Aku mau ngomong.
Balasannya datang dalam empat puluh detik. Ia sudah bangun. Atau mungkin ia tidak tidur, seperti aku.
Bisa.
Lalu, satu menit kemudian:
Soal kemarin. Ridwan udah saya marahin. Videonya udah dihapus. Maaf kalau bikin kamu nggak nyaman.
Aku menatap pesan itu lama sekali, duduk di tepi kasurku dengan rambut berantakan dan mata yang masih bengkak dari semalam.
Aku nggak nggak nyaman, ketikku. Nanti malam aja ngomongnya. Jangan kabur.
Nggak kabur. Udah janji.
Sepanjang hari, aku tidak bisa diam.
Aku mengubah susunan sampel kain di lantai dua tiga kali. Aku merapikan meja kerjaku, lalu mengacaknya lagi karena terlalu rapi dan terlihat seperti aku sengaja merapikannya. Aku berganti baju dua kali, dari kemeja linen ke blus sutra ke kemeja linen lagi. Aku menyemprot parfum, lalu mencuci pergelangan tanganku karena merasa terlalu wangi, lalu menyemprot lagi, sedikit.
“Mbak,” kata Tiwi jam empat sore, berdiri di ambang pintu dengan wajah yang sangat, sangat menahan diri. “Mbak udah ngaca enam kali dalam satu jam.”
“Aku cek lipstik.”
“Mbak nggak pakai lipstik.”
Aku menatap pantulanku di cermin kecil di meja. Benar. Aku tidak pakai lipstik.
“Mbak mau aku pulang cepat?” tanya Tiwi lembut. “Biar kantor sepi?”
“Kenapa harus sepi?”
“Biar nggak ada yang ganggu, Mbak.” Tiwi tersenyum, senyum yang tidak menggoda, cuma hangat. “Bu Imas sama anak-anak jahit pulang jam lima. Satpam di bawah. Aku juga pulang. Rooftop kosong.”
Aku menatapnya. Ia menatapku balik.
“Makasih, Wi,” kataku pelan.
“Sama-sama, Mbak.” Ia berbalik, lalu berhenti. “Satu lagi. Mbak cantik banget hari ini. Bukan cantik yang biasa. Cantik yang... kayak orang yang lagi nunggu sesuatu.”
Ia datang jam tujuh kurang lima.
Aku mendengar suara pikap tuanya di jalan depan, mesin yang batuk-batuk dan lampu kiri yang redup. Aku berdiri di jendela lantai tiga dan melihatnya turun. Kemeja biru. Rambut yang sepertinya disisir, sesuatu yang jarang ia lakukan. Ia berdiri di trotoar di depan gedungku dan menengadah, menatap ketiga lantainya satu per satu, seperti orang yang sedang membaca sesuatu yang besar.
Lalu ia menemukan jendelaku. Ia melihatku. Ia tidak melambai. Ia cuma berdiri di sana sebentar, menatap ke atas, lalu masuk.
Aku turun untuk menjemputnya di tangga lantai dua. Ia berhenti di ambang pintu ruang jahit dan melihat ke dalam. Dua belas mesin jahit yang diam di bawah lampu redup. Gulungan kain di rak dinding. Manekin-manekin yang mengenakan potongan setengah jadi dari koleksi show. Dan di meja potong, di samping gunting besar, penggaris ramin lamaku yang sudah dilem, tergeletak sebagai saksi.
“Ini tempatmu,” katanya pelan.
“Ini tempatku.”
Ia masuk satu langkah, lalu berhenti, seperti takut menginjak sesuatu yang sakral. Ia menatap manekin terdekat, yang mengenakan gaun tulle abu-abu fajar dari koleksi terakhirku. Matanya menyusuri jahitannya. Lipatannya. Lapisan tulle-nya yang bertumpuk.
“Tujuh lapis,” katanya. “Tulle-nya tujuh lapis.”
Aku menatapnya. “Kok tahu?”
Ia diam sebentar. “Kelihatan dari warnanya. Makin ke bawah makin gelap. Kayak kabut pagi.”
Itu benar. Itu persis yang kubayangkan waktu mendesainnya. Kabut pagi di Lembang. Tapi aku tidak pernah mengatakannya di wawancara mana pun.
Aku tidak bertanya. Aku cuma memegang lengan bajunya dan menariknya ke tangga.
“Ayo. Ke atas.”
Rooftop gedungku kecil. Cuma lima kali enam meter, dengan lantai semen yang dicat abu-abu, pagar besi setinggi pinggang, dua kursi rotan, sebuah meja kecil, dan pot-pot tanaman yang dirawat Bu Imas: melati, lidah mertua, dan sebatang pohon jeruk nipis yang tidak pernah berbuah.
Tapi pemandangannya. Pemandangannya selalu membuatku lupa betapa kecilnya tempat ini.
Bandung di malam hari terbentang di bawah kami. Lampu-lampu Dago yang berderet seperti kalung. Lampu-lampu yang lebih jauh, menanjak ke arah bukit, ke arah Cigadung, berkerlip di antara gelap pepohonan. Langit di atasnya tidak sepenuhnya hitam. Selalu ada sisa jingga di pinggir, dari lampu kota yang memantul di awan.
Prama berdiri di pagar dan menatap semua itu dalam diam.
“Itu Cigadung,” kataku, menunjuk ke kiri. “Kira-kira. Di balik bukit kecil itu.”
Ia mengangguk.
“Kadang, malam-malam, aku duduk di sini dan ngelihatin ke arah sana,” kataku. “Belakangan ini. Sejak aku sering ke workshopmu. Aku mikir, mungkin lampunya masih nyala. Mungkin kamu masih kerja.”
Ia tidak menjawab. Tapi aku melihat tangannya mencengkeram pagar besi sedikit lebih kencang.
Aku duduk di kursi rotan. Ia tetap berdiri. Aku menunggu, tapi ia tidak bergerak, jadi aku menepuk kursi di sebelahku.
“Duduk, Mas.”
Ia duduk. Kursi rotan itu berderit di bawah bobotnya. Kami duduk berdampingan, menghadap kota, dengan meja kecil di antara kami. Jarak satu meja. Tentu saja.
Aku mengeluarkan ponselku dan meletakkannya di meja kecil itu. Layarnya menyala. Sebuah video yang dijeda di detik kedua belas. Tangan besar di bawah lampu meja. Tempat HP dengan sandaran menghadap ke bawah. Plester Doraemon di pangkal ibu jari.
Ia menatap layar itu. Lalu memejamkan mata.
“Ridwan,” gumamnya.
“Ridwan udah hapus videonya. Tapi Tiwi udah download duluan.”
“Tentu aja Tiwi udah download.”
Aku hampir tertawa. Hampir.
“Aku harus minta maaf dulu,” kataku. “Soal Mbak Anin. Aku bilang hal-hal jelek di workshop. Aku kira...”
“Saya tahu kamu kira apa.”
“Dia nembak kamu?”
Ia diam. Lalu, pelan, mengangguk.
Sesuatu yang dingin mengalir di perutku. Aku menunggu. Ia tidak melanjutkan.
“Terus kamu jawab apa?” Suaraku keluar lebih kecil dari yang kuinginkan.
“Saya nggak jawab.” Ia menatap kota. “Dia udah tahu jawabannya duluan. Sebelum saya.”
“Maksudnya?”
Ia menoleh padaku. Sebentar. Lalu kembali ke kota.
“Kamu kirim pesan,” katanya. “Waktu itu. Di warung sate. Soal kabut. Soal abu-abu yang bener.” Telinganya mulai merah. “Dia lihat muka saya waktu baca pesanmu. Terus dia bilang, dia, ya.”
Aku tidak bisa bernapas.
“Dia bilang saya mau pakai dia buat berhenti nunggu,” lanjutnya, sangat pelan. “Dan dia nggak mau jadi tempat orang berhenti.”
Lama aku tidak bisa bicara. Penjual nasi goreng di bawah memukul wajannya lagi. Angin menggoyangkan daun-daun melati.
“Nunggu siapa?” bisikku akhirnya.
Ia tidak menjawab. Tapi ia tidak lagi menatap kota. Ia menatapku.
“Mas Prama,” kataku, dan suaraku gemetar. “Doi.”
Ia membuka mata. Tapi tidak menatapku. Ia menatap kota.
“Kenapa aku nggak boleh tahu?”
Lama ia tidak menjawab. Angin malam bertiup pelan, menggerakkan daun-daun melati di pot. Dari jalan di bawah, terdengar klakson motor dan suara penjual nasi goreng yang memukul wajannya.
“Karena kalau kamu tahu,” katanya akhirnya, sangat pelan, “kamu bakal ngerasa harus bales.”
“Terus?”
“Saya nggak mau dibales.” Ia menatap tangannya sendiri, di pangkuan. “Saya bikin meja gambar karena pergelangan tanganmu sakit. Bukan karena saya mau kamu ngerasa apa-apa. Saya bikin penggaris karena polamu meleset setengah mili. Saya bikin tempat HP karena kamu nggak pernah istirahat. Itu aja. Saya nggak mau semua itu jadi... utang.”
“Itu bukan utang, Mas.”
“Buat sebagian orang, itu utang.”
“Buat aku bukan.”
Ia akhirnya menoleh. Matanya hitam, dalam, dan di bawah lampu kota yang jingga, aku melihat sesuatu di sana yang membuatku harus mencengkeram lengan kursi rotan. Sesuatu yang sudah lama. Sangat lama. Lebih lama dari lima minggu. Lebih lama dari yang masuk akal.
“Terus buat kamu apa?” tanyanya.
Aku tidak menjawab dengan kata-kata.
Aku berdiri. Aku mengambil satu langkah memutari meja kecil di antara kami. Lalu satu langkah lagi. Sampai aku berdiri di depannya, di antara lututnya yang terbuka, dan ia harus menengadah untuk menatapku.
Ia tidak bergerak. Ia tidak mundur. Kursi rotan di belakangnya tidak memberinya tempat untuk mundur.
Aku mengangkat tanganku dan menyentuh wajahnya. Pipinya. Kasar sedikit, karena ia belum bercukur sejak pagi. Hangat. Aku bisa merasakan rahangnya mengeras di bawah telapak tanganku.
“Dara,” bisiknya.
“Mas Prama.”
“Kamu...”
“Kalau aku cium kamu sekarang,” kataku pelan, dan aku membungkuk sedikit, sampai wajahku cuma sejengkal dari wajahnya, sampai aku bisa merasakan napasnya yang pendek dan tertahan di bibirku, “kamu bakal kabur?”
Ia menatapku. Matanya bergerak. Dari mataku, ke bibirku, kembali ke mataku. Napasnya berhenti.
“Nggak tahu,” bisiknya.
“Nggak tahu?”
“Saya nggak pernah...” Ia menelan ludah. Jakunnya bergerak di bawah jemariku yang turun ke lehernya. “Saya nggak tahu caranya nggak kabur dari kamu. Lima...” Ia berhenti. Menggigit bibirnya sendiri. “Selama ini saya cuma tahu caranya kabur.”
Lima. Lima apa? Tapi aku tidak bertanya. Tidak sekarang.
“Kalau gitu,” bisikku, “coba nggak kabur. Sekali aja.”
Aku membungkuk lebih rendah. Sejengkal jadi sejengkal kurang. Sejengkal kurang jadi tiga jari. Aku bisa merasakan hangat kulitnya. Aku bisa mencium jati dan sabun dan sesuatu yang manis, mungkin permen mint yang ia makan di tangga sebelum naik, karena gugup.
Matanya terpejam.
Tangannya, yang selama ini tergeletak kaku di lengan kursi rotan, terangkat. Pelan. Ragu. Menyentuh pinggangku, sangat ringan, seperti menyentuh kayu yang baru diolesi minyak dan belum kering.
Dua jari.
Satu jari.
“TEH DARAAA!”
Pintu rooftop menjeblak terbuka.
Ridwan berdiri di ambang pintu dengan napas terengah-engah, memeluk rangka kayu kecil setinggi satu meter yang dibungkus selimut, wajahnya merah karena berlari menaiki tiga lantai tangga.
“Teh! Maaf! Maaf soal videonya, Teh! Mang Ujang nyuruh aku minta maaf langsung, Teh, terus bawa ini, ini rangka jendela mini buat display di butik Teteh, A Prama yang bikin minggu lalu tapi belum dikasih, terus Mang Ujang bilang...”
Ia berhenti.
Matanya menangkap pemandangan di depannya. Aku, berdiri di antara lutut bosnya. Tanganku di wajah bosnya. Tangan bosnya di pinggangku. Wajah kami tiga jari.
Ridwan membeku. Rangka jendela mini di pelukannya miring sedikit.
“...terus Mang Ujang bilang,” lanjutnya dengan suara yang sangat kecil, “jangan ganggu kalau A Prama lagi... lagi...”
Hening.
Aku masih membungkuk. Prama masih duduk. Tangannya masih di pinggangku. Tidak ada satu pun dari kami yang bergerak.
“...lagi ngukur,” selesai Ridwan dengan putus asa. “Ngukur... sesuatu.”
Prama memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya ke belakang, ke sandaran kursi rotan, dengan napas panjang yang terdengar seperti seseorang yang baru saja ditarik keluar dari air.
Aku menegakkan badan. Pelan. Tanganku turun dari wajahnya. Tangannya turun dari pinggangku.
Lalu aku tertawa.
Aku tidak bisa menahannya. Tawa itu keluar dari tempat yang sama dengan semua ketegangan, semua gugup, semua jantung yang berdentum selama satu jam terakhir. Aku tertawa sampai harus berpegangan pada pagar besi. Sampai mataku berair. Sampai Ridwan, yang awalnya terlihat seperti mau melompat dari rooftop, mulai tersenyum takut-takut.
Dan Prama, di kursi rotan, dengan kepala masih bersandar dan mata masih terpejam, mulai tertawa juga. Pelan dulu. Lalu lebih keras. Tawa yang dalam dan serak dan lelah, tawa orang yang tidak percaya pada nasibnya sendiri.
“Wan,” katanya, masih dengan mata terpejam. “Taruh rangkanya. Pelan-pelan. Terus turun.”
“Siap, A!”
“Dan Wan.”
“Iya, A?”
“Kalau kamu cerita ke Mang Ujang, aku potong gajimu.”
“Nggak cerita, A! Sumpah! Aku nggak lihat apa-apa! Aku buta! Teh, aku buta!”
Ridwan meletakkan rangka jendela mini dengan sangat hati-hati di samping pot melati, lalu kabur ke tangga secepat kakinya bisa membawanya. Kami mendengar langkahnya yang terburu-buru di tangga, lalu suara sesuatu yang jatuh di lantai dua, lalu maaf, maaf, maaf manekin!, lalu pintu depan yang terbanting.
Lalu hening.
Aku duduk kembali di kursi rotan. Napasku masih belum teratur. Pipiku panas.
Prama membuka mata dan menatap langit. Lama.
“Maaf,” katanya.
“Buat apa?”
“Ridwan.”
“Itu bukan salahmu.”
“Saya yang ngajarin dia kerja. Berarti saya yang salah ngajarin dia ngetuk pintu.”
Aku tertawa lagi, lebih kecil. Lalu aku menatapnya. Profilnya di bawah langit jingga. Bibirnya yang tadi tiga jari dari bibirku.
“Mas Prama.”
“Ya.”
“Tadi kamu nggak kabur.”
Ia diam. Lalu ia menoleh, dan menatapku. Benar-benar menatap. Tidak lari ke jendela, ke lantai, ke kota.
“Iya,” katanya pelan. “Tadi saya nggak kabur.”
Kami duduk di sana sampai jam sepuluh, tidak bicara banyak.
Di satu titik, ia berdiri dan berjalan ke pot-pot tanaman Bu Imas. Ia berjongkok di depan pot melati, menyentuh salah satu bunganya yang masih kuncup dengan ujung jari, sangat pelan, seperti menyentuh sesuatu yang bisa memar.
“Ibu juga nanem melati,” katanya. “Di kaleng bekas cat. Di depan rumah. Tiap pagi sebelum ke pasar, Ibu petik satu, diselipin di sanggul.”
“Ibuku juga nanem melati,” kataku. “Di pot depan rumah. Ibu bilang wanginya bikin rumah inget siapa yang tinggal di dalamnya.”
Ia menoleh dan menatapku dari tempatnya berjongkok. Lalu tersenyum. Senyum yang pelan dan jarang, yang belum pernah kulihat sepenuhnya selama ini. Bukan setengah senyum di sudut bibir. Senyum yang utuh, yang membuat matanya menyipit dan wajahnya terlihat sepuluh tahun lebih muda.
Aku lupa apa yang mau kukatakan selanjutnya. Ia menceritakan rangka jendela mini yang dibawa Ridwan, yang ia buat untuk display butikku, dengan engsel yang bisa dibuka satu tangan oleh siapa pun. Aku menceritakan pohon jeruk nipis Bu Imas yang tidak pernah berbuah. Ia bilang mungkin tanahnya kurang kalium. Aku bilang Bu Imas akan marah kalau ada yang menyentuh pohonnya.
Ketika ia pamit, di tangga lantai dua, ia berhenti dan berbalik.
“Dara.”
“Ya.”
“Lain kali,” katanya, dan telinganya merah, merah sekali, bahkan di bawah lampu tangga yang redup, “saya kunci pintu rooftop-nya dulu.”
Ia turun sebelum aku bisa menjawab.
Aku berdiri di tangga, memegang pegangan besi, dan mendengarkan pikap tuanya menyala di jalan depan. Batuk-batuk. Lalu menjauh. Ke arah Cigadung. Ke arah lampu-lampu di balik bukit kecil yang selama ini cuma bisa kulihat dari rooftop.
Lain kali.
Aku menutup mataku, dan menyentuh pinggangku sendiri. Di tempat dua jarinya tadi berhenti.
Masih hangat.
- 1 Bab 1 — Order Pertama
- 2 Bab 2 — Loteng
- 3 Bab 3 — Vendor yang Tidak Mau Menatap
- 4 Bab 4 — Pelanggan Ukuran S
- 5 Bab 5 — Serutan
- 6 Bab 6 — Sendok Pak Darsa
- 7 Bab 7 — Revisi Ketujuh
- 8 Bab 8 — Kutubaru
- 9 Bab 9 — Tolong Diam
- 10 Bab 10 — Koh Hendra Datang ke Bandung
- 11 Bab 11 — Tangan yang Luka
- 12 Bab 12 — Harga Penuh
- 13 Bab 13 — Jati yang Baru Diampelas
- 14 Bab 14 — Pak Bram
- 15 Bab 15 — Pegang yang Benar
- 16 Bab 16 — Truk Pengiriman
- 17 Bab 17 — Mitos
- 18 Bab 18 — Kontrak Lembang
- 19 Bab 19 — Stapler Biru
- 20 Bab 20 — Tempat Orang Berhenti
- 21 Bab 21 — Ridwan dan TikTok
- 22 Bab 22 — Rooftop reading
- 23 Bab 23 — Undangan
- 24 Bab 24 — Kebaikan yang Salah Tempat
- 25 Bab 25 — Brokat Bukan Merek Lem
- 26 Bab 26 — Struk
- 27 Bab 27 — Tulisan Tangan
- 28 Bab 28 — Aku Cuma Beli Waktu
- 29 Bab 29 — Biasa Aja, Pram?
- 30 Bab 30 — Loteng
- 31 Bab 31 — Giliranku
- 32 Bab 32 — Cicilan Pertama
- 33 Bab 33 — Ukuran Jas
- 34 Bab 34 — Kutubaru untuk Satu Orang
- 35 Bab 35 — Bapak Juga Nggak
- 36 Bab 36 — Harga Penuh, Tanpa Cicilan
- 37 Bab 37 — Lima Tahun Menahan Diri
- 38 Bab 38 — Pembeli Pertamaku
- 39 Bab 39 — Nggak Ada yang Biasa Aja
- 40 Epilog — Rumah dari Kayu