← Pembeli Pertamamu

Chapter Seven

Bab 7 — Revisi Ketujuh

POV: Prama

Revisi pertama pintu panggung datang hari Rabu: kaca patrinya terlalu ramai, bunganya dikurangi dari dua belas jadi tujuh.

Revisi kedua datang hari Kamis: tujuh bunga terlalu sepi, jadi sembilan.

Revisi ketiga, Jumat pagi: bunganya diganti daun.

Revisi keempat, Jumat sore: daunnya dikembalikan jadi bunga, tapi bunga melati, bukan mawar, karena mawar terlalu Eropa, Mas, ini kan pulang ke Bandung.

Revisi kelima datang hari Sabtu, jam sepuluh malam, lewat pesan WhatsApp dengan foto sketsa yang difoto miring di bawah lampu meja: daun pintunya dibuat lebih tinggi lima belas senti supaya model tertinggi pun tidak perlu menunduk.

Revisi keenam datang Minggu siang. Ini yang paling kecil, tapi paling sulit: sudut lengkung bagian atas pintu diubah dari setengah lingkaran jadi lengkung yang lebih landai, seperti alis yang lagi senyum.

Aku membaca kalimat itu tujuh kali sebelum mulai memotong kayu.

Mang Ujang, yang melihat tumpukan potongan mahoni di pojok workshop, menatapku dengan iba.

“A. Eta lawang teh tos ganti genep kali.”

“Iya, Mang.”

“Genep kali, A. Abdi tos opat puluh taun jadi tukang kayu, can pernah aya klien nu ngaganti lawang genep kali.”

“Dia nggak ganti pintunya, Mang. Dia cuma nyari bentuk yang tepat.”

“Sami wae, A.”

“Beda.” Aku menyusurkan ibu jari di lengkung mahoni yang baru kupotong. Masih kasar. Masih jauh dari alis yang lagi senyum. “Ngeganti itu karena nggak suka. Dia bukan nggak suka. Dia cuma belum ketemu.”

Mang Ujang menatapku lama, lalu menggeleng-geleng dan kembali ke mejanya sambil menggumamkan sesuatu tentang cinta nu ngajadikeun jalma teu waras. Aku pura-pura tidak mendengar.

Yang tidak kukatakan pada Mang Ujang: aku tidak keberatan. Sama sekali.

Setiap revisi adalah alasan baginya untuk mengirim pesan. Setiap sketsa yang ia foto miring di bawah lampu meja adalah jendela kecil ke dalam kepalanya. Aku melihat bagaimana ia berpikir. Bagaimana sebuah gagasan tumbuh, berubah, mundur, lalu maju lagi, sampai menemukan bentuknya yang paling jujur.

Lima tahun aku cuma melihat hasil akhirnya. Baju yang sudah jadi, di foto katalog, di lemari loteng. Sekarang aku melihat prosesnya. Garis-garis yang dihapus. Coretan di pinggir kertas. Catatan kecil dengan tulisan tangan yang miring ke kanan: jangan terlalu manis, nanti kayak kue.

Aku menyimpan semua foto itu di folder terpisah di ponselku. Aku tidak tahu kenapa. Aku cuma tidak bisa menghapusnya.


Senin pagi, Sasa datang ke workshop dengan kotak besar di pelukannya dan wajah orang yang baru menerima surat panggilan pengadilan.

Kotaknya putih, dengan pita krem dan logo DARA. timbul di tutupnya. Ia meletakkannya di meja kerjaku dengan sangat hati-hati, seperti meletakkan bom.

“A,” katanya. “Ini datang ke kos aku tadi pagi.”

Aku menatap kotak itu.

“Hadiah ulang tahun DARA., A. Buat pelanggan setia. Buat Sasa K.” Ia menelan ludah. “Buat kita.”

“Buat kamu.”

“Buat Aa, A, jangan pura-pura bego.” Sasa mendorong kotak itu sedikit ke arahku. “Ada kartunya. Tulisan tangan Teh Dara. Aku udah baca, A. Maaf. Aku nggak kuat. Aku nangis di angkot.”

Aku membuka tutup kotaknya. Di dalam, di atas kertas tisu krem, ada syal sutra lukis tangan dengan motif bunga melati, dan sebuah amplop kecil berwarna krem.

Tanganku berhenti di atas amplop itu.

“Aku tinggal dulu, A,” bisik Sasa. Ia mundur pelan-pelan, lalu berbalik dan setengah berlari ke meja admin.

Aku membuka amplopnya.

Untuk Sasa K.,

Lima tahun, sebelas koleksi, sebelas potong. Kamu nggak pernah bilang apa-apa, tapi aku tahu sekarang. Terima kasih sudah memilih bajuku berkali-kali, tanpa minta apa pun.

Kadang aku bertanya-tanya, apakah aku benar-benar bagus, atau cuma keras kepala. Lalu aku lihat nama kamu di daftar pelanggan, dan aku tahu jawabannya.

Semoga bajuku selalu membuatmu merasa pulang.

— Dara

Aku membacanya sekali. Lalu aku meletakkan kartu itu di meja, menjauh, seperti benda yang terlalu panas.

Kadang aku bertanya-tanya, apakah aku benar-benar bagus, atau cuma keras kepala.

Lima tahun aku menahan diri supaya ia tidak perlu bertanya seperti itu. Lima tahun aku membeli cuma satu potong, supaya angka penjualannya tetap jujur, supaya kalau dunia menginginkan bajunya, ia tahu itu benar-benar dunia. Bukan aku.

Dan ternyata, salah satu yang membuatnya yakin bahwa ia bagus... adalah aku.

Sebelas potong di lemari loteng. Sebelas baris di spreadsheet asistennya. Sebelas kali ia melihat nama Sasa K. dan merasa ada seseorang di luar sana yang memilihnya.

Aku menutup mata. Rasanya seperti pahat yang meleset, bukan ke jari, tapi ke tempat yang lebih dalam.

Aku seharusnya merasa bersalah. Dan aku memang merasa bersalah. Tapi di bawah rasa bersalah itu, ada sesuatu yang lebih buruk, sesuatu yang membuatku malu pada diriku sendiri.

Aku senang.

Aku senang ia merasa dipilih. Aku senang ia merasa pulang. Aku senang, untuk sebelas kali dalam lima tahun, sesuatu yang kulakukan diam-diam di loteng membuatnya menulis kalimat seperti itu dengan tinta biru tua di atas kartu krem.

Aku melipat kartu itu, memasukkannya kembali ke amplop, dan menyimpannya di saku kemeja. Di sisi kiri.

Syal sutranya kuberikan pada Sasa.

“Ini buat kamu,” kataku.

Sasa menatap syal itu. Lalu menatapku. “A, aku nggak bisa...”

“Dia nulis kartu buat Sasa K. Kamu Sasa K.” Aku meletakkan syal itu di mejanya. “Kartunya biar aku yang simpan.”

Sasa tidak bertanya kenapa. Ia cuma mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca, dan melipat syal itu dengan sangat hati-hati, seperti melipat bendera.


Revisi ketujuh datang hari Senin, jam sembilan malam.

Bukan lewat WhatsApp. Ia datang sendiri.

Aku masih di workshop, sendirian. Mang Ujang sudah pulang, Sasa sudah pulang, Ridwan sudah diusir. Aku sedang menyelesaikan lengkung pintu yang keenam, alis yang lagi senyum, di bawah satu lampu meja, ketika suara mobil berhenti di depan.

Lalu ketukan di pintu. Lalu suaranya.

“Mas Prama? Maaf, aku tahu ini udah malam.”

Ia berdiri di ambang pintu dengan kardigan abu-abu, rambut diikat asal, buku sketsa di pelukan. Di bawah lampu jalan yang kuning, wajahnya terlihat lelah. Ada bayangan tipis di bawah matanya. Tapi matanya sendiri menyala, terang, seperti orang yang baru menemukan sesuatu.

“Aku ketemu,” katanya. “Bentuknya. Aku akhirnya ketemu.”

Ia masuk tanpa menunggu dipersilakan, duduk di meja panjang dekat jendela, dan membuka buku sketsanya. Aku duduk di seberangnya. Jarak satu meja, seperti biasa.

Gambar itu berbeda dari enam revisi sebelumnya. Pintunya lebih sederhana. Lengkungnya landai. Kaca patrinya tidak lagi bunga, tidak juga daun. Cuma satu bentuk di tengah-tengah, besar dan bening.

Setetes air.

“Embun,” katanya pelan. “Pintunya harus embun. Koleksi pertamaku. Lima tahun lalu semuanya mulai dari situ, dan lima tahun lagi... aku mau semua model yang lewat pintu ini kayak keluar dari tempat itu. Dari subuh-subuh di kamar kos. Dari embun di jendela.”

Aku menatap gambar itu. Setetes air bening di tengah pintu mahoni.

Aku menatapnya terlalu lama.

“Kamu nggak suka?” tanyanya. Suaranya tiba-tiba kecil.

“Bukan.” Suaraku sendiri keluar serak. Aku berdeham. “Bagus. Bagus banget.”

“Kamu bohong. Kamu diam aja.”

“Saya diam karena bagus.”

Ia menatapku, mencari kebohongan di wajahku. Untuk sekali ini, aku tidak membuang pandangan. Aku membiarkannya mencari. Karena untuk sekali ini, tidak ada yang perlu kusembunyikan. Gambar itu memang bagus. Gambar itu adalah hal paling indah yang pernah kulihat ia buat, karena itu bukan cuma pintu. Itu dia, lima tahun lalu, di belakang rak di Sabuga, sebelum ia tahu bahwa ia akan baik-baik saja.

“Oke,” katanya akhirnya, lalu tersenyum. Lesung pipit itu. “Bisa jadi berapa lama?”

“Pintunya bisa jadi lusa. Kaca patrinya harus pesan ke pengrajin kaca di Cicadas. Seminggu.”

“Lusa.” Ia menghela napas lega dan bersandar di kursi. “Maaf ya. Revisi tujuh kali. Tiwi bilang aku tukang revisi. Ayahku bilang aku nggak pernah puas.”

“Kamu bukan nggak puas.”

Ia mengangkat alis.

“Kamu cuma belum ketemu,” kataku. “Sekarang udah.”

Ia diam. Lama. Lalu ia menunduk ke buku sketsanya, dan aku melihat bahunya turun sedikit, seperti seseorang yang baru meletakkan beban yang sudah lama ia pikul.

“Ayahku nggak pernah ngomong gitu,” katanya pelan.

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

“Dari kecil,” lanjutnya, masih menatap gambarnya, “setiap aku bikin sesuatu, Ayah selalu nanya hal yang sama. Udah selesai? Bukan bagus, bukan jelek. Cuma udah selesai? Dan aku selalu jawab belum. Karena aku takut kalau aku bilang udah, Ayah akan lihat, dan Ayah akan bilang itu nggak cukup.”

Ia mengangkat bahu, ringan, seolah itu bukan apa-apa.

“Jadi aku revisi terus. Sampai sempurna. Supaya nggak ada yang bisa bilang itu nggak cukup.”

Aku menatap tangannya di atas kertas. Pergelangan yang menekuk. Ibu jari yang sesekali memijat.

“Ada yang bilang,” kataku pelan, “kayu juga nggak pernah selesai. Bahkan setelah jadi meja, setelah jadi pintu, dia masih bernapas. Masih nyusut kalau kemarau, masih ngembang kalau hujan. Tukang kayu yang baik nggak bikin kayu berhenti berubah. Dia cuma kasih ruang supaya kayu bisa berubah tanpa retak.”

Ia mengangkat wajah.

“Siapa yang bilang?”

“Bapak.”

“Bapakmu bijak.”

“Bapak bikin sendok tiap hari dan nanya status pernikahan klien saya di pintu masuk.”

Ia tertawa, dan tawa itu memecah sesuatu yang berat di udara. Ia menyandarkan dagu di telapak tangan dan menatapku dengan mata yang setengah mengantuk, setengah geli.

“Mas Prama.”

“Ya.”

“Itu di atas apa?” Ia menunjuk tangga kayu di ujung workshop. Pintu kecil dengan gembok di puncaknya. “Aku lihat dari pertama kali datang. Kamu selalu naik ke sana kalau aku pulang. Aku lihat dari spion.”

Tanganku, yang sedang menggulung kertas gambar, berhenti.

“Gudang,” kataku.

“Gudang apa?”

“Gudang... kayu. Kayu yang bagus. Yang terlalu bagus buat dipotong.”

Itu tidak sepenuhnya bohong. Di atas sana memang ada yang terlalu berharga untuk disentuh.

“Kayak jati seratus tahun itu?”

“Kayak gitu.”

Ia menatap pintu loteng itu lama, dengan rasa ingin tahu yang membuatku ingin berdiri di depan tangga dan merentangkan tangan. Lalu ia menguap, kecil, dan menggeleng.

“Kapan-kapan tunjukin ya. Aku pengin lihat kayu yang terlalu bagus buat dipotong.”

“Kapan-kapan,” kataku, dan berdiri untuk mengambil potongan mahoni terakhir. Kalau pintunya harus jadi lusa, aku harus mulai sekarang. Dan aku butuh sesuatu untuk dikerjakan dengan tangan, sebelum tanganku melakukan hal lain, seperti gemetar.


Aku tidak ingat kapan aku tertidur.

Yang kuingat, aku memotong, mengampelas, memasang sambungan. Ia duduk di meja panjang, menggambar detail lain untuk panggung, sesekali bertanya sesuatu, sesekali diam. Jam sebelas aku menyuruhnya pulang. Ia bilang sebentar lagi. Jam dua belas aku menyuruhnya pulang lagi. Ia bilang sebentar lagi. Jam satu, aku berhenti menyuruh, karena ia sudah tertidur di atas buku sketsanya dengan pipi menempel di kertas.

Aku menyelimutinya dengan jaket kerjaku yang paling bersih, yang cuma sedikit bau jati, lalu kembali bekerja. Diam-diam. Tanpa mesin. Supaya ia tidak terbangun.

Yang kuingat kemudian adalah cahaya.

Cahaya abu-abu kebiruan dari jendela timur. Suara ayam dari kebun sebelah. Leherku kaku. Pipiku menempel di permukaan kayu yang dingin. Dan sesuatu yang lembut dan hangat menutupi bahuku.

Aku membuka mata.

Kardigan abu-abu. Wangi melati.

Ia duduk di seberangku, di meja kerjaku sendiri, dengan jaketku masih tersampir di bahunya dan kardigannya tersampir di bahuku. Pintu mahoni berdiri di belakangnya, selesai, dengan lengkung landai seperti alis yang sedang tersenyum, dan lubang kosong di tengah untuk kaca patri berbentuk embun.

Ia sedang menggambar. Menggunakan penggaris jati.

“Pagi,” katanya pelan, tanpa mengangkat kepala.

Aku duduk tegak dengan terlalu cepat. Kardigannya meluncur dari bahuku. Aku menangkapnya sebelum jatuh ke lantai berdebu. Kainnya masih hangat.

“Maaf,” kataku. “Saya...”

“Kamu tidur jam empat. Aku bangun jam lima. Kamu masih pegang ampelas.” Ia akhirnya menatapku, dan senyumnya pelan, seperti cahaya di jendela. “Pintunya udah jadi, Mas. Kamu begadang semalaman buat pintuku.”

“Biasa aja.”

“Kamu ngomong itu terus.”

“Karena memang biasa.”

Ia meletakkan penggaris jati di atas kertasnya dengan hati-hati. Lalu ia berdiri, melepas jaketku dari bahunya, dan mengulurkan tangan untuk menukarnya dengan kardigannya yang masih kupegang.

Saat menukarnya, ujung jarinya menyentuh punggung tanganku. Sebentar. Tidak sengaja. Atau mungkin sengaja. Aku tidak tahu, dan aku tidak berani mencari tahu.

“Nggak ada orang yang begadang buat pintu orang lain, Mas Prama,” katanya pelan. “Itu bukan biasa.”

Ia pergi sebelum aku bisa menjawab, membawa kardigannya dan buku sketsanya, meninggalkan jaketku yang sekarang wangi melati di sandaran kursi.

Aku duduk lama di sana, di cahaya pagi, dengan tangan kiriku menempel di saku kemeja. Di tempat kartu krem itu tersimpan.

Semoga bajuku selalu membuatmu merasa pulang.

Aku tidak berani memakai jaket itu lagi selama seminggu. Aku menggantungnya di loteng, di paku di samping lemari jati, dan setiap malam ketika naik ke sana, wanginya masih ada.