Chapter Six
Bab 6 — Sendok Pak Darsa
POV: Dara
Hari Selasa, aku datang ke Kayuku untuk menyetujui contoh warna minyak lantai panggung. Yang menyambutku di pintu bukan Mang Ujang.
Yang menyambutku seorang bapak tua bertubuh tinggi kurus, dengan rambut putih yang disisir rapi ke belakang, peci hitam miring sedikit ke kiri, dan kemeja batik cokelat yang kancingnya terpasang sampai ke leher. Ia sedang duduk di bangku kayu dekat pintu, memahat sepotong kayu kecil dengan pisau lipat, dan begitu melihatku, pisau itu berhenti di udara.
Ia menatapku dari ujung kepala sampai ujung sepatu. Lalu kembali ke kepala. Lalu ia tersenyum lebar, memperlihatkan gigi yang masih lengkap dan satu gigi emas di samping.
“Ieu nu namina Dara?”
“Iya, Pak. Saya Dara.”
“Sudah menikah?”
Aku berkedip. “Maaf, Pak?”
“Sudah menikah, belum? Atau sudah ada calon? Tunangan? Yang lagi dekat? Yang lagi PDKT, kata anak muda?” Ia meletakkan pisau dan kayu di pangkuannya, lalu menatapku dengan keseriusan seorang petugas sensus. “Bapak tanya karena penting.”
Dari dalam workshop, terdengar bunyi sesuatu yang berat jatuh ke lantai. Lalu langkah kaki besar yang tergesa-gesa.
“BAPAK.”
Prama muncul di pintu dengan napas terengah. Wajahnya, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, merah padam dari dahi sampai leher.
“Bapak,” ulangnya, lebih pelan tapi lebih putus asa. “Bapak bilang mau duduk di depan aja. Bapak bilang nggak akan ngomong apa-apa.”
“Bapak nggak ngomong apa-apa. Bapak cuma nanya.” Bapak tua itu menoleh padaku dengan wajah polos. “Nanya teh boleh, kan, Neng?”
Aku menatap Prama yang merah padam. Aku menatap bapak tua dengan peci miring. Dan aku tidak bisa menahannya lagi.
Aku tertawa.
Tawa yang keluar dari perut, yang membuatku harus berpegangan pada kusen pintu, yang membuat mataku berair. Aku tertawa sampai Mang Ujang keluar dari belakang untuk melihat apa yang terjadi, sampai Sasa mengintip dari balik monitor, sampai Ridwan, tentu saja, mengangkat ponselnya.
“Belum, Pak,” jawabku akhirnya, masih terengah. “Belum menikah. Belum ada calon.”
Bapak tua itu mengangguk puas, seperti baru mendengar kabar panen bagus. Ia menoleh ke Prama dan menepuk lutut anaknya dua kali.
“Tuh. Belum.”
“Bapak.”
“Kamu juga belum.”
“Bapak.”
“Bapak cuma mencatat fakta.” Ia memungut pisau dan kayunya lagi, lalu kembali memahat dengan ketenangan yang luar biasa. “Darsa Winata, Neng. Bapaknya anak ini. Pensiunan tukang kayu. Sekarang tukang sendok.”
“Tukang sendok?”
Pak Darsa mengangkat kayu kecil di tangannya. Sebuah sendok. Belum selesai, tapi bentuknya sudah terlihat: cekungannya dalam dan halus, gagangnya ramping dengan lengkung lembut seperti leher angsa.
“Bapak bikin sendok tiap hari. Satu hari satu,” katanya. “Supaya tangan nggak kaku. Supaya kepala nggak pikun. Supaya ada alasan datang ke sini ganggu anak Bapak.”
“Akhirnya Bapak ngaku,” gumam Prama.
Aku menghabiskan satu jam berikutnya duduk di bangku kayu di samping Pak Darsa, alih-alih memeriksa contoh minyak lantai.
Ia menunjukkan cara memahat sendok. Cara membaca serat kayu supaya cekungannya tidak retak. Cara memegang pisau supaya bergerak menjauh dari tubuh. Ia bercerita tentang bengkel kayunya dulu di Garut, tentang meja-meja yang ia buat untuk kantor kecamatan, tentang kursi pengantin yang ia ukir untuk separuh warga kampungnya.
Lalu, tanpa peringatan, ia menyerahkan pisau lipat dan sepotong kayu sawo ke tanganku.
“Coba, Neng.”
“Pak, aku nggak bisa...”
“Semua orang bisa. Yang nggak bisa itu yang nggak nyoba.” Ia menunjuk kayu di tanganku. “Bikin cekungannya dulu. Pelan-pelan. Pisau jalan menjauh dari badan.”
Aku mencoba. Pisau itu langsung tergelincir, tidak mau menggigit kayu. Aku mencoba lagi. Kali ini serpihannya terlalu tebal dan kayunya retak sedikit di pinggir.
“Pegangannya salah,” kata suara rendah dari belakang.
Aku menoleh. Prama berdiri dua meter dariku, masih dengan kain lap di tangan, menatap pisau di tanganku dengan kerutan di dahinya.
“Ibu jarinya,” katanya. “Taruh di punggung pisau. Bukan di samping. Biar ibu jari yang dorong, bukan pergelangan.”
Aku memindahkan ibu jari. Salah. Ia menggeleng.
“Lebih ke depan.”
Aku menggeser lagi. Masih salah.
“Sedikit lagi. Ke kiri.”
“Kiri yang mana? Kiri aku atau kiri kamu?”
Ia membuka mulut, lalu menutupnya, lalu mengangkat tangannya sendiri ke udara dan memperagakan pegangan itu dengan pisau tak terlihat. Dari jarak dua meter.
Pak Darsa menatap anaknya dengan ekspresi tidak percaya.
“Pram,” katanya. “Pegang atuh tangannya. Kumaha rek diajar ti jauh kitu? Siga dalang wayang.”
“Bisa dari sini, Pak.”
“Teu bisa. Tos lima menit, sendokna can jadi-jadi.”
“Bisa, Pak.”
Pak Darsa menoleh padaku, menunjuk anaknya dengan dagu, dan berbisik dengan volume yang sama sekali bukan bisikan: “Tingali, Neng. Ieu budak teh sieun ku awewe geulis. Ti leuleutik.”
“Bapak.”
Aku tertawa sampai pisau itu hampir jatuh. Prama memejamkan mata dan menghela napas panjang, telinganya merah, tapi ia tidak bergerak dari tempatnya. Ia terus memperagakan pegangan itu dari jauh, dengan sabar, dengan tangan kosong, sampai akhirnya ibu jariku berada di tempat yang tepat dan pisau itu menggigit kayu dengan bunyi yang bersih.
“Itu,” katanya pelan. “Itu benar.”
Serpihan kayu sawo melengkung di ujung pisauku, tipis seperti kertas. Aku menatapnya dengan bangga yang tidak masuk akal, seolah aku baru memenangkan sesuatu.
“Bagus, Neng,” kata Pak Darsa. Lalu, tanpa menoleh: “Bagus juga, Pram. Tapi lain kali pegang tangannya.”
Prama berbalik dan kembali ke meja kerjanya tanpa sepatah kata pun. Aku melihat punggungnya menjauh, kaku, dan aku harus menggigit bibir supaya tidak tertawa lagi.
Pak Darsa mengambil kembali pisau dan kayu sawo dari tanganku, lalu melanjutkan cekungan yang kumulai dengan beberapa gerakan cepat yang membuat semua usahaku terlihat seperti mainan.
Dan sambil memahat, ia bercerita tentang Prama kecil.
“Umur lima tahun udah pegang pahat,” katanya bangga. “Umur tujuh tahun bikin kotak pensil sendiri. Umur sepuluh tahun bikin rak sepatu buat ibunya. Rak sepatunya miring, Neng, tapi ibunya pakai sampai meninggal.”
Aku melirik ke dalam workshop. Prama sedang bekerja di meja paling jauh, membelakangi kami, pura-pura sibuk dengan sesuatu. Tapi bahunya kaku. Ia jelas mendengar setiap kata.
“Ibunya Mas Prama...”
“Sudah nggak ada. Sebelas tahun.” Pak Darsa berhenti memahat sebentar. “Anak itu yang paling kehilangan. Dia nggak nangis di pemakaman. Dia pulang, terus bikin peti kecil buat nyimpan kebaya-kebaya ibunya. Tiga hari tiga malam. Nggak tidur.”
Aku diam. Ada sesuatu yang menekan dadaku, pelan-pelan.
“Anak Bapak itu, Neng,” Pak Darsa melanjutkan, lebih pelan, matanya masih menatap sendok di tangannya, “kalau sayang sama sesuatu, nggak pernah ngomong. Dia bikin. Dia kerjain. Diam-diam. Sampai tangannya luka. Tapi mulutnya nggak pernah bilang.”
Ia mengangkat wajah dan menatapku. Matanya tua, keruh di bagian pinggir, tapi tajam.
“Jadi kalau suatu hari Neng lihat dia bikinin sesuatu buat Neng,” katanya, “jangan tanya kenapa. Itu jawabannya.”
Sebelum aku sempat bertanya apa maksudnya, Pak Darsa sudah kembali memahat, bersiul lagu lama yang tidak kukenal, seolah ia tidak baru saja mengatakan sesuatu yang membuat jantungku berdetak terlalu keras.
Contoh minyak lantai akhirnya kusetujui jam dua belas siang. Warna nomor tiga: cokelat madu, hangat, tidak mengilap. Prama mengoleskannya sendiri di atas potongan jati bekas sementara aku memperhatikan, dan aku tidak bisa berhenti memandangi tangannya.
Tangan yang menurut Pak Darsa membuat rak sepatu miring untuk ibunya. Tangan yang membuat peti untuk kebaya-kebaya ibunya selama tiga hari tiga malam.
“Ini,” katanya tiba-tiba.
Aku tersentak dari lamunanku. Ia menyodorkan sesuatu yang dibungkus kain blacu putih. Panjang dan tipis.
“Apa ini?”
“Bonus vendor.”
“Bonus vendor?”
“Klien besar dapat bonus.” Ia menatap kain blacu di tanganku, bukan wajahku. “Kebijakan perusahaan.”
Aku membuka kain itu pelan-pelan.
Penggaris.
Panjangnya enam puluh lima senti. Kayunya jati, warnanya cokelat tua dengan serat yang rapat dan lurus seperti garis yang ditarik dengan tangan Tuhan. Angka-angkanya diukir, bukan dicetak, dalam huruf yang kecil dan sangat rapi. Setiap senti. Setiap lima milimeter. Setiap milimeter. Ketika aku menyusurkan ibu jari di atasnya, aku bisa merasakan setiap goresan, dalam dan bersih, seperti kulit yang menyimpan rahasia.
Bobotnya pas. Tidak terlalu berat, tidak terlalu ringan. Ujung-ujungnya dibulatkan sedikit, supaya tidak melukai tangan. Permukaannya diolesi minyak, licin tapi tidak tergelincir.
Ini bukan penggaris. Ini karya.
“Mas Prama,” bisikku. “Aku kan udah bilang...”
“Penggaris lamamu tetap jadi saksi.” Ia masih tidak menatapku. “Yang ini cuma buat kerja. Supaya nggak meleset setengah mili.”
Aku memandanginya. Ia berdiri di sisi lain meja, tangan kanannya masih memegang kain lap yang bernoda minyak, telinganya mulai memerah lagi.
Jadi kalau suatu hari Neng lihat dia bikinin sesuatu buat Neng, jangan tanya kenapa.
Aku menutup mulutku sebelum pertanyaan itu keluar.
“Ini dari kayu apa?” tanyaku sebagai gantinya.
“Jati. Dari balok rumah tua di Garut. Umurnya lebih dari seratus tahun.”
“Seratus tahun.” Aku menyusuri seratnya lagi. “Kenapa kamu kasih kayu seratus tahun ke aku?”
“Karena kayu tua nggak melengkung.” Ia akhirnya menatapku, sebentar, cuma sedetik. “Kayu tua udah selesai berubah. Dia udah tahu bentuknya. Dia nggak akan meleset lagi.”
Lalu matanya lari lagi, ke jendela, ke langit, ke mana pun.
Aku menunduk menatap penggaris itu, supaya ia tidak melihat wajahku. Supaya ia tidak melihat bahwa mataku, entah kenapa, panas.
“Makasih,” kataku. Suaraku keluar lebih serak dari yang kuinginkan.
“Biasa aja.”
Ia mengulurkan tangan untuk mengambil kembali kain blacu pembungkusnya, mungkin untuk dilipat, mungkin hanya untuk punya sesuatu yang bisa dipegang. Aku, pada saat yang sama, mengulurkan tangan untuk mengembalikannya.
Jari-jari kami bersentuhan.
Cuma sebentar. Ujung jari telunjukku dengan buku jari tengahnya. Kasar, hangat, ada bekas luka kecil yang menonjol di bawah kulitku.
Ia menarik tangannya seperti tersengat listrik. Kain blacu jatuh ke lantai. Kami berdua membungkuk untuk mengambilnya, dan kepala kami hampir bertabrakan, dan ia mundur begitu cepat sampai punggungnya menabrak rak kayu di belakangnya. Tiga pegboard contoh jatuh dengan bunyi berisik.
“Astagfirullah,” kata Mang Ujang dari kejauhan, dengan nada yang sama sekali tidak terdengar kaget.
“Maaf,” kata Prama, pada pegboard.
“Maaf,” kataku, pada lantai.
Kami berdua berjongkok, memunguti pegboard dan kain blacu dalam diam, tanpa saling menatap. Tapi aku bisa merasakan ujung jariku masih hangat. Seperti baru menyentuh kayu yang seharian dijemur matahari.
Ketika aku pamit, Pak Darsa sudah selesai memahat sendoknya. Ia memanggilku ke bangku dan meletakkan sendok itu di telapak tanganku.
“Buat Neng.”
“Pak, nggak usah...”
“Bapak bikin satu tiap hari. Rumah Bapak udah penuh sendok. Tetangga udah nggak mau terima lagi.” Ia melipat tanganku di sekeliling sendok itu dengan tangannya yang kurus dan keriput. “Lagi pula, Bapak bikin sendok ini sambil mikirin Neng. Jadi ini memang punya Neng.”
Sendoknya masih hangat dari tangannya. Cekungannya halus seperti kelopak bunga.
“Neng,” Pak Darsa menahan tanganku sebentar, lalu berbisik, cukup keras untuk didengar seluruh workshop, “Prama itu sendok nomor satu Bapak. Belum pernah dipakai. Masih bagus.”
“BAPAK.”
Aku tertawa lagi, sampai di mobil, sampai di jalan Cigadung yang menurun ke arah Dago, sampai aku harus menepi sebentar di depan warung karena mataku berair dan aku tidak bisa melihat jalan.
Di kursi penumpang, di atas tas jinjingku, tergeletak dua benda kayu. Sebuah sendok kecil dengan lengkung leher angsa. Dan sebuah penggaris jati berumur seratus tahun yang tidak akan pernah meleset lagi.
Tiwi menemukanku di ruanganku sore itu, sedang meletakkan sendok kayu di samping bingkai Maison Lumière di dinding, lalu memindahkannya ke meja, lalu ke rak buku, lalu kembali ke meja.
“Mbak, itu sendok.”
“Iya.”
“Mbak udah mindahin sendok itu empat kali.”
“Aku lagi cari tempat yang pas.”
Tiwi mendekat dan menatap sendok itu, lalu penggaris jati yang tergeletak di atas buku sketsaku. Ia mengambil penggaris itu dengan dua jari, membaliknya, menyusuri angka-angkanya.
“Ini ukiran tangan,” gumamnya. “Mbak, ini ukiran tangan. Setiap milimeter. Ini kerjaan berhari-hari.”
“Bonus vendor.”
“Bonus vendor itu biasanya gantungan kunci, Mbak. Atau kalender. Atau kalau vendornya royal, parsel Lebaran.” Tiwi meletakkan penggaris itu kembali, sangat hati-hati, seperti meletakkan barang museum. “Nggak ada vendor yang ngukir penggaris dari kayu umur seratus tahun buat bonus.”
“Wi.”
“Aku cuma bilang, Mbak.” Ia mengangkat kedua tangan. “Aku cuma bilang.”
Ia keluar. Aku menatap penggaris itu lama. Lalu aku meletakkan sendok kayu Pak Darsa di sebelahnya, berdampingan, di sudut meja kerjaku yang paling dekat dengan jendela.
Di situ. Itu tempat yang pas.
Malam itu, di meja gambarku di lantai tiga, aku menyusurkan penggaris jati itu di atas kertas pola untuk gaun penutup show. Garisnya lurus sempurna. Tidak ada setengah mili yang meleset. Pola itu, yang sudah kurevisi empat kali karena selalu terasa sedikit salah, tiba-tiba jatuh dengan tepat.
Aku tidak memperhatikan ujung penggaris itu. Di tempat yang paling kecil, di bawah angka nol, ada ukiran yang sangat halus, nyaris tak terlihat, yang baru akan kusadari jauh, jauh kemudian.
Malam itu, aku cuma menggambar. Dan tersenyum. Dan sesekali, tanpa alasan yang jelas, menyentuh ujung jari telunjukku sendiri.
- 1 Bab 1 — Order Pertama
- 2 Bab 2 — Loteng
- 3 Bab 3 — Vendor yang Tidak Mau Menatap
- 4 Bab 4 — Pelanggan Ukuran S
- 5 Bab 5 — Serutan
- 6 Bab 6 — Sendok Pak Darsa reading
- 7 Bab 7 — Revisi Ketujuh
- 8 Bab 8 — Kutubaru
- 9 Bab 9 — Tolong Diam
- 10 Bab 10 — Koh Hendra Datang ke Bandung
- 11 Bab 11 — Tangan yang Luka
- 12 Bab 12 — Harga Penuh
- 13 Bab 13 — Jati yang Baru Diampelas
- 14 Bab 14 — Pak Bram
- 15 Bab 15 — Pegang yang Benar
- 16 Bab 16 — Truk Pengiriman
- 17 Bab 17 — Mitos
- 18 Bab 18 — Kontrak Lembang
- 19 Bab 19 — Stapler Biru
- 20 Bab 20 — Tempat Orang Berhenti
- 21 Bab 21 — Ridwan dan TikTok
- 22 Bab 22 — Rooftop
- 23 Bab 23 — Undangan
- 24 Bab 24 — Kebaikan yang Salah Tempat
- 25 Bab 25 — Brokat Bukan Merek Lem
- 26 Bab 26 — Struk
- 27 Bab 27 — Tulisan Tangan
- 28 Bab 28 — Aku Cuma Beli Waktu
- 29 Bab 29 — Biasa Aja, Pram?
- 30 Bab 30 — Loteng
- 31 Bab 31 — Giliranku
- 32 Bab 32 — Cicilan Pertama
- 33 Bab 33 — Ukuran Jas
- 34 Bab 34 — Kutubaru untuk Satu Orang
- 35 Bab 35 — Bapak Juga Nggak
- 36 Bab 36 — Harga Penuh, Tanpa Cicilan
- 37 Bab 37 — Lima Tahun Menahan Diri
- 38 Bab 38 — Pembeli Pertamaku
- 39 Bab 39 — Nggak Ada yang Biasa Aja
- 40 Epilog — Rumah dari Kayu