Chapter Thirteen
Bab 13 — Jati yang Baru Diampelas
POV: Prama
Masalahnya bukan pada kalimatnya. Masalahnya pada cahaya.
Hari Senin jam setengah lima sore, matahari Cigadung turun miring dari jendela barat, menembus debu kayu yang melayang dan jatuh tepat di meja contoh tempat Dara sedang membungkuk. Ia sedang memilih minyak untuk pintu besar di ujung panggung. Ada lima potongan jati di depannya, masing-masing diolesi minyak dengan warna yang sedikit berbeda.
“Nomor tiga atau nomor empat?” tanyanya. “Aku bingung. Nomor tiga lebih hangat, tapi nomor empat lebih... jujur?”
Aku berdiri di seberang meja. Jarak satu meja, seperti biasa. Aku sudah memutuskan, sejak hari ia memegang tanganku di pangkuannya selama dua lagu dangdut, bahwa jarak satu meja adalah satu-satunya hal yang masih bisa menyelamatkanku.
“Nomor empat,” kataku.
“Kenapa?”
“Nomor tiga ditambah pigmen. Nomor empat cuma minyak. Warnanya dari kayunya sendiri.”
Ia mengangguk dan membungkuk lebih rendah lagi, wajahnya cuma sejengkal dari permukaan potongan jati nomor empat. Ia mengamati seratnya. Mengusapnya dengan ujung jari. Lalu ia mengangkat wajah dan menatapku, untuk bertanya sesuatu.
Dan cahaya itu jatuh di matanya.
Matahari sore, miring, keemasan, menembus langsung ke iris cokelatnya dari samping. Dan untuk satu detik, matanya bukan lagi sekadar cokelat. Ada garis-garis di sana. Serat-serat halus berwarna madu dan tembaga yang memancar dari pupil ke tepi, persis seperti serat jati yang baru dibuka oleh ampelas nomor empat ratus. Warna yang paling hangat di saat paling telanjang. Warna yang sama yang kulihat lima tahun lalu dari sela rambutnya di belakang rak di Sabuga.
“Matamu,” kataku.
Ia berkedip. “Hm?”
“Warnanya kayak jati yang baru diampelas.”
Kalimat itu keluar sebelum otakku sempat menangkapnya. Ia meluncur begitu saja, utuh, seperti serpihan kayu yang terlepas dari pahat, dan sudah terlambat untuk menariknya kembali.
Hening.
Dara menatapku. Mulutnya sedikit terbuka. Pipinya, perlahan, sangat perlahan, berubah warna. Merah muda dulu, di bagian tulang pipi. Lalu merah. Lalu merambat ke telinga, ke leher, ke tempat yang tidak bisa kulihat di balik kerah kemejanya.
Aku belum pernah melihatnya tersipu. Selama lima minggu ini, ia yang selalu membuatku gugup, membuatku menjatuhkan pegboard, membuatku hampir memotong jari. Ia tidak pernah kehilangan kata-kata.
Sekarang ia kehilangan kata-kata.
“Mas,” katanya akhirnya, pelan. “Itu... pujian?”
Aku menatap potongan jati nomor empat. Lalu nomor tiga. Lalu jendela. Lalu jam dinding.
“Saya harus ke Cicadas,” kataku.
“Apa?”
“Kaca patri. Harus diambil. Sekarang.”
“Mas Prama, ini jam setengah lima...”
“Tokonya tutup jam lima.”
Aku sudah mengambil kunci mobil pikap dari gantungan di dinding. Aku sudah berjalan ke pintu. Di belakangku, aku mendengar Mang Ujang tersedak kopi dan Sasa menjatuhkan sesuatu yang terdengar seperti stapler.
“Mang,” kataku tanpa menoleh, “temenin Dara. Nomor empat. Minyaknya nomor empat.”
Aku keluar. Aku menyalakan mobil pikap. Aku pergi ke Cicadas, ke toko kaca patri yang sebenarnya tutup jam tujuh malam, dan kaca patri yang sebenarnya baru akan selesai lusa, dan duduk di dalam mobil di parkiran toko itu selama satu setengah jam, dengan dahi menempel di setir, mengulang-ulang satu pertanyaan.
Kenapa aku bilang itu?
Jam enam, ponselku berdering. Koh Hendra.
“Pram! Kontainer Osaka udah sampai pelabuhan. Dokumen beres. Lu lagi di mana? Kok suaranya kayak di dalam kaleng?”
“Di mobil, Koh.”
“Ngapain di mobil?”
“Parkir.”
“Parkir di mana?”
“Cicadas.”
“Ngapain lu parkir di Cicadas jam enam sore?” Hening sebentar. Lalu nada suaranya berubah, seperti orang yang baru mencium sesuatu. “Pram. Lu ngapain?”
Aku menceritakannya. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku tidak bisa menceritakannya pada siapa pun lagi. Mang Ujang akan menertawakanku. Bapak akan menceramahiku. Sasa akan menangis.
Koh Hendra mendengarkan sampai selesai. Lalu ia diam lama sekali.
“Jati yang baru diampelas,” ulangnya akhirnya.
“Iya, Koh.”
“Lu bilang itu ke dia. Ke mukanya.”
“Iya.”
“Terus lu kabur ke Cicadas.”
“Iya.”
“Pram.” Suara Koh Hendra pelan, serius. “Gua udah dua puluh tahun nikah. Gua belum pernah ngomong sesuatu se-romantis itu ke istri gua. Yang paling romantis yang pernah gua bilang ke dia itu kamu masak sayur asem enak, kayak di restoran Padang.”
“Sayur asem bukan masakan Padang, Koh.”
“Itu sebabnya dia marah tiga hari.” Koh Hendra menghela napas. “Pulang, Pram. Jangan sembunyi di parkiran toko kaca. Lu udah lima tahun sembunyi.”
Aku tidak pulang. Tapi aku berhenti menempelkan dahi di setir.
Aku tidak kembali ke workshop sampai jam tujuh malam, setelah aku yakin mobilnya sudah tidak ada.
Hari Selasa, Dara datang jam sepuluh pagi untuk mengecek pengiriman kayu suar. Aku ada di belakang, di gudang, menghitung balok yang sudah kuhitung dua kali. Mang Ujang yang menemuinya.
Hari Rabu, Dara mengirim pesan: Mas, aku ke workshop jam 2 ya, mau lihat pintu yang udah diminyakin. Aku membalas: Saya lagi di Garut. Ambil kayu. Mang Ujang ada. Aku memang ke Garut. Aku menyetir tiga jam ke Garut untuk mengambil kayu yang bisa dikirim lewat ekspedisi dengan ongkos dua ratus ribu.
Di gudang kayu tua milik kenalan Bapak, di antara balok-balok jati dari rumah-rumah yang dibongkar, aku menemukan diriku mengetuk setiap balok seperti Bapak mengajariku. Mendengarkan bunyinya. Mencari yang seratnya paling rapat, warnanya paling hangat.
Aku sedang mencari warna matanya. Di setiap balok. Seperti orang bodoh.
Pemilik gudang, seorang kakek bernama Abah Encep, memperhatikanku selama setengah jam sebelum akhirnya bertanya, “Jang, keur neangan kai naon sabenerna?”
Aku tidak bisa menjawab. Aku membeli dua balok yang paling mendekati, membayar dengan harga yang terlalu tinggi, dan pulang.
Rabu malam, ketika aku tiba di workshop, pintu besar mahoni sudah berdiri di tengah ruangan. Sudah diminyaki. Warnanya cokelat jujur, tanpa pigmen, seratnya terbuka dan hangat di bawah lampu.
Nomor empat.
Di kaca patri embun di tengahnya, tertempel satu sticky note kuning. Tulisan tangan yang miring ke kanan, yang sudah kukenali dari puluhan foto sketsa.
Nomor empat. Karena jujur. — D.
Aku berdiri lama di depan pintu itu. Lalu aku melepas sticky note itu dengan sangat hati-hati supaya tidak sobek, dan menyelipkannya di saku kemeja, di sisi kiri. Di samping kartu krem untuk Sasa K.
Saku itu mulai penuh.
Hari Kamis pagi, Bapak datang ke workshop dengan sendok yang baru setengah jadi dan wajah yang sangat tidak senang.
“Kabur,” katanya. Bukan pertanyaan.
“Saya nggak kabur, Pak.”
“Tilu poe. Si Neng datang, Prama ilang. Si Neng SMS, Prama ka Garut. Si Neng nelepon Ujang, Prama ngitung balok.” Bapak duduk di bangkunya dan mulai memahat dengan gerakan yang lebih keras dari biasanya. “Bapak teu ngajarkeun kabur.”
“Saya cuma sibuk.”
“Sibuk ngitung balok nu tos diitung.” Bapak menunjuk ke gudang dengan ujung pisau lipatnya. “Ujang bilang, kamu ngitung balok suar empat kali kemarin. Hasilnya beda-beda terus.”
Aku tidak menjawab.
Bapak menghela napas panjang. Ia berhenti memahat dan menatapku, dengan mata tua yang tajam di bagian tengah.
“Ibu kamu dulu,” katanya pelan, “pas Bapak pertama kali bilang matanya cantik, dia juga kabur. Tilu poe. Teu daek papanggih.”
Aku mengangkat kepala.
“Tapi poe kaopat,” lanjut Bapak, “dia datang ka bengkel Bapak. Bawa gorengan. Nanya, mata saya cantik kumaha? Bapak bilang, kayak air sumur jam lima pagi. Ibu kamu ketawa. Terus nikah sama Bapak.”
“Itu beda, Pak.”
“Bedana naon?”
Bedanya, aku ingin bilang, Ibu tidak sedang hidup di dalam cerita bahwa malaikat dari Singapura menyelamatkannya. Ibu tidak punya lemari di loteng yang berisi sebelas potong rahasia. Bapak tidak pernah menjual mesin untuk membeli empat puluh dua baju yang tidak bisa dipakai.
Tapi aku tidak bilang apa-apa. Aku cuma menatap tanganku, yang masih diperban. Jarum pentul berkepala mutiara masih ada di sana.
Bapak menggeleng-geleng dan kembali memahat.
“Bedana teh,” katanya pada sendok di tangannya, “Bapak mah teu kabur. Kamu kabur.”
Kamis sore, aku sedang mengampelas rangka jendela terakhir ketika ponsel Mang Ujang berdering di meja sebelah.
Mang Ujang mengangkatnya, melihat nama di layar, lalu menatapku dengan wajah licik yang tidak cocok untuk orang berumur lima puluh delapan tahun. Ia menekan tombol speaker sebelum aku sempat melarangnya.
“Halo, Mang Ujang?”
Suara Tiwi. Asisten Dara. Terdengar seperti orang yang sedang menelepon dari tempat persembunyian.
“Muhun, Neng Tiwi. Aya naon?”
“Mang, aku mau tanya. Tapi Mang Ujang harus jawab jujur. Ini penting. Ini menyangkut keselamatan kantorku.”
Mang Ujang menatapku sambil menahan tawa. Aku menggeleng keras-keras. Ia mengabaikanku.
“Mangga, Neng.”
“Bos Mamang kenapa?”
Aku membeku dengan ampelas di tangan.
“Kunaon kumaha, Neng?”
“Mang, Mbak Dara udah tiga hari ngelihatin hp kayak orang nunggu hasil ujian. Dia buka chat bos Mamang, terus nutup lagi. Buka lagi. Tutup lagi. Kemarin dia revisi pola gaun penutup, padahal polanya udah final. Hari ini dia nanya ke aku, ‘Wi, kalau laki-laki muji mata kamu terus kabur, artinya apa?’”
Sasa, di meja admin, menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ridwan, di tangga, sudah mengangkat ponselnya, dan kali ini Mang Ujang tidak melarangnya.
“Dan Mang,” lanjut Tiwi dengan nada putus asa, “aku nggak tahu jawabannya! Aku jawab, mungkin dia sakit perut. Mbak Dara lempar bantal ke aku!”
“Euleuh,” kata Mang Ujang, sangat menikmati ini. “Teras, Neng?”
“Terus aku mau tanya Mang. Bos Mamang muji mata Mbak Dara apa?”
Mang Ujang menatapku. Aku menatapnya balik dengan semua permohonan yang bisa kukumpulkan di wajahku.
“Jati nu kakara diampelas,” kata Mang Ujang dengan suara puitis.
Hening di ujung sana. Lalu:
“...Hah?”
“Jati, Neng. Nu kakara diampelas. Kai jati, diampelas, seratna kaluar, warnana jadi...” Mang Ujang mencari kata dalam bahasa Indonesia. “Jadi bagus pisan. Paling bagus. Eta teh pujian panggedena ti tukang kai, Neng. Leuwih ti cantik. Leuwih ti geulis.”
Hening lagi. Lama sekali.
“Mang,” kata Tiwi akhirnya, suaranya mendadak pelan, “itu... itu romantis banget, ya?”
“Pisan, Neng.”
“Terus kenapa dia kabur?”
Mang Ujang menatapku sekali lagi. Kali ini wajahnya tidak licik. Wajahnya lembut, seperti saat ia menepuk dadaku di malam email pertama datang.
“Sabab, Neng,” katanya pelan, “jalma nu bener-bener bogoh mah, sok sieun ku omonganna sorangan.”
Aku meletakkan ampelas dan berjalan ke luar workshop. Aku tidak menunggu mendengar balasan Tiwi.
Malam itu, ponselku bergetar jam sembilan.
Mas.
Satu kata. Dari Dara. Aku menatapnya lama, dengan jempol melayang di atas layar.
Ya, ketikku akhirnya.
Akhirnya. Kirain kamu pindah ke Garut.
Aku tidak tahu harus membalas apa. Jadi aku tidak membalas. Tiga titik muncul di layarnya, hilang, muncul lagi.
Sabtu aku makan malam di rumah Ayah. Yang udah aku undur dua kali.
Doain aku ya. Biasanya aku pulang dari sana dalam keadaan kayak pola yang direvisi tujuh kali.
Aku membaca pesan itu dua kali. Lalu aku mengetik:
Pasti.
Tiga titik lagi. Lama.
Mas. Satu lagi.
Ya.
Jati yang baru diampelas itu cantik nggak?
Jempolku berhenti di atas layar. Aku menatap pertanyaan itu sampai layarnya meredup sendiri, lalu menyalakannya lagi.
Aku bisa menjawab biasa. Aku bisa menjawab lumayan. Aku bisa menjawab apa pun yang akan membuatku tetap aman di balik jarak satu meja.
Tapi Bapak benar. Aku kabur. Tiga hari. Dan selama tiga hari itu, perempuan yang paling kucintai di dunia bertanya pada asistennya apa artinya kalau laki-laki memuji matanya lalu pergi.
Aku tidak mau ia bertanya seperti itu lagi.
Paling cantik, ketikku. Nggak ada kayu yang lebih cantik dari jati yang baru diampelas.
Aku mengirimnya sebelum bisa berubah pikiran.
Tiga titik. Hilang. Muncul. Hilang. Aku menunggu dengan napas tertahan, duduk di lantai loteng, di depan lemari yang tertutup, dengan ponsel di kedua tangan.
Oke, balasnya akhirnya. Aku terima pujiannya.
Lalu, satu detik kemudian:
Jangan kabur lagi. Aku nggak suka nyari kamu di gudang balok.
Aku tertawa. Sendirian, di loteng, jam sembilan malam. Tertawa sampai aku harus menyandarkan kepala ke pintu lemari, sampai dadaku sakit, sampai sesuatu yang panas mengalir di pinggir mataku dan aku tidak tahu apakah itu karena lucu atau karena hal lain.
Nggak kabur lagi, ketikku.
Janji?
Janji.
Selamat malam, Mas Prama. Ganti perbanmu.
Selamat malam, Dara.
Aku meletakkan ponsel di lantai dan menatap lemari jati itu lama. Di dalamnya, sebelas potong pakaian tergantung dalam gelap. Di saku kemejaku, di sisi kiri, kartu krem untuk Sasa K. masih tersimpan.
Jangan kabur lagi.
Aku sudah berjanji. Dan aku tidak tahu bagaimana caranya menepati janji itu tanpa suatu hari harus berdiri di depannya dan menceritakan semuanya.
- 1 Bab 1 — Order Pertama
- 2 Bab 2 — Loteng
- 3 Bab 3 — Vendor yang Tidak Mau Menatap
- 4 Bab 4 — Pelanggan Ukuran S
- 5 Bab 5 — Serutan
- 6 Bab 6 — Sendok Pak Darsa
- 7 Bab 7 — Revisi Ketujuh
- 8 Bab 8 — Kutubaru
- 9 Bab 9 — Tolong Diam
- 10 Bab 10 — Koh Hendra Datang ke Bandung
- 11 Bab 11 — Tangan yang Luka
- 12 Bab 12 — Harga Penuh
- 13 Bab 13 — Jati yang Baru Diampelas reading
- 14 Bab 14 — Pak Bram
- 15 Bab 15 — Pegang yang Benar
- 16 Bab 16 — Truk Pengiriman
- 17 Bab 17 — Mitos
- 18 Bab 18 — Kontrak Lembang
- 19 Bab 19 — Stapler Biru
- 20 Bab 20 — Tempat Orang Berhenti
- 21 Bab 21 — Ridwan dan TikTok
- 22 Bab 22 — Rooftop
- 23 Bab 23 — Undangan
- 24 Bab 24 — Kebaikan yang Salah Tempat
- 25 Bab 25 — Brokat Bukan Merek Lem
- 26 Bab 26 — Struk
- 27 Bab 27 — Tulisan Tangan
- 28 Bab 28 — Aku Cuma Beli Waktu
- 29 Bab 29 — Biasa Aja, Pram?
- 30 Bab 30 — Loteng
- 31 Bab 31 — Giliranku
- 32 Bab 32 — Cicilan Pertama
- 33 Bab 33 — Ukuran Jas
- 34 Bab 34 — Kutubaru untuk Satu Orang
- 35 Bab 35 — Bapak Juga Nggak
- 36 Bab 36 — Harga Penuh, Tanpa Cicilan
- 37 Bab 37 — Lima Tahun Menahan Diri
- 38 Bab 38 — Pembeli Pertamaku
- 39 Bab 39 — Nggak Ada yang Biasa Aja
- 40 Epilog — Rumah dari Kayu