← Pembeli Pertamamu

Chapter Fourteen

Bab 14 — Pak Bram

POV: Dara

Rumah Ayah di Setiabudi selalu wangi lilin aromaterapi lavender dan kertas koran.

Lavender untuk Ibu, yang percaya bahwa wangi bisa menenangkan rumah. Koran untuk Ayah, yang masih berlangganan tiga koran cetak di zaman ketika semua orang membaca berita di ponsel, dan membaca ketiganya setiap pagi dari halaman pertama sampai halaman terakhir, termasuk iklan duka cita.

Aku berdiri di depan pintu kayu jati berukir itu selama lima menit sebelum menekan bel.

“Sayang!” Ibu membuka pintu dengan celemek masih terpasang dan memelukku sebelum aku sempat bicara. Wanginya bawang goreng dan bedak bayi. “Ya ampun, kamu kurusan. Tiwi bilang kamu makan mi instan terus.”

“Tiwi lapor ke Ibu?”

“Tiwi itu anak baik. Dia khawatir sama kamu.” Ibu melepaskan pelukannya dan menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Kamu cantik banget malam ini. Bajunya baru?”

“Dari koleksi show.”

“Bagus. Bagus sekali.” Ibu merapikan kerah blusku dengan jari-jarinya yang selalu sedikit dingin. Lalu, lebih pelan: “Ayahmu di ruang makan. Dia... ya, kamu tahu Ayahmu.”

Aku tahu Ayahku.


Makan malamnya sop buntut, perkedel kentang, dan sambal goreng ati. Semua makanan kesukaanku waktu kecil. Ibu selalu memasak ini kalau aku pulang, seperti mantra yang bisa mengembalikan aku jadi anak sepuluh tahun yang tidak pernah membantah.

Ayah duduk di kepala meja. Kemeja batik lengan panjang, kacamata baca di ujung hidung, rambut yang mulai putih disisir ke samping. Ia menatapku sekilas ketika aku duduk, mengangguk, lalu kembali menyendok sop.

“Gimana kantor, Yah?” tanyaku.

“Biasa. Rapat direksi. Laporan kuartal.” Ayah menyuap. “Bank lagi rekrut lulusan baru. Programnya bagus. Gaji awal lumayan.”

“Bram,” kata Ibu pelan.

“Bapak cuma cerita.” Ayah tidak mengangkat kepala. “Sepupumu Raka masuk tahun lalu. Sekarang udah supervisor. Umurnya lebih muda dari kamu.”

“Bagus buat Raka,” kataku.

“Iya. Bagus.” Ayah menyuap lagi. “Stabil.”

Aku menatap sop di mangkukku. Potongan buntut sapi yang empuk. Wortel yang dipotong bentuk bunga, karena dulu aku tidak mau makan wortel kecuali bentuknya bunga, dan Ibu masih memotongnya seperti itu sampai sekarang.

“Show-nya lima minggu lagi, Yah,” kataku. “Di Gedung Merdeka. Aku udah kirim undangannya ke rumah.”

“Bapak terima.”

“Ayah datang?”

Ayah meletakkan sendoknya. Ia melepas kacamata baca, melipatnya, dan meletakkannya di samping piring. Itu gerakan yang selalu ia lakukan sebelum mengatakan sesuatu yang penting. Waktu aku kecil, gerakan itu membuatku berhenti bernapas. Sekarang, umurku dua puluh delapan, dan gerakan itu masih membuatku berhenti bernapas.

“Berapa biayanya?” tanyanya.

“Yah...”

“Bapak tanya serius. Gedung Merdeka. Panggung kayu custom. Lighting. Model. Undangan. Berapa?”

Aku menyebutkan angkanya. Ibu menutup mulutnya sedikit. Ayah tidak bereaksi.

“Itu tabunganmu?”

“Sebagian. Sisanya dari sponsor.”

“Sebagian tabunganmu.” Ayah mengangguk pelan. “Untuk satu malam.”

“Bukan untuk satu malam, Yah. Untuk lima tahun. Untuk merayakan...”

“Merayakan apa, Dara?” Suara Ayah tidak naik. Ayah tidak pernah menaikkan suara. Itu yang membuatnya lebih buruk. “Kamu bikin baju. Bapak tahu kamu bikin baju bagus. Ibumu pakai kebayamu ke arisan, semua temannya tanya. Tapi lima tahun ini, berapa yang sudah kamu tabung? Berapa asetmu? Kalau besok tren berubah, kalau orang berhenti beli, kamu punya apa?”

“Aku punya brand, Yah. Aku punya gedung. Aku punya dua belas penjahit yang...”

“Gedung itu kamu sewa.”

“Aku cicil.”

“Masih dua puluh tahun lagi.” Ayah menatapku, dan untuk pertama kalinya malam itu, ada sesuatu di matanya yang bukan sekadar keras. Ada sesuatu yang lelah. “Dara, Bapak cuma mau kamu aman. Itu saja. Dunia fashion itu nggak stabil. Satu musim kamu di atas, musim berikutnya kamu dilupakan. Bapak sudah lihat terlalu banyak orang...”

“Aku nggak dilupakan, Yah.”

“Belum.”

Kata itu jatuh di meja seperti piring yang pecah.

Aku meletakkan sendokku. Pelan. Aku tidak mau terlihat marah. Aku tidak pernah mau terlihat marah di depan Ayah, karena kalau aku marah, Ayah akan bilang aku emosional, dan kalau aku emosional, Ayah akan bilang itu bukti bahwa aku tidak siap untuk dunia yang keras.

“Lima tahun lalu,” kataku, “Ayah bilang aku harus berhenti. Bazar gagal. Nggak ada yang beli. Ayah bilang itu tanda.”

“Dan kamu nggak berhenti.”

“Karena ada butik di Singapura yang beli semuanya, Yah. Empat puluh dua potong. Harga penuh. Orang yang nggak kenal aku sama sekali, yang cuma lihat bajuku, dan mutusin itu layak dibeli.” Suaraku bergetar. Aku menahannya. “Itu bukti, Yah. Bukti bahwa aku nggak cuma keras kepala. Bahwa aku memang bagus.”

Ayah menatapku lama. Lalu ia mengambil kacamatanya lagi, membukanya, dan memasangnya kembali di hidung.

“Satu butik,” katanya pelan. “Di Singapura. Lima tahun lalu. Yang kamu bilang sendiri, kamu nggak pernah ketemu orangnya. Yang sekarang emailnya udah nggak aktif.”

Aku tidak bernapas.

“Dan kamu jadikan itu landasan hidupmu.”

“Bram.” Suara Ibu, kali ini tidak pelan.

“Bapak nggak bilang itu salah.” Ayah kembali menyendok sop. “Bapak cuma bilang, hati-hati menggantungkan seluruh hidup di satu paku, Dara. Kalau pakunya copot, semua jatuh.”


Aku pulang jam sembilan. Ibu mengantarku sampai mobil, memelukku lama, membisikkan Ayahmu sayang kamu, dia cuma nggak tahu cara ngomongnya. Aku mengangguk. Aku sudah mendengar kalimat itu sejak umur tujuh belas.

Aku menyalakan mesin. Aku seharusnya pulang ke apartemenku di Dago. Belok kiri di ujung Setiabudi, lurus, belok kanan di Dago.

Aku belok kanan di Setiabudi.

Aku tidak memikirkannya. Tanganku cuma memutar setir, kakiku cuma menekan gas, dan dua puluh menit kemudian aku sudah di jalan kecil yang menurun di Cigadung, melewati kebun singkong yang gelap dan rumah-rumah warga dengan lampu teras kuning.

Workshop itu masih terang.

Satu lampu, di bagian belakang. Lampu meja kerja. Dari jendela, aku bisa melihat siluet seseorang yang membungkuk di atas sesuatu.

Aku mematikan mesin dan duduk di mobil selama lima menit. Aku tidak tahu kenapa aku di sini. Aku tidak tahu apa yang akan kukatakan. Jam setengah sepuluh malam, hari Sabtu, aku datang ke workshop vendor kayu tanpa alasan, dengan mata yang sudah panas sejak Setiabudi.

Lalu pintu workshop terbuka.

Prama berdiri di ambang pintu, siluet besar dengan cahaya kuning di belakangnya. Ia memakai kaus abu-abu dan celemek kerja. Dan di tangannya, sarung tangan kerja ukuran XL yang kubelikan minggu lalu.

Ia memakainya.

Ia tidak berjalan ke mobilku. Ia cuma berdiri di sana, di ambang pintu, menunggu. Ia tidak bertanya. Ia tidak melambai. Ia cuma berdiri, seperti pintu itu sendiri yang terbuka.

Aku keluar dari mobil.


Ia tidak bertanya apa pun.

Ia cuma menyingkir dari pintu supaya aku bisa masuk, lalu menutupnya pelan di belakangku. Ia melepas sarung tangannya, meletakkannya di meja, lalu berjalan ke dapur kecil di belakang. Aku mendengar suara air dituang ke ketel. Suara kompor dinyalakan.

Aku duduk di meja panjang dekat jendela, di kursi yang sekarang entah bagaimana sudah terasa seperti kursiku. Di meja kerjanya, di bawah lampu, ada kusen pintu mahoni dengan ukiran melati yang sudah hampir selesai. Bekas darah di kelopak melati yang dulu sudah diampelas bersih. Tidak ada jejak sama sekali.

Ia kembali dengan teh dalam cangkir sonokeling. Ia meletakkannya di depanku, lalu duduk di kursi di seberang meja. Jarak satu meja.

Ia tidak bertanya.

Aku memegang cangkir itu dengan dua tangan. Hangatnya meresap ke kayu, lalu ke telapak tanganku. Aku menatap uap yang naik dari permukaan teh.

Lima menit. Sepuluh menit. Ia tidak bertanya. Ia cuma duduk di sana, diam, menatap ukiran melati di kusen pintu, sesekali menyentuhnya dengan ujung jari seolah memeriksa sesuatu.

Akhirnya aku yang bicara.

“Ayahku bilang aku menggantungkan seluruh hidupku di satu paku.”

Ia mengangkat kepala.

“Maison Lumière.” Aku tertawa, tapi tawaku pecah di tengah. “Butik di Singapura yang beli koleksi pertamaku. Ayah bilang aku jadikan itu landasan hidupku. Satu butik yang aku nggak pernah ketemu orangnya. Kalau pakunya copot, semua jatuh.”

Wajahnya berubah. Sangat sedikit. Seperti kayu yang retak di bagian dalam tapi permukaannya masih utuh.

“Dan yang paling nyebelin,” lanjutku, dan sekarang suaraku benar-benar gemetar, “dia benar. Ayahku benar. Aku memang menggantungkan semuanya di situ. Setiap kali aku ragu, setiap kali aku mikir aku nggak cukup bagus, aku lihat kartu itu. Teruskan. Dunia butuh bajumu. Dan aku terus. Karena ada satu orang di dunia ini yang nggak kenal aku, yang nggak punya alasan buat bohong, yang bilang aku cukup.”

Air mataku jatuh ke teh. Aku tidak mengusapnya.

“Kalau orang itu nggak pernah ada,” bisikku, “aku nggak tahu aku siapa.”

Prama tidak bergerak. Ia duduk di seberang meja, menatapku, dan di matanya ada sesuatu yang belum pernah kulihat. Bukan kasihan. Bukan simpati. Sesuatu yang jauh lebih berat. Seperti orang yang sedang memikul balok jati di bahunya dan tidak bisa meletakkannya.

Ia membuka mulut. Lalu menutupnya.

Ia membuka mulut lagi.

“Dara,” katanya, dan suaranya serak sekali.

Aku menunggu.

Tapi ia tidak melanjutkan. Ia cuma menatapku, dengan bibir yang setengah terbuka, dengan tangan yang mencengkeram tepi meja begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Seolah ada sesuatu yang ingin keluar dari mulutnya dan ia menahannya dengan seluruh tubuhnya.

“Mas Prama,” kataku.

“Ya.”

“Boleh peluk sebentar?”

Ia membeku.

“Jangan tanya kenapa,” tambahku.

Hening. Lama. Lampu meja kerja berdengung pelan. Di luar, jangkrik bernyanyi di kebun singkong.

Lalu ia berdiri.

Ia berjalan memutari meja. Pelan, seperti orang yang berjalan di atas papan yang mungkin patah. Ia berhenti di sampingku. Aku berdiri juga, dan sekarang kami berhadapan, tanpa meja di antara kami, tanpa jarak satu meja, tanpa apa pun.

Ia mengangkat tangannya. Ragu. Berhenti di udara.

Aku tidak menunggu lagi. Aku melangkah maju dan memeluknya.

Ia kaku. Seluruh tubuhnya kaku, seperti balok kayu. Tangannya masih terangkat di udara, di samping tubuhku, tidak tahu harus diletakkan di mana. Dadanya keras di bawah pipiku. Ia wangi jati dan sabun murah dan teh, dan aku bisa mendengar jantungnya berdentum, keras, cepat, kacau.

Lalu, pelan, sangat pelan, tangannya turun.

Satu tangan di punggungku. Lalu yang lain. Ragu-ragu, seperti orang yang belum pernah memeluk siapa pun. Lalu, ketika aku tidak menarik diri, ketika aku malah menekan wajahku lebih dalam ke dadanya, lengannya melingkariku sepenuhnya.

Ia memelukku. Erat. Sangat erat. Seperti orang yang sudah menahan sesuatu sangat lama dan akhirnya berhenti menahan.

Aku menangis. Tanpa suara, ke kaus abu-abunya, yang wangi jati. Ia tidak bilang jangan nangis. Ia tidak bilang semuanya akan baik-baik saja. Ia cuma memelukku, dan satu tangannya naik ke belakang kepalaku, dan jari-jarinya yang kasar menyentuh rambutku dengan sangat pelan, seperti menyentuh serat kayu yang paling rapuh.

Aku tidak tahu berapa lama. Cukup lama sampai air mataku berhenti. Cukup lama sampai jantungnya, di bawah telingaku, perlahan melambat. Cukup lama sampai aku merasakan dagunya bersandar sangat ringan di puncak kepalaku.

“Dara,” bisiknya, ke rambutku.

“Hm.”

“Kamu cukup.”

Dua kata. Pelan, serak, seperti keluar dari tempat yang sangat dalam.

“Kamu nggak butuh paku,” lanjutnya. “Kamu jati. Kamu tumbuh pelan, makanya kuat. Kamu nggak akan jatuh.”

Aku memejamkan mata dan memeluknya lebih erat.

Aku pulang jam sebelas.

Ia mengantarku sampai mobil, tapi tidak lebih. Ia berdiri di samping pintu pengemudi sampai aku duduk dan memasang sabuk pengaman, lalu menepuk atap mobilku dua kali, pelan, seperti cara orang tua menepuk bahu anaknya sebelum berangkat sekolah.

“Hati-hati,” katanya.

Aku mengangguk dan menyalakan mesin.

Di jalan kecil yang menurun dari Cigadung, aku melihat sorotan lampu di kaca spion. Lampu bulat dan kuning, agak redup di sebelah kiri. Lampu mobil pikap tua.

Ia mengikutiku.

Tidak dekat. Jaraknya jauh, cukup jauh sehingga kalau aku tidak memperhatikan, aku tidak akan sadar. Ia mengikutiku melewati kebun singkong, melewati jalan raya yang sepi, melewati lampu merah yang berkedip kuning di jam sebelas malam. Ia tidak menyalakan klakson. Ia tidak menyusulku. Ia cuma ada di sana, di spionku, seperti bintang yang tidak mau mendekat.

Di ujung Jalan Dago, ketika aku berbelok masuk ke parkiran apartemenku, lampu pikap itu berhenti di pinggir jalan.

Aku memarkir mobil. Aku keluar. Aku berdiri di samping mobilku dan menoleh ke jalan.

Lampu pikap itu masih di sana. Menyala. Menunggu.

Aku mengangkat tangan, pelan, dan melambai.

Lampu pikap itu berkedip sekali. Lalu berbalik, dan menghilang ke arah Cigadung.

Aku berdiri di parkiran lama sekali, memeluk diriku sendiri di udara dingin, sampai satpam apartemen keluar dari posnya dan bertanya apakah aku baik-baik saja.

“Baik, Pak,” kataku. Dan untuk pertama kalinya malam itu, itu benar.

Malam itu, aku tidak tahu bahwa laki-laki yang memelukku sedang memeluk rahasia yang bisa menghancurkan semua yang baru saja kuceritakan padanya. Aku tidak tahu bahwa setiap kata yang kuucapkan tentang Maison Lumière adalah pahat yang menancap di tangannya.

Malam itu, aku cuma tahu bahwa ia wangi jati, bahwa lengannya hangat, dan bahwa untuk pertama kalinya sejak umur tujuh belas, seseorang bilang aku cukup, dan aku percaya.