Chapter Thirty Four
Bab 34 — Kutubaru untuk Satu Orang
POV: Prama
Lima hari sebelum show, Dara tidak datang ke workshop.
Ia mengirim pesan jam sembilan pagi. Mas, hari ini aku nggak ke Cigadung. Ada yang harus aku selesaikan. Jangan cari aku.
Lalu, satu menit kemudian:
Jangan khawatir. Bukan hal buruk. Janji.
Aku membaca pesan itu sebelas kali. Aku tahu itu sebelas kali karena Sasa menghitung, dari meja admin, setiap kali aku mengeluarkan ponsel dari saku, menatapnya, lalu memasukkannya kembali.
“Sebelas, A,” katanya akhirnya, jam dua siang. “A udah buka HP sebelas kali dalam lima jam. Itu lebih sering dari Ridwan buka TikTok.”
“Aku nggak buka TikTok,” protes Ridwan dari tangga.
“Kamu buka TikTok tiap tiga menit, Wan.”
“Itu riset!”
Aku memasukkan ponsel ke saku untuk kedua belas kalinya dan kembali ke pekerjaanku. Rak kayu untuk ruang ganti di belakang panggung Gedung Merdeka. Enam rak, masing-masing dua meter, untuk menggantung seratus dua puluh potong baju yang akan dipakai model malam itu. Aku memasangnya di workshop dulu, berdiri di tangga lipat, mengencangkan baut-baut di bagian atas, sebelum nanti dibongkar dan diangkut.
Aku tidak bisa berhenti memikirkan pesannya. Ada yang harus aku selesaikan.
Lima hari sebelum show. Aku tahu jadwalnya. Fitting terakhir. Gladi resik. Rapat dengan tim lighting. Wawancara pra-acara. Ia tidak punya waktu untuk menyelesaikan apa pun di luar itu.
Kecuali kalau ia sedang menyelesaikan sesuatu yang lain.
Sesuatu yang tidak ingin kulihat sampai jadi.
Aku tahu rasanya. Lima tahun aku melakukannya.
Matahari turun pelan di atas kebun singkong. Langit Cigadung berubah dari biru ke jingga ke ungu tipis di pinggir. Mang Ujang menyalakan lampu-lampu workshop satu per satu. Pak Darsa, yang datang sejak siang, duduk di bangkunya dengan sendok setengah jadi dan kantong plastik berisi kayu sawo.
Aku masih di tangga lipat, rak keenam, baut terakhir.
Radio dangdut memainkan lagu tentang kampung halaman. Mang Ujang ikut bernyanyi dengan suara yang tidak pernah tepat nada. Ridwan menggerutu bahwa telinganya sakit. Sasa menyuruh Ridwan diam. Tiga tukang baru, yang sudah tidak terlalu baru lagi setelah tiga minggu, tertawa di meja panjang sambil mengemas cangkir sonokeling untuk pesanan Bali.
Semuanya biasa. Senja biasa di Kayuku.
Lalu suara mobil berhenti di halaman.
Aku mengenal suara mesin itu. Aku akan mengenalnya di antara seribu mobil lain. Tanganku berhenti di atas baut terakhir.
Pintu mobil terbuka. Tertutup.
Langkah kaki di halaman. Bukan langkah sepatu kanvas. Langkah yang lebih pelan. Lebih hati-hati. Langkah orang yang memakai sesuatu yang tidak biasa ia pakai.
Mang Ujang berhenti bernyanyi.
Lalu Sasa menjatuhkan stapler. Lalu Ridwan berdiri di tangga dengan mulut terbuka. Lalu tiga tukang baru berhenti mengemas cangkir, satu per satu, seperti domino.
Lalu Pak Darsa, di bangku dekat pintu, menjatuhkan sendoknya.
Aku menoleh ke pintu.
Ia berdiri di ambang pintu workshop, dengan langit ungu senja di belakangnya.
Kebaya.
Kebaya kutubaru. Brokat putih tulang, warna seperti melati yang baru mekar, dengan bordir halus di sepanjang tepi yang hanya terlihat ketika cahaya lampu kuning workshop jatuh di atasnya. Kancingnya tiga, kecil, kayu. Bukan peniti emas atau kancing mutiara seperti kebaya pesta. Kancing kayu. Sonokeling. Ungu kehitaman.
Di bagian depan, bef kutubaru yang menyambungkan kedua sisi kebaya, sederhana, rata, tanpa hiasan apa pun. Persis seperti kebaya yang dipakai perempuan untuk pergi ke pasar jam tiga pagi.
Kainnya batik Mega Mendung. Biru dan putih. Awan-awan yang berlapis, bertumpuk, seperti langit sebelum hujan. Dililit sampai mata kaki.
Rambutnya disanggul. Rendah, longgar, di belakang kepala. Beberapa helai terlepas, membingkai wajahnya, jatuh di lehernya. Dan di sanggul itu, terselip di samping, satu kuntum melati putih. Segar. Baru dipetik.
Wajahnya hampir tanpa riasan. Sedikit merah di bibir. Sedikit bayangan di mata. Lesung pipitnya muncul ketika ia tersenyum, ragu, seperti orang yang tidak yakin apakah ia baru saja melakukan hal yang benar.
Matanya cokelat. Di bawah lampu kuning, jati yang baru diampelas.
Aku tidak tahu bahwa aku bergerak. Aku tidak tahu bahwa kakiku menginjak anak tangga yang salah. Aku cuma tahu tiba-tiba lantai tangga lipat itu tidak ada di bawah sepatuku, dan aku jatuh ke samping, dan tanganku menyambar hal terdekat, rak kayu dua meter yang baru selesai kupasang.
Rak itu ikut miring.
“A!”
“AA!”
Mang Ujang melompat dari kursinya lebih cepat dari yang seharusnya mungkin untuk lelaki lima puluh delapan tahun. Sasa berlari dari meja admin. Mereka berdua menyambar sisi bawah rak tepat sebelum rak itu jatuh, dan menahannya dengan seluruh berat badan mereka, berteriak dalam dua bahasa sekaligus.
“Tahan, Sa! Tahan!”
“Aku tahan, Mang! Aku tahan! Ya Allah, beratnya!”
Aku tergantung di sisi rak dengan satu tangan, kaki di udara, tangan yang lain masih memegang kunci pas. Ridwan sudah mengangkat ponselnya. Ia merekam. Lampu kecil di belakang ponselnya menyala merah.
“RIDWAN!” teriak Mang Ujang, Sasa, dan Pak Darsa bersamaan.
Pak Darsa, yang tujuh puluh tahun kurang tujuh, bangkit dari bangkunya, berjalan tiga langkah, merebut ponsel Ridwan dari tangannya, dan memasukkannya ke saku kemeja batiknya. Semua itu tanpa sepatah kata pun. Lalu ia kembali duduk dan memungut sendoknya dari lantai.
Aku menurunkan kakiku pelan-pelan ke anak tangga. Mang Ujang dan Sasa mendorong rak itu kembali tegak. Rak itu berdiri, sedikit goyang, lalu diam.
Aku turun. Satu anak tangga. Dua. Tiga. Lantai semen.
Aku berdiri di sana. Kunci pas masih di tanganku. Aku tidak tahu harus meletakkannya di mana.
Ia masih di ambang pintu. Ia tidak bergerak selama semua kekacauan itu. Ia cuma berdiri, dengan tangan di dada, menatapku dengan mata yang membesar dan bibir yang menahan tawa.
Aku berjalan ke arahnya.
Aku tidak ingat berjalan. Aku cuma ingat bahwa tiba-tiba ia ada di depanku. Cukup dekat sehingga aku bisa mencium melati di sanggulnya. Cukup dekat sehingga aku bisa melihat bordir halus di tepi kebayanya, dan kancing-kancing kayu sonokeling, dan bef kutubaru yang rata dan sederhana.
Aku membuka mulut. Tidak ada yang keluar.
Aku mencoba lagi. Tidak ada.
Mataku panas. Aku tidak bisa menghentikannya. Sesuatu naik dari dadaku, dari tempat yang sangat dalam, dari pasar Kosambi jam tiga pagi dan kaleng bekas cat berisi melati di depan rumah kecil di Garut, dan menyumbat tenggorokanku.
“Ibu...” kataku. Suaraku pecah. Aku menelan. “Ibu pasti suka kamu.”
Ia menatapku. Senyumnya berubah. Tidak lagi ragu. Lembut. Pelan.
Lalu ia mengangkat tangannya, dan menyentuh wajahku. Ibu jarinya mengusap pipiku, di bawah mata, tempat sesuatu yang basah mulai jatuh.
“Aku nggak dandan buat ibumu, Pram,” katanya pelan.
Ia melangkah lebih dekat.
“Aku dandan buat kamu.”
Di belakangku, aku mendengar sesuatu.
Isak tangis. Bukan Sasa, kali ini. Bukan Mang Ujang.
Bapak.
Aku menoleh. Pak Darsa duduk di bangkunya dekat pintu, dengan sendok di tangan dan ponsel Ridwan di saku, dan menangis. Air mata mengalir di pipinya yang keriput, menghilang di kerah kemeja batiknya. Ia tidak mengusapnya. Ia cuma menatap Dara, kebaya kutubaru, kain Mega Mendung, melati di sanggul.
“Siga indungna,” bisiknya. “Ya Allah. Siga indungna pisan.”
Seperti ibunya. Seperti Ibu.
Mang Ujang menghampiri Bapak dan menepuk bahunya. Pelan. Ia sendiri juga menangis, kumisnya basah. Sasa memeluk Ridwan, yang tidak protes untuk pertama kalinya. Tiga tukang baru berdiri di dekat meja panjang dengan wajah orang yang tidak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi, tapi tahu bahwa itu penting.
Dara menurunkan tangannya dari wajahku. Ia menatap Bapak. Lalu, pelan, ia berjalan melewatiku, ke bangku dekat pintu, dan berlutut di depan Bapak. Kain Mega Mendung terlipat di lantai semen.
“Pak,” katanya. “Aku bikin ini sendiri. Kebaya pertama yang aku bikin buat diriku sendiri. Lima tahun aku jahit baju buat orang lain. Ini yang pertama buat aku.”
Bapak menatapnya. Lalu, dengan tangan yang gemetar, ia menyentuh lengan kebaya itu. Brokat putih tulang. Seperti menyentuh sesuatu yang sudah lama hilang.
“Kancingna kai,” katanya.
“Sonokeling, Pak. Sisa dari kancing jas Pram. Aku pahat sendiri.”
Bapak tertawa di antara tangisnya. Tawa kecil, serak, basah.
“Indungna Prama oge kancing kebayana kai,” katanya. “Bapak nu nyieun. Taun dalapan puluh dalapan. Waktu nikah.”
Aku tidak tahu itu. Aku tidak pernah tahu itu.
Dara menatapku dari tempatnya berlutut. Matanya basah. Ia tidak tahu itu juga. Ia memilih kancing kayu karena alasannya sendiri. Dan ternyata, tiga puluh delapan tahun yang lalu, seorang tukang kayu muda di Garut memahat kancing kayu untuk kebaya perempuan yang ia cintai.
Seperti lingkaran. Seperti serat kayu yang melingkar di cincin pohon. Kembali ke tempat yang sama, setiap tahun, sedikit lebih besar.
Dara berdiri dan kembali padaku.
Ia berhenti di depanku lagi. Dekat. Lebih dekat dari tadi.
“Pram,” katanya. “Kamu belum bilang apa-apa.”
Aku menatapnya. Kebaya kutubaru. Melati di sanggul. Kancing sonokeling yang ia pahat dari sisa kancingku. Wajahnya yang hampir tanpa riasan, yang tetap membuat seluruh workshop berhenti.
Dan aku mengatakannya. Untuk pertama kalinya, tanpa menyaring. Tanpa saya.
“Kamu nggak adil.”
Ia berkedip.
“Aku cuma tukang kayu,” kataku. Suaraku serak, rendah, tidak lagi bisa kukendalikan. “Dari Cigadung. Dengan pikap tua yang lampu kirinya redup. Dan kamu dandan kayak gitu. Buat aku.”
Ia menahan napas.
Aku. Bukan saya. Ia mendengarnya. Aku melihat ia mendengarnya. Matanya membesar, lalu berkilau, lalu basah.
“Aku nggak bisa napas, Dara,” kataku. “Dari tadi. Dari kamu berdiri di pintu. Aku jatuh dari tangga. Rak hampir roboh. Bapakku nangis. Dan aku masih nggak bisa napas.”
“Kalau gitu,” bisiknya, dan ia mengangkat kedua tangannya, dan meletakkannya di dadaku, di atas saku kiri, “jangan napas dulu.”
Aku tidak menunggu lagi.
Aku menunduk dan menciumnya.
Bukan seperti di workshop empat hari lalu, ketika ia yang mencium duluan dan aku yang membeku. Bukan pelan. Bukan ragu.
Aku menciumnya seperti orang yang sudah menahan diri terlalu lama. Seperti lima tahun yang akhirnya pecah. Tanganku di pinggangnya, di atas brokat putih tulang, lalu di punggungnya, menariknya lebih dekat, sampai tidak ada ruang lagi di antara kami. Tangannya naik dari dadaku ke leherku, ke belakang kepalaku, jari-jarinya menyusup di rambutku.
Ia membalas. Dalam. Tidak pelan. Ia mengeluarkan suara kecil di bibirku, dan aku merasakannya sampai ke tulang.
Aku memiringkan kepala. Ia mengikuti. Seperti dua potong kayu yang dipotong dari balok yang sama, yang seratnya cocok, yang tidak perlu paku untuk menyatu.
Aku tidak tahu berapa lama. Aku tidak peduli.
Ketika akhirnya kami berhenti, kami tidak berhenti benar-benar. Dahiku bersandar di dahinya. Napas kami bercampur, pendek-pendek, tidak teratur. Melati di sanggulnya sedikit miring. Aku mengulurkan tangan dan membetulkannya, pelan, dengan jari-jari yang gemetar.
“Pram,” bisiknya.
“Hm.”
“Itu bukan cicilan.”
“Bukan?”
“Itu...” Ia tertawa kecil, napasnya masih belum teratur. “Itu pelunasan setengah.”
Aku tertawa. Dahiku masih di dahinya. Tawaku bergetar di wajahnya, dan ia tertawa juga, dan untuk satu momen, cuma ada kami. Tidak ada workshop. Tidak ada Mang Ujang dan Sasa dan Ridwan dan tiga tukang baru dan Bapak yang menangis di bangkunya.
Lalu, dari belakang, suara Ridwan. Pelan. Putus asa.
“Pak Darsa. Ponselku. Plis. Sedetik aja. Ini konten paling penting dalam sejarah Kayuku.”
“Moal,” kata Bapak, tegas, masih dengan suara basah. “Ieu mah lain konten. Ieu mah kenangan.”
Dara tertawa lebih keras, di dadaku. Aku memeluknya. Erat. Dengan dua tangan. Tanpa ragu.
Di atas kepalanya, aku melihat rak kayu yang hampir roboh tadi, berdiri sedikit miring di tengah workshop. Aku harus memperbaikinya besok. Bautnya pasti ada yang lepas.
Tapi tidak malam ini.
Malam ini, aku cuma ingin berdiri di sini, dengan perempuan berkebaya kutubaru di pelukanku, di workshop yang bau jati dan melati, dan bernapas.
Akhirnya, bernapas.
- 1 Bab 1 — Order Pertama
- 2 Bab 2 — Loteng
- 3 Bab 3 — Vendor yang Tidak Mau Menatap
- 4 Bab 4 — Pelanggan Ukuran S
- 5 Bab 5 — Serutan
- 6 Bab 6 — Sendok Pak Darsa
- 7 Bab 7 — Revisi Ketujuh
- 8 Bab 8 — Kutubaru
- 9 Bab 9 — Tolong Diam
- 10 Bab 10 — Koh Hendra Datang ke Bandung
- 11 Bab 11 — Tangan yang Luka
- 12 Bab 12 — Harga Penuh
- 13 Bab 13 — Jati yang Baru Diampelas
- 14 Bab 14 — Pak Bram
- 15 Bab 15 — Pegang yang Benar
- 16 Bab 16 — Truk Pengiriman
- 17 Bab 17 — Mitos
- 18 Bab 18 — Kontrak Lembang
- 19 Bab 19 — Stapler Biru
- 20 Bab 20 — Tempat Orang Berhenti
- 21 Bab 21 — Ridwan dan TikTok
- 22 Bab 22 — Rooftop
- 23 Bab 23 — Undangan
- 24 Bab 24 — Kebaikan yang Salah Tempat
- 25 Bab 25 — Brokat Bukan Merek Lem
- 26 Bab 26 — Struk
- 27 Bab 27 — Tulisan Tangan
- 28 Bab 28 — Aku Cuma Beli Waktu
- 29 Bab 29 — Biasa Aja, Pram?
- 30 Bab 30 — Loteng
- 31 Bab 31 — Giliranku
- 32 Bab 32 — Cicilan Pertama
- 33 Bab 33 — Ukuran Jas
- 34 Bab 34 — Kutubaru untuk Satu Orang reading
- 35 Bab 35 — Bapak Juga Nggak
- 36 Bab 36 — Harga Penuh, Tanpa Cicilan
- 37 Bab 37 — Lima Tahun Menahan Diri
- 38 Bab 38 — Pembeli Pertamaku
- 39 Bab 39 — Nggak Ada yang Biasa Aja
- 40 Epilog — Rumah dari Kayu