← Pembeli Pertamamu

Chapter Eight

Bab 8 — Kutubaru

POV: Prama

Hujan di Cigadung tidak pernah datang dengan sopan.

Ia tidak memberi tanda dengan gerimis. Langit cuma menggelap pelan-pelan sepanjang sore, dan tepat ketika Dara selesai memeriksa pintu mahoni yang sudah dipasangi kaca patri berbentuk embun, tepat ketika ia mengambil kunci mobil dan berkata aku pulang dulu ya, langit runtuh.

Bukan hujan. Air terjun. Atap seng di bagian belakang workshop berbunyi seperti dipukuli seribu tangan. Halaman depan berubah jadi sungai cokelat dalam lima menit. Jalan kecil yang menurun ke arah Dago, yang memang selalu banjir kalau hujan deras, sudah tidak terlihat lagi.

Dara berdiri di ambang pintu, menatap mobilnya yang separuh bannya terendam.

“Oh,” katanya.

“Biasanya reda satu jam,” kataku.

“Biasanya?”

“Kadang dua jam.”

“Kadang?”

“Pernah empat.”

Ia menoleh padaku dengan alis terangkat. Aku menatap mobilnya, karena itu lebih aman daripada menatap wajahnya.

Di belakang kami, di bangku panjang dekat dinding, Mang Ujang sudah menyalakan radio, membuka termos kopi, dan meluruskan kakinya dengan ekspresi orang yang sudah sangat siap terjebak hujan. Sasa sudah pulang jam tiga karena ada urusan keluarga. Ridwan pulang jam empat, sebelum hujan, sambil mengeluh soal sinyal.

Jadi cuma kami bertiga. Aku, Dara, dan Mang Ujang. Yang, dalam waktu lima belas menit setelah kopinya habis, tertidur di bangku panjang dengan mulut terbuka dan dengkuran yang bersaing dengan suara hujan.


Aku memasak mi instan di kompor kecil di dapur belakang workshop, karena itu satu-satunya makanan yang ada dan karena aku butuh sesuatu untuk dikerjakan dengan tangan.

Dara duduk di meja panjang dekat jendela, memeluk lututnya di atas kursi, menatap hujan. Ia melepas sepatunya. Kakinya yang telanjang terlihat kecil di atas kursi kayu yang besar.

Aku meletakkan dua mangkuk di depannya. Mi kuah, telur setengah matang, potongan cabai rawit, dan sedikit daun bawang yang kutemukan di kebun belakang.

“Kamu masak?” tanyanya, terdengar heran.

“Cuma mi.”

“Cuma mi dengan telur setengah matang yang kuningnya masih meleleh dan daun bawang yang kamu petik di tengah hujan.” Ia menatap rambutku yang basah di ujung-ujungnya. “Kamu keluar tadi? Ke kebun? Hujan-hujan?”

“Sebentar.”

“Buat daun bawang.”

“Mi tanpa daun bawang itu nggak lengkap.”

Ia menatapku lama, dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. Lalu ia menunduk dan mulai makan, pelan, meniup setiap suapan.

Kami makan dalam diam. Hujan masih menderu di atap. Mang Ujang mendengkur. Radio memutar lagu dangdut lama tentang hujan dan kenangan, yang terasa terlalu tepat dan terlalu memalukan, tapi aku tidak berani berdiri untuk mematikannya karena akan membangunkan Mang Ujang.

“Dulu waktu aku bikin Embun,” katanya tiba-tiba, sambil mengaduk kuah dengan sendok, “aku makan ini tiap malam. Tiga bulan. Mi instan, telur, kadang nggak pakai telur kalau akhir bulan. Kos-ku nggak boleh masak, jadi aku pakai pemanas air.”

“Di Sekeloa?”

Ia mendongak. Aku menggigit lidahku sendiri.

“Kok tahu?”

“Banyak kos mahasiswa di Sekeloa,” kataku cepat. “Tebakan.”

“Iya, Sekeloa.” Ia kembali mengaduk, untungnya tidak curiga. “Kamarku dua kali tiga meter. Mesin jahit di atas meja belajar. Kain-kain digantung di jemuran dalam kamar. Ibu kos-ku sering ngomel karena mesin jahitnya bunyi jam tiga subuh.”

Aku membayangkannya. Kamar kecil di Sekeloa. Embun di jendela. Mesin jahit yang berdetak sebelum azan Subuh. Perempuan muda dengan rambut terurai yang menjahit empat puluh dua potong baju sendirian.

“Terus bazarnya,” lanjutnya, lebih pelan. “Bazar di Sabuga. Kamu pernah ikut bazar di sana?”

Sendokku hampir jatuh ke mangkuk.

“Pernah,” kataku. “Dulu. Sekali-dua kali.”

“Aku cuma sekali. Yang pertama dan terakhir.” Ia tersenyum ke mangkuknya, senyum yang sedikit pahit. “Aku nggak inget banyak, sebenarnya. Aku terlalu tegang. Aku cuma inget kakiku pegal, bajuku nggak ada yang laku, dan di sebelah stanku ada stan kayu.”

Jantungku berhenti.

“Stan kayu?” Suaraku entah bagaimana masih keluar.

“Iya. Jualan cangkir, tempat HP, kayak Kayuku gini.” Ia memiringkan kepala, mencoba mengingat. “Aku nggak inget namanya. Nggak inget mukanya juga. Aku cuma inget satu hal. Hari pertama, penjualnya jatuhin cangkir. Pas aku lagi ketawa sama anak kecil yang pakai topi kucing. Bunyinya keras banget, aku sampai kaget. Terus dia buru-buru mungut cangkirnya sambil nunduk, kayak malu.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Lucu ya, yang diinget malah itu,” katanya. “Kadang aku mikir, stan itu sekarang udah jadi apa. Mungkin udah tutup. Mungkin udah jadi besar.”

“Mungkin,” kataku. Satu kata. Cuma itu yang bisa keluar.

Ia mengangguk dan kembali makan. Aku menatap mangkukku, menatap kuah yang sudah tidak berasap, dan berusaha mengingat cara menelan.

Lima tahun. Ia tidak ingat wajahku. Ia tidak ingat namaku. Tapi ia ingat bunyi cangkir yang jatuh. Ia ingat seseorang yang menunduk karena malu.

Aku tidak tahu apakah itu membuatku ingin tertawa atau menangis.

“Mas Prama,” katanya ketika mangkuknya sudah setengah kosong.

“Ya.”

“Bapakmu cerita. Minggu lalu. Soal ibumu.”

Sendokku berhenti di udara.

“Maaf,” katanya cepat. “Kalau kamu nggak mau...”

“Nggak apa-apa.” Aku meletakkan sendok. “Bapak cerita apa?”

“Bahwa kamu bikin peti. Buat nyimpan kebaya-kebaya ibumu. Tiga hari tiga malam.”

Aku menatap mangkukku. Kuah mi yang mulai dingin. Daun bawang yang mengambang.

Sebelas tahun. Aku tidak pernah menceritakan ini pada siapa pun. Mang Ujang tahu karena ia ada di sana. Bapak tahu karena ia Bapak. Sasa tahu sedikit, dari gosip Mang Ujang. Tapi tidak ada yang pernah bertanya. Tidak ada yang pernah duduk di seberangku, di bawah hujan, dan bertanya dengan suara selembut itu.

“Ibu jualan sayur,” kataku akhirnya. “Di Pasar Kosambi. Tiap subuh berangkat jam tiga, naik angkot pertama. Pulang jam sebelas siang.”

Dara diam. Mendengarkan. Seperti caraku mendengarkan gambarnya.

“Tiap hari Ibu pakai kebaya. Bukan kebaya pesta. Kebaya kutubaru yang biasa. Katun, warnanya pudar-pudar. Putih, krem, biru muda. Kainnya batik cap murah dari Pasar Baru. Rambutnya disanggul kecil di belakang, pakai jepit hitam.” Aku tidak sadar aku tersenyum sampai aku merasakannya di pipiku. “Tetangga bilang Ibu aneh. Jualan sayur kok pakai kebaya. Kayak mau kondangan. Ibu bilang...”

Aku berhenti. Tenggorokanku menyempit.

“Ibu bilang apa?” tanya Dara pelan.

“Ibu bilang, orang yang beli sayur di Ibu itu tamu. Masa Ibu terima tamu pakai daster.”

Dara tertawa kecil. Tawa yang lembut, yang tidak membuat siapa pun malu. Aku ikut tertawa, dan tawa itu terasa aneh di dadaku, seperti pintu yang sudah lama tidak dibuka.

“Ibumu pasti cantik,” katanya.

“Paling cantik.” Aku tidak ragu sama sekali. “Saya udah lihat banyak orang pakai banyak baju. Di televisi, di majalah, di kondangan orang kaya. Tapi buat saya, nggak ada yang lebih cantik dari kebaya kutubaru yang dipakai Ibu jam tiga pagi buat jualan sayur.”

“Kenapa?”

Aku memikirkan pertanyaan itu. Aku sudah sebelas tahun memikirkannya, sebenarnya.

“Karena itu dipakai buat hidup,” kataku. “Bukan buat dilihat. Bukan buat pesta. Ibu pakai itu buat kerja, buat nyari uang, buat nyekolahin saya. Kebayanya bolong di ketiak, jahitannya udah ditambal tiga kali. Tapi Ibu pakai dengan bangga, tiap hari, karena itu Ibu. Itu cara Ibu menghormati orang lain dan dirinya sendiri sekaligus.”

Hujan masih deras. Tapi di dalam workshop, semuanya mendadak sangat sunyi.

Ketika aku akhirnya mengangkat kepala, Dara sedang menatapku. Matanya basah. Bukan menangis. Cuma basah, berkilau di bawah lampu kuning, seperti kayu yang baru diolesi minyak.

“Itu,” katanya, suaranya sedikit bergetar, “itu persis yang selalu pengin aku bikin. Baju yang dipakai buat hidup. Bukan buat dipajang.”

“Saya tahu,” kataku, sebelum aku bisa berhenti.

Matanya menyipit sedikit. “Kamu tahu?”

Bodoh. Bodoh, bodoh, bodoh.

“Saya... lihat baju-bajumu,” kataku hati-hati. “Di katalog. Waktu riset buat panggung. Bajumu nggak kayak baju pesta. Kayak baju yang... ditungguin orang buat dipakai.”

Itu bukan bohong. Itu cuma bukan seluruh kebenaran. Aku tidak mengatakan bahwa aku tahu karena sebelas potong bajunya tergantung sepuluh meter dari tempat kami duduk, di atas tangga yang terkunci. Aku tidak mengatakan bahwa aku sudah menyentuh setiap jahitan di setiap potongnya, setiap tahun, ketika mengganti kapur barus.

Ia menatapku sebentar lagi. Lalu menunduk ke mangkuknya.

“Ditungguin orang buat dipakai,” ulangnya pelan. “Aku suka itu.”


Jam tujuh, listrik padam.

Bukan berkedip. Langsung mati. Satu detik workshop terang benderang, detik berikutnya gelap total, cuma ada suara hujan dan dengkuran Mang Ujang yang bahkan tidak terganggu.

Lalu petir.

Kilatnya putih, menerangi seluruh workshop selama sepersekian detik: balok-balok jati di langit-langit, rak-rak kayu, pintu mahoni dengan kaca embun di tengahnya. Lalu gelap lagi. Lalu suaranya, menggelegar, begitu dekat sampai jendela bergetar.

Dan sesuatu mencengkeram lengan kananku.

Tangan. Kecil. Dingin. Mencengkeram lengan bajuku dan sedikit kulit di bawahnya dengan begitu kuat sampai kukunya terasa.

Aku tidak bergerak. Aku bahkan tidak bernapas.

“Maaf,” bisik Dara dalam gelap. Suaranya dekat. Sangat dekat. Ia pasti berpindah ke kursi di sebelahku tanpa aku sadari, atau mungkin ia melompat saat petir menyambar. “Maaf. Aku... dari kecil. Petir. Aku tahu itu konyol.”

“Nggak konyol.”

“Umurku dua puluh delapan, Mas.”

“Umur nggak ada hubungannya sama petir.”

Petir lagi. Kilat putih. Dalam sepersekian detik itu, aku melihat wajahnya. Matanya terpejam rapat. Bibirnya digigit. Rambutnya yang tadi diikat sekarang terlepas sebagian, jatuh di bahuku.

Ia tidak melepaskan lenganku.

Aku tidak menariknya.

Kami duduk seperti itu dalam gelap. Ia mencengkeram lengan bajuku, aku duduk kaku seperti balok jati, dan di antara kami ada udara yang terasa terlalu tipis untuk dihirup. Setiap kali petir menyambar, cengkeramannya mengencang. Setiap kali petir reda, cengkeramannya melonggar sedikit. Tapi tidak pernah lepas.

“Ceritain sesuatu,” bisiknya. “Apa aja. Biar aku nggak denger petirnya.”

Aku mencari sesuatu di kepalaku yang tidak berbahaya. Yang tidak akan membuatku mengatakan hal-hal yang tidak boleh kukatakan.

“Jati,” kataku akhirnya. “Kamu tahu kenapa jati tahan rayap?”

“Kenapa?”

“Karena ada minyak di dalamnya. Minyak alami. Namanya tektokinon. Rayap nggak suka. Makanya jati bisa umur ratusan tahun.”

“Tektokinon,” ulangnya, suaranya masih bergetar sedikit.

“Jati juga nggak gampang melengkung. Karena seratnya rapat. Dia tumbuh pelan banget. Puluhan tahun buat jadi pohon yang bisa ditebang. Makanya kuat.”

“Tumbuh pelan, makanya kuat.”

“Iya.”

Petir lagi. Lebih jauh kali ini. Cengkeramannya mengencang, lalu melonggar.

“Ceritain lagi,” katanya.

Jadi aku bercerita. Tentang mahoni yang warnanya makin merah kalau kena matahari. Tentang sonokeling yang seratnya ungu kehitaman, seperti malam. Tentang suar yang seratnya bergelombang seperti air, karena tumbuh di tanah yang sering kebanjiran. Tentang Bapak yang bisa menebak umur kayu cuma dengan mengetuknya. Tentang rak sepatu miring yang kubuat untuk Ibu waktu umurku sepuluh tahun.

Aku bercerita sampai petirnya pergi. Sampai hujannya berubah jadi gerimis. Sampai cengkeramannya di lenganku perlahan-lahan berubah, dari mencengkeram jadi cuma memegang. Jari-jarinya masih di sana, di lengan bajuku, tapi tidak lagi takut.

Jam sembilan kurang sepuluh, listrik menyala.

Cahaya kuning membanjiri workshop. Kami berdua mengerjap. Dan ia melihat tangannya sendiri, masih memegang lengan bajuku, lalu menatapku.

Ia tidak buru-buru melepaskan. Itu yang tidak akan pernah kulupakan. Ia tidak menarik tangannya dengan panik, tidak minta maaf lagi. Ia cuma menatap tangannya di lenganku selama beberapa detik, dengan ekspresi yang aneh, seperti orang yang baru menemukan sesuatu di tempat yang tidak ia duga.

Lalu ia melepaskannya. Pelan.

“Hujannya udah reda,” katanya.

“Iya.”

“Aku pulang dulu.”

“Hati-hati. Jalannya licin.”

Ia mengambil sepatunya, memakainya, lalu berdiri di ambang pintu. Udara di luar dingin dan basah, berbau tanah dan daun.

“Mas Prama.”

“Ya.”

“Makasih udah ceritain jati.” Ia tersenyum, lesung pipitnya muncul samar. “Dan ibumu.”

Ia pergi. Lampu mobilnya menyorot jalan basah, menjauh, lalu menghilang di belokan.

Aku berdiri lama di ambang pintu. Lengan kananku, di tempat ia mencengkeram, masih terasa. Ada bekas merah samar dari kukunya.

Di belakangku, dengkuran Mang Ujang berhenti mendadak.

“A,” katanya dari bangku panjang, suaranya sama sekali tidak terdengar seperti orang yang baru bangun tidur. “Tektokinon?”

Aku menutup mata. “Mamang nggak tidur.”

“Abdi sare, A. Sare pisan.” Mang Ujang duduk, menggaruk perut, lalu menatapku dengan senyum lebar di bawah kumisnya. “Tapi telinga mah teu sare.”

“Mang.”

“Dua jam, A. Dua jam Aa ngadongeng soal kai. Awewe paling geulis di Bandung nyekel leungeun Aa dua jam, jeung Aa ngadongeng soal tektokinon.”

Aku tidak menjawab. Aku berbalik, berjalan ke tangga loteng, dan naik.

Di atas, aku membuka lemari jati dan berdiri di depannya cukup lama. Lalu aku memegang lengan kananku sendiri, di tempat bekas merah samar itu, dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku membiarkan diriku memikirkan sesuatu yang selama ini tidak berani kupikirkan.

Bagaimana kalau suatu hari ia memegang lebih dari lengan bajuku?

Lalu aku menutup lemari itu, keras, dan memaksa diriku turun.

Aturan ketiga sudah patah. Tapi masih ada aturan keempat, yang baru kubuat malam itu, di depan lemari, dengan lengan yang masih hangat:

Jangan berharap.