← Pembeli Pertamamu

Chapter Twelve

Bab 12 — Harga Penuh

POV: Dara

Kotak P3K yang kubawa ke Kayuku hari Jumat ukurannya sebesar koper kabin.

Aku tidak berniat membeli sebesar itu. Aku cuma masuk ke apotek di Dago dengan daftar sederhana: antiseptik, perban steril, kasa, peniti. Lalu apotekernya bertanya untuk siapa. Aku bilang untuk workshop kayu. Ia bertanya berapa orang. Aku bilang empat, tapi salah satunya sering begadang dan tangannya penuh bekas luka. Apoteker itu menatapku dengan tatapan yang sangat mengerti, lalu mulai menambahkan barang ke keranjang.

Salep luka bakar, untuk kalau ada yang kena mesin panas. Obat tetes mata, untuk serbuk kayu. Masker debu sekali pakai. Plester tahan air. Gunting stainless yang tidak berkarat. Termometer. Kompres dingin instan. Sarung tangan kerja ukuran XL.

Ukuran XL itu aku yang menambahkan sendiri.

“Teh,” kata Mang Ujang, menatap kotak itu di meja Sasa dengan mulut ternganga, “ieu mah lain kotak P3K. Ieu mah puskesmas.”

“Buat jaga-jaga, Mang.”

“Jaga-jaga ti naon, Teh? Perang?”

Ridwan sudah membuka tutupnya dan mengeluarkan barang satu per satu dengan takjub, seperti anak kecil membuka kado Lebaran. “Teh, ada kompres dingin! Teh, ada masker! Teh, ini plester tahan air! Bisa dipakai mandi!”

“Plesternya nggak ada gambar Doraemon,” kataku. “Maaf, Wan.”

Ridwan menatapku dengan wajah terluka. “Teh. Itu sakral.”

Prama berdiri di belakang mereka, di dekat tiang, dengan tangan kiri yang masih diperban. Perbannya baru, kulihat. Lebih rapi dari yang kubuat. Dan di ujungnya, tersemat jarum pentul berkepala mutiara.

Ia tidak membuangnya.

Aku menghampirinya. Ia tidak mundur kali ini. Ia cuma berdiri di sana, menunggu, seperti tahu apa yang akan kulakukan.

“Lihat,” kataku.

Ia mengangkat tangan kirinya. Pelan. Tanpa protes.

Aku memegangnya dengan dua tangan dan memeriksa perbannya. Bersih. Tidak ada darah yang merembes. Lilitannya pas. Jarum pentul itu menahan simpulnya dengan sempurna.

“Kamu ganti sendiri?”

“Tadi pagi.”

“Lukanya gimana?”

“Udah kering.”

“Kamu bohong?”

“Nggak.” Sudut bibirnya bergerak. “Kali ini nggak.”

Aku menyentuh perban di pangkal ibu jarinya dengan ujung jari, sangat ringan. Ia tidak menarik tangannya. Ia cuma menatap tanganku di tangannya, dan aku melihat jakunnya bergerak naik turun.

“Sarung tangan XL di kotak itu,” kataku, masih memegang tangannya, “buat kamu. Pakai kalau begadang.”

“Saya nggak pernah pakai sarung tangan. Nggak kerasa kayunya.”

“Pakai.”

Ia menatapku. Aku menatapnya. Di belakang kami, Mang Ujang, Sasa, dan Ridwan sudah berhenti membongkar kotak dan sedang menatap kami dengan kekhusyukan penonton sinetron.

“Pakai,” ulangku, lebih pelan.

“Iya,” katanya. “Saya pakai.”

Aku melepaskan tangannya. Di belakangku, aku mendengar Sasa menghela napas lega, seperti baru selesai menonton adegan penting.

Lima belas menit berikutnya, workshop Kayuku berubah jadi panggung komedi.

Ridwan mencoba sarung tangan XL dan mengangkat kedua tangannya ke udara. Jari-jari sarung tangan itu terkulai lemas lima senti melewati ujung jarinya, seperti tangan badut. Ia melambai-lambaikannya ke arah Sasa sambil menirukan suara hantu, dan Sasa memukulnya dengan map.

Mang Ujang memakai masker debu, lalu kacamata pelindung yang ia temukan di dasar kotak, lalu sarung tangan karet biru, lalu berpose di depan rangka jendela seperti dokter bedah di sinetron. “Suster,” katanya dengan suara teredam masker, “pahat.”

“Mang, itu kacamatanya kebalik,” kata Sasa.

“Teu nanaon. Gaya.”

Aku tertawa sampai harus duduk. Dan di tengah tawa itu, aku melihat Prama.

Ia tidak ikut bercanda. Ia sedang mengangkat kotak P3K besar itu dari meja Sasa dan membawanya ke tiang di tengah workshop, tiang yang paling dekat dengan semua meja kerja. Ia memasang dua paku di tiang itu, lalu sebuah rak kayu kecil yang entah ia ambil dari mana, lalu meletakkan kotak P3K di atasnya. Tepat setinggi bahu. Bisa dijangkau dari mana pun dalam lima langkah.

Lalu ia mengambil spidol dan menulis sesuatu di selembar kertas, dan menempelkannya di depan kotak itu.

Aku berdiri dan mendekat untuk membaca.

JANGAN DIPINDAH. — PERINTAH DARA.

“Perintah Dara?” tanyaku.

“Biar nggak ada yang berani pindahin,” katanya, tanpa menoleh. “Mang Ujang suka pindahin barang.”

“Abdi teu kantos mindahkeun barang!” protes Mang Ujang dari balik maskernya.

“Mamang pindahin stapler Sasa tiap hari.”

“Eta mah... eta mah nginjeum.”


Kami duduk di meja panjang dekat jendela untuk membahas jadwal pengiriman properti ke Gedung Merdeka. Tinggal lima minggu. Panggung harus dikirim dan dirakit dua minggu sebelum show untuk gladi resik.

Di tengah pembahasan, aku mengeluarkan amplop krem dari tas jinjingku. Ada empat lembar di dalamnya. Kartu tebal bertekstur, dengan logo DARA. timbul di sudut atas dan tanda tanganku di bawah.

“Ini buat kalian,” kataku, meletakkan amplop itu di tengah meja. “Dari aku. Ucapan terima kasih.”

Mang Ujang, yang sedang lewat sambil membawa papan, langsung berhenti. Sasa mengintip dari balik monitor. Ridwan sudah ada di sampingku dalam waktu dua detik, entah dari mana.

“Apa itu, Teh?”

“Voucher. Buat belanja di butik DARA. Diskon lima puluh persen, buat semua koleksi, termasuk koleksi show yang belum rilis. Berlaku setahun. Satu buat masing-masing.”

Hening sebentar. Lalu Ridwan memekik.

“Lima puluh persen?! Teh! Itu ibuku bisa dibeliin kebaya buat kondangan sepupu!”

“Istri abdi!” Mang Ujang meletakkan papannya dengan sembarangan dan mengambil satu voucher dengan tangan gemetar. “Istri abdi tos tilu puluh taun teu dibeliin baju anyar, Teh. Ieu... ieu mah...”

“Teh, aku...” Sasa menatap voucher yang disodorkan Ridwan ke arahnya, lalu menatapku, lalu menatap Prama dengan wajah panik. “Aku...”

“Nggak.”

Suara itu rendah dan tenang. Tidak keras. Tapi semua orang langsung diam.

Prama meletakkan pulpennya di atas gambar teknis. Ia menatap amplop krem di tengah meja, lalu menatap voucher-voucher di tangan krunya. Ekspresinya sulit dibaca.

“Kru Kayuku nggak pakai diskon,” katanya.

Aku berkedip. “Kenapa?”

“Kebijakan perusahaan.”

“Mas, ini bukan diskon dari vendor ke klien. Ini dari aku. Buat terima kasih.”

“Saya tahu.” Ia mengambil voucher dari tangan Mang Ujang, pelan, lalu dari tangan Ridwan, lalu dari tangan Sasa, dan memasukkan ketiganya kembali ke amplop bersama yang keempat. Mang Ujang menatapnya dengan wajah orang yang baru kehilangan undian. “Terima kasih, Dara. Benar-benar terima kasih. Tapi kalau kru saya mau beli baju DARA., mereka beli dengan harga penuh.”

“Tapi kenapa?”

“Karena...” Ia berhenti. Menatap amplop di tangannya. Lalu meletakkannya kembali di depanku, di atas meja, dengan sangat hati-hati. “Karena bajumu nggak pantas ditawar.”

Aku tidak bisa menjawab.

“Kamu jahit setiap potong sampai subuh. Kamu revisi pola sampai tujuh kali. Kamu pilih kain sampai ke seratnya.” Ia tidak menatapku. Ia menatap amplop krem itu. “Kalau orang mau pakai bajumu, mereka harus bayar harga yang kamu tentukan. Itu cara menghormati kerjamu. Harga penuh.”

Rasanya seperti ditembak.

Tidak ada kata lain untuk menjelaskannya. Bukan sakit. Lebih seperti sesuatu yang menembus dadaku dalam satu tarikan cepat, meninggalkan lubang yang hangat dan aneh dan tidak bisa kumengerti.

Selama lima tahun, orang-orang menawar bajuku. Teman-teman minta harga teman. Saudara minta harga keluarga. Selebgram minta gratis untuk endorse. Brand besar menawar harga kolaborasi sampai separuh. Bahkan Ayah, sekali, waktu Ibu mau membeli kebaya dari koleksi Melati di Tangan Ibu, bertanya kenapa harus bayar kalau anaknya sendiri yang bikin.

Dan sekarang, seorang tukang kayu dengan tangan diperban menolak diskon lima puluh persen karena bajuku nggak pantas ditawar.

“Mas Prama,” kataku. Suaraku keluar lebih serak dari yang kuinginkan.

“Ya.”

“Kamu tahu nggak, itu hal paling...” Aku berhenti. Aku tidak tahu harus menyelesaikan kalimat itu dengan kata apa.

Ia menatapku sekilas. Lalu kembali ke gambar teknis. “Tapi kalau kalian mau beli,” katanya pada krunya, tanpa mengangkat kepala, “beli aja. Bayar yang tertulis di label. Selisihnya saya yang ganti. Bonus akhir tahun.”

Mang Ujang menatapnya. Lalu, perlahan, senyumnya kembali, lebar di bawah kumis.

“Harga pinuh, tapi Aa nu mayar?”

“Selisihnya.”

“Sami wae atuh, A! Eta mah sami wae jeung diskon!”

“Beda, Mang.” Prama akhirnya mengangkat kepala. “Kalau pakai diskon, Dara yang rugi. Kalau saya yang ganti, Dara dapat harga penuh. Itu beda.”

Mang Ujang menggaruk kepalanya, mencoba memahami logika itu, lalu menyerah dan memeluk Prama dari samping dengan satu lengan. “Bos abdi aneh pisan, Teh. Tapi bageur.”


Sore itu, sebelum pulang, aku mengambil kembali amplop krem itu dari meja dan memasukkannya ke tas. Aku tidak membuangnya. Aku tidak tahu kenapa.

Sasa mengantarku sampai pintu. Ia berjalan di sampingku dalam diam, lalu, tepat di ambang pintu, ia memegang lengan bajuku.

“Teh.”

“Ya, Sa?”

Ia menatapku dengan mata yang terlalu ekspresif, mata yang selalu terlihat seperti menahan sesuatu yang besar. Ia membuka mulut.

“A Prama itu...” katanya.

Lalu berhenti. Menelan ludah. Menoleh ke dalam workshop, ke punggung Prama yang membungkuk di atas gambar teknis.

“A Prama itu kenapa, Sa?”

“A Prama itu...” Sasa menggigit bibir. Lalu menghela napas panjang, dan melepaskan lengan bajuku. “...orang paling baik yang aku kenal, Teh. Itu aja. Aku cuma mau Teteh tahu.”

Ia berbalik dan berjalan cepat kembali ke mejanya sebelum aku bisa menjawab.


Di kantor, Tiwi membaca ulang voucher yang kukembalikan ke mejanya dengan alis yang terangkat makin tinggi setiap baris.

“Mereka nolak?” tanyanya. “Diskon lima puluh persen? Mbak, aku pernah lihat selebgram berantem di DM gara-gara diskon sepuluh persen.”

“Nolak. Katanya bajuku nggak pantas ditawar.”

Tiwi meletakkan voucher itu pelan-pelan. Lalu ia menarik tablet dari mejanya, membuka spreadsheet berwarna permen, dan memperbesar satu baris yang di-highlight kuning terang.

Sasa K. — Bandung — 11 transaksi. Harga penuh. Tidak pernah memakai kode promo.

Ia menatap layar. Lalu menatapku. Lalu menatap layar lagi.

“Mbak,” katanya pelan. “Nggak pernah pakai kode promo. Nolak diskon lima puluh persen. Cigadung.”

“Wi.”

“Aku cuma bilang, Mbak, ada pola!”

Aku tertawa. “Mungkin orang Cigadung memang begitu semua. Mungkin ada sesuatu di air sumurnya. Semua orang di sana alergi diskon.”

Tiwi menyipitkan mata, menempelkan satu sticky note lagi di pinggir layar besar, CIGADUNG = ANTI DISKON?, dan tidak bicara lagi. Aku tidak memikirkannya lebih jauh. Aku terlalu sibuk memikirkan seorang laki-laki dengan tangan diperban.


Malamnya, aku duduk di meja gambar miring di lantai tiga dengan penggaris jati di tangan dan tidak bisa menggambar apa pun.

Kata-katanya terus berulang di kepalaku. Bajumu nggak pantas ditawar. Itu cara menghormati kerjamu.

Aku memikirkan Ayah. Udah selesai? Selalu itu. Bukan bagus. Bukan pantas. Cuma udah selesai?, dengan nada orang yang menunggu kesempatan untuk bilang itu belum cukup.

Aku memikirkan semua orang yang pernah menawar. Yang bilang ah, cuma baju. Yang bilang kan bisa beli di mal lebih murah. Yang bilang fashion itu hobi, bukan pekerjaan.

Lalu aku memikirkan seorang laki-laki dengan tangan diperban, yang tidak pernah mengatakan bahwa bajuku bagus, tidak pernah memuji, tidak pernah menyanjung. Yang cuma bilang bahwa kerjaku pantas dihormati dengan harga penuh. Lalu membayar selisihnya sendiri, untuk krunya, supaya aku tidak rugi satu rupiah pun.

Aku meletakkan penggaris jati di atas meja gambar, mengambil ponsel, dan membuka percakapan dengannya. Pesan terakhir masih dari semalam. Iya. Dan Terima kasih, Dara.

Aku mengetik.

Mas, aku mau tanya sesuatu.

Balasannya datang dalam satu menit. Ya.

Kalau kamu sendiri mau beli bajuku, kamu bayar harga penuh juga?

Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi. Hilang lagi.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Aku hampir menyerah dan meletakkan ponsel ketika akhirnya balasannya datang.

Saya laki-laki, Dara. Bajumu baju perempuan.

Aku tertawa keras sekali sampai Tiwi, yang ternyata masih lembur di ruangan sebelah, mengetuk dinding.

Itu bukan jawaban, ketikku.

Tiga titik lagi. Lama.

Kalau saya beli, tulisnya akhirnya, saya akan bayar harga penuh. Selalu.

Aku menatap kalimat itu lama sekali. Selalu. Kata yang aneh untuk sebuah pengandaian. Seperti ia bukan sedang membayangkan, tapi sedang mengingat.

Tapi aku tidak memikirkan itu terlalu dalam. Belum.

Aku cuma mengetik: Selamat malam, Mas Prama. Ganti perbanmu.

Selamat malam, Dara.

Aku meletakkan ponsel di samping penggaris jati dan sendok Pak Darsa, dan akhirnya, menjelang tengah malam, aku mulai menggambar. Sebuah kemeja laki-laki. Linen, warna abu-abu kayu. Dengan ruang ekstra di bagian punggung, untuk seseorang yang sering membungkuk di atas meja kerja yang terlalu rendah.

Ukurannya kuambil dari ingatan. Lingkar dada sekitar seratus delapan. Bahu empat puluh sembilan.

Aku tidak tahu kenapa aku menggambarnya. Aku cuma tahu bahwa malam itu, untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku menggambar baju yang tidak untuk dijual.