← Pembeli Pertamamu

Chapter Twenty One

Bab 21 — Ridwan dan TikTok

POV: Dara

Video itu sampai ke ponselku hari Rabu jam tujuh pagi, dua hari setelah Prama pergi ke Lembang, dari Tiwi, dengan satu kalimat:

Mbak, ini lagi viral. Dua juta views dalam dua hari. Bikin nangis seIndonesia.

Aku sedang menyeduh teh di dapur kecil lantai tiga. Aku membuka video itu sambil menunggu air mendidih, tanpa terlalu memperhatikan.

Gelap. Ruangan kerja yang cuma diterangi satu lampu meja. Kameranya diambil dari jauh, dari sudut tangga atau rak, agak goyang, jelas direkam diam-diam. Di tengah gambar, punggung seorang laki-laki yang membungkuk di atas meja kerja. Kaus gelap. Bahu lebar. Wajahnya tidak terlihat, tertutup bayangan dan efek blur yang ditambahkan dengan kasar.

Tangannya bekerja di atas sepotong kayu kecil. Memahat. Mengampelas. Meniup serbuk kayu dengan pelan. Memahat lagi.

Di sudut kanan atas, ada jam dinding. Jarumnya menunjuk jam dua lewat sepuluh.

Teks di layar, huruf putih dengan bayangan hitam:

bos gue kalau lagi bucin: tiap malem bikinin barang buat doi sampe subuh

tapi doi nggak tau sama sekali 😭

Lalu musik. Lagu galau yang sedang ramai di mana-mana, tentang seseorang yang mencintai diam-diam.

Video itu cuma lima belas detik. Di akhir, laki-laki itu berhenti bekerja. Ia mengangkat benda kecil yang baru ia buat ke bawah lampu, memutarnya pelan, memeriksanya dari semua sisi. Lalu ia meletakkannya di meja dengan sangat hati-hati, dan duduk diam, menatapnya, dengan bahu yang turun sedikit.

Teks terakhir: dia bilang “biar dia nggak usah tau, yang penting dia nggak capek”

Video berakhir. Air di ketel mendidih.

Aku tidak mematikan kompornya.


Aku menonton video itu sebelas kali sebelum jam sembilan pagi.

Aku tidak tahu kenapa. Aku cuma tahu bahwa setiap kali video itu selesai, ada sesuatu di dadaku yang semakin berat dan semakin panas, sesuatu yang jelek dan kecil dan sama sekali tidak sesuai dengan perempuan dua puluh delapan tahun yang punya gedung tiga lantai dan dua belas penjahit.

Iri.

Siapa pun perempuan itu, doi itu, ia dicintai oleh seseorang yang begadang sampai jam dua pagi untuk membuatkannya sesuatu. Seseorang yang tidak mau ia tahu. Seseorang yang cuma ingin ia tidak capek.

Kolom komentar video itu penuh dengan perempuan yang menangis. Gue mau dong dicintai kayak gini. Mas, kalau doi nggak mau, aku mau. Doi lo nggak pantes kalau sampai nggak tau. Ini green flag paling hijau di seluruh TikTok.

Dan di antara komentar itu, aku memikirkan suara di kabin truk, dua minggu lalu. Pelan. Ke kaca depan.

Sama orang yang nggak tahu.

Ternyata dunia ini penuh laki-laki yang mencintai perempuan yang tidak tahu. Dan aku, entah kenapa, tidak pernah jadi perempuan itu.

Lalu sebuah pikiran datang, dingin dan tajam, seperti jarum yang menusuk ujung jari tanpa peringatan.

Kontraknya jadi.

Dua kata yang ia kirim hari Senin sore, setelah seharian di Lembang. Dua kata yang kubaca berulang-ulang sampai tengah malam. Tanpa penjelasan. Tanpa cerita. Ia mengirimiku foto kabut yang warnanya persis abu-abu yang kucari, lalu menjawab pertanyaanku tentang Mbak Anin dengan satu kata, baik, disusul kontraknya jadi, dan tidak bilang apa-apa lagi.

Hotel dua puluh empat kamar. Kontrak terbesar Kayuku. Perempuan yang menatap langsung, yang memanggilnya Pram, yang menyentuh sikunya dan tidak ditolak. Perempuan yang bilang berarti aku boleh di depanku, setelah aku sendiri yang bilang ia cuma vendor.

Mungkin begini yang terjadi. Mungkin ia sudah lama menyukai seseorang yang tidak tahu, seperti katanya di truk. Dan mungkin, sekarang, orang itu datang dengan SUV hitam dan denah hotel, dan akhirnya tahu.

Mungkin doi-nya Mbak Anin.

Aku menelungkupkan ponsel di meja dapur, keras, dan air di ketel mendidih sampai tumpah.

Aku menggulir komentar lebih jauh, seperti orang yang menekan memar untuk memastikan masih sakit. Ada yang menebak doi-nya pasti tetangga. Ada yang menebak teman kecil. Ada yang yakin doi-nya cewek kantoran yang sering lewat depan bengkel. Satu komentar dengan ribuan suka berbunyi: pasti doinya cewek biasa aja, makanya dia nggak sadar ada yang sayang segitunya. cewek cantik mah udah kebiasaan diperhatiin, jadi nggak bakal kena.

Aku menatap komentar itu lama.

Lalu aku menatap pantulan wajahku di layar ponsel yang meredup. Wajah yang, kata semua orang, membuat ruangan berhenti. Wajah yang membuat wartawan lupa menekan tombol rekam dan satpam mall nyasar ke eskalator.

Wajah yang, ternyata, tidak cukup untuk membuat seseorang begadang sampai jam dua pagi.

Aku tahu itu pikiran yang bodoh. Aku tahu. Tapi pagi itu aku tidak bisa berhenti memikirkannya.

“Mbak.” Tiwi berdiri di ambang pintu ruanganku dengan tablet di pelukan. “Mbak udah nonton?”

“Udah.”

“Bikin nangis, kan?”

“Biasa aja.”

Tiwi berkedip. Ia menurunkan tablet perlahan.

“Mbak barusan ngomong biasa aja.”

“Terus?”

“Itu kata-katanya Mas Kayu, Mbak.”

“Namanya Mas Prama, Wi.”

“Iya, itu maksudku.” Tiwi menyipitkan mata. “Mbak kenapa? Mbak kayak orang yang abis dicolong bajunya.”

“Nggak kenapa-kenapa. Jadwal hari ini apa?”

Tiwi menatapku lama, dengan mata detektif serial televisi jam satu pagi. Lalu ia mengangkat tablet dan membacakan jadwal tanpa komentar lagi. Tapi aku tahu ia sedang menempelkan sticky note di dalam kepalanya.


Fitting model gelombang tiga berlangsung dari jam sepuluh sampai jam satu. Aku tidak ingat sebagian besarnya.

Aku ingat Bu Imas menegurku dua kali karena aku menancapkan jarum pentul di tempat yang salah. Aku ingat seorang model bertanya apakah aku sakit, karena wajahku kelihatan kayak mau hujan, Mbak. Aku ingat aku menatap ponselku di sela fitting dan membuka video itu untuk kedua belas kalinya, dan menutupnya lagi sebelum musiknya mulai.

Aku juga ingat, di tengah fitting, aku menerima pesan WhatsApp.

Dara, sore ini bisa ke workshop? Ada yang mau saya kasih. Produk baru.

Dari Prama. Biasanya pesan seperti itu akan membuatku tersenyum seharian. Hari ini, aku cuma menatapnya.

Bisa, ketikku. Satu kata. Tanpa emoji. Tanpa Mas.

Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi.

Kamu baik-baik aja?

Baik.

Tiga titik. Lama. Lalu tidak ada balasan lagi.

Bu Imas, yang berdiri di sampingku dengan bantalan jarum di pergelangan tangan, melirik layar ponselku dan menghela napas panjang yang sangat keibuan.

“Neng,” katanya pelan. “Kalau lagi marah sama orang, bilang. Jangan dijawab satu kata. Laki-laki mah nggak ngerti kode.”

“Aku nggak marah, Bu.”

“Neng tusuk jarum pentul ke bantalan sampai bengkok tiga.”

Aku menatap bantalan jarum di tanganku. Tiga jarum pentul berkepala mutiara yang batangnya bengkok.


Aku tiba di Kayuku jam empat sore dengan wajah yang kuharap terlihat profesional.

Workshop terasa berbeda. Lebih ramai. Ada tumpukan kardus pengiriman di dekat pintu, label-label alamat dari Jakarta, Bali, Surabaya. Sasa sedang menelepon di meja admin sambil mengetik dan tersenyum dengan wajah orang yang tidak tidur tapi bahagia. Mang Ujang dan dua tukang baru sedang mengampelas cangkir-cangkir sonokeling di meja panjang.

“Teteh!” Mang Ujang melambai. “Ieu tukang anyar! Gara-gara Teteh di TV, pesenan ngaburudul! Urang kudu nambah tukang!”

“Selamat, Mang,” kataku, dan untuk sesaat aku benar-benar tersenyum.

Lalu Ridwan muncul dari balik rak, melihatku, dan langsung berbalik dan masuk lagi ke balik rak. Dengan sangat cepat. Seperti tikus yang melihat kucing.

Aku mengerutkan kening. Tapi sebelum aku sempat bertanya, Prama keluar dari ruang belakang.

Ia membawa sesuatu di tangannya. Kecil, dibungkus kain blacu putih, seperti semua yang pernah ia berikan padaku.

“Dara.”

“Hai.”

Ia berhenti di depanku. Jarak satu meja, meskipun tidak ada meja di antara kami. Ia menatap wajahku, dan aku melihatnya memperhatikan. Mataku yang mungkin sedikit bengkak. Senyumku yang mungkin sedikit kaku.

“Kamu capek,” katanya. Bukan pertanyaan.

“Fitting.”

“Kamu marah?”

“Nggak.”

Ia diam sebentar. Lalu menyodorkan bungkusan blacu itu.

“Produk baru,” katanya. “Coba dipakai pas makan siang.”

Aku membukanya.

Tempat HP. Dari kayu jati, warnanya cokelat madu, seratnya halus. Bentuknya seperti tempat HP Kayuku yang biasa, yang pertama kali kulihat di foto katalog dulu. Tapi ada yang berbeda. Lekukan sandarannya tidak menghadap ke depan. Menghadap ke bawah. Permukaannya cekung, dilapisi bantalan kain flanel tipis berwarna hijau tua.

“Ini kebalik,” kataku.

“Nggak kebalik.”

“HP-nya jadi telungkup.”

“Iya.” Ia mengambil ponselnya sendiri dari saku dan meletakkannya di sana, layar menghadap ke bawah, di atas flanel hijau. Layarnya tersembunyi. Notifikasinya tidak terlihat. “Buat jam istirahat. Biar kamu makan siang nggak sambil lihat HP. Biar kamu nggak kerja terus.”

Aku menatap benda itu. Lalu menatap tangannya, yang masih memegang ponselnya di atas sandaran kayu.

Ada plester di pangkal ibu jarinya. Bukan Doraemon. Plester biasa, warna kulit. Plester baru.

“Ini dijual?” tanyaku. Suaraku keluar lebih dingin dari yang kuinginkan.

“Belum.”

“Udah dibikin berapa?”

Ia diam.

“Satu,” jawabnya akhirnya.

Satu. Seperti meja gambar. Seperti penggaris jati. Seperti semua yang ia berikan padaku, yang selalu cuma satu, yang selalu produk baru, yang selalu bonus vendor.

Tiba-tiba aku merasa sangat lelah. Lelah dan bodoh. Dan sedikit marah, tanpa tahu marah pada siapa.

“Mas Prama.”

“Ya.”

“Mending kamu kasih ke Mbak Anin aja.”

Ia berkedip. “Anin?”

“Doi kamu. Orang yang kamu ceritain di truk. Yang nggak tahu. Sekarang kayaknya udah tahu, ya.” Aku menyerahkan tempat HP itu kembali padanya, sedikit terlalu kasar. “Dia pasti juga butuh jam istirahat. Ngukur dua puluh empat kamar kan capek.”

Ia tidak mengambilnya. Ia cuma menatapku. Dan wajahnya, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, terlihat benar-benar bingung. Bukan malu. Bukan gugup. Bingung, seperti orang yang baru dilempar soal matematika dalam bahasa asing.

“Dara,” katanya pelan. “Ini buat kamu.”

“Kenapa?”

“Karena kamu yang kerja terus.”

“Mbak Anin juga kerja terus. Dia kan orangnya langsung. Kamu pasti suka yang langsung.”

Di belakangku, aku mendengar suara benda jatuh. Sasa menjatuhkan telepon. Mang Ujang menjatuhkan cangkir sonokeling, yang untungnya tidak pecah. Dan dari balik rak, aku mendengar Ridwan berbisik, sangat jelas dan sangat panik:

“Mampus. Mampus aku.”

Prama menoleh ke arah rak. Matanya menyipit. Lalu ia kembali menatapku, dan sesuatu di wajahnya berubah. Pelan-pelan. Seperti orang yang mulai memahami soal matematika itu.

“Kamu nonton sesuatu?” tanyanya.

“Nggak.”

“Kamu nonton video.”

“Itu bukan urusanmu.” Aku meletakkan tempat HP itu di meja Sasa, karena ia tidak mau mengambilnya, dan aku tidak mau memegangnya lagi. “Aku pulang dulu. Capek.”

Aku berbalik. Aku berjalan ke pintu. Aku mendengar ia memanggil namaku, sekali, pelan. Aku tidak menoleh.

Di ambang pintu, aku mendengar suaranya lagi. Kali ini bukan padaku. Pada orang lain. Rendah, tenang, dan sangat, sangat berbahaya.

“Ridwan.”


Aku menangis di mobil.

Tidak lama. Cuma lima menit, di parkiran di bawah pohon di ujung jalan Cigadung, dengan dahi di setir. Aku menangis karena merasa bodoh. Karena merasa kecil. Karena laki-laki yang bilang aku cukup, yang memelukku di workshop, yang membiarkanku tidur di bahunya dua jam, ternyata begadang setiap malam untuk perempuan lain.

Dan aku tidak berhak marah. Ia tidak pernah menjanjikan apa pun. Ia cuma vendor yang baik. Yang memberi bonus pada klien besar.

Aku pulang. Aku masuk ke ruanganku di lantai tiga tanpa menyapa siapa pun. Aku duduk di meja gambar miring dan menatap kertas kosong.

Sepuluh menit kemudian, Tiwi masuk tanpa mengetuk.

Ia membawa sesuatu di tangannya. Tempat HP jati dengan sandaran yang menghadap ke bawah. Aku menatapnya.

“Mas Kayu... Mas Prama yang kirim,” kata Tiwi. “Lewat ojek. Barusan. Lima menit setelah Mbak nyampe. Pakai catatan.”

Ia meletakkan tempat HP itu di mejaku, dan sebuah kertas kecil yang dilipat dua.

Aku tidak membukanya. Aku cuma menatap tempat HP itu.

Tiwi tidak keluar. Ia berdiri di sana, lalu, perlahan, ia mengangkat ponselnya dan membuka sesuatu. Video itu. Ia memutarnya. Lagu galau memenuhi ruanganku.

“Wi, matiin.”

“Sebentar, Mbak.”

“Wi.”

“Sebentar.” Ia menghentikan video di detik kedua belas. Di bagian ketika laki-laki itu mengangkat benda kecil yang baru ia buat ke bawah lampu. Ia memperbesar layar dengan dua jari. Lalu memperbesarnya lagi. Gambarnya jadi kasar, pecah-pecah, tapi masih bisa dilihat.

Ia meletakkan ponselnya di samping tempat HP di mejaku.

“Mbak,” katanya pelan. “Lihat.”

Aku melihat.

Di layar, di bawah lampu meja yang kuning, di tangan laki-laki yang wajahnya blur, ada sepotong kayu. Bentuknya seperti tempat HP. Dengan sandaran yang tidak menghadap ke depan. Menghadap ke bawah.

Di mejaku, di samping ponsel itu, ada tempat HP jati dengan sandaran yang menghadap ke bawah.

Sama.

“Dan Mbak,” lanjut Tiwi, lebih pelan lagi, “lihat tangannya.”

Aku melihat tangan di layar. Tangan besar. Kasar. Tanpa sarung tangan, karena pekerjaan halus memang tidak bisa pakai sarung tangan. Dan di pangkal ibu jari kiri, kecil, buram, tapi jelas, ada sebuah plester.

Plester dengan gambar bulat berwarna biru. Dengan wajah putih dan hidung merah dan senyum lebar.

Doraemon.

Aku tidak bisa bernapas.

“Videonya diposting dua hari lalu,” kata Tiwi. “Tapi jam di dinding itu... jam dua lewat sepuluh. Dan Mbak cerita minggu lalu, A Prama pakai plester Doraemon dari Ridwan. Minggu lalu, Mbak. Sebelum plesternya diganti. Sebelum Mbak Anin pernah nginjek Cigadung.”

Aku menatap tempat HP di mejaku. Lalu layar. Lalu tempat HP lagi.

Bos gue kalau lagi bucin: tiap malem bikinin barang buat doi sampe subuh.

Meja gambar. Penggaris jati. Tempat HP.

Tapi doi nggak tau sama sekali.

Sama orang yang nggak tahu.

Dia bilang “biar dia nggak usah tau, yang penting dia nggak capek.”

“Mbak,” bisik Tiwi. “Doi-nya itu Mbak.”

Aku mengambil kertas kecil yang dilipat dua di samping tempat HP. Tanganku gemetar. Aku membukanya.

Tulisan tangan. Huruf kapital yang agak miring.

Ini buat kamu. Bukan buat orang lain. Nggak pernah buat orang lain.

Jangan capek-capek.

— P.

Tiwi menyelinap keluar dari ruanganku tanpa suara dan menutup pintu.

Aku duduk di sana, di meja gambar miring yang ia buat, dengan penggaris jati yang ia ukir di samping tanganku, dan sendok Pak Darsa, dan tempat HP yang sandarannya menghadap ke bawah. Dan aku menangis lagi. Tapi kali ini bukan karena merasa kecil.

Kali ini karena aku baru sadar betapa besarnya.