Chapter Nine
Bab 9 — Pacar dari Kertas
POV: Angelica
Telepon itu masuk hari Selasa pukul 10.42, saat aku sedang berada di ruang rapat kecil bersama tiga orang tim dan satu proyektor yang tidak mau menyala.
Nomor tidak dikenal.
Aku menolaknya.
Masuk lagi.
Aku menolaknya lagi.
Masuk untuk ketiga kalinya, dan kali ini disusul pesan.
+62 812 xxxx: Selamat pagi. Dengan Ibu Angelica? Saya Sari, wali kelas TK B Tunas Harapan. Mohon maaf mengganggu jam kerja. Boleh minta waktunya sebentar terkait ananda Kemal?
Aku berdiri terlalu cepat sehingga kursiku terdorong ke belakang dan menabrak dinding.
“Sebentar,” kataku ke ruangan.
“Bu Angelica?”
“Iya, Bu. Kemal kenapa? Dia sakit?”
“Oh, nggak, nggak, Bu, sehat kok. Maaf ya kalau bikin panik.” Suara Bu Sari sangat tenang dengan cara yang justru menaikkan detak jantungku. “Ini bukan soal kesehatan. Ini soal... tugas.”
“Tugas.”
“Iya. Minggu ini tema kami ‘Keluargaku’. Anak-anak diminta menggambar keluarga dan menceritakannya di depan kelas.”
“Baik.”
“Nah.” Ada suara kertas dibalik. “Kemal menggambar tujuh orang. Yang enam sudah kami kenal. Yang satu ini — dia bilang namanya Tante Angel. Dan nomor Ibu ada di daftar kontak yang dikirim neneknya minggu lalu.”
Aku berhenti di tengah lorong.
Bu Rahayu memasukkan nomorku ke daftar kontak sekolah Kemal.
Minggu lalu.
Tanpa memberitahuku.
“Bu Angelica?”
“Iya. Maaf. Lanjut, Bu.”
“Sebenarnya kami tidak akan menelepon untuk gambar.” Bu Sari menurunkan suaranya sedikit. “Yang bikin kami perlu konfirmasi itu ceritanya.”
“Ceritanya.”
“Kemal bercerita di depan kelas bahwa Om Arsa punya pacar.” Jeda. “Dan bahwa pacarnya dibeli pakai kertas.”
Aku duduk di tangga darurat lantai empat selama tiga menit sebelum meneleponnya.
Arsa mengangkat di dering kedua.
“Motornya belum—”
“Kemal.”
Jeda.
“Kenapa Kemal?”
“Kemal cerita di depan satu kelas TK bahwa pacar Om Arsa dibeli pakai kertas.”
Hening yang sangat panjang.
“Dibeli,” kata Arsa.
“Pakai kertas.”
“Kertas apa?”
“MAS ARSA.”
“Iya. Iya.” Suara langkah. Suara pintu. “Sekolahnya sudah nelpon Ibu?”
“Sekolahnya nelpon saya. Karena nomor saya ada di daftar kontak. Karena Ibu memasukkan nomor saya ke daftar kontak sekolah keponakan Mas, minggu lalu, tanpa memberitahu saya.”
Hening lagi.
“Oh,” kata Arsa.
“Iya. Oh.”
“Angelica—”
“Mas Arsa, kapan Kemal melihat kontrak itu?”
“Nggak pernah.”
“Anak enam tahun tidak mengarang kata ‘kertas’.”
“Nggak pernah, Angelica, saya simpan di—”
Dia berhenti.
Aku menunggu.
“Saku belakang,” katanya pelan.
“Saku belakang.”
“Saya taruh di saku belakang. Sabtu itu. Waktu makan malam.” Suaranya berubah menjadi suara orang yang sedang menonton rekaman ulang di kepalanya. “Kemal manjat punggung saya. Di ruang tengah. Sebelum makan.”
“Dan?”
“Dan dia ngambil sesuatu dari saku saya dan saya rebut lagi.”
“Mas Arsa.”
“Saya kira itu ponsel.”
Kami sampai di sekolah jam empat sore, terpisah, dan tiba di gerbang dalam selisih empat puluh detik — yang secara tidak sengaja membuat kami terlihat seperti pasangan yang memang datang bersama.
Bu Rahayu sudah di sana.
Tentu saja Bu Rahayu sudah di sana.
Duduk di kursi tunggu depan ruang guru, tas di pangkuan, punggung tegak, dan Kemal di sebelahnya mengayun-ayunkan kaki yang tidak sampai ke lantai.
“Ibu,” kata Arsa.
“Sekolahnya nelpon Ibu jam sebelas.” Bu Rahayu tidak berdiri. “Ibu bilang Ibu bisa datang sendiri. Mereka bilang nomor Angel juga sudah dihubungi. Ibu bilang ya sudah, biar dua-duanya datang.”
“Bu, itu Ibu yang masukin nomor saya—”
“Iya.” Dia tersenyum ke arahku. “Ibu masukin. Kalau ada apa-apa sama Kemal dan Ibu lagi di pasar, siapa yang mau dihubungi? Anjani di Depok. Arsa nggak angkat telepon.”
“Saya angkat, Bu.”
“Tujuh kali, Arsa.”
Aku duduk di kursi seberang, dan Kemal langsung berhenti mengayunkan kaki.
“Tante Angel,” katanya.
“Iya, Kemal.”
“Aku dimarahin nggak?”
Dan seluruh rencana yang kususun di taksi — enam kalimat, disusun berurutan, dengan penekanan pada kata “imajinatif” — runtuh dalam waktu satu detik.
“Nggak,” kataku. “Kamu nggak dimarahin.”
Bu Sari ternyata perempuan muda berusia dua puluhan yang menyimpan gambar itu di dalam map plastik seperti barang bukti.
Dia meletakkannya di meja dan membaliknya ke arah kami.
Tujuh figur. Kepala bulat, tangan seperti garpu.
Dari kiri: Nenek (rambut abu-abu, digambar dengan remote di tangan). Bu Rahayu (paling besar, di tengah, dua kali ukuran yang lain). Mbak Anjani. Seorang laki-laki dengan garis-garis di sekitarnya yang menurut keterangan Kemal adalah “Ayah di Balikpapan”. Kemal sendiri. Arsa, yang digambar memegang sesuatu berbentuk kotak.
Dan di ujung kanan, agak terpisah dari yang lain oleh jarak sekitar dua sentimeter: satu figur dengan rambut hitam lurus, memegang persegi panjang putih.
Di bawahnya, tulisan tangan anak enam tahun, huruf kapital semua, dua huruf terbalik:
TANTE ANGEL
“Kemal,” kata Bu Sari lembut, “coba ceritain lagi ke Nenek sama Om Arsa, yang tadi kamu ceritain ke teman-teman.”
Kemal menegakkan badan. Dia jelas menikmati ini.
“Om Arsa nggak punya pacar,” katanya. “Terus Nenek marah. Terus Om Arsa beli pacar pakai kertas. Terus sekarang punya.”
“Kemal—” Arsa mulai.
“Kertasnya banyak,” lanjut Kemal, ke arah Bu Sari, dengan wajah orang yang sedang menyampaikan laporan penting. “Aku lihat. Di kantong celana Om Arsa. Terus direbut.”
Ruang guru itu hening.
Aku bisa merasakan denyut di pelipisku.
Dan di sebelahku, Bu Rahayu meletakkan tasnya di lantai.
“Bu Sari,” katanya.
“Iya, Bu.”
“Ibu jelaskan ya.” Dia menyandarkan punggung, sangat santai, seperti orang yang akan bercerita tentang cuaca. “Angel ini kerjanya auditor. Tahu auditor?”
“Yang periksa keuangan?”
“Iya. Kerjanya sama kertas seharian.” Bu Rahayu menoleh padaku, tersenyum. “Anak ini ke mana-mana bawa map. Ke rumah Ibu bawa map. Makan malam bawa map.”
“Oh,” kata Bu Sari, dan aku melihat sesuatu di wajahnya melunak.
“Dan Arsa itu bengkel. Jadi kalau mereka ketemu, ya begitu — satu bawa kertas, satu bawa oli.” Bu Rahayu mengangkat bahu. “Kemal lihat omnya pegang kertas dari Tante Angel. Ya di kepala anak enam tahun, jadinya begitu.”
Bu Sari tertawa. Betulan tertawa, lega.
“Aduh, maaf ya, Bu. Kami memang harus konfirmasi kalau ada cerita yang... ya, begitu.”
“Nggak apa-apa. Bagus malah. Berarti diperhatiin.”
Lalu Bu Rahayu menoleh ke Kemal.
“Kemal.”
“Iya, Nek.”
“Tante Angel itu dibeli nggak?”
Kemal berpikir.
Aku menahan napas.
“Nggak,” katanya akhirnya, dengan nada seseorang yang baru saja menyadari sesuatu sendiri. “Kan Om Arsa nggak punya duit.”
“Nah.”
“Kata Nenek.”
“KEMAL.”
Di parkiran, sudah gelap, Bu Rahayu memasangkan helm ke kepala Kemal dengan gerakan yang jelas sudah dilakukan seribu kali.
“Bu,” kata Arsa.
“Hm.”
“Terima kasih.”
“Ya sudah.” Dia mengencangkan tali helm. “Anak kecil ngomong apa aja.”
Dia menegakkan badan, memandang kami berdua yang berdiri berdampingan di bawah lampu parkiran, dan menepuk debu dari roknya.
“Cuma,” katanya, “lain kali kalau bawa kertas ke rumah Ibu, jangan ditaruh di saku belakang.”
Dan naik ke motornya.
Aku tidak bergerak selama beberapa detik setelah suara motor itu hilang di ujung jalan.
“Mas.”
“Hm.”
“Barusan itu apa?”
“Ibu saya.”
“Bukan. Kalimat terakhirnya.”
Arsa memandang ke arah jalan yang sudah kosong.
“Ibu saya,” katanya lagi, tapi kali ini jauh lebih pelan, dan aku tahu dia juga tidak yakin.
Malam itu aku menerima pesan pada pukul 21.30.
Bu Rahayu: Angel, gambarnya Ibu bawa pulang. Ibu tempel di kulkas.
Bu Rahayu: Sabtu ke rumah ya. Arisannya jadi Sabtu ini, digeser Bu Tini.
Bu Rahayu: Datang jam 2. Jangan jam 3. Ibu mau ngobrol dulu sama kamu.
Aku membaca pesan ketiga itu empat kali.
Lalu kubuka aplikasi kalender dan kutambahkan satu baris ke JADWAL, dengan tangan yang, kuakui sekarang, tidak sepenuhnya stabil.
Sabtu, 14.00 — Arisan. Datang lebih awal. Alasan: tidak diketahui.
Jumlah kata: ±1.810
- 1 Bab 1 — Tiga Foto dan Satu Kebohongan
- 2 Bab 2 — Yang Asli Tidak Diganti
- 3 Bab 3 — Pasal Lima Gugur di Hari Kedua
- 4 Bab 4 — Latihan
- 5 Bab 5 — 47 Balasan dalam Sembilan Menit
- 6 Bab 6 — Pasal Tiga Itu Punya Siapa
- 7 Bab 7 — Baik
- 8 Bab 8 — Bukti Pendukung
- 9 Bab 9 — Pacar dari Kertas reading
- 10 Bab 10 — Pertanyaan Nenek Sumi
- 11 Bab 11 — Delapan
- 12 Bab 12 — Suara Bor
- 13 Bab 13 — Februari
- 14 Bab 14 — Analisis Risiko Pengakuan
- 15 Bab 15 — Tiga Minggu untuk Lima Percobaan
- 16 Bab 16 — Lampiran C
- 17 Bab 17 — Seragam
- 18 Bab 18 — Folder Baru
- 19 Bab 19 — Dua Jenderal
- 20 Bab 20 — Empat Kalimat
- 21 Bab 21 — Dengung
- 22 Bab 22 — Kontrak Itu Tidak Dibatalkan
- 23 Bab 23 — Test Ride
- 24 Bab 24 — Empat Belas Menit
- 25 Bab 25 — Februari Lewat
- 26 Bab 26 — Menginap
- 27 Bab 27 — Barang Bukti
- 28 Bab 28 — Tiga Bulan
- 29 Bab 29 — Wearpack
- 30 Bab 30 — Jam Empat
- 31 Bab 31 — Bendahara Dua Belas Tahun
- 32 Bab 32 — Sembilan Jam
- 33 Bab 33 — Yang Sebenarnya
- 34 Bab 34 — Dua Puluh Delapan Sekrup
- 35 Bab 35 — Patungan
- 36 Bab 36 — Ibu Saya
- 37 Bab 37 — Kemal Benar
- 38 Bab 38 — Dua Jam
- 39 Bab 39 — Dua Kunci
- 40 Bab 40 — Pasal 7