Chapter Seventeen

Bab 17 — Seragam

POV: Angelica


Kabar itu masuk hari Selasa.

Anjani (Mbak): Angel ukuran baju apa?

Angelica Prameswari: Untuk apa, Mbak?

Anjani (Mbak): Ukuran aja

Angelica Prameswari: M.

Anjani (Mbak): M yang pas atau M yang agak longgar

Angelica Prameswari: Mbak Anjani.

Anjani (Mbak): M yang pas ya. Kamu kurus.

Anjani (Mbak): Udah aku pesen

Angelica Prameswari: PESAN APA

Anjani (Mbak): nanti liat aja


Yang dia pesan tiba hari Jumat, diantar kurir ke kos, dalam kantong plastik hitam.

Kain batik. Warna dasar hijau tua. Motif parang yang diperbesar dengan cara yang membuatnya tidak lagi terlihat seperti parang. Dan di sudut kanan bawah, disulam dengan benang emas, huruf-huruf yang cukup besar untuk dibaca dari jarak empat meter:

KELUARGA BESAR WIJAYA RINA & FAJAR 19 NOV

Aku menelepon Arsa.

“Mas Arsa.”

“Iya.”

“Mas dapat kirimannya?”

Hening.

“Iya,” katanya.

“Warna hijau?”

“Iya.”

“Ada tulisannya?”

“Iya.”

“Punya Mas kemeja?”

“Iya.”

“Sudah dicoba?”

Jeda panjang.

“Sudah,” katanya.

“Muat?”

“Angelica, kemejanya lengan panjang dan ada emasnya.”


Kami berangkat hari Minggu pagi jam lima, dalam satu mobil sewaan, karena Om Bowo mengorganisasi keberangkatan lewat grup WA dengan tiga jadwal berbeda yang kemudian direvisi lima kali.

Isi mobil: Om Bowo (sopir), Bu Rahayu (depan), Nenek Sumi (tengah, dengan bantal leher), Mbak Anjani (tengah), Kemal (tengah, di pangkuan Mbak Anjani sampai Bogor lalu berpindah), aku dan Arsa (belakang, di jok baris ketiga yang jarak lututnya dirancang untuk anak SD).

Tujuh orang. Sukabumi. Tiga setengah jam.

Kami memakai seragam sejak jam lima pagi.

“Angel.”

“Iya, Nek.”

“Kamu duduknya sempit.”

“Nggak apa-apa, Nek.”

“Duduk sini sama Nenek.”

“Nanti Nenek sempit.”

“Nenek kecil.”

“Nek,” kata Mbak Anjani, “biarin. Mereka pengennya sempit.”

“Mbak.”

“Apa.”

Di sebelahku, Arsa memandang jendela dengan konsentrasi seseorang yang sedang berusaha memindahkan seluruh kesadarannya ke luar mobil.


Lututku menempel di lututnya sejak kilometer nol.

Ini bukan pilihan. Jok baris ketiga itu lebarnya seratus sepuluh sentimeter dan diisi dua orang dewasa, satu tas berisi kado, dan satu termos yang Bu Rahayu bersikeras dibawa karena “beli minum di jalan itu mahal”.

Pada kilometer empat puluh, Arsa tertidur.

Aku tahu karena kepalanya mulai bergerak, dan setiap kali mobil mengerem kepalanya jatuh ke depan lalu tersentak balik, dan itu terjadi enam kali sebelum aku menghitungnya sebagai masalah.

Pada kilometer lima puluh dua, di tanjakan yang panjang, kepalanya jatuh ke samping.

Ke bahuku.

Aku duduk sangat, sangat diam.

Di depan, Mbak Anjani sedang berdebat dengan Om Bowo soal jalur alternatif. Nenek Sumi tidur. Bu Rahayu mengupas jeruk.

Aku memandang lurus ke depan selama mungkin empat menit.

Lalu — dan aku ingin mencatat bahwa aku melakukan ini setelah pertimbangan yang wajar — aku menggeser bahuku dua sentimeter ke kiri supaya sudutnya lebih baik.

Dan Kemal, dari jok tengah, berbalik dengan wajah menghadap ke belakang di antara sandaran kepala.

“Tante Angel.”

Aku membeku.

“Iya, Kemal.”

“Om Arsa tidur.”

“Iya.”

“Kok di bahu Tante?”

Mbak Anjani berhenti bicara di tengah kalimat.

Empat kepala berputar ke belakang.

“Aduuuh,” kata Mbak Anjani.

“Mana? Mana?” Bu Rahayu ikut berbalik, dengan jeruk masih di tangan.

“Bu, ngapain sih,” gumam Arsa, sudah bangun, sudah menegakkan kepala, dengan garis merah bekas jahitan seragam di pipi kirinya.

“Nggak ngapa-ngapain.”

“Ibu balik badan.”

“Ibu ngupas jeruk.”

“Ibu balik badan sambil ngupas jeruk.”

“Kemal,” kata Nenek Sumi, mata masih tertutup, “foto.”

“Nek—”

“Foto, Kemal.”


Kondangan itu berlangsung di gedung serbaguna dengan kapasitas delapan ratus orang dan pendingin ruangan yang menyerah pada tamu ke tiga ratus.

Yang perlu kau tahu tentang memakai seragam keluarga adalah bahwa seragam keluarga menghapus identitasmu.

Aku bukan lagi Angelica Prameswari, auditor, dua puluh enam tahun.

Aku adalah KELUARGA BESAR WIJAYA, hijau tua, motif parang, ukuran M yang pas, dan itulah satu-satunya informasi yang dimiliki delapan ratus orang tentangku, dan itu ternyata cukup.

“Ini yang mana?” tanya seorang bapak berkumis yang memelukku sebelum aku sempat memperkenalkan diri.

“Ini calonnya Arsa,” kata Om Bowo.

“Oh! Anaknya Rahayu?”

“Iya.”

“Yang bengkel?”

“Iya.”

“Alhamdulillah.” Dia menepuk bahuku dua kali. “Sabar ya.”

Aku dipeluk sebelas kali dalam empat puluh menit. Aku disalami oleh entah berapa orang. Tiga orang bertanya kapan aku menyusul. Satu orang bertanya apakah aku sudah bertemu keluarga besar dari pihak Semarang, dan ketika aku bilang belum, dia terlihat sangat khawatir.

Pada menit keempat puluh lima, aku kehilangan Arsa.

Pada menit kelima puluh, aku menemukannya kembali — berdiri di sudut, di dekat pintu darurat, dengan piring berisi tiga potong ayam dan tidak ada yang lain.

“Mas Arsa.”

“Hm.”

“Mas sembunyi.”

“Saya makan.”

“Mas makan di pintu darurat.”

“Ini strategis.” Dia menyodorkan piring itu ke arahku. “Ada AC-nya bocor dari sini.”

Ada, memang. Satu aliran udara dingin setipis pensil, keluar dari celah pintu, dan Arsa berdiri persis di jalurnya.

Aku berdiri di sebelahnya.

Kami memakan tiga potong ayam berdua dari satu piring, di pintu darurat gedung serbaguna Sukabumi, dengan seragam hijau tua bertuliskan nama dua orang yang belum pernah kutemui.

“Angelica.”

“Ya.”

“Kamu tadi dipeluk sebelas kali.”

“Mas menghitung?”

“Iya.”

Aku menoleh.

Dia sedang memandang kerumunan, bukan aku, dan telinganya merah dan itu bisa saja karena panas.

“Mas Arsa.”

“Hm.”

“Ada saksi delapan ratus orang di sini.”

“Iya.”

“Secara teknis, Pasal 4 aktif sejak kita masuk pintu.”

Dia meletakkan piring di atas kotak hidran.

Lalu mengulurkan tangan — telapak menghadap ke atas, tanpa berkata apa-apa, persis seperti di depan warung Bu Yanti yang tutup.

Aku mengambilnya.

Dan kami berdiri di pintu darurat sambil bergandengan tangan tanpa satu pun dari delapan ratus orang itu melihat, karena mereka semua sedang mengantre prasmanan di ujung ruangan yang berlawanan.

Seratus dua puluh detik lewat.

Aku tahu karena aku menghitungnya.

Lalu dua ratus empat puluh.

Lalu aku berhenti menghitung.


Insiden pukul 13.20 tercatat sebagai berikut.

Rina — pengantin, sepupu 2, penulis huruf kapital — turun dari pelaminan pada sesi foto keluarga besar dan memelukku sambil menangis.

“Mbak Angel!”

“Selamat ya, Rin.”

“AKU SENENG BANGET.” Dia melepaskan pelukan, memegang kedua bahuku, dengan riasan yang sudah mulai berjuang. “Aku beneran seneng. Om Arsa tuh dari dulu—” dia menoleh ke belakang, “—OM ARSA SINI.”

“Rin, fotonya—”

“SINI DULU.”

Dan begitulah, dalam waktu kurang dari dua menit, aku berdiri di depan kamera bersama tujuh belas orang anggota Keluarga Besar Wijaya, di barisan kedua, dengan tangan Arsa di punggungku dan Kemal di depan kami.

Fotografer mengangkat tangan.

“Yang belakang rapat ya! Yang di tengah maju dikit!”

“Kemal, jangan gerak.”

“Nek, senyum.”

“Nenek senyum.”

“Nenek nggak senyum, Nek.”

“Ini senyum Nenek.”

“Satu... dua...”

Dan Kemal, dengan suara yang dirancang khusus oleh alam untuk menembus keramaian, berkata:

“OM ARSA BELI TANTE ANGEL PAKE KERTAS!”


Diamnya berlangsung sekitar satu setengah detik.

Lalu tujuh belas orang tertawa serentak.

Om Bowo tertawa paling keras. Tante Endah menepuk punggung Kemal. Seorang bapak dari pihak Semarang, yang tidak tahu apa-apa tentang siapa pun, tertawa juga karena semua orang tertawa.

“Anak kecil,” kata Om Bowo, mengusap matanya. “Ada-ada aja.”

“Dari mana sih dia dapet?”

“Dari TV kali.”

“TV mana yang ada beli orang pake kertas.”

“Ya adalah.”

Fotografer memotret.

Dan di foto itu — yang kemudian dicetak, dibingkai, dan digantung di ruang tengah rumah Bu Rahayu selama bertahun-tahun — ada tujuh belas orang tertawa, satu anak enam tahun mengangkat kedua tangan dengan bangga, dan dua orang di barisan kedua yang wajahnya menunjukkan sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan dengan tawa.


“Percobaan kedua,” kataku, di jok baris ketiga, dalam perjalanan pulang, jam sembilan malam.

“Hm.”

“Yang pertama di sekolah.”

“Iya.”

“Yang kedua di depan tujuh belas orang.”

“Iya.”

“Mas Arsa, dia akan mencobanya lagi.”

“Iya.”

“Dan suatu saat akan ada orang yang mendengarkan.”

Arsa memandang keluar jendela, ke jalan tol yang gelap.

“Angelica.”

“Ya.”

“Tadi Kemal ngomong benar,” katanya. “Tujuh belas orang denger. Nggak ada satu pun yang percaya.”

“Karena dia anak enam tahun.”

“Bukan.” Dia menoleh. “Karena mereka udah lihat kita dua bulan.”

Mobil melewati lampu jalan. Terang, gelap, terang, gelap.

“Kebenaran nggak ada gunanya kalau nggak ada yang cocok sama yang mereka lihat,” katanya. “Itu kerjaan kamu, kan? Nyocokin dokumen sama kenyataan.”

“Iya.”

“Nah.” Dia menyandarkan kepala ke jendela. “Dokumen kita bilang palsu. Kenyataannya bilang nggak.”

Aku tidak menjawab.

Dua kilometer kemudian, kepalanya jatuh ke bahuku lagi.

Kali ini aku tidak menggeser dua sentimeter.

Kali ini aku menggeser empat.


Jumlah kata: ±1.810